BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4. Pembahasan dan Hasil Penelitian
4.4.2. Hambatan Pendamping Lokal Desa (PLD) Dalam
4.4.2.2. Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan tindakan yang dilakukan untuk menjadikan rencana yang telah disusun menjadi kenyataan. Semuanya telah dipersiapkan mulai dari penetapan pelaksanaan kegiatan pembangunan, penyusunan rencanan kegiatan pembangunan, sosialisasi, pembekalan pelaksanaan, penyiapaan dokumen admnistrasi, pengadaan tenaga kerja dan pengadaan bahan/material pembangunan desa. Dari setiap tahapan pelaksanaan pembangunan desa, masih terdapat kendala
yang membuat proses pelaksaan menjadi terlambat, perencanaan yang telah disusun tidak ada masalah lagi tetapi pada saat pelaksanaan kegiatan pembangunan barulah hambatan-hambatan tersebut hadir. Pada penyiapan dokumen tidak ada masalah lagi karena memang sudah dipersiapkan yang menjadi masalah adalah pada sumber daya manusia Desa Batu Layan sendiri, seperti sebelum melaksanakan pembangunan terlebih dahulu disosialisasikan melalalui musyawarah pelaksanaan kegiatan desa, musyawarah dusun sampai ada papan informasi desa, tapi pada saat musyawarah untuk sosialisasi masyarakat yang hadir lebih sedikit dari pada musyawarah perencanaan pembangunan, atau hambatan lain seperti pekerja yang bekerja sangat lambat dalam penyelesaian pembangunan desa. Mengenai hal tersebut Pendaping Lokal Desa (PLD) Batu Layan, Ibu Misra menjelaskan hambatan dalam pelaksanaan sebagai berikut :
“Biasanya dalam pelaksaan hambatannya memang dari masayarakat desa, kita kan sudah menyusun perencaan pembangunan jadi masyarakat pasti sudah tau pembangunan apa yang akan dibangun dan lokasi pembangunannya, tapi sebelum melaksanakannya pembangunan tersebut kitakan melakukan sosialisasi lagi, sosialisasi dalam musyawarah kegiatan, ya tapi masyarakat tidak begitu berpartisipasi lagi karena mereka sudah menghadiri acara Musrenbang padahal musyawarah pra pembanguna juga sangat penting untuk dihadiri oleh masyarakat, Lalu kendala lainnya pada pelaksanaan pembangunan dilakukan, yaitu para pekerja yang melaksanakan pembangunan sangat lambat dalam pengerjaanya ya mungkin dikarenakan budaya masayarat desa yang sebelum bekerja terlebih dahulu harus singgah dulu ke kekedai kopi untuk mengopi dan mengobrol dikedai kopi, tentu saja itu membuat waktu dimulainya pekerjaan menjadi terlambat ataurannya pekerjaan dimulai pukul 08.00 menjadi pukul 09.00 atau lebih sehingga dalam perencanaan waktu penyelesaian pembangunan menjadi terlambat, solusi yang kami lakukan sebagai pendamping adalah terus mengajak masyarakat untuk aktif dalam semua musyawarah yang dilaksanakan karena pembangunan ini kan untuk mereka yang menikmatinya kemudian untuk pelaksanaan pembangunan yang pekerja
terlabih dahulu kewarung kopi itu memang budaya, jadi akan sangat susah untuk mengubahnya solusinya ya kami dan perangkat desa tetap mengontrol ke lokasi pembangunan dan memberikan pengertian kepada pekerja agar lebih cepat dalam pengerjaanya karena pembangunan harus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan telah tercantum dalam RKPDes dan APBDes”. (Wawancara, Rabu, 3 Juli 2019).
Penjelasan Pendamping Lokal Desa (PLD) Desa Batu Layan, Ibu Misra diatas memberikan gambaran bahwa hambatan pelaksanaan pembangunan Desa Batu Layan lebih kepada masyarakat desa yang partisipasinya sudah mulai berkurang dalam menghadiri musyawarah kegiatan pembangunan dan budaya setempat juga mempengaruhi proses pengerjaan pembangunan menjadi lebih lama. Tugas pendamping Lokal Desa (PLD) disini untuk terus menjaga komunikasi dengan masyarakat dan lebih mengajak masyarakat untuk lebih aktif lagi dalam proses pembangunan desa mereka.
4.2.2.3. Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat desa merupakan hal sangat penting, salah satu inti dari pembangunan desa adalah upaya untuk mengingkatkan kemampuan dan menggali potensi yang dimiliki oleh masyarakat Desa Batu Layan. Pemberdayaan dilakukan dengan membetuk program-program tertentu dan diharapkan masyarakat untuk dapat aktif mengikutinya. Program pemberdayaan masyarakat yang ada di Desa Batu Layan hanya pada program kesehatan seperti Posyandu dan PKK. Untuk remaja putra putri berupa pelatihan tarian daerah. Sedikitnya program pemberdayaan tersebut membuat peningkatan kemampuan masyarakat Desa Batu Layan hanya sebatas memerikasa kesehatan pada program posyandu
dan peningkatan kemampuan keterampilan rumah tangga dalam program PKK.
Walaupun demikian terdapat hambatan yang dihadapi oleh Pendamping Lokal Desa (PLD) terutama pada masih kurangnya partisipasi masyarakat Desa Batu Layan.
Mengenai hambatan yang dihadapi oleh Pendamping Lokal Desa (PLD) dalam pemberdayaan masyarakat dijelaskan oleh Ibu Misrah sebagai berikut :
“Pemberdayaan masyarakat yang ada di Desa Batu Layan memang tidak banyak hanya sebatas Posyandu, PKK dan pelatihan tarian daerah. Tapi yang menjadi kendala adalah kurangnya minat masyarat untuk hadir, ya memang sebagian ada juga yang hadir tapi hanya sedikit, ya disini saya maklum saya karena masyarakat Desa Batu Layan sebagian besar bekerja sebagai seorang petani, tapi saya berharap agar masyarakat meluangkan waktunya pada hari acara berlangsung, kan ini acara sebenarnya untuk mereka tapi saya liat mereka tidak begitu menghiraukannya. Untuk solusinya ya.. saya hanya selalu memberikan motivasi agar masyarakat selalu menghadiri acara-acara pemberdayaan masyarakat tersebut, saya hanya bisa mengajak dan memberikan penjelasan mengenai manfaat acara tersebut, soal hadir tidaknya itu kan menjadi keputusan mereka saya tidak bisa memaksakannya”. (Wawancara, Sabtu 10 Agustus 2019).
Penjelasan dari Pendamping Lokal Desa (PLD) diatas bahwa dapat dipahami bahwa yang menjadi kendala dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Batu Layan adalah kurang berminatnya masyarakat Desa Batu Layan dalam menghadiri acara-acara pemberdayaan masyarakat. Mereka lebih memilih untuk pergi bekerja ke sawah atau ladang daripada menghadiri program tersebut. Kurangnya minat masyarakat terhadap program tersebut tentu menjadi sebuah tantangan untuk Pendamping Lokal Desa (PLD) untuk terus menerus mendekati, mengajak dan memberikan penjelasan mengenai manfaat dari pemberdayaan masyakat agar mereka berpartisipasi. Ajakan dari Pendamping Lokal Desa (PLD) secara teru
menerus diharapkan dapat menumbuhkan semangat berpartisipasi masyarakat bukan karena sebuah keterpaksaan tapi memang berasal dari diri masyarakat Desa Batu Layan sendiri.
4.2.2.4. Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan pembangunan desa dilakuan dengan cara menilai apakah pembangunan yang telah dilaksanakan telah sesuai dengan perencanaan yang telah disusun pada saat mesrembang desa di awal tahun. Penilaian yang dilakukan terutama dalam hal pengadaan barang dan/atau jasa, pengadaan bahan/material, pengadaan tenaga kerja, pengelolaan administrasi keuangan dan lain sebagainya.
Selain pemantauan yang berupa teknis adminstrasi pembangunan, pemantauan pembangunan tentu sangat membutuhkan peran masyarakat desa untuk dapat bersama-sama dalam memelihara pembangunan yang telah dibangun. Hambatan yang dihapi Pendamping Lokal Desa (PLD) dalam pemantauan dan evaluasi pembangunan desa lebih kepada partisipasi masyarakat untuk dapat terus menjaga agar hasil pembangunan tersebut tetap terjaga dengan baik. Masyarakat desa tidak begitu memberikan respon terhadap pembangunan desa, seperti ketika pembangunan jalan tani, MCK, dan (rabatbeton) jalan menuju surai selesai ya sudah begitu saja tanpa ada keinginan untuk menjaga agar pembangunan tersebut bertahan lama.
Mengenai hal tersebut, Pendamping Lokal Desa (PLD) Desa Batu Layan, Ibu Misrah menjelaskan mengenai hambatan dalam pemantauan dan evaluasi
“Dalam pemantauan dan evaluasi pembangunan, hal yang sangat disayangkan adalah sikap masyarakat terhadap pembangunan, masyarakat sangat susah diajak untuk sama-sama menjaga kelestarian bangunan,ya mereka hanya menganggap ketika bangunan tersebut selesai maka selesailah sudah pembangunan tersebut masalah kelestariannya mereka kurang memperhatikannya karena mereka menganggap bahwa ya jika jalan tani misalnya rusak bisa dibangun kembali karena memang ada dana untuk pembangunan tersebut tanpa mengetahui banyaknya prosedur yang harus dilalui untuk dapat membangun jalan tersebut. Untuk menghadapi hal tersebut cara yang saya lakukan adalah memberikan pengertian serta mengajak masyarakat untuk terlibat bersama-sama menjaga bangunan tersebut baik itu jalan tani, MCK maupun jalan ke surau terutama masyarakat yang berdekatan dengan lokasi bangunan tersebut, karena jika bukan meteka yang menjaganya lalu siapa lagi dan memang pembangunan jalan tani, mck dan jalan surai itu untuk mempermudah aktivitas mereka sendiri”. (Wawancara, Rabu, 3 Juli 2019).
Penjelasan yang diberikan oleh Pendamping Lokal Desa (PLD), Ibu Misrah tersebut memberikan gambaran kepada Peneliti bahwasanya hambatan pendampingan yang dilakukan dalam pemantauan dan evaluasi bersumber dari masyarakat yang kurang memperhatikan dan menjaga hasil pembangunan yang dilakukan, ketika pembangunan selesai dilakukan maka bangunan tersebut dibiarkan apa adanya tanpa adanya keingin untuk terus merawatnya agar tetap dalam kondisi yang baik. Padahal dengan keberadaan pembangunan dapat mempermudah aktivitas mereka. Oleh sebab itu, hadirnya Pendamping Lokal Desa (PLD) untuk terus mendampingi masyarakat agar tetap bersama-sama berpatisipasi dalam menjaga semua pembangunan yang ada di desa mereka yaitu di Desa Batu Layan.
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka penelitian yang telah dilakukan oleh Peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Peran Pendamping Lokal Desa (PLD) dalam pembangunan desa di Desa Batu Layan dalam proses :
a. Perencanaan pembangunan yang berperan sebagai seorang fasilitator yang berfungsi sebagai seorang narasumber, pelatih, dan mediator telah dilaksanakan dengan baik, sedangkan sebagai penggerak masih kurang maksimal; untuk peran sebagai seorang komunikator yang berfungsi sebagai seorang informan dan seorang kendali juga telah terlaksana dengan baik.
b. Pelaksanaan pembangunan sebagai komunikator yang berfungsi sebagai seorang kendali dan fasilitator sebagai seorang penggerak telah terlaksana dengan baik hanya saja pada perannya sebagai seorang fasilitator dengan fungsi sebagai seorang narasumber masih kurang maksimal.
c. Pemberdayaan masyarakat sebagai seorang fasilitator dengan fungsi penggerak dan sebagai seorang komunikator dengan fungsi kendali telah terlaksana dengan baik.
d. Pemantauan dan evaluasi sebagai seorang komunikator yang memberikan motivasi kepada masyarakat telah telaksana dengan baik, sedangkan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai penggerak masih kurang maksimal.
