• Tidak ada hasil yang ditemukan

Determinan Peraturan

Dalam dokumen TESIS. Oleh EVI MARTALINDA HAREFA /IKM (Halaman 103-108)

HASIL PENELITIAN

4.3 Determinan Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program JKN di FKTP Puskesmas Wilayah Kota GunungsitoliJKN di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli

4.3.1 Determinan Peraturan

Berdasarkan hasil wawancara dengan enam informan dari Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli, Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli, dan BPJS Cabang Gunungsitoli tentang peraturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN dapat diperoleh pernyataan dari informan pertama sebagai berikut :

“Klo peraturan dalam pelaksanaan pelayanan saya rasa sudah cukup.

Akan tetapi dalam melaksanakan pelayanan tersebut disini kami memerlukan fasilitas. Inilah yang menjadi kendala bagi kami.

Bagaimana kami mengadakan fasilitas pendukung pelayanan. Kami masih meraba – raba terhadap peraturan yang ada. Menurut saya peraturan yang ada masih ngambang. Peraturan yang ada sama kami dalam bentuk peraturan walikota yang tiap tahunnya selalu berubah.

Sebagai contoh dalam melaksanakan pelayanan kami memerlukan fasilitas misalnya operasional mobil. Dalam menggunakan dana ini, yang diberitahukan kepada kami hanya bisa dalam pembelian bahan bakar seperti solar. Pembayaran pajak, perbaikan jika ada kerusakan tidak ada disebutkan didalam aturannya. Sementara mobil yang ada saat ini untuk transportasi mengalami kerusakan. Contoh lainnya misalnya

diposkesdes kita kekurangan tempat tidur. Kita tidak diperkenankan untuk mengadakannya. Demikian juga dalam mendukung pelayanan lainnya misalnya alat pendukung untuk pemeriksaan kadar gula darah.

Kami dari puskesmas tidak dapat mengadakan fasilitas yang dibutuhkan untuk pelayanan karena dibatasi oleh peraturan yang ada “.

Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh informan dua, tentang peraturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN, sebagai berikut :

“ Klo untuk pelayanannya cukup. Hanya saja kendalanya adalah pada aturan untuk pengadaan fasilitas , sarana dan prasarana. Kita dari Puskesmas terbatas untuk melaksanakannya “.

Berdasarkan pernyataan dari informan satu dan dua tersebut diatas diketahui bahwa pihak Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli masih belum memahami sepenuhnya tentang peraturan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN.

Peraturan yang ada di Puskesmas hanya berupa Peraturan dari Walikota. Peraturan yang ada yang mengatur pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif juga masih belum cukup mendukung pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif di Puskesmas. Dalam hal pemanfaatan dana kapitasi, Puskesmas masih belum diberikan kewenangan penuh untuk melaksanakannya. Misalnya dalam hal pemanfaatan dana kapitasi untuk pembayaran pajak dan perbaikan mobil, hal ini tidak diperbolehkan dari aturan yang ada. Contoh lainnya pemanfaatan dana kapitasi untuk pengadaan fasilitas pendukung pelayanan promotif dan preventif seperti penyediaan tempat tidur, dan pengadaan alat pemeriksaan kadar gula darah, puskesmas tidak diperkenankan untuk mengadakannya. Dari aturan yang ada, pengadaan alat kesehatan bisa dilakukan melalui Dinas Kesehatan.

Demikian juga pernyataan yang sama dari informan ketiga tentang peraturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN adalah sebagai berikut :

“ Klo dari peraturannya, harapan kami dari puskesmas, kami diberi kebebasan untuk mengelola dana kapitasi yang diberikan ke Puskesmas.

Misalnya saat ini puskesmas tidak mendapatkan aliran dana dari Pemerintah Daerah yang biasanya digunakan untuk pembayaran air dan listrik karena adanya dana dari JKN. Oleh karena dalam peraturannya tidak ada tercantum bahwa dari dukungan operasional bisa dimanfaatkan untuk pembayaran air dan listrik maka kami dari Puskesmas tidak dapat mengarahkan dana kapitasi tersebut untuk pembayaran air dan listrik. Hal tersebut menjadi kendala dalam melaksanakan pelayanan promotif dan preventif secara khusus kegiatan UKP”.

Demikian juga hal yang sama disampaikan oleh informan empat, sebagai berikut :

Peraturan yang ada tumpang tindih. Dari BPJS sendiri mengharapkan puskesmas untuk melaksanakan kegiatan sebanyak – banyaknya. Akan tetapi Puskesmas harus tetap kordinasi dengan Dinas Kesehatan.

Kordinasinya dari segi anggaran mencukupi atau tidak. Nah..ada saja kegiatan yang kita usulkan dicoret oleh Dinas Kesehatan karena katanya tidak prioritas. Yang diprioritaskan itu kegiatan untuk mencapai MDG’s.

Contoh lainnya misalnya peraturan tentang pengadaan obat melalui e – katalog. Sangat tidak cocok dilaksanakan di Puskesmas kita di gunungsitoli ini. Apa mau apotik mengantarkan obat langsung ke Puskesmas yang jarak tempuhnya jauh. Bisa saja distributor langsung ke Gunungsitoli akan tetapi harga bisa lebih mahal lagi. Maunya Puskesmas diberi kebebasan untuk membeli obat sesuai dengan yang dibutuhkannya yang tidak bisa disediakan oleh Dinas Kesehatan.

Dari pernyataan informan tiga dan empat dapat diperoleh informasi bahwa peraturan yang ada masih belum mendukung pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN di Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan.

Puskesmas tidak diberikan kebebasan untuk memanfaatkan dana kapitasi yang ada.

Misalnya pemanfaatan dana kapitasi untuk pembayaran listrik dan air. Dalam aturannya Puskesmas tidak diperkenankan untuk memanfaatkan dana kapitasi untuk pembayaran listrik dan air. Sementara Daerah sudah tidak memberikan dana ke Puskesmas yang biasanya digunakan untuk pembayaran listrik dan air oleh karena adanya dana kapitasi dari Program JKN. Hal ini menjadi kendala dalam melaksanakan pelayanan di Puskesmas secara khusus pelayanan promotif dan preventif. Selain itu aturan yang ada tidak memudahkan Puskesmas dalam menyelenggarakan pelayanan. Sebagai contoh untuk pengadaan obat. Aturan mengharapkan pengadaan melalui e – catalog. Sementara aturan tersebut belum bisa dilaksanakan di Puskesmas.

Hal lainnya juga disampaikan oleh informan lima dengan pernyataan sebagai berikut :

“ Peraturan yang ada kurang spesifik. Maksudnya peraturan yang mengatur pelayanan promotif dan preventif seharusnya secara khusus ditentukan. Karena sebenarnya kegiatan promotif dan preventif ini adalah kegiatan utama puskesmas. Jika ada puskesmas yang berani mengatakan dari 40% dana pendukung operasional 80 % untuk kegiatan promotif dan preventif maka aturannya akan lebih bagus sehingga kegiatan promotif dan preventifnya akan lebih baik lagi. Hal itu bisa ditetapkan melalui minilokakarya dan dituangkan di dalam notulen”.

Berdasarkan pernyataan tersebut diatas dapat diperoleh informasi bahwa peraturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN masih belum spesifik dalam mengatur pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif.

Peraturan yang ada tidak ada menyatakan pemanfaatan dana kapitasi secara khusus

untuk pelayanan promotif dan preventif. Jika ada peraturan yang secara khusus mengatur pelayanan promotif dan preventif, pelayanan tersebut pasti lebih baik lagi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan enam, diperoleh pernyataan sebagai berikut :

“Klo peraturan pelaksanaannya sudah ada. Tinggal bagaimana puskesmas itu bisa improve melaksanakan kegiatan itu. Klo dari peraturan tidak spesifik menyatakan kegiatan – kegiatan apa saja yang dilakukan seperti kunjungan kelapangan atau mengadakan penyuluhan.

Jadi disini diharapkan bagaimana pihak dinas kesehatan dan puskesmas improve untuk kegiatan tersebut, bagaimana kreativitas merekalah. Klo peraturan saya kira sudah cukup lah. Tinggal bagaimana menjalankannya “.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa peraturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN belum spesifik mengatur pelayanan promotif dan preventif yang dijamin dalam program JKN. Akan tetapi harapannya Dinas Kesehatan dan Puskesmas kreatif dalam menentukan kegiatannya.

Berdasarkan dari pernyataan keenam informan tersebut diatas dapat diperoleh informasi bahwa Puskesmas masih belum memahami sepenuhnya aturan mengenai pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN karena peraturan yang ada di Puskesmas hanya berupa Peraturan Walikota. Peraturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN belum mendukung pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli. Peraturan yang ada tidak memberi kewenangan penuh kepada Puskesmas untuk memanfaatkan dana kapitasi seperti untuk pengadaan alat kesehatan. Peraturan yang ada tidak memudahkan Puskesmas untuk mengadakan

obat- obatan dan peraturan yang ada tidak ada menyatakan pemanfaatan dana kapitasi secara khusus untuk pelayanan promotif dan preventif. Dari observasi terhadap peraturan yang mengatur pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif, peraturan yang ada tidak memberi kewenangan penuh terhadap Puskesmas untuk memanfaatkan dana kapitasi seperti pengadaan alat kesehatan dilakukan melalui Dinas Kesehatan dan pemanfaatan dana kapitasi untuk pelayanan promotif dan preventif tidak ada secara spesifik diatur dalam aturan yang ada. Peraturan yang ada memberi kemudahan bagi Puskesmas untuk mengadakan obat, karena berdasarkan aturannya jika Puskesmas belum bisa mengadakan obat melalui e – catalog, maka puskesmas bisa mengadakannya secara manual.

Dalam dokumen TESIS. Oleh EVI MARTALINDA HAREFA /IKM (Halaman 103-108)