• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PROGRAM SIMPAN PINJAM PEREMPUAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHINYA

Pelaksanaan Program Simpan Pinjam Perempuan di Desa Teja

Mulai di tahun 2007 pemerintah mencanangkan Program Penanggulangan Kemiskinan Program Nasional Pengembangan Masyarakat Mandiri yang terdiri dari PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Mandiri Perkotaan, serta PNPM Mandiri wilayah khusus dan desa tertinggal. PNPM Mandiri Perdesaan adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Program Penanggulangan Kemiskinan Program Nasional Pengembangan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) Bidang Simpan Pinjam Perempuan (SPP) di Desa Teja dimulai sejak tahun 2009. Pada awalnya hanya terdapat 1 kelompok yang terdiri atas 10 orang perempuan, hingga saat ini telah berkembang menjadi 8 kelompok dengan jumlah anggota sekitar 10-20 orang dan jumlah keseluruhan adalah 128 orang. Penyebaran kelompok Simpan Pinjam Perempuan hampir disetiap blok yang terdapat di Desa Teja. Sumber dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM perdesaan bersumber dari APBN, APBD, swadaya masyarakat, partisipasi swasta, dan sumber lain. Simpan Pinjam Perempuan merupakan salah satu kegiatan yang memenuhi kriteria kegiatan yang dibiayai oleh BLM. Kriteria tersebut adalah:

1. Lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin atau rumah tangga miskin 2. Memenuhi kebutuhan antardesa dan/atau antarkecamatan

3. Berdampak langsung dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin

4. Berdampak langsung terhadap perkembangan ekonomi perdesaan 5. Dapat dikerjakan oleh masyarakat

6. Didukung oleh sumber daya yang ada

7. Memiliki potensi berkembang dan berkelanjutan

8. Mendukung kualitas lingkungan hidup dengan tidak merusak lingkungan hidup.

Program simpan pinjam di Desa Teja sudah memenuhi 8 kriteria tersebut. Pencairan dana SPP untuk setiap kelompok di Desa Teja berbeda-beda hal ini dimaksudkan agar perguliran dana menjadi lebih mudah dikelola dan mempermudah tim verifikasi saat verifikasi berlangsung. Tim verifikasi adalah tim yang dibentuk dari anggota masyarakat yang memiliki pengalaman dan keahlian khusus di bidang teknik prasarana, simpan pinjam, pendidikan, kesehatan, atau pelatihan keterampilan masyarakat sesuai usulan kegiatan yang diajukan masyarakat dalam musyawarah desa perencanaan. Peran Tim verifikasi adalah melakukan pemeriksaan serta penilaian usulan kegiatan semua desa peserta PNPM Mandiri Perdesaan dan selanjutnya membuat rekomendasi kepada musyawarah antardesa sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan. Saat ini terdapat tiga orang yang termasuk tim verifikasi kecamatan rajagalauh yaitu Bapak Oning S Heriyadi, Bapak Sutarwan, dan Bapak Zaenal Arifin SE.

34

Pencairan dana SPP dilakukan oleh UPK (Unit Pengelola Kegiatan) setelah pengajuan dana oleh setiap kelompok diverifikasi oleh tim verifikasi. Peran UPK adalah sebagai unit pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan antardesa. Pengurus UPK sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara serta ditambahkan minimal 1 orang yang mengelola kegiatan dana bergulir pada Kecamatan PNPM MPd yang memiliki total kas, bank, dan pinjaman kegiatan dana bergulir minimal 2 miliar rupiah. Berkaitan dengan kelancaran pelaksanan program, kepengurusan UPK harus bebas dari keterikatan dengan partai politik, atau pengurusnya tidak menjadi pengurus partai politik, tim sukses pemilihan kepala daerah, atau pemilihan legistatif. Saat ini ketua UPK kecamatan Rajagaluh adalah Bapak Baban Sobana.

