• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan program promotif dan preventif Puskemas Labuhan Bilik Berdasarakan hasil wawancara dengan Kepala Puskesmas menyatakan bahwa

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: KHAIRUL UMMA (Halaman 48-80)

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Pelaksanaan program promotif dan preventif Puskemas Labuhan Bilik Berdasarakan hasil wawancara dengan Kepala Puskesmas menyatakan bahwa

pelaksanaan program promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik belum

berjalan maksimal hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan kepala Puskesmas Labuhan Bilik yang menyatakan bahwa:

“Pelaksanaannya ada yang di dalam ada yang di luar.kuratifnya tetap banyak. Sekarang di era JKN ada program tambahan yaitu prolanis akan tetapi kegiatan tersebut tidak berjalan dengan maksimal karena belum sesuai dengan perencanaan, penyusunan rencana kegiatan di puskesmas ini ada. Sebelumnya di awal tahun dibuat POA nya untuk kegiatan atau program yang akan dilakukan. Tapi kenyataannya ya tetap saja pelaksanaannya itu gak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Bentuk-bentuk dari pelayanan promotif dan preventif ya dek, kalau kegiatan promotif yang kami lakukan Upaya dalam menanggulangi DBD yaitu penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk, kalau di bidang KIA/

KB ada penyuluhan kepada ibu hamil, penyuluhan KB. Untuk di gizi ada penyuluhan tentang Asi Ekslusif, penyuluhan tentang pentingnya

pemberian vitamin A. Kalau bidang penyuluhan pnecegahan dan pengendalian penyakit menular ada bentuk promosi mengenai

penanggulangan HIV/ AIDS. Kalau kegiatan preventifnya ada pemantauan Jentik nyamuk, Bidang KIA/ KB ada seperti deteksi dini ibu hamil berisiko, upaya pelayaanan KB, untuk bidang Gizi ada pemberian Vitamin A pada balita, Pemantauan balita BGM” (Informan 1).

Pelaksanaan program promotif dan preventif di bidang kesehatan lingkungan, berdasarkan hasil wawancara dengan petugas kesehatan lingkungan menyatakan bahwa:

“Kalau kami pelaksanaannya dimulai dari MMD dulu dek sampai SMD, identifikasi masalah dari lintas program dan sektoral. Dari identifkasi masalah itulah lalu dibuat POA. Kalau kami biasanya melakukan penyuluhan tentang pelaksanaan posyandu kepada para kader, penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat, melaksanakan pembinaan PHBS di rumah tangga, memantau pelaksanaan kegiatan di posyandu dan monitoring desa siaga, kayak gitulah dek biasanya. Ibu pun kerjanya ini rangkap sama kesehatan lingkungan makanya kadang bingung dan kadang program lain terhambat, kalau kegiatan kesehtan lingkungan yang ibu pegang seperti pemeriksaan/ pengawasan jamban, memeriksa sanitasi sekolah, pengawasan TPM, pemeriksaan kualitas air minum dan makanan.

POA nya ada, kami buat sendiri dek. Tapi tidak semua terlaksana sesuai POA yang udah kami buat. Karna terkadang banyak kendalanya dek.

Kalau bisa lebih ditingkatkan lagi, terutama dalam melibatkan lintas sektoral. Jangan ada lagi yang kerja rangkap terutama pemegang program bidang esensial. Sarana prasarananya kalau bisa di lengkapi. Kalau bisa SKM nya dibuat satu pemegang program upaya kesehatan masyarakat

bidang esensial nya dek agar lebih ngerti, karna kalau disini tenaga SKM dibuat sebagai pemegang BOK, dan satu lagi sebagai Kepala Puskesmas disini dek” (Informan 3)

Pelaksanaan program promotif dan preventif di bidang KIA-KB, hasil wawancara didapat adalah sebagai berikut:

“Pelaksanaannya terlaksana dek seperti kegiatan kelas ibu hamil, ada biasanya deteksi ibu hamil beresiko, dan penempelan poster-poster gitulah dek. Tetapi sebagian ada juga yang nggak terlaksana dek karena kadang banyak kendalanya. Terkadang dari masyarakatnya. POA ada, kalau di lapangan tidak pernah terlaksana semua, kalau di dalam ada juga tidak terlaksana. Di lapangan ada aja kendalanya . Kemarin padahal kami ada kelas ibu hamil tanggal 16 tapi tidak di laksanakan karna libur mau bulan puasa kan. Besok juga tanggal 16 berikutmya bulan depan gak terlaksana karna lebaran, kadang hujan gak jadi karna becek dek. Kalau bisa disini ada penambahan SKM itu la dek, jalannya juga kalau bisa diperbaiki, supaya kami juga tidak terhambat dalam melakukan kegiatan karena jalannya yang rusak itu” (Informan 4)

“Kalau ibu biasanya promotif nya seperti kasi penyuluhan tentang KB di posyandu ikut sama bu wani bagian KIA, itu kalau yang di luar gedung, kalau di dalam gedung ibu biasanya mengingatkan sama pasien yang baru melahirkan, tetapi kadang ada juga yang gak terlaksana kalau di luar gedung, kadang target kami ke 10 desa, tapi hanya 5-6 desalah yang bisa kami kunjungi.

POA kalau di puskesmas ini ada dek, awal tahun ada kami buat itu dek” (Informan 5)

Pelaksanaan program promotif dan preventif di bidang Gizi, hasil wawancaranya adalah sebagai berikut:

“ Kalau pelaksanaannya ada yang didalam gedung dek, ada juga yang diluar, kalau promotifnya kayak penyuluhan gitu dek, kalau yang preventif misalnya kayak pemberian vitamin A, kakak juga kurang paham sama program ini, soalnya kakak baru 1 tahun pegang program ini dek. Kalau POA nya udah ada dek, tapi itu lah walau pun sudah dibuat POA kadang ada juga yang gak terlaksana sesuai POA. Kalau bisa ada pelatihan sebelum ke lapangan, sarana prasarananya dilengkapi” (Informan 6)

Pelaksanaan program promotif dan preventif di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit menular, hasil wawancara yang didapat dengan petugas bidang P2M menyatakan bahwa:

“Kami ngadakan penyuluhan ke 10 desa dek, kadang penyuluhannya dilakukan di posyandu, temu warga. Penyuluhannya seperti DBD, penyuluhan PTM. Posbindu, Penyuluhan HIV/AIDS, pengukuran dan penimbangan berat badan. Kalau POA ada dek, kami yang buat”

(Informan 7)

Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui bahwa pelaksanaan pelayanaan promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik pelaksanaannya dimulai dari identifikasi masalah-maslaah kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas. Setelah menemukan prioritas masalah maka dibuat POA kegiatan.

Kegiatan promotif di Puskesmas Labuhan Bilik berupa yaitu penyuluhan tentang DBD. Bidang KIA/KB seperti penyuluhan kepada ibu hamil, penyuluhan KB dan untuk bidang gizi seperti penyuluhan tentang Asi Ekslusif, penyuluhan tentang pentingnya pemberian Vit. A. Kegiatan promotif bidang penyuluhan pencegahan dan pengendalian penyakit menular seperti bentuk promosi mengenai penanggulangan HIV/AIDS dan penanggulangan DBD yaitu pemberantasan sarang nyamuk .

Kegiatan preventif yang ada di Puskesmas Labuhan Bilik seperti pemantauan Jentik nyamuk, Bidang KIA/KB ada seperti deteksi dini ibu hamil berisiko, upaya pelayaanan KB, untuk bidang Gizi yaitu berupa pemberian Vitamin A pada balita, Pemnatauan balita BGM. Akan tetapi kenyataannya, pelaksanaan program tersebut belum maksimal karena belum sesuai dengan target-target dan rencana-rencana yang telah ditetapkan oleh puskesmas. Hal ini sesuai dengan penelitian Albertho (2014) menyatakan bahwa perencanaan memiliki pengaruh dan merupakan salah satu tahapan proses untuk mencapai program yang maksimal.

Pelaksanaan program program promotif dan preventif belum berjalan baik dikarenakan kurangnya sarana, prasarana dan peralatan, pendanaan kegiatan promotif dan preventif SDM yang masih kurang serta rendahnya rendahnya partisipasi dari masyarakat wilayah kerja Puskesmas Labuhan Bilik. Hal ini juga sesuai dengan wawancara yang dilakukan yang menyatakan bahwa:

“Dari segi jumlah tenaga kesehatan banyak, disni juga ada promotor tambahan yang di danai dari BOK. dia dari bidan, ini la yang membantu promkes, disini tidak ada ahli gizi, promkes gak skm, bukan basicnya dia hanya dari spph kalau bisa kan sebenarnya skm untuk pemegang promkes biar lebih paham. Disini merangkap kerjanya. Kalau disini masyarakat susah di ajak ikut kegiatan, orang itu taunya puskesmas ini hanya tempat berobat saja. Kalau masalah dana, ketika melakukan kegiatan adanya tambahan dana dari JKN, Tanya aja nedi masalah pendanaan itu, sekarang juga ada prolanis sebagai tamabahan dari JKN, kegiatan itu di danai oleh bpjs akan tetapi peserta jkn nya juga sulit dan tidak peduli untuk mengikuti kegiatan tersebut.” (Informan 1)

“masyarakat juga kurang partisipasinya dalam mengikuti kegiatan dan menganggap puskesmas hanya tempat berobat saja dek , kalau ada gratis baru ramai datang, selain itu dek, kendala lainnya adanya kerjanya rangkap ini kadang membuat terhambat kegiatan ibu yang lain, terus masalah pendanaan yang lama cair, kalau untuk laptop juga gak ada disediakna dek, infokus ada 1, tapi itu pun rebutan, Baliho ada, kalau leafletnya nggak ada dek ” (Informan 3)

“jalan yang rusak itula payah di lewati. Kalau hujan kami tidak jadi melakukan kegiatan ke lapangan karena jalan gak bisa di tempuh sama sekali, terus kadang disini pasang jadi kadang gak jadi pigi juga dek, karna gak bisa lewat ” (Informan 4)

“tantangan internalnya tenaga kesehatan yang masih kurang, masalah jalan yang rusak kalau tantangan di luar, kami juga pakai kereta sendiri tidak ada dari dinas, masyarakat yang kurang partisipasinya dalam mengikuti kegaiatan, kalau ada pembagian gratis baru banyak yang datang dek”

(Informan 5)

“apa ya dek, kendala-kendalanya kalau daerah yang jauh becek makanya kadang kami gak jadi melakukan kegiatan, kadang disini juga pasang kan karna kita dekat dengan laut, kalau udah pasang adek tau kan lama surutnya disini, kadang hampir satu minggu, jadi kegiatan kita pun terhambatla. Ada juga kemarin kami jumpai balita gizi buruk ada 2 atau

tiga gitu. Tapi jauh kali rumahnya, untuk kesana butuh perjuangan la dek.

Udah itu kalau menurut kak karna kak bukan basicnya di gizi jadi lebih susah disini tenaga gizinya gak ada dek satupun gak ada yang benar-benar orang gizi, pelatihan juga gak ada diberikan selain itu tantangan internalnya lama pencairan dana BOK. jadi kalau kami mau melakukan kegaiatan pakai uang kami dulu dek , nanti di ganti sama puskesmas itula yang di ambil dari BOK, tapi dana itu pun lama turunnya” (Informan 6)

“kendala kami yang lain waktu melakukan penyuluhan masyarakatnya sudah pulang sebelum kegiatan selesai, terkadang pun yang datang hanya sedikit” (Informan 7)

Sarana dan prasarana merupakan suatu aspek terpenting dalam mencapai target-target dari program-program yang dibuat oleh Puskesmas. Namun kenyataannya yang terjadi di Puskesmas Labuhan Bilik perhatian pemerintah terhadap kelengkapan sarana, prasarana serta peralatan dalam melaksanakan upaya promotif dan preventif masih kurang. Berdasarkan pernyataan di atas bahwa bila dilihat juga dari segi sarana, prasarana, dan peralatan Puskesmas Labuhan Bilik kurang mendukung baik pada saat penyuluhan dan transportasi juga kurang ketika melaksanakan kegiatan promotif dan preventif. Tantangan eksternal yang dihadapi yaitu juga seringnya terjadi banjir pasang karena keadaan geografis yang dekat dengan laut, dan kesulitan akses ke daerah/ lokasi penduduk untuk mengadakan penyuluhan. Kondisi geografis sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan puskesmas sebagai contoh kasus gizi buruk yang masih ditemukan, hal ini dikarenakan kurangnya upaya perbaikian gizi masyarakat yang merupakan upaya kesehatan wajib terutama untuk daerah yang jauh dari wilayah kerja puskesmas.

