BAB IV KONTRIBUSI E-COURT TERHADAP PENYELESAIAN
B. Pelaksanaan E-Court di Pengadilan Agama Makassar
Sebagai institusi yang telah eksis selama ini, Peradilan Agama diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyrakat dalam pencarian keadilan yang hidup pada zaman yang terus mengalami perkembangan. Oleh karena itu, Peradilan Agama harus menjawab tantangan zaman khususnya dari sisi penegakan hukumnya yang harus selaras dengan perkembangan social, wacana kemoderenan dan perekembangan Ilmu Teknologi (IPTEK).5Kemajuan Teknologi Informasi yang sedemikian cepat dan telah mempermudah kerja manusia bukan tanpa efek samping yang berdampak buruk bagi manusia/masyarakat/Negara. Laju perkembangan teknologi informasi pada akhirnya menuntut badan-badan peradilan di berbagai negara tak terkecuali di Indonesia untuk mengadopsi penggunaan teknologi informasi. Bila sebelumnya pengadministrasian perkara di pengadilan dilaksanakan secara manual serta memakan waktu lama dan biaya tinggi maka penggunaan teknologi informasi berupaya mempercepat, mempermudah dan mempermurah biaya pengadministrasian perkara.
Ide pemanfaatan teknologi informasi untuk memperlancar tugas-tugas peradilan tersebut saat ini semakin berkembang pesat melalui peradilan elektronik (e-court ). Terlebih Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telah mengamanatkan pemerintah untuk mendukung
5 Asni, Konsektualisasi Hukum berprespektif Perempuan di Peradilan Agama, jurnal
Al-„Adl, Vol.9 No.2, Juli 2016: 19
53
pengembangan teknologi informasi melalui infrastruktur hukum dan pengaturannya sehingga pemanfaatan teknologi informasi secara aman untuk mencegah penyalahgunaannya dengan memerhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya masyarakat Indonesia.
Keterbukaan informasi di peradilan, adalah salah satu hal yang seringkali disoroti karena berkaitan dengan hak atas peradilan yang adil. Prosedur birokrasi yang berbelit-belit berpotensi untuk membuat masyarakat malas memperjuangkan haknya melalui institusi formal penegak hukum. Berdasarkan riset masih banyak ditemukan praktik pungli yang dilakukan oleh oknum pengadilan di Indonesia dalam memberikan layanan publik kepada masyarakat.
Laporan Ombudsman Republik Indonesia menyebut dalam kurun waktu tiga tahun terakhir yaitu 2014-2016, Pengadilan Negeri merupakan lembaga peradilan yang paling banyak diadukan yaitu sebanyak 394 aduan dengan jenis mal administrasi yang paling banyak dikeluhkan publik adalah penundaan perkara yang berlarut-larut sebanyak 215 aduan, tidak kompeten dalam melaksanakan kinerja dalam sistem peradilan sebanyak 117 aduan, dan penyimpangan prosedur sebanyak 115 aduan.
Sebagai perbandingan, di Australia sudah terlebih dahulu diterapkan online dispute resolution, dimana pihak berperkara dapat menyelesaikan sengketanya secara online. Demikian juga di Amerika Serikat sejak tahun 1999 telah dimulai Public Access to Electronic Record (PACER), dan berbagai pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang tugas peradilan. Melalui
penggunaan e-court Mahkamah Agung Republik Indonesia juga kini sejajar pelayanannya dengan Supreme Court Amerika Serikat, Supreme Court Inggris, dan Supreme Court Singapura, E-Syariah di Malaysia.
Mahkamah Agung Indonesia sendiri melalui Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara Di Pengadilan Secara Elektronik telah mulai menggunakan teknologi informasi guna membantu perbaikan kinerja peradilan. Hal ini selaras dengan Visi Mahkamah Agung menjadi Badan Peradilan Modern dengan berbasis Teknologi Informasi Terpadu.
Penerapan e-court ini sendiri merupakan lompatan besar dari keseluruhan upaya besar Mahkamah Agung dalam melakukan perubahan administrasi di pengadilan.
