• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PELAKSANAAN LELANG ATAS OBJEK HAK

C. Pelaksanaan Lelang Atas Objek Hak Tanggungan Dalam

C. Pelaksanaan Lelang Atas Objek Hak Tanggungan Dalam Perkara

Pelaksanaan eksekusi ini sebenarnya tidak diperlukan apabila pihak yang dikalahkan dengan sukarela mentaati bunyi putusan pengadilan. Akan tetapi, dalam kenyataannya tidak semua pihak mentaati bunyi putusan pengadilan tersebut dengan sepenuhnya.76 Oleh karena itu, diperlukan suatu aturan bilamana putusan tidak ditaati dan bagaimana cara pelaksanaannya.

75 Sudikno Mertokusumo, Eksekusi Objek Hak Tanggungan Permasalahan dan Hambatan, Yogyakarta, 1996, Hal 35.

76 Hasil wawancara dengan Syamsul Bahri jabatan panitera pengganti di Pengadilan Negeri Medan, pada tanggal 08 Agustus 2017, pukul 09.30.

Adanya pelaksanaan eksekusi hak tanggungan adalah karena adanya kewajiban dari debitur kepada kreditur yang tidak terpenuhi, karena sebelumnya telah dibuat suatu perjanjian anatara debitur dan kreditur dengan ditanda tanganinya harta pemberian hak tanggungan yang dibuat di hadapan pejabat pembuat akta tanah (PPAT) dan didaftarkan di kantor pertanahan. Suatu keadaan di mana debitur tidak melaksanakan prestasinya sesuai dengan apa yang telah dijanjikannya, karena kesalahannya dan ia telah ditegur maka pelaksanaan eksekusi dapat dilakukan.

Khusus mengenai lelang eksekusi Pengadilan, diperlukan syarat- syarat sebagai kelengkapan permohonan antara lain :

1. Penetapan Ketua Pengadilan Negeri 2. Aanmaning/teguran

3. Penetapan sita atas obyek Hak Tanggungan 4. Berita Acara Sita

5. Perincian hutang

6. Pemberitahuan lelang kepada termohon lelang 7. Bukti kepemilikan (sertifikat)

Lelang eksekusi hak tanggungan tidak memerlukan perintah dari ketua pengadilan untuk melakukan penjualan objek hak tanggungan melalui pelelangan umum, kreditur pemegang hak tanggungan (dalam hal ini adalah bank/Turut tergugat II, selaku pemegang hak tanggungan) yang mempunyai kewenangan yang diberikan oleh undang-undang dapat langsung mengajukan permintaan kepada Kepala Kantor

Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) untuk melakukan penjualan objek tanggungan terhadap debitur yang telah melakukan cidera janji.

Permohonan lelang yang diajukan oleh turut tergugat II/Bank telah disertai dengan surat dan dokumen yang diperlukan sehingga telah memenuhi syarat untuk dilaksanakan lelang. Sebelum dilakukan pelelangan, PT. Bank Danamon Indonesia Tbk Retail Banking Region 6 telah melakukan peringatan kepada debitur untuk menyelesaikan kewajibannya dengan Surat Peringatan sebanyak 3 (tiga) kali dan surat teguran somasi. Dalam surat teguran somasi dijelaskan “jika debitur Japar Robert Purba telah lalai melaksanakan kewajiban-kewajiban hutang, maka diberi kesempatan melunasi dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender terhitung sejak tanggal surat teguran”.

Mengenai penetapan waktu lelang, setelah ditetapkan tentang waktu pelaksanaan lelang, kemudian Ketua Pengadilan Negeri selaku pemohon lelang melaksanakan pengumuman lelang pertama dan kedua dalam tenggang waktu 15 hari.

Jadi pengumuman lelang yang ke II dengan pelaksanaan lelang tidak boleh kurang dari 14 hari. Apabila setelah pengumuman lelang yang ke II juga tidak ada pelunasan/penyelesaian, maka lelang dilaksanakan dan pada prinsipnya yang dimenangkan adalah yang mengajukan penawaran tertinggi dan diatas limit.77

Rencana pelelangan telah diberitahukan kepada pihak debitur oleh pihak PT.

Bank Danamon Indonesia Tbk Retail Banking Region 6 dengan surat Nomor:

77 Hasil wawancara dengan Syamsul Bahri jabatan panitera pengganti di Pengadilan Negeri Medan, pada tanggal 08 Agustus 2017, pukul 09.30.