Untuk pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif, seperti penyuluhan, tenaga kesehatan di Puskesmas Labuhan Bilik masih kebanyakan tenaga

kesehatan yang melakukan penyuluhan dengan cara manual, berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan petugas KIA/KB dan Gzi menyatakan bahwa:

“kalau menurut ibu kurang, disini banyak bidan perawat, skmnya masih kurang. Kalau kesiapan tenaga kesehatan sekedar dilapangan masih bisa.

Kau infokus nggak pernah kami bawa kelapanagan, kami hanya pakaiyang lembar balik itu aja. Penyuluhan yang kami lakukan disini juga masih manual” (Informan 4).

“Gimana ya dek, kalau menurut kakak kurang, karna memang butuh yang basicnya gizi, kalau kak kan kurang ngerti. Disini gak ada pelatihan, kadang bu kapus ikut juga di kegiatan kami, dia la yang memberikan penyuluhan. Sarana prasarana kuarang, kalau bisa di kasi kereta, kadang rusak kereta kita, kita juga yang menanggungnya, kalau infokus biasanya kalau dokter ikut ke lapanagan baru bawa infokus, itu pun infokusnya hanya 1 kadang berebut. Kalau orang kak penyuluhannya tidak pakai pakai apa-apa”(Informan 6)

Media promosi kesehatan tersebut dirasakan belum begitu maksimal untuk digunakan dalam penyuluhan tenaga kesehatan. Tenaga Kesehatan di Puskesmas Labuhan Bilik masih melakukan penyuluhan dengan cara manual, perhatian pemerintah terhadap kelengkapan sarana, prasarana serta peralatan dalam melaksanakan upaya promotif dan preventif masing kurang contohnya laptop, leaflet, infocus, media promosi, dan jalan yang rusak yang menghambat kelancaran kegiatan. Selain itu, hal yang sangat dirasakan oleh tenaga kesehatan mengenai sarana dan prasarana yang masih kurang adalah transportasi yang belum memadai. Puskesmas hanya memiliki kendaraan dinas yaitu 1 ambulance dan 1 kereta Dinas. Kondisi geografis wilayah kerja Puskesmas sangat luas dan jarak antar desa sangat berjauhan dan umumnya terletak di daerah pelosok, sehingga membutuhakan transportasi yang memadai untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan ke desa misalnya. Namun kendaraan dinas yang dimiliki Puskesmas tidak setiap saat ada di Puskesmas dikarenakan digunakan untuk keperluan lain,

mengakibatkan timbul kendala untuk melaksanakan penyuluhan ke masyarakat yang letak desa nya sangat jauh dari Puskesmas Labuhan Bilik.

Transportasi yang tidak memadai memaksa tenaga kesehatan untuk menggunakan kendaraan pribadi, tapi tenaga kesehatan yang bertugas dengan menggunakan kendaraan pribadi pada umumnya jadi memilih desa yang terdekat dengan Puskesmas untuk melaksanakan pelayanan promotif dan preventif melalui UKM. Dengan demikian menyebabkan tidak meratanya pelaksananaan pelayanan kesehatan untuk semua masyarakat yang tinggal di desa-desa yang berada pada wilayah kerja puskesmas sehingga pelayanan promotif dan preventif tidak terlaksana secara maksimal dan hasil cakupannya pun masih rendah. Sarana prasarana merupakan suatu aspek terpenting dalam mencapai target dari kegiatan-kegiatan yang dibuat oleh puskesmas. Hal ini sesuai dengan penelitian Hermiyanti (2016) yang menyatakan adanya fasilitas/sarana diposisikan sebagai faktor pendukung untuk keberhasilan suatu kegaiatan.

Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sumber daya manusia Puskesmas terdiri atas Tenaga Kesehatan dan tenaga non kesehatan (Permenkes RI No.75 Tahun 2014). Sebagai pelaksana upaya kesehatan, diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis dan kualitasnya, serta terdistribusi secara adil dan merata, sesuai tuntutan kebutuhan pembangunan kesehatan. Puskesmas Labuhan Bilik yang menyediakan fasilitas rawat inap ini

memiliki 6 dokter umum, 1 dokter gigi, Perawat 36 orang, Bidan 14 orang, Tenaga Kesehatan Masyarakat 2 orang, Tenaga Ahli Sanitasi 1 orang, Tenaga Teknisi Lab 1 orang, dan Apoteker 1 orang.