Hal tersebut merupakan upaya mengatasi tiga hambatan yang sering dihadapi lembaga peradilan yakni penanganan perkara yang lambat, kesulitan mengakses informasi pengadilan, integritas aparatur pengadilan.
Di era milenial perkembangan tekhnologi tidak dapat dibendung lagi. Saat ini masyarakat, khususnya kaum milenial lebih memilih transaksi dengan menggunakan informasi transaksi elektronik (ITE) karena memiliki banyak unggulan dan kemudahan. Perkembangan teknologi itu, tidak di sia-siakan oleh Mahkamah Agung (MA) sebagai lembaga tinggi negara yang menjadi benteng terakhir penegakan hukum. Kabar baiknya lagi penggunaan aplikasi elektronik di dukung oleh pemerintah kemudian dikeluarkanlah aturan e-court sebagai salah satu benuk implementasi.
55
Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). SPBE telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik.6 Dengan di dukungnya sistem elektronik oleh pemerintah menjadikan penerapan sistem elektronik di Pengadilan Agama lebih cekatan untuk melaksanakan persidangan berbasis elektronik tersebut. Untuk lebih mengenalkan sistem persidangan tersebut secara elektronik maka Sosialisasi e-court oleh Mahkamah Agung selama ini sangat dimassifkan dan begitu gencar disebar luaskan di beberapa wilayah hukum pengadilan agama yang tersebar di Indonesia termasuk kota Makassar. Peneliti kemudian mencari informasi lebih lanjut mengenai kapan kemudian Pelaksanaan E-Court di kota makassar dimulai, adapun hasil wawancara tersebut :
“Pelaksanaan E-Court terlaksana itu pada tahun 2019, itu masih baru terlaksana untuk di Pengadilan Agama Makassar ini.”
Berdasarkan hasil wawancra tersebut ternyata untuk pelaksanaan e-Court sendiri dimulai pada tahun 2019. e-Court sendiri merupakan layanan bagi pengguna terdaftar untuk pendaftaran perkara secara elektronik, mendapatkan taksiran panjar biaya perkara , pembayaran dan pemanggilan yang dilakukan dengan saluran elektronik dan secara daring. E-court merupakan salah satu bentuk implementasi SPBE, sebagaimana tergambar dalam Peraturan
6 Perpres.2018
Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik.7
PERMA No 1 tahun 2019 memperkenalkan istilah sistem informasi pengadilan, yaitu seluruh sistem informasi yang disediakan oleh Mahkamah Agung untuk memberi pelayanan terhadap pencari keadilan yang meliputi administrasi, pelayanan perkara, dam persidangan secara elektronik.
Kemudian lebih jelasnya untuk masyarakat yang menggunakan e-Court disebutkan bahwa secara garis besar e-court merupakan bagian dari upaya pengadilan untuk memberikan akses kemudahan kepada masyarakat dan para pencari keadilan (justie seeker), selain tentunya menjadikan pengadilan semakin transparan, efektif dan efisien. .
Berbicara mengenai pelaksanaan e-Court sendiri, di dalam sidang elektronik dikenal beberapa istilah :
1. e-Filing (Pendaftaran Perkara Online di Pengadilan)
E-Filing atau pendaftaran perkara secara online dilakukan setelah terdaftar sebagai pengguna atau memiliki akun pada aplikasi e-Court dengan memilih Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, atau Pengadilan TUN yang sudah aktif melakukan pelayanan e-Court. Semua berkas pendaftaran dikirim secara elektronik melalui aplikasi e-Court Makamah Agung Republik Indonesia (MARI).
7 PERMA 1/2019
57
2. e-Skum (Taksiran Panjar Biaya)
Dengan melakukan pendaftaran perkara online melalui e-Court, pendaftar akan secara otomatis mendapatkan taksiran panjar biaya (e-SKUM) dan nomor pembayaran (virtual account) yang dapat dibayarkan melalui saluran elektronik (multi channel) yang tersedia.
3. e-Payment (Pembayaran Panjar Biaya Perkara Online)
Aplikasi E-Payment dapat digunakan untuk melakukan pembayaran terhadap panjar biaya perkara yang ditetapkan melalui aplikasi e-SKUM sebagai tindak lanjut pendaftaran secara elektronik.
