• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh EVI MARTALINDA HAREFA /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh EVI MARTALINDA HAREFA /IKM"

Copied!
185
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh

EVI MARTALINDA HAREFA 147032164/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(2)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

OLEH

EVI MARTALINDA HAREFA 147032164

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(3)
(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes Anggota : 1. Drs. Tukiman, M.K.M

2. Dr. Juanita, S.E, M.Kes 3. Dra. Syarifah, M.S

(5)

KESEHATAN TINGKAT PERTAMA PUSKESMAS WILAYAH KOTA GUNUNGSITOLI TAHUN 2016

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Juni 2016

Evi MartaLinda Harefa 147032164/IKM

(6)

dengan amanah Undang – Undang. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimanakah pelaksanaan dan apa determinan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan dan determinan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli.

Jenis penelitian ini adalah penelitian survei dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi sedangkan data

sekunder diperoleh melalui penelusuran dokumen Dinas Kesehatan dan Puskesmas.

Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN belum sesuai dengan amanah Undang – Undang. Peraturan belum mendukung pelaksanaan pelayanan. Sumberdaya Puskesmas masih terbatas baik tenaga kesehatan maupun sarana dan prasarana akan tetapi pembiayaan kesehatan sudah mencukupi. Sarana komunikasi mendukung pelaksanaan pelayanan. Pimpinan mampu mengarahkan pegawai melaksanakan pelayanan. Pegawai memiliki pandangan mengabdi untuk puskesmas, mau dipimpin, antara pegawai terpelihara tim kerja akan tetapi pengetahuan dan keterampilan masih terbatas. Kepedulian masyarakat terhadap kesehatan masih rendah.

Diharapkan kepada Dinas Kesehatan dan BPJS untuk melakukan sosialisasi tentang peraturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN, memenuhi sumberdaya yang dibutuhkan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SDMnya, dan membuat strategi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan.

Kata Kunci : Pelayanan, Promotif, Preventif, Program JKN

(7)

question is how to exercise and what the determinant of service implementation promotive and preventive programs in FKTP JKN Gunungsitoli Regional Health Center. The purpose of this study was to determine how the implementation and execution determinant promotive and preventive programs in FKTP JKN Gunungsitoli Regional Health Center.

This’s a survey with a qualitative approach. The primary data obtained through interviews, observation and documentation, while secondary data obtained through the document search Health Department and Community Health Center.

The results showed the implementation of promotive and preventive JKN’s programs has not been match with the regulations. Regulations do not support the implementation of the service. The Regional Health Center’s resource is limited both of facilities and infrastructure but health funding is sufficient. Communication support the implementation of the service. Leaders capable of directing an employee to carry out services. Employees have high integrity, willing to be led, Good working team but the knowledge and skills are still limited. Public awareness of the health remains low.

Department of Health and BPJS is expected to socialize the regulations of implementing promotion and preventive services at JKN program, meet the necessary resources, increase the knowledge and skills of its people, and create a strategy to increase public awareness of health.

Key Word : Services, Promotive, Preventive, JKN Program

(8)

KaruniaNyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul ” Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program Jaminan Kesehatan Nasional di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Puskesmas Wilayah Kota gunungsitoli tahun 2016”.

Tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.

Dalam menyusun tesis ini penulis mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara atas kesempatan penulis menjadi mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

(9)

4. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes, selaku Ketua Komisi Pembimbing atas segala ketulusannya dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, dorongan, saran dan perhatian selama proses Tesis ini selesai.

5. Drs. Tukiman, M.K.M selaku Anggota Komisi Pembimbing atas segala ketulusannya dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, dorongan, saran dan perhatian selama proses Tesis ini selesai.

6. Dr. Juanita, S.E, M.Kes dan Dra. Syarifah, M.S selaku Komisi Penguji yang memberikan kritik dan masukan dalam penulisan tesis ini.

7. Bapak Bupati Nias dan Bapak Wakil Bupati Nias yang telah memberikan izin tugas belajar kepada penulis.

8. Kepala Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan kepada penulis dalam rangka menyelesaikan tesis ini.

9. Bapak/ Ibu yang telah berpartisipasi dan bersedia menjadi informan dalam penelitian ini.

10. Bapak/ Ibu Dosen, Staf dan semua pihak yang terkait di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

11. Ucapan terima kasih yang tulus saya tujukan kepada orangtua Ayahanda Ya’aro Harefa dan Ibunda Tiominar Damanik, Adinda Deno Vriyanto Harefa

(10)

Janeeta Calie Beneeta Nidya Telaumbanua atas dorongan semangat hingga penulis termotivasi untuk menyelesaikan Tesis ini.

10. Teman-teman seperjuangan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, atas bantuannya dan memberikan semangat dalam penyusunan Tesis ini.

Akhirnya saya menyadari segala keterbatasan yang ada. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan Tesis ini, dengan harapan, semoga Tesis ini bermanfaat bagi penentu kebijakan di bidang administrasi dan kebijakan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Medan, Juli 2016 Penulis

Evi Marta Linda Harefa 147032164/IKM

(11)

Tempat/ Tanggal Lahir : Gunungsitoli, 19 Maret 1984

Agama : Kristen Protestan

Alamat : Onowaembo, Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli

Riwayat Pendidikan : 1. TK Cenderawasih Gunungsitoli tahun 1995 2. SD Mutiara Gunungsitoli tahun1996 3. SLTP Negeri 1 Gunungsitoli tahun 1999 4. SLTA Negeri 1 Gunungsitoli tahun 2002 5. D III Keperawatan YBS Medan tahun 2005 6. D IV Poltekkes Depkes RI Jurusan KMB tahun

2008

7. Mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat USU tahun 2014

Riwayat Pekerjaan : 1. Staf Pengajar Akademi Keperawatan Gunungsitoli tahun 2005

2. PNS Kabupaten Nias tahun 2006

3. Staf Keperawatan RSUD Gunungsitoli tahun 2006 4. Pudir II Akademi Keperawatan Gunungsitoli tahun

2012

(12)

