• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

G. Pelajar dan Identitas Nasional di Kota Medan

Pelajar adalah individu yang ikut dalam kegiatan belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sama seperti pelajar di kota lainnya pelajar dikota Medan menempuh pendidikan dari mulai pendidikan sekolah dasar hingga ke

jenjang yang lebih tinggi. Pelajar adalah aset yang berharga bagi bangsa karena mereka yang akan menentukan akan seperti apa generasi dan perkembangan bangsa dalam jagka waktu panjang. Masa depan bangsa tergantung pada para pelajar yang sedang menempuh pendidikan yang akan melatih skill dan soft skill mereka untuk lebih baik dan dapat diandalkan. Pelajar dikota medan memiliki berbagai jenis karakteristik terlihat dari perbedaan sikap, sifat, perasaan, tingkah laku, minat dan sebagainya (Sitanggang, 2013).

Menanggapi perkembangan pesatnya dunia dengan adanya globalisasi dan perkembangan teknologi informasi akan mempengaruhi pola fikir dan sikap pada setiap masyarakat terutama pada pelajar dikota Medan. Perkembangan tersebut akan mempengaruhi gaya hidup dalam kehidupan sehari-hari dan hal itu akan berpengaruh pada masa depan bangsa.

Pelajar dikota Medan termasuk salah satu yang mengikuti perkembangan yang terjadi dikotanya salah satunya adalah alat komunikasi yang sudah sangat modern yang telah dimiliki oleh masing-masing pelajar dikota Medan. Tentu saja terdapat nilai positif dan negatif bagi pelajar tersebut, salah satu efek negatif yang terjadi adalah ketidakpedulian antar sesama karena mereka sudah sibuk dengan adanya alat komunikasi yang canggih, hal itu juga dapat menyebabkan hilangnya identitas nasional terlihat dengan tidak banyak siswa yang memaknai arti upacara bendera di sekolahnya. Banyak dari mereka yang melanggar aturan sekolah tetapi ada juga yang mematuhinya (Sitanggang, 2013).

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian yang mengangkat judul

“Gambaran Identitas Nasional dikalangan Pelajar SMA diKota Medan”

merupakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat, fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu.

Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan bersifat deskriptif, tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi maupun mempelajari implikasi. Jenis penelitian ini mempersoalkan hubungan antar variabel dan tidak melakukan pengujian hipotesis. Hasil penelitiannya berupa deskripsi mengenai variabel-variabel tertentu dengan menyajikan frekuensi, angka rata-rata atau kualifikasi lainnya untuk setiap kategori di suatu variabel. Dalam pengolahan dan analisa data menggunakan pengolahan statistik yang bersifat deskriptif (Azwar, 2010).

A. IDENTIFIKASI VARIABEL

Variabel adalah suatu atribut yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012). Menurut Azwar (2003) variabel adalah suatu konsep mengenai atribut atau sifat yang terdapat pada subjek penelitian yang dapat bervariasi secara kuantitatif dan kualitatif. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Identitas

B. DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional dari identitas nasional adalah suatu pengetahuan dan konsep diri individu sebagai bagian dari anggota kelompok yang memiliki kesamaan emosi dan nilai yang diukur berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh Tajfel (1986) yaitu kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial. Semakin tinggi skor menunjukkan individu semakin merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu bangsa dan rasa memiliki bangsa. Sebaliknya, semakin rendah skor menunjukkan individu kurang merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu bangsa dan rasa memiliki bangsa.

C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 1. Populasi Penelitian

Populasi merupakan keseluruhan dari sejumlah objek dengan karakteristik tertentu yang ingin diteliti sifatnya (Yusuf, 2014). Populasi dibatasi sebagai jumlah individu yang paling sedikit memilikisifat yang sama (Hadi, 2000). Suatu populasi harus memiliki karakteristik. Bersama yang membedakannya dengan populasi lain (Azwar, 2013). Karakteristik populisi dalam penelitian ini yaitu:

a. Tinggal di kota Medan

b. Anak yang memiliki dan masih menjalani pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA)

2. Sampel Penelitian

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang digunakan dalam penelitian dan dapat mewakili populasi tersebut (Yusuf, 2014). Sampel adalah

bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan adalah 300 pelajar SMA kota Medan. Dalam memilih sampel penelitian ini peneliti mendatangi sekolah yang terpilih sebagai sampel penelitian yaitu sekolah SMA Negeri 11 Medan, SMA Negeri 15 Medan, dan SMA Swasta Teladan Medan.

Sekolah tersebut yang mendapatkan akses mudah bagi peneliti untuk menjalankan penelitiannya dikarenakan dekat dan memiliki izin. Dalam pelaksanaan dimasing-masing sekolah peneliti awalnya mendatangi wakil kepala sekolah yang menaungi bagian kesiswaan, pihak sekolah kemudian memberikan tempat untuk peneliti melakukan penyebaran skala kepada pelajar SMA. Selanjutnya, pihak sekolah memilihkan siswa untuk dijadikan sampel dengan memilih siswa yang sedang tidak mengikuti kegiatan belajar atau sedang tidak berada didalam kelas.

SMA Negeri 11 Medan, SMA Negeri 15 Medan, dan SMA Swasta Teladan Medan merupakan sekolah yang memiliki siswa dengan beragam latar belakang dari segi kedudukan sosial, ras, etnik, agama, bahasa, kebiasaan, sistem nilai dan norma. Hal ini menandakan bahwa ketiga sekolah tersebut termasuk kedalam sekolah multikurtural.

3. Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan teknik yang digunakan untuk mengambilsampel dengan menggunakan prosedur tertentu dalam jumlah yang sesuaidengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperolehsampel yang dapat benar-benar mewakili populasi (Poerwati, 1994).

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, maksudnya adalah siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yangkebetulan ditemui itu cocok dan memenuhi kriteria sebagai sumber data (Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini subjek dipilih berdasarkan kebetulan.

D. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data pada penelitian ini hanya menggunakan satu skala yaitu skala Identitas Nasional yang diadaptasi berdasarkan skala yang dibuat oleh Suryani (2016) yang disajikan dalam bentuk Skala Likert. Skala Likert merupakan alat ukur yang merupakan suatu rentetan butir soal. Responden akan diminta untuk mengukur sikap dan menempatkan dirinya ke arah satu kontinuitas dalam butir soal yang disusun berdasarkan dimensi yang akan diukur dalam bentuk persetujuan atau ketidaksetujuan (Yusuf, 2014).

Tabel 3.1 Blue Print Skala Identitas Nasional Sebelum Uji Coba

No. Aspek Aitem Jumlah

Format skala pada penelitian ini akan menggunakan skala likert dimana nantinya aka nada sejumlah dimensi item-item yang akan diuraikan kedalam Nasionalisme bentuk favorable (mendukung) atau unfavorable (tidak mendukung). Penelitian ini juga memiliki lima kategori jawaban interval yang terdiri dari Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Nilai dari setiap pilihan akan bergerak dari angka 1 sampai 5, bobot penilaian untuk pernyataan favorable adalah SS: 5, S:4, N:3, TS:2, STS:1, sedangkan pada perrnyataan unfavorable bobot penilaiannya SS:1, S:2, N:3, TS:4, STS:5.

E. UJI COBA ALAT UKUR

Validitas dan reliabilitas alat ukur yang digunakan dalam sebuah penelitian sangat menentukan keakuratan dan keobjektifan hasil penelitian yang dilakukan.

Suatu alat ukur yang tidak valid dan tidak reliabel akan memberikan informasi yang tidak akurat mengenai keadaan partisipan atau individu yang dikenai suatu tes (Azwar, 2010).

