• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Daya Dana ( Pembiayaan Kesehatan )

Dalam dokumen TESIS. Oleh EVI MARTALINDA HAREFA /IKM (Halaman 150-154)

HASIL PENELITIAN

5.2 Determinan Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program JKN Di FKTP Puskesmas Wilayah Kota GunungsitoliJKN Di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli

5.2.2 Faktor Sumber Daya

5.2.2.2 Sumber Daya Dana ( Pembiayaan Kesehatan )

Pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh informasi bahwa dana kapitasi yang diberikan kepada Puskesmas bervariasi. Dana kapitasi yang diberikan ada yang mencukupi dan ada yang tidak mencukupi untuk pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN. Pemberian dana kapitasi kepada setiap Puskesmas berdasarkan jumlah peserta JKN di Puskesmas masing – masing. Untuk Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli dan Puskesmas Kecamatan Gunungsitoli Selatan dana kapitasi yang diberikan sudah mencukupi, yang menjadi kendala adalah Puskesmas kesulitan dalam memanfaatkan dana kapitasi yang diberikan untuk mengadakan fasilitas pendukung pelayanan promotif dan preventif seperti tempat tidur, alat

pemeriksaan gula darah karena berdasarkan aturannya pengadaan alat kesehatan dan obat – obatan dapat dilakukan melalui Dinas Kesehatan.

Menurut Sastrianegara (2014) sumber daya dana merupakan salah satu faktor yang mendukung berhasilnya fungsi aktuasi dari Puskesmas. Dalam pelaksanaan program, faktor pendanaan sangatlah krusial. Faktor pendanaan merupakan salah satu yang menentukan bahwa kebijakan itu berjalan atau tidak. Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh George C.Edwards III yang menyatakan bahwa implementasi kebijakan dipengaruhi oleh komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur birokrasi.

Sumber daya dalam hal ini adalah sumber daya manusia, materi dan metoda.

Hal ini juga didukung oleh teori Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier yang menyatakan bahwa besarnya alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan mempengaruhi pelaksanaan suatu kebