BAB IV PENYELESAIAN KREDIT MACET YANG OBJEK
A. Pelaksanaan Pemberian Kredit Yang Objek Jaminannya
Setiap tahapan proses pemberian kredit, harus senantiasa dilaksanakan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Prinsip kehati-hatian tersebut tercermin dalam kebijakan pokok perkreditan, tata cara penilaian kualitas kredit, profesionalisme dan integritas pejabat perkreditan. Adapun proses pemberian kredit yang diajukan oleh debitur kepada bank antara lain:55
1. Permohonan Kredit dan Prakarsa kredit
Permohonan kredit diajukan debitur secara tertulis baik untuk kredit baru, perpanjangan jangka waktu kredit, tambahan kredit, permohonan perubahan syarat kredit, restrukturisasi dan penyelesaian kredit. Permohonan kredit secara tertulis dapat diajukan dengan menggunakan surat permohonan kepada kreditur. Yang melayani pendaftaran permohonan kredit adalah Bagian Administrasi Kredit (ADK). Urutan kegiatan yang harus dilakukan ADK pada saat pendaftaran adalah
a. Memeriksa kelengkapan berkas calon debitur antara lain :
1) Copy tanda bukti diri (KTP, SIM atau surat keterangan identitas lainnya yang masih berlaku) atau akta pendirian badan usaha dan perubahannya.
2) Surat izin usaha atau keterangan usaha dari kepala desa atau lurah.
55
Wawancara dengan Nirwan Fahmi selaku Account Officer, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Kantor Cabang Putri Hijau Medan, 27 Juli 2015.
3) Tanda bukti kepemilikan agunan
b. Melayani pendaftaran kredit dan menjelaskan segala hal menyangkut ketentuan kredit kepada calon debitur sehingga dikemudian hari tidak menimbulkan masalah yang disebabkan oleh ketidaktahuan debitur perihal kredit yang dinikmati. Penjelasan-penjelasan kepada calon debitur tersebut meliputi hal-hal antara lain sebagai berikut :
1) Keperluan atau penggunaan kredit 2) Besarnya kredit dan jangka waktunya 3) Besarnya suku bunga kredit
4) Cara pembayaran kembali 5) Ketentuan asuransi jiwa kredit 6) Dan hal-hal yang dianggap perlu
c. Meminta calon debitur untuk mengajukan perkiraan besarnya permohonan kredit beserta jangka waktu yang dikehendaki.
d. Meminta calon debitur untuk mengisi dan membubuhkan tanda tangan pada formulir pendaftaran.
e. Mengisi formulir tanda terima bukti pemilikan agunan.
f. Menyiapkan berkas kredit dalam satu map (selanjutnya berkas ini disebut surat keterangan permohonan pinjaman/SKPP).
Setelah pendaftaran permohonan kredit selesai dilakukan oleh ADK berkas permohonan kredit tersebut diserahkan kepada Pemimpin Cabang (Pinca) untuk disetujui dilakukan proses selanjutnya.
Dalam melakukan prakarsa kredit, account officer melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Melakukan kunjungan ke domisili dan lokasi usaha debitur untuk mencari data dan informasi yang relevan dengan pengajuan kredit debitur serta memastikan usaha debitur layak untuk dibiayai. Pencarian data dan informasi debitur dapat dilakukan dengan wawancara baik dengan debitur/calon debitur maupun dengan pihak-pihak yang terkait dengan debitur (keluarga, tetangga, rekanan, karyawan) sehingga Pejabat Pemrakarsa mendapatkan gambaran tentang karakter, kondisi usaha, kemampuan debitur/calon debitur dalam mengelola usahanya dan tujuan penggunaan kredit. Seluruh hasil kunjungan tersebut harus dituangkan secara tertulis dalam Laporan Kunjungan Nasabah (LKN). b. Melakukan kunjungan ke lokasi agunan yang akan diserahkan oleh
debitur/calon debitur untuk mengetahui kebenarannya dan melakukan penilaian agunan. Hasil penilaian agunan harus dituangkan dalam form Hasil Penilaian Agunan.
c. Melakukan penelitian atas data-data yang diterima dari pemohon, misalnya laporan keuangan, memastikan kesesuaian dokumen yang diterima dalam bentuk foto copy (misalnya : identitas debitur, legalitas usaha) dengan asli dokumen, memastikan keaslian sertifikat hak guna usaha ke Kantor Pertanahan. Mencari informasi seluas-luasnya tentang bisnis proses usaha yang akan dibiayai.
2. Analisis dan evaluasi kredit
Semua permohonan kredit yang akan diproses harus dilakukan analisis dan evaluasi secara tertulis oleh Account Officer. Kedalaman suatu analisis disesuaikan dengan tingkat dan kompleksitas risiko kredit yang akan diberikan. Analisis kredit yang dilakukan oleh Account Officer meliputi analisis 5 C’s meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Charater
Charater adalah keadaan watak dan sifat dari calon debitur, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usahanya. Penilaian character merupakan penilaian terhadap kejujuran, ketulusan, kepatuhan akan janji, kesungguhan dalam melakukan usaha, serta kemauan untuk membayar kembali utang-utangnya.
b. Capacity
Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon debitur untuk membuat rencana dan mewujudkan rencana tersebut menjadi kenyataan, khususnya terkait dengan kemampuan pengelolaan usaha diantaranya kemampuan dalam memproduksi dan memasarkan barang yang dihasilkan, mencari pelanggan, mengelola keuangan secara efektif dan efesien dan kemampuan lainnya terkait dengan pengelolaan usaha guna memperoleh laba yang diharapkan.
c. Capital
Capital adalah dana yang dimiliki calon debitur untuk menjalankan dan memelihara kelangsungan usahanya. Adapun penilaian terhadap capital
adalah untuk mengetahui keadaan permodalan, sumber-sumber dana dan penggunaannya.
d. Condition
Condition adalah keadaan sosial ekonomi suatu saat yang mungkin dapat mempengaruhi maju mundurnya usaha calon debitur. Penilaian terhadap kondisi dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana kondisi ekonomi itu berpengaruh terhadap keadaan kegiatan usaha calon debitur dan bagaimana calon debitur tersebut mengatasi dan mengantispasinya, sehingga usahanya tetap hidup dan berkembang.
e. Collateral / agunan
Collateral adalah barang-barang yang diserahkan calon debitur sebagai agunan kredit. Tujuan penilaian agunan adalah untuk mengetahui seberapa besar nilai agunan dapat menutup risiko tidak dipenuhinya kewajiban finansial kepada BRI. Penilaian barang agunan meliputi antara lain jenis, nilai, lokasi, bukti kepemilikan dan status hukum.
Proses analisis dan evaluasi kredit oleh account officer dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dalam pemberian kredit dan bertujuan untuk menetapkan besar plafond yang dapat diberikan dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik bisnis debitur.
Selanjutnya hasil analisis dan evaluasi kredit dituangkan dalam Memorandum Analisis Kredit (MAK) :56
56Ibid.
a. Dalam MAK yang dibuat oleh account officer minimal harus memuat antara lain :
1. Identitas
2. Identitas pemohon antara lain : a) Nama pemohon
b) Alamat (rumah, kantor, pabrik & toko) c) Bentuk usaha
d) Bidang/jenis usaha
e) Susunan pengurus dan pemegang saham
f) Legalitas usaha / pemohon (misalnya : NPWP, akte pendirian badan usaha dan perubahannya, TDP, SIUP, SITU, TDR, Surat Keterangan Usaha ).
b. Tujuan Permohonan Kredit, antara lain : 1) Jumlah kredit
2) Jenis kredit
3) Obyek yang dibiayai
Obyek yang dibiayai dapat dibedakan sebagai berikut :
a) Untuk modal kerja harus secara tegas menguraikan komponen modal kerja yang diusulkan, misalnya piutang usaha, persediaan, pelunasan, hutang dagang, uang muka, cadangan kas.
b) Untuk modal kerja yang khusus membiayai piutang (anjak piutang) harus menguraikan piutang yang dibiayai, tata cara dan syarat piutang
tersebut termasuk autentifikasi dokumen piutang dan dokumen terkait lainnya.
c) Untuk investasi, harus disebutkan secara tegas jenis proyek yang akan dibiayai, misalnya pembangunan hotel, membangun pabrik, beli mesin, beli kendaraan.
d) Untuk konsumtif, harus dengan tegas disebutkan tujuan penggunaan kredit, misalnya pembangunan rumah, biaya pendidikan dan pembelian barang.
4) Jangka Waktu
Menentukan jangka waktu kredit Account Officer dan Pemutus harus benar-benar mempertimbangkan kemampuan debitur yang didukung dan tercermin dalam proyeksi cash flow serta dengan mempertimbangkan siklus bisnisnya.
c. Riwayat Hubungan Bisnis dengan Bank
Analisis riwayat hubungan bisnis calon debitur dengan BRI. d. Analisis 5’ C Kredit
1) Analisis Watak 2) Analisis Kemampuan
Analisis ini bertujuan mengukur tingkat kemampuan membayar dari pemohon yang antara lain dipengaruhi oleh faktor :
a) Aspek Manajemen
b) Aspek Produksi
Bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemohon, antara lain : kemampuan daya saing produk yang dihasilkan/diperdagangkan, kemampuan pemohon untuk berproduksi/berdagang secara berkesinambungan.
c) Aspek Pemasaran
Bertujuan untuk menilai kemampuan pemohon dalam memasarkan produknya.
d) Aspek Personalia
Bertujuan untuk menilai kemampuan perusahaan dari sisi kuantitas maupun kualitas tenaga kerja yang mendukung aktivitas perusahaan dan kemampuan perusahaan memelihara hubungan baik antara tenaga kerja dengan perusahaan/pemilik perusahaan.
e) Aspek Finansial
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis aspek finansial antara lain adalah sebagai berikut :
(1) Laporan keuangan yang diberikan oleh nasabah secara berkala. (2) Laporan keuangan yang digunakan sebagai dasar analisis pemberian
kredit dapat berupa laporan keuangan yang telah diaudit atau belum diaudit.
(3) Laporan keuangan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk analisis adalah laporan keuangan minimal 3 (tiga) periode terakhir.
Laporan keuangan periode terakhir adalah maksimum tiga bulan sebelum bulan pengajuan.
(4) Memperhatikan secara cermat seluruh rasio keuangan usaha pemohon selama minimal 3 (tiga) periode terakhir, proyeksinya, kaitannya dengan kapasitas produksi yang tersisa dan kondisi pasar. (5) Bagi calon debitur yang merupakan pengusaha baru, laporan
keuangan yang dapat digunakan adalah laporan keuangan minimal 2 (dua) periode berturut-turut dengan laporan terakhir adalah maksimum tiga bulan sebelum pengajuan.
(6) Memperhatikan GOFG (Gross Operating Fund Generation) yang mencerminkan kemampuan membayar pokok pinjamannya.
(7) Memperhatikan kebijaksanaan pembiayaan perusahaan melalui laporan sumber dan penggunaan dana.
(8) Analisis finansial yang lengkap meliputi :
(a) Hasil pengkajian ulang (recasting) terhadap Komponen Neraca / Laba Rugi,
(b) Analisis Aliran Kas (Cash flow),
(c) Analisis Kebutuhan Modal Kerja/Investasi,Analisis Konsolidasi (untuk Kelompok),
(d) Analisis Ratio-Ratio Perusahaan. 3) Analisis Modal
Tujuan analisis modal adalah mengukur kemampuan usaha pemohon untuk mendukung pembiayaan dengan modalnya sendiri (own share).
Semakin besar kemampuan modal berarti semakin besar porsi pembiayaan yang didukung oleh modal sendiri atau sebaliknya.
4) Analisis Kondisi/Prospek Usaha
Untuk mengetahui prospektif atau tidaknya suatu usaha yang hendak dibiayai, Account Officer harus melakukan analisis terhadap kondisi makro usaha/industri sejenis.
5) Analisis Agunan Kredit
Pada prinsipnya dalam pemberian kredit bank harus meminta agunan untuk kredit tersebut. Agunan tersebut dapat berupa proyek yang dibiayai dan/atau agunan tambahan, oleh karena itu penilaian terhadap agunan wajib dilakukan sesuai prinsip kehati-hatian dan menggambarkan obyektivitas penilaian yang wajar atas agunan kredit dimaksud.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam analisis agunan kredit adalah:57
Sesuai dengan penjelasan Pasal 8 UU RI No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan yang dirubah dengan UU RI No.10 tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Perbankan, tersirat bahwa agunan pokok, adalah agunan yang pengadaannya bersumber dari dana kredit bank. Agunan dapat hanya berupa agunan pokok apabila berdasarkan aspek-aspek lain dari 5’C kredit telah diperoleh keyakinan atas kemampuan pemohon untuk mengembalikan hutangnya.
a) Agunan Pokok
57
Wawancara dengan Nirwan Fahmi selaku Account Officer, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Kantor Cabang Putri Hijau Medan, 27 Juli 2015.
b) Agunan Tambahan
Agunan tambahan dapat dikatakan sebagai unsur pengaman lapis kedua (the second way out) dan berfungsi sebagai salah satu alat mitigasi risiko kredit . Agunan tambahan merupakan sumber pelunasan terakhir apabila kredit menjadi bermasalah.
4. Negosiasi Kredit
Setelah melakukan analisis dan evaluasi maka bagian ADK perlu melakukan negosiasi dengan pemohon dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Negosiasi yang dilakukan dalam rangka mencapai kesepakatan mengenai jumlah kredit, struktur dan tipe kredit, kelengkapan dokumen serta syarat dan ketentuan kredit yang harus dipenuhi pemohon.
b. Negosiasi dapat dilakukan dengan berbagai sarana antara lain : telepon, faksimili, e-mail dan dapat dituangkan dalam bentuk notulen, dituangkan langsung dalam MAK atau catatan lainnya.
c. Negosiasi dapat dilakukan pada setiap tahapan proses kredit sesuai dengan keperluan analisis.
5. Penetapan Struktur dan Tipe Kredit a. Ketentuan
Berdasarkan hasil analisis, evaluasi serta negosiasi maka dalam menetapkan struktur dan tipe kredit harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1) Struktur dan tipe kredit disusun berdasarkan kesimpulan hasil analisis yang
proyeksi arus kas (cash flow), siklus usaha debitur, perhitungan kebutuhan kredit (KMK atau Investasi), kemampuan nasabah dalam membayar kembali kreditnya serta potensi risiko yang mungkin akan terjadi bagi BRI.
2) Struktur, tipe, syarat dan ketentuan kredit antara lain sebagai berikut: a) Identitas pemohon, b) Jumlah pinjaman, c) Keperluan, d) Jenis pinjaman, e) Jangka waktu, f) Suku bunga, g) Provisi, h) Denda, i) Agunan, j) Asuransi,
k) Klausula positip / affirmative covenant (syarat yang harus dilakukan), l) Klausula negatif / negative covenant (syarat yang tidak boleh dilakukan
tanpa persetujuan BRI terlebih dahulu) m) Dan syarat-syarat kredit lainnya.
3) Penetapan struktur dan tipe kredit harus memperhatikan jenis fasilitas kredit serta ketentuannya. Tingkat kompleksitas struktur dan type kredit dapat berbeda sesuai jenis kredit yang diprakarsai.
b. Pengelompokan Kredit Berdasarkan Jangka Waktu
Pengelompokan kredit berdasarkan jangka waktu dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:
1) Kredit Jangka Pendek
Kredit jangka pendek ialah fasilitas kredit yang mempunyai jangka waktu setahun atau kurang.
