• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Harai

Dalam dokumen Harai Kiyome di Kuil Takekoma (Halaman 45-52)

BAB III PELAKSANAAN DAN FUNGSI HARAI-KIYOME DI

3.1 Pelaksanaan Harai-Kiyome

3.1.1 Pelaksanaan Harai

Shubatsu adalah kegiatan penyucian diri yang dilakukan diawal penyelenggaraan sebuah ritual yang dilakukan oleh pendeta Shinto. Shubatsu dilaksanakan di awal sebuah ritual ataupun festival seperti pada ritual Nagoshi oharai, Toshikoshi oharai, dontosai maupun ritual keagaaman shinto lainnya.

Tata tertib pelaksanaan Shubatsu dalam setiap ritual :

1. Seorang pendeta membacakan doa (harae-kotoba) kemudian pendeta lain mengibaskan kertas suci yang disebut o-nusa sebanyak tiga kali diatas kepala para peserta ritual.

2. Seorang pendeta lain mendekati para peserta dengan membawa ranting pohon sasaki dan air garam, lalu memercikkannya. Tetapi, dalam ritual untuk kepentingan pribadi percikan air garam sering dihilangkan. 3. Para jemaat atau peserta yang disucikan menundukkan kepala selama

shubatsu menggunakan onusa berlangsung. Penyucian ini dimulai dari pendeta, kemudian seluruh peserta.

4. Setelah selesai melakukan shubatsu ke peserta, kemudian pendeta meletakkan kembali onusa ke tempat yang sudah disediakan. Dan para peserta boleh mengangkat kembali kepala dan melanjutkan ritual berikutnya.

Tujuan dilakukannya Shubatsu adalah agar para peserta yang hadir maupun lokasi ritual menjadi suci sekaligus mengusir roh-roh jahat. Agar dapat mengundang datangnya dewa.

B. Nagoshi-oharai

Nagoshi-oharae dilaksanakan di Kuil Takekoma pada tanggal 30 Juni pukul 15:00 setiap tahun. Nagoshi-oharae adalah ritual penyucian berskala besar karena diikuti oleh ribuan orang.

Ritual ini dilaksanakan di halaman kuil, tetapi bila turun hujan maka akan dialihkan ke dalam gedung. Pada Juni awal, pihak kuil akan mengirimkan surat

pemberitahuan penyelenggaraan ritual Nagoshi-oharae kepada seluruh jemaah (baik tetap maupun tidak tetap ) di seluruh negeri melalui pos. Pada lembaran pemberitahuan tercantum anjuran untuk mengikuti ritual Nagoshi-oharae, waktu dan tempat pelaksanaan. lembaran penyucian berbentuk manusia dan kendaraan dilengkapi dengan tata cara penggunaannya :

a. Tulis nama dan usia tepat di tengah-tengah gambar manusia, kemudian hembuskan nafas sebanyak 3 kali ke gambar tersebut, lalu usapkan ke seluruh tubuh sambil mengucapkan "bersihkan dan sucikan" sebanyak tiga kali.

b. Untuk kendaraan, tulis nomor polisi pada gambar, kemudian usapkan ke surat izin mengemudi dan stir mobil sambil mengucapkan "bersihkan dan sucikan" sebanyak tiga kali.

Bagi mereka yang dapat hadir dan mengikuti ritual membawa langsung gambar ( manusia atau kendaraan) dan biayannya. lalu menyerahkan ke kuil sebelum ritual berlangsung. tetapi bagi mereka yang berhalangan hadir dan tidak dapat mengikuti ritual dapat mengirimkan gambar manusia dan kendaraan yang telah digunakan melalui pos, dan biayanya ditransfer melalui bank, Bagi mereka yang tidak mendapatkan pemberitahuan, dapat langsung melakukan pendaftaran dan mengikuti ritual pada hari pelaksanaannya.

Peserta yang mengikuti ritual nagoshi-oharae umumnya adalah anggota komunitas perempuan kuil Takekoma (Kuil Takekoma keishin fujinko). Komunitas ini adalah kelompok yang berafilisasi dengan kuil takekoma. Komunitas menjadikan nagoshi-oharae sebagai kegiatan utama yang harus diikuti oleh setiap anggota. Peserta ritual nagoshi-oharae didominasi oleh kaum perempuan, dan kebanyakan dari mereka adalah para lanjut usia. Alasan

didominasi oleh kaum perempuan adalah karena ritual ini merupakan kegiatan tahunan yang harus diikuti oleh komunitas perempuan kuil takekoma, sedangkan alasan lebih banyak para lanjut usia adalah karena mereka rentan dengan persoalan hidup, dan ingin mencari ketenangan.

a. Pelaksanaan Ritual Nagoshi-oharae

Beberapa hari sebelum dimulainya Pelaksanaan Ritual Nagoshi-oharae di halaman kuil sudah dipasang chi-no-wa. Pada hari pelaksanaan, sebelum ritual berlangsung dua orang pendeta muda (shusshi) menyiapkan altar ritual didepan chi-no-wa. Altar ini adalah tempat meletakkan onusa dan kirinusa yang akan digunakan dalam ritual. Menjelang pukul 15:00 sekitar para pendeta mulai bergerak dari kantor kuil menuju tempat ritual dilangsungkan.

