• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh: KHAIRUL UMMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh: KHAIRUL UMMA"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)PELAKSANAAN PROGRAM PROMOTIF DAN PREVENTIF DI PUSKESMAS LABUHAN BILIK KABUPATEN LABUHANBATU TAHUN 2018. SKRIPSI. Oleh: KHAIRUL UMMA 141000030. FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(2) PELAKSANAAN PROGRAM PROMOTIF DAN PREVENTIF DI PUSKESMAS LABUHAN BILIK KABUPATEN LABUHANBATU TAHUN 2018 Skripsi ini diajukan sebagai Salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Oleh: KHAIRUL UMMA 141000030. FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(3) HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI. Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “PELAKSANAAN. PROGRAM. PROMOTIF. DAN. PREVENTIF. DI. PUSKESMAS LABUHAN BILIK KABUPATEN LABUHANBATU TAHUN 2018” ini beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.. Medan, Juli 2018. KHAIRUL UMMA NIM.141000030. i. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(4) ii. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(5) ABSTRAK Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Pelayanan promotif dan preventif merupakan pelayanan kesehatan masyarakat yang harus lebih diutamakan dan diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat kearah yang lebih baik. Upaya promotif dan preventif yang telah dilaksanakan Puskesmas Labuhan Bilik yaitu penyuluhan tentang DBD, penyuluhan KB penyuluhan tentang Asi Ekslusif, promosi mengenai penanggulangan HIV/AIDS , penanggulangan DBD yaitu pemberantasan sarang nyamuk, deteksi dini ibu hamil berisiko, pemberian Vitamin A pada balita, pemantauan balita. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan menggunakan desain penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik lebih mendalam. Metode pengumpulan data yaitu wawancara mendalam dan observasi. Informan dalam penelitian ini ada 11 orang yaitu kepala puskesmas, dokter umum, Penanggung jawab bidang esensial, pasien dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program promotif dan preventif masih belum maksimal, hal tersebut dilihat dari pelaksanaan yang belum mencapai target dan tidak sesuai dengan POA, masih terdapat kerja rangkap, terjadinya keterlambatan penurunan dana, kurangnya ketersediaan sarana, prasarana, dan alat untuk kegiatan promotif dan preventif. Kendala lain yang dihadapi yaitu kurangnya partisipasi masyarakat dalam mengikuti kegiatan yang dibuat oleh puskesmas. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan pemerintah meningkatkan kualitas SDM kesehatan dengan pelatihan dan pendidikan, melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan promotif dan preventif dan meningkatkan sistem penurunan dana agar dana yang dianggarkan tidak mengalami keterlambatan. Bagi Pukesmas sebaiknya tidak ada tenaga kesehatan yang kerja rangkap terutama di bidang esensial agar kegiatan yang dilakukan dapat berjalan maksimal. Bagi masyarakat diharapkan agar lebih aktif dan ikut berpatisipasi dalam mengikuti kegiatan puskesmas.. Kata Kunci: Pelaksanaan, Promotif, Preventif, Puskesmas. iii. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(6) ABSTRACT. Public Health Center as a health service facility that organizes the first public health efforts and personal pealth efforts, with priority promotive and preventive efforts to achieve the highest level of public health in its working area. Promotional and preventive services are public health services that should be given priority and attention to improve public health towards the better. Promotion and preventive efforts that have been implemented Public Health Center Labuhan Bilik is counseling about DHF, extension KB extension about Exclusive Asi, promotion of HIV / AIDS prevention, dengue fever prevention, mosquito nest mitigation, early detection of pregnant women at risk, giving Vitamin A in toddler, monitoring of toddlers. The research conducted is descriptive by using qualitative research design that aims to know the implementation of promotive and preventive at public health center of Labuhan Bilik more depth. Methods of data collection are in-depth interview and observation. Informants in this study there are 11 people, they are Head of Public health centers, General Practitioner, in charge of essential areas, patients and society. The results showed that the implementation of promotive and preventive programs is still not maximal, it is seen from the implementation that has not reached the target and not in accordance with the POA, there are still duplicate work, the delay of decreasing funds, lack of facilities, infrastructure and tools for promotive activities and preventive. Another obstacle faced is the lack of community participation in following activities made by Public Health Center.. Based on the result of the research, it is hope that the government will improve the quality of human resources with training and education, to supervise the implementation of promotive and preventive activities and to increase the system of funding reduction so that the budgeted funds. For Public Health Center , there should be no health workers who work in duplicate especially in the essential field so that activities can be run maximally. For the community is expected to be more active and participate in participating in the activities of Public Health Center.. Keywords: Implementation, Promotive, Preventive, Public Health Center. iv. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(7) KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Pelaksanaan Program Promotif dan Preventif di Puskesmas Labuhan Bilik Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2018”, guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orangtua. Terima kasih atas doa, nasihat, kasih sayang tulus, serta segala dukungan dalam bentuk apapun yang telah Ayah dan Ibu berikan kepada penulis setiap saat. Penulis banyak mendapat bimbingan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak mulai dari awal penyusunan skripsi hingga akhir selesainya skripsi ini. Oleh sebab itu pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 4. Dr. Juanita S.E, M.Kes selaku Dosen Pembimbing dan Ketua Penguji Skripsi yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.. v. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(8) 5. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dosen Penguji I Skripsi yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan saran, bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini. 6. dr. Rusmalawaty, M.Kes selaku Dosen Penguji II Skripsi yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan saran, bimbingan dan arahankepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini. 7. Prof. Dr. Albiner Siagian Ir. M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memperhatikan penulis selama mengikuti pendidikan di FKM USU. 8. Seluruh Dosen Departemen AKK, seluruh Dosen dan Staf FKM USU yang telah memberikan ilmu, bimbingan serta dukungan moral kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di FKM USU. 9. Teristimewa untuk orang tua, terima kasih atas doa, nasihat, kasih sayang, perhatian, motivasi serta dukungan dalam bentuk apapun kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini, baik dari segi isi maupun bahasa. Maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita.. Medan, Juli 2018. Khairul Umma. vi. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(9) DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ................................. i HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ii ABSTARK ...................................................................................................... iii ABSTRACK ..................................................................................................... iv KATA PENGANTAR .................................................................................... v DAFTAR ISI .................................................................................................. vii DAFTAR TABEL........................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... x DAFTAR ISTILAH ....................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...................................................................... BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1.1. Latar Belakang ................................................................................. 1.2.Rumusan Masalah ............................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 1.4.Manfaat Penelitian ........................................................................... 1 1 6 6 6. BAB 1ITINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 2.1 Puskesmas ......................................................................................... 2.1.1 Tujuan Puskesmas..................................................................... 2.1.2 Fungsi Puskesmas ..................................................................... 2.1.3 Asas Pengelolaan Puskesmas .................................................... 2.1.4 Tenaga Kesehatan ..................................................................... 2.2 Pelayaanan Kesehatan ....................................................................... 2.2.1 Definisi Pelyanaan Kesehatan ................................................... 2.2.2 Upaya promotif dan preventif ................................................... 2.2.3 Tingkat-tingkat pencegahan penyakit ....................................... 2.3 Upaya Penyelenggaraan kesehatan ................................................... 2.4 Kebijakan terkait Jaminan Kesehatan Nasional ................................ 2.5 Fokus Penelitian ................................................................................ 8 8 8 9 10 11 12 12 14 16 18 22 24. BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 3.1 Jenis Penelitian ................................................................................. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................ 3.2.1 Lokasi Penelitian ........................................................................ 3.2.2 Waktu Penelitian ........................................................................ 3.3 Informan Penelitian .......................................................................... 3.4 Metode Pengumpulan Data .............................................................. 3.5 Instrumen Pengambilan Data ............................................................ 26 26 26 26 26 26 27 27. vii. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(10) 3.6 Triangulasi ........................................................................................ 3.7 Teknik Analisa Data ........................................................................... 28 28. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 4.1 Gambaran Umum Puskesmas Labuhan Bilik ................................... 4.2 Karakterisktik Informan ................................................................... 4.3 Pelaksanaan promotif dan Preventif .................................................. 4.4 Plan Of Action Puskesmas Labuhan Bilik ....................................... 4.5 Kegiatan Promotif dan Preventif Berdasarkan Permenkes 75/2014 .. 29 29 32 33 53 65. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 5.2 Saran ..................................................................................................... 69 69 70. DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... LAMPIRAN. 72. viii. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(11) DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Upaya Kesehatan Masyarakat di Kawasan Pedesaan ...................... 20. Tabel 4.1 Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016 ................................................................................................. 30 Tabel 4.2 Data Tenaga Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016 ...................................................................................... 30 Tabel 4.3 Data Sarana Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016 ...................................................................................... 31 Tabel 4.4 Data Fasilitas Gedung Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016 .......................................................................................................... 32. Tabel 4.5 Karakteristik Informan .................................................................... 32. Tabel 4.6 POA Puskesmas Labuhan Bilik ...................................................... 53. Tabel 4.7 Kegiatan promotif dan preventif yang di lakukan di Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016 berdasarkan Permenkes No.75 tahun 2014 ....................................................................................................... 65. ix. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(12) DAFTAR GAMBAR. Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian. x. Halaman .......................................... 24. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(13) DAFTAR ISTILAH Singkatan. :Singakatan dari. BPJS. :Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. BOK. :Biaya Operasional Kesehatan. FKTP. :Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. JKN. :Jaminan Kesehatan Nasional. KB. :Keluarga Berencana. KIA. :Kesehatan Ibu dan Anak. PHBS. :Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Puskesmas. :Pusat Kesehatan Masyarakat. POA. :Plan Of Action. UKM. :Upaya Kesehatan Masyarakat. UKP. :Upaya Kesehatan Perseorangan. xi. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(14) DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. : Pedoman wawancara. Lampiran 2. : Matriks wawancara. Lampiran 3. : Lembar Observasi. Lampiran 4. : Surat Permohonan Izin Penelitian. Lampiran 5. : Surat Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Labuhanbatu. Lampiran 6. : Surat Pernyataan Telah Melaksanakan Penelitian. Lampiran 7. : Dokumentasi. xii. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(15) DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Khairul Umma, lahir pada tanggal 18 September 1996 di Labuhanbilik, beragama Islam, tinggal di Jalan Panglima Sudirman Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu. Penulis merupakan anak ke 3 dari 6 bersaudara dari pasangan Bapak Hasanuddin dan Ibu Rohaya. Jenjang Pendidikan Formal SDN 112200 (2002-2008), SMP Negeri 1 Panai Tengah (2009-2011), SMA Negeri 1 Panai Tengah (2011-2014), dan penulis menempuh pendidikan S1 di Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan Administrasi. dan Kebijakan Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara tahun 2014.. xiii. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(16) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan dengan cita-cita Bangsa Indonesia yang harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (UU No. 36/2009). Meningkatnya umur harapan hidup, menurunnya angka kematian ibu, angka kematian neonatal, angka kematian bayi, dan angka kematian balita tidak terlepas dari peran pemerintah yang telah berhasil pada aspek penyediaan sarana pelayanan kesehatan dasar seperti puskesmas. Pelayanan kesehatan dasar harus terselenggra atau tersedia untuk menjamin hak asasi semua orang untuk hidup sehat. Penyelenggaraan atau penyediaan pelayanan kesehatan dasar ini harus secara nyata menunjukkan keberpihakannya kepada kelompok masyarakat risiko tinggi termasuk di dalamnya kelompok masyarakat miskin. Bahkan lebih jauh lagi, ruang lingkup pelayanan kesehatan dasar tersebut harus mencakup setiap upaya kesehatan yang menjadi komitmen komunitas global, regional, nasional, maupun lokal (Depkes RI, 2010). Puskesmas adalah fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk. 1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(17) 2. mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Adapun upaya kesehatan masyarakat tersebut: 1) pelayanan promosi kesehatan; 2) pelayanan kesehatan lingkungan; 3) pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana; 4) pelayanan gizi; 5) pelayanan dan pencegahan dan pengendalian penyakit. Sedangkan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama dialksanakan dalam bentuk: 1) rawat jalan; 2) pelayanan gawat darurat; 3) pelayanan satu hari (one day care); 4) home care; dan/atau 5) rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan (Permenkes RI No. 75 Tahun 2014). Upaya promotif adalah suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegaiatan yang bersifat promosi. Sedangkan upaya preventif adalah suatu kegiatan pencegahan suatu masalah kesehatan/penyakit dan gangguan kesehatan. Pelayanan promotif dan preventif merupakan pelayanan kesehatan masyarakat yang harus lebih diutamakan dan diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat kearah yang lebih baik (UU No. 36/2009). Berdasarkan survei awal yang didapat peneliti dari tenaga kesehatan Puskesmas Labuhan Bilik, upaya promotif dan preventif baik di dalam maupun luar gedung di Puskesmas Labuhan Bilik tahun 2016 ialah berupa penyuluhan kesehatan, pelayanan kesehatan ibu dan anak seperti kelas ibu hamil, pelayanan keluarga berencana, pelayanan kesehatan lingkungan, pelayanan gizi masyarakat, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular yaitu berupa penyuluhan HIV/IMS. Program promotif dan preventif yang ada di Puskesmas Labuhan Bilik. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(18) 3. banyak tidak terlaksana dengan baik terutama pada bidang upaya kesehatan masyarakat yang esensial, hal tersebut diasumsikan karena banyak faktor yang memengaruhi baik dari petugas kesehatan puskesmas itu sendiri maupun masyarakat bahkan faktor pendukung terlaksananya kegiatan promotif dan preventif. Kegiatan promotif pelayanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas KIA di luar gedung berupa penyuluhan tentang manfaat posyandu yang dilakukan saat kegiatan posyandu, dan kegiatan kelas ibu hamil. Kegiatan promotif dalam gedung berupa penempelan poster-poster mengenai Asi Ekslusif di dinding puskesmas terutama di ruang tunggu. Akan tetapi dilihat saat survei pendahuluan poster tersebut tidak dibaca oleh pasien yang datang. Hal ini diasumsikan karena kurangnya keinganan masyarakat unttuk mengetahui informasi-informasi tentang kesehatan. Berdasarkan Profil Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016, cakupan kunjungan ibu hamil (KI) 85,12% dan (K4) 83,65% tidak mencapai dari target 95% dan Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan 73,04% dari target 90%. Kegiatan Preventif berupa imunisasi. Kendala yang dihadapi saat bertanya dengan petugas KIA ialah jarak tempuh untuk desa yang jauh dari wilayah kerja puskesmas yang suling di jangkau. Hal ini diasumsikan karena jalan yang rusak yang menyebabkan terhambatnya pelaksanaan kegiatan promotif dan preventif bidang KIA. Kegiatan Promotif pelayanan keluarga berencana yang dilakukan baik di dalam dan luar gedung oleh petugas KB yaitu penyuluhan tentang jenis-jenis. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(19) 4. KB kepada masyarakat dan konseling tentang alat-alat KB kepada pasangan usia subur. Dilihat dari profil Puskesmas Labuhan Bilik, cakupan Peserta KB aktif masih rendah 48,80% dengan target 70%. Kegiatan preventif pelayanan KB berupa pemasangan alat KB (Profil Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016). Kegiatan promotif dan preventif pelayanan kesehatan lingkungan yang dilakukan di luar gedung oleh petugas kesehatan lingkungan yaitu penyuluhan jamban sehat, pemeriksaan dan pengawasan jamban, pemeriksaan kualitas air minum, pengawasan TPM (Profil Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016). Kegiatan promotif dan preventif pelayanan gizi masyarakat yaitu pemberian PMT untuk balita BGM, penyuluhan tentang Asi Ekslusif, melakukan konseling di kelas ibu hamil, penyuluhan tentang pemantauan balita, sosialisasi pemberian Vitamin A. Berdasarkan profil Pukesmas Labuhan Bilik tahun 2016 masih ditemukan kasus gizi buruk sebanyak 2 orang dan cakupan Asi Eksklusif masih rendah yaitu 39,85% dari target 80%. Cakupan pemberian vitamin A 87,37% dan pemberian tablet Fe untuk ibu hamil 86,71% (Profil Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016). Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan petugas pencegahan dan pengendalian penyakit mengatakan bahwa kegiatan promotif dan preventif yaitu penyuluhan kepada masyarakat penyuluhan HIV/AIDS dan DBD serta penanggulangannya. Kendala yang dihadapi Petugas saat melakukan penyuluhan berdasarkan wawancara yang didapat saat suvei pendahuluan adalah kurangnya partisipasi masyarakat untuk menghadiri kegiatan penyuluhan tersebut. Kendala lain adalah saat petugas yang akan melakukan penyuluhan tidak dapat hadir hal. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(20) 5. ini diasumsikan karena jabatan rangkap yang mengakibatkan terkendalanya suatu kegiatan. selain itu dana kegiatan yang dirasa kurang membuat kegiatan menjadi terhambat (Profil Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016). Berdasarkan wawancara dengan Kepala Puskesmas Labuhan Bilik mengatakan bahwa kendala yang dihadapi Puskesmas Labuhan Bilik dalam melaksanakan upaya promotif dan preventif salah satunya adalah perilaku masyarakat. Sebagai puskesmas kawasan pedesaan dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan promotif dan preventif masih kurang dan cenderung tidak peduli pada pelayanan ini. Masyarakat masih menganggap puskesmas hanya tempat berobat bagi orang sakit, dan tidak ada saran-saran dari masyarakat mengenai program yang telah dilakukan. Saat dilakukan penyuluhan masyarakat sering tidak mengikuti sampai akhir sehingga masyarakat tidak memperoleh informasi sepenuhnya. Sebelum diberlakukannya JKN, sumber biaya pada pelayanan promotif dan preventif, baik dalam upaya kesehatan masyarakat maupun perorangan adalah Biaya Operasional Kesehatan (BOK). Melalui JKN, pemerintah hanya akan bertanggung jawab untuk pemenuhan upaya kesehatan masyarakat, sementara upaya kesehatan perorangan didukung oleh dana kapitasi dari BPJS (Kemenkes RI, 2013). Sementara itu, menurut penelitian Ummiyun (2015) di Puskesmas Tapian Dolok menyatakan bahwa implementasi pelayanan promotif dan preventif belum maksimal karena sepenuhnya tidak berlandaskan pada kebijakan berlaku, manajemen puskesmas tidak dipahami secara baik oleh Kepala Puskesmas, dan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(21) 6. cakupan upaya promotif dan preventif belum merata ke semua desa yang ada di wilayah kerja puskesmas. Demikian pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Noor (2016), tentang analisis pelaksanaan program promotif dan preventif untuk penyakit ISPA di Puskesmas Bukit Kapur Kota Dumai menyatakan bahwa pelayanan preventif dan promotif untuk penyakit ISPA belum berjalan maksimal dikarenakn masih tidak baiknya sistim komunikasi antara kepala puskesmas dan petugas, sumber daya yang terbatas, struktur birokrasi yang tidak terkoordinasi, puskesmas masih terfokus dengan pengobatan daripada penyuluhan. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mengetahui pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik. 1.2 Perumusan Masalah Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang adalah bagaimana pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif di Pukesmas Labuhan Bilik Tahun 2018?. 1.3 Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2018. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi peneliti dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman serta keterampilan dalam melakukan penelitian khususnya tentang pelaksanaan promotif dan preventif.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(22) 7. 2. Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Labuhan Bilik dalam upaya peningkatan pelayanan promotif dan preventif. 3. Dapat dijadikan sebagai referensi kepada pihak-pihak di bidang kesehatan masyarakat khususnya di bidang Ilmu Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(23) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Puskesmas Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif unuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerja (Permenkes No.75 Tahun 2014). 2.1.1 Tujuan Puskesmas Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang: a. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatn yang bermutu c. Hidup dalam lingkungan sehat d. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat (Permenkes No.75 Tahun 2014).. 8 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(24) 9. 2.1.2 Fungsi puskesmas Fungsi. puskesmas. dalam. melaksanakan. tugasnya,. puskesmas. meyelenggarakan funsi yaitu penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama di wilayah kerjanya dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama diwilayah kerjanya. Puskesmas memilii wewenang dalam melaksanakan fungsinya yaitu: a. Melaksanakan perncanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan; b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan; c. Melaksanakan komunikasi dan, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan; d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dsn menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor lain terkait; e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan kesehatan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat; f. Melaksanakan peneingkatan kompetensi sumber daya manusia puskesmas; g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan; h. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan cakupan pelayanan kesehatan; dan i. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehat masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan penyakit (Permenkes No.75 Tahun 2014).. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(25) 10. Fungsi kesehatan yaitu. puskesmas. sebagai. penggerak. pembangunan. berwawasan. puskesmas selalu berupya menggerakkan dan memantau. penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya. Upaya yang dilakukan puskemas adalah mengutamakan. pemeliharaan. pencegahan. penyakit. tanpa. mengabaikan. peneyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan (Suhadi dan Rais, 2015). 2.1.3 Asas Pengelolaan Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia, pengelolaan program kerja puskesmas berpedoman pada 4 (empat) asas pokok: 1. Azas Pertanggungjawaban Wilayah Puskesmas bertanggung jawab untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah kerjanya. 2. Asas Peran Serta Masyarakat Asas peran serta masyarakat merupakan upaya-upaya yang dilakukan petugas kesehatan di puskesmas untuk sebisa mungkin memberdayakan masyarakat agar berperan aktif dalam menyelenggarakan program kerja puskesmas. Contohnya yaitu pelatihan kader-kader posyandu. 3. Asas Keterpaduan Asas keterpaduan bertujuan untuk mengatasi keterbatasan sumber daya serta diperolehnya hasil yang optimal, penyelenggaraan setiap upaya puskesmas harus diselenggarakan secara terpadu. Upaya ini memadukan kegiatan-kegiatan masyarakat dengan program kesehatan lain (lintas program dan lintas sektoral). 4. Asas Rujukan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(26) 11. Puskesmas. sebagai. sarana. kesehatan. tingkat. pertama. memiliki. kemampuan yang terbatas. Dalam membantu puskesmas menyelesaikan berbagai masalah kesehatan dan untuk meningkatkan efisiensi, maka penyelenggaraan setiap upaya puskesmas harus ditopang oleh asas rujukan. (Azwar, 2010) . 2.1.4 Tenaga Kesehatan Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sumber daya manusia puskesmas terdiri atas tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. Jenis dan jumlah tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan dihitung berdasarkan analisis beban kerja, dengan mempertimbangkan jumlah pelayanan yang diselenggarakan, jumlah penduduk dan persebarannya, karakteristik wilayah kerja, luas wilayah kerja, ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah kerja, dan pembagian waktu kerja. Jenis Tenaga Kesehatan sebagaimana paling sedikit terdiri atas: a. dokter atau dokter layanan primer; b. dokter gigi; c. perawat; d. bidan; e. tenaga kesehatan masyarakat; f. tenaga kesehatan lingkungan;. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(27) 12. g. ahli teknologi laboratorium medik; h. tenaga gizi; dan i. tenaga kefarmasian. Tenaga non kesehatan harus dapat mendukung kegiatan ketatausahaan, administrasi keuangan, sistem informasi, dan kegiatan operasional lain di Puskesmas. Tenaga Kesehatan di puskesmas harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional, etika profesi, menghormati hak pasien, serta mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan dirinya dalam bekerja. Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas harus memiliki surat izin praktik sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan (Kemenkes RI, 2016). 2.2 Pelayanan Kesehatan 2.2.1 Definisi Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan adalah suatu wadah atau fasilitas memperoleh pelayanan kesehatan yang difasilitasi oleh pemerintah. Tujuannya untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, memuat 4 (empat) unsur pelayanan utama yang terdiri dari unsur pelayanan kesehatan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Ke-empat pelayanan kesehatan dimaksud merupakan ujung tombak pelayanan dasar yang menyeluruh (comprehensive) dan merupakan fasilitas pelayanan kesehatan terdepan pada tingkat kecamatan yaitu Puskesmas (Salmah, 2013). Rangka. pemenuhan. pelayanan. kesehatan. yang. didasarkan. pada. kebutuhan dan kondisi masyaraka. Puskesmas dapat dikategorikan berdasarkan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(28) 13. karakterisktik wilayah kerjanya dan kemampuan penyelenggaraan. Berdasarkan karakterisktik wilayah kerjanya puskesmas dikategorikan menjadi puskesmas kawasan perkotaan, puskesmas kawasan pedesaan dan puskesmas kawasan terpencil. 1. Puskesmas kawasan perkotaan a. Aktivitas lebih dari 50% penduduknya pada sektor non agraris, terutama industri, perdagangan dan jasa; b. Memiliki fasilitas perkotaan antara lain sekolah radius 2,5 km, pasar radius 2 km, memiliki rumah sakit radius kurang dari 5 km, bioskop, atau hotel; c. Lebih dari 90% rumah tangga memiliki listrik dan/atau; d. Terdapat akses jalan raya dan transportasi menuju fasilitas perkotaan. 2. Puskesmas kawasan pedesaan a. Aktivitas lebih dari 50% penduduknya pada sektor agraris; b. Memiliki fasilitas perkotaan antara lain sekolah radius 2,5 km, pasar dan perkotaan radius 2 km, tidak memiliki bioskop, atau hotel; c. Rumah tangga memiliki listrik kurang dari 90%. 3. Puskesmas kawasan terpencil a. Berada di wilayah yang sulit dijangkau atau rawan bencana, pulau kecil, gugus pulau, atau pesisir; b. Akses transportasi umum rutin 1 kali dalam 1 minggu, jarak tempuh pulang pergi dari ibukota kabupaten memerlukan waktu lebih dari 6. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(29) 14. jam, dan transportasi yang ada sewaktu-waktu dapat terhalang iklim atau cuaca; c. Kesulitan pemenuhan baha pokok dan kondisi keamanan yang tidak stabil. 2.2.2 Upaya Promotif dan Preventif Promosi kesehatan adalah suatu proses untuk mempukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatakan kesehatan mereka, dengan promosi kesehatan kata lain adalah upaya yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga masyarakat mau dan mampu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Notoadmodjo, 2007). Menurut Undang-Undang No.36 Tahun 2009 upaya preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan penyakit. Menurut Hartono (2010) banyak peluang untuk melaksanakan promosi kesehatan oleh puskesmas. Secara umum peluang itu dapat dikategorikan sebagai berikut. 1.. Di Dalam Gedung Di dalam gedung puskesmas, promosi kesehatan dilaksanakan seiring. dengan pelayanan yang diselenggarakan puskesmas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa di dalam gedung terdapat peluang-peluang: a.. Promosi kesehatan di tempat pendaftaran, yaitu di tempat. pasien/klien harus melapor/ mendaftar sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(30) 15. b.. Promosi kesehatan dalam pelayanan medis di poliklinik, di. pelayanan KIA & KB, dan di ruang perawatan (untuk puskesmas dengan tempat perawatan). c.. Promosi kesehatan dalam pelayanan penunjang medis, yaitu di. kamar obat/apotik dan di laboratorium. d.. Promosi kesehatan dalam pelayanan klinik-klinik khusus seperti. klinik sanitasi. e.. Promosi kesehatan di tempat pembayaran rawat, yaitu di ruang di. mana pasien rawat inap harus menyelesaikan pembayaran biaya rawat inap, sebelum meninggalkan puskesmas (untuk puskesmas dengan tempat perawatan). f.. Promosi kesehatan di lingkungan puskesmas, yaitu di tempat. parkir, halaman, dinding, kantin/kios, tempat ibadah, dan pagar halaman puskesmas. 2.. Di Masyarakat (di luar gedung) Banyak tatanan di mana puskesmas dapat melakukan promosi kesehatan di. masyarakat, yakni: a.. Tatanan rumah tangga, yaitu di pemukiman penduduk misalnya di komplek-komplek perumahan, Dasa Wisma, Rukun Tetangga/Rukun Warga dan lain-lain.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(31) 16. b.. Tatanan sarana pendidikan, yaitu di sekolah-sekolah, madrasah, pondok pesantren, kursus-kursus, perguruan tinggi dan lain-lain.. c.. Tatanan tempat kerja, yaitu di pabrik-pabrik, kanto-kantor, koperasikoperasi, himpunan petani, pelelangan ikan, kompleks pertokoan, dan lainlain.. d.. Tatanan tempat umum, yaitu di terminal, stasiun, dermaga/pelabuhan, pasar, restauran, penginapan, dan lain-lain (Hartono, 2010).. 2.2.3 Tingkat-tingkat pencegahan penyakit Menurut Leavell dan Clark (1958) ada lima tingkat pencegahan penyakit yaitu sebagai berikut: 1. Peningkatan kesehatan (Health promotion); 2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu (General and spesifik protection); 3. Menegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (Early diagnosis and prompt treatment); 4. Pembatasan kecacatan (Disability limitation); 5. Penyembuhan kesehatan (Rehabilitation). Hal tersebut di atas dijabarkan dalam upaya-upaya pencegahan sebagai berikut: a. Upaya peningkatan kesehatan Yaitu upaya pencegahan yang umumnya bertujuan meningkatkan taraf kesehatan individu/keluarga/masyarakat, misalnya:. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(32) 17. 1. Penyuluhan kesehatan, perbaikan gizi, penyusunan pola gizi memadai, pengawasan pertumbuhan anak balita dan usia remaja; 2. Perbaikan perumahan yang memnuhi syarat kesehatan; 3. Kesempaan memperoleh hiburan sehat yang memungkinkan penegmbangan kesehatan mental dan sosial; 4. Pendidikan kependudukan, nasihat perkawinan, pendidikan seks, dan sebagainya; 5. Pengendalian faktor lingkungan b. Perlindungan umum dan khusus Golongan masyarakat tertentu serta keadaan tertentu yang secara langsung atau tidak langsung dapat memengaruhi kesehatan. Upaya-upaya yang termasuk perlidungan umum dan khusus anatara lain: 1. Peningkatan higine perorangan dan perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. 2. Perlindungan tenaga kerja terhadap setiap kemungkinan timbulnya penyakit akibat kerja. 3. Perlindungan terhadap bahan-bahan beracun, korosif, alergen dan sebagainya. 4. Perlindungan terhadap sumber-sumber pencernaan. c. Upaya pencegahan sekunder Pada pncegahan sekunder termasuk upaya yang bersifat diagnosis dini dan pengobatan segera (early and prompt treatment) meliputi mencari kasus sedini mungkin. 1. Melakukan general check up rutin pada setiap individu.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(33) 18. 2. Melakukan berbagai survei (survei sekolah, rumah tangga) dalam rangka pemberantasan penyakit menular. 3. Pengawasan obat-obatan, termasuk obat terlarang yang diperdagangkan bebas, golongan narkotika, psikofarmaka dan obat-obatan bius lainnya. d. Upaya pencegahan tersier Pencegahan tersier berupa pncegahan terjadinya komplikasi penyakit yang lebih parah. Bertujuan menurunkan angka kejadian cacat fisik maupun mental, meliputi upaya-upaya sebagai berikut: 1. Penyempurnaan cara pengobatan serta perwatan lanjut. 2. Rehabilitasi sempurna setelah penyembuhan penyakit 3. Mengusahakan pengurangan beban sosial penderita, sehingga mncegah kmungkinan terputusnya kelanjutan pengobatan serta kelanjutan rehabilitasi dan sebagainya (Syafrudin, 2009). 2.3 Upaya Penyelenggaraan Kesehatan Puskesmas menyelenggaraka upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama. Upaya kesehatan yang dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan. Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama sebagaimana dimaksud meliputi upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan (Permenkes No.75 Tahun 2014). Upaya kesehatan masyarakat esensial adalah sebagai berikut: a. Pelayanan promosi kesehatan; b. Pelayanan kesehatan lingkungan;. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(34) 19. c. Pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana; d. Pelayanan gizi; dan e. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit. Upaya kesehatan masyarakat esensial harus diselenggarakan di setiap puskesmas. untuk. mendukung. pencapaian. standart. pelayanan. minimal. kabupaten/kota bidang kesehatan. Upaya kesehatan masyarakat penegembangan yang dimaksud merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masingmasing puskesmas (Permenkes No.75 Tahun 2014). Adapun upaya keesehatan masyarakat di puskesmas kawasan pedesaan menurut Permenkes Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas pada tabel 2.1 Tabel 2.1 Upaya Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Kawasan Pedesaan No Upaya Pelayanan 1 Promosi Kesehatan. Kegiatan Penyuluhan. Puskesmas Kawasan Pedesaan 1. Promosi kesehatan di sekolah pendidikan dasar 2. Promosi pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan. 3. Penyuluhan kesehatan jiwa masyarakat & napza. 4. Penyuluhan kesehatan jiwa bagi ibu hamil dan menyusui. 5. Penyuluhan pada kelompok atau masyarakat tentang perilaku menjaga kebersihan diri 6. Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut pada ibu hamil, anak balita, anak, remaja,. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(35) 20. dewasa, lansia (pendekatan siklus kehidupan) 7. Penyuluhan peningkatan kesadaran masyarakat tentang Imunisasi 8. Konseling kesehatan reproduksi pada kelompok anak remaja. 9. Peningkatan pengetahuan komprehensif masyarakat tentang pencegahan penularan HIV-AIDS dan IMS . 10. Peningkatan pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang penyakit diare, tifoid dan hepatitis . 11. Edukasi dan konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) meliputi ASI dan MP-ASI untuk balita sehat,balita kurang gizi, dan balita gizi buruk rawat jalan 12. Edukasi dan konseling mengenai pola makan, perilaku makan dan aktifitas fisik bagi anak usia sekolah 13. Edukasi dan konseling mengenai pola makan, perilaku makan bagi bumil KEK/Kurus 14. Konseling Dietetik 15. Kegiatan Edukasi dan Konseling tentang Swamedikasi dan Penggunaan Obat Pemberdayaan masyarakat. 1. Memotivasi tokoh masyarakat dalam pembentukan kader kesehatan atau pembentukan kelompok yang peduli terhadap kesehatan. 2. Membentuk jejaring dalam pembentukan PHBS di. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(36) 21. masyarakat. 3. Penggerakan kelompok masyarakat dalam pemanfaatan Posyandu 4. Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat untuk Peningkatan Penggunaan Obat Rasional melalui Metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA).. 2.. Pelayanan kesehatan lingkungan. 3.. Pelayanan KIA & KB. Pelatihan. 1. Melatih kader kesehatan tentang perawatan diri dan mempraktikkan PHBS 2. Melatih kader kesehatan dalam menyampaikan informasi pada kelompok atau masyarakat tentang perawatan diri dan mempraktikkan PHBS di daerah binaan 3. Melatih Kader tentang Swamedikasi dan Penggunaan Obat melalui Metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA). Advokasi. 1. Mengadvokasi masyarakat dan lintas terkait dalam praktik PHBS dan penanggulangan masalah kesehatan tertentu 2. Advokasi tokoh masyarakat dalam membentuk kelompok swabantu terkait perawatan masalah gizi Pemantauan tempat tempat umum, pengelolaan makanan, dan sumber air bersih 1. Pelayanan imunisasi di kelompok atau masyarakat. 2. Skrining kesehatan siswa sekolah pendidikan dasar. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(37) 22. 4. Pelayanan Gizi. Deteksi dini. Pelayanan. 5.. Pelayanan pencegahan dan pengendalia n penyakit. 1. Pencegaha n dan pengendali an penyakit tidak menular 2. Pencegaha n dan pengendali an penyakit menular. 3. Penyuluhan KB sesuai program pemerintah pada kelompok usia subur atau masyarakat 1. Melakukan deteksi dini/penemuan kasus gizi di masyarakat 2. Surveilans Gizi 1. Melakukan asuhan keperawatan pada kasus gizi di kelompok atau masyarakat. Posbindu PTM. 1. Pengendalian filariasis* 2. Pengendalian kecacingan 3. Pengendalian infeksi dengue/DBD* 4. Pengendalian malaria* 5. Pengendalian Zoonosis* 6. Pengendalian HIV/AIDS* 7. Pengendalian Infeksi Menular Seksual 8. Pengendalian Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. 2.4 Kebijakan Terkait dengan Jaminan Kesehatan Nasional Pelayanan kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.71 Tahun 2013 tertera Pasal 13 disebutkan bahwa peserta JKN berhak mendapatkan pelayanan promotif dan preventif, “Setiap Peserta berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang mencakup. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(38) 23. pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan”. Manfaat Jaminan Kesehatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden No.12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Pasal 21 yaitu “Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan: penyuluhan kesehatan perorangan; imunisasi dasar; keluarga berencana; dan skrining kesehatan.” Kemudian Pasal 22 menyebutkan bahwa pelayanan kesehatan tingkat pertama meliputi pelayanan kesehatan non spesialistik yang mencakup: 1. Administrasi pelayanan; 2. Pelayanan promotif dan preventif; 3. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis; 4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif; 5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai; 6. Transfusi darah sesuai dengan kebutuhan medis; 7. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama; dan 8. Rawat inap tingkat pertama sesuai dengan indikasi. Berdasarkan Permenkes RI No. 21 tahun 2016 tentang pengelolaan pemanfaatan dana kapitasi JKN pada FKTP milik pemerintah daerah menyatakan bahwa Jasa pelayanan kesehatan di FKTP atau puskesmas ditetapkan sekurang kurangnya 60% (enam puluh persen) dari total penerimaan dana kapitasi JKN, dan sisanya dimanfaatkan untuk dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan yang meliputi biaya obat, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, dan dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan lainnya. Bila terdapat dana sisa, maka. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(39) 24. dimanfaatkan untuk tahun anggaran berikutnya. Tetapi harus tetap sama bahwa sisa dana porsi jasa pelayanan hanya untuk jasa pelayanan, dan sebaliknya dengan biaya operasional 2.5 Fokus Penelitian Fokus penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif. Oleh karena itu, fokus penelitian disusun sebagai berikut:. Program promotif dan preventif dalam Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial di Puskesmas Labuhan Bilik. Pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif Puskesmas Labuhan Bilik. Gambar 2.1 Fokus Penelitian Berdasarkan gambar di atas, dapat dirumuskan definisi fokus penelitian sebagai berikut: 1. Pelayanan promotif adalah kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. 2. Pelayanan Preventif adalah kegiatan yang dilakukan puksesmas dalam upaya pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan terhadap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(40) 25. 3. Program promotif dan preventif Upaya Kesehatan Masyrakat Esensial meliputi Pelayanan promosi kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana, Pelayanan Gizi dan Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. a. Pelayanan promotif dan preventif di Bidang KIA-KB adalah pelayanan yang diberikan untuk menyiapkan remaja dan pasangan usia subur, ibu hamil, bersalin dan nifas agar mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas, menjamin kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan terpenuhinya hak kesehatan secara optimal, mencegah dan mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan anak balita.. b. Pelayanan Promotif dan Preventif bidang Kesehatan Lingkungan adalah kegiatan penyehatan lingkungan seperti pangan, air bersih, sanitasi, jamban keluarga, tempat-tempat umum, perumahan dan lingkungan kesehatan.. c. Pelayanan Promotif dan Preventif di bidang gizi masyarakat adalah kegiatan untuk menunjang upaya penurunan angka kematian balita dan meningkatkan kemampuan masyarakat guna mewujudkan derajat kesehtan yang optimal, melalui peningkatan status gizi.. d. Pelayanan Promotif dan Preventif di bidang Pencegahan dan Pengendalian penyakit adalah kegiatan pencegahan dan pengendalian yang meliputi individu dan/atau kelompok masyarakat baik berisiko PTM maupun yang tidak berisiko.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(41) BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif, agar diketahui secara jelas dan lebih mendalam tentang Pelaksanaan program promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik Kabupaten Labuhanbatu tahun 2018. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Puskesmas Labuhan Bilik Kabupaten Labuhan batu. 3.2.2 Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan sejak bulan Januari 2018 sampai dengan selesai. 3.3 Informan Penelitian Pemilihan informan berdasarkan asas kesesuaian (appropriateness) dan asas kecukupan (adequacy). Pemilihan informan berdasarkan asas kesesuian adalah informan yang memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan topik penelitian. Pemilihan informan berdasarkan asas kecukupan adalah informan yang dapat menggambarkan seluruh fenomena yang berkaitan dengan topik penelitian. Para informan penelitian ini adalah: 1.. 1 informan Kepala Puskesmas Labuhan Bilik. 2.. 1 informan Dokter Umum. 26 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(42) 27. 3.. Pegawai Bidang Upaya Wajib (Esensial) puskesmas, yaitu 2 informan bidang KIA/KB, 1 informan kesehatan lingkungan, 1 informan gizi masyarakat, dan 1 Informan. bidang pencegahan dan pengendalian. penyakit. 4.. 2 informan Pasien dan 2 informan masyarakat a. Pasien adalah orang yang di dalam gedung /yang sedang berkunjung (berobat ke puskesmas). b. Masyarakat adalah orang yang mendapatkan kegiatan dari puskesmas. 3.4 Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Pada penelitian ini peneliti memilih jenis penelitian kualitatif maka data yang diperoleh haruslah mendalam, jelas, dan spesifik. 1. Wawancara mendalam (indepth interview) yaitu melakukan tanya jawab terhadap informan yang telah ditetapkan sebelumnya. 2. Pengamatan (observasi) yaitu mengamati kegiatan, sarana dan prasarana kegiatan pelayanan promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik. 3.5 Instrumen Penelitian Peneliti menggunakan instrumen wawancara mendalam (indept interview) berupa daftar pertanyaan yang disusun sesuai topik yang akan dibicarakan dan pengamatan seacara langsung (observasi). Untuk memperjelas informasi yang akan diperoleh, peneliti menggunakan alat bantu berupa alat tulis dan alat perekam suara (tape recorder).. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(43) 28. 3.6 Triangulasi Triangulasi digunakan sebagai teknik pemeriksaan dan keabsahan data. Triangulasi yang dilakukan adalah triangulasi sumber, yaitu dengan memilih informan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diajukan (Moleong, 2007). 3.7 Teknik Analisa Data Menurut Sugiyono (2010) analisa data kualitatif dilakukan secara simultan dengan proses pengumpulan data, interpretasi data dan dibuat matriks untuk mempermudah dalam melihat data secara lebih sistematis. Data yang sudah terkumpul akan dibahas secara mendalam dalam bentuk naratif atau menjabarkan dalam unit-unit. Hal ini untuk menjelaskan mengenai pelaksanaan pelayanan program promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik dilakukan secara kualitatif berdasarkan keterangan serta alasan yang dinyatakan oleh informan.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(44) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Gambaran Umum Puskesmas Labuhan Bilik Puskesmas Labuhan Bilik didirikan sejak tahun 1907, yang terletak di Jalan Kesehatan Kelurahan Labuhan Bilik Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhan batu. Sejak tahun 2003 Puskemas Labuhan Bilik sudah menjadi rawat inap. Letak Puskesmas bersebelahan dengan kantor Lembaga Permasyarakatan Labuhan Bilik Kecamatan Panai Tengah dan SMPN 1 Panai Tengah yang berada tepat di belakang puskesmas. Kecamatan Panai Tengah merupakan salah satu daerah yang berada di Kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Secara geografis Kecamatan Panai Tengah berada pada 20 27’42.78”N Lintang Utara dan 1000 1431.49”E Lintang Selatan dengan ketinggian 0-700 meter di atas permukaan laut. Kecamatan Panai Tengah menempati area seluas 483,74 Km2. Adapun batas batas wilayah Kecamatan Panai Tengah adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara. : Berbatasan dengan Kecamatan Panai Hilir. b. Sebelah Timur. : Berbatasan dengan Riau. c. Sebelah Selatan. : Berbatasan dengan Kecamatan Kampung Rakyat. d. Sebelah Barat. : Berbatasan dengan Kecamatan Bilah Hilir. 29 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(45) 30. Tabel 4.1 Jumlah Desa, Dusun, dan Luas (Km)2 di Kecamatan Panai Tengah tahun 2016 No. Nama desa. Jlh kk. Lakilaki. Perempuan. Jlh Penduduk. Dusun. Luas wilayah. 1. Labuhanbilik. 966. 1985. 1946. 3931. 7. 37,00. 2. Telaga Suka. 636. 1817. 1590. 3407. 6. 41,00. 3. Sei Siarti. 1679. 4763. 4670. 9433. 11. 39,00. 4. Sei Nahodaris. 562. 1589. 1392. 2981. 7. 47,74. 5. Sei Rakyat. 964. 2568. 2513. 5081. 7. 44,40. 6. Sei Pelancang. 384. 964. 950. 1914. 13. 47,30. 7. Selat Beting. 928. 2451. 2250. 4701. 5. 47,50. 8. Bagan Bilah. 716. 1526. 1511. 3037. 10. 45,50. 9. Sei Merdeka. 636. 996. 997. 1993. 5. 69,00. 10. Pasar Tiga. 459. 1255. 1235. 2490. 6. 65,00. Jumlah. 7669. 19914. 19.054. 38968. 72. 483,74. Sumber: Puskesmas Labuhan Bilik 2016 Pada tahun 2016 penduduk Kecamatan Panai Tengah berjumlah 38.968 jiwa dengan rincian 19.914 jiwa yang berjenis kelamin laki-laki dan 19.054 jiwa berjenis kelamin perempuan. Jumlah rumah tangga yang ada di Kecamatan Panai Tengah sebanyak 7.669 KK. Tabel 4.2 Data Tenaga Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016 No. 1. 2. 3. 5. 6.. Tenaga Kesehatan Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Tenaga Kesehatan Masyarakat. Jumlah 6 1 36 14 2. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(46) 31. 7. 8. 9.. Tenaga Ahli Sanitasi Tenaga Teknisi Medis (Lab) Apoteker Jumlah. 1 1 1 62. Sumber: Puskesmas Labuhan Bilik 2016 Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan yang terdiri dari tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan (Permenkes RI No. 75 Tahun 2014). Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tenaga kesehatan Puskesmas Labuhan Bilik terdiri dari Dokter Umum sebanyak 6 orang, Dokter Gigi 1 orang, Perawat 36 orang, Bidan 14 orang, Tenaga Kesehatan Masyarakat 2 orang, Tenaga Ahli Sanitasi 1 orang, Tenaga Teknisi Lab 1 orang, dan Apoteker 1 orang. Namun, hal yang tidak sesuai dilihat dari Permenkes No. 75 tahun 2014 adalah seharusnya puskesmas memiliki tenaga gizi sebanyak 2 orang akan tetapi faktanya puskesmas Labuhan Bilik tidak memiliki tenaga gizi, untuk Tenaga Kesehatan Masyarakat puskesmas sudah memiliki 2 orang tenaga kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Labuhan Bilik juga didominasi oleh tenaga kesehatan medis sehingga lebih mengutamakan upaya kesehatan yang menekankan pada penyembuhan penyakit. Tabel 4.3 Data Sarana Kesehatan Lainnya di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016 No Sarana Kesehatan Lainnya 1. Puskesmas Pembantu 2. Polindes/Poskesdes 3. Posyandu Sumber: Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016. Jumlah 5 9 67. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(47) 32. Tabel 4.4 Data Fasilitas Gedung Puskesmas Labuhan Bilik Tahun 2016. No. Fasilitas Gedung 1. Ruang Kepala Puskesmas 2. Ruang Periksa Gigi dan Mulut 3. Ruang kesehatan lingkungan 4. Ruang Apotik 5. Ruang KIA /KB/MTBS/GIZI 6. Ruang Laboratorium 7. Ruang Poli umum/ kartu/ UGD 8. Ruang Rawat inap 9. Ruang Tata Usaha 10. Ruang inventaris barang/surveilans 11. Ruang Poned 12. Ruang pertemuan 13. Toilet 14. Ruang BPJS 15. Ruang P2M 16. Ruang BOK 17. Ruang Gudang Obat Sumber: Puskesmas Labuhan Bilik 2016. Jumlah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 5 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah. 4.2 Karasteristik Informan Karakteristik dari masing-masing informan pada penelitian ini, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.5 Karakteristik Informan No. Informan. Jenis Kelamin perempuan. Umur (tahun) 45. 1.. Irma Suryani,. 2.. dr. Alvi Khairuni Mila Yusmita. Perempuan. 33. Perempuan. 4.. Salwani. 5.. Tuti. 3.. Pendidikan. Jabatan Kepala Puskesmas. 52. S1- Ilmu kesehatan Masyarakat S1Kedokteran D1 Spph. Perempuan. 44. D4 Kebidanan. Pegawai bidang Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan. Pegawai bidang KIA. Perempuan. 42. D4 Kebidanan. Pegawai bidang KB. Dokter. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(48) 33. 6.. Herawati. Perempuan. 36. 7.. Sri Murni Nst. Perempuan. 38. D3 Keperawatan D3 Kebidanan. Pegawai bidang Gizi. 8.. Perempuan. 22. SMP. 9.. Ayu Dewi Sundari Hamimah. Pegawai bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Pasien. Perempuan. 35. SD. Pasien. 10.. Nita. Perempuan. 40. SMP. Masyarakat. 11.. Dayah. Perempuan. 32. SMP. Masyarakat. Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 12 informan, terdiri dari 1 informan Kepala Puskesmas Labuhan Bilik yang berusia 45 tahun dengan pendidikan S1 Kesehatan Masyarakat, 1 informan Dokter Umum berusia 33 tahun dengan pendidikan S1 Kedokteran, 5 informan dari setiap upaya wajib puskesmas yang terdiri dari 1 informan dari penanggung jawab bidang Promosi Kesehatan dan Kesehatan Lingkungan yang berusia 52 tahun dengan pendidikan D1 Sekolah Pembantu Penilik Hygiene, 1 informan dari penanggung jawab Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) berusia 44 tahun dengan pendidikan D4 Kebidanan, 1 informan dari penanggung jawab bidang Keluarga Berencana (KB) berusia 42 tahun dengan pendidikan D4 Kebidanan, 1 Informan dari penanggung jawab bidang Gizi berusia 36 tahun dengan pendidikan D3 Keperawatan, 1 informan dari bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit berusia 38 tahun dengan pendidikan D3 Kebidanan, 2 orang pasien dan 2 orang dari kalangan masyarakat. 4.3 Pelaksanaan program promotif dan preventif Puskemas Labuhan Bilik. Berdasarakan hasil wawancara dengan Kepala Puskesmas menyatakan bahwa pelaksanaan program promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik belum. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(49) 34. berjalan maksimal hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan kepala Puskesmas Labuhan Bilik yang menyatakan bahwa: “Pelaksanaannya ada yang di dalam ada yang di luar.kuratifnya tetap. banyak. Sekarang di era JKN ada program tambahan yaitu prolanis akan tetapi kegiatan tersebut tidak berjalan dengan maksimal karena belum sesuai dengan perencanaan, penyusunan rencana kegiatan di puskesmas ini ada. Sebelumnya di awal tahun dibuat POA nya untuk kegiatan atau program yang akan dilakukan. Tapi kenyataannya ya tetap saja pelaksanaannya itu gak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Bentuk-bentuk dari pelayanan promotif dan preventif ya dek, kalau kegiatan promotif yang kami lakukan Upaya dalam menanggulangi DBD yaitu penyuluhan pemberantasan sarang nyamuk, kalau di bidang KIA/ KB ada penyuluhan kepada ibu hamil, penyuluhan KB. Untuk di gizi ada penyuluhan tentang Asi Ekslusif, penyuluhan tentang pentingnya pemberian vitamin A. Kalau bidang penyuluhan pnecegahan dan pengendalian penyakit menular ada bentuk promosi mengenai penanggulangan HIV/ AIDS. Kalau kegiatan preventifnya ada pemantauan Jentik nyamuk, Bidang KIA/ KB ada seperti deteksi dini ibu hamil berisiko, upaya pelayaanan KB, untuk bidang Gizi ada pemberian Vitamin A pada balita, Pemantauan balita BGM” (Informan 1). Pelaksanaan program promotif dan preventif di bidang kesehatan lingkungan, berdasarkan hasil wawancara dengan petugas kesehatan lingkungan menyatakan bahwa: “Kalau kami pelaksanaannya dimulai dari MMD dulu dek sampai SMD, identifikasi masalah dari lintas program dan sektoral. Dari identifkasi masalah itulah lalu dibuat POA. Kalau kami biasanya melakukan penyuluhan tentang pelaksanaan posyandu kepada para kader, penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat, melaksanakan pembinaan PHBS di rumah tangga, memantau pelaksanaan kegiatan di posyandu dan monitoring desa siaga, kayak gitulah dek biasanya. Ibu pun kerjanya ini rangkap sama kesehatan lingkungan makanya kadang bingung dan kadang program lain terhambat, kalau kegiatan kesehtan lingkungan yang ibu pegang seperti pemeriksaan/ pengawasan jamban, memeriksa sanitasi sekolah, pengawasan TPM, pemeriksaan kualitas air minum dan makanan. POA nya ada, kami buat sendiri dek. Tapi tidak semua terlaksana sesuai POA yang udah kami buat. Karna terkadang banyak kendalanya dek. Kalau bisa lebih ditingkatkan lagi, terutama dalam melibatkan lintas sektoral. Jangan ada lagi yang kerja rangkap terutama pemegang program bidang esensial. Sarana prasarananya kalau bisa di lengkapi. Kalau bisa SKM nya dibuat satu pemegang program upaya kesehatan masyarakat. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(50) 35. bidang esensial nya dek agar lebih ngerti, karna kalau disini tenaga SKM dibuat sebagai pemegang BOK, dan satu lagi sebagai Kepala Puskesmas disini dek” (Informan 3) Pelaksanaan program promotif dan preventif di bidang KIA-KB, hasil wawancara didapat adalah sebagai berikut: “Pelaksanaannya terlaksana dek seperti kegiatan kelas ibu hamil, ada biasanya deteksi ibu hamil beresiko, dan penempelan poster-poster gitulah dek. Tetapi sebagian ada juga yang nggak terlaksana dek karena kadang banyak kendalanya. Terkadang dari masyarakatnya. POA ada, kalau di lapangan tidak pernah terlaksana semua, kalau di dalam ada juga tidak terlaksana. Di lapangan ada aja kendalanya . Kemarin padahal kami ada kelas ibu hamil tanggal 16 tapi tidak di laksanakan karna libur mau bulan puasa kan. Besok juga tanggal 16 berikutmya bulan depan gak terlaksana karna lebaran, kadang hujan gak jadi karna becek dek. Kalau bisa disini ada penambahan SKM itu la dek, jalannya juga kalau bisa diperbaiki, supaya kami juga tidak terhambat dalam melakukan kegiatan karena jalannya yang rusak itu” (Informan 4) “Kalau ibu biasanya promotif nya seperti kasi penyuluhan tentang KB di posyandu ikut sama bu wani bagian KIA, itu kalau yang di luar gedung, kalau di dalam gedung ibu biasanya mengingatkan sama pasien yang baru melahirkan, tetapi kadang ada juga yang gak terlaksana kalau di luar gedung, kadang target kami ke 10 desa, tapi hanya 5-6 desalah yang bisa kami kunjungi. POA kalau di puskesmas ini ada dek, awal tahun ada kami buat itu dek” (Informan 5). Pelaksanaan program promotif dan preventif di bidang Gizi, hasil wawancaranya adalah sebagai berikut: “ Kalau pelaksanaannya ada yang didalam gedung dek, ada juga yang diluar, kalau promotifnya kayak penyuluhan gitu dek, kalau yang preventif misalnya kayak pemberian vitamin A, kakak juga kurang paham sama program ini, soalnya kakak baru 1 tahun pegang program ini dek. Kalau POA nya udah ada dek, tapi itu lah walau pun sudah dibuat POA kadang ada juga yang gak terlaksana sesuai POA. Kalau bisa ada pelatihan sebelum ke lapangan, sarana prasarananya dilengkapi” (Informan 6) Pelaksanaan program promotif dan preventif di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit menular, hasil wawancara yang didapat dengan petugas bidang P2M menyatakan bahwa:. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(51) 36. “Kami ngadakan penyuluhan ke 10 desa dek, kadang penyuluhannya dilakukan di posyandu, temu warga. Penyuluhannya seperti DBD, penyuluhan PTM. Posbindu, Penyuluhan HIV/AIDS, pengukuran dan penimbangan berat badan. Kalau POA ada dek, kami yang buat” (Informan 7) Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui bahwa pelaksanaan pelayanaan promotif dan preventif di Puskesmas Labuhan Bilik pelaksanaannya dimulai dari identifikasi masalah-maslaah kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas. Setelah menemukan prioritas masalah maka dibuat POA kegiatan. Kegiatan promotif di Puskesmas Labuhan Bilik berupa yaitu penyuluhan tentang DBD. Bidang KIA/KB seperti penyuluhan kepada ibu hamil, penyuluhan KB dan untuk bidang gizi seperti penyuluhan tentang Asi Ekslusif, penyuluhan tentang pentingnya pemberian Vit. A. Kegiatan promotif bidang penyuluhan pencegahan dan pengendalian penyakit menular seperti bentuk promosi mengenai penanggulangan HIV/AIDS dan penanggulangan DBD yaitu pemberantasan sarang nyamuk . Kegiatan preventif yang ada di Puskesmas Labuhan Bilik seperti pemantauan Jentik nyamuk, Bidang KIA/KB ada seperti deteksi dini ibu hamil berisiko, upaya pelayaanan KB, untuk bidang Gizi yaitu berupa. pemberian. Vitamin A pada balita, Pemnatauan balita BGM. Akan tetapi kenyataannya, pelaksanaan program tersebut belum maksimal karena belum sesuai dengan target-target dan rencana-rencana yang telah ditetapkan oleh puskesmas. Hal ini sesuai dengan penelitian Albertho (2014) menyatakan bahwa perencanaan memiliki pengaruh dan merupakan salah satu tahapan proses untuk mencapai program yang maksimal.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(52) 37. Pelaksanaan program program promotif dan preventif belum berjalan baik dikarenakan kurangnya sarana, prasarana dan peralatan, pendanaan kegiatan promotif dan preventif SDM yang masih kurang serta rendahnya rendahnya partisipasi dari masyarakat wilayah kerja Puskesmas Labuhan Bilik. Hal ini juga sesuai dengan wawancara yang dilakukan yang menyatakan bahwa: “Dari segi jumlah tenaga kesehatan banyak, disni juga ada promotor tambahan yang di danai dari BOK. dia dari bidan, ini la yang membantu promkes, disini tidak ada ahli gizi, promkes gak skm, bukan basicnya dia hanya dari spph kalau bisa kan sebenarnya skm untuk pemegang promkes biar lebih paham. Disini merangkap kerjanya. Kalau disini masyarakat susah di ajak ikut kegiatan, orang itu taunya puskesmas ini hanya tempat berobat saja. Kalau masalah dana, ketika melakukan kegiatan adanya tambahan dana dari JKN, Tanya aja nedi masalah pendanaan itu, sekarang juga ada prolanis sebagai tamabahan dari JKN, kegiatan itu di danai oleh bpjs akan tetapi peserta jkn nya juga sulit dan tidak peduli untuk mengikuti kegiatan tersebut.” (Informan 1) “masyarakat juga kurang partisipasinya dalam mengikuti kegiatan dan menganggap puskesmas hanya tempat berobat saja dek , kalau ada gratis baru ramai datang, selain itu dek, kendala lainnya adanya kerjanya rangkap ini kadang membuat terhambat kegiatan ibu yang lain, terus masalah pendanaan yang lama cair, kalau untuk laptop juga gak ada disediakna dek, infokus ada 1, tapi itu pun rebutan, Baliho ada, kalau leafletnya nggak ada dek ” (Informan 3) “jalan yang rusak itula payah di lewati. Kalau hujan kami tidak jadi melakukan kegiatan ke lapangan karena jalan gak bisa di tempuh sama sekali, terus kadang disini pasang jadi kadang gak jadi pigi juga dek, karna gak bisa lewat ” (Informan 4) “tantangan internalnya tenaga kesehatan yang masih kurang, masalah jalan yang rusak kalau tantangan di luar, kami juga pakai kereta sendiri tidak ada dari dinas, masyarakat yang kurang partisipasinya dalam mengikuti kegaiatan, kalau ada pembagian gratis baru banyak yang datang dek” (Informan 5) “apa ya dek, kendala-kendalanya kalau daerah yang jauh becek makanya kadang kami gak jadi melakukan kegiatan, kadang disini juga pasang kan karna kita dekat dengan laut, kalau udah pasang adek tau kan lama surutnya disini, kadang hampir satu minggu, jadi kegiatan kita pun terhambatla. Ada juga kemarin kami jumpai balita gizi buruk ada 2 atau. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(53) 38. tiga gitu. Tapi jauh kali rumahnya, untuk kesana butuh perjuangan la dek. Udah itu kalau menurut kak karna kak bukan basicnya di gizi jadi lebih susah disini tenaga gizinya gak ada dek satupun gak ada yang benar-benar orang gizi, pelatihan juga gak ada diberikan selain itu tantangan internalnya lama pencairan dana BOK. jadi kalau kami mau melakukan kegaiatan pakai uang kami dulu dek , nanti di ganti sama puskesmas itula yang di ambil dari BOK, tapi dana itu pun lama turunnya” (Informan 6) “kendala kami yang lain waktu melakukan penyuluhan masyarakatnya sudah pulang sebelum kegiatan selesai, terkadang pun yang datang hanya sedikit” (Informan 7) Sarana dan prasarana merupakan suatu aspek terpenting dalam mencapai target-target dari program-program yang dibuat oleh Puskesmas. Namun kenyataannya yang terjadi di Puskesmas Labuhan Bilik perhatian pemerintah terhadap kelengkapan sarana, prasarana serta peralatan dalam melaksanakan upaya promotif dan preventif masih kurang. Berdasarkan pernyataan di atas bahwa bila dilihat juga dari segi sarana, prasarana, dan peralatan Puskesmas Labuhan Bilik kurang mendukung baik pada saat penyuluhan dan transportasi juga kurang ketika melaksanakan kegiatan promotif dan preventif. Tantangan eksternal yang dihadapi yaitu juga seringnya terjadi banjir pasang karena keadaan geografis yang dekat dengan laut, dan kesulitan akses ke daerah/ lokasi penduduk untuk mengadakan penyuluhan. Kondisi geografis sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan puskesmas sebagai contoh kasus gizi buruk yang masih ditemukan, hal ini dikarenakan kurangnya upaya perbaikian gizi masyarakat yang merupakan upaya kesehatan wajib terutama untuk daerah yang jauh dari wilayah kerja puskesmas. Untuk pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif, seperti penyuluhan, tenaga kesehatan di Puskesmas Labuhan Bilik masih kebanyakan tenaga. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(54) 39. kesehatan yang melakukan penyuluhan dengan cara manual, berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan petugas KIA/KB dan Gzi menyatakan bahwa: “kalau menurut ibu kurang, disini banyak bidan perawat, skmnya masih kurang. Kalau kesiapan tenaga kesehatan sekedar dilapangan masih bisa. Kau infokus nggak pernah kami bawa kelapanagan, kami hanya pakaiyang lembar balik itu aja. Penyuluhan yang kami lakukan disini juga masih manual” (Informan 4). “Gimana ya dek, kalau menurut kakak kurang, karna memang butuh yang basicnya gizi, kalau kak kan kurang ngerti. Disini gak ada pelatihan, kadang bu kapus ikut juga di kegiatan kami, dia la yang memberikan penyuluhan. Sarana prasarana kuarang, kalau bisa di kasi kereta, kadang rusak kereta kita, kita juga yang menanggungnya, kalau infokus biasanya kalau dokter ikut ke lapanagan baru bawa infokus, itu pun infokusnya hanya 1 kadang berebut. Kalau orang kak penyuluhannya tidak pakai pakai apa-apa”(Informan 6) Media promosi kesehatan tersebut dirasakan belum begitu maksimal untuk digunakan dalam penyuluhan tenaga kesehatan. Tenaga Kesehatan di Puskesmas Labuhan Bilik masih melakukan penyuluhan dengan cara manual, perhatian pemerintah terhadap kelengkapan sarana, prasarana serta peralatan dalam melaksanakan upaya promotif dan preventif masing kurang contohnya laptop, leaflet, infocus, media promosi, dan jalan yang rusak yang menghambat kelancaran kegiatan. Selain itu, hal yang sangat dirasakan oleh tenaga kesehatan mengenai sarana dan prasarana yang masih kurang adalah transportasi yang belum memadai. Puskesmas hanya memiliki kendaraan dinas yaitu 1 ambulance dan 1 kereta Dinas. Kondisi geografis wilayah kerja Puskesmas sangat luas dan jarak antar desa sangat berjauhan dan umumnya terletak di daerah pelosok, sehingga membutuhakan transportasi yang memadai untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan ke desa misalnya. Namun kendaraan dinas yang dimiliki Puskesmas tidak setiap saat ada di Puskesmas dikarenakan digunakan untuk keperluan lain,. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(55) 40. mengakibatkan timbul kendala untuk melaksanakan penyuluhan ke masyarakat yang letak desa nya sangat jauh dari Puskesmas Labuhan Bilik. Transportasi yang tidak memadai memaksa tenaga kesehatan untuk menggunakan kendaraan pribadi, tapi tenaga kesehatan yang bertugas dengan menggunakan kendaraan pribadi pada umumnya jadi memilih desa yang terdekat dengan Puskesmas untuk melaksanakan pelayanan promotif dan preventif melalui UKM. Dengan demikian menyebabkan tidak meratanya pelaksananaan pelayanan kesehatan untuk semua masyarakat yang tinggal di desa-desa yang berada pada wilayah kerja puskesmas sehingga pelayanan promotif dan preventif tidak terlaksana secara maksimal dan hasil cakupannya pun masih rendah. Sarana prasarana merupakan suatu aspek terpenting dalam mencapai target dari kegiatankegiatan yang dibuat oleh puskesmas. Hal ini sesuai dengan penelitian Hermiyanti (2016) yang menyatakan adanya fasilitas/sarana diposisikan sebagai faktor pendukung untuk keberhasilan suatu kegaiatan. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sumber daya manusia Puskesmas terdiri atas Tenaga Kesehatan dan tenaga non kesehatan (Permenkes RI No.75 Tahun 2014). Sebagai pelaksana upaya kesehatan, diperlukan sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis dan kualitasnya, serta terdistribusi secara adil dan merata, sesuai tuntutan kebutuhan pembangunan kesehatan. Puskesmas Labuhan Bilik yang menyediakan fasilitas rawat inap ini. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(56) 41. memiliki 6 dokter umum, 1 dokter gigi, Perawat 36 orang, Bidan 14 orang, Tenaga Kesehatan Masyarakat 2 orang, Tenaga Ahli Sanitasi 1 orang, Tenaga Teknisi Lab 1 orang, dan Apoteker 1 orang. Jumlah tenaga kesehatan yang melaksanakan program promotif dan preventif belum mencukupi dikarenakan masih terdapat kerja rangkap yaitu pemegang bidang promosi kesehatan juga sebagai pemegang program bidang kesehatan. lingkungan. yang. menyebabkan. terhambatnya. kegiatan. yang. dilaksanakan. Sumber daya merupakan faktor penting untuk pelaksanaan program supaya efektif. Apabila pelaksana kekurangan sumber daya maka program tidak akan berjalan efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Subarsono (2008) bahwa ketersediaan sumber daya akan berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi. Kendala yang dihadapi yaitu adanya jabatan fungsional yang tidak sesuai dengan tupoksi masing-masing serta tidak adanya pelatihan kepada tenaga kesehatan di puskesmas sebelum melaksanakan tersebut. Hal tersebut berdampak pada kualitas kemampuan sehingga kurang optimal ketika terjun langsung ke masyarakat untuk melaksanakan pelayanan kesehatan. Menurut informan menyatakan bahwa untuk tenaga gizi di Puskesmas Labuhan Bilik juga tidak ada, menurutnya jabatan yang ia pegang tidak sesuai dengan tupoksinya yang menyebabkan kurang memahami dari program tersebut serta pelatihan juga tidak ada. Hal ini sesuai dengan penelitian Nadya, dkk (2013) menyatakan bahwa kurangnya tenaga kesehatan khusus dan tidak adanya pelatihan sebelum kegiatan tersebut berlangsung akan membuat kegiatan promotif dan preventif berjalan kurang maksimal.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(57) 42. Menurut Depkes (2003) tentang kebijakan dan strategi desentralisasi Bidang Kesehatan disebutkan bahwa dalam memantapkan sistem manajemen sumber daya manusia kesehatan perlu dilakukan peningkatan dan pemantapan perencanaan, pengadaan tenaga kesehatan, pendayagunaan dan pemberdayaan profesi kesehatan. Dalam meningkatan kualitas kemampuan tenaga kesehatan dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan yang sudah ada. Pengembangan pendidikan kesehatan diarahkan untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan yang berkualitas dalam melaksanakan pelayanan promotif dan preventif. Menurut Kepala Puskesmas Labuhan Bilik kesiapan dari tenaga kesehatan belum maksimal karena kemampuan atau skill SDM yang ada di Puskesmas dalam memberikan pelayanan promotif dan preventif masih perlu ditingkatkan lagi. Selain itu, menurut pernyataan beberapa informan, tenaga penyuluh kesehatan terutama tenaga kesehatan masyarakat masih belum mencukupi menyebabkan kegiatan promotif dan preventif berjalan kurang optimal. Tenaga kesehatan seharusnya dalam memberikan pelayanan kesehatan memiliki kompetensi yang berkualitas dan taat dengan prosedur. Dilihat dari pengamatan didapat bahwa saat ini masih banyak masyarakat yang menerima pelayanan kesehatan promotif dan preventif tidak memenuhi syarat yang dijelaskan sebelumnya. Keterbatasan kemampuan atau skill dari tenaga kesehatan dalam melaksanakan upaya promotif dan preventif melalui UKM terjadi karena kurangnya tenaga kesehatan sesuai dengan kompetensi dan kurangnya pelatihan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

Referensi

Dokumen terkait

Namun pada kenyataannya yang terjadi adalah pelaksanaan pelayanan preventif dan promotif untuk penyakit ISPA di Puskesmas Sukaramai belum begitu menunjukkan hasil

1. Pelayanan promotif dan preventif pada program JKN di Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli masih belum berjalan maksimal dan belum terlaksana sesuai dengan yang diamanahkan

Ketika Bapak/Ibu ke Puskesmas, apa yang Bapak/Ibu ketahui tentang pelayanan promotif dan preventif seperti penyuluhan kesehatan dan pelayanan pencegahan penyakit.. Apakah

Pernyataan Informan tentang Strategi yang Dilakukan Dalam Mengatasi Kendala Internal dan Eksternal Progam Preventif dan Promotif untuk Penyakit ISPA di Puskesmas

peningkatan upaya preventif dan promotif termasuk pencegahan kasus baru penyakit dalam pengendalian penyakit menular terutama TB, HIV, dan malaria dan penyakit tidak menular;

Tahun 1984 Dikembangkan program paket terpadu kesehatan dan keluarga berencana di Puskesmas (KIA, KB, Gizi, Penaggulangan Diare, Immunisasi) Awal

Bagaimanakah pengaruh kondisi intergroup contact antara group manajerial, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, KIA dan KB, pelayanan gizi, pelayanan pencegahan

Namun demikian kegiatan pokok Puskesmas yang seharusnya dilaksanakan adalah sebagai berikut : KIA, Keluarga Berencana, Usaha Perbaikan Gizi, Kesehatan Lingkungan,