347/SCC-R6/MDN/1010 tanggal 28 Oktober 2010 perihal Pemberitahuan Lelang yang ditujukan kepada penghuni tanah dan bangunan. Rencana pelaksanaan lelang juga dilengkapi dengan Surat Pernyataan Nomor: 268/RBC-R6/0910 tanggal 28 September 2010 yang dibuat oleh PT. Bank Danamon Indonesia Tbk Retail Banking Region 6 yang menyatakan bahwa turut tergugat II/Bank akan bertanggung jawab apabila timbul gugatan perdata maupun tuntutan pidana yang diajukan oleh pihak manapun terkait objek lelang.

Berdasarkan Surat Permohonan Lelang Nomor: 267/RBC-R6/0910 tanggal 28 September 2010 perihal permohonan pelaksanaan lelang eksekusi hak tanggungan dan surat teguran SKPT/SKT, maka kepala KPKNL mengeluarkan surat nomor: S-2180/WKN.2/KNL.0201/2010 tanggal 19 Oktober 2010 perihal penetapan jadwal lelang.

Penjual/Bank telah melengkapi dengan Surat Pendaftaran Tanah (SKPT) atas objek lelang eksekusi yaitu Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT Nomor:

409/PKM/2010 tanggal 28 Oktober 2010 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kota Medan yang menerangkan tanah seluas 231𝑚2 dengan Sertifikat Hak Milik Nomor: 623/Binjai atas nama Jafar Purba yang terletak di Gang Turi Kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai, Kota Medan untuk keperluan lelang. Permohonan lelang yang diajukan oleh Bank/Turut tergugat II telah disertai dengan surat dan dokumen yang diperlukan sehingga telah memenuhi syarat untuk dilaksanakan lelang, maka berdasarkan Pasal 12 Peraturan Menteri Keuangan Nomor:

93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang dengan tegas menyatakan bahwa “Kepala KPKNL/Pejabat lelang kelas II tidak boleh menolak permohonan lelang yang diajukan kepadanya sepanjang dokumen persyaratan lelang sudah lengkap dan telah memenuhi legalitas formal subjek dan objek lelang”. Dalam hal ini turut tergugat I hanya melaksanakan tugasnya sebagai pelaksana lelang yang mana penjualnya adalah PT. Bank Danamon Indonesia Tbk Retail Banking Collection Region 6.

Bank telah melaksanakan pengumuman lelang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pelelangan ini telah diumumkan melalui surat kabar harian mandiri pada tanggal 11 Nopember 2010 guna memenuhi asas publisitas yang bertujuan untuk mengumpulkan peminat atas pelaksanaan lelang. Pelaksanaan lelang yang dilaksanakan tanggal 25 Nopember 2010 dengan harga limit sebesar Rp.

67.000.000 telah ditetapkan oleh bank selaku penjual melalui suratnya kepada KPKNL/turut tergugat I tanggal 07 Oktober 2010 perihal limit lelang.

KPKNL/turut tergugat I selaku pelaksana lelang melakukan lelang dimulai dari harga limit yang diberikan penjual/turut tergugat II. Hal ini berdasarkan Pasal 1 Nomor 26 Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang dengan tegas menyatakan bahwa nilai limit adalah harga minimal barang yang akan dilelang dan ditetapkan oleh penjual/pemilik barang.

Lelang yang dilaksanakan atas objek atas nama Jafar Purba/tergugat I dalam perkara ini tercatat dan ternyatakan sah secara hukum dengan risalah lelang Nomor:

736/2010 dengan penawar tertinggi disahkan sebagai pembeli pada pelaksanaan

lelang adalah sdr. Lamria Sitorus/penggugat. Dokumen risalah lelang sebagai akta autentik merupakan dokumen yang secara jelas diakui keabsahannya yang mempunyai sifat mengikat sehingga apa yang tertuang di dalamnya harus dipercaya hakim yang diakui kebenarannya. KPKNL/turut tergugat I dengan tegas menyatakan bahwa dalam pelaksanaan lelang telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dengan ketentuan yang berlaku.