4. e-Summons (Pemanggilan Pihak secara online)
Sesuai dengan Pasal 11 dan 12 Peraturan MA-RI Nomor 3 Tahun 2018, disebutkan bahwa panggilan menghadiri persidangan terhadap para pihak berperkara dapat disampaikan secara elektronik. Untuk panggilan elektronik dilakukan kepada pihak penggugat yang melakukan pendaftaran secara elektronik dan memiliki bukti bertulis, sedangkan tergugat panggilan pertama dilakukan melalui jurusita pengadilan dan dapat dilakukan panggilan secara elektronik dengan menyatakan persetujuan secara tertulis untuk dipanggil secara elektronik, serta kuasa hukum wajib memiliki persetujuan secara tertulis dari prinsipal untuk beracara secara elektronik .
5. e-litigasi
E-litigasi merupakan sebuah sistem dimana proses administrasi persidangan dapat dilakukan secara elektronik. Meliputi pertukaran dokumen
persidangan yakni jawaban, replik, duplik, dan kesimpulan dapat dilakukan secara elektronik. Persidangan secara elektronik ini mengacu pada perma Nomor 1 Tahun 2019. E-litigasi merupakan bagian dari E-court.
Meskipun Court sendiri terlaksana pada tahun 2019, namun untuk e-litigasi itu sendiri baru terlaksana pada tahun 2020. Seperti yang dikatakan oleh bapak Rahmatullah selaku hakim yang diwawancari oleh peneliti, ia menyatakan bahwa:
“e-Litigasi itu baru terlaksana pada tahun 2020. E-Court dulu baru kemudian e-litigasi”
E-litigasi sendiri merupakan bagian dari e-court, hanya saja e-litigasi proses administrasinya. Administrasi perkara secara elektronik merupakan serangkaian proses penenrimaan gugatan atau permohonan, jawaban replik, duplik, dan kesimpulan, pengelolaan, penyampaian dan penyimpanan dokumen perkara perdata, agama, tata usaha militer, tata usaha Negara dengan menggunakan system elektronik yang berlaku di masing-masing lingkungan peradilan.
Adanya peraturan mahkamah agung nomor 3 tahun 2018 tentang administrasi perkara di pengadilan secara elektronik sebagai bentuk keseriusan mahkamah agung dalam menanggapi aspirasi masyarakat terkait modernisasi penyelenggaraan peradilan dan merupakan reformasi hukum acara yang memanfaatkan informasi untuk memfasilitasi bagi yang mendukung perizinan hak, baik gugatan maupun bantuan yang datang ke pengadilan.
59
Dalam pelaksanaan E-Court terdapat beberapa langkah pendaftaran hingga terdaftar dan mendapatkan nomor perkara. Berikut penjelasanya :8
1. Pendaftaran Akun Pengguna Terdaftar
Sebelum melakukan pendaftaran syarat wajib yang harus dilakukan adalah harus memiliki akun pada aplikasi e-Court. Untuk melakukan pendaftaran melalui e-Court yang dilakukan pertama kali adalah membuka website e-Court Mahkamah Agung dihttps://ecourt.mahkamahagung.go.id dan menekan tombol Register Pengguna Terdaftar. Dalam pendaftaran Pengguna Terdaftar harus dimasukkan alamat email yang valid karena aktivasi akun akan dikirimkan melalui email yang didaftarkan yang nantinya akan menjadi alamat domisili elektronik pengguna terdaftar. Apabila pendaftaran berhasil pengguna terdaftar akan mendapatkan email user dan password yang te lah dibuatnya dan dapat digunakan untuk login pada aplikasi e-court.
2. Login
Login pada aplikasi e-Court dapat dilakukan pada tombol Login halaman pertama e-Court. Setelah berhasil login untuk pertama kali login, pengguna terdaftar harus melengkapi data Advokat. Sesuai Perma No. 3 Tahun 2018 bahwa Pengguna Terdaftar untuk saat ini hanya bisa dilakukan oleh Advokat, untuk pengguna terdaftar lain dari Perseorangan atau Badan Hukum akan diatur kemudian. Dalam melengkapi data advokat juga jarus melengkapi dengan dokumen Advokat sesuai persyaratan yang telah diatur pada Perma No. 3 Tahun 2018 yaitu KTP, Berita Acara Sumpah dan Kartu Tanda Anggota (KTA). Dengan
8Sumber Data: Pengadilan Agama Makassar Kelas 1A
melengkapi data Advokat yang benar untuk pendaftaran akun pengguna terdaftar telah selesai dilakukan, akan tetapi untuk bisa beracara dengan menggunakan e-Court harus menunggu verifikasi dan validiasi oleh Pengadilan Tingkat Banding dimana Advokat tersebut disumpah.
3. Pendaftaran Perkara
Setelah Pengguna Terdaftar dinyatakan terverifikasi dan valid sebagai Advokat oleh Pengadilan Tingkat Banding dimana Advokat Tersebut disumpah, maka berikutnya adalah Pendaftaran Perkara. Tahapan Pendaftaran Perkara melalui e-Court adalah sebagai berikut :
a. Memilih Pengadilan
Advokat dapat beracara di Pengadilan yang telah membuka layanan e-Court dan dalam hal ini Pengadilan yang membuka layanan e-e-Court tidak serempak di Indonesia akan tetapi bagi yang sudah dinyatakan siap oleh Dirjen masing-masing.
b. Mendapatkan Nomor Register Online (Bukan Nomor Perkara)
Pada tahapan awal, setelah memilih Pengadilan pengguna terdaftar akan mendapatkan Nomor Register Online dan Barcode akan tetapi bukan Nomor Perkara. Setelah memahami dan menyetujui syarat dan ketentuan dalam pendaftaran online melalui e-Court, tekan Tombol Daftar.
c. Pendaftaran Kuasa
Pendaftaran Surat Kuasa adalah bagian dari Tahapan dimana Advokat atau Pengguna terdaftar harus mengupload Surat Kuasa sebelum melanjutkan pendaftaran perkara. Syarat Pendaftaran Lain dalam beracara seperti Berita Acara
61
Sumpah, KTP dan Kartu Anggota Advokat tidak perlu dicantumkan lagi karena sudah akan selalu terlampirkan setiap pendaftaran perkara. Dokumen seperti Berita Acara Sumpah, KTP dan KTA sudah didaftar saat pendaftaran akun pengguna terdaftar.
d. Mengisi Data Pihak
Mengisi Data Pihak adalah menjadi hal wajib dalam pendaftaran perkara dan dalam pengisian data pihak ini akan mengisi alamat pihak baik penggugat dan tergugat sehingga dapat memilih lokasi Provinsi, Kabupaten dan Kecamatan.
Dengan melengkapi data alamat maka biaya panjar dapat ditaksirkan sesuai besaran radius masing-masing wilayah pengadilan sesuai ketetapan Ketua Pengadilan.
e. Upload Berkas Gugatan
Tahapan berikutnya adalah melengkapi Dokumen Gugatan yang harus diupload pada tahapan Upload Berkas. Berkas Gugatan dan Persetujuan Prinsipal diupload dalam tahapan Upload Berkas Gugatan.
f. Elektronik SKUM (e-SKUM)
Dengan selesainya melangkapi data pendaftaran dan dokumen Pengguna Terdaftar akan mendapatkan taksiran panjar biaya perkara dalam bentuk Elektronik SKUM (e-SKUM) yang digenerate otomatis oleh sistem dengan Komponen Biaya Panjar dan Radius yang telah ditetapkan oleh Ketua Pengadilan.