2) Kredit Jangka Menengah
Kredit jangka menengah adalah fasilitas kredit yang mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun, namun kurang atau sama dengan 3 tahun. 3) Kredit Jangka Panjang
Kredit jangka panjang adalah kredit yang jangka waktunya lebih dari 3 (tiga) tahun.
c. Pengelompokan Kredit Berdasarkan Ciri dan Tujuan Penggunaan
Berdasarkan ciri dan tujuan penggunaan, kredit dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :
1) Kredit Modal Kerja (KMK)
KMK adalah fasilitas kredit yang dipergunakan untuk membiayai aktiva lancar dan atau menggantikan hutang dagang, serta membiayai sementara kegiatan operasional rutin (sehari-hari) perusahaan, uang muka, cadangan kas, atau komponen modal kerja lainnya sesuai dengan karakter bisnisnya.
2) Kredit Investasi
Kredit investasi adalah fasilitas kredit yang diberikan untuk pembiayaan pemohon dalam memperoleh barang modal maupun dalam rangka
mengganti biaya perolehan barang modal (refinancing). Dalam perhitungan Total Project Cost, nilai tanah dimasukkan dalam komponen Total Project Cost dan merupakan salah satu komponen Sharing Dana Sendiri.
3) Kredit Konsumtif
Kredit konsumtif adalah kredit yang diberikan kepada debitur untuk membiayai kebutuhan konsumtif dan sumber pembayaran kembali kreditnya berasal dari penghasilan/gaji/pensiun pemohon.
6. Rekomendasi dan Pemberian Putusan Kredit
Rekomendasi pemberian putusan kredit merupakan suatu kesimpulan dari hasil analisis dan evaluasi kredit. Rekomendasi pemberian putusan kredit harus dibuat secara tertulis oleh Account Officer dalam MAK dan disampaikan kepada Pejabat Pemutus kredit yang berwenang. Dalam rekomendasi kredit harus secara jelas menguraikan kelemahan dan kekuatan yang akan mempengaruhi kemampuan pemohon dalam membayar kembali kreditnya baik dengan dana yang berasal dari hasil usaha yang dibiayai (first way out) maupun dari sisi agunan kreditnya (second way out).
Permohonan kredit yang dapat dipertimbangkan untuk disetujui (rekomendasi setuju), harus dilengkapi dengan struktur, type, syarat dan ketentuan kredit. Dalam pembuatan rekomendasi kredit, Account Officer harus memastikan bahwa telah sesuai dengan kebijakan dan prosedur. Untuk kredit yang lebih kompleks dapat dimintakan pendapat ahli hukum.
Dalam memberikan putusan kredit Pejabat Pemutus harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Analisis dan evaluasi kredit yang dibuat oleh Account Officer. b. Rekomendasi kredit yang dibuat oleh Account Officer.
Putusan kredit secara otomatis batal jika 90 hari setelah tanggal putusan tidak diikuti dengan akad kredit.
7. Perjanjian dan pencairan kredit
Dalam pencairan kredit langkah-langkah yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Persiapan pencairan
Setelah SKPP diputus, bagian ADK melakukan verifikasi putusan untuk memastikan seluruh persyaratan dan catatan pemutus yang perlu ditindak lanjuti telah dipenuhi sebelum realisasi kredit. Selanjutnya bagian ADK melakukan pencatatan dan segera melaksanakan persiapan pencairan sebagai berikut :
1) Memberitahukan kepada calon debitur bahwa permohonan kreditnya telah mendapat persetujuan atau putusan dan kepastian tanggal pencairan.
2) Menyiapkan surat pengakuan hutang (SPH)
3) Mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan pengikatan agunan antara lain :
Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT).