2. Hambatan yang dihadapi oleh Pendamping Lokal Desa (PLD) dalam melakukan pendampingan pembangunan Desa Batu Layan baik itu dalam proses perencanaan , pelaksanaan kegiatan pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat serta pemantauan dan evaluasi desa yaitu masyarakat yang menginginkan pembangunan untuk kepentingan sendiri, ketidakdisiplinan dalam pelaksanaan pembangunan, kurangnya partisipasi dan kurangnya rasa peduli untuk dapat menjaga hasil pembangunan agar tetap terawat.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian diatas maka disini peneliti memberikan masukan kepada Pendamping Lokal Desa (PLD) dalam mendampingi Desa Batu Layan dalam pembangunan desa di Desa Batu Layan yaitu :
1. Di dalam Perencanaan pembangunan masih kurang maksimalnya peran Pendamping Lokal Desa sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai penggerak. Sebagai seorang yang mendampingi Pendamping Lokal Desa harus dapat mengajak masyarakat untuk terlibat langsung dalam perencanaan sebab perencanaan merupakan titik awal dan sebagai penentu prioritas pembangunan Desa Batu Layan. Oleh sebab itu maka Pendamping Lokal Desa diharapkan dapat mengajak masyarakat melalui sosialisasi,
pendekatan-pendekatan secara kekeluargaan serta meminta bantuan dari tokoh agama dan adat untuk dapat mengajak masyarakat aktif dalam kegiatan musyawarah desa.
2. Kurang maksimalnya peran Pendamping Lokal Desa (PLD) sebagai fasilitator dengan fungsi sebagai seorang narasumber dalam pelaksanaan pembangunan desa tentu harus lebih ditingkatkan. Sebagai sumber informasi dan orang yang paham mengenai pelaksanaan pembangunan desa sesuai peraturan maka Pendamping Lokal Desa harus menyampaikan informasi pembangunan dengan bahasa yang sederhana.
3. Peran Pendamping Lokal Desa (PLD) yang masih kurang maksimal di dalam pemantauan dan evaluasi pembangunan desa sebagai fasilitator dengan fungsi penggerak tentu harus terus ditingkatkan. Peran sebagai penggerak juga sangat penting dalam pembanguann desa. Sama hal dengan perencanaan bahwa Pendamping Lokal Desa harus dapat menggerakkan masyarakat untuk dapa terlibat langsung dalam pengawasan dan evaluasi pembangunan. Keikutsertaan masyarakat desa dalam memantau berjalannya pembangunan mulai dari proses perencanaan sampai kepada menjaga dan merawat hasil pembangunan tersebut, hal ini dilakukan dengan cara terus menerus melakukan sosialisasi serta pendekatan secara kekeluargaan adalah point yang utama sehingga masyarakat desa tidak merasa adanya perbedaan atau paksaan dari pihak terterntu karena memang pembangunan itu hakikatnya adalah untuk kepentingan bersama.
Daftar Pustaka
Adisasmita, Rahardjo. 2006. Membangun Desa Partisipatif. Yogyakarta : Graha Ilmu.
_________,_______. 2011. Pengelolaan Pendapatan dan Anggaran Daerah.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Arfianto, Arif Eko Wahyudi dan Ahmad Riyadh U Balahmar. 2014.
“Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Ekonomi Desa”. Jurnal KMP 2 (1) : 56-57.
Astuti, Prihartini Budi. 2011. Efektivitas dan Pengaruh PNPM Mandiri Perdesaan, Alokasi Dana Desa, Pendapatan Asli Daerah dan Jumlah Penduduk Terhadap Jumlah Kepala Keluarga Miskin di Kabupaten Kebumen Tahun 2009-2011.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2007. Kumpulan Bahan Latihan.
Pemantauan dan Evaluasi Program-Program Penanggulangan Kemiskinan.
Jakarta.
Badan Pusat Statistik Kota Padangsidimpuan. 2018. Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu Dalam Angka 2018. Padangsidimpuan. BPS Kota Padangsidimpuan.
___________. 2018. Kota Padangsidimpuan Dalam Angka 2018.
Padangsidimpuan. BPS Kota Padangsidimpuan.
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Desa, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.2016.
Standar Operasional dan Prosedur (SOP) : Pembinaan dan Pengendalian Tenaga Pendamping Profesional.
Efendi, Sofian dan Tukiran. 2012. Metode Penelitian Survei. Jakarta : LP3ES.
Erviyati, Rina. 2013. “Pendampingan Program Kewirausahaan Gypsum Di Desa Vokasi Gesing, Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung”. Jurnal Elektronik Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah 2 (3) : 17-18.
Gitosaputro, Sumaryo dan Kardiyana K. Rangga. 2015. Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat : Konsep, Teori dan Aplikasinya Di Era Otonomi Daerah. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitaif. Yogyakarta: Erlangga.
Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. 2015.
Sistem Pembangunan Desa.
Kementrian Keuangan Republik Indonesia. 2017. Buku Saku Dana Desa : Dana Desa Untuk Kesejahteran Rakyat.