Ten-gi (pendeta yang membawakan acara) membuka acara dengan mengatakan bahwa ’’nagoshi-oharae akan dimulaí". Pertama-tama adalah melakukan ritual penyucian shubatsu. Kirinusa-shuyaku mengambil kotak berisi kantong kirinusa yang terletak di altar lalu membagikannya kepada seluruh pendeta yang mengikuti ritual. Para pendeta yang menerima kantong berisi kirinusa tersebut dan menyimpannya di kantong pakaian.

Kemudian Saishu mengambil posisi menghadap kepada seluruh peserta dan membaca oharae-kotaba. Selama pembacaan berlangsung, para peserta menundukkan kepala dan mendengarkan dengan khidmat. Setelah saishuselesai membaca oharae-kotaba dan kembali ke tempatnya, seluruh pendeta mengeluarkan kirinusa dari kantong yang dibagikan sebelumnya, dan menaburkannya keseluruh tubuh. Kemudian, onusa-shuyaku mengambil onusa yang terletak di altar dan melaksanakan penyucian. Pertama yang disucikan

adalah peti berisi gambar manusia dan kendaraan yang terletak di samping altar. Cara menyucikannya adalah dengan mengibaskan onusa di atas peti. Selanjutnya adalah penyucian terhadap saishu, dan seluruh pendeta. Pada waktu yang bersamaan, kirinusa-shuyaku menaburkan kirinusa ke arah peti, selanjutnya kepada saishu, dan seluruh pendeta. Terakhir, onusa-shuyaku menghampiri seluruh peserta yang hadir dan melakukan penyucian. Pada waktu yang bersamaan, kirinusa-shuyaku juga menaburkan kirinusa kepada seluruh perserta yang hadir.

Onusa-shuyaku mengumpulkan kembali kantong kirinusa yang dibagikan kepada seluruh pendeta dan meletakkannya di altar. Dua orang pendeta lalu memasukkan kantong kirinusa tersebut ke dalam peti. Dengan demikian ritual nagoshi-oharae berakhir.

Setelah ritual berakhir, diawali oleh saishu dan seluruh pendeta, para peserta ritual melakukan ritual mengelilingi chi-no-wa sebanyak 3 kali. Tata cara mengelilingi chi-no-wa:

1) Berdiri di depan chi-no-wa dan memberi hormat. Kemudian melangkahi chi-no-wa dengan kaki kiri, lalu mengelilinginya dan memutar ke arah kiri kembali ke tempat semula.

2) Memberi hormat di depan chi-no-wa, kemudian melangkahinya dengan kaki kanan, lalu mengelilinginya dan memutar ke arah kanan kembali ke tempat semula.

3) Memberi hormat di depan chi-no-wa, kemudian melangkahi dengan kaki kiri, lalu mengelilinginya dan memutar ke arah kiri sambil ke tempat semula.

4) Memberi hormat di depan chi-no-wa, kemudian melangkahi chi-no-wa dengan kaki kiri, lalu mengelilinginya, lalu berjalan menuju kuil. Di depan ruang ibadah memberi hormat dua kali, tepuk tangan dua kali dan hormat satu kali.

Setelah ritual mengelilingi chi-no-wa berakhir, saishu, dan seluruh pendeta kembali ke kantor kuil, dan para peserta membubarkan diri. Ritual nagoshi-oharae dinyatakan selesai, tetapi belum sempurna. Karena, setelah itu ryu-iki-shuyaku akan membawa peti berisi barang yang disucikan dan membuangnya ke sungai. Sungai yang dimaksud adalah Sungai Abukuma yang terletak tidak begitu jauh dari Kuil Takekoma. Membuang barang yang disucikan dalam ritual ke sungai adalah salah satu bagian penting dalam rangkaian ritual nagoshi-oharae. Karena, barang yang dibuang di sungai akan mengalir ke laut, dan terbenam di dasar laut. Menurut kepercayaan Shinto, Dewa (dewa) yang tinggal di dasar laut selanjutnya akan menyucikan benda-benda tersebut.

Tujuan dilakukannya ritual nagoshi-oharae adalah untuk menghilangkan dosa dan kekotoran yang melekat di dalam diri dari bulan Januari sampai bulan Juni.