Pasal 11 ayat (1) UUHT disebutkan hal-hal yang wajib dicantumkan dalam APHT adalah sebagai berikut :
a) Nama identitas pemberi dan pemegang Hak Tanggungan;
b) Domisili pihak-pihak sebagaimana dimaksud huruf a, dan apabila diantara mereka ada yang berdomisili di luar Indonesia, baginya harus pula dicantumkan suatu domisili pilihan di Indonesia. Apabila domisili pilihan itu tidak dicantumkan dalam APHT maka kantor PPAT tempat pembuatan APHT dianggap sebagai domisili yang dipilih;
c) Penunjukan secara jelas hutang atau hutang-hutang yang dijamin pelunasannya dengan Hak Tanggungan dan meliputi juga nama dan identitas debitur yang bersangkutan;
d) Nilai Tanggungan;
e) Uraian yang jelas mengenai objek Hak Tanggungan, yakni meliputi rincian mengenai sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan atau bagi tanah yang belum terdaftar sekurang-kurangnya memuat uraian mengenai pemilikan, letak, batas-batas, dan luas tanah.
2) Mempersiapkan dan menyelesaikan surat-surat pengikatan agunan sesuai putusan kredit, antara lain :
a) PPAT melakukan persiapan pembuatan akta terlebih dahulu.
b) Kemudian setelah pengecekan dinyatakan sesuai, pelaksanaan berikutnya adalah menentukan waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak yaitu pemberi Hak Tanggungan dan penerima Hak Tanggungan untuk hadir dihadapan Notaris-PPAT.
c) Setelah disepakati semua hal yang terkait dengan pembebanan Hak Tanggungan ini maka akta akan dibacakan oleh PPAT dan dijelaskan isinya.
d) Apabila seluruh isi akta sudah dipahami oleh para pihak baru dilanjutkan dengan penandatanganan oleh pemberi Hak Tanggungan, penerima Hak Tanggungan, dua orang saksi, dan Notaris-PPAT itu sendiri.
e) Ketentuan dalam hukum pertanahan kita menyebutkan bahwa Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) setelah ditandatangani maka dalam waktu tujuh hari kerja setelah itu sudah harus dilakukan pendaftaran ke Kantor Pertanahan. PPAT wajib mengirimkan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang bersangkutan dan berkas-berkas lain yang diperlukan kepada Kantor Pertanahan. Berkas lain yang dimaksud di sini adalah meliputi surat-surat bukti yang berkaitan dengan objek tanggungan, dan identitas pihak-pihak yang bersangkutan, termasuk didalamnya sertifikat hak atas tanah.
f) Pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan membuatkan buku tanah Hak Tanggungan dan mencatatkannya dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadi objek Hak Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan.
g) Tanggal buku tanah Hak Tanggungan adalah tanggal hari ketujuh setelah penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi
pendaftarannya dan jika hari ketujuh itu jatuh pada hari libur, buku tanah yang bersangkutan diberi tanggal hari kerja berikutnya.
h) Sebagai tanda bukti adanya Hak Tanggungan, Kantor Pertanahan menerbitkan sertifikat Hak Tanggungan. Sertifikat Hak Tanggungan kemudian diserahkan kepada kreditur (bank) selaku pemegang Hak Tanggungan untuk disimpan.
3) Mempersiapkan surat permintaan penutupan asuransi (SPPA) untuk asuransi kerugian atas barang jaminan/agunan.
4) Mengisi kwitansi pencairan kredit yang dibuat rangkap 3 (tiga), dimana : a) Lembar pertama bermaterai untuk bukti kas.
b) Lembar kedua untuk debitur c) Lembar ketiga untuk berkas kredit b. Penandatangan perjanjian pencairan
Berkas atau kelengkapan pencairan terdiri dari surat pengakuan hutang (SPH), surat pengikatan agunan dan kwitansi pembayaran. Sebelum penandatangan berkas pencairan kredit, bagian ADK harus memastikan bahwa dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pencairan kredit telah ditanda tangani oleh debitur sebagai bukti persetujuan debitur, khususnya dokumen yang menyangkut agunan.
c. Pembayaran pencairan kredit
Pencairan kredit kepada debitur dilakukan oleh teller melalui overbooking ke rekening tabungan debitur yang bersangkutan di BRI berdasarkan kwitansi yang diterima dengan terlebih dahulu meneliti keabsahan kwitansi tersebut.
B. Faktor-faktor yang Menjadi Penyebab Terjadinya Kredit Bermasalah