Kessa, Wahyudin. 2015. Perencanaan Pembangunan Desa. Serial Buku Bacaan.
Jakarta : Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Martono, Nanang. 2016. Metode Penelitian Sosial : Konsep-Konsep Kunci.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Mochran, Denny Boy. 2014. Buku Saku Fasilitator 1st Draft 2014. Coral Triangle Center. Ensuring Coral Refs For Life.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja.
Mustangin. 2017. “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Melalui Desa Wisata Bumiaji”. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi 2 (1) : 63.
Narwono, J Dwi dan Bagong Suyanto. 2014. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Edisi Keempat. Jakarta : Prenada.
Ndraha, Talizihudu. 1981. Dimensi-Dimensi Pemerintahan Desa. Jakarta : PT.
Bina Aksara.
Nurcolis, Hanif. 2011. Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintah Desa.
Jakarta : Erlangga.
Nurman. 2015. Strategi Pembangunan Daerah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Perada.
Ramanthia. 2015. “Kinerja Pendamping Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa (Studi Di Desa Bukit Rawi Kecamatan Kahayan Tengah Kabupaten Pulang Pisau)”. Jurnal Ilmu Sosial, Politik, dan Pemerintah (JISPAR) 4 (2) :1-11.
Robbins, Stephen P. dan Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi : Organizational Behavior, Buku 2. Jakarta : Salemba Empat.
Sarwono, Sarlito. 2011. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Siagian, Sondang P. 1983. Administrasi Pembangunan. Jakarta: Gunung Agung.
Silalahi, Uber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung : PT Refika Aditama.
Sibarani, Timbul. 2015. Peran Pendamping Masyarakat Pada Program Nasional Pemberdayaan (PNPM) Mandiri Pedesaan Di Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara. Tesis. Jakarta : Magister Administrasi Publik, Program
Soleh, Chabib. 2014. Dialektika Pembangunan Dengan Pemberdayaan. Bandung : Fokus Media.
Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Edisi Baru. Jakarta : Rajawali Pers.
Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat, Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial.
Bandung : PT. Refika Aditama.
Suhartono. 2000. Politik Lokal Parlemen Desa. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama.
Susanti, Martien Herna. 2017. “Peran Pendamping Desa Dalam Mendorong Prakarsa Dan Partisipaso Masyarakat Menuju Desa Mandiri Di Desa Gonoharjo Kecamatan Limbangan Kabuaten Kendal” Jurnal Integralistik (1): 29-39.
Susanti, Rezky. 2015. “Efektivitas Pendamping Desa Dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur Pedesaan Di Desa Sekodi Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkaslis”. Jurnal Jom FISIP 2 (1) : 1-15.
Sumpeno, Wahyudi. 2009. Menjadi Fasilitator Genius : Kiat-Kiat dalam Mendampingi Masyarakat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Suswanto, Bambang. 2019. “Peran Pendamping Desa Dalam Model Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan”. Jurnal Sosial Soedirman 2 (2) : 40-60.
Suyanto, Bagong dan Sutinah. 2006. Metode Penelitian Penelitian Sosial. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Tjokroamidjojo, Bintaro. 1987. Perencanaan Pembangunan. Jakarta : Haji Masagung.
Usman, Nurdin. 2002. Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Jakarta : PT.
Raja Grafindo Persada.
Westra, Pariata. 1982. Ensklopedia Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.
Werang, Basilius Redan. 2015. Pendekatan Kuantatif Dalam Penelitian Sosial.
Yogyakarta : Calpulis.
Widiyarta, Agus. 2017. “Efektifitas Tenaga Pendamping Profesional Dalam Pemanfaatan Dana Desa Guna Mendorong Pemberdayaan Masyarakat Desa”. Jurnal Ilmu Administrasi Negara 7 (1) : 1-15.
Wijaya, HAW. 2002. Pemerintahan Desa/Marga : Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Suatu Telaah Administrasi Negara). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah : Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2016 Tentang Dana Desa Bersumber Dari APBN
Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2015 Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No.43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang No.6 Tahun 2014 Tentang Desa.
Peraturan Pemerintah No 39 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 22/PMK.07/2017 Tentang Perubahan Rincian Dana Desa Menurut Kabupaten/Kota Tahun Anggran 2018
Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No. 3 Tahun 2015 Tentang Pendampingan Desa.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No.114 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Desa.
Peraturan Walikota No. 16 Tahun 2014 Tentang Pedoman Alokasi Dana Daerah Kota Padangsidimpuan.
Internet :
Admin. 2016. 42 Desa di Sidimpuan Belum Terima Dana Desa.
http://www.metro24.com/sumatera-utara/lapor-42-desa-di-sidimpuan-belum-terima-dana-desa/. Diakses pada tanggal 28 Januari 2019. Pukul 11.35 WIB.
Arief, Khairul. 2017. Kota Padangsidimpuan Yang Dikenal Dengan Kota Salak.
https://sumut.antaranews.com/berita/165657/kota-padangsidimpuan-yang-dikenal-dengan-kota-salak. Diakses pada tanggal 16 Juli 2019. Pukul 14.57 WIB.
Badan Pusat Statistik. 2019. Jumlah Penduduk Miskin Menurut Provinsi
2017-penduduk-miskin-menurut-provinsi-2007-2019.html. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2019. Pukul 14.20 WIB.
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. 2017. Rincian Alokasi Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa Provinsi/Kabupaten/Kota Dalam APBN T.A. 2018.
http://www.djpk.depkeu.go.id/wp-content/uploads/2017/11/Rincian-Alokasi-TKDD-TA-2018-1.pdf. Dikases pada tanggal 15 Juni 2019.Pukul 11.37 WIB.
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. 2018. Rincian Alokasi Dana Desa Provinsi/Kabupaten/Kota Dalam APBN T.A. 2019.
http://www.djpk.kemenkeu.go.id/wp-content/uploads/2018/10/DANA-DESA.pdf. Diakses pada tanggal 15 Juni 2019. Pukul 11.40 WIB.
Lubis, Eva Rianty. 2018. Menikmasti Udara Pagi di Taman Kota Salak Padangsidmpuan. http://www.evariyantylubis.com/2018/07/menikmati-udara-pagi-di-taman-kota.html. Diakses pada tanggal 17 Juni 2019. Pukul 23.23 WIB.
Lingkar LSM. 2013. Apa Itu Proses Fasilitasi dan Bagaimana Menjadi Fasilitator Yang Handal?. http://lingkarlsm.com/apa-itu-proses-fasilitasi-dan-bagaimana-menjadi-fasilitator-yang-handal/. Diakses pada tanggal 28 Juni 2019. Pukul 22.34 WIB.
Nasution, Husnul Muhajir. Letak Geografis Padangsidimpuan.
https://muhajirhusnul.weebly.com/letak-geografis.html. Diakses pada tanggal 16 Juli 2019. Pukul 16.02 WIB.
Pemerintah Kota Padangsidimpuan. https://padangsidimpuankota.go.id/profil/.
Diakses pada tanggal 17 Juni 2019. Pukul 22.44 WIB.
Perekrutan Pendamping Desa. Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. https://www.kemendesa.go.id/pendamping2016 . Diakses 21 Januari 2020. Pukul 07.14 WIB.
L A M P I R A N
Indikator Wawancara
Peran Pendamping Lokal Desa Dalam Pembangunan Desa Di Desa Batu Layan Tahun 2018 Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu, Kota Padangsidimpuan
No Tugas Pokok PLD
Peran PLD dalam Pembangunan Desa Indikator Output
Fasilitator Pertanyaan Komunikator Pertanyaan 1 Perencanaan 1. Nara sumber
1. Terlaksananya sosialisasi Undang-Undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa dan peraturan turunannya 2. Terfasilitasinya musyawarah desa
yang partisipatif untuk menyusun RPJMDes, RKPDes dan APBDes 3. Tersusunya Rancangan Peraturan
Desa tentang kewenangan lokal berskala Desa dan kewenangan Desa berdasarkan hak asal-usul dan Peraturan lain yang diperlukan
No Tugas Pokok PLD
Peran PLD dalam Pembangunan Desa Indikator Output
Fasilitator Pertanyaan Komunikator Pertanyaan
n ) mendampingi proses pembangunan desa yang sesuai dengan prinsip tata kelola yang peningkatan kapasitas kader desa, masyarakat dan kelembagaan desa.
No Tugas Pokok PLD
Peran PLD dalam Pembangunan Desa Indikator Output
Fasilitator Pertanyaan Komunikator Pertanyaan Possyandu, PKK,
6. Masyarakat terlibat dalam pelaksanaan evaluasi kegiatan pembangunan desa.