PIDANA ANAK YANG BERORIENTASI PADA RESTORATIVE JUSTICE DI KOTA DENPASAR
B.2. Upaya (Solusi) yang Dapat Dilakukan untuk Mengoptimalkan Penerapan Diversi Dalam
Kerangka Keadilan Restoratif dari Segi Substansi, Stuktur, dan Budaya Hukum di Kota Denpasar
Membahas solusi yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan diversi di Kota Denpasar dapat dikaji secara sistematis dari kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Kendala-kendala tersebut sangat terkait dengan masalah penegakan hukum atau faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum sebagaimana di kembangkan oleh Soerjono Soekanto yang diilhami dari teori Lawrence Meir Friedman tentang sistem hukum.
Mengacu pada pendapat Lawrence Meir Friedman mengenai teori sistem hukum, Soerjono Soekanto menulis bahwa, Struktur hukum meliputi tempat atau bentuk dari sistem. Misalnya tatanan lembaga hukum formal, hubungan antara lembaga, hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Substansi hukum meliputi isi norma hukum, perumusannya, dan hukum acaranya. Budaya hukum meliputi nilai-nilai yang menjadi dasar hukum yang berlaku, konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (sehingga diikuti) dan yang dianggap buruk (dihindari/dijauhi/
tidak dilakukan).9 Ketiga sistem ini dan dilengkapi dengan faktor-faktor yang memperngaruhi penegakan hukum akan dijadikan sub kajian yang dapat diuraikan dalam pembahasan dibawah ini.
B.2.1. Substansi Hukum
B.2.1.1 Pengaturan Pembatasan Umur Anak Berdasarkan riset dapat diketahui bahwa kendala pelaksanaan diversi dari segi substansi hukum adalah terkait dengan batasan umur anak yang menimbulkan dilema dalam penerapan diversi. Hal ini patut dikritisi secara mendalam karena perkembangan usia dan kematangan atau kedewasaan anak sangat berbeda pada masa dulu dengan masa sekarang. Hal ini berdampak pada kualitas kejahatan anak yang sangat meningkat dewasa ini. Pada saat ini kejahatan yang dilakukan oleh anak sangat luar biasa.
Hasil riset menunjukkan dilematis penegak hukum yang memandang bahwa anak diusia 16-18 tahun saat ini tidak seperti usia 16-18 pada masa dulu. Anak dapat dikatakan mengalami kemajuan dalam kedewasaan (dalam tanda kutip hal negatif).
Anak saat ini sudah bisa melakukan kejahatan seperti orang dewasa, seperti mencuri dengan memanjat rumah orang dan bahkan di usia 18 tahun kurang 1 hari anak melakukan pembunuhan dengan sadis, dan pada umumnya di usia 16 tahun anak sudah mengenal sex yang berujung pada kejahatan kesusilaan misalnya pemerkosaan dan cabul. Saat ini kualitas kejahatan anak bisa melebihi kejahatan orang dewasa. Trend kejahatan anak saat ini adalah aksi begal dengan kekerasan. Kejahatan dilakukan anak menunjukkan keprihatinan bahwa kejahatan yang dilakukan anak saat ini tidak hanya karena rasa ingin tahu dan rasa ingin mencoba yang besar.
Hal ini tidak hanya mengarah pada penanggulangan kejahatan yang patut dilakukan namun juga perhatian terhadap pembatasan umur anak yang dianut oleh UU SPPA.
Mengingat meningkatnya kualitas anak yang melakukan kejahatan apakah tepat anak yang berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun ditempuh jalur diversi? Hal ini terkait dengan efek jera yang didapatkan oleh anak.
Penegak hukum pada dasarnya sangat mendorong diterapkannya diversi namun fenomena meningkatnya kualitas kejahatan anak membawa kekhawatiran tersendiri karena korban juga perlu mendapatkan perlindungan.
9. Soerjono Soekanto. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. hlm. 59.
Pembatasan umur anak diberbagai undang-undang berbeda-beda di Indonesia sebagaimana dapat dilihat dalam tabel 1.
Tabel 1.
Pembatasan Umur Anak di Indonesia
No Undang-Undang Umur
1 Pasal 1 angka 2
UU SPPA Telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18
3 Pasal 45 KUHP Belum 16 tahun
4 Pasal 330
KUHPerdata Belum 21 tahun 5 Pasal 1 angka
paling lama 30 (tiga puluh) hari dan dalam hal proses Diversi berhasil mencapai kesepakatan, Penuntut Umum menyampaikan berita acara Diversi beserta kesepakatan Diversi kepada ketua pengadilan negeri untuk dibuat penetapan. Menurut Jaksa yang penulis wawancarai hingga kini petunjuk teknis dan tata cara pelaksanaan mengenai aturan tersebut belum ditetapkan.
Apabila dikaji, aturan diversi memang mengutamakan kecepatan sehingga proses diversi dilakukan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.
Hal ini dikarenakan proses diversi mengutamakan kepentingan terbaik untuk anak, agar kasus tidak berlarut-larut dan cepat terselesaikan. Konsekuensi dari hal ini maka Peraturan Perundang-undangan memberikan batas waktu yang sangat singkat bagi penegak hukum untuk melakukan proses diversi.
Melalui aturan pembatasan waktu ini, penegak hukum akan memprioritaskan kasus anak untuk dilakukan diversi. Hal inilah yang melatarbelakangi pembatasan waktu penegak hukum melakukan diversi. Sebagai bentuk optimalisasi, kembali lagi ke kesadaran penegak hukum untuk memprioritaskan kasus anak untuk didiversi dan diperlukan komunikasi dan koordinasi yang lebih kondusif diantara penegak hukum. Dalam konteks legislasi perlu dibuat peraturan-peraturan internal yang memperkuat kerjasama antar penegak hukum dalam menangani kasus tindak pidana anak melalui diversi. Peraturan-peraturan internal yang sudah ada juga perlu selalu disosialisasikan kepada penegak hukum agar jiwa restorative justice melekat sebagai paradigma dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.
B.2.2. Struktur Hukum
Hasil riset menunjukkan bahwa banyak instansi atau institusi yang terlibat dalam proses diversi. Tidak hanya kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan yang termasuk ke dalam sub sistem peradilan pidana. Dalam hal ini banyak institusi yang terlibat dalam proses diversi antara lain Bapas (Balai Pemasyarakatan), Dinas Sosial (Dinsos), P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak). Ketiga institusi inilah yang sangat berperan dalam proses diversi. Pihak Bapas sangat berperan dalam melakukan penelitian untuk merekomendasikan upaya diversi bagi anak beserta 6 Pasal 1 angka
Tabel 1 menunjukkan bahwa tidak ada keseragaman dalam pembatasan umur anak dan ini hanya beberapa contoh undang-undang, diluar itu banyak undang-undang yang mengatur batas umur anak yang berbeda-beda. Hal ini patut dikritisi, meskipun berdasarkan asas preferensi berdasarkan asas lex spesialis derogate legi generalis UU SPPA yang digunakan dengan Batasan umur anak yakni telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 tahun. Dalam konteks legislasi, perlu kajian lebih lanjut dan mendalam terkait batas umur anak yang diberlakukan dalam UU SPPA. Patut diketahui bahwa senyatanya secara teoritis dan filosofis restorative justice tidak mengenal pembatasan usia dan tindak pidana, namun setiap negara memiliki kebijakan pidana yang beda-beda terkait pembatasan ini.
B.2.1.2. Pengaturan Prosedur Diversi di Tingkat Penuntutan
Berdasarkan hasil riset menunjukkan bahwa jaksa mengalami kendala di Pasal 42 UU SPPA yang menyatakan: Penuntut Umum wajib mengupayakan Diversi paling lama 7 (tujuh) hari setelah menerima berkas perkara dari Penyidik yang dilaksanakan
melakukan pendampingan. Pihak Dinsos dan P2TP2A juga sangat berperan dalam hal pendampingan.
Lembaga pemerhati anak lainnya juga turut serta, bahkan pihak masyarakat yang prakteknya diwakili oleh Kepala Lingkungan juga turut terlibat. Hal ini menunjukkan bahwa sistem institusi yang ada dalam proses diversi cukup banyak sehingga ada koordinasi dan kerjasama diantara berbagai institusi tersebut. Berdasarkan hasil riset dapat diketahui bahwa koordinasi antara kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan dengan Bapas (Balai Pemasyarakatan), Dinas Sosial (Dinsos), dan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) sudah sangat baik.
Sebagaimana yang telah diuraikan mengenai mekanisme pelaksanaan diversi, diversi pada dasarnya dapat dilakukan di setiap tahap pemeriksaan dan UU SPPA telah menegaskan bahwa diversi wajib diupayakan oleh penegak hukum. Terkait dengan kordinasi hal yang patut diperhatikan adalah di tingkat kejaksaan. Hasil riset menunjukkan bahwa perlu adanya kordinasi yang lebih erat antara Kejaksaan dengan Kepolisian dan Kejaksaan dengan Pengadilan dalam mengupayakan diversi. Kejaksaan nampaknya harus lebih menyatukan persepsi dan bergerak maju untuk mengupayakan diversi seoptimal mungkin. Terkait dengan proses diversi memang telah diatur bahwa Kepolisian memiliki hubungan yang erat dengan Kejaksaan pada saat memulai diversi ditingkat Kejaksaan.
Terkait dengan permasalahan yang dialami jaksa perlu diketahui ketentuan yang telah diatur dalam undang-undang sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 29 ayat (4), Pasal 42 ayat (4) UU SPPA, Pasal 14 ayat (3), Pasal 25 ayat (3) dan 28 ayat (3), Pasal 31, Pasal 32 PP tentang Pedoman Diversi, serta Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor Per- 006/A/J.A/04/2015 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi Pada Tingkat Penuntutan telah mengatur secara komprehensif terkait pedoman pelaksanaan diversi di Kejaksaan (Terkait dengan koordinasi Bab III huruf 2). Berdasarkan beberapa pasal tersebut dapat diketahui bahwa kepolisian dan kejaksaan memiliki hubungan yang sangat erat dalam pelaksanaan diversi. Dapat dikatakan bahwa koordinasi kondusif harus dilaksanakan sesuai dengan amanat undang-undang. Memang senyatanya
jaksa harus selalu mengikuti perkembangan penyidikan anak dan memantau perkembangan diversi di tingkat penyidikan. Hal ini telah tegas diatur dalam Pedoman Pelaksanaan Diversi Pada Tingkat Penuntutan. Hal ini menunjukkan bahwa sedari awal jaksa harus mengikuti, mencermati kasus tersebut agar ketika diversi tidak berhasil di tingkat kepolisian, penuntut umum dapat mengupayakan diversi dengan segera. Langkah inilah yang perlu dilakukan sebagai optimalisasi pelaksanaan diversi. Pemahaman ide-ide restorative justice perlu ditanamkan sehingga penegak hukum memiliki paradigma restorative justice dalam menangani tindak pidana anak.
B.2.3. Budaya Hukum
Budaya hukum dalam pembahasan ini dapat dibagi menjadi dua yakni budaya hukum penegak hukum dan budaya hukum masyarakat. Berdasarkan hasil riset dapat diketahui bahwa budaya hukum di kepolisian dan di pengadilan sangat baik untuk mengupayakan diversi atau dengan ungkapan “diversi yang berhasil menjadi prestasi bagi mereka”. Begitu juga di Kejaksaan yang juga mengupayakan diversi, meskipun masih dapat ditemukan jaksa yang belum optimal mengupayakan diversi dan belum maksimal memahami terkait proses diversi, sehingga sebagai optimalisasi diperlukan sosialiasi dan pelatihan yang berkesinambungan. Berdasarkan riset penulis bahwa diversi ini sangat diupayakan oleh penegak hukum karena merupakan perintah dari undang-undang dan adanya rasa prihatin dan iba ketika anak melakukan kejahatan (terkait dengan sebab-sebab anak melakukan kejahatan).
Budaya masyarakat juga mempengaruhi pelaksanaan proses diversi. Patut disadari bahwa pihak korban dan keluarga korban sangat menentukan adanya proses diversi karena diversi muncul jika ada sepakat dari pihak pelapor (korban/keluarga korban) dan juga pelaku (anak yang berkonflik dengan hukum).
Hasil riset menunjukkan bahwa pihak terlapor (pelaku dan keluarga pelaku) tentu menginginkan proses diversi karena menguntungkan pihak terlapor namun pihak pelapor (korban dan keluarga korban) belum tentu demikian. Diversi akan mudah dilakukan terhadap kasus-kasus yang ringan dalam hal ini pihak pelapor mau menyelesaikan kasus lewat diversi
dan bahkan umumnya tidak menuntut ganti kerugian terutama jika anak berada pada ekonomi yang lemah.
Sebaliknya, diversi akan sulit terjadi ketika kasus-kasus yang lebih berat misalnya kasus-kasus lakalantas yang sampai mengakibatkan kematian, meskipun ancaman hukumannya 6 tahun sehingga dapat diupayakan diversi, namun dalam beberapa kasus diversi gagal. Hal ini dikarenakan pihak keluarga atau orang tua korban tidak setuju melakukan diversi karena nyawa tidak bisa ditukar berbeda dengan harta bisa dicari. Budaya masyarakat Indonesia pada dasarnya sejalan dengan diversi karena musyawarah menjadi budaya masyarakat Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat, namun diversi masih saja bisa gagal dilakukan. Optimaliasi yang dapat dilakukan dengan memaksimalkan “pemulihan korban”
sebagai wujud nyata dari restorative justice, sehingga kepercayaan masyarakat akan meningkat. Budaya hukum masyarakat juga perlu ditingkatkan melalui sosialisasi pentingnya diversi untuk dilakukan.
C. Penutup C.1. Kesimpulan
1. Pelaksanaan diversi di Kota Denpasar telah dilakukan dengan pembatasan atau filterisasi sesuai dengan Pasal 7 ayat (2) UU SPPA yakni hanya dapat dilakukan terhadap tindak pidana anak yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 tahun dan bukan recidive. Dalam pelaksanaan diversi di Kota Denpasar, tidak hanya kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan yang terlibat, namun banyak institusi yang terlibat dalam proses diversi antara lain Bapas (Balai Pemasyarakatan), Dinsos (Dinas Sosial), P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak), Lembaga pemerhati anak, dan bahkan pihak masyarakat yang diwakili oleh Kepala Lingkungan. Hingga saat ini kerjasama dan koordinasi berjalan dengan baik, namun masih ada kendala yang dirasa dalam pelaksanaan diversi di Kota Denpasar yakni terkait pengaturan umur anak berdasarkan UU SPPA (substansi hukum), kurangnya koordinasi dan pengawasan (struktur hukum), dan masih bisa ditemukan penegak hukum yang tidak memahami makna
dan spirit diversi, serta kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan urgensi diversi (budaya hukum).
2. Solusi optimalisasi penerapan diversi di Kota Denpasar yang dapat dilakukan adalah melalui perbaikan 3 (tiga) komponen sistem yakni pertama, substansi hukum dengan mereformulasi aturan terkait batas umur anak di UU SPPA dan penguatan aturan internal penegak hukum sebagai pelaksana diversi. Kedua, struktur hukum yakni meningkatkan koordinasi dan kerja sama antar penegak hukum. Ketiga, budaya hukum dengan mengadakan pelatihan serta sosialisasi ke penegak hukum secara berkesinambungan, mengadakan sosialisasi dan pendekatan ke masyarakat untuk meningkatan pemahaman dan kesadaran penyelesaikan kasus melalui diversi.
C.2. Saran
1. Diversi sangat diharapkan dijadikan prioritas, namun tidak melupakan upaya penanggulangan kejahatan, khususnya agar anak yang berkonflik dengan hukum tidak mengulangi lagi kesalahannya sehingga perlu pendekatan humanis jika kasus diselesaikan melalui diversi.
Pemulihan korban dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh anak yang berkonflik dengan hukum sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahannya akan mendorong keberhasilan diversi, sehingga perlu dioptimalkan. Pelaksanaan diversi sebagaimana konsep Restortative Justice juga nampaknya perlu lebih banyak melibatkan masyarakat dalam proses diversi sehingga mencapai keadilan bagi semua pihak.
2. Kendala-kendala yang muncul sebaiknya ditindak dengan sebagai langkah optimalisasi.
Peraturan diversi harus diperkuat, penegak hukum juga harus memahami spirit diversi, dan masyarakatpun perlu memahami pentingnya diversi sehingga diversi dapat optimal.
Daftar Pustaka Buku
Dewi, DS dan Syukur, Fatahillah A. 2011. Mediasi Penal: Penerapan Restorative Justice di Pengadilan Anak Indonesia. Depo: Indie Publishing.
Nasir, M. 2013. Anak Bukan untuk dihukum. Jakarta:
Sinar Grafika.
Pramukti, Angger Sigit. 2014. Sistem Peradilan Pidana Anak, Yogyakarta: Medpress.
Purwati, Ani. 2020. Keadilan Restoratif dan Diversi Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Anak, Surabaya: CV. Jakad Media Publishing.
Soekanto, Soerjono. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Jurnal
A. R Hambali. 2019. Penerapan Diversi Terhadap Anak yang Berhadapan Dengan Hukum Dalam Sistem Peradilan Pidana. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum Volume 13 Nomor 1.
Fahmi Noor Adly. 2020. Diversi sebagai bentuk penyelesaian perkara pidana anak di tingkat penyidikan dalam kasus kejahatan kesusilaan di wilayah hukum Polda Jatim. Jurnal Sosiologi Dialektika Volume 15 Nomor 1.
Hendricus Andrianto, Pujiyono, dan Nur Rochaeti.
2016. Implementasi Diversi Terhadap Anak yang Berhadapan Dengan Hukum di Polres Pati.
Diponegoro Law Journal Volume 5 Nomor 3.
I. Kasuma, I. A, Hermawan, & M. Setyawati. 2020.
Problematika Pelaksanaan Diversi Bagi Anak Berhadapan Dengan Hukum di Kota Layak Anak (Studi Pada Aparat Hukum, Pemerintah Kota dan Masyarakat di Depok Dan Surakarta).
Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan Volume 8 Nomor 2.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang RI No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.
Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dan Penanganan Anak yang Belum Berumur 12 (Dua Belas) Tahun
Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor Per- 006/A/J.A/04/2015 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi Pada Tingkat Penuntutan.
Peraturan Mahkamah Agung No. 4 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi Dalam Sistem Peradilan Anak