• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan dan Kendala yang Dihadapi Dalam Penerapan Diversi di Kota Denpasar

Dalam dokumen Vol. 18 No. 3 - September 2021 (Halaman 105-109)

PIDANA ANAK YANG BERORIENTASI PADA RESTORATIVE JUSTICE DI KOTA DENPASAR

B.1. Pelaksanaan dan Kendala yang Dihadapi Dalam Penerapan Diversi di Kota Denpasar

B.1.1. Pelaksanaan Diversi Berdasarkan UU SPPA Secara yuridis telah diatur bahwa diversi wajib dilakukan disemua tingkat pemeriksaan (penyidikan, penuntutan, dan persidangan).

Pengaturan secara imperative dalam Pasal 5 dan 7 UU SPPA yang mewajibkan pengupayaan penggunaan diversi menunjukkan bahwa dibuka

celah yang seluas-luasnya untuk menerapkan diversi.

Hal ini patut diapresiasi karena secara totalitas berupaya menerapkan diversi, namun nampaknya berseberangan jika dikaji dalam aturan Pasal 7 ayat (2) UU SPPA yang memberi pembatasan penerapan diversi.

Pasal 7 ayat (2) UU SPPA membatasi penggunaan diversi dengan mengatur bahwa diversi hanya dapat dilakukan dalam tindak pidana anak yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan recidive (pengulangan tindak pidana).

Konsekuensi dari pembatasan ini menjadikan adanya penyaringan kasus (“filterisasi”) yang bisa diselesaikan melalui jalur diskresi. Pertama, secara absolut melihat bahwa diversi hanya bisa dilakukan terhadap tindak pidana yang tidak berat yakni tindak pidana anak yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana (recidive) dalam artian ini bahwa tindak pidana anak dilakukan oleh anak yang bukan residivis (sejenis/tidak sejenis dan tindak pidana yang telah diselesaikan melalui diversi). Hal ini menegaskan bahwa diversi tidak bisa dilakukan terhadap anak yang pernah melakukan kejahatan sekalipun kejahatan ini diselesaikan melalu jalur diversi.

Angger Sigit Pramukti menyatakan bahwa diversi adalah kewenangan penegak hukum dalam melakukan tindakan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perkara pidana anak dengan tidak melalui jalan formal untuk menghentikan atau tidak meneruskan ke proses peradilan.5 Penegak hukum memiliki peran yang sangat besar dalam hal ini.

Adi Purwatibahwa menyatakan bahwa dalam pelaksanaannya UU SPPA memerlukan dukungan keterlibatan dari berbagai instansi yakni dari Kepolisian, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, Komisi Perlindungan Anak, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Pendidikan dan Kesehatan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dalam pembentukan kebijakan pencegahan, penyelesaian perkara, rehabilitasi, dan reintegrasi sosial.6 Hal ini sangat diperlukan agar amanat dari dibentuknya UU SPPA dapat tercapai.

5. Angger Sigit Pramukti. 2014. Sistem Peradilan Pidana Anak. Sistem Peradilan Pidana Anak. Yogyakarta: Medpress.

hlm. 69.

6. Ani Purwati. 2020. Keadilan Restoratif dan Diversi Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Anak, Surabaya: CV. Jakad

Esensi dari diversi dengan pendekatan restorative justice adalah “pengalihan” proses penyelesaian tindak pidana dari dalam ke luar pengadilan melalui metode musyawarah mufakat dengan mengutamakan

“pemulihan”, “perbaikan” kekeadaan semula sebelum kejahatan terjadi dan dengan pemenuhan kebutuhan korban, pelaku, dan masyarakat. Hal ini telah tertuang dalam Pasal 8 UU SPPA bahwa diversi dilakukan dengan cara musyawarah dengan melibatkan banyak pihak.

Hasil diversi dituangkan dalam bentuk

“kesepakatan diversi” yang umumnya berupa perdamaian (dengan atau tanpa ganti kerugian), penyerahan ke orang tua/wali, Pendidikan/pelatihan di lembaga pendidikan atau LPKS; atau pelayanan masyarakat. Apabila tindak pidana yang dilakukan termasuk ke dalam pelanggaran, tindak pidana ringan, tindak pidana tanpa korban, atau nilai kerugian korban tidak lebih dari nilai upah minimum provinsi setempat maka Penyidik dapat melakukan diversi atas rekomendasi Pembimbing Kemasyarakatan dan bentuk hasil diversi dapat berupa: ganti rugi, rehabilitasi medis dan psikososial, dikembalikan ke orang tua/Wali, pendidikan atau pelatihan di Lembaga pendidikan atau LPKS atau pelayanan masyarakat. Kesepakatan diversi selanjutnya didaftarkan kepengadilan untuk dijadikan sebuah penetapan.

Berdasarkan UU SPPA dapat digambarkan proses diversi sebagaimana dalam Bagan 1.

Bagan 1.

Proses Diversi di Setiap Tahap Pemeriksaan Berdasarkan UU SPPA

Bagan 1 menunjukkan mekanisme diversi yang dapat dilakukan jika tindak pidana yang dilakukan oleh anak merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 tahun dan bukan recidive (pengulangan kejahatan). Ketika memenuhi kedua syarat tersebut diversi wajib diupayakan disetiap tahap pemeriksaan yakni di tingkat penyidikan (kepolisian), penuntutan (kejaksaan) dan pemeriksaan di sidang pengadilan (pengadilan).

Apabila di tingkat penyidikan (kepolisian) diversi tidak berhasil maka diupayakan lagi ditingkat penuntutan (Kejaksaan) dan apabila ditingkat penuntutan (Kejaksaan) diversi gagal maka akan diupayakan lagi di pengadilan. Ketika diversi berhasil, kesepakatan diversi akan didaftarkan ke pengadilan untuk mendapatkan penetapan. Apabila diversi gagal dilakukan dan apabila hasil kesepakatan diversi yang telah dituangkan dalam penetapan tidak dijalankan atau tidak dilaksanakan maka proses akan kembali dilanjutkan ke dalam sistem peradilan pidana anak.

Apabila dikaji, mekanisme ini menjadi cerminan bahwa UU SPPA memberikan ruang yang besar untuk melaksanakan diversi di semua tingkat pemeriksaan, meskipun terdapat pembatasan atau syarat untuk diversi.

B.1.1.2 Pelaksanaan dan Kendala yang Dihadapi Dalam Penerapan Diversi di Polresta Denpasar Diversi di Polresta Denpasar dilaksanakan oleh unit Pelayanan Perempuan dan Anak (Selanjutnya disebut PPA) sebagai unit 6. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Willa Jully Nendissa (Kanit PPA Unit 6 Polresta Denpasar) pada tanggal 29 September 2020 terkait pelaksanaan dan mekanisme diversi di Polresta Denpasar beliau menyatakan bahwa, “Apabila terjadi kasus yang pelakunya adalah anak, Unit PPA selanjutnya menerima pelimpahan di LP dari unit 1 dan dilimpahkan ke unit 6 yang khusus menangani perempuan dan anak. Pelaku tidak ditahan, dan diberlakukan wajib lapor. Bapas membuat penelitian kemudian laporan hasil penelitian akan menjadi salah satu dasar rekomendasi untuk melakukan upaya diversi. Dalam upaya diversi Unit 6 selanjutnya memanggil pelapor, orang tua si pelaku (mendampingi dalam proses pemeriksaan), Dinas Sosial untuk mendampingi, Bapas, P2TP2A, dan Kepala Lingkungan (dari pihak korban dan

pelapor). Diversi pada intinya mencari kesepakatan antara pelapor dan pelaku untuk menyelesaikan kasus. Kepolisian tetap mengupayakan diversi namun dilihat lagi ketentuan perundang-undangan, dilihat lagi syarat-syarat diversi sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2) UU SPPA. Peran PPA adalah sebagai fasilitator agar diversi berhasil. Dalam pelaksanaannya, Bapas dan Dinas sosial sangat berperan dalam memberikan rekomendasi diversi dan memberikan pendampingan. Hasil diversi juga tetap diawasi Bapas dan Dinsos”. Bapas adalah salah satu Lembaga yang sangat berperan besar, tidak hanya diawal bahkan pasca diversi telah berhasil dilakukan (pasca kesepakatan diversi). Bapas juga mencerminkan keterlibatan pemerintah secara langsung dalam proses diversi yang mendampingi anak dalam proses diversi bahkan dari awal sampai akhir proses diversi.7

Berdasarkan hasil riset di Polresta Denpasar dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaannya, Polresta Denpasar sangat mengupayakan proses diversi, namun tetap pada koridor hukum yakni hanya dapat dilakukan dalam kasus anak yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 tahun dan bukan recidive (pengulangan kejahatan). PPA sebagai fasilitator selalu mendorong, mengupayakan, dan berusaha agar diversi berhasil dilakukan. Tidak hanya ditingkat kepolisian, jika diversi tidak berhasil di Kepolisian, PPA akan mengawal kasus dengan melakukan koordinasi dengan jaksa agar bisa diselesaikan secara diversi di tingkat Kejaksaan.

Terkait dengan kendala dalam pelaksanaan diversi berdasarkan riset dapat diketahui bahwa dari segi substansi hukum batasan umur anak dalam SPPA membawa kekhawatiran tersendiri karena saat ini tindak pidana anak banyak sekali terjadi dan kualitas kejahatan anak saat ini luar biasa.

Berbeda dengan anak pada masa dulu, saat ini anak dapat melakukan kejahatan seperti orang dewasa.

Kendala dari segi struktur dapat ditemukan bahwa masih dapat ditemukan penegak hukum yang tidak

memaksimalkan upaya diversi. Kendala dari segi budaya hukum dapat ditemukan bahwa dari segi penegak hukum, masih bisa ditemukan penegak hukum yang tidak memahami spirit dan makna diversi sehingga mengurangi pelaksanaannya untuk mengupayakan penyelesaian kasus melalui diversi.

Dalam pelaksanaannya, masih dapat ditemukan kegagalan diversi karena pihak korban tidak mau melakukan diversi hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat akan urgen dan manfaat diversi belum dirasakan masyarakat.

Menurut penulis esensi dari diversi tidak serta merta melupakan penanggulangan kejahatan mengingat kualitas dan kuantitas kejahatan anak yang kian meningkat dan luar biasa jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Azwad Rachmat Hambali bahwa diversi dilakukan tanpa mengabaikan pertanggungjawaban pidana, dengan demikian perdamaian patut dilakukan dengan pemenuhan kewajiban anak yang berkonflik dengan hukum untuk melakukan restorasi mengembalikan seperti keadan semula.8 Hal ini menunjukkan bahwa restorasi atau pemulihan dalam bentuk permintaan maaf, pemenuhan kebutuhan korban, ganti rugi, dan bentuk lainnya sebagai bentuk pertanngungjawaban penting dilakukan untuk mengoptimalkan diversi dalam tindak pidana anak. Hal ini juga menjadi pelajaran bagi anak sebagai efek jera, meskipun anak tidak dipidana namun proses diversi bisa menyadarkannya untuk tidak lagi melakukan tindak pidana. Hal ini juga dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat terkait keberadaan diversi.

B.1.1.3. Pelaksanaan dan Kendala yang Dihadapi Dalam Penerapan Diversi di Kejaksaan Negeri Denpasar

Terkait dengan pelaksanaan diversi dalam praktek di Kejaksaan, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 5 September 2020 di Kejaksaan Negeri Denpasar, Ibu Jaksa Ni Putu Widyaningsih (Jaksa di Kejaksaan Negeri Denpasar) menyatakan bahwa, “Pelaksaanaan diversi dimulai

7. I. Kasuma, I. A, Hermawan, & M. Setyawati. 2020. Problematika Pelaksanaan Diversi Bagi Anak Berhadapan Dengan Hukum di Kota Layak Anak (Studi Pada Aparat Hukum, Pemerintah Kota dan Masyarakat di Depok Dan Surakarta). Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan Volume 8 Nomor 2: 350 – 371. hlm.364.

8. A. R Hambali. 2019. Penerapan Diversi Terhadap Anak yang Berhadapan Dengan Hukum Dalam Sistem Peradilan Pidana. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum Volume 13 Nomor 1: 16-29. hlm. 26.

saat pelimpahan tersangka dan barang bukti dari penyidik kepada Penuntut Umum. Musyawarah di Kejaksaan Negeri Denpasar dilakukan dengan melibatkan Anak dan orang tua/Walinya, korban dan/atau orang tua/Walinya, Pembimbing Kemasyarakatan, dan Pekerja Sosial Profesional.

Penuntut Umum selaku fasilitator menjembatani agar terjadi kesepakatan yang dituangkan dalam kesepakatan Diversi dengan mempertimbangkan : kategori tindak pidana, umur Anak, hasil penelitian kemasyarakatan dari Bapas, dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat. Hasil dari diversi yang berupa Kesepakatan diversi tersebut dilaporkan kepada pimpinan secara berjenjang untuk kemudian dimohonkan penetapan kepada Ketua PN Denpasar”.

Dalam pelaksanaannya, jaksa juga menemui hambatan atau kendala. Berdasarkan hasil wawancara, Ibu Jaksa Ni Putu Widyaningsih (Jaksa di Kejaksaan Negeri Denpasar) menyebutkan bahwa,

“Kami selaku jaksa sangat terkendala dengan uraian Pasal 42 UU SPPA yang pada intinya mengatur bahwa diversi di kejaksaan diupayakan paling lama 7 hari setelah penuntut umum menerima berkas perkara dari penyidik dan diversi paling lama dilaksanakan selama 30 hari. Hasil diversi juga akan diajukan ke pengadilan negeri untuk memperoleh penetapan. Hal tersebut menjadi kendala karena hingga kini petunjuk teknis dan tata cara pelaksanaan mengenai aturan tersebut belum ditetapkan. Disamping itu, muncul permasalahan bagaimana penuntut umum dapat memohonkan penetapan diversi kepada pengadilan sedangkan tahapan perkara masih tahap penyidikan (kewenangan penyidik). Tidak ada pengawasan di Kejari Denpasar, karena pengawasan ada di PK Bapas.”.

Berdasarkan hasil riset penulis di Kejaksanaan Negeri Denpasar dapat ditemukan bahwa dalam pelaksanaannya diversi diupayakan dengan melihat tindak pidana yang wajib diselesaikan secara diversi.

Dalam hal ini Penuntut Umum selaku fasilitator menjembatani agar terjadi kesepakatan yang dituangkan dalam kesepakatan Diversi yang kemudian didaftarkan ke Pengadilan untuk mendapatkan penetapan. Kendala yang dialami dalam pelaksanaan diversi di Kejaksaan adalah dari segi substansi hukum terdapat pasal yang dirasa memberatkan jaksa yakni Pasal 42 UU SPPA yang memberikan

batas waktu yang sangat singkat dalam pelaksanaan diversi, selain itu dirasa terdapat kekosongan hukum terkait petunjuk teknis dan tata cara pelaksanaan diversi. Hal ini dirasa membingungkan jaksa ketika pelaksanaan diversi.

B.1.1.4. Pelaksanaan dan Kendala yang Dihadapi Dalam Penerapan Diversi di Pengadilan Negeri Denpasar

Secara teknis pelaksanaan diversi di Pengadilan Negeri Denpasar, Bapak I Dewa Budi Watsara, SH (Hakim di Pengadilan Negeri Denpasar) menguraikan bahwa, “Ketika kasus telah dilimpahkan oleh jaksa kemudian diseleksi oleh Ketua Pengadilan dan ditunjuk hakim anak yang telah bersertifikasi untuk menangani perkara anak. Hakim inilah yang menyeleksi apakah kasus tersebut bisa dilakukan diversi. Hakim akan mengutamakan perkara yang akan diselesaikan lewat diversi, karena dalam perkara anak penahanannya sangat singkat, berbeda dengan perkara orang dewasa, jadi perkara yang ditempuh lewat diversi pada prinsipnya cepat, tertutup untuk umum, harus ada unsur-unsur seperti pemerhati anak. Anak harus didampingi oleh orang tua. Hakim akan menggunakan pakaian sipil, ruang diversi, pengadilan juga menyediakan ruang tunggu khusus untuk anak, tidak boleh mengekspos identitas anak. Ketika perkara memenuhi syarat diversi akan dilakukan musyawarah. Bentuk kesepakatan diversi dalam prakteknya adalah menghentikan proses, saling memafkan, ganti rugi, pelaku berjanji tidak mengulangi lagi”.

Mengenai kendala dalam proses pelaksanaan diversi di Pengadilan Negeri Denpasar, Bapak I Dewa Budi Watsara, SH (Hakim di Pengadilan Negeri Denpasar) menyatakan bahwa perlu dicermati ketentuan terkait batasan umur anak yang diatur oleh UU SPPA. Terkait batasan umur anak, apakah sudah benar? Apakah sudah wajar? karena anak-anak melakukan kejahatan sekarang luar biasa melebihi orang dewasa”.

Berdasarkan hasil riset penulis di Pengadilan Negeri Denpasar dapat ditemukan bahwa hakim akan mengupayakan diversi jika memenuhi persyaratan diversi sebagaimana diatur dalam UU SPPA dan hakim akan mengutamakan perkara yang akan diselesaikan lewat diversi. Bagi seorang hakim, bisa mendamaikan

perkara adalah sebuah prestasi mengingat beban pekerjaan hakim sangat besar (penumpukan perkara).

Kendala di bidang substansi hukum adalah batasan umur anak yang diatur oleh UU SPPA mengingat anak-anak melakukan kejahatan sekarang luar biasa melebihi orang dewasa. Terkait Struktur Hukum, pengawasan menjadi hal yang penting, namun pengawasan di Pengadilan Negeri Denpasar tidak ada. Selanjutnya, pada konteks budaya hukum saat ini tidak menemui kendala, karena pada dasarnya penegak hukum semua lebih senang mendamaikan kasus. Berbeda halnya dengan masyarakat yang termasuk korban akan lebih sulit mau menerima diversi, namun sampai sekarang diversi masih bisa berjalan.

B.2. Upaya (Solusi) yang Dapat Dilakukan untuk

Dalam dokumen Vol. 18 No. 3 - September 2021 (Halaman 105-109)