1. Validitas Alat Ukur

Validitas mengacu pada aspek ketepatan dan kecermatan hasil pengukuran. Dalam penelitian ini, jenis validitas yang digunakan adalah content validity atau validitas isi yang dilihat melalui isi tes berdasarkan blue print melalui expert judgement yang dalam hal ini adalah dosen pembimbing.

2. Reliabilitas Alat Ukur

Reliabilitas adalah sejauh mana hasil yang diperoleh dari suatupengukuran dapat dipercaya. Azwar (2012) menyatakan bahwa reliabilitas dicapai apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama. Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik Cronbach’s Alpha Coeffecient menggunakan SPSS 21.0 for Windows. Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai dengan 1,00. Semakin mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya, koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2012).

3. Uji Daya Diskriminasi Aitem

Daya diskriminasi aitem merupakan sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu yang memiliki atau tidak memiliki atribut yang diukur. Kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem-total menggunakanbatasan >0.30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi >0.30 dianggap memiliki daya diskriminasi yang memuaskan. Aitem yang memiliki daya diskriminasi <0.30 diinterpretasikan sebagai aitem yang memiliki daya diskriminasi rendah (Azwar, 2012).

F. HASIL UJI COBA ALAT UKUR

Dari 32 butir aitem pada skala identitas nasional yang diuji, didapatkan 29 aitem yang memiliki daya diskriminasi >0,30. 29 aitem inilah yang akan disajikan di dalam penelitian. Setelah melihat daya diskriminasi, selanjutnya dilihat

perhitungan reliabilitas aitemnya, dan didapatkan nilai koefisien sebesar (nilai reliabilitas skala setelah TO)

Tabel 3.2 Blue Print Skala Identitas Nasional Setelah Uji Coba

No Variabel Indikator Aitem

Favorable Unfavorable

Keterangan: Tinta merah merupakan aitem yang memiliki koefisien korelasi dibawah 0.30.

G. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN 1. Persiapan Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini akan melibatkan pencarian sekolah SMA yang dapat dijadikan sampel. Pencarian sekolah SMA akan dilakukan dengan bekerjasama dengan dinas terkait agar memudahkan peneliti dalam melakukan penyebaran skala. Oleh karena itu, sebelum melakukan pengambilan data maka diperlukan surat izin penelitian. Surat izin penelitian dalam hal ini akan dikeluarkan oleh Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

2. Uji Coba Alat Ukur

Pada tahap ini, peneliti melakukan uji coba alat ukur untuk melihat validitas dan reliabilitas, dan daya diskriminasi aitem pada alat ukur. Uji coba alat ukur ini diberikan kepada 200 siswa SMA di Kota Medan. Setelah pengujian validitas, reliabilitas, dan daya diskriminasi aitem dilakukan, peneliti merevisi dan menyusun kembali aitem-aitem untuk kemudian disebarkan kepada subjek penelitian.

3. Pelaksanaan Penelitian

Setelah alat ukur diuji coba dan direvisi, peneliti kemudian melakukan pengambilan data terhadap 300 orang siswa di kota Medan. Pengambilan data penelitian dilakukan pada bulan Januari 2019.

4. Pengolahan Data Penelitian

Setelah pengambilan data dilaksanakan dan data semua subjek telah terkumpul, maka data yang terkumpul akan di analisis dengan menggunakan program komputer SPSS 21.0 for windows.

H. METODE ANALISIS DATA

Pada penelitian ini, data akan di analisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Hadi (2000) menyatakan bahwa penelitian deskriptif menganalisa dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan. Data yang akan diolah yaitu untuk menentukan skor minimum, skor maksimum, mean, dan standar deviasi dari skala identitas nasional. Data tersebut akan mengkategorisasikan nilai

identitas nasional pada tingkat kecenderungan rendah, sedang dan tinggi.

Selanjutnya, data juga akan digunakan untuk mendeskripsikan Identitas Nasional pada pelajar SMA di Kota Medan.