Jumlah tenaga kesehatan yang melaksanakan program promotif dan preventif belum mencukupi dikarenakan masih terdapat kerja rangkap yaitu pemegang bidang promosi kesehatan juga sebagai pemegang program bidang kesehatan lingkungan yang menyebabkan terhambatnya kegiatan yang dilaksanakan. Sumber daya merupakan faktor penting untuk pelaksanaan program supaya efektif. Apabila pelaksana kekurangan sumber daya maka program tidak akan berjalan efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Subarsono (2008) bahwa ketersediaan sumber daya akan berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi.

Kendala yang dihadapi yaitu adanya jabatan fungsional yang tidak sesuai dengan tupoksi masing-masing serta tidak adanya pelatihan kepada tenaga kesehatan di puskesmas sebelum melaksanakan tersebut. Hal tersebut berdampak pada kualitas kemampuan sehingga kurang optimal ketika terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan pelayanan kesehatan. Menurut informan menyatakan bahwa untuk tenaga gizi di Puskesmas Labuhan Bilik juga tidak ada, menurutnya jabatan yang ia pegang tidak sesuai dengan tupoksinya yang menyebabkan kurang memahami dari program tersebut serta pelatihan juga tidak ada. Hal ini sesuai dengan penelitian Nadya, dkk (2013) menyatakan bahwa kurangnya tenaga kesehatan khusus dan tidak adanya pelatihan sebelum kegiatan tersebut berlangsung akan membuat kegiatan promotif dan preventif berjalan kurang maksimal.

Menurut Depkes (2003) tentang kebijakan dan strategi desentralisasi Bidang Kesehatan disebutkan bahwa dalam memantapkan sistem manajemen sumber daya manusia kesehatan perlu dilakukan peningkatan dan pemantapan perencanaan, pengadaan tenaga kesehatan, pendayagunaan dan pemberdayaan profesi kesehatan. Dalam meningkatan kualitas kemampuan tenaga kesehatan dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan yang sudah ada. Pengembangan pendidikan kesehatan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan yang berkualitas dalam melaksanakan pelayanan promotif dan preventif. Menurut Kepala Puskesmas Labuhan Bilik kesiapan dari tenaga kesehatan belum maksimal karena kemampuan atau skill SDM yang ada di Puskesmas dalam memberikan pelayanan promotif dan preventif masih perlu ditingkatkan lagi.

Selain itu, menurut pernyataan beberapa informan, tenaga penyuluh kesehatan terutama tenaga kesehatan masyarakat masih belum mencukupi menyebabkan kegiatan promotif dan preventif berjalan kurang optimal. Tenaga kesehatan seharusnya dalam memberikan pelayanan kesehatan memiliki kompetensi yang berkualitas dan taat dengan prosedur. Dilihat dari pengamatan didapat bahwa saat ini masih banyak masyarakat yang menerima pelayanan kesehatan promotif dan preventif tidak memenuhi syarat yang dijelaskan sebelumnya.

Keterbatasan kemampuan atau skill dari tenaga kesehatan dalam melaksanakan upaya promotif dan preventif melalui UKM terjadi karena kurangnya tenaga kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kurangnya pelatihan

yang diberikan oleh Pemerintah terkait. Kurangnya pengetahuan dan rendahnya pengawasan sering menjadikan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif di puskesmas belum dikerjakan secara baik. Masyarakat pun cenderung menjadi menerima kondisi tersebut karena ketidaktahuan dan keterpaksaan.

Walaupun pemerintah telah melakukan perbaikan mutu pelayanan kesehatan baik melalui peraturan standar kompetensi tenaga kesehatan maupun menyediakan pelatihan atau program peningkatan pengetahuan dan kemampuan tenaga kesehatan serta pemerataan distribusi tenaga kesehatan dalam mengadakan upaya promotif dan preventif sebagai contoh melaksanakan penyuluhan ke semua desa yang ada di wilayah kerja puskesmas tanpa alasan letak geografis atau jarak desa yang jauh dari puskesmas, tetapi belum pasti seluruhnya tenaga kesehatan mendukung.

Hal tersebut di atas terkait dengan tenaga kesehatan yang masih menyimpang dari tujuan awal keberadaannya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta belum mendukung dan tidak melaksanakan pelayanan promotif dan preventif secara maksimal. Sehingga pelayanan kuratif masih memimpin sedangkan aspek upaya promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan yang seharusnya lebih diutamakan belum dominan terlaksana.