Pengajuan pinjaman yang diajukkan oleh anggota kelompok berbeda beda tergantung pada lamanya keikutsertaan anggota dalam kelompok, artinya pinjaman yang diperoleh besarnya akan berjenjang. Apabila anggota baru bergabung maka jumlah pinjaman yang diperoleh hanya sekitar Rp500.000- Rp1.000.000 namun apabila sudah bergabung lebih dari 5 tahun anggota bisa memperoleh pinjaman sebanyak Rp.5.000.000-Rp.6.000.000. Kepercayaan antar setiap anggota kelompok dan tanggung jawab setiap anggota kelompok juga sangat mempengaruhi keberlanjutan kegiatan Simpan Pinjam ini, karena apabila ada satu anggota kelompok mengalami kendala pembayaran maka akan sulit untuk kelompok lain memperoleh pinjaman di tahun berikutnya. Lamanya pinjaman setiap periode adalah 12 bulan atau satu tahun, pada periode satu tahun anggota kelompok akan mengunpulkan anggusaran dana pinjaman setiap bulannya sehingga diperiode berikutnya dana tersebut dapat digulirkan kembali, setiap anggota bertanggung jawab dalam setiap pembayaran angsuran setiap bulan, dan tanggung jawab individu tersebut berpengaruh terhadap keberlangsungan dana perguliran pada periode berikutnya. Apabila ada salah satu anggota yang mengalami kendala dalam pembayaran maka kelompok simpan pinjam tersebut akan mendapat dampak dari permasalahan tersebut, sehingga terkadang setiap anggota dalam kelompok tersebut akan membantu anggotanya yang bermasalah dengan cara saling menutupi angsuran yang harus dibayar, dengan ketentuan dan kesepakatan yang telah disetujui oleh setiap anggota kelompok.

Peran ketua kelompok dalam kelompok simpan pinjam ini adalah jembatan pihak UPK kepada anggota lainnya. ketua kelompok menjadi tempat dalam mengumpulkan angsuran setiap bulannya sebelum nantinya apabila telah terkumpul diserahkan kepada pihak UPK. Di Desa Teja terdapat 8 kelompok yang diketuai oleh 6 orang yang dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Daftar Nama Kelompok dan Ketua Kelompok Simpan Pinjam Desa Teja.

Nama Kelompok Ketua Kelompok

Harapan 1 dan Harapan 2 Hj. Enung

Edelwis Isti

Matahari Aas Asrimah

Anggrek 1 dan Anggrek 2 Unah

Kenanga Sapti

35 Tabel 13 menunjukkan adanya pengembangan kelompok, yaitu kelompok Harapan 2 dan Anggrek 2. Hal ini dimaksudkan agar dalam satu kelompok tidak terlalu banyak anggota didalamnya agar dapat mempermudah proses perguliran dan pengajuan pinjaman selanjutnya. Permekaran kelompok ini disebabkan oleh tingginya partisipasi masyarakat dalam mengikuti program simpan pinjam. Tingginya partisipasi disebabkan oleh faktor individu dimana setiap anggota yang bergabung awalnya mengetahui program simpan pinjam dari cerita anggota lain yang terlebih dahulu bergabung. Setiap ketua kelompok dipilih secara sukarela dan melalui rasa kepercayaan yang timbul antar sesama anggota kelompok.

“ketua ditentukannya tidak melalui pemilihan seperti kepala desa,

hanya ditunjuk saja, saling percaya aja. Sampe sekarang saya ikut sudah hampir 4 tahun, ketua kelompok sampai sekarang selalu menyerakhan uang setoran pinjaman pada UPK tepat waktu” NNG-32tahun.

Berkembangnya kelompok simpan pinjam perempuan menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat terhadap program simpan pinjam. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Simpan Pinjam Perempuan merupakan kegiatan pemberian modal bagi kaum perempuan pedesaan. Simpan pinjam perempuan memiliki tiga tujuan khusus yaitu:

1. Mempercepat proses pemenuhan kebutuhan pendanaan usaha ataupun sosial dasar.

2. Memberikan kesempatan kaum perempuan meningkatkan ekonomi rumah

tangga melalui pendanaan peluang usaha.

3. Mendorong penguatan kelembagaan simpan pinjam oleh kaum perempuan.

Simpan Pinjam Perempuan dapat dikatakan berhasil apabila tiga poin dari tujuan khusus tersebut dapat dicapai. Adapun tingkat keberhasilan pelaksanaan program Simpan Pinjam Perempuan di Desa Teja akan dijelaskan pada alinea selanjutnya.

Tingkat Penerimaan Usaha

Berdasarkan data primer yang diperoleh, tingkat pendapatan penerima atau pemanfaat program Simpan Pinjam Perempuan sebelum dan setelah mengikuti program mengalami peningkatan pendapatan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Tingkat penerimaan usaha masyarakat pemanfaat program simpan

pinjam perempuan

Skala pengukuran (Rp.000.000)

Sebelum Sesudah Perubahan

(orang) % (orang) % ∑ (orang) % Rendah (0- 1000) 31 62 19 38 -0.39 -39 Sedang (1100- 3000) 7 14 13 26 0,.86 86 Tinggi (310- >5000) 12 24 18 36 0.5 50 Total 50 100 50 100 Keterangan: (-) menurun

36

Tabel 14 menunjukkan responden pemanfaat program mengalami peningkatan penerimaan usaha yang dapat dilihat dari penurunan jumlah responden yang memiliki besaran penerimaan rendah (Rp0 - Rp1.000.000), dari sebelumnya 62% menjadi 38% terdapat penurunan sebesar 39% Pada skala pengukuruan sedang dan tinggi mengalami peningkatan, yaitu masyarakat dengan tingkat penerimaan usaha sedang (Rp1.100.000-Rp3.000.000) sebelumnya 14% menjadi 26%, meningkat sebesar 86% dan pada tingkat pendapatan tinggi yaitu Rp3.100.000->Rp5.000.000 mengalami peningkatan sebesar 50% dari 26% menjadi 36%. maka dari itu, pencapaian ini sesuai dengan tujuan khusus Simpan Pinjam Perempuan pada poin nomor 2 yaitu: Memberikan kesempatan kaum perempuan meningkatkan ekonomi rumah tangga melalui pendanaan peluang usaha. Responden juga mengatakan adanya Simpan Pinjam Perempuan memberikan dampak pada pendapatan yang diperoleh. Salah satu responden menuturkan bahwa:

“alhamdulillah neng, setalah ikut program simpan pinjam, usaha

jadi lancar karena ada tambahan modal, uang masuk juga ada penambahan, alhamdulillah” UNH-55 tahun

Tingkat Modal Usaha

Berdasarkan data primer yang diperoleh, tingkat modal usaha masyarakat pemanfaat program Simpan Pinjam Perempuan mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat pada ulasan Tabel 15.

Tabel 15 Tingkat modal usaha masyarakat pemanfaat perogram simpan pinjam perempuan

Skala pengukuran (Rp.000.000)

Sebelum Sesudah Perubahan

(orang) % (orang) % ∑ (orang) % Rendah (0- 1000) 30 60 6 12 -0.8 -80 Sedang (1100- 4900) 9 18 19 38 1.1 110 Tinggi (>5000) 11 22 25 50 1.27 127 Total 50 100 50 100 Keterangan: (-) menurun

Tabel 15 menunjukkan perubahan, sebelumnya sekitar 60% menjadi 12% dengan penurunan 48%, kategori modal sedang dari 18% menjadi 38% dengan peningkatan sebesar 110% dan kategori modal tinggi dari 22% menjadi 50% dengan peningkatan sebesar 127%. Hal ini membuktikan bahwa poin 1 (Mempercepat proses pemenuhan kebutuhan pendanaan usaha ataupun sosial dasar)

pada tujuan khusus simpan pinjam perempuan dapat terlaksana. Penuturan salah satu responden mengenai simpan pinjam perempuan adalah:

“saya sudah ada 2 tahun ikut simpan pinjam, sudah dapat 2 juta.

37

ikut simpan pinjam saya belum memulai usaha karena tidak ada

modal. Sekarang, jadi mudah mau usaha karena ada pinjaman ini”

IMS-27 tahun

“pada awalnya sebelum menjadi anggota suami saya hanya bekerja

serabutan karena gak ada modal usaha, setelah tau ada simpan pinjam ini, tertarik ikut dan alhamdulillah sekarang sudah ada

usaha tetap dengan yaitu jualan es kelapa muda.” HYT 32 tahun

Berdasarkan pada dua indikator diatas, keberadaan program Simpan Pinjam Perempuan di Desa Teja termasuk berhasil, hal ini juga di katakan oleh salah satu narasumber.

“keberadaan simpan pinjam ini sangat membantu warga kami dan

dapat dikatakan berhasil, terutama para warga yang melakukan usaha. Hal ini memberikan hasil positif pada pemenuhan kebutuhan masyarakat yang ikut simpan pinjam ini, banyak perubahan, ada yang tadinya belum punya motor jadi punya. Ada

yang dulu motornya kurang bagus, bisa ganti.” WWN, 32 tahun

“keberadaan program simpan pinjam di Desa Teja bisa dibilang

berhasil, hal ini bisa dilihat dari eksistensi keberadaan program yang sudah berjalan selama hapir 7 tahun, selama ini tidak ada kendala serius yang dihadapi, paling hanya seputar kemacetan

pembayaran salah satu anggota saja.” BBN, 35 tahun

Perubahan Tingkat Penerimaan usaha dan Tingkat Modal Usaha Pada penelitian ini untuk menganalisis perubahan tingkat pendapatan dan tingkat modal usaha sebelum dan setelah adanya program akan digunakan uji beda non parametrik menggunakan matched pairs (wilcoxon). Uji ini dipilih karena data yang diuji berjenis ordinal dan walaupun sampel data berjumlah >30 sampel, namun data yang dihasilkan tidak terdistribusi normal (Lampiran 7).

Berikut adalah hasil uji beda antara tingkat pendapatan dan tingkat modal msayarakat Teja sebelum dan setelah mengikuti program Simpan Pinjam Perempuan

Tabel 16 Hasil uji beda tingkat penerimaan usaha dan tingkat modal usaha masyarakat sebelum dan sesudah program simpan pinjam

Indikator Asymp. Sig 2-tailed

(p value/probabilitas)

Taraf nyata (Significant Level) Tingkat penerimaan usaha

sebelum dan setelah program

0.000 0.05

Tingkat modal usaha sebelum dan setelah program

0.000 0.05

*taraf nyata 5% (0.05)

Berdasarkan tabel 16 nilai Asymp. Sig 2-tailed jauh lebih kecil dibandingkan dengan taraf nyata, yaitu 0.000 < 0.05, artinya terdapat berbedaan

38

tingkat penerimaan usaha dan tingkat modal usaha masayrakat Teja sebelum dan sesudah program simpan pinjam dilaksanakan. Artinya hipotesis pertama pada penelitian ini diterima. Hal ini diperkuat juga oleh data kualitatif dimana salah satu narasumber mengatakan bahwa:

“setelah ikut simpan pinjam pendapatan bertambah, untuk modal

juga jadi ada tambahan. Sangat ada perbedaan sebelum dan

setelah ikut ini (program).” LNT, 32 tahun

Faktor – Faktor yang Berpengaruh terhadap Keberhasilan Pelaksanaan Program Simpan Pinjam Perempuan

Keberhasilan pelaksanaan program Simpan Pinjam Perempuan ini tidak terlepas dari banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Setiap program yang dicetuskan oleh pemerintah selalu melibatkan banyak pihak dalam proses pelaksanaannya hingga program tersebut dapat dikategorikan sebagai program yang berhasil dan berkelanjutan. oleh sebab itu, faktor yang mempengaruhi keberhasilan program menjadi penting untuk diulas lebih jauh. Keberhasilan pelaksanaan program Simpan Pinjam Perempuan di Desa Teja tidak lepas dari dukungan setiap stakeholder yang terlibat. Pada program ini hampir semua

stakeholder dari mulai tingkat kecamatan hingga tingkat masyarakat. Dengan demikian, faktor stakeholder menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program Simpan Pinjam Perempuan di Desa Teja.

Stakeholder yang terlibat antara lain Kepala Desa Teja, Tim Verifikasi Kecamatan, pihak UPK Kecamatan, para anggota Simpan Pinjam Perempuan, serta masyarakat.

“keberhasilan program simpan pinjam ini juga berkat dukungan

pihak desa, pihak kecamatan, upk, dan semua pihak baik yang terlibat langsung ataupun tidak, kami pihak desa mempermudah dalam hal administrasi agar proses untuk verifikasi hingga

pencairan masyarakat tidak mengalami kesulitan.” WW, 32 tahun

“selama saya jadi ketua kelompok untuk urusan tanda tangan kuwu (kepala desa), cap dari desa tidak pernah dipersulit selagi

ibu kuwu ada di kantor.” ENG, 61 tahun

Selanjutnya, rasa tanggung jawab antar anggota kelompok menjadi salah satu faktor yang mendorong keberhasilan pelaksanaan program Simpan Pinjam Perempuan. Karena tanpa adanya rasa tanggung jawab dan rasa kepercayaan antar semasa anggota dan ketua keberlangsungan kelompok simpan pinjam ini tidak bisa berjalan dengan baik.

“saling percaya, terbuka, sama tanggu jawab aja sih ya neng biar

lancar. Kan kalo ada yang macet bayar yang rugi kita – kita juga

39 Rasa saling percaya antar anggota kelompok tidak sulit dibentuk karena anggota kelompok berasal dari wilayah tempat tinggal yang sama, secara umum kelompok Simpan Pinjam Perempuan setiap kelompoknya bermukim di blok yang sama sehingga tidak sulit bagi mereka membangun rasa kepercayaan satu sama lain. Selain itu, faktor partisipasi masyarakat, yaitu keikutsertaan dalam program Simpan Pinjam Perempuan juga menjadi faktor dalam mendorong keberhasilan program. Apabila, masyarakat sudah tidak ada yang mau ikut berpartisipasi maka program simpan pinjam ini tidak akan berkelanjutan.

“partisipasi masyarakat sejauh ini sangat baik, selalu ada saja

anggota baru yang ikut dalam setiap perguliran dana berlangsung, walaupun terkadang ada beberapa anggota yang memutuskan berhenti tapi selalu ada gantinya untuk anggota yang berhenti tersebut. Sehingga, kegiatan ini masih terus berjalan hingga saat

ini” BBN, 35 tahun

Pembayaran (pemberian dana bergulir) pada setiap kelompok dilaksanakan tepat waktu. Hal ini seperti yang dikatakan oleh salah satu responden yaitu sebagai berikut:

“pencairan dana SPP untuk setiap kelompok dilakukan diwaktu

yang berbeda dan dilakukan tepat waktu, perguliran dana dilakukan setelah masa pinjaman selama 1 tahun berakhir, maka dimulai pengajuan pinjaman baru. Kelompok mi haji selalu melakukan verifikasi berkas dibulan april dan dana akan cair

dibulan yang sama juga.” ENG, 63 tahun

Secara lebih terstruktur faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya akan ditampilkan pada tabel berikut:

Tabel 17 Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam perempuan

Faktor –faktor Tingkat keberhasilan

Indikator

Koordinasi yang bagus antar aktor yang terlibat

Tinggi kemudahan dalam pelayanan administrasi

Tingkat partisipasi Tinggi Anggota kelompok simpan pinjam

bertambah

Dukungan finansial

(Pembayaran)

Tinggi Tim verifikasi dan pihak UPK melaksanakan perguliran di waktu yang telah ditentukan

Pendampingan Rendah Pendampingan hanya dilakukan saat

tahun pertama program SPP dilaksanakan.

Tanggung jawab dan kepercayaan antar anggota

Tinggi Setiap anggota kelompok selalu membayar cicilan pinjaman tepat waktu, ketua kelompok meyetorkan pada UPK tepat waktu

Tiga dari empat faktor pendorong yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam perempuan pada Tabel 17

40

selaras dengan Utomo et al. (2014) yaitu koodinasi yang bagus antar aktor yang terlibat, tingkat partisipasi, dukungan finansial (pembayaran) dalam hal perguliran dana simpan pinjam. Namun untuk faktor pendampingan tidak begitu terlihat karena pendampingan dilakukan hanya pada saat program simpan pinjam pertama kali dilaksanakan yaitu pada tahun 2009 hingga 2010 saja. Saat ini, kelompok simpan pinjam di Desa Teja sudah tergolong mandiri dan keberadaannya sudah cukup lama. Selain itu, ditemukan faktor lain yaitu tanggung jawab serta kepercayaan anggota kelompok dalam hal pembayaran pinjaman menjadi salah satu faktor pendorong keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam di Desa Teja.

41

DAMPAK PROGRAM SIMPAN PINJAM PEREMPUAN

Dokumen terkait