• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Program Simpan Pinjam Perempuan Terhadap Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Di Desa Teja Kabupaten Majalengka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Dampak Program Simpan Pinjam Perempuan Terhadap Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Di Desa Teja Kabupaten Majalengka"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK PROGRAM SIMPAN PINJAM PEREMPUAN

TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH

TANGGA DI DESA TEJA KABUPATEN MAJALENGKA

FITRI MUNGGARANI KHOERUNNISA

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Dampak Program Simpan Pinjam Perempuan terhadap Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga di Desa Teja Kabupaten Majalengka” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2016

Fitri Munggarani Khoerunnisa

(4)

ABSTRAK

FITRI MUNGGARANI K. Dampak Program Simpan Pinjam Perempuan terhadap Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga di Desa Teja Kabupaten Majalengka. Di bawah bimbingan RILUS A. KINSENG dan HANA INDRIANA.

Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang tidak hanya terjadi di negara berkembang tetapi juga terjadi di negara maju. Upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia pemerintah membuat berbagai program penanggulangan kemiskinan yang dikelola oleh berbagai kementerian dan lembaga pemerintah. Salah satu program penanggulangan kemiskinan adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan bidang Simpan Pinjam Khusus Perempuan (PNPM-MP Bidang SPP). Adanya program penanggulangan kemiskinan yaitu untuk membantu masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga berdampak terhadap tingkat kesejahteraan mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan masyarakat sebelum dan sesudah program terlaksana, serta terdapat perbedaan variabel tingkat penerimaan usaha dan modal usaha sebelum dan setelah program terlaksana. Begitupun dengan hasil uji korelasi pada penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan nyata positif antara tingkat keberhasilan program simpan pinjam perempuan terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga.

Kata Kunci: kemiskinan, program penanggulangan kemiskinsan, simpan pinjam perempuan, tingkat kesejahteraan

ABSTRACT

FITRI MUNGGARANI K. The Impact of Women's Credit Program to the Household’s Welfare in Teja Village, Majalengka Distict. Supervised by RILUS A. KINSENG and HANA INDRIANA.

Poverty is a social phenomenon that is found not only in developing countries but also in developed countries. To eradicate poverty in Indonesia, the government exercises various poverty reduction programs run by various ministries and government agencies. One of these poverty alleviation program is the National Program for Rural Community Empowerment, especially Micro Credit for Women (PNPM-MP Field SPP). The purpose of this program is to help the poor families to meet their basic needs that will bring a significant impact on the level of their welfare. The results of this study confirm that there are differences in the level of welfare before and after the program is implemented, Similarly, there are differences in the income and financial level before and after the program is implemented. This study confirm as well there is a real positive correlation between the success rate of women's credit program to the level of household’s welfare.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu untuk memperoleh gelar

Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

DAMPAK PROGRAM SIMPAN PINJAM PEREMPUAN

TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH

TANGGA DI DESA TEJA KABUPATEN MAJALENGKA

FITRI MUNGGARANI KHOERUNNISA

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(6)
(7)

Judul Skripsi : Dampak Program Simpan Pinjam Perempuan terhadap Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga di Desa Teja, Kabupaten Majalengka

Nama : Fitri Munggarani Khoerunnisa

NIM : I34120087

Disetujui oleh

Dr Ir Rilus A. Kinseng,MA Pembimbing I

Hana Indriana, SP. MSi Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Siti Amanah, MSc Ketua Departemen

(8)
(9)

PRAKATA

Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya menyertai penulis dengan kasih setia serta berkat-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Dampak Program Simpan Pinjam Perempuan terhadap Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga di Desa Teja, Kabupaten Majalengka” dapat terselesaikan dengan baik. Penulisan skripsi ini ditujukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Selama penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa karya ini dapat terselesaikan berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr Ir Rilus A. Kinseng, MA dan Hana Indriana, SP. MSi, selaku dosen pembimbing yang selalu mendukung penulis, baik berupa masukan, saran, kritik, maupun motivasi selama penulisan skripsi. Tak lupa, ucapan terima kasih pada kedua orangtua tercinta, ibunda Yani Syafitriyani dan ayahanda Mohamad Komarukhiyat serta keluarga besar yang selalu berdoa dan senantiasa melimpahkan kasih sayangnya untuk penulis, warga Desa Teja serta staf Desa Teja yang telah membantu dalam memperoleh data lapang. Keluarga Besar Mahasiswa Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) angkatan 49 yang telah menjadi teman seperjuangan, dan semua pihak yang telah mendukung penulis baik dalam doa maupun dukungan semangat.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak

Bogor, Juni 2016

(10)

DAFTAR ISI

Lokasi dan Waktu Penelitian 19

Teknik Pengumpulan Data 19

Teknik Penentuan Responden dan Informan 20

Teknik Pengolahan dan Analisis Data 20

GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 23

Kondisi Umum 23

Kondisi Geogrsfis 24

Kondisi Aset Desa Teja 26

Kondisi Kemiskinan di Desa Teja 27

Karakteristik Responden 30

PELAKSANAAN PROGRAM SIMPAN PINJAM PEREMPUAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

33 Pelaksanaan Program Simpan Pinjam Perempuan Desa Teja 33

Tingkat Penerimaan Usaha 35

Tingkat Modal Usaha 36

Perubahan Tingkat Pendapatan dan Tingkat Modal Usaha Sebelum dan Sesudah Pprogram Simpan Pinjam

37

Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Tingkat Keberhasilan Pelaksanaan Program Simpan Pinjam Perempuan

38

DAMPAK PROGRAM SIMPAN PINJAM PEREMPUAN

TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA

41

Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Pemanfaat Program Simpan Pinjam

41

Perubahan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Sebelum dan Seudah Program Simpan Pinjam

47

Hubungan tingkat keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat

(11)

PENUTUP 53

Simpulan 53

Saran 53

DAFTAR PUSTAKA 55

LAMPIRAN 57

(12)

DAFTAR TABEL

1 Matriks definisi operasional tingkat keberhasilan program Simpan Pinjam Perempuan

12

2 Matriks tingkat kesejahteraan 12

3 Jumlah penduduk desa teja berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin

24

4 Tingkat pendidikan penduduk Desa Teja 25

5 Mata pencaharian penduduk Desa Teja 25

6 Jumlah sarana dan prasarana pendidikan Desa Teja 26 7 Jumlah sarana dan prasarana keagamaan, kesehatan,

olahraga, dan umun

26 8 Perbandingan kemiskinan secara konseptual dan

kemiskinan komunitas

29 9 Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan 30

10 Jumlah responden berdasarkan kelompok umur 31

11 Jumlah responden berdasarkan jenis pekerjaan 31 12 Lama responden menjadi anggota simpan pinjam 31 13 Daftar nama kelompok dan ketua kelompok simpan

pinjam perempuan Desa Teja

34 14 Tingkat penerimaan usaha masyarakat pemanfaat

program simpan pinjam perempuan

35 15 Tingkat modal usaha masyarakat pemanfaat program

simpan pinjam perempuan

36 16 Hasil uji beda tingkat pendapatan dan tingkat modal

usaha masyarakat sebelum dan sesudah program simpan pinjam

37

17 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam perempuan

39

18 Tingkat kesejahteraan masyarakat pemanfaat program simpan pinjam perempuan

41 19 Tingkat pengeluaran masyarakat pemanfaat prograam

sebelum dan sesudah program

42 20 Tingkat kepemilikan aset rumah tangga masyrakat

pemanfaat program sebelum dan sesudah

42 21 Tingkat kepemilikan kendaraan masyarakat pemanfaat

program sebelum dan sesudah program

43 22 Perubahan status kepemilikan tempat tinggal

masyarakat pemanfaat program simpan pinjam perempuan

44

23 Perubahan konsidi tempat tinggal masyarakat pemanfaat program simpan pinjam perempuan berdasarkan bahan atap rumah

44

24 Perubahan konsidi tempat tinggal masyarakat pemanfaat program simpan pinjam perempuan berdasarkan jenis dinding rumah

(13)

25 Perubahan konsidi tempat tinggal masyarakat pemanfaat program simpan pinjam perempuan berdasarkan jenis lantai rumah

45

26 Perubahan fasilitas MCK masyarakat pemanfaat program simpan pinjam perempuan

45 27 Perubahan sumber penerangan masyarakat pemanfaat

program simpan pinjam perempuan

46 28 Perubahan jenis bahan bakar untuk memesak

masyarakat pemanfaat program simpan pinjam perempuan

46

29 perubahan akses kesehatan masyarakat pemanfaat program simpan pinjam perempuan

47 30 Perubahan kemampuan menanbung masyarakat

pemanfaat program simpan pinjam perempuan

47 31 Hasil uji beda tingkat kesejahteraan masyarakat sebelum

dan sesudah program simpan pinjam

48 32 Hubungan tingkat pendapatan dengan tingkat

kesejahteraan

50 33 Hubungan tingkat modal usaha dengan tingkat

kesejahteraan

51

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pemikiran 11

2 Struktur organisasi Desa Teja 23

3 Sebaran responden berdasarkan tempat tinggal 25

DAFTAR LAMPIRAN

1 Denah lokasi penelitian 58

2 Jadwal kegiatan penelitian skripsi 2016 59

3 Kerangka sampling 60

4 Tematik catatan harian 63

5 Kuesioner penelitian 66

6 Uji reliabilitas dan validitas 69

7 Uji normalitas 70

(14)
(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Jumlah penduduk di Indonesia menurut perkiraan Badan Pusat Statistik pada tahun 2014 sudah mencapai 252 juta jiwa. Dari 252 juta jiwa penduduk Indonesia sebanyak kurang lebih 27 juta jiwa atau sekitar 10,71% tergolong penduduk miskin yang tersebar di 34 Provinsi di wilayah perkotaan dan pedesaan. Namun, masalah kemiskinan lebih banyak terjadi di wilayah pedesaan. Pernyataan tersebut didukung oleh data yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik mengenai persentase kemiskinan untuk wilayah pedesaan di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung menurun namun tidak terlalu signifikan. Menurut data terakhir pada tahun 2013 di bulan September persentase kemiskinan pedesaan di Indonesia adalah 14,42 %, mengalami penurunan di tahun berikutnya yaitu tahun 2014 pada bulan September sebesar 0,66 % menjadi 13,76 %. Sedangkan, untuk wilayah perkotaan persentase kemiskinan pada tahun 2013 di bulan September dan pada tahun 2014 di bulan September secara berurutan adalah 8,52 % dan 8,34 % dengan selisih 0,18 %. Persentase ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan persentase wilayah pedesaan Indonesia. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik tahun 2015 jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2014 sekitar 27 juta jiwa menjadi 28 juta jiwa. Kenaikan angka kemiskinan ini disebabkan oleh karakteristik penduduk miskin yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian sebagai buruh tani yakni sekitar 54% yang memiliki pendapatan rendah. Rendahnya pendapatan yang diperoleh membuat penduduk miskin tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar apalagi harga bahan pokok terus meningkat akibat dari kondisi lemahnya perekonomian global1.

Menurut Iskandar (2012) kemiskinan merupakan fenomena sosial yang tidak hanya terjadi di negara – negara berkembang tetapi juga terjadi di negara – negara maju. Secara umum kemiskinan diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan standar kebutuhan yang lain (Herbert 2001 dalam Iskandar 2012). Pengukuran kemiskinan dapat dilakukan dengan berbagai versi yang ditetapkan oleh ilmuwan atau intansi tertentu. Pada penelitian ini indikator kesejahteraan keluarga yang akan dilihat untuk mengukur kemiskinan berdasarkan versi yang dipakai oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kesejahteraan menurut Fahrudin (2012) memiliki tujuan bahwa untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dalam arti tercapainya standar kehidupan pokok seperti sandang, pangan, perumahan, dan relasi sosial yang harmonis dengan lingkungannya. Maka dari itu untuk mengukur ketercapaian standar kehidupan dalam pencapaian kesejahteraan 23 indikator yang dikemukakan oleh BKKBN diharapkan dapat memberikan gambaran sejauh mana rumah tangga miskin dapat sejahtera dengan adanya program – program penanggulangan kemiskinan.

1

(16)

2

Peraturan Presiden Nomor 166 Tahun 2014 tentang Program Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa penanggulangan kemiskinan adalah kebijakan dan program pemerintah dan pemerintah daerah yang dilakukan secara sistematis, terencana, dan bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada pasal 1 ayat 2 tercantum bahwa program penanggulangan kemiskinan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil, serta program lain dalam rangka meningkatkan kegiatan ekonomi. Pemerintah Indonesia dalam upaya penanggulangan kemiskinan membuat berbagai macam program yang dikelola oleh berbagai kementerian dan lembaga pemerintah. Pada periode pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga presiden Joko Widodo sekarang ini setidaknya ada beberapa program pengentasan kemiskinan berdasarkan data yang diperoleh dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K)2, diantaranya: Kredit Usaha Rakyat (KUR), Rogram Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri), Bantuan Siswa Miskin (BSM), Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin), Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Program Keluarga Harapan (PKH), Jamkesmas yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan BPJS Kesehatan, Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), dan lain sebagainya. Program – program penanggulangan kemiskinan ini sebenarnya memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin di Indonesia.

Kemiskinan perlu ditanggulangi karena kemiskinan dapat merusak rajutan hidup sosial sebagai manusia, memecah masyarakat, menciptakan musuh, mengubah kawan menjadi lawan, dan menggetarkan stabilitas hidup sosial manusia. Terlebih, kemiskinan merusak harkat dan martabat manusia dan masyarakat. Kemiskinan menjadi sumber bagi tindak kekerasan yang banyak terjadi, sehingga perlu ada tindakan yang dilakukan oleh pemerintah guna menekan masalah kemiskinan yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, keberadaan program penanggulangan kemiskinan menjadi penting dilaksanakan sebagai upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat miskin. Penelitian Jasuli et al (2013) mengemukkakan keefektivan pelaksanaan program PNPM-MP berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Pada penelitian ini program penanggulangan kemiskinan yang akan di kaji adalah desa Teja Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka. Desa Teja merupakan desa yang memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi yaitu 21,22% pada tahun 2011 menurut data PPLS. Keberadaan program penanggulangan kemiskinan di desa Teja menjadi penting untuk dikaji, agar dapat diketahui bagaimana pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan khususnya Simpan Pinjam Perempuan dapat memberikan dampak terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di Desa Teja Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka.

2

(17)

3 Masalah Penelitian

Dikatakan sebelumnya bahwa kemiskinan dapat memberikan masalah yang lebih besar apabila tidak ditanggulangi dengan baik, misalnya akibat kesehatan dan pendidikan yang buruk kualitas hidup serta daya saing masyarakat menjadi rendah, sehingga perlu ada kebijakan atau tindakan yang dapat mengangkat kualitas hidup masyarakat. Desa Teja yang merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat tidak luput dari keberadaan program – program penanggulangan kemiskinan. Salah satunya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan bidang Simpan Pinjam Perempuan. Keberhasilan suatu program penanggulangan kemiskinan perlu dilihat dari segi pelaksanaan program tersebut, sehingga pertanyaan yang diajukan pada penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan program simpan pinjam perempuan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya? Selain itu, tujuan program penanggulangan kemiskinan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga masyarakat miskin dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara maksimal. Pembuktian dari tujuan tersebut yaitu melihat dampak dari keberadaan program penanggulangan kemiskinan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, maka pertanyaan yang diajukkan adalah bagaimana dampak program simpan pinjam perempuan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan sebelumnya, maka penulisan ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis pelaksanaan program simpan pinjam perempuan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2. Menganalisis dampak program simpan pinjam perempuan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut: 1. Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi tambahan mengenai kajian-kajian seputar penanggulangan kemiskinan dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.

2. Pemerintah

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai dampak yang terjadi akibat keberadaan program penanggulangan kemiskinan terhadap kesejahteraan masyarakat, sehingga dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam menyusun dan menentukan kebijakan.

3. Masyarakat

(18)
(19)

5

PENDEKATAN TEORITIS

Tinjauan Pustaka

Kemiskinan

Cheyne, O’ Brien, dan Belgrave (1998) dalam Suharto (2010) mengemukakan ada dua pandangan tentang kemiskinan, yaitu paradigma neo-liberal dan demokrasi sosial.

1. Paradigma Neo-Liberal

Pendukung teori neo-liberal mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan oleh faktor yang berasal dari individu yang bersangkutan. Persoalan individual tersebut adalah kelemahan (lemahnya pendapatan, malas, dll) dan pilihan individu. Pandangan neo-liberal menganggap kemiskinan akan hilang apabila kekuatan pasar diperluas dan pertumbuhan ekonomi dipacu.

2. Paradigma demokrasi-sosial

Pada pandangan ini kemiskinan dilihat dari persoalan struktural karena adanya ketidakadilan dan ketimpangan akibat tersumbatnya akses kelompok tertentu terhadap sumberdaya.

Kedua paradigma tersebut memiliki pandangan berbeda dalam melihat potret kemiskinan. Menurut Badan Statistika Nasional (2006) dalam Papilaya (2013) kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Dari hasil empiris yang diperoleh, Karya (2013) mengatakan bahwa kemiskinan terjadi karena kejadian tak sengaja yaitu krisis ekonomi, karena pertumbuhan ekonomi yang rendah. Sehingga kemiskinan dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Seperti halnya Karya, Rusdarti menganggap faktor ekonomi menjadi akar penyebab kemiskinan secara rinci Rusdarti et al. (2013) mengatakan bahwa kemiskinan adalah kondisi rusaknya tatanan ekonomi sehingga masyarakat tidak dapat menikmati fasilitas pendidikan, dan sarana prasarana lainnya. berbeda dengan Husna et al. (2013) yang melihat kondisi sosial juga ikut andil dalam permasalahan kemiskinan, ia yang mengatakan bahwa kemiskinan adalah kondisi yang ditandai adanya pengangguran, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Kemiskinan adalah kondisi masyarakat sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, disebabkan oleh rendahnya sumberdaya manusia, yang menyebabkan rendahnya daya saing dalam merebut peluang kerja (Purwanto et al.

(20)

6

Faktor – Faktor Penyebab Kemiskinan

Karya (2013) menyatakan bahwa kemiskinan disebabkan oleh faktor – faktor struktural pada individu seperti: (1) kondisi keterbatasan penguasaan sumberdaya produktif, (2) keterbatasan akses terhadap sumberdaya produktif, (3) rendahnya kemampuan produktif, (4) pendidikan rendah dan tidak memiliki keterampilan yang terkait dengan pekerjaan, (5) kondisi kesehatan yang kurang baik, (6) rendahnya semangat dan kemauan kerja(behavior/perilaku). Kejadian tidak sengaja secara masal yaitu krisis ekonomi. Pemaparan konsep kemiskinan yang di paparkan oleh Karya lebih condong melihat kemiskinan secara absolute absolute yang dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan yang hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Dengan demikian kemiskinan diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan orang dengan tingkat pendapatan yang dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan dasarnya yakni makanan, pakaian dan perumahan agar dapat menjamin kelangsungan hidupnya (Cahyat 2004 dalam Karya 2013). Budhi (2013) melihat konsep kemiskinan yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk menilai tingkat kemajuan pembangunan dan merupakan salaha satu dampak nyata atas keberhasilan dari berbagai kebijakan ekonomi yang diterapkan pada waktu sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang cepat bagi negara – negara didunia menjadi salah satu syarat utama untuk mengentaskan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi juga harus didorong oleh kualitas sumberdaya manusia yang lebih baik. Budhi (2013) menyebutkan bahwa faktor – faktor penyebab kemiskinan diantaranya: (1) tingkat pendidikan yang dilihat dari indikator wajib belajar 9 tahun, (2) jumlah penduduk, (3) pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB), (4) share pertanian dan industri. Menurut Rusdarti et al.

(2013) faktor – faktor kemiskinan yang terjadi di Provinsi Jawa tengah disebabkan oleh: (1) PDRB, (2) belanja Publik (APBD), (3) pengangguran.

(21)

7 Penanggulangan kemiskinan dan Program Penanggulangan kemiskinan

Emilia (2013) mengatakan bahwa penanggulangan kemiskinan adalah bantuan dalam pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat miskin yang sekaligus mengurangi pengeluaran RTM, meningkatkan akses masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok. Sedangkan menurut Husna et al.

(2013) penanggulangan kemiskinan adalah upaya penanganan kemiskinan yang lebih berorientasi pada kemandirian dan berkelanjutan upaya–upaya masyarakat, pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat. Jasuli et al (2013) mengatakan bahwa penanggulangan kemiskinan adalah memberi peran masyarakat sebagai aktor utama atau subyek pembangunan sedangkan pemerintah sebagai fasilitator. Penanggulangan kemiskinana adalah bantuan sosial bagi masyarakat miskin sebagai salah satu cara melindungi masyarakat dari resiko sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Usman 2014). Menurut Fatony (2010) intervensi penanggulangan kemiskinan dan pengangguran ialah dengan menerapkan kebijakan teknis penyediaan sarana dan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar minimum bagi masyarakat miskin. Sesuai dengan alat ukur atau parameter kemiskinan yang ada maka intervensi yang dilakukan melalui: (1) perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan keluarga, (2) penyediaan layanan pendidikan, (3) penyediaan layanan kesehatan, (4) penyediaan layanan jaminan ketersediaan pangan, (5) penyediaan keterpenuhan pemukiman dan perumahan layak huni, (6) penyediaan keterpenuhan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik, (7) penguatan kualitas hidup keluarga miskin.

Menurut Peraturan Presiden Nomor 166 Tahun 2014 tentang Program Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, pasal 1 ayat 2 tercantum bahwa program penanggulangan kemiskinan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil, serta program lain dalam rangka meningkatkan kegiatan ekonomi.

Pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia

(22)

8

pelaksanaan Program Keluarga Harapan yang semakin efektif dapat meningkatkan penanggulangan kemiskinan di wilayah penelitian dengan tingkat kepercayaan 95% dan derajat kesalahan sebesar 5%. Utomo et al. (2014) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Program keluarga Harapan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara tidak langsung. Selain itu, Utomo et al. (2014) menyatakan bahwa ada faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan khususnya Program Keluarga Harapan dilokasi studi. Faktor – faktor pendukung diantaranya: (1) koordinasi yang bagus antar aktor yang terlibat, (2) tingkat patisipasi, (3) dukungan finansial (pembayaran), (4) pendampingan. Sedangkan, faktor – faktor penghambat adalah: (1) kurangnya sosialisasi, (2) data yang tidak valid karena pemalsuan. Menurut Papilaya (2013) penentu keberhasilan dapat dilihat dari adanya dukungan pemerintah pusat dan daerah, adanya kemitraan lokal, dan stabilitas lingkungan.

Emalia (2013) menjelaskan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan (Raskin) di Lampung menunjukkan hasil yang baik dengan indikator penilaian berdasarkan enam indikator kinerja pelaksanaan program Raskin. Lima dari enam indikator tersebut tercapai dengan baik. Husna et al. (2013) meneliti pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan yang dicetuskan oleh pemerintah daerah Provinsi Jawa Timur berupa program Jalan Lain Menuju Kesejahteraan Rakyat (Jalin kersa). Sasaran program tersebut dikategorikan menjadi dua kategori penerima yaitu RTSM produktif dan RTSM non-produktif. Hasil penelitian tersebut menunjukkan penurunan terhadap RTSM di Jawa Timur. Program Jalis Kersa yang digagas pemerintah daerah provinsi Jawa Timur menguatkan pendapat Rusdarti et al. (2013) yang melihat kemiskinan dari kacamata lokal. Rustandi et al. (2013) mengatakan kemiskinan di setiap daerah bisa berbeda karena tergantung pada karakteristik komunitas dan kinerja pemerintah daerahnya. Penelitian yang dilakukan oleh Purwanto et al. (2013) menyebutkan untuk melihat sejauh mana program penanggulangan kemiskinan terlaksana dengan baik(dalam penelitian program yang diteliti adalah PKH di Mojokerto) perlu ada dukungan dari faktor – faktor tertentu, diantaranya: (1) adanya komitmen yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah untuk mensukseskan program keluarga harapan (PKH) guna membantu memutus rantai kemiskinan di tingkat masyarakat miskin, (2) adanya aturan yang jelas mengenai mekanisme pelaksanaan program dan adanya jaminan memperoleh kesehatan dan pendidikan yang layak dari pemerintah melalui dinas sosial. Sedangkan, faktor penghambat dalam implementasi Program Keluarga harapan (PKH) yaitu: (1) Rendahnya pendidikan RTSM dan sulitnya merubah pola berfikir RTSM untuk memandang pentingnya arti kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka, (2) Kurang adanya komunikasi dan koordinasi antara stakeholder secara intens. (3) Masih rendahnya partisipasi dari RTSM.

Program Penanggulangan kemiskinan Program Pemberdayaan Masayarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) bidang Simpan Pinjam Perempuan (SPP)

(23)

9 PNPM Mandiri Perkotaan, serta PNPM Mandiri wilayah khusus dan desa tertinggal. PNPM Mandiri Perdesaan adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Tujuan umun PNPM Mandiri Perdesaan adalah meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan yang berkelanjutan3. Salah satu bidang kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) yaitu Simpan Pinjam Perempuan (SPP) yang bertujuan meningkatkan dan memberdayakan perempuan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tambahan modal usaha. Kegiatan Simpan Pinjam Perempuan (SPP) memiliki tujuan umum yaitu untuk mengembangkan potensi kegiatan simpan pinjam pedesaan, kemudahan akses pendanaan usaha skala mikro, pemenuhan kebutuhan pendanaan sosial dasar, dan memperkuat kelembagaan kegiatan kaum perempuan dan mendorong penanggulangan Rumah Tangga Miskin. Serta tujuan khususnya yaitu mempercepat proses pemenuhan kebutuhan pendanaan usaha dan kebutuhan dasar, kesempatan untuk meningkatkan ekonomi keluarga, serta penguatan kelembagaan. Kegiatan Simpan Pinjam Perempuan (SPP) merupakan salah satu kegiatan yang dibiayai melalui dana dari dana Bantuan Langsung Masyarakat yang bersumber dari APBN, APBD, CSR, dan sumber lainnya sehingga penyaluran dikelola oleh Unit Pengelola Kegiatan (UPK). Alokasi dana untuk kegiatan SPP maksimal sebesar 25% dari BLM kecamatan.

Dampak Program Penanggulangan Kemiskinan Terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat

Konsep kesejahteraan yang dijelaskan adalah kemampuan individu atau masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan sekunder/tersier, akses kesehatan, akses modal, akses pendidikan, dan aset ekonomi. Meningkatkan kesejahteraan bukan hanya dilihat dari segi ekonomi saja namun, dari aspek sosial juga perlu dilihat. Secara tidak langsung, meningkatkan kapasitas (keterampilan dan kemampuan) masyarakat miskin dalam partisipasi untuk membuat keputusan - keputusan yang dapat berpengaruh dalam kehidupan mereka dapat memperbaiki kehidupan masyarakat miskin (Jasuli et al. 2013). Menurut Utomo et al. (2014) konsep kesejahteraan diartikan menjadi kualitas hidup, dimana kualitas hidup yang baik dicirikan dengan akses pendidikan dan akses kesehatan yang memadai.

Menurut Jasuli et al. (2013) hasil penelitiannya di daerah Sumenep menunjukkan bahwa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaaan (PNPM-MP) yang efektif dilihat dari indikator: (1) peningkatan pendapatan isteri, (2) kesempatan kerja masyarakat miskin dalam lapangan kerja baru, (3) peningkatan modal sosial/usaha, dan (4) kesetaraan gender menunjukkan korelasi positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Indikator kesejahteraan yang diukur oleh Jasuli et al. (2013) adalah: (1) kemampuan membeli kebutuhan dasar, (2) kemampuan berobat ke puskesmas, (3) kemampuan untuk membeli barang sekunder atau tersier, (4) kemampuan untuk meningkatkan modal usaha, (5) kemampuan menyekolahkan anak sampai tingkat SMA, (6) memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp500.000, (7) jaminan

3

(24)

10

ekonomi dan aset. Sedangkan, menurut Husna et al. (2013) program penanggulangan kemiskinan yang terdapat di Jawa Timur berdampak pada penurunan Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di Jawa Timur yang artinya tingkat kesejahteraan masyarakat telah meningkat seiring dengan pelaksanaan program Jalin Kersa di Jawa Timur. Seperti halnya Jasuli et al. (2013) yang mengatakan bahwa partisipasi masyarakat penting dalam pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan sehingga kesejahteraan dapat dicapai, Utomo et al.

(2014) juga menyatakan hal yang sama bahwa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program kemiskinan berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat, terutama partisipasi dalam bidang kesehatan dan pendidikan.

Kerangka Pemikiran

Keberadaan program penanggulangan kemiskinan di daerah merupakan langkah yang dilakukan oleh pemerintah guna menurunkan persentase penduduk miskin, khususnya di wilayah pedesaan. Pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dapat dikatakan berhasil apabila tujuan dari program tersebut dapat dicapai. Secara umum, tujuan program penanggulangan kemiskinan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, sehingga kebutuhan dasar (pangan, kesehatan, pendidikan) dapat terpenuhi secara makasimal. Program penanggulangan kemiskinan di Desa Teja salah satunya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) khususnya bidang simpan pinjam perempuan. Merujuk pada tujuan umum dari kegiatan simpan pinjam perempuan yaitu untuk mengembangkan potensi kegiatan simpan pinjam pedesaan, kemudahan akses pendanaan usaha skala mikro, pemenuhan kebutuhan pendanaan sosial dasar, dan memperkuat kelembagaan kegiatan kaum perempuan dan mendorong penanggulangan Rumah Tangga Miskin. Serta tujuan khususnya yaitu mempercepat proses pemenuhan kebutuhan pendanaan usaha dan kebutuhan dasar, kesempatan untuk meningkatkan ekonomi keluarga, serta penguatan kelembagaan. Berdasarkan hal tujuan umum dan khusus tersebut, keberhasilan dalam pelaksanaan program PNPM-MP bidang SPP dilihat melalui indikator (Jasuli et al. 2013) yaitu tingkat pendapatan, tingkat modal usaha. Pada penelitian ini tingkat pendapatan mengalami penyesuaian menjadi tingkat penerimaan usaha. Selain itu, indikator tingkat kesejahteraan masyarakat terdiri dari: pengeluaran untuk makan, kepemilikan aset rumah tangga, kepemilikan kendaraan, kemampuan mengakses fasilitas kesehatan, dan kemampuan menabung. Selain itu, akan dilihat pula faktor – faktor pendorong yang mempengaruhi keberhasilan program penanggulangan kemiskinan. Menurut Utomo et al. (2014) faktor pendukung keberhasilan program penanggulangan kemiskinan adalah koordinasi yang bagus antar aktor yang terlibat, tingkat partisipasi, dukungan finansial (pembayaran), dan pendampingan. Temuan dilapangan adalah faktor kepercayaan serta tanggung jawab antar anggota kelompok.

(25)

11 hubungan variabel tingkat keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam perempuan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Variabel X

Tingkat keberhasilan

pelaksanaan program simpan pinjam perempuan

1. Tingkat penerimaan usaha 2. Tingkat modal usaha

Variabel Y

Tingkat Kesejahteraan

1. Tingkat pengeluaran makan 2. Tingkat aset rumah tangga 3. Tingkat kepemilikan kendaraan 4. Tingkat kondisi tempat tinggal 5. Kemampuan mengakses

fasilitas kesehatan 6. Kemampuan menabung

Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan program

1. Koordinasi yang bagus antar aktor yang terlibat

2. Tingkat partisipasi

3. Dukungan finansial (pembayaran) 4. Pendampingan

5. Tanggung jawab dan kepercayaan anggota kelompok

= Variabel yang duji Statistik (Kuantitatif) = Hubungan dampak

=Variabel tidak diuji Statistik (Kualitatif) Keterangan:

(26)

12

Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah:

1. Terdapat perbedaan antara tingkat penerimaan usaha dan tingkat modal usaha sebelum program simpan pinjam perempuan dengan setelah adanya program simpan pinjam perempuan.

2. Terdapat perbedaan antara tingkat kesejahteraan rumah tangga miskin sebelum adanya program penanggulangan kemiskinan dengan tingkat kesejahteraan rumah tangga setelah adanya program penanggulangan kemiskinan.

3. Terdapat hubungan antara tingkat penerimaan usaha dan tingkat modal usaha dengan tingkat kesejahteraan.

Definisi Operasional

Definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu variabel (Singarimbun et al. 2006). Definisi operasional pada penelitian ini adalah sebegai berikut:

Tabel 1 Matriks tingkat keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam perempuan

Variabel Definisi Operasional Indikator Skala Penguk uran Tingkat

penerimaan usaha

Jumlah rupiah yang diperoleh oleh peserta program pawa periode waktu tertentu sebelum dan setelah mengikuti program.

Dalam rupiah Rasio

Tingkat modal usaha

Jumlah rupiah yang digunakan untuk menunjang kegiatan produksi per bulan sebelum dan setelah mengikuti program.

Dalam rupiah Rasio

Tabel 2 Matriks tingkat kesejahteraan

Variabel Definisi Operasional Indikator Skala Penguk dikeluarkan responden untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam periode satu bulan

 Tinggi, jika

(27)

13 aset rumah

tangga

menjadi aset dalam rumah tangga responden sebelum dan setelah mengikuti SPP (BPS) responden sebelum dan setelah mengikuti program (BPS)

(28)
(29)

15

Bagian bawah/dasar/alas suatu ruangan, baik terbuat dari tanah maupun bukan tanah. Kondisi dibandingkan sebelum dan setelah mengikuti SPP rumah tangga responden. Kondisi dibandingkan sebelum dan setelah mengikuti SPP

Sumber penerangan yang digunakan rumah tangga

responden. Kondisi

(30)

16 digunakan rumah tangga responden untuk kegiatan

memasak. Kondisi

(31)

17 2 dan 3

Rendah (Skor 1), jika jawaban responden kode no 1

Kemampuan menabung

Kemampuan responden menyisihkan sebagian pendapatannya setiap bulan untuk disimpan di sebuah lembaga keuangan ataupun tidak. Kondisi dibandingkan sebelum dan setelah mengikuti SPP

 Tinggi, jika pengeluaran ≥ x + ½ sd (Skor 3)

 Sedang, jika pengeluaran x – ½ sd <x< + ½ sd (Skor2)

 Rendah, jika pengeluaran ≤ x – ½ sd (Skor 1)

(32)
(33)

19

PENDEKATAN LAPANGAN

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok (Singarimbun 2006). Penelitian survey dilakukan dengan pengujian hipotesis sehingga penelitian ini termasuk kedalam penelitian penjelasan (explanatory research) untuk mencari pengaruh antar variabel yang diuji, yaitu variabel keberhasilan program penanggulangan kemiskinann dengan variabel tingkat kesejahteraan rumah tangga penerima program penanggulangan kemiskinan di Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali informasi dalam menjelaskan faktor yang mempengaruhi keberhasilan program penanggulangan kemiskinan di Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh. Lebih lanjut, pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap responden dan informan serta observasi langsung. Hasil penelitian akan dijelaskan secara deskriptif namun tetap fokus pada hubungan antar variabel untuk menguji hipotesa.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian bertempat di Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat (Lampiran 1). Lokasi tersebut dipilih secara

purposive dan di lokasi ini terdapat program penanggulangan kemiskinan yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan bidang Simpan Pinjam Perempuan. Program simpan pinjam perempuan di lokasi tersebut telah berjalan cukup lama yaitu sudah berlangsung selama 6 tahun sampai saat ini. Penelitian dilaksanakan dalam waktu lima bulan (Lampiran 2). Kegiatan penelitian meliputi penyusunan proposal skripsi, kolokium, perbaikan proposal skripsi, uji coba kuesioner, pengambilan data lapangan, pengolahan dan analisis data, penulisan draft skripsi, uji petik, sidang skripsi, dan perbaikan laporan penelitian.

Teknik Pengumpulan Data

(34)

20

Teknik Penentuan Responden dan Informan

Sumber data dari penelitian ini adalah informan dan responden. Informan adalah orang yang termasuk dalam kegiatan ini yang memberikan informasi atau keterangan tambahan mengenai topik penelitian atau ada hubungan dengan topik penelitian. Responden merupakan sumber data utama yang akan diberikan kuisioner. Berdasarkan data yang diperoleh Desa Teja terdiri atas 2 dusun yang dibagi kedalam 7 RW dan 23 RT. Unit analisis penelitian ini adalah rumah tangga pemanfaat atau peserta program SPP di Desa Teja. Populasi penelitian adalah seluruh peserta atau pemanfaat program SPP Desa Teja yang berjumlah 128 orang (Lampiran 3). Alasan pemilihan unit analisis berupa rumah tangga karena analisis tingkat kesejahteraan erat kaitannya dengan rumah tangga. Pada penelitian ini, teknik pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan metode pengambilan sampel acak sederhana (Simple Random Sampling) karena populasi yang menjadi fokus penelitian adalah rumah tangga peserta atau pemanfaat program SPP yang sifatnya homogen, responden yang dipilih sebanyak 50 responden.

Sementara itu, pemilihan terhadap informan dilakukan secara sengaja (purposive) melalui wawancara mendalam menggunakan panduan pertanyaan wawancara, yang hasilnya akan disajikan melalui tematik catatan harian (Lampiran 4). Berdasarkan hasil observasi ditentukan informan dalam penelitian ini adalah aparatur desa, masayakat pemanfaat program, pihak UPK, dan beberapa responden yang telah mengisi kuesioner juga diwawancara lebih lanjut.

Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui hasil kuesioner (Lampiran 5) yang sudah diisi oleh responden yang kemudian disajikan kedalam tabel frekuensi dan tabulasi silang. Sebelumnya, data kuantitatif diolah dengan uji beda akan untuk menguji tingkat keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam pada variable tingkat penerimaan usaha, tingkat modal usaha, dan tingkat kesejahteraan sebelum dan setelah program simpan pinjam dengan pengujian Wilcoxon dengan alasan jenis data yang diuji adalah ordinal dan uji hubungan untuk melihat hubungan pengaruh antar variabel menggunakan rank sparman. Adapun variabel-variabel yang diuji dengan rank sparman adalah variabel tingkat penerimaan usaha, tingkat modal usaha dengan variabel tingkat kesejahteraan. Pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS 21.0 for Windows dan Microsoft Excell 2010. Data kualitatif yang berperan sebagai pendukung data kuantitatif dianalisis dengan cara mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan dan disampaikan secara deskriptif analitik guna mempertajam hasil penelitian.

(35)
(36)
(37)

23

GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

Kondisi Umum

Teja merupakan salah satu desa yang berada dalam wilayah Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Majalengka. Desa Teja memiliki luas wilayah sekitar 879,86 ha dan merupakan desa dengan luas wilayah terluas kedua di Kecamatan Rajagaluh. Desa Teja termasuk dalam klasifikasi desa swakarya. Jarak tempuh desa Teja ke ibukota kecamatan sekitar 6 km dan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 23 km. Angkutan umum yang terdapat di Desa Teja sebagai sarana transportasi adalah ojeg dan mobil pick up, namun keberadaan mobil pick up ini keberadaannya tidak menentu. Desa Teja di batasi oleh:

1. Sebelah Utara: Desa Kumbung

2. Sebelah Selatan: Desa Cikaracak Kecamatan Argapura 3. Sebelah Timur: Desa Payung di sebelah

4. Sebelah Barat: Desa Pajajar

Kelembagaan yang terdapat di Desa Teja diantaranya Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kelompok tani, karang taruna, dan Kelompok Remaja Masjid. Kuwu adalah sebuatan lain untuk kepala desa yang dipakai di wilayah Cirebon, Majalengka, dan Kuningan. Berikut adalah struktur organisasi Desa Teja:

Wilayah desa Teja di bagi kedalam 2 dusun yang terdiri atas 7 Rukun Warga (RW) yang di bagi ke dalam 7 blok (Minggu-Sabtu) dan 23 Rukun Tetangga (RT).

Kepala Desa

Sekertaris Desa

Kaur Umum Kaur Aset Kaur Keuangan

Kasi Pemerintahan Kasi Ekonomi dan Bangunan Kasi Kesejahteraan

Kepala Dusun 1 Kepala Dusun 2

Gambar 2. Struktur Organisasi Desa Teja

(38)

24

Kondisi Geografis

Desa Teja termasuk pada wilayah dataran tinggi karena letak desa yang berada di kaki Gunung Ciremai dengan ketinggian 54,2 mdpl, curah hujan rata – rata per tahun adalah 25,003 mm/tahun dan suhu rata – rata sekitar 23,50C. Penduduk Desa Teja memanfaatkan mata air dari pegunungan Ciremai sebagai sumber air bersih dalam menopang kehidupan masyarakat Desa Teja. Kesuburan tanah di Desa Teja tergolong pada indikator Sangat Subur dan Subur, sehingga sangat cocok untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. Luas sawah di Desa Teja sekitar 102,525 ha dan perkebunan sekitar 250 ha. Secara umum, kondisi jalan di Desa Teja sudah cukup baik, namun dibeberapa tempat masih ada jalan yang berlubang dan berbatu, selain itu penerangan di sisi jalan masih kurang memadai terutama disekitar jalan yang bersisian dengan hutan. Jalan disetiap blok, terutama blok yang memiliki ketinggian curam masih banyak yang licin sehingga membahayakan apabila musim hujan tiba.

Jumlah penduduk secara keseluruhan adalah 3055 jiwa yang terdiri atas penduduk laki – laki sekitar 1562 jiwa dan penduduk perempuan sekitar 1493 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sekitar 989 KK. Jumlah penduduk untuk masing – masing kelompok umur adalah sebagai berikut:

Tabel 3 Jumlah penduduk Desa Teja berdasarkan kelompok umur dan jenis

Sumber: Profil Desa Teja Tahun 2016

(39)

25 dapat digali potensinya sehingga dapat menjadi aset sumberdaya masnusia yang berkualitas.

Sebaran penduduk juga dapat dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan akan dicantumkan pada Tabel 4. Tabel 4 Tingkat pendidikan penduduk Desa Teja

No Tingkat pendidikan ∑ (orang) %

1 Tamat SD/Sederajat 1611 80.59

2 Tamat SLTP/Sederajat 255 12.76

3 Tamat SLTA/Sederajat 90 4.50

4 Diploma (D1-D3) 13 0.65

5 Sarjana 30 1.50

Total 1999 100.00

Sumber: Profil Desa Teja 2016

Berdasarkan Tabel 4 mayoritas tingkat pendidikan masyarakat Desa Teja adalah tamat Sekolah Dasar/Sederajat. Penduduk yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi sangat kecil persentasenya. Hal ini juga berkaitan dengan kondisi sarana dan prasarana pendidikan yang terdapat di Desa Teja. Sebaran mata pencaharian penduduk Desa Teja dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Mata pencaharian penduduk Desa Teja

No Mata pencaharian ∑ (orang) %

1 Pertanian tanaman pangan 1898 59.97

2 Perkebunan 113 3.57

3 Peternakan 634 20.03

4 Pertambangan sektor galian 185 5.85

5 Industri kecil 7 0.22

6 Jasa 328 10.36

Total 3165 100.00

Sumber: Profil Desa Teja Tahun 2016

(40)

26

industri kecil yaitu dibidang anyaman bambu berupa kipas. Industri ini terpusat di wilayah blok minggu Desa Teja.

Kondisi Sarana dan Prasarana Desa Teja

Terdapat beberapa aset penunjang di Desa Teja. Jumlah aset pendidikan di Desa Teja dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Jumlah sarana dan prasarana pendidikan Desa Teja

Jenjang ∑ (unit) %

SD 2 40

MD 1 20

TK 2 40

Total 5 100

Sumber: Profil Desa Teja 2016

Tabel 6 menunjukkan bahwa Desa Teja hanya memiliki bangunan pendidikan hingga jenjang Sekolah Dasar. Belum ada penunjang pendidikan diatas SD, seperti SLTP maupun SLTA, untuk melanjutkan kejenjang lebih tinggi masyarakat harus pergi keluar desa, yang jarak tempuhnya sekitar 10 hingga 20 menit menggunakan kendaraan bermotor menuju ibukota Kecamatan. Selain dari bidang pendidikan, terdapat juga sarana dan prasarana untuk bidang keagamaan, kesehatan, olahraga, dan umum yang dapat dilihat dari Tabel 7.

Tabel 7 Jumlah sarana dan prasarana keagamaan, kesehatan olahraga, dan umun

Sarana dan prasarana ∑ (unit) %

Masjid 1 1.64

Mushola 28 45.90

Majlis Ta’lim 4 6.56

Posyandu 3 4.92

Poskesdes 1 1.64

Lapangan sepak bola 1 1.64

Lapangan bola voli 3 4.92

Lapangan bulu tangkis 1 1.64

Lapangan tenis meja 4 6.56

Pos kamlinh 12 19.67

Balai dusun 3 4.92

Total 61 100.00

(41)

27 Kondisi Kemiskinan di Desa Teja

Kondisi kemiskinan disuatu wilayah dapat terjadi karena rendahnya sumberdaya manusia yang menyebabkan rendahnya daya saing dalam merebut peluang kerja. Menurut data yang diperoleh dari PPLS pada tahun 2011 Desa Teja memiliki persentase kemiskinan sebesar 21,22%. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dilapangan terdapat faktor penyebab kemiskinan yang terjadi di Desa Lokasi penelitian disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat sehingga daya saing masyarakat menjadi rendah. Hal ini di perkuat oleh data yang dimiliki oleh desa bahwa sekitar 1611 penduduk Desa Teja hanya tamat Sekolah dasar. Hal ini di perkuat oleh salah satu informan yang mengatakan bahwa

“masyarakat desa Teja apalagi yang lahir di tahun 80an ke bawah jarang sekali yang melanjutkan pendidikan sampe perguruan tinggi, jangankan sampe perguruan tinggi, yang lanjut SMP dan SMA aja bisa dihitung, sekarang saja masih ada yang anaknya baru lulus SD sudah disuruh kerja sama orangtuanya, ya karena orangtuanya gak sanggup ditambah anaknya juga gak mau

sekolah, pokonya mah neng bisa dihitung yang lanjut SMA juga”

ARY, 65 tahun

Hal ini juga terjadi karena jarak sekolah lanjutan setingkat SMP dan SMA cukup jauh dari Desa Teja. Sekolah lanjutan lokasinya berada di kota Kecamatan, untuk menuju kesana perlu waktu tempuh sekitar 10-15 menit menggunakan kendaraan bermotor. Salah satu narasumber mengatakan bahwa:

“anak saya perempuan, setelah lulus SD tidak mau meneruskan

lagi sekolah, alasannya capek karena sekolahnya jauh, jasi langsung bekerja di Bogor menjadi pelayan di warung makan. Saya sebagai orangtua ya gak bisa berbuat apa-apa karena itu kemauan dia, saya mah terserah aja. Lagipula jadi bisa

menurunkan beban orangtua juga” MRM 30tahun

Selain itu, tidak adanya lapangan pekerjaan yang memadai di Desa Teja menjadi salah satu faktor kemiskinan terjadi. Sulitnya mencari pekerjaan dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang kurang memadai membuat masyarakat Desa Teja meninggalkan Desa dan pergi merantau baik di dalam negeri maupun luar negeri. Menurut kepala desa setempat, banyak dari warga Desa Teja yang mencoba peruntungan bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga.

“warga Desa Teja terutama perempuan banyak neng yang pergi ke luar negeri, terutama daerah timur tengah di Kuwait, Arab Saudi. Kalo sekarang udah kemana-mana, Hongkong, Korea, Malaysia. Karena di sini mereka sudah sulit mencari pekerjaan dengan kondisi latar belakan pendidikan dan keterampilan mereka yang

(42)

28

Ketiga faktor penyebab kemiskinan di atas, yaitu rendahnya pendidikan, kurangnya keterampilan, dan kurang memadainya lapangan pekerjaan di Desa Teja menjadi masalah kemiskinan yang menghantui desa dengan sumberdaya alam yang melimpah. Ketiga faktor tersebut juga serupa seperti yang dikemukakan oleh Karya (2013) dalam jurnal penelitiannya. Walaupun demikian kondisi alam Desa Teja yang subur dan banyak terdapat lahan pertanian membuat masyarakat masih bisa menghidupi keluarganya dengan cara bertani.

Berdasarkan kondisi tersebut Desa Teja memiliki penyebab kemiskinan pada ranah faktor situasional. Faktor situasional menurut Murbyarto (1991) dalam Papilaya (2013) mengatakan bahwa faktor situasional berasumsi bahwa kemiskinan yang melanda setiap individu/kelompok masyarakat lebih disebabkan oleh faktor yang berasal dari luar individu/kelompok masyarakat tersebut. Dengan kata lain kemiskinan terkait dengan faktor kultural, struktural, dan alamiah. Pada kasus di Desa Teja kemiskinan terkait dengan faktor struktural. Hal ini seperti halnya paradigma kemiskinan demokrasi-sosial yang dikemukakan oleh Cheyne, O’Brien, dan Belgrave (1998) dalam Suharto (2010) yang mengatakan bahwa kemiskinan dilihat dari persoalan struktural karena adanya ketidakadilan dan ketimpangan akibat tersumbatnya akses kelompok terhadap sumberdaya. Sumberdaya yang teridentifikasi di wilayah penelitian adalah kurang memadainya lapangan pekerjaan.

Menurut KIKIS (2003) dalam Papilaya (2013) ada lima dimensi pokok dalam kemiskinan struktrural, pertama, dimensi kekuasaan yang mengatur pola hubungan kekuasaan (power relation), baik hubungan kekuasaan ekonomi, politik, maupun kebudayaan, kedua, dimensi kelembagaan, bukan saja lembaga pemerintahan, tetapi juga lembaga tradisional yang mempunyai pengaruh signifikan dengan kemiskinan strktural. Ketiga, dimensi kebijakan, yaitu terkait dengan produk perundang-undangan dan keputusan-keputusan lembaga pemerintah yang mempunyai dampak langsung maupun tidak terhadap penanggulangan kemiskinan. Keempat, dimensi budaya, meliputi sikap, nilai, perilaku budaya, khususnya yang memberikan reaksi terhadap tekanan eksternal masyarakat miskin, dan kelima, dimensi lingkungan hidup yang berhubungan dengan potensi sumberdaya alam.

(43)

29 Tabel 8 Perbandingan kemiskinan secara konseptual dan kemiskinan komunitas

Kriteria miskin BPS Komunitas Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang

dari 8m2 per orang

Menurut data laporan Desa Teja tahun 2015 terdapat 59 rumah tidak layak huni

Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan

Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.

Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.

Rumah yang memiliki MCK hanya 700 unit dari jumlah rumah sebanyak 803, artinya terdapat 103 rumah yang belum memiliki fasilitas MCK

Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik

Menurut data laporan desa tahun 2015 Seluruh rumah tangga telah menggunakan listrik sebagai sumber penerangan

Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan

Sumber air minum masyarakat berasal dari mata air Gunung Ciremai

Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah

Menurut data tahun 2015 terdapat 36 rumah tangga yang hanya menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak

Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu

Berdasarkan hasil wawancara kepada beberapa msayarakat mereka mengkonsumsi daging/telur/ayam lebih dari satu kali dalam seminggu

Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun

Berdasarkan hasil wawancara kepada masyarakat mereka membeli pakaian sesuai dengan kebutuhan, tidak hanya pada saat hari raya saja

Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari

Berdasarkan hasil wawancara masyoritas masyarakat makan sebanyak 3 kali dalam sehari bahkan bisa lebih sesuai keinginan.

Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik

Berdasarkan hasil wawancara masyoritas masyarakat sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/klinik karena biaya yang dikeluarkan tidak terlalu mahal. Tetapi, masih ditemukan msyarakat yang hanya mengandalkan obat warung sebagai alternatif pengobatan abilala sakita yang diderita tidak terlalu parah

Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan

Masyarakat dengan pekerjaan buruh bangunan, buruh tani, buruh industri rumah tangga, dan buruh perkebunan yang memiliki penghasilan di bawah Rp600.000/bulan ada sekitar 500 kepala rumah tangga atau 16% dari jumlah penduduk yang bekerja.

Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD

Mayoritas masyarakat memiliki tingkat pendidikan tamat SD yaitu 80,59%

Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya

(44)

30

Karakteristik Responden

Responden yang diwawancarai tersebar berdasarkan wilayah tempat tinggal. Sebaran responden akan ditampilkan pada diagram sebagai berikut:

Berdasarkan data primer yang telah dikumpulkan, didapatkan karakteristik responden dilihat dari tingkat pendidikan, kelompok umur, agama dan jenis pekerjaan. Masyarakat yang menjadi responden merupakan masyarakat pemanfaat program penanggulangan kemiskinan, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) bidang Simpan Pinjam Perempuan (SPP), sehingga semua responden berjenis kelamin perempuan. Tabel 9 menunjukkan karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan responden yaitu tamat SD. Hal ini juga dapat dilihat dari mayoritas penduduk Desa Teja yang merupakan tamatan SD.

Tabel 9 Jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan ∑ (orang) %

Tamat SD 38 76

Tamat SMP 8 16

Tamat SMA 3 6

Diploma 1 2

Total 50 100

Tabel 9 menunjukkan bahwa sebanyak 76% masyarakat yang menjadi responden pada penelitian ini adalah lulusan Sekolah Dasar (SD), 16% lulusan SMP, 3 % lulusan SMA, dan hanya 2% atau satu orang saja yang merupakan lulusan Diploma bidang keperawatan. Selanjutnya sebaran responden berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 menunjukkan jumlah terbanyak responden pada kelompok umur 41-50

blok selasa 20%

blok rabu 10%

blok kamis 28% blok jumat

10% blok sabtu

4% blok minggu

28%

(45)

31 Tabel 10 Jumlah responden berdasarkan kelompok umur

Kelompok umur ∑ (orang) %

20-30 8 16

31-40 15 30

41-50 17 34

51-60 9 18

61 keatas 1 2

Total 50 100

Pada Tebel 10 sebanyak 34% masyarakat ada pada rentang usia 41-50 tahun dan 30% masyarakat ada pada rentang usia 31-40 tahun. Hal ini menunjukkan, usia responden rata – rata tersebabr di sekitaran usia 30 hingga 50 tahunan. Hanya sedikit masyarakat diusia muda, yaitu usia 20 tahunan yang menjadi pemanfaat program, hanya 16%, begitu pula dengan usia diatas 50 tahun keatas yang jumlahnya tidak lebih dari 10 orang saja atau sekitar 20%. Selain kelompok umur, karakteristik responden juga dapat dilihat dari jenis pekerjaan. Berikut jumlah responden berdasarkan jenis pekerjaan.

Tabel 11 Jumlah responden berdasarkan jenis pekerjaan

Pekerjaan ∑ (orang) %

Pedagang 25 50

Ibu Rumah Tangga 25 50

Total 50 100

Berdasarkan Tabel 11, persentase responden menurut jenis pekerjaannya berjumlah sama besar atau dengan persentase 50% berbanding 50%. Responden dengan jenis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga menjadi pemanfaat program simpan pinjam untuk membantu usaha suami mereka. Tabel 12 menunjukkan berapa lama responden menjadi anggota simpan pinjam perempuan, berikut adalah data yang diperoleh.

Tabel 12 Lama responden menjadi anggota simpan pinjam Lama menjadi

anggota (tahun)

∑ (orang) %

2 10 20

3 19 38

4 7 14

5 6 12

6 8 16

Total 50 100

(46)
(47)

33

PELAKSANAAN PROGRAM SIMPAN PINJAM

PEREMPUAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHINYA

Pelaksanaan Program Simpan Pinjam Perempuan di Desa Teja

Mulai di tahun 2007 pemerintah mencanangkan Program Penanggulangan Kemiskinan Program Nasional Pengembangan Masyarakat Mandiri yang terdiri dari PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Mandiri Perkotaan, serta PNPM Mandiri wilayah khusus dan desa tertinggal. PNPM Mandiri Perdesaan adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Program Penanggulangan Kemiskinan Program Nasional Pengembangan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) Bidang Simpan Pinjam Perempuan (SPP) di Desa Teja dimulai sejak tahun 2009. Pada awalnya hanya terdapat 1 kelompok yang terdiri atas 10 orang perempuan, hingga saat ini telah berkembang menjadi 8 kelompok dengan jumlah anggota sekitar 10-20 orang dan jumlah keseluruhan adalah 128 orang. Penyebaran kelompok Simpan Pinjam Perempuan hampir disetiap blok yang terdapat di Desa Teja. Sumber dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM perdesaan bersumber dari APBN, APBD, swadaya masyarakat, partisipasi swasta, dan sumber lain. Simpan Pinjam Perempuan merupakan salah satu kegiatan yang memenuhi kriteria kegiatan yang dibiayai oleh BLM. Kriteria tersebut adalah:

1. Lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin atau rumah tangga miskin 2. Memenuhi kebutuhan antardesa dan/atau antarkecamatan

3. Berdampak langsung dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin

4. Berdampak langsung terhadap perkembangan ekonomi perdesaan 5. Dapat dikerjakan oleh masyarakat

6. Didukung oleh sumber daya yang ada

7. Memiliki potensi berkembang dan berkelanjutan

8. Mendukung kualitas lingkungan hidup dengan tidak merusak lingkungan hidup.

(48)

34

Pencairan dana SPP dilakukan oleh UPK (Unit Pengelola Kegiatan) setelah pengajuan dana oleh setiap kelompok diverifikasi oleh tim verifikasi. Peran UPK adalah sebagai unit pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan antardesa. Pengurus UPK sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara serta ditambahkan minimal 1 orang yang mengelola kegiatan dana bergulir pada Kecamatan PNPM MPd yang memiliki total kas, bank, dan pinjaman kegiatan dana bergulir minimal 2 miliar rupiah. Berkaitan dengan kelancaran pelaksanan program, kepengurusan UPK harus bebas dari keterikatan dengan partai politik, atau pengurusnya tidak menjadi pengurus partai politik, tim sukses pemilihan kepala daerah, atau pemilihan legistatif. Saat ini ketua UPK kecamatan Rajagaluh adalah Bapak Baban Sobana.

Pengajuan pinjaman yang diajukkan oleh anggota kelompok berbeda beda tergantung pada lamanya keikutsertaan anggota dalam kelompok, artinya pinjaman yang diperoleh besarnya akan berjenjang. Apabila anggota baru bergabung maka jumlah pinjaman yang diperoleh hanya sekitar Rp500.000-Rp1.000.000 namun apabila sudah bergabung lebih dari 5 tahun anggota bisa memperoleh pinjaman sebanyak Rp.5.000.000-Rp.6.000.000. Kepercayaan antar setiap anggota kelompok dan tanggung jawab setiap anggota kelompok juga sangat mempengaruhi keberlanjutan kegiatan Simpan Pinjam ini, karena apabila ada satu anggota kelompok mengalami kendala pembayaran maka akan sulit untuk kelompok lain memperoleh pinjaman di tahun berikutnya. Lamanya pinjaman setiap periode adalah 12 bulan atau satu tahun, pada periode satu tahun anggota kelompok akan mengunpulkan anggusaran dana pinjaman setiap bulannya sehingga diperiode berikutnya dana tersebut dapat digulirkan kembali, setiap anggota bertanggung jawab dalam setiap pembayaran angsuran setiap bulan, dan tanggung jawab individu tersebut berpengaruh terhadap keberlangsungan dana perguliran pada periode berikutnya. Apabila ada salah satu anggota yang mengalami kendala dalam pembayaran maka kelompok simpan pinjam tersebut akan mendapat dampak dari permasalahan tersebut, sehingga terkadang setiap anggota dalam kelompok tersebut akan membantu anggotanya yang bermasalah dengan cara saling menutupi angsuran yang harus dibayar, dengan ketentuan dan kesepakatan yang telah disetujui oleh setiap anggota kelompok.

Peran ketua kelompok dalam kelompok simpan pinjam ini adalah jembatan pihak UPK kepada anggota lainnya. ketua kelompok menjadi tempat dalam mengumpulkan angsuran setiap bulannya sebelum nantinya apabila telah terkumpul diserahkan kepada pihak UPK. Di Desa Teja terdapat 8 kelompok yang diketuai oleh 6 orang yang dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Daftar Nama Kelompok dan Ketua Kelompok Simpan Pinjam Desa Teja.

Nama Kelompok Ketua Kelompok

(49)

35 Tabel 13 menunjukkan adanya pengembangan kelompok, yaitu kelompok Harapan 2 dan Anggrek 2. Hal ini dimaksudkan agar dalam satu kelompok tidak terlalu banyak anggota didalamnya agar dapat mempermudah proses perguliran dan pengajuan pinjaman selanjutnya. Permekaran kelompok ini disebabkan oleh tingginya partisipasi masyarakat dalam mengikuti program simpan pinjam. Tingginya partisipasi disebabkan oleh faktor individu dimana setiap anggota yang bergabung awalnya mengetahui program simpan pinjam dari cerita anggota lain yang terlebih dahulu bergabung. Setiap ketua kelompok dipilih secara sukarela dan melalui rasa kepercayaan yang timbul antar sesama anggota kelompok.

“ketua ditentukannya tidak melalui pemilihan seperti kepala desa,

hanya ditunjuk saja, saling percaya aja. Sampe sekarang saya ikut sudah hampir 4 tahun, ketua kelompok sampai sekarang selalu menyerakhan uang setoran pinjaman pada UPK tepat waktu” NNG-32tahun.

Berkembangnya kelompok simpan pinjam perempuan menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat terhadap program simpan pinjam. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Simpan Pinjam Perempuan merupakan kegiatan pemberian modal bagi kaum perempuan pedesaan. Simpan pinjam perempuan memiliki tiga tujuan khusus yaitu:

1. Mempercepat proses pemenuhan kebutuhan pendanaan usaha ataupun sosial dasar.

2. Memberikan kesempatan kaum perempuan meningkatkan ekonomi rumah

tangga melalui pendanaan peluang usaha.

3. Mendorong penguatan kelembagaan simpan pinjam oleh kaum perempuan.

Simpan Pinjam Perempuan dapat dikatakan berhasil apabila tiga poin dari tujuan khusus tersebut dapat dicapai. Adapun tingkat keberhasilan pelaksanaan program Simpan Pinjam Perempuan di Desa Teja akan dijelaskan pada alinea selanjutnya.

Tingkat Penerimaan Usaha

Berdasarkan data primer yang diperoleh, tingkat pendapatan penerima atau pemanfaat program Simpan Pinjam Perempuan sebelum dan setelah mengikuti program mengalami peningkatan pendapatan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Tingkat penerimaan usaha masyarakat pemanfaat program simpan

pinjam perempuan

Skala pengukuran (Rp.000.000)

Sebelum Sesudah Perubahan

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Tabel 1 Matriks tingkat keberhasilan pelaksanaan program simpan pinjam
Tabel 3 Jumlah penduduk Desa Teja berdasarkan kelompok umur dan jenis
Tabel 7 Jumlah sarana dan prasarana keagamaan, kesehatan olahraga, dan umun
+7

Referensi

Dokumen terkait

Danau Paris, untuk mengetahui partisipasi perempuan dalam Kelompok Simpan Pinjam Perempuan di Desa Napagaluh, mengetahui isu gender yang terjadi dalam pelaksanaan Kelompok

Oleh karena itu, analisis mengenai partisipasi perempuan dalam kegiatan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)

Berdasarkan simpulan diatas, maka saran yang dapat dijadikan pertimbangan bagi kaum perempuan yang ikut terlibat dalam Kegiatan simpan Pinjam Khusus Perempuan

Salah satu kegiatan PNPM-MP adalah Program Simpan Pinjam Perempuan merupakan kegiatan untuk kaum perempuan yang memiliki kelompok simpan pinjam,yang memiliki tujuan umum yaitu,

1) Tingkat pemahaman tujuan kegiatan adalah jumlah anggota simpan pinjam kelompok perempuan yang paham akan tujuan kegiatan seperti yang tercantum dalam petunjuk

Dari analisis yang diperoleh oleh penulis, hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) adanya program Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) menjadikan masyarakat

Implementasi PNPM-MP pada Program Simpan Pinjam Khusus Bagi Perempuan di Desa Perangat Selatan Kecamatan Marangkayu didukung oleh faktor ketersediaan dana yang

Penelitian dengan judul Implementasi Program Simpan Pinjam Kelompok Perempuan di Kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas bertujuan menjelaskan implementasi