Perilaku sehat masyarakat pun mengikuti paradigma sehat yang dikalahkan oleh perilaku sakit, yaitu memanfaatkan pelayanan kesehatan hanya pada saat sakit. Namun, memang di sini tenaga kesehatan harus berjuang keras dalam melaksanakan pelayanan preventif. Apalagi berhadapan dengan masyarakat yang ekonomi dan pendidikan yang rendah sangat diakui susah sekali untuk merubah

perilaku hidup bersih dan sehat. Sebagai tenaga kesehatan yang bertugas diharapkan melakukan pelayanan kesehatan tepat sasaran seperti melaksanakan penyuluhan kesehatan terhadap masyarakat di desa.

Tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Labuhan Bilik didominasi oleh tenaga kesehatan medis sehingga lebih mengutamakan upaya kesehatan yang menekankan pada penyembuhan penyakit. Sebaliknya tenaga kesehatan yang menekankan masalah upaya promotif dan preventif yaitu SKM di puskesmas ini masih sangat minim sekali. Pengelolaan upaya kesehatan dan pembinaan masyarakat yang sehat memerlukan pendekatan holistik yang lebih luas, menyeluruh, dan dilakukan terhadap masyarakat secara kolektif dan tidak individual.

Pada kenyataannya dalam upaya promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik belum didukung oleh tenaga kesehatannya sendiri. Terlihat di lapangan bahwa tenaga kesehatannya belum berhasil untuk mengajak, memotivasi dan memberdayakan masyarakat, dan masih kurang melibatkan kerja sama lintas sektoral, serta mengelola sistem pelayanan kesehatan yang belum efektif dan

efisien. Sebagai contoh ketika peneliti melihat pelaksanaan beberapa Posyandu di lapangan, didapati bahwa tenaga kesehatan yang bertugas melaksanakan

Posyandu datangnya sangat lama dan tidak sesuai dengan waktu yang di tetapkan.

Sehingga masyarakat yang sudah datang untuk imunisasi merasa tenaga kesehatannya tidak baik dalam memberikan pelayanannya, karena mereka sudah terlalu lama menunggu akhirnya mereka pulang. Penyuluhan yang seharusnya

diberikan rutin di Posyandu juga tidak terlihat dilaksanakan. Bahkan tenaga kesehatan hanya memberikan imunisasi dan cenderung ingin cepat-cepat pulang.

Kegiatan atau program dari pelayanan promotif dan preventif yang dibentuk oleh puskesmas melalui UKM belum dilaksanakan secara efektif dan efisien oleh tenaga kesehatan puskesmas sehingga belum mencapai hasil yang maksimal. Selain itu penyuluhan yang diberikan ke masyarakat dengan terjun langsung ke desa pada nyatanya tidak memberikan hasil yang bagus. Hal itu terjadi karena antara tenaga kesehatan yang ada di puskesmas dengan masyarakat terdapat hambatan dalam penyelenggaraan upaya promotif dan preventif.

Tenaga-tenaga kesehatan yang diperbantukan di puskesmas biasanya terdiri dari orang-orang yang terpelajar dan bukan berasal dari daerah atau desa tempat diadakannya penyuluhan, sehingga masyarakat menganggapnya sebagai orang asing. Apalagi jika tenaga kesehatan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh masyarakat, maka akibatnya masyarakat enggan untuk datang dalam kegiatan UKM yang dilaksakan oleh puskesmas serta masyarakat juga tidak terlalu menanggapi konseling yang diberikan oleh tenaga kesehatan.

Konseling yang seharusnya diberikan kepada pasien atau masyarakat yang datang ke puskesmas ini tidak begitu diperhatikan dan pelaksanaannya juga masih kurang baik. Dikatakan demikian karena tenaga kesehatan masih mengesampingkan dalam pemberian penyuluhan kesehatan perseorangan atau KIE kepada pasien pada keadaan puskesmas kedatangan banyak pasien yang ingin

Konseling yang seharusnya diberikan kepada pasien atau masyarakat yang datang ke puskesmas ini tidak begitu diperhatikan dan pelaksanaannya juga masih kurang baik. Dikatakan demikian karena tenaga kesehatan masih mengesampingkan dalam pemberian penyuluhan kesehatan perseorangan atau KIE kepada pasien pada keadaan puskesmas kedatangan banyak pasien yang ingin

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: KHAIRUL UMMA (Halaman 48-80)

Dokumen terkait