C. Toshikoshi-oharai

Toshikoshi oharai dilaksanakan di Kuil Takekoma pada tanggal 31 Desember pukul 15:00 setiap tahun. Toshikoshi oharai adalah ritual penyucian berskala besar karena diikuti oleh ribuan orang. Ritual ini dilaksanakan di halaman kuil, tetapi bila turun hujan maka akan dialihkan ke dalam gedung. Pada Desember awal, pihak kuil akan mengirimkan surat pemberitahuan penyelenggaraan ritual. Peserta yang mengikuti ritual Toshikoshi oharai adalah kalangan umum dan siapa saja yang ingin ikut dalam ritual penyucian besar ini.

b. Pelaksanaan Ritual Toshikoshi oharai

Beberapa hari sebelum dimulainya Pelaksanaan Ritual Toshikoshi oharai di halaman kuil sudah disediakan altar. Altar ini adalah tempat meletakkan onusa dan kirinusa yang akan digunakan dalam ritual. Menjelang pukul 15:00 sekitar para pendeta mulai bergerak dari kantor kuil menuju tempat ritual dilangsungkan. Ten-gi membuka acara dengan mengatakan bahwa Toshikoshi oharai akan dimulaí". Pertama-tama adalah melakukan ritual penyucian shubatsu. Kirinusa-shuyaku mengambil kotak berisi kantong kirinusa yang terletak di altar lalu membagikannya kepada seluruh pendeta yang mengikuti ritual. Para pendeta yang menerima kantong berisi kirinusa tersebut dan menyimpannya di kantong pakaian.

Kemudian Saishu mengambil posisi menghadap kepada seluruh peserta dan membaca oharae-kotaba. Selama pembacaan berlangsung, para peserta menundukkan kepala dan mendengarkan dengan khidmat. Setelah saishu selesai membaca oharae-kotaba dan kembali ke tempatnya, seluruh pendeta mengeluarkan kirinusa dari kantong yang dibagikan sebelumnya, dan menaburkannya keseluruh tubuh. Kemudian, onusa-shuyaku mengambil onusa yang terletak di altar dan melaksanakan penyucian. Pertama yang disucikan adalah peti berisi gambar manusia dan kendaraan yang terletak di samping altar. Cara menyucikannya adalah dengan mengibaskan onusa di atas peti. Selanjutnya adalah penyucian terhadap saishu, dan seluruh pendeta. Pada waktu yang bersamaan, kirinusa-shuyaku menaburkan kirinusa ke arah peti, selanjutnya kepada saishu, dan seluruh pendeta. Terakhir, onusa-shuyaku menghampiri seluruh peserta yang hadir dan melakukan penyucian. Pada waktu yang

bersamaan, kirinusa-shuyaku juga menaburkan kirinusa kepada seluruh perserta yang hadir.

Onusa-shuyaku mengumpulkan kembali kantong kirinusa yang dibagikan kepada seluruh pendeta dan meletakkannya di altar. Dua orang pendeta lalu memasukkan kantong kirinusa tersebut ke dalam peti. Dengan demikian ritual Toshikoshi oharai berakhir.

. Ritual Toshikoshi oharai dinyatakan selesai, tetapi belum sempurna. Karena, setelah itu ryu-iki-shuyaku akan membawa peti berisi barang yang disucikan dan membuangnya ke sungai. Sungai yang dimaksud adalah Sungai Abukuma yang terletak tidak begitu jauh dari Kuil Takekoma. Membuang barang yang disucikan dalam ritual ke sungai adalah salah satu bagian penting dalam rangkaian ritual Toshikoshi oharai. Karena, barang yang dibuang di sungai akan mengalir ke laut, dan terbenam di dasar laut. Menurut kepercayaan Shinto, Kami (dewa) yang tinggal di dasar laut selanjutnya akan menyucikan benda-benda tersebut.

Ritual Toshikoshi oharai hampir sama seperti dengan ritual Nagoshi Oharai yaitu sama-sama sebagai upacara terbesar yang diselenggarakan setiap 1 tahun 2 kali di setiap kuil termasuk di kuil Takekoma , tetapi di Toshikoshi oharai pesertanya adalah kalangan umum yang ingin ikut dalam Toshikoshi oharai ini. Selain itu pada ritual Toshikoshi oharai ini tidak menggunakan chi no wa.

Tujuan dari Toshikoshi oharai adalah untuk menghilangan kekotoran dan dosa yang ada dari bulan Juni sampai Desember sekaligus menyambut tahun baru dengan keadaan suci.

Dalam dokumen Harai Kiyome di Kuil Takekoma (Halaman 45-52)

Dokumen terkait