• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Akuisisi Data Lapangan

Dalam dokumen Pengolahan Data Singlebeam Echosounder M (Halaman 28-35)

BAB II PELAKSANAAN

II.1 Pelaksanaan Akuisisi Data Lapangan

Pelaksanaan akuisisi data di lapangan dapat ditunjukkan pada gambar II.1 dibawah ini,

Ya Ya

Pengukuran Offset Alat Survei

A

Positioning DGPS Pengukuran Heading

Verifikasi DGPS Kalibrasi Heading Tidak Tidak Koordinat titik kontrol (BM) Mulai

Persiapan Software Olah data

Perencanaan Survey Lines Persiapan & Mobilisasi

(Alat dan Personil)

Koordinat titik kontrol

29 Laporan Kerja Praktek

Akuisisi Data Side Scan Sonar

Akuisisi Data Multibeam Echosounder Akuisisi Data Singlebeam

Echosounder Ya A Raw Data Demobilisasi Selesai

Pengamatan Tide (optional)

Pengukuran Draft Tranducer Perekaman DMS Verifikasi Side Scan Sonar

Koreksi Barcheck Koreksi heave Pengukuran kedalaman denganSinglebeam Echosounder Pengamatan SVP/CTD

Kalibrasi Pitch, Roll, Yaw

Observasi Side Scan Sonar

Raw Data Raw Data

Kontrol Kualitas Ya Tidak Kontrol Kualitas Tidak Ya Kontrol Kualitas Tidak Pengukuran kedalaman denganSinglebeam Echosounder

30 Laporan Kerja Praktek

II.1.2 Persiapan dan Mobilisasi

Persiapan dan mobilisasi merupakan tahap yang dilakukan sebelum melakukan pengukuran di lapangan yang meliputi persiapan :

Wahana : Kapal

Personil : Surveyor, Engineer, Data Processor, Geophysicist Instalasi Peralatan yang terdiri dari :

Positioning System (DGPS Veripos)

Navigation System (QINSy 8 Navigation System)

Heading System (Gyro)

Ultra Short Base Line System (USBL)

Sound Velocity Profiling (SVP)

Heave Compensator Motion Sensor (DMS.05) Singlebeam Echosounder Mulibeam Echosonder SSS System Tide Gauge

II.1.3 Perencanaan Survey Lines

Sebelum dilakukan pengukuran di lapangan harus didesain perencanaan lajur pemeruman yang nantinya akan diukur kedalamannya.

100-300 m

50-100

Lajur Silang

Dengan jarak antar lajur100-300 m

Lajur Utama

Dengan jarak antar lajut 50-100 m

31 Laporan Kerja Praktek

II.1.4 Pengukuran Offset Alat Survei

Merupakan tahapan yang dikerjakan setelah tahap instalasi pemasangan antena GPS dan peletakan pole transducer serta perangkat lain seperti DMS (Dynamic Motion Sensor), heave compensator, dll pada kapal survei selesai dilakukan.

Dalam gambar II. 2 di atas dianggap antenna GPS sebagai titik acuannya yaitu koordinat 0,0 maka posisi alat survei lainnya harus dihitung offset-nya dari posisi antena GPS tersebut agar kesalahan offset mampu diminimalisir.

Cara menentukan offset alat survei, yaitu : 1. Mengukur dimensi kapal.

2. Mengukur offset masukkan tiap alat yang ada di kapal.

Posisi DMS biasanya harus berada di tengah kapal (di CoG), heave compensator harus berada di dekat echosounder, GPS harus diposisikan di tempat yang obsruksinya kecil. 3. Harus ada datum referensi yang sama.

32 Laporan Kerja Praktek

II.1.5 Verifikasi DGPS

Gambar II. 4 Verifikasi DGPS

Gambar II.4 merupakan tahap verifikasi DGPS yang menjadi salah satu tugas yang dikerjakan oleh seorang surveyor. Verifikasi DGPS ini dilakukan di dermaga dasar (jetty) sebelum survei dilakukan tujuannya untuk mengetahui selisih posisi koordinat titik yang sama hasil pengukuran DGPS dan Total Station di darat dengan menggunakan 2 buah titik BM yang diketahui koordinatnya. Apabila selisih ukuran hasil dari verifikasi melebihi ketelitian / akurasi alat DGPS maka perlu dilakukan :

1. Pengecekan parameter geodetik yang dimasukkan pada GPS.

2. Verifikasi koordinat (easting, northing) 2 titik kontrol yang digunakan.

II.1.6 Kalibrasi Heading

33 Laporan Kerja Praktek

Kalibrasi heading yang ditunjukkan pada gambar II.5 perlu dilakukan sebelum dilakukan survei selanjutnya, hal ini bertujuan untuk mengkoreksi seberapa besar perbedaan arah gyro compass yang direkam dengan arah kapal yang sesungguhnya. Arah kapal sesungguhnya dapat diketahui dengan mengukur azimuth dengan 2 buah prisma yang berada di kapal tepatnya di titik A(haluan /bow) dan titik B (buritan /stern). Semakin jauh jarak antara 2 prisma tersebut maka representasi hasil pengukurannya akan lebih maksimal. Kemudian hasil pengukuran tersebut dibandingkan dengan Gyro yang direcord.

Tahapan kalibrasi heading :

1. Diketahui koordinat titik BM1 dan BM2 di pelabuhan, hitung azimuth dari BM1 ke BM2. 2. Dirikan alat di BM1 kemudian bidik ke titik A dan B, ukur sudut dan jarak ke titik A dan

B.

3. Sebelum membidik, timing dengan logging Gyro Compass harus sama. 4. Kemudian hitung koordinat titik A dan B.

5. Setelah itu hitung azimuth dari titik A ke B.

6. Hitung selisih antara azimuth hitungan dengan azimuth hasil pengukuran dengan Gyro Compass.

7. Kemudian masukkan koreksi azimuth tersebut ke dalam software navigasi.

Apabila disaat survei tidak terdapat BM di pelabuhan maka pengukuran kalibrasi dapat menggunakan Sunshot method (pengkuran azimuth Matahari).

II.1.7 Hasil Akuisisi Data

Setelah melakukan akuisisi data menggunakan singlebeam echosounder, multibeam echosounder dan side scan sonar dimana masing-masing alat sudah dilakukan kalibrasi, maka akan mendapatkan raw data yang meliputi :

1. Raw data singlebeam echosounder, terdiri dari easting, northing dan data kedalaman yang belum terkoreksi dengan tide. Raw data hasil pengukuran singlebeam echosounder dapat dilihat pada gambar II.6 di bawah ini.

34 Laporan Kerja Praktek

Gambar II. 6 Raw Data singlebeam Echosounder Keterangan :

Hi : hasil pengukuran kedalaman dengan high frequency Low : hasil pengukuran kedalaman dengan low frequency

2. Raw data multibeam echosounder terdiri dari easting, northing, kedalaman yang belum terkoreksi.

Dengan memiliki 3 jenis format data :

.db  database file data multibeam echosounder

.qpd  untuk input pengolahan data multibeam echosounder ke dalam software .grd  data grid untuk pembentukan DTM-nya

3. Raw data side scan sonar terdiri dari easting, northing, raster image. Dengan format data :

.jsf  format data hasil akuisi lapangan sehingga untuk pengolahannya perlu diekstrak ke format .xtf

.xtf  mempunyai high frequency dan low frequency, format data sebagai input pengolahan ke software

35 Laporan Kerja Praktek

II.1.8 Kontrol Kualitas

Kontrol kualitas merupakan tahapan yang dilakukan untuk mengecek/mengontrol data hasil pengukuran pakah sudah sesuai dengan lingkup pekerjaan yang diberikan atau tidak. Apabila data sudah sesuai, maka data sudah siap untuk diproses lebih lanjut.

II.1.9 Demobilisasi

Demobilisasi adalah tahap akhir dari proses akuisisi data di lapangan yang meliputi aktivitas pelepasan alat-alat survei dari kapal. Demobilisasi akan dianggap selesai jika seluruh peralatan, bahan, personil, atau lainnya telah dikeluarkan dari lokasi pekerjaan, dan persyaratan-persyaratan penyelesaian pekerjaan sebagaimana diatur dalam kontrak telah terpenuhi.

Dalam dokumen Pengolahan Data Singlebeam Echosounder M (Halaman 28-35)

Dokumen terkait