KATA PENGANTAR ………...……….... iii

RIWAYAT HIDUP ………...……… vi

DAFTAR ISI ……….. vii

DAFTAR TABEL ………...……….. x

DAFTAR GAMBAR ………. xii

DAFTAR LAMPIRAN ………. Xii i BAB 1. PENDAHULUAN ………. 1

1.1 LatarBelakang ……… 1

1.2 Pertanyaan Penelitian …...………... 14

1.3 Tujuan Penelitian ……… 14

1.4 Manfaat Penelitian ... 15

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ……….... 16

2.1 Asuransi ………... 16

2.1.1 Pengertian Asuransi ……….. 16

2.1.2 Manfaat Asuransi ………..………...……. 16

2.1.3 Asuransi Komersial dan Sosial ……….……… 17

2.2 Asuransi Kesehatan ………...………. 18

2.3 Sistem Jaminan Sosial Nasional ……….….... 19

2.3.1 Pengertian Jaminan Sosial ………... 19

2.3.2 Fungsi JaminanSosial ………..….…... 20

2.4 Jaminan Kesehatan Nasional ……….. 21

2.4.1 Pengertian Jaminan Kesehatan ..……… 21

2.4.2 Pengertian Jaminan Kesehatan Nasional ..……… 21

2.4.3 Prinsip – Prinsip Jaminan Kesehatan Nasional …..…... 22

2.4.4 Beberapa Peraturan Terkait dengan Jaminan Kesehatan Nasional ………... 24

2.5 Puskesmas ………...……… 29

2.5.1 Defenisi Puskesmas …………...………. 29

2.5.2 Tujuan Puskesmas ………..………... 30

2.5.3 Fungsi Puskesmas ……….……… 30

2.5.4 Peran Puskesmas ………..………. 33

2.5.5 Upaya Penyelenggaraan ………..…….. 33

2.5.6 Fungsi Aktuasi/ Pelaksanaan Puskesmas ……..……… 35

2.6 Pelayanan Kesehatan ………...…... 38

2.6.1 Defenisi Pelayanan Kesehatan ………..……… 38

(13)

BAB 3. METODE PENELITIAN ………...……… 50

3.1 Jenis Penelitian ………...……… 50

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ……….……….... 50

3.3 Informan Penelitian ……….…………... 51

3.4 Metode Pengumpulan Data………. 54

3.4.1 Data Primer ……….……….. 54

3.4.2 Data Sekunder …….……….…………. 55

3.5 Variabel dan Definisi Istilah ………..……… 55

3.6 Pemeriksaan Keabsahan Data dan Teknik Analisis Data ... 56

3.6.1 Pemeriksaan Keabsahan Data... 56

3.6.2 Teknik Analisa Data... 57

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 59

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ………... 59

4.1.1 Gambaran Geografis Kota Gunungsitoli ……...……. 59

4.1.2 Gambaran Kependudukan Kota Gunungsitoli ……….. 59

4.1.3 Gambaran Fasilitas Kesehatan Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli dan Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan... …... 60

4.1.4 Gambaran Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli dan Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan …...……… 62

4.1.5 Gambaran Cakupan Kepesertaan JKN di Wilayah Kota Gunungsitoli ……...……… 64

4.1.6 Angka Rujukan Puskesmas Ke Rumah Sakit... 65

4.1.7 Jumlah Kunjungan Pasien JKN ……….……... 66

4.1.8 Daftar Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi …... 67

4.1.9 Anggaran Non Kapitasi ……….... 76

4.2 Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program Jaminan Kesehatan Nasional Di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli ... 78

4.3 Determinan Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif Pada Program JKN di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli... 85

4.3.1 Determinan Peraturan... 85

4.3.2 Determinan Sumberdaya ………..……….… 90

4.3.3 Determinan Sarana Komunikasi ………... 101

(14)

5.1 Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program

JKN di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli ……….. 117

5.2 Determinan Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif Pada Program JKN di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli ……. 123

5.2.1 Determinan Peraturan dalam Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program JKN di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli ………... 123

5.2.2 Determinan Sumberdaya dalam Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program JKN di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli ……… 128

5.2.3 Determinan Sarana Komunikasi dalam Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif Pada Program JKN di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli ……… 136

5.2.4 Determinan Kepemimpinan dalam Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program JKN di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli ……… 138

5.2.5 Determinan Pegawai dalam Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif Pada Program JKN di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli ………...… 141

5.2.6 Determinan Masyarakat dalam Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program JKN di FKTP Wilayah Kota Gunungsitoli ………...…… 143

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 145

6.1 Kesimpulan ………. 145

6.2 Saran ... 149

DAFTAR PUSTAKA ... 152 LAMPIRAN

(15)

2.1 Perbedaan Asuransi Sosial dan Asuransi Komersil ... 18

3.1 Data Umum Informan ... 52

3.2 Defenisi Istilah Penelitian ... 55

4.1 Jumlah Penduduk Per Kecamatan di Kota Gunungsitoli ... 60

4.2 Gambaran Fasilitas Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli dan Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan ... 61

4.3 Gambaran Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli dan Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan ... 62

4.4 Gambaran Cakupan Kepesertaan JKN di Wilayah Kota Gunungsitoli ... 64

4.5 Angka Rujukan Puskesmas ke Rumah Sakit Januari s.d Maret 2016 di Kota Gunungsitoli ... 65

4.6 Jumlah Kunjungan Peserta JKN di Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli dan Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan ... 67

4.7 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli Januari Tahun 2015 ... 68

4.8 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli February Tahun 2015 ... 68

4.9 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli Maret Tahun 2015 ... 69

4.10 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli April Tahun 2015 ... 69

4.11 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli Mei Tahun 2015 ... 70

4.12 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli Juni Tahun 2015... 70

4.13 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli Juli Tahun 2015... 71

(16)

4.16 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas

Wilayah Kota Gunungsitoli Oktober Tahun 2015 ... 72 4.17 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas

Wilayah Kota Gunungsitoli November Tahun 2015... 73 4.18 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas

Wilayah Kota Gunungsitoli Desember Tahun 2015 ... 73 4.19 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas

Wilayah Kota Gunungsitoli Januari Tahun 2016 ... 74 4.20 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas

Wilayah Kota Gunungsitoli Februari Tahun 2016 ... 74 4.21 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas

Wilayah Kota Gunungsitoli Maret Tahun 2016 ... 75 4.22 Jumlah Peserta JKN dan Anggaran Total Kapitasi di Puskesmas

Wilayah Kota Gunungsitoli April Tahun 2016 ... 75

(17)

2.1 Fokus Penelitian ... 49

(18)

1 Waktu Penelitian ... 1

2 Surat Survei Pendahuluan ... 2

3 Surat Izin Penelitian ... 3

4 Surat Rekomendasi Survei Penelitian ... 4

5 Surat Rekomendasi Penelitian... 5

(19)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Program Jaminan Kesehatan Nasional merupakan Program Pemerintah yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui perlindungan kesehatan yang diberikan kepada peserta untuk memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Program Jaminan Kesehatan merupakan perwujudan komitmen Nasional Bangsa Indonesia yang menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita – cita Bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 yang akhirnya dituangkan dalam Undang – Undang nomor 40 tahun 2004 yang menyatakan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional dengan menggunakan sistem asuransi kesehatan. Sistem asuransi kesehatan bukan merupakan istilah yang asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia karena sebelum adanya Jaminan Kesehatan Nasional, telah dikembangkan beberapa jaminan kesehatan yang menggunakan sistem asuransi kesehatan seperti

(20)

ASKES, JAMSOSTEK, ASABRI, JAMKESMAS. Konsep yang ditawarkan oleh Jaminan Kesehatan Nasional dengan Jaminan Kesehatan yang sebelumnya pada dasarnya sama. Perbedaannya yang cukup terlihat adalah dari sisi cakupan kepesertaan. Dalam Jaminan Kesehatan Nasional kepesertaan bersifat wajib untuk seluruh penduduk Indonesia ( Depkes, 2015 ).

Dilihat dari rancangan awal pembentukannya, Jaminan Kesehatan Nasional merupakan suatu program yang amat mulia dan sangat berguna bagi penduduk Indonesia. Namun dalam menjalani sebuah program tidaklah semudah membalikkan telapak tangan apalagi Jaminan Kesehatan Nasional merupakan program yang cakupan sasarannya cukup besar yaitu seluruh penduduk Indonesia.

Dalam Peraturan Presiden no. 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan menyatakan bahwa setiap peserta berhak memperoleh manfaat Jaminan Kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan perorangan, mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan.

Adapun manfaat pelayanan promotif dan preventif yang dapat diperoleh peserta Jaminan Kesehatan Nasional tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan no. 28 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional meliputi penyuluhan kesehatan perseorangan, imunisasi dasar, keluarga berencana dan pelayanan skrining kesehatan.

Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang berfungsi menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan

(21)

tingkat pertama berupaya agar masyarakat peserta Jaminan Kesehatan Nasional dapat memperoleh manfaat promotif dan preventif yang telah dijamin dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional.

Akan tetapi hingga kini masih sering ditemukan pemandangan umum dimana Puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional masih berfokus pada pendekatan kuratif dari pada promotif dan preventif (AIPHSS.org ).

Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Fadjriadinur ( Direktur Pelayanan BPJS Kesehatan ) yang menyatakan bahwa tingkat rujukan dari FKTP ke RS pada tahun 2015 mencapai 15,3 %. Idealnya maksimal rerata tingkat rujukan FKTP ke RS tidak boleh lebih dari 10 % ( Kebijakan Kesehatan Indonesia, 2015 ).

Demikian juga berdasarkan data hasil evaluasi satu tahun implementasi JKN, menunjukkan dana JKN sebagian besar terserap untuk pengobatan beberapa penyakit antara lain : penyakit jantung, ginjal, diabetes melitus dan penyakit katastropik yang menyedot biaya sangat besar. Seharusnya penyakit ini dapat dicegah dengan meningkatkan upaya promotif dan preventif kepada masyarakat, utamanya di layanan primer yaitu Puskesmas (Depkes, 2015).

Selain itu juga Puskesmas sebagai salah satu pelaksana program JKN, masih belum menjalankan pelayanan promotif dan preventif secara maksimal. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Atia ( 2015 ) yang berjudul analisis sistem pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif dalam era jaminan kesehatan nasional (JKN) di Puskesmas Bungus Padang tahun 2015 menyatakan bahwa pelaksanaan

(22)

pelayanan promotif dan preventif di era JKN di Puskesmas Bungus pada tahun kedua pelaksanaannya terjadi peningkatan. Hanya saja pada kegiatan penyuluhan kesehatan dan skrining masih belum terlaksana dengan baik. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif di Puskesmas masih belum berjalan dengan baik.

Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi ( 2014 ) yang berjudul Analisis Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif dalam Era Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN ) di Puskesmas Belawan tahun 2014 yang menyatakan bahwa upaya kesehatan perorangan yang telah dilakukan oleh Puskesmas terkait dengan pelayanan promotif dan preventif adalah home visit TB mangkir, home visit gizi buruk/ gizi kurang, dan konseling mengenai penyakit tidak menular di pos pembinaan terpadu ( POSBINDU ). Sementara kegiatan skrining kesehatan masih belum dilaksanakan.

Menurut Sastrianegara (2014) suksesnya fungsi pelaksanaan Puskesmas diperlukan berbagai faktor, yaitu faktor organisasi ( peraturan, sumberdaya, sarana komunikasi, dan kepemimpinan ) dan faktor pegawai ( memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, pandangan bahwa pengabdian untuk puskesmas/ negara, mau dipimpin dan terpeliharanya tim kerja.

Peraturan adalah segala ketentuan yang mengatur terselenggaranya kegiatan kepegawaian dan program Puskesmas serta adanya kepastian perkembangan Puskesmas baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Menurut Moenir ( 2010 ) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia menyatakan

(23)

bahwa faktor aturan juga merupakan faktor pendukung dalam pelayanan publik yang memadai. Faktor aturan yang menjadi landasan kerja pelayanan yaitu merupakan perangkat penting dalam segala tindakan dan perbuatan orang. Faktor ini menyangkut segala ketentuan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang berlaku di dalam organisasi yang meliputi mengenai waktu kerja, cara kerja, kedisiplinan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemberian sanksi terhadap pelanggaran kerja serta ketentuan – ketentuan lain yang telah disimpan.

Sumber daya adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk kegiatan dan program Puskesmas yang didasarkan pada suatu pengkajian yang dapat dipertanggungjawabkan, yang meliputi aspek kuantitas, kualitas dan aktualitasnya (Sastrianegara, 2014). Keberhasilan pelaksanaan suatu program tergantung kemampuan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Manusia merupakan sumberdaya yang terpenting dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu program. Selain sumber daya manusia, sumber daya finansial dan sumberdaya sarana dan prasarana dapat memperlancar pelaksanaan suatu program.

Manusia sebagai sumber daya yang potensial paling menentukan dibandingkan dengan sumber daya lainnya. Tanpa sumber daya manusia kesehatan yang handal, pengolahan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya lainnya akan menjadi tidak efektif, efisien, dan produktif. Tenaga kesehatan sebagai sumber daya manusia kesehatan memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat agar masyarakat mampu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat sehingga akan

(24)

terwujud derajat kesehatan yang setinggi – tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi serta sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Di era globalisasi saat sekarang ini, dimana pengetahuan dan tekhnologi yang semakin berkembang menuntut adanya penyesuaian dari suatu organisasi baik Pemerintah maupun Swasta termasuk juga pemenuhan akan tersedianya sarana dan prasarana kerja yang baik yang dibutuhkan dalam suatu organisasi. Sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh dalam mengimplementasikan program kesehatan. Tersedianya fasilitas dan penunjang lainnya akan mendukung keberhasilan implementasi suatu program atau kebijakan.

Meningkatkan sarana dan prasarana kerja merupakan salah satu upaya untuk memperlancar pelaksanaan tugas, sehingga kendala – kendala yang dihadapi oleh pegawai dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan secara bertahap dapat diminimalisir serta pelayanan yang diberikan dapat menjadi lebih baik.

Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan. Dalam pelaksanaan program, faktor pendanaan sangatlah krusial. Faktor pendanaan merupakan salah satu yang menentukan bahwa kebijakan itu berjalan atau tidak. Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh George C.Edwards III yang menyatakan bahwa implementasi kebijakan dipengaruhi oleh komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur birokrasi.

Sumber daya dalam hal ini adalah sumber daya manusia, materi dan metoda. Hal ini

(25)

juga didukung oleh teori Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier yang menyatakan bahwa besarnya alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan mempengaruhi pelaksanaan suatu kebijakan. Sumberdaya keuangan adalah faktor krusial untuk setiap program sosial. Setiap program juga memerlukan dukungan staf untuk melakukan pekerjaan – pekerjaan administrasi dan teknis, serta memonitor program, yang semuanya itu memerlukan biaya ( Subarsono, 2008 ).

Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Purwitayana (2013) yang berjudul Faktor – Faktor Determinan Yang Mempengaruhi Implementasi Program Jaminan Kesehatan Bali Mandara di RSUD Wangaya Denpasar. Dimana hasil penelitiannya mengatakan bahwa tujuan dari program JKBM yaitu meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat Propinsi Bali agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien tidak sejalan dengan apa yang telah dituliskan di lapangan oleh karena keterbatasan anggaran sharing yang dimiliki Pemerintah Propinsi Bali sehingga beberapa pelayanan kesehatan seperti kecelakaan, operasi jantung, kanker tidak dijamin dalam program tersebut.

Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok kearah tercapainya suatu tujuan ( Robbins, 2006 ). Dalam suatu organisasi sangat dibutuhkan kepemimpinan yang baik dari pimpinan organisasi agar tujuan organisasi dapat tercapai. Demikian juga di fasilitas pelayanan kesehatan secara khusus di Puskesmas sangat dibutuhkan sosok pimpinan yang memiliki kepemimpinan yang baik sehingga pelaksanaan program di Puskesmas dapat berjalan dengan baik.

(26)

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rajagukguk, dkk (2013) yang berjudul Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Budaya Kerja terhadap Kinerja Pegawai Puskesmas se – Kabupaten Seluma, dimana hasil penelitian menyatakan bahwa gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Puskesmas di Kabupaten Seluma.

Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Panjaitan ( 2010 ) yang berjudul Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kinerja Paramedis Dan Dampaknya Pada Mutu Pelayanan Di RSUD Pasuruan. Dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan di RSUD Pasuruan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa cukup besar peranan faktor kepemimpinan di RSUD Pasuruan bila dihubungkan dengan kinerja Paramedis. Temuan penelitian ini menginformasikan bahwa variabel kepemimpinan mempunyai kaitan yang positif terhadap kinerja paramedis di RSUD Pasuruan.

Menurut Efendy ( 2000) komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang – lambang bermakna bagi kedua pihak, dalam situasi tertentu komunikasi menggunakan media tertentu untuk merubah sikap atau tingkah laku seseorang atau sejumlah orang sehingga ada efek tertentu yang diharapkan. Puskesmas sebagai suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang berada digaris terdepan dibidang kesehatan masyarakat, juga tidak luput dari pentingnya komunikasi. Pimpinan Puskesmas selaku pimpinan bertanggungjawab langsung terhadap berfungsinya komunikasi secara kondusif antara dirinya selaku komunikator dengan para staf selaku

(27)

komunikan. Program dalam Puskesmas dapat berjalan dengan baik jika disertai komunikasi yang baik. Semua aktivitas kebanyakan dicakup dalam komunikasi, dimana komunikasi merupakan dasar bagi tindakan dan kerjasama.

Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu – individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan – hubungan antara entitas – entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama yang lain).

Umumnya istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Masyarakat juga termasuk variabel yang mempengaruhi keberhasilan proses implementasi. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Soren C. Winter.

Beliau berpendapat bahwa variabel yang mempengaruhi keberhasilan proses implementasi salah satunya adalah perilaku kelompok sasaran. Kelompok sasaran tidak hanya memberi pengaruh pada dampak kebijakan tetapi juga mempengaruhi kinerja aparat tingkat bawah. Jika dampak yang ditimbulkan baik maka kinerja aparat tingkat bawah juga baik demikian dengan sebaliknya. Perilaku kelompok sasaran meliputi respon positif atau negatif masyarakat dalam mendukung atau tidak mendukung suatu kebijakan yang disertai adanya umpan balik berupa tanggapan kelompok sasaran terhadap kebijakan yang dibuat. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Mazmanian dan Sabatier yang menyatakan bahwa variabel lingkungan merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi.

(28)

Indikator dari variabel lingkungan tersebut antara lain kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi, dukungan publik terhadap suatu kebijakan, sikap dari kelompok pemilih (constituency groups) dan tingkat komitmen dan keterampilan dari aparat dan implementor ( Subarsono, 2008 ).

Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli yang berada di Wilayah Kota Gunungsitoli memiliki 6 Puskesmas. Sampai dengan akhir tahun 2014, dari 6 Puskesmas yang berada di Wilayah Kota Gunungsitoli, 2 Puskesmas adalah Puskesmas Perawatan, yaitu UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Idanoi dan UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan dan 4 Puskesmas lainnya adalah Puskesmas Non Perawatan ( Profil Kesehatan Kota Gunungsitoli tahun 2014 ).

Di Wilayah Kota Gunungsitoli, Puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama masih belum melaksanakan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN secara maksimal. Pemerintah Daerah Kota Gunungsitoli telah menerbitkan Peraturan Walikota Gunungsitoli no. 8 tahun 2015 tentang Pedoman Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di Kota Gunungsitoli Tahun Anggaran 2015.

Peraturan tersebut menyatakan bahwa dari dana kapitasi 40 % untuk dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan 30 % digunakan untuk pengadaan obat dan 70 % digunakan untuk upaya kesehatan perseorangan baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Ditetapkannya aturan tersebut tidak membuat pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN berjalan sesuai dengan yang diamanahkan Undang – Undang.

(29)

Berdasarkan keterangan dari Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Dinas Kesehatan Gunungsitoli menyatakan tingginya persentase rujukan pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional dari Puskesmas ke RSUD Gunungsitoli pada tahun 2015 yaitu 27,3 % dari total kunjungan pasien peserta JKN. Angka tersebut meningkat cukup tinggi jika dibandingkan dengan persentase rujukan pasien peserta JKN tahun 2014 yaitu sebesar 16,6 %.

Dari Profil Kesehatan Kota Gunungsitoli tahun 2014 diperoleh data bahwa di Kota Gunungsitoli pada tahun 2014 masih didominasi oleh penyakit – penyakit yang berbasis lingkungan ( environment basic ) dan penyakit – penyakit yang dipengaruhi perilaku. Berikut adalah 10 jenis penyakit terbanyak di Kota Gunungsitoli tahun 2014 : gastritis sebesar 9367 kasus, penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat sebesar 9270 kasus, penyakit ISPA sebesar 8973 kasus, penyakit malaria klinis sebesar 5275 kasus, penyakit hipertensi sebesar 3299 kasus, penyakit kulit alergi sebesar 2681 kasus, penyakit kulit infeksi sebesar 1936 kasus, penyakit anemia sebesar 1825 kasus, penyakit diare sebesar 688 kasus, penyakit kecelakaan dan ruda paksa sebesar 472 kasus.

Dari 6 Puskesmas yang ada di Wilayah Kota Gunungsitoli, Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli merupakan Puskesmas yang paling banyak peserta terdaftar JKN. Terdapat 44.917 peserta JKN kelompok apapun, termasuk Jamkesmas dan Askes Sosial. Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli menempati urutan pertama sebagai peserta terdaftar Jamkesmas terbanyak dari seluruh Puskesmas yang ada di Kota Gunungsitoli. Kemudian peserta Jamkesmas ini secara otomatis berubah menjadi

(30)

peserta JKN sejak tanggal 1 Januari 2014 ( Profil Kesehatan Kota Gunungsitoli tahun 2014 ).

Berdasarkan hasil survey pendahuluan di Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli terlihat dari POA UPTD Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli tahun 2015 diketahui beberapa upaya promotif dan preventif pada upaya kesehatan masyarakat yang dijamin oleh JKN yang dilaksanakan tahun 2015. Kegiatan – kegiatan tersebut antara lain pelaksanaan kegiatan posyandu lansia; pelaksanaan posyandu; serta Pos Bindu. Pelayanan promotif dan preventif yang terlihat dalam POA Puskesmas pada umumnya adalah upaya kesehatan masyarakat, yang mana seharusnya amanah undang – undang menyatakan bahwa manfaat jaminan kesehatan yang diterima oleh peserta JKN adalah bersifat upaya kesehatan perseorangan.

Pelayanan promotif dan preventif yang didanai dari non kapitasi seperti tindakan skrining kesehatan misalnya pemeriksaan Papsmear dan pemeriksaan IVA juga masih belum terlaksana di Puskesmas ini. Berdasarkan hasil wawancara kepada Kepala Puskesmas diperoleh informasi bahwa hal ini tidak terlaksana dikarenakan alat untuk pemeriksaan tersebut dan bidan bersertifikat IVA tidak tersedia di Puskesmas.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa pasien peserta JKN, menyatakan masih kurangnya diberikan penyuluhan kesehatan perorangan yang meliputi peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang mereka derita. Hal ini dibuktikan dengan observasi yang langsung dilakukan oleh peneliti terhadap tenaga medis yang melayani peserta dimana tenaga medis hanya memeriksa peserta dalam

(31)

waktu hitungan menit, menanyakan sakit apa kemudian meresepkan obat dan pelayanan pun selesai.

Selanjutnya dari observasi yang dilakukan peneliti, ternyata kebanyakan pasien datang ke Puskesmas hanya untuk meminta rujukan agar bisa berobat ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan. Hal ini juga didukung data wawancara terhadap tenaga kesehatan yang menyatakan bahwa kebanyakan peserta datang ke Puskesmas hanya untuk mendapatkan surat rujukan agar bisa berobat ke Fasilitas Kesehatan Lanjutan.

Berdasarkan wawancara terhadap Kepala Tata Usaha Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli menyatakan bahwa pelayanan promotif dan preventif yang sudah direncanakan tahun 2015 didalam POA ( Plan Of Action ) yang sumber dananya berasal dari dana kapitasi tidak semuanya tercapai sesuai dengan target. Hal ini disebabkan aturan pencairan dana yang selalu berubah - ubah, fasilitas kesehatan yang tidak memadai dan tenaga kesehatan ahli penyuluh kesehatan masyarakat yang masih kurang baik dari kualitas maupun kuantitas.

Dari uraian tersebut diatas menunjukkan pelayanan promotif dan preventif pada Program JKN belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program Jaminan Kesehatan Nasional dan apa yang menjadi determinan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada Program Jaminan Kesehatan Nasional di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli tahun 2016.

(32)

1.2. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan pertanyaan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada Program Jaminan Kesehatan Nasional di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli tahun 2016?

2. Apakah determinan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada Program Jaminan Kesehatan Nasional di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli tahun 2016?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada Program Jaminan Kesehatan nasional di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli Tahun 2016.

2. Untuk mengetahui secara mendalam determinan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada Program Jaminan Kesehatan Nasional di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli tahun 2016.

(33)

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan pembangunan kesehatan terutama dalam era Jaminan Kesehatan Nasional.

2. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli dalam mendukung fungsi utama Puskesmas untuk mewujudkan pembangunan kesehatan terutama dalam era Jaminan Kesehatan Nasional.

3. Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas yang ada di Wilayah Kota Gunungsitoli dalam upaya peningkatan pelayanan promotif dan preventif.

4. Sebagai bahan untuk menambah wawasan ilmu kesehatan masyarakat terutama di bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan dalam pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif dalam era Jaminan Kesehatan Nasional.

5. Sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya.

(34)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Asuransi (Insurance)

2.1.1. Pengertian Asuransi

Asuransi menurut undang-undang tentang usaha perasuransian adalah sebagai berikut :

“Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak , yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk :

a. Memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti.

b. Memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/ atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana (UU RI No.40 Tahun 2014)”.

2.1.2. Manfaat Asuransi

Asuransi mempunyai banyak manfaat, antara lain sebagai berikut:

1. Asuransi melindungi risiko investasi.

2. Asuransi sebagai sumber dana investasi.

3. Asuransi untuk melengkapi persyaratan kredit.

4. Asuransi dapat mengurangi kekhawatiran.

5. Asuransi mengurangi biaya modal.

6. Asuransi menjamin kestabilan perusahaan.

7. Asuransi dapat meratakan keuntungan.

8. Asuransi dapat menyediakan layanan profesional.

16

(35)

9. Asuransi mendorong usaha pencegahan kerugian.

10. Asuransi membantu pemeliharaan kesehatan (Darmawi, 2000).

2.1.3 Asuransi Komersial dan Sosial

Asuransi komersial adalah asuransi yang dikelola oleh perusahaan swasta atas keikutsertaan masyarakat secara sukarela. Bentuk program yang dilayani tergantung kepada kebutuhan dan kemampuan tertanggung yang ditentukan dalam perjanjian.

Dalam bidang asuransi kesehatan, seseorang dapat mengikuti suatu program yang biayanya akan dibebankan atau dibayar kembali oleh perusahaan. Besarnya pertanggungan sesuai dengan pilihan tertanggung dan premi yang dibayar tertanggung setiap bulan atau setiap tahunnya. Untuk menjadi anggota tertanggung seseorang harus memenuhi persyaratan tertentu (Darmawi, 2000).

Asuransi sosial adalah asuransi yang dikelola oleh Pemerintah atau Instansi atau Badan yang ditunjuk oleh Pemerintah sebagai pengelola asuransi (Kemenkes, 2014). Asuransi sosial merupakan mekanisme pengumpulan iuran yang bersifat wajib dari peserta, guna memberikan perlindungan kepada peserta atas risiko sosial ekonomi yang menimpa mereka dan atau anggota keluarganya (UU SJSN No. 40 Tahun 2004).

Berbeda dengan asuransi komersial, asuransi sosial hanya mencakup perlindungan dasar yang biasanya ditentukan dalam peraturan perundangan (Darmawi, 2000). Kelebihan asuransi sosial dibandingkan dengan asuransi komersial antara lain :

(36)

Tabel 2.1 Perbedaan Asuransi Sosial dan Asuransi Komersial Asuransi Sosial Asuransi Komersial Kepesertaan bersifat wajib Kepesertaan bersifat sukarela

Non Profit Profit

Manfaat Komprehensif Manfaat sesuai premi yang dibayarkan Sumber: Kementerian Kesehatan 2014

2.2. Asuransi Kesehatan

Salah satu masalah yang perlu kita antisipasi adalah pembiayaan kesehatan di masa depan. Beberapa alasan dapat dikemukakan, antara lain pertimbangan aspek pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan demand masyarakat, teknologi kedokteran serta pertumbuhan “industri” kedokteran sendiri, dimana peranan swasta/PMDN/PMA

akan semakin berat, sementara subsidi Pemerintah semakin menurun, sehingga kenaikan biaya pelayanan kesehatan pasti akan menjadi beban yang semakin berat bagi sebagian besar masyarakat (Sulastomo, 2000).

Asuransi kesehatan merupakan pilihan satu-satunya dalam pengembangan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Alasannya, biaya kesehatan (terutama di masa depan) akan mencapai jumlah yang besar. Dengan demikian, biaya kesehatan tidak akan mungkin dibebankan kepada Pemerintah/Perusahaan saja, tetapi juga harus diorganisir berdasar kegotong-royongan masyarakat dan pemerintah. Masyarakat yang kuat dan sehat harus membantu yang lemah atau sakit (Sulastomo, 2000).

Asuransi kesehatan adalah asuransi yang memberikan penggantian biaya kesehatan. Yang termasuk biaya kesehatan ada tiga, yaitu:

(37)

1. Pemeliharaan kesehatan.

2. Perawatan.

3. Pengobatan.

Asuransi kesehatan tidak mengganti biaya pemeliharaan kesehatan, melainkan hanya mengganti biaya perawatan dan pengobatan (Senduk, 2009 ).

2.3Sistem Jaminan Sosial Nasional

Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah tata cara penyelenggaraan program Jaminan Sosial oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan (Kemenkes, 2014).

2.3.1 Pengertian Jaminan Sosial

Menurut ILO (1998), Jaminan sosial adalah perlindungan yang diberikan oleh masyarakat untuk masyarakat melalui seperangkat kebijaksanaan publik terhadap tekanan ekonomi sosial bahwa jika tidak diadakan sistem jaminan sosial akan menimbulkan hilangnya sebagian pendapatan sebagai akibat sakit, persalinan, kecelakaan kerja, sementara tidak bekerja, cacat, hari tua dan kematian dini, perawatan medis termasuk pemberian subsidi bagi anggota keluarga yang membutuhkan (Soekamto, dkk., 2006). Pengertian jaminan sosial sangat beragam.

Dilihat dari pendekatan asuransi sosial, maka berarti jaminan sosial sebagai teknik atau metoda penanganan risiko hubungan industrial yang berbasis pada hukum bilangan besar (law of large numbers). Dari sisi bantuan sosial , maka jaminan sosial berarti sebagai dukungan pendapatan bagi komunitas kurang beruntung untuk keperluan konsumsi. Karena itu, maka jaminan sosial berarti sebagai:

(38)

a. Salah satu faktor ekonomi seperti konsumsi, tabungan dan subsidi atau koneksi untuk redistribusi pendapatan;

b. Instrumen negara untuk redistribusi risiko sosial-ekonomi melalui tes kebutuhan (means-test application), yaitu tes apa yang telah dimiliki peserta baik berupa rekening tabungan maupun kekayaan riil;

c. Program pengentasan kemiskinan yang ditindaklanjuti dengan pemberdayaan komunitas; dan

d. Sistem perlindungan dasar untuk penanggulangan hilangnya sebagian pendapatan pekerja sebagai konsekuensi risiko industrial (Soekamto, dkk., 2006).

2.3.2. Fungsi Jaminan Sosial

Jaminan sosial memiliki tiga pilar jaminan sosial yang terdiri dari:

1. Bantuan/pelayanan sosial. Sistem ini didanai dari sumber pajak oleh Negara atau sumbangan dari pihak yang mempunyai status ekonomi yang kuat.

2. Tabungan wajib. Setiap orang diwajibkan menabung untuk dirinya sendiri (provident fund) sebagaimana dilaksanakan dalam Jaminan Hari Tua Jamsostek atau sebagian jaminan pensiun Taspen.

3. Asuransi sosial. Dimana setiap orang mengiur/berkontribusi atau membayar premi yang sifatnya wajib. Bisa juga premi/iuran dibayarkan oleh pihak lain atau oleh pemerintah bagi mereka yang miskin. Sistem asuransi sosial ini paling baik, dana yang terkumpul memadai, tahan lama dan paling banyak digunakan di dunia (Soekamto, dkk., 2006)

(39)

Sebagai sistem perlindungan dasar untuk masyarakat pekerja termasuk masyarakat luas yang mengalami musibah atau kemalangan baik yang disebabkan karena peristiwa hubungan industrial atau di luar hubungan industrial seperti kemiskinan, manfaat jaminan sosial mencakup:

a. Santunan tunai untuk dukungan pendapatan pencari nafkah utama;

b. Kompensasi finansial untuk korban kasus kecelakaan kerja dan kematian dini;

c. Manfaat pelayanan kesehatan dan pemberian alat bantu (Soekamto, dkk., 2006).

2.4. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2.4.1 Pengertian Jaminan Kesehatan

Definisi jaminan kesehatan dalam bahasa Indonesia mempunyai beberapa pengertian karena kata jaminan dapat berasal dari guanrantee atau warranty dan dapat berasal dari terjemahan bahasa inggris insurance atau asuransi (Soekamto, dkk., 2006).

“Jaminan kesehatan adalah sebuah sistem yang memungkinkan seseorang

terbebas dari beban biaya berobat yang relatif mahal yang menyebabkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar hidup lain (makan, sekolah, bekerja dan bersosialisasi)”

(Soekamto, dkk, 2006).

2.4.2. Pengertian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Sistem Jaminan Sosial Nasional ini diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi Kesehatan Sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang No.40 Tahun 2004

(40)

tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak (Kemenkes, 2014).

2.4.3. Prinsip-prinsip Jaminan Kesehatan Nasional

Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsip-prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) berikut:

1. Prinsip kegotongroyongan

Gotong royong sesungguhnya sudah menjadi salah satu prinsip dalam hidup bermasyarakat dan juga merupakan salah satu akar dalam kebudayaan kita. Dalam SJSN, prinsip gotong royong berarti peserta yang mampu membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat membantu yang sakit atau yang berisiko tinggi, dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Hal ini terwujud karena kepesertaan SJSN bersifat wajib untuk seluruh penduduk tanpa pandang bulu. Dengan demikian, melalui prinsip gotong-royong jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

2. Prinsip nirlaba

Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented). Sebaliknya, tujuan utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana amanat, sehingga hasil pengembangannya, akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.

(41)

Prinsip keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas.

Prinsip prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.

3. Prinsip portabilitas

Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Prinsip kepesertaan bersifat wajib

Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dapat mencakup seluruh rakyat.

5. Prinsip dana amanat

Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.

6. Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial

Dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar besar kepentingan peserta (Kemenkes, 2014).

(42)

2.4.4. Beberapa Peraturan Terkait dengan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program Jaminan Kesehatan Nasional

Adapun beberapa peraturan yang mengatur pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN adalah sebagai berikut :

1. Undang – Undang nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Pada pasal 22 ayat (1) dinyatakan sebagai berikut :

“ Manfaat jaminan kesehatan bersifat pelayanan perseorangan berupa pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang diperlukan”.

Berdasarkan pernyataaan diatas dapat diketahui bahwa manfaat jaminan kesehatan yang menjadi hak peserta JKN adalah bersifat pelayanan perseorangan berupa pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

2. Peraturan Presiden nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan.

Manfaat Jaminan Kesehatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Pasal 21 yaitu :

“Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan:

penyuluhan kesehatan perorangan; imunisasi dasar; keluarga berencana; dan skrining kesehatan.”

Kemudian Pasal 22 menyebutkan bahwa pelayanan kesehatan tingkat pertama meliputi pelayanan kesehatan non spesialistik yang mencakup:

1. Administrasi pelayanan;

2. Pelayanan promotif dan preventif;

3. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis;

(43)

4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif;

5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai;

6. Transfusi darah sesuai dengan kebutuhan medis;

7. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama; dan 8. Rawat inap tingkat pertama sesuai dengan indikasi.

3. Peraturan Presiden nomor 32 tahun 2014 tentang pengelolaan dan pemanfaatan dana kapitasi JKN pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah.

Pengelolaan dan pemanfaatan dana kapitasi JKN pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FTKP) milik Pemerintah Daerah terdapat pada Pasal 12, yang menyatakan bahwa dana kapitasi JKN di FTKP dimanfaatkan seluruhnya untuk jasa pelayanan kesehatan dan dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan.

Jasa pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud meliputi jasa pelayanan kesehatan perorangan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan.

Jasa pelayanan kesehatan di FKTP atau Puskesmas ditetapkan sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari total penerimaan dana kapitasi JKN, dan sisanya dimanfaatkan untuk dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan yang meliputi biaya obat, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, dan dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan lainnya.

4. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 71 tahun 2013 tentang pelayanan kesehatan pada JKN.

(44)

Mengenai pelayanan kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2013. Penjelasan bahwa peserta JKN berhak mendapatkan pelayanan promotif dan preventif tertera dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2013 ini pada Pasal 13 yang bertuliskan bahwa :

“Setiap Peserta berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan.”

5. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 19 tahun 2014 tentang penggunaan dana kapitasi JKN untuk jasa pelayanan kesehatan dan dukungan biaya operasional pada FKTP milik pemerintah daerah.

Mengenai penggunaan dana kapitasi JKN untuk jasa pelayanan kesehatan dan dukungan biaya operasional pada FKTP milik pemerintah daerah terdapat pada pasal 3 yang menyatakan bahwa dana kapitasi yang diterima oleh FKTP dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dimanfaatkan seluruhnya untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan, dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan. Alokasi untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan ditetapkan sekurang – kurangnya 60% dari penerimaan dana kapitasi. Alokasi untuk pembayaran dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan ditetapkan sebesar selisih dari besar dana kapitasi dikurangi dengan besar alokasi untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan.

6. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 28 tahun 2014 tentang pedoman pelaksanaan program JKN.

(45)

Dalam peraturan tersebut dinyatakan manfaat jaminan kesehatan nasional terdiri atas dua jenis, yaitu manfaat medis dan manfaat non medis. Manfaat medis berupa pelayanan kesehatan yang komprehensif ( promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif ) sesuai dengan indikasi medis yang tidak terikat dengan besaran iuran yang dibayarkan. Pelayanan kesehatan di FKTP merupakan pelayanan kesehatan non – spesialistik yang meliputi :

a. Administrasi pelayanan

b. Pelayanan promotif dan preventif

c. Pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan pelayanan kesehatan gigi tingkat pertama

d. Pemeriksaan ibu hamil, nifas, ibu menyusui, bayi dan anak balita oleh bidan atau dokter

e. Rehabilitasi medik dasar.

Adapun manfaat pelayanan promotif dan preventif antara lain :

a. Penyuluhan kesehatan perorangan, meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan faktor resiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat.

b. Imunisasi dasar, meliputi Baccille Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis, Tetanus dan Hepatitis – B (DPT – HB), Polio dan Campak.

c. Keluarga Berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi, tubektomi, termasuk komplikasi KB bekerjasama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana.

(46)

d. Vaksin untuk imunisasi dasar dan alat kontrasepsi dasar disediakan oleh Pemerintah dan/ atau Pemerintah Daerah.

e. Pelayanan skrining kesehatan tertentu diberikan secara selektif untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan, yaitu :

1) Diabetes Melitus tipe II 2) Hipertensi

3) Kanker Leher Rahim 4) Kanker Payudara

5) Penyakit lain yang ditetapkan menteri

f. Pelayanan skrining kesehatan tertentu merupakan pelayanan yang termasuk dalam lingkup non – kapitasi, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan. Pemeriksaan penunjang pelayanan skrining kesehatan meliputi :

1) Pemeriksaan gula darah

2) Pemeriksaan IVA untuk kasus Ca Cervix dan 3) Pemeriksaan Pap Smear

g. Khusus untuk kasus dengan pemeriksaan IVA positif dapat dilakukan pelayanan terapi krio.

7. Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan nomor 1 tahun 2014 tentang penyelenggaraan jaminan kesehatan

Dalam menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Nasional, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial membuat Peraturan BPJS No. 1 Tahun 2014 tentang

(47)

Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional yang menjelaskan kepesertaan, iuran kepesertaan jaminan kesehatan, penyelenggara pelayanan, peningkatan mutu dan penambahan manfaat jaminan kesehatan, kompensasi, kendali mutu dan kendali biaya serta pelaporan dan utilization review.

2.5Puskesmas

2.5.1 Definisi Puskesmas

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah suatu organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok kesehatan kabupaten. Menurut Depkes RI (2004) Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas /Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya (Effendi, 2009).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 75 tahun 2014 tentang Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi – tingginya di wilayah kerjanya.

Pelayanan kesehatan yang diberikan Puskesmas merupakan pelayanan yang menyeluruh yang meliputi pelayanan kuratif (pengobatan), preventif (pencegahan), promotif (peningkatan kesehatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk dengan tidak membedakan jenis kelamin

(48)

dan golongan umur, sejak dari pembuahan dalam kandungan sampai tutup usia (Effendi, 2009).

2.5.2 Tujuan Puskesmas

Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional, yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Trihono, 2005).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 75 tahun 2014 tentang Puskesmas pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat; mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu; hidup dalam lingkungan sehat; dan memiliki derajat kesehatan yang optimal baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas mendukung terwujudnya Kecamatan sehat.

2.5.3 Fungsi Puskesmas

Puskesmas memiliki wilayah kerja yang meliputi satu Kecamatan atau sebagian dari Kecamatan. Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografi dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja Puskesmas. Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka Puskesmas perlu ditunjang dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana

(49)

yang disebut Puskesmas pembantu dan Puskesmas keliling. Khusus untuk kota besar dengan jumlah penduduk satu juta jiwa atau lebih, wilayah kerja Puskesmas dapat meliputi satu Kelurahan. Puskesmas di Ibukota Kecamatan dengan jumlah penduduk 150.000 jiwa atau lebih, merupakan Puskesmas Pembina yang berfungsi sebagai pusat rujukan bagi Puskesmas Kelurahan dan juga mempunyai fungsi koordinasi (Effendi, 2009).

Menurut Trihono (2005) ada tiga fungsi Puskesmas yaitu: pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan yang berarti Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Disamping itu Puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Pusat pemberdayaan masyarakat berarti Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan

(50)

perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat.

Pusat pelayanan kesehatan strata pertama berarti Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggungjawab Puskesmas meliputi :

Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk Puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.

Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat disebut antara lain adalah promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.

Menurut Effendi (2009) ada beberapa proses dalam melaksanakan fungsi tersebut yaitu merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri, memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif

(51)

dan efisien, memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat, bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program Puskesmas.

2.5.4 Peran Puskesmas

Puskesmas mempunyai peran yang sangat vital sebagai institusi pelaksana teknis, dituntut memiliki kemampuan manajerial dan wawasan jauh ke depan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Peran tersebut ditunjukkan dalam bentuk keikutsertaan dalam menentukan kebijakan daerah melalui sistem perencanaan yang matang dan realistis, tata laksana kegiatan yang tersusun rapi, serta sistem evaluasi dan pemantauan yang akurat. Pada masa mendatang, Puskesmas juga dituntut berperan dalam pemanfaatan teknologi informasi terkait upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara komprehensif dan terpadu (Effendi, 2009).

2.5.5 Upaya Penyelenggaraan

Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui Puskesmas yakni terwujudnya kecamatan sehat menuju Indonesia sehat, Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembang (Trihono, 2005).

(52)

Upaya kesehatan wajib Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah upaya promosi kesehatan, upaya kesehatan lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana, upaya perbaikan gizi masyarakat, upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta upaya pengobatan (Trihono, 2005).

Sedangkan upaya kesehatan pengembangan Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok Puskesmas yang telah ada yaitu upaya kesehatan sekolah, upaya kesehatan olah raga, upaya perawatan kesehatan masyarakat, upaya kesehatan kerja, upaya kesehatan gigi dan mulut, upaya kesehatan jiwa, upaya kesehatan mata, upaya kesehatan usia lanjut dan upaya pembinaan pengobatan tradisional (Trihono, 2005).

Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas dapat pula bersifat upaya inovasi yakni upaya diluar upaya Puskesmas tersebut di atas yang sesuai dengan kebutuhan.

Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka mempercepat tercapainya visi Puskesmas (Trihono, 2005).

Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh Puskesmas bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan mempertimbangkan masukan dari

(53)

Konkes/BPKM/BPP. Upaya kesehatan pengembangan dilakukan apabila upaya kesehatan wajib Puskesmas telah terlaksana secara optimal dalam arti target cakupan serta peningkatan mutu pelayanan telah tercapai. Penetapan upaya kesehatan pengembangan pilihan Puskesmas ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Dalam keadaan tertentu upaya kesehatan pengembangan Puskesmas dapat pula ditetapkan sebagai penugasan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Trihono, 2005). Apabila Puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan padahal telah menjadi kebutuhan masyarakat, maka Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggung jawab dan wajib menyelenggarakannya. Untuk itu, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota perlu dilengkapi dengan berbagai unit fungsional lainnya (Trihono, 2005).

Perlu diingat meskipun Puskesmas menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik dan memiliki tenaga spesialis, kedudukan dan fungsi Puskesmas tetap sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya (Trihono, 2005).

2.5.6 Fungsi Aktuasi/ Pelaksanaan Puskesmas

Fungsi aktuasi Puskesmas tidak sekedar pekerjaan mekanis, karena yang digerakkan adalah manusia/ pegawai. Oleh karena itu untuk suksesnya fungsi aktuasi Puskesmas diperlukan berbagai faktor, yaitu sebagai berikut :

Gambar

Gambar 2.1 Fokus Penelitian
Tabel 4.3 Gambaran Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli dan Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli SelatanTahun 2016

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Penelitian : Implementasi kegiatan promotif dan preventif di Puskesmas Kampus Palembang belum berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat, Beberapa kegiatan

Jumlah ODGJ berat (psikotik) di wilayah kerja kabupaten / kota yang mendapat pelayanan kesehatan jiwa promotif preventif sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. Jumlah

Jumlah ODGJ berat (psikotik) di wilayah kerja kab/kota yang mendapat pelayanan kesehatan jiwa promotif preventif sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun.. x 100%

preventif, untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Revitalisasi Puskesmas dalam upaya promotif dan preventif harus diterapkan, tanpa

Jumlah ODGJ berat (psikotik) di wilayah kerja kab/kota yang mendapat pelayanan kesehatan jiwa promotif preventif sesuai standar dalam kurun waktu satu tahun. Jumlah ODGJ

Menurut pengetahuan Bapak/Ibu, bagaimana dengan tenaga kesehatan khususnya tenaga promotif dan preventif di Puskesmas dengan adanya kebijakan di era JKN

Pernyataan Masalah 2: Di era JKN, program promotif dan preventif sebagai fungsi dasar Puskesmas cenderung terabaikan atau tidak dijalankan dengan baik..  Berubahnya

 yang dilakukan di wilayah ke an di wilayah kerja Puskesmas Si rja Puskesmas Simpang teriti mpang teritip adalah p adalah kegiatan preventif dan promotif yang mengacu pada