BAB III

TANGGUNG JAWAB PEJABAT LELANG DAN BANK TERHADAP OBJEK HAK TANGGUNGAN YANG DILELANG

A. Tanggung Jawab Pejabat Lelang 1. Lingkup tanggung jawab

Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Tanggung jawab adalah suatu kondisi yang mewajibkan seseorang harus menanggung sesuatu jika terjadi hal yang tidak dikehendaki, orang tersebut boleh disalahkan, diperkarakan, dituntut dan sebagainya.78 Secara umum prinsip-prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat dibedakan, yaitu:79

a. Prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan (liability based on fault), yaitu prinsip yang menyatakan bahwa seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsur kesalahan yang dilakukannya.

b. Prinsip praduga untuk selalu bertanggung jawab (Presumption of liability), yaitu prinsip yang menyatakan tergugat selalu dianggap bertanggung jawab sampai ia dapat membuktikan, bahwa ia tidak bersalah, jadi beban pembuktian ada pada tergugat.

c. Prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab (Presumption of nonliability), yaitu prinsip ini merupakan kebalikan dari prinsip praduga untuk

78 Peter Salim dan Yenny Salim. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Hal 1538.

79Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, PT. Grasindo, Jakarta, 2000, Hal 58.

selalu bertanggung jawab, dimana tergugat selalu dianggap tidak bertanggung jawab sampai dibuktikan, bahwa ia bersalah.

d. Prinsip tanggung jawab mutlak (Strict liability), dalam prinsip ini menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang menentukan, namun ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab, misalnya keadaan force majeur.

e. Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan (limitation of liability), dengan adanya prinsip tanggung jawab ini, pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan klausula yang merugikan konsumen, termasuk membatasi maksimal tanggung jawabnya. Jika ada pembatasan, maka harus berdasarkan pada perundang-undangan yang berlaku.

Pertanggung jawaban karena kesalahan merupakan bentuk klasik pertanggungjawaban perdata berdasar 3 prinsip yang diatur dalam Pasal 1365, 1366 dan 1367 Kitab Undang-undang Hukum Perdata :

a. Setiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian pada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut.

b. Setiap orang bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hatinya.

c. Seorang tidak saja bertanggungjawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang-orang yang berada dibawah tanggung jawabnya atau disebabkan oleh barang-barang yang berada dibawah pengawasannya.

Untuk dapat mengajukan gugatan berdasarkan perbuatan melanggar hukum harus dipenuhi 4 syarat :

a. Harus mengalami suatu kerugian b. Adanya kesalahan atau kelalaian

c. Adanya kausal antara kerugian dan kesalahan d. Perbuatan itu melanggar hukum

2. Pejabat lelang

Pejabat Lelang (Vendumeester sebagaimana dimaksud dalam Vendureglement) berdasarkan pasal 1 Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No.

305/KMK.01/2002 adalah orang yang khusus diberi wewenang oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 305/KMK.01/2002 bahwa pejabat lelang dibedakan menjadi Pejabat Lelang Kelas I dan Pejabat Lelang Kelas II yang mempunyai tugas, fungsi, wewenang, hak dan kewajiban tertentu.

a. Tugas pejabat lelang

Berdasarkan Pasal 10 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.305/KMK/01/2003 menyatakan dimana seorang pejabat lelang mempunyai tugas melakukan kegiatan persiapan lelang, pelaksanaan lelang dan kegiatan setelah lelang.

Kegiatan-kegiatan tersebut berdasarkan Pasal 6 Surat Keputusan Dirjen Piutang dan Lelang Negara No. 36/PL/2002 adalah sebagai berikut :

• Kegiatan persiapan lelang

1) Meminta dan menerima dokumen persyaratan lelang yang berkaitan dengan dokumen lelang;

2) Meneliti kelangkapan dan kebenaran formal dokumen persyaratan lelang;

3) Memberikan informasi lelang kepada pengguna jasa lelang antara lain: tata cara penawaran lelang, uang jaminan, pelunasan uang hasil lelang, bea lelang dan pungutan-pungutan lain sesuai peraturan perundang-undangan, obyek lelang dan atau pengumuman lelang;

4) Membuat bagian kepala risalah lelang;

5) Mempersiapkan bagian badan dan bagian kaki risalah lelang.

• Kegiatan pelaksanaan lelang

1) Membaca bagian kepala risalah lelang;

2) Memimpin pelaksanaan lelang agar berjalan tertib, aman dan lancar;

3) Mengatur ketepatan waktu;

4) Bersikap tegas, komunikatif dan berwibawa;

5) Menyelesaikan persengketaan secara adil dan bijaksana;

6) Menghentikan pelaksanaan lelang untuk sementara waktu apabila terjadi ketidaktertiban atau ketidakamanan dalam pelaksanaan lelang;

7) Mengesahkan pembeli lelang; dan 8) Membuat bagian badan risalah lelang.

• Kegiatan setelah lelang

1) Membuat bagian kaki risalah lelang;

2) Menutup dan memandatangi risalah lelang;

3) Pejabat lelang kelas I menyetorkan uang hasil lelang yang diterima dari pembeli ke bendaharawan penerima/rekening Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara;

4) Pejabat lelang kelas II yang berkedudukan di kantor pejabat lelang kelas II menyetorkan bea lelang, uang miskin dan PPh (apabila ada) ke kas negara, serta hasil bersih lelang kepada kas negara/penjual;

5) Pejabat lelang kelas II yang berkedudukan di Balai Lelang menyetorkan biaya administrasi dan PPh (bila ada) ke kas negara, serta hasil bersih lelang ke pemilik lelang.

b. Fungsi pejabat lelang

Pejabat lelang atau vendumeester adalah pejabat fungsional yang diangkat dan diberhentikan oleh menteri keuangan serta mengangkat sumpah sebelum melaksanakan tugasnya. Di dalam Pasal 1a Vendu Reglement disebutkan bahwa pelelangan tidak boleh dilaksanakan, kecuali dihadapan Pejabat Lelang/Vendumeester.80 Dari pasal tersebut dapat kita simpulkan bahwa pelelangan atau penjualan umum merupakan prosedur jual beli, dimana berdasarkan Pasal 11

80Sutardjo, Eksekusi Lelang Barang Jaminan dan Masalah yang timbul dalam Praktek, Jakarta , 1993, Hal 10.

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.305/KMK/01/2002 Pejabat Lelang bertindak sebagai pejabat yang berfungsi untuk :

1. Peneliti dokumen persyaratan lelang, yaitu pejabat lelang meneliti kelengkapan dokumen persyaratan lelang;

2. Pemberi informasi lelang, yaitu pejabat lelang memberikan informasi kepada pengguna jasa lelang dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan lelang;

3. Pemimpin lelang, yaitu pejabat lelang dalam memimpin lelang harus komunikatif, adil, tegas dan beribawa untuk menjamin ketertiban, keamanan dan kelancaran pelaksanaan lelang; dan

4. Pejabat umum, yaitu pejabat yang membuat akta otentik berdasarkan undang-undang di wilayah kerjanya.

c. Kewenangan pejabat lelang

Pejabat Lelang yang dibedakan antara pejabat lelang kelas I yang berkedudukan di Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) dan pejabat lelang kelas II yang berkedudukan di kantor pejabat lelang kelas II atau di balai lelang yang mana mempunyai wewenang sebagai berikut:81

1) menegur atau mengeluarkan peserta atau pengunjung lelang apabila melanggar tata tertib lelang;

2) menghentikan pelaksanaan lelang untuk sementara waktu;

81Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 305/KMK.01/2002 tentang Pejabat lelang, Pasal 16.

3) mengesahkan atau membatalkan surat penawaran lelang;

4) mengesahkan pembeli lelang; dan

5) membatalkan pembeli lelang yang wanprestasi.

d. Hak pejabat lelang

Pejabat Lelang mempunyai hak sebagai berikut:82 1) meminta kelengkapan berkas persyaratan lelang;

2) menolak melaksanakan lelang karena tidak yakin akan kebenaran formal berkas persyaratan lelang;

3) melihat barang yang akan dilelang;

4) meminta bantuan aparat keamanan apabila diperlukan; dan

5) memberi kuasa kepada pihak lain dalam hal terjadi kekosongan khusus bagi Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II.

e. Kewajiban pejabat lelang

Menurut pasal 18 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.305/KMK/01/2003, terdapat perbedaan kewajiban antara Pejabat Lelang Kelas I, Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di kantor Pejabat Lelang Kelas II dan Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Balai Lelang, yaitu sebagai berikut:

1) Pejabat lelang Kelas I :

82Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 305/KMK.01/2002 tentang Pejabat lelang, Pasal 17.

a) menyetorkan uang hasil lelang yang diterima dari Pembeli ke Bendaharawan penerima/rekening Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara;

b) membuat dan menandatangani Risalah Lelang;

c) membuat laporan pelaksanaan lelang sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

dan

d) mematuhi peraturan perundang-undangan lelang yang berlaku.

2) Pejabat Lelang Kelas II yang berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II:

a) meminta uang hasil lelang ke pembeli;

b) menyetorkan Bea Lelang dan uang miskin ke kas negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

c) menyetorkan pajak penghasilan (Pph) Pasal 25 yang terhutang dari pemilik barang sesuai ketentuan yang berlaku, dalam hal yang dilelang adalah tanah atau tanah dan bangunan;

d) menyetorkan pajak penghasilan (Pph) Pasal 21 dari imbalan jasa yang diterima;

e) meminta bukti setor Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan (BPHTB) dari Pembeli Lelang sesuai ketentuan yang berlaku, dalam hal yang dilelang adalah tanah atau tanah dan bangunan;

f) menyetorkan hasil lelang ke Kas Negara/pemilik barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

g) membuat dan menandatangani Risalah Lelang;

h) membuat laporan pelaksanaan lelang sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

i) menyerahkan dokumen kepemilikan obyek lelang, petikan Risalah Lelang dan kwitansi lelang kepada Pemenang Lelang;

j) menyerahkan risalah lelang kepada Penjual; dan

k) mematuhi peraturan perundang-undangan lelang yang berlaku.

3) Pejabat Lelang Kelas I I yang berkedudukan di Balai Lelang : a) menerima kelengkapan dokumen persyaratan lelang;

b) meneliti dokumen persyaratan lelang;

c) memberikan informasi berkaitan dengan pelaksanaan lelang;

d) memimpin pelaksanaan lelang;

e) menyetorkan uang hasil lelang yang diterima dari pembeli ke balai lelang;

f) menerima dan meneliti bukti pembayaran pajak berkaitan dengan barang yang dilelang;

g) membuat dan menandatangani minut risalah lelang;

h) membuat salinan/petikan risalah lelang;

i) menyerahkan minut/salinan/petikan risalah lelang kepada balai lelang;

j) membuat laporan pelaksanaan lelang kepada balai lelang;

k) menutup asuransi profesi pejabat lelang; dan

l) mematuhi peraturan perundang-undangan lelang yang berlaku.

3. Perjanjian Kredit Atas Objek Hak Tanggungan

Perjanjian kredit merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pemberian kredit, tanpa perjanjian kredit yang ditandatangani bank dan debitur maka tidak ada pemberian kredit itu. Perjanjian kredit merupakan ikatan antara bank dan debitur yang isinya menentukan dan mengatur hak dan kewajiban kedua pihak sehubungan dengan pemberian atau pinjaman kredit (pinjaman uang).

Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai beberap tujuan yang hendak dicapai yang tergantung dari tujuan bank itu sendiri. Tujuan pemberian kredit juga tidak akan terlepas dari misi bank tersebut didirikan untuk mengembangkan pembangunan dengan berdasarkan prinsip ekonomi yaitu dengan pengorbanan sekecil-kecilnya dapat diperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya maka pada umumnya tujuan kredit secara ekonomis adalah untuk mendapat keuntungan.83 Bank hanya akan memberikan kredit apabila ia yakin calon debitur itu akan mampu mengembalikan kredit disertai bunga, imbalan atau pembagian hasil sebagaimana telah disepakati.

Perjanjian kredit biasanya diikuti perjanjian jaminan maka perjanjian kredit adalah pokok atau prinsip sedangkan perjanjian jaminan adalah ikutan atau accessoir artinya ada dan berakhirnya perjanjian jaminan tergantung dari perjanjian pokok (perjanjian kredit). Sebagai contoh jika perjanjian kredit berakhir karena ada pelunasan hutang maka secara otomatis perjanjian jaminan akan menjadi hapus atau berakhir. Tetapi sebaliknya jika perjanjian jaminan hapus atau berakhir misalnya

83 Thomas Suyatno, Dasar-dasar Perkreditan, PT. Gramedia, 1990, Hal 13.

barang yang menjadi jaminan musnah maka perjanjian kredit tidak berakhir. Jadi perjanjian kredit harus mendahului perjanjian jaminan, tidak mungkin ada jaminan tanpa ada perjanjian kredit.

Pembangunan ekonomi Indonesia bidang hukum meminta perhatian serius dalam pembinaan hukumnya diantaranya ialah lembaga jaminan. Karena perkembangan ekonomi dan perdagangan akan diikuti oleh perkembangan kebutuhan akan kredit dan pemberian fasilitas kredit memerlukan jaminan demi keamanan pemberian kredit.84 Kegiatan demikian dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan pada umumnya, karena kegiatan-kegiatan tersebut telah menjadi kebutuhan rakyat. Kegiatan tersebut yang akhirnya memerlukan adanya jaminan bagi pemberian kredit demi keamanan modal dan kepastian hukum bagi si pemberi modal.

Disinilah letak arti pentingnya lembaga jaminan. Fungsi utama dari jaminan adalah untuk meyakinkan bank atau kreditor bahwa debitur mempunyai kemampuan untuk melunasi kredit yang diberikan kepadanya sesuai dengan perjanjian kredit yang telah disepakati bersama.85

Agunan kredit diperlukan terhadap pencairan kredit. Agunan kredit adalah faktor penting dalam proses penyaluran kredit karena menjadi sumber pelunasan utang nasabah debitor bilamana kredit nasabah debitor tersebut macet. Walaupun pada penjelasan Pasal 8 ayat (1) UU Perbankan dijelaskan bahwa jaminan penyaluran kredit adalah keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitor untuk

84 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan Di Indonesia, Pokok-Pokok Hukum Jaminan Dan Jaminan Perorangan, Liberty Offset, 2001, Hal 1.

85 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana, Jakarta, 2005, Hal 69-70.

melunasi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan, bank tetap menempatkan agunan kredit sebagai faktor utama putusan penyaluran kredit adalah pengaruhnya kepada nasabah. Indikator lain pentingnya agunan kredit adalah pengaruhnya terhadap pencairan kredit. Selama agunan belum dipastikan dapat diikat sesuai ketentuan perundang-undangan, bank tidak akan mencairkan kredit nasabah debitor.86

Kredit dapat dibedakan menurut beberapa kriteria, dari kriteria pemberi-penerima kredit, jangka waktu, serta penggunaan kredit, atau dari berbagai kriteria lain pembedaan penting dalam struktur pelaksanaan perkreditan di Indonesia adalah berdasar kriteria lembaga penerima-penerima kredit. Berdasarkan kriteria ini dapat dibedakan 3 (tiga) macam kredit, yaitu:87

1. Kredit perbankan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha atau konsumsi.

Ini merupakan kredit yang diberikan oleh bank swasta atau bank pemerintah kepada dunia usaha untuk ikut membiayai sebagian kebutuhan pembiayaannya dan atau kredit dari bank kepada perseroan untuk membiayai pembelian barang-barang konsumsi tahan lama secara angsuran

2. Kredit liquiditas merupakan kredit yang diberikan oleh bank Indonesia kepada bank swasta dan bank-bank negara yang selanjutnya digunakan sebagai dana untuk membiayai kegiatan perkreditan. Selain itu ada kredit liquiditas darurat dan liquiditas khusus. Kredit liquiditas darurat adalah

86 Sunu Widi Purwoko, Aspek Hukum Bisnis Bank Umum, nsbooks, Jakarta, 2015, Hal 222.

87 Faried Wijaya, Perkreditan, BNK, Dan Lembaga-Lembaga Keuangan, edisi pertama, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Hal 45-46.

kredit liquiditas yang diberikan Bank Indonesia kepada bank-bank apabila mereka mengalami liquiditas-liquiditas dalam operasinya baik karena faktor ekstern maupun intern. Kredit liquiditas khusus diberikan dalam hubungan kesulitan-kesulitan liquiditas karena faktor-faktor intern. Untuk memperoleh fasilitas kredit liquiditas, ada beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan terutama ditekankan pada kinerja bank yang bersangkutan serta kepatuhan memenuhi serta menepati peraturan-peraturan dibidang keuangan, perbankan dan perpajakan.

3. Kredit langsung merupakan kredit yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada lembaga pemerintah dan semi pemerintah. Misalnya Bank Indonesia memberikan kredit langsung kepada bulog dalam rangka pelaksanaan program pengadaan pangan.

Mengenai waktu atau kapan kredit itu dibayarkan berpengaruh juga pada segi pengamanan perkreditan itu. Terlambat membayarkan tidak ada gunanya lagi, terlalu pagi juga mengandung resiko uang kredit itu dipakai untuk keperluan lain menyimpang dari tujuan semula karena mungkin terdesak oleh kebutuhan-kebutuhan lain.88

Dalam perjanjian di kasus ini jaminan/agunan kreditnya adalah hak tanggungan objeknya berupa sertifikat hak milik. Dalam Pasal 4 undang-undang hak tanggungan yang mengatakan bahwa:

88 Tjiptoadinugroho, Perbankan Masalah Perkreditan (Penghayatan, Analisis, Dan penutun), PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1994, Hal 43.

1. Hak atas tanah yang dapat dibebani dengan hak tanggungan adalah:

1. Hak atas tanah yang dapat dibebani dengan hak tanggungan adalah: