Money Method
PELAKSANAAN DAN PENGORGANISASIAN
5.1 Evaluasi Data Kualitatif
5.1.1 Hasil Wawancara dengan Pemegang Program Kesehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan Puskesmas Kelurahan Cilandak Barat
Dari hasil wawancara, didapatkan beberapa kesulitan dalam menjalankan program ini, seperti berikut: “Beberapa fasilitas kesehatan belum mengetahui atau
memahami persyaratan pengelolaan fasilitas kesehatan yang memenuhi standar serta ketidak patuhan dan kesadaran yang kurang terhadap peraturan yang sudah ditetapkan, pengelolaan limbah medis cair dan padat, serta standar sanitasi yang memenuhi syarat. Selain itu tenaga kesehatan yang kurang menjadi kendala dalam memonitoring pelayanan fasilitas kesehatan dan tidak tersedianya tenaga ahli K3 untuk memberikan pelatihan dan pemantauan limbah medis.” Untuk tahun 2017
beberapa bulan sebelumnya pihak puskesmas sudah melakukan pendataan dan inspeksi di beberapa fasilitas kesehatan dimana kegiatan inspeksi ini bertujuan untuk evaluasi sekaligus memberi informasi kepada pemilik ataupun pengelola fasyankes mengenai fasyankes yang memenuhi syarat. Sejak kesehatan lingkungan memiliki penanggungjawab sendiri, baru beberapa tempat-tempat umum yang dilakukan inspeksi dan masih difokuskan pada sekolah. Dari beberapa fasyankes yang dilakukan inspeksi didapatkan kesimpulan yang didapat ialah kurangnya sosialisasi kepada fasilitas kesehetan mengenai apa yang menjadi indikator yang memenuhi syarat.
Untuk media komunikasi sendiri seperti brosur atau leaflet belum ada, selama ini yang digunakan jika melakukan penyuluhan ialah hanya memberikan informasi saat sedang melakukan inspeksi. Sambil melakukan inspeksi, pengelola diberikan masukan bagaimana sebaiknya fasilitas kesehatan dikelola. Hal ini terkutip dalam ungkapan berikut :“Ya selama ini kami selalu beri informasi kok mengenai fasilitas pelayanan
kesehatan yang memenuhi syarat itu seperti apa sambil melakukan pendataan atau mengevaluasi fasilitas kesehatan. Tetapi memang tidak ada media informasi seperti
80
brosur atau leaflet. Beberapa fasyankes ketika didatangi meminta untuk diberikan masukan sehingga mereka dapat memperbaiki kualitas tempat mereka.”
Dari hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa selama ini masalah yang menyebabkan tidak tercapainya target dalam hal pelayanan fasilitas kesehatan salah satunya adalah kurangnya sosialisasi kepada pihak – pihak pengelola tempat mengenai indikator fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat, peraturan apa saja untuk pelayanan fasilitas kesehatan, kurangnya media yang dapat menyampaikan komunikasi yang efektif dan menarik serta kurangnya pembinaan dan pelatihan terhadap pengelola fasilitas kesehatan. Sehingga masalah – masalah tersebut jika dikelompokkan berdasarkan penyebab masalahnya adalah faktor man (tenaga kerja) yaitu pemegang program kesehatan lingkungan yang memegang banyak program kesling dan baru saja menjadi pemegang program beberapa tahun terakhir dan pengelola fasilitas kesehatan yang tidak mengetahui informasi bagaimana mengelola fasilitas kesehatan agar memenuhi syarat, method (metode) seperti cara pemberian penyuluhannya tidak maksimal bahkan belum pernah sama sekali pada beberapa tempat umum, material (peralatan) tidak adanya brosur atau leaflet sebagai media pendukung pemberi informasi yang informative, efektif dan menarik. Sedangkan dilihat dari segi P1 (perencanaan) tidak adanya jadwal pembinaan fasilitas kesehatan secara berkala.
5.1.2 Hasil Wawancara dengan Pengelola fasilitas kesehatan
Dari hasil wawancara yang dilakukan di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah Kelurahan Cilandak Barat didapatkan bahwa selama ini alasan mereka tidak menerapkan peraturan fasilitas yang memenuhi syarat ialah sebagai berikut :
(Fasyankes KRM) “Kami mendirikan ini sudah cukup lama dan belum pernah ada
pemeriksaan mendetail tentang kelengkapan data dokumen dan perizinan. Kami tidak tahu kalau sampah-sampah harus dipisah-pisah ataupun tidak boleh dicampur dengan sampah rumah tangga. Kami juga tidak tahu kalau harus bekerja sama dengan pembuangan limbah medis baik cair dan padat.”
Pernyataan-pernyataan tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar pihak fasilitas kesehatan mendapat sosialisasi mengenai fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat dan
81 belum terdapat keselarasan antara petugas Puskesmas serta pihak fasilitas keseahatan maupun pihak lain yang bertanggungjawab terhadap fasilitas kesehatan.
Dari jawaban-jawaban tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah yang ditemukan termasuk dalam kriteria man dimana pengelola Fasilitas pelayanan keseahatan tidak mengetahui peraturan mengenai fasilitas pelayanan keseahatan. Selain itu dari segi P2 (Penggerakkan dan Pelaksanaan) tidak adanya dukungan berupa media yang menarik terkait dengan penyuluhan pengelolaan fasilitas kesehatan, pembuangan limbah medis dan sanitasi serta higienitas fasilitas pelayanan kesehatan.