Besaran Taksiran Panjar Biaya Perkara ini sudah diperhitungan dengan rumusan sesuai Penentukan Taksiran Biaya Panjar untuk perkara Gugatan, namun demikian apabila dalam perjalanannya terdapat kekurangan maka akan diberitkan
tagihan untuk Tambah Biaya Panjar dan sebaliknya apabila biaya panjar kelebihan akan dikembalikan kepada Pihak yang mendaftar perkara.
g. Pembayaran (e-Payment)
Pengguna Terdaftar setelah mendapatkan Taksiran Panjar atau e-SKUM akan mendapatkan Nomor Pembayaran (Virtual Account) sebagai rekening virtual untuk pembayaran Biaya Panjar Perkara. Pengguna terdaftar setelah mendapatkan Taksiran Panjar Biaya Perkara (e-SKUM) akan mendapatkan Nomor Pembayaran (Virtual Account) yang digunakan sebagai Rekening Virtual untuk pembayaran Biaya Panjar Perkara.
Setelah dilakukan pembayaran otomatis status dari pendaftaran akan berubah. Untuk tahapan pendaftaran perkara sudah selesai berikutnya adalah Pengguna Terdaftar menunggu verifikasi dan validasi yang dilakukan oleh Pengadilan untuk Mendapatkan Nomor Perkara.Pengguna Terdaftar akan mendapatkan email Pemberitahuan dan Tagihan. Email Pemberitahuan bahwa status pendaftaran, dan email tagihan dan besaran biaya panjar yang harus dibayarkan.
h. Mendapatkan Nomor Perkara
Pengadilan baru akan mendapatkan notifikasi atau pemberitahuan disaat Pendaftaran Perkara sudah dilakukan pembayaran kemudian Pengadilan akan melakukan verifikasi dan validasi dilanjutkan dengan mendaftarkan Perkara di SIPP (Sistem Informasi Penelusuran Perkara) yang merupakan aplikasi manajemen administrasi perkara di Pengadilan sehingga akan otomatis mendapatkan Nomor Perkara dan melalui SIPP akan otomatis mengirimkan
63
informasi pendaftaran perkara berhasil melalui e-Court dan SIPP. Apabila Pengadilan telah selesai memverifikasi pendaftaran kemudian mendapatkan Nomor Perkara maka halaman verifikasi akan berubah. Dengan mendapatkan Nomor Perkara Tahapan Pendaftaran Perkara Online Telah Selesai, dan menunggu pemanggilan dari Pengadilan. Pendaftaran Berhasil ini juga akan mendapatkan email pemberitahuan sehingga diharapkan informasinya cepat sampai kepada Pengguna Terdaftar.
C. Peluang dan Hambatan E-Court di Pengadilan Agama Makassar
Berkaitan dengan penggunaan e-court saat ini demi menciptakan peradilan yang diminimalisir agar sesederhana mungkin, cepat serta biaya yang lebih murah sehingga e-court dapat pula mewujudkan proses peradilan yang kemudian lebih efektif, efisien yang merupakan dambaan semua stakeholder.9
Kemajuan zaman yang tidak dapat di hiraukan oleh masyarakat saat ini, menuntut segala pekerjaan dapat dilakukan secepat dan semudah mungkin.
Berbagai layanan yang ditawarkan untuk menarik minat kaum milenial.
Inipula yang dimanfaatkan oleh Pengadilan Agama, tidak mau kalah bersaing dengan sektor lainnya, prosedur pelaksanaan perkara pun saat ini dilakukan secara elektronik/ online yang dalam istilah hukumnya disebut e-court.
Namun yang mengganjal di masa saat ini yang berbasis elektronik tentunya tidak serta-merta berjalan mulus ataupun dapat dikatakan aplikasi tersebut masih baru di kalangan masyarakat. Bahkan ada kemudian yang menggunakan prosedur
9 Rafli Fadilah Ahmad. E-Court, Prospek Cemerlang Masa Depan Peradilan Indonesia.
Artikel.2018.
penyelesaian perkara melalui e-court tapi tidak sedikit pula yang masih tetap bertahan menyelesaikan perkara secara manual. Serta kemudian, jaminan apa yang diberikan pihak pengadilan bahwasannya peluang penggunaan e-court dapat menciptakan suasana pengadilan yang lebih baik.
Hal tersebut telah peneliti coba tanyakan kepada bapak Rahmatullah selaku hakim di Pengadilan Agama Makassar kelas IA, beliau menjawab :
“Sejak diluncurkan e-court yah ini menjadi respon positif dikalangan advokat karna selain berbasis teknologi yang dapat dilaksanakan dimanapun ini juga mempermudah kerja-kerja advokat salah satunya.
Artinya kalau dilihat respon positifnya berarti untuk kedepannya tenang-tenang saja bahkan lebih bagus jika terus digunakan karena menguntungkan berbagai pihak yah”.10
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat digambarkan bahwasannya e-court yang saat ini telah terlaksana justru di respon baik oleh berbagai kalangan khususnya para pihak di dalam engadilan Agama Makassar tersebut. berbicara peluangnya, dapat dilihat dari penjelasan hasil wawancara di atas artinya titik terang penggunaan e-court kedepan semakin baik. Namun tidak dapat dipungkiri pemahaman e-court yang utuh serta kesadaran-kesadaran para advokat dan pengguna lainnya pada akhirnya kedepan akan menciptakan nuansa pengadilan baru yang berbasis teknologi. Terakhir adalah sosialisasi kepada para pihak bahwa mencari keadilan kini sudah tidak zaman lagi untuk mengantri lama-lama di kantor, tetapi cukup dengan gadget masing-masing yang dapat dikerjakan pada sudut ternyaman rumah-mu.
10 Rahmatullah, Hakim Pengadilan Agama Makassar, Wawancara, Makassar 8 Oktober 2020.
65
Melihat titik terang peluang dari e-court kedepan tidak dapat dipungkiri bahwa hal baru tidak subtansial akan sempurna dan jauh dari kata hambatan penggunaannya, bahkan pasti dan ada hambatan di dalamnya.
Setelah diterbitkannya Perma Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara Di Pengadilan Secara Elektronik Direktur Jenderal Badan Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI telah menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Badan Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara Mahkamah Agung RI Nomor 307/Djmt/Kep/5/2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik.
Sistem informasi yang masih seumur jagung kadang kala masih banyak hambatan di dalam pelaksanaannya. Tahun 2019 merupakan lahirnya e-court di Pengadilan Agama Makassar. Tidak dapat dipungkiri kecemasan masyarakat untuk menggunkan e-court masih jadi tanda tanya besar. Maka dari itu, peneliti kemudian menanyakan kembali mengenai hambatan apa saja yang kemudian pernah dialami oleh para pihak pengguna e-court tersebut. Adapun hasil wawancara dari pertanyaan tersebut dijawab oleh pihak pengadilan Agama sebagai berikut :
“Kalau masalah hambatan E-Court di Pengadilan Agama Makassar itu bisa dibilang tidak ada yah, Bahkan sebaliknya memperlancar. Hambatan yang mungkin terjadi jaringan, namanya saja elektronik pasti jaringan”.11
11 Rahmatullah, Hakim Pengadilan Agama Makassar, Wawancara, Makassar 8 Oktober 2020.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat dilihat bahwasannya secara umum dalam penggunaan aplikasi yang berbasis internet yang menjadi hambatannya yaitu jaringan. Sehingga untuk mengakses e-court memang dibutuhkan akses internet yang memadai.
E-Court adalah suatu aplikasi online berbasis web yang digunakan untuk membantu memudahkan dalam mengelola perkara secara. Sistem digital ini hadir sebagai solusi atas permasalahan yang muncul pada proses persidangan di Pengadilan Agama serta proses pelaksanaanya sampai dengan pemutusan perkara dilakukan melalui sistem digital ini. Dalam perkembangannya, e-court ini bisa diakses penggunanya melalui Laptop dan bahkan sekarang lebih mudah diakses melalui aplikasi berbasi mobile yang bisa diunduh dan di gunakan di smarthpnone masing-masing penggunanya.
Yang pasti, sistem digital ini membutuhkan koneksi jaringan internet, maupun jenis jaringan lainnya. E-court memiliki peran penting dalam pelaksanaan sidang elektronik untuk mempermudah pelaksananya mengakses dimanapun.