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan analisa hasil penelitian sesuai dengan pelaksanaan dan data yang didapat dari lapangan. Pembahasan akan dimulai dengan menjelasan Gambaran Identitas nasional secara umum, dan komponen-komponen yang mempengaruhi Identitas Nasional.

Hasil Penelitian

Hasil utama dalam penelitian ini akan menggambarkan Identitas Nasional secara umum pada pelajar SMA di kota Medan.

A. GAMBARAN UMUM SUBJEK PENELITIAN

1. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Suku

Tabel 4.1 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Suku Bangsa

Suku Bangsa

Berdasarkan tabel diatas dikategorikan subjek penelitian berdasarkan suku bangsa. Dengan rincian pada suku Aceh terdapat 3 (33.3%) siswa pada kategorisasi tinggi, serta 6 (66.7%) siswa pada kategorisasi sedang. Pada suku Batak terdapat 42 (58.3%) siswa berada pada kategorisasi tinggi, 29 (40.3%)

siswa berada pada kategorisasi sedang, dan 1 (1.4%) siswa berada pada kategorisasi rendah. Pada suku Jawa terdapat rincian 50 (53.8%) siswa pada kategorisasi tinggi, dan 43 (46.2%) siswa padas kategorisasi sedang. Pada suku Mandailing 28 (58.3%) siswa pada kategorisasi tinggi, 20 (41.7%) siswa pada kategorisasi sedang. Pada suku Melayu terdapat 6 (33.3%) siswa pada kategorisasi tinggi, 12 (66.7%) siswa pada kategorisasi sedang. Pada suku Padang terdapat 19 (50%) siswa pada kategorisasi tinggi, 18 (47.4%) siswa pada kategorisasi sedang. Pada suku lainnya terdapat 15 (60%) siswa pada kategorisasi tinggi, 9 (30%) siswa pada kategorisasi sedang

2. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Ekstrakurikuler Tabel 4.2 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Ekstrakurikuler

Ekskul Tinggi berdasarkan ekstrakurikuler yang diikuti. Pada ektrakurikuler basket, futsal, karate, dan silat terdapat 39 (53.4%) siswa dengan kategorisasi tinggi, 32 (43.8%) siswa pada kategorisasi sedang, dan 2 (2.7%) siswa pada kategorisasi rendah.

Pada ektrakurikuler dokter remaja, dan PMR terdapat 10 (52.6%) siswa dengan kategorisasi tinggi, 9 (47.4) pada kategorisasi sedang, dan tidak terdapat pada kategorisasi rendah. Pada ektrakurikuler musik, dan tari terdapat 11 (68.8%) siswa pada kategorisasi tinggi, 5 (31.3%) siswa pada kategorisasi sedang dan tidak terdapat pada kategorisasi rendah. Pada ektrakurikuler BKM terdapat 15 (78.9%) siswa pada kategorisasi tinggi, 4 (21.1%) siswa pada kategorisasi sedang, dan tidak terdapat pada kategorisasi rendah. Pada ektrakurikuler BSC terdapat 18 (58.1%) siswa pada kategorisasi tinggi, 11 (35.5%) siswa pada kategori sedang, 2 (6.5%) pada kategorisasi rendah. Pada ektrakurikuler English terdapat 7 (58.3%) siswa pada kategorisasi tinggi, 4 (33.3%) pada kategori sedang, dan 1 (8.7%) pada kategori rendah. Pada ektrakurikuler paskibra terdapat 21 (43,8%) siswa pada kategori tinggi, 27 (56.3%) siswa pada kategori sedang, dan tidak terdapat siswa pada kategori rendah. Pada ektrakurikuler pramuka terdapat 48 (52.2%) siswa pada kategori tinggi, 39 (42.4%) siswa pada kategori sedang, 5 (5.4%) siswa pada kategori rendah.

B. HASIL UTAMA PENELITIAN

Hasil utama dalam penelitian ini akan menggambarkan identitas nasional secara umum, beserta komponen-komponen pada pelajar SMA dikota Medan.

tersebut adalah kategorisasi (categorization), identifikasi (identification), dan perbandingan sosial (social comperasion).

1. Gambaran Identitas Nasional Subjek Penelitian Secara Keseluruhan Gambaran Identitas Nasional pada pelajar SMA kota Medan secara umum dapat dilihat dari skor mean, standar deviasi, nilai minimum serta nilai maksimum dari skor skala identitas nasional. Berikut ini merupakan Tabel 4.3 yang menggambarkan nilai empirik dan nilai teoritik pada subjek penelitian.

Tabel 4.3 Skor Empirik dan Teoritik

Variabel Empirik Teoritik

Identitas nasional

Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD

65 132 106.72 11.12 29 145 87 19.33

Dari tabel tersebut, dapat diketahui bahwa skor minimum Identitas Nasional dari 300 subjek adalah sebesar 65 dan skor maksimum sebesar 132. Data pada tabel juga menggambarkan bahwa mean empirik dari Identitas Nasional sebesar 106.72 dengan standar deviasi sebesar 11.12, sedangkan mean teoritik sebesar 87 dengan standar deviasi sebesar 19.33.

Selanjutnya, subjek akan digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Pengelompokan Identitas Nasional pada subjek penelitian dilakukan dengan pengkategorian sebagaimana yang tertera pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Kategorisasi Identitas Nasional Secara Keseluruhan Rentang skor Kategorisasi Frekuensi Presentase

X > 106,33 Tinggi 170 56.7 %

67,67 ≤ X ≤ 106,33 Sedang 128 42.7 %

X < 67,67 Rendah 2 .7 %

2. Gambaran Identitas Nasional Berdasarkan Komponen Identitas Nasional Gambaran identitas nasional pada siswa SMA dikota Medan berdasarkan komponen-komponen Identitas Nasional diuraikan sebagai berikut:

1. Komponen kategorisasi (categorization)

Komponen kategorisasi pada skala ini terdiri dari 14 aitem dengan rentang nilai 1-5. Hasil perhitungan mean empirik dan mean teoritik digambarkan dalam Tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5 Komponen Katagorisasi

Variabel Empirik Teoritik

kategorisasi Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD

28 66 51.18 5.725 14 70 42 9.33

Pengelompokan identitas nasional pada subjek berdasarkan komponen kategorisasi adalah sebagaimana yang ditampilkan pada Tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6 Pengelompokan Berdasarkan Komponen Kategorisasi Rentang skor Kategorisasi Frekuensi Presentase

X > 51 Tinggi 183 61%

33 ≤ X ≤ 51 Sedang 115 38,3%

X < 33 Rendah 2 7%

2. Komponen identifikasi (identification)

Komponen kategorisasi pada skala ini terdiri dari 9 aitem dengan rentang nilai 1-5. Hasil perhitungan mean empirik dan mean teoritik digambarkan dalam Tabel 4.7 berikut:

Tabel 4.7 Komponen Identifikasi

Variabel Empirik Teoritik

Identifikasi Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD

19 42 31.46 4.415 9 45 27 6

Pengelompokan Identitas Nasional pada subjek berdasarkan komponen identifikasi adalah sebagaimana yang ditampilkan pada Tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8 Pengelompokan Berdasarkan Komponen Identifikasi Rentang skor Kategorisasi Frekuensi Presentase

X > 33 Tinggi 123 41%

21 ≤ X ≤ 33 Sedang 175 58,3%

X < 21 Rendah 2 7%

3. Komponen perbandingan sosial (identification)

Komponen kategorisasi pada skala ini terdiri dari 6 aitem dengan rentang nilai 1-5. Hasil perhitungan mean empirik dan mean teoritik digambarkan dalam Tabel 4.9 berikut:

Pengelompokan Identitas Nasional pada subjek berdasarkan komponen perbandingan sosial adalah sebagaimana yang ditampilkan pada Tabel 4.10 berikut:

Tabel 4.10 Pengelompokan Berdasarkan Komponen Perbandingan Sosial Rentang skor Kategorisasi Frekuensi Presentase

X > 17 Tinggi 295 98,3%

9 ≤ X ≤ 17 Sedang 5 1,7%

X < 9 Rendah 0 0%

Gambaran Identitas Nasional pada pelajar SMA di kota Medan berdasarkan komponen-komponen Identitas Nasional dapat dilihat pada grafik 4.1 berikut :

Grafik 4.1 Identitas Nasional Berdasarkan Komponen Identitas Nasional

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 300 pelajar SMA di kota Medan, diketahui bahwa sebanyak 170 orang (56.6%) memiliki identitas nasional pada kategori tinggi, 128 orang (42.6%) memiliki identitas nasional pada kategori sedang, dan 2 orang (0.66%) memiliki identitas nasional pada kategori rendah. Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas subjek memiliki identitas yang tinggi.

Kemudian, berdasarkan hasil analisa data dari setiap komponen didapatkan bahwa dari 300 pelajar SMA di kota Medan pada komponen kategorisasi, 183 (61%) siswa termasuk dalam kategori tinggi , 115 (38,3%) siswa termasuk dalam kategori sedang, dan 183 sebanyak 2 (7%) siswa yang termasuk dalam kategori rendah. Hal ini menyatakan bahwa banyak siswa yang mampu menentukan sikapnya sesuai dengan kelompok-kelompok sosial sehingga memiliki identitas nasional yang tinggi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hanurawan

kelompoknya dikarenakan adanya kesempatan untuk melakukan interaksi sosial secara intensif dengan kelompok dari berbagai latar belakang yang berbeda sehingga individu dapat memahami dan bersikap lebih positif terhadap kelompok lain.

Pada komponen identifikasi, terdapat 123 (41%) siswa dalam kategori tinggi, 175 (58,3%) siswa dalam kategori sedang, dan 2 (7%) siswa yang termasuk dalam kategori rendah. Hal ini menyatakan bahwa individu telah mampu mengkategorikan diri sebagai warga Indonesia. Individu juga telah menganut nilai-nilai bangsa Indonesia dan bertindak dengan cara yang diyakini sebagai warga negara indonesia. Individu tetap menjalani perannya sebagai warga Indonesia dengan segala norma yang berlaku seperti gaya hidup yang tetap berkiblat pada diri masyarakat Indonesia (Hartika, 2016). Hal ini juga dapat dilihat dari masih adanya ekstrakurikuler yang menginternalisasikan nilai-nilai rasa cinta tanah air di sekolah, seperti ekstrakurikuler Paskibra, Pramuka, OSIS, dan lain sebagainya.

Kemudian, pada komponen perbandingan sosial terdapat sebanyak 295 (98,3%) siswa dalam kategori tinggi, 5 (1,7%) siswa dalam kategori sedang, dan tidak terdapat siswa dalam kategori rendah,. Hal ini menunjukkan bahwa individu cenderung banyak melakukan perbandingan sosial dengan kelompok lain dikarenakan arus globalisasi sehingga individu cenderung mengikuti budaya barat dan melupakan budaya bangsanya. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryono (2008), arus globalisasi begitu cepat merasuk kedalam masyarakat

terutama terhadap anak muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat sebagian anak muda meniru budaya barat dan melupakan budaya bangsanya.

Tingginya identitas nasional yang dimiliki subjek dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada faktor suku bangsa sumatera utara memiliki suku asli dan suku pendatang. Sumatera utara terdiri dari 8 suku asli dan beberapa suku pendatang yang mendiami daerah sumatera utara. Suku melayu adalah salah satu suku penghuni asli dari sumatera utara yang merupakan suku yang memiliki keanekaragaman dan kebudayaan (Yusuf, 2016). Berdasarkan badan pusat statistik sensus penduduk tahun 2011 didapatkan bahwa komposisi suku di sumatera utara terdiri dari, suku melayu sekitar 5,47 juta jiwa atau sekitar 42%, suku batak keseluruhan (Toba, Mandailing, Simalungun, Nias, Angkola, Pakpak, dan Karo) sekitar 4,5 juta atau 35 %, suku jawa (Suku Jawa, Sunda/Banten, dan Madura) sekitar 2,15 juta jiwa atau 16,5%, dan suku lainnya yang terdiri dari suku Tionghoa, Minang, Aceh, dan lain-lain hampir 1 juta jiwa atau sekitar 6% (BPS, 2011).

Berdasarkan hasil analisa data , identitas nasional yang dimiliki suku asli di Sumatera Utara yaitu suku melayu dan suku batak dapat dilihat bahwa identitas nasional pada suku Melayu berada pada kategori sedang yaitu sebesar 66,7%, dan suku Batak berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 58,3%. Sedangkan identitas nasional pada suku pendatang yaitu suku Jawa berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 53,8%. Berdasarkan jurnal penelitian yang dilakukan oleh Pitoyo &

Triwahyudi (2017) mengatakan bahwa terdapat indikasi dominasi suku Jawa di pulau Sumatera. Suku Jawa adalah suku yang cukup dominan di Sembilan

provinsi yang terdapat di pulau Sumatera dan merupakan suku pendatang yang paling dominan. Sebagai wilayah yang tingkat migrasi cukup besar, menjadikan sumatera utara sebagai tempat pencarian suaka bagi para imigran dari daerah-daerah lain hal ini berdampak pada semua aspek kehidupan yang ada di Sumatera Utara. Suku Melayu yang luput dari arus migrasi yang tinggi juga terkena dampaknya baik dari kebudayaan, sosial, adat, dan aspek kehidupan lain yang masuk melalui pencampuran atau alkulturasi dalam masyarakat (Yusuf, 2016).

Pada faktor lingkungan sekolah berdasarkan ekstrakurikuler yang diikuti siswa mendapatkan hasil nilai presentase yang dapat dikatakan tinggi. Identitas nasional siswa yang mengikuti ektrakurikuler disekolah seperti, basket, futsal, karate, silat, dokter remaja, pmr, musik, tari, bkm, bsc, english, paskibra, dan pramuka diharapkan sebagai wadah bagi pelajar untuk mengembangkan minat dan bakatnya menjadi suatu keterampilan yang mendukung kualitas kemampuan dirinya sebagai generasi muda yang baik sehingga kelak memiliki prestasi akademik yang tinggi dan didukung oleh potensi nonakademik yang salah satunya berupa life skills (kecakapan hidup) yang terlatih dengan baik (Budjang, 2013).

Berdasarkan penelitin yang dilakukan oleh Nuri, Pitoewas, Yanzi (2016) menyatakan bahwa ektrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan siswa beraspek kognitif, afektif dan psikomotor, serta mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif, dan dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan pelajaran lainnya. Namun, ekstrakurikuler juga dapat menyebabkan menurunnya minat siswa untuk belajar, dikarenakan kegiatan

yang dilakukan di ektrakurikuler dipandang lebih menarikdibandingkan kegiatan didalam kelas. Melalui kegiatan ekstrakurikuler diharapkan sekolah mampu memberikan bekal yang akan peserta didik dapat bagi kehidupannya selanjutnya

yang dilakukan di ektrakurikuler dipandang lebih menarikdibandingkan kegiatan didalam kelas. Melalui kegiatan ekstrakurikuler diharapkan sekolah mampu memberikan bekal yang akan peserta didik dapat bagi kehidupannya selanjutnya

Dokumen terkait