5.2 Analisis Univariat
5.2.1 Inspeksi Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Indikator Pemeriksaan Jumlah (N) Prosentase (%)
SDM Kesehatan 5 (62 %)
Dokumen Lingkungan 0 ( 0 % )
Pengelolaan Limbah Padat Medis 7 (78 %)
Pengelolaan Limbah Cair 5 (62%)
Area Bebas Rokok 7 (87%)
Area Bebas Jentik 8 (100%)
Berdasarkan data evaluasi indikator fasilitas pelayanan kesehatan , diperoleh fasyankes yang memenuhi syarat sebanyak 5 dan yang tidak memenuhi syarat 3 tempat.
Perhitungan Fasilitas kesehatan : Jumlah fasyankes yang memenuhi syarat x 100%
Jumlah fasyankes yang diperiksa
82 = 62 %
Berdasarkan hasil evaluasi kelengkapan persyaratan izin, dokumen lingkungan, pengelolaan limbah medis padat dan cair, area bebas jentik dan rokok di fasilitas Pelayanan Kesehatan didapatkan hanya 62% fasilitas pelayanan kesehatan yang memenuhi syarat, sehingga jumlah yang didapatkan memenuhi syarat belum mencapai target fasilitas kesehatan yang 75 %.
5.3 Intervensi
5.3.1 Penilaian Komponen fasilitas pelayanan kesehatan
Intervensi kegiatan masing-masing komponen dilakukan dengan form penilaian yang diadaptasi dari penilaian yang dimiliki oleh puskesmas sesuai dengan PERMENKES. Dari penilaian tersebut didapatkan data-data mengenai komponen data identitas fasilitas pelayanan kesehata, sumber daya manusia kesehatan, informasi mengenai dokumen lingkungan dan bagaimana pengelolaan limbah medis dari fasilitas kesehatan selama ini, dan area bebas rokok. Penilaian komponen tersebut dilakukan sebaiknya setiap 3 bulan sekali.
Penilaian mengenai fasiitas kesehatan di wilayah Kelurahan Cilandak Barat masih belum dapat terlaksana secara menyeluruh pada semua komponennya dan masih belum terlaksana secara berkesinambungan.
Penilaian yang dilakukan oleh pihak Puskesmas dilakukan setiap 1 tahun sekali dan tidak terfokus pada fasilitas kesehatan sendiri. Setelah intervensi dilakukan fasilitas pelayanan kesehatan terkait, diharapkan fasilitas – fasilitas pelayanan kesehatan tersebut dapat melakukan penilaian mandiri terhadap keadaan fasilitas pelayanan kesehatannya yang nantinya didokumentasikan dalam formulir penilaian mandiri yang diisi dan dikirimkan melalui surat elektronik (e-mail) setiap 3 bulan sekali. Dalam formulir dijelaskan masalah yang mungkin terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan sehubungan dengan pemenuhan kriteria fasiitas kesehatan yang memenuhi standard, pengelolaan dan pemeliharan limbah medis dan area bebas rokok, sehingga dapat mendapatkan tindak lanjut dari Puskesmas.
83 5.3.3 Pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan
Pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan ini ditujukan kepada pemilik atau pengelola atau penanggungjawab berupa penyuluhan yang berisi materi dan simulasi mengenai komponen fasilitas pelayanan kesehatan, pengelolaan dan pemeliharaan limbah medis, dan area bebas rokok atau area bebas jentik. Pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya.
Pembinaan yang pernah dilakukan adalah pembinaan untuk pengelolaan dan pemeliharaan limbah medis yang benar dilaksanakan selama 6 bulan sekali. Pembinaan menyeluruh mengenai seluruh komponen fasilitas kesehatan belum dilaksanakan secara rutin ke setiap fasilitas pelayanan kesehatan. Diharapkan pembinaan dilakukan secara berkala, berkelanjutan pada fasilitas – fasilitas kesehatan dan berkesinambungan dari setiap program pendukung.
5.3.3 Rapat Koordinasi Pemegang Program Kesehatan Lingkungan
Rapat koordinasi pemeganga program kesling dilakukan setiap 3 bulan. Rapat dilakukan untuk menentukan fasilitas pelayanan kesehatan yang akan dilakukan pembinaan, materi pembinaan yang akan diberikan serta materi pembinaan berdasarkan laporan yang diberikan setiap bulannya oleh pihak fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, rapat juga ditujukan untuk memberikan tindak lanjut dari pihak Puskesmas sehubungan dengan masalah yang terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan. Sebagai contoh dilakukan PSN ulang dan pembagian bubuk “abate” apabila ditemukan jentik di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan atau dilakukan pembinaan ulang tentang pemisahan jenis limbah medis dan memberikan plastic infectious atau safety box, jika ditemukan limbah medis yang tercampur dengan limbah non medis.
5.3.4 Pembuatan Media Promosi
Pembuatan media promosi, berupa pembuatan dan pembagian poster sebanyak 5 buah mengenai komponen fasilitas kesehatan yang ditujukan untuk pihak fasilitas pelayanan kesehatan. Poster yang digunakan berisi komponen-komponen limbah medis. Poster lebih banyak berisi gambar-gambar sehingga lebih mudah dipahami dan menarik perhatian siswa-siswi. Poster ini memberikan perbedaan limbah medis padat dan cair
84 serta pengelolaan yang benar terhadap limbah medis yang agar terwujud lingkungan yang sehat. Komponen atau gambar tersebut adalah definisi limbah medis, perbedaan dan jenis limbah medis, dan penanganan limbah medis. Pembagian poster ini bertujuan untuk memberikan informasi agar fasilitas medis tidak sembarangan dalam pengelolaan limbah medis.
85 BAB VI