“Kalau masalah pendaftran tidak ada hambatan kita hanya menghitung menit atau jam dan orang menunggu dirumah jadi tidak perlu di kantror.”12 Berdasarkan hal tersebut, pihak pengadilan agama Makassar memang hanya terkendala di jaringan. Otomatis saat jaringan tidak memadai baik pendafatran dan sebagainya semuanya akan terhambat. Karena, di dalam
12 Rahmatullah, Hakim Pengadilan Agama Makassar, Wawancara, Makassar 8 Oktober 2020
67
penggunaan sistem elektronik hal yang menjadi dasar penghambatnya yaitu akses jaringannya.
D. Efektivitas e-Court di Pengadilan Agama Makassar
Tuntutan publik terhadap layanan lembaga peradilan semakin meningkat seiring dengan makin massifnya penggunaan teknologi informasi serta berbagai regulasi yang membuka ruang kepada publik untuk mengakses informasi dan mendapatkan layanan yang prima dari lembaga-lembaga publik. Pada kondisi demikian, aparatur peradilan harus semakin membuka diri terhadap perubahan serta adaptif terhadap perkembangan yang ada di sekitarnya.
Badan Peradilan dituntut untuk selalu meningkatkan pelayanan publik dan memberikan jaminan proses peradilan yang adil. Sementara terkait asas kesempatan untuk membela diri, penerapan e-court memberikan akses yang luas kepada Para Pihak untuk mengajukan pembelaannya sehingga lebih memberikan perlindungan bagi para pihak. Demikian juga dengan Asas Akuntabilitas, maka penerapan administrasi perkara secara elektronik akan meninggalkan jejak digital yang tersimpan selamanya sehingga selain dapat dikontrol oleh publik juga dapat mencegah berkas hilang atau rusak.
Transparansi yang diterapkan pengadilan juga diharapkan perlahan akan dapat mengurangi praktik pungli di pengadilan yang marak terjadi sebelumnya.
praktik Sebagaimana diketahui praktik pungutan liar berdampak pada terhambatnya akses keadilan bagi masyarakat. Hal ini muncul karena ada biaya lebih yang harus dikeluarkan oleh para pencari keadilan terhadap layanan di pengadilan akibat proses administrasi yang terlalu panjang dan melibatkan banyak
pihak. Praktik semacam ini sebelumnya melahirkan rentan terhadap praktik pencaloan dan penyimpangan prosedur lainnya. 13
Menurut keterangan dari pihak Pengadilan Agama Makassar pelaksanaan e-Court lebih banyak mendapatkan kemaslahatan selama proses pelaksananaannya seperti wawancara yang dilakukan oleh peneliti, ia menerangkan beberapa kasus yang terjadi diluar dari kota Makassar itu sendiri.
Adapun keterangan yang di dapatkan peneliti sebagai berikut :
“Efektivitas itu terlihat kalau sudah masuk ke dalam proses e-litigasi, misalnya pembuktikan dengan sanksi bisa dilaksanakan di pengadilan tempat lain. Misalnya di Jakarta bisa yang bersangkutan di pengadilan agama jakarta bisa disambungkan langsung ke Makassar. kalau misalnya manual sanksi mau di datangkan pasti biaya lagi banyak dikeluarkan.Dan kalau bicara data itu sudah dibawa ke hukum. Kalau untuk kasus e-Court sudah banyak. Rata-rata pengacara sudah menggunakan e-court. Tapi, kalau e-Litigasi itu masih terbatas karena pihak yang bersangkutan dapat
“Efektivitas itu terlihat kalau sudah masuk ke dalam proses e-litigasi, misalnya pembuktikan dengan sanksi bisa dilaksanakan di pengadilan tempat lain. Misalnya di Jakarta bisa yang bersangkutan di pengadilan agama jakarta bisa disambungkan langsung ke Makassar. kalau misalnya manual sanksi mau di datangkan pasti biaya lagi banyak dikeluarkan.Dan kalau bicara data itu sudah dibawa ke hukum. Kalau untuk kasus e-Court sudah banyak. Rata-rata pengacara sudah menggunakan e-court. Tapi, kalau e-Litigasi itu masih terbatas karena pihak yang bersangkutan dapat