B. Tujuan Pendidikan Agama Islam
3. Pelaksanaan Pendidikan agama Islam di SMP a. Kurikulum
Secara Etimoilogi, kurikulum dalam bahasa Arab biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh menusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam Kamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.28
Secara umum kurikulum diartikan oleh para pendidik yaitu segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, di dalam kelas, di halaman sekolah, maupun diluarnya atau segala kegiatan di bawah tanggung jawab sekolah yang mempengaruhi anak dalam pendidikannya.29
William B. Ragan, sebagaimana dikutip Armai Arif dalam bukunya Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam, bahwa kurikulum
27
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur'an,
(Terjemah, H.M Arifin dan Zainuddin), (Jakarta: Rieneka Cipta, 1994), cet. 2, h. 134.
28
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam…, h. 150.
29
Team Didaktik Metodik Kuirikulum IKIP Surabaya, Pengatar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995), h.97.
meliputi seluruh program dan kehidupan di sekolah. Kurikulum tidak hanya meliputi bahan pelajaran, tetapi seluruh kehidupan di kelas.30
Adapun Crow and Crow mendefinisikan kurikulum, yang dikutip Ramayulis dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk meneyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah.31
Zakiyah Dradjat memandang kurikulum adalah semua kegiatan yang memberikan pengalaman kepada siswa (anak didik) di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah, baik di luar maupun di dalam lingkungan dinding sekolah.32
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan, Penulis menyimpulkan bahwa kurikulum merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, sehingga dalam proses belajar mengajar pada jenjang pendidikan berpegang pada kurikulum yang ada.
Pada pasal 37 Undang-undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
a). Pendidikan agama
b). Pendidikan kewarganegaraan c). Bahasa
d). Matematika
e). Ilmu Pengetahuan Alam f). Ilmu pengetahuan sosial g). Seni dan budaya
h). Pendidikan jasmani dan olah raga i). Keterampilan / kejuruan dan j). Muatan local.33
30
Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam…, h. 30.
31
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam…, h. 150.
32
Zakiyah Daradjat, Metodelogi Pengajaran Agama Islam…, h. 83.
33
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan (Jakarta: tt.p, 2006), h.26.
Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani, yang dikutip Abuddin nata dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, menyebutkan beberapa karakteristik/ciri kurikulum dalam pendidikan agama Islam sebagai berikut: 1). Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya
dan kandungan-kandungan, metode-metode, alat-alat, dan tekniknya bercorak agama.
2). Meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya, yaitu kurikulum yang betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran dan jalan yang menyeluruh. Disamping itu ia juga luas dalam perhatiannya dan memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologis, sosial, dan spiritual. 3). Bersikap seimbang di antara berbagai ilmu yang dikandung dalam
kurikulum yang akan digunakan. Selain itu juga seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan pengembangan sosial.
4). Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
5). Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan minat bakat anak didik.34
Itulah gambaran tentang kurikulum, khususnya pada mata pelajaran pendidikan agama Islam.
b. Metode Pengajaran
Metode berasal dari dua suku kata yaitu "metha"yang berarti melalui atau melewati, dan "hodos" yang berarti jalan atau cara. metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan, sehingga dapat dipahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.35
Mahmud Yunus mendefinisikan metode adalah jalan yang akan ditempuh oleh guru untuk memberikan berbagai pelajaran kepada murid-murid dalam berbagai jenis mata pelajaran. jalan itu ialah khuttah (garis) yang direncanakan sebelum masuk kedalam kelas dan dilaksanakan dalam kelas waktu mengajar.36
34
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), Cet. 3, h.127.
35
Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam…, h. 40.
36
Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa metode mengandung arti adanya urutan kerja yang terencana, sistematis dan merupakan hasil eksperimen ilmiyah guna mencapai tujuan yang telah direncanakan. Semakin tepat metode yang digunakan maka semakin efektif pula dalam pencapaian tujuan.
Metode pengajaran yang penulis maksud dalam uraian ini adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengajarkan mata pelajaran pendidikan agama Islam kepada siswa. Adapun macam-macam metode yang dapat dipergunakan dalam pengajaran agama adalah metode ceramah, diskusi, demonstrasi, sosiodrama, driil dan tanya jawab.
Dalam hal ini akan diuraikan metode pengajaran dalam pendidikan agama Islam yaitu:
1). Metode Ceramah
Metode ceramah adalah teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim dipakai oleh para guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara lisan oelh guru di muka kelas.37
Dalam pelaksanaan metode ceramah untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat pembantu seperti gambar-gambar. Dan Peran murid di sini sebagai penerima pesan, mendengarkan, memperhatikan, dan mencatat keterangan-keterangan pokok penting yang dikemukakan oleh guru.
Metode cermah sangat perlu diberikan kepada peserta didik apabila materinya membutuhkan penjelasan agar materi tersebut dapat dimengerti oleh siswanya.
2). Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan objektif.38
Armai Arif mendefinisikan Metode diskusi dalam proses belajar mengajar adalah sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari bahan atau
37
Basyiruddin Usman, Metodelogi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Cipuatat Pers, 2002), h. 34.
38
menyampaikan materi dengan jalan mendiskusikannya, dengan tujuan dapat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku pada siswa.39
Dengan demikian bahwa metode diskusi adalah salah satu alternatif metode atau cara yang dapat dipakai oleh seorang guru di kelas dengan tujuan dapat memecahkan suatu masalah berdasarkan pendapat para siswa.
3). Metode Demonstrasi
Demonstrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu.40
Metode Demonstrasi dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dan juga dapat memusatkan perhatian anak didik.
4). Metode Sosiodrama
Sosiodrama menurut Engkoswara, yang dikutif Basyiruddin Usman dalam bukunya Metodelogi Pembelajaran Agama Islam, Sosiodrama adalah suatu drama tanpa naskah yang akan dimainkan oleh sekelompok orang. Biasanya permasalahan cukup diceritakan dengan singkat dalam temp 4 atau 5 menit, kemudian anak menerangkannya.41
Armai Arif mendefinisian Sosiodrama adalah suatu metode mengajar dimana guru memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan kegiatan memainkan peran seperti yang terdapat dalam kehidupan masyarakat (sosial).42
Manfaat metode ini yaitu agar melatih anak untuk mendramatisasikan Sesutu serta melatih keberanian, dan juga metode ini akan lebih menarik perhatian anak. Sehingga suasana kelas akan lebih hidup.
5). Metode Driil
Driil atau disebut latihan dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan
39
Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam…, h. 145.
40
Basyiruddin Usman, Metodelogi Pembelajaran Agama Islam…, h. 45.
41
Basyiruddin Usman, Metodelogi Pembelajaran Agama Islam…, h. 51.
42
melakukannya secara praktek suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan.43
Pada latihan siap (driil) untuk melaksanakan ibadah salat dalam Islam sangat ditekankan pada anak didik sedini mungkin agar dengan latihan-latihan yang dilakukan pada anak didik tidak merasa canggung setelah mereka dewasa. 6). Metode Tanya Jawab
Metode Tanya Jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada murid atau dapat juga dari murid kepada guru.44
Metode ini bisa pula diatur dengan pertanyaan yang diajukan kepada siswa lalu dijawab siswa lainnya. Keunggulan metode tanya jawab yaitu situasi kelas menjadi hidup atau dinamis, karena siswa aktif berpikir dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan dan juga melatih agar siswa berani menyampaikan buah pikirannya.
c. Evaluasi
Evaluasi berasal dari bahasa Inggris Evaluation akar katanya Value yang berarti nilai atau harga. Nilai dalam bahasa Arab disebut Qimah atau al-Taqdir. Secara harfiah evaluasi pendidikan al-Taqdir al-Tarbawiy yang dapat diartikan sebagai penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.45
Menurut M. Chabib Thoha, evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.46
Dengan demikian evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan incidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan berdasarkan atas tujuan yang jelas.
43
Basyiruddin Usman, Metodelogi Pembelajaran Agama Islam…, h. 55.
44
Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam…, h.141.
45
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam…, h. 221.
46
M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 1991), h. 1.
Evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam guna melihat sejauh mana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri.47
Berarti evalusi pendidikan agama Islam yang penulis maksud adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan prestasi hasil belajar murid dalam mata pelajaran agama Islam.
Ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk pengertian yang serupa dengan evaluasi, yaitu Measurement (Pengukuran), Assessment (Penaksiran), dan Test.48
Tes itu sendiri ada empat, yaitu tes formatif, tes sumatif, tes diagnostik, dan tes penempatan.
1). Tes Formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah menyelesaikan program dalam satuan materi pokok pada satuan bidang study tertentu.
2). Tes Sumatif, yaitu Penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik yang telah selesai mengikuti pembelajaran dalam satu caturwulan semester, atau akhir tahun.
3). Tes Diagnostik, yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil penganalisaan tentang keadaan belajar peserta didik baik merupakan kesulitan atau hambatan yang ditemui dalam proses pembelajaran.
4). Tes Penempatan (Placement), yaitu penilaian tentang pribadi peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Dan tes untuk mengukur kemampuan dasar yang dimiliki oleh anak didik, kemampuan tersebut dapat dipakai meramalkan kemampuan peserta didik pada masa mendatang, sehingga kepadanya dapat dibimbing, diarahkan atau ditempatkan pada jurusan yang sesuai dengan kemampuan dasarnya.49
47
Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam…, h. 54.
48
M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan…, h. 2.
49
Adapun tujuan dari evaluasi pembelajaran adalah untuk mendapatkan:
a). Data tentang tingkat perkembangan atau kemajuan peserta didik setelah mengikuti suatu Proses belajar mengajar tertentu, baik secara perorangan maupun kelompok. Data kemajuan belajar ini disebut dengan prestasi belajar.
b). Data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi belajar. Faktor tersebut kemungkinan merupakan faktor pendukung atau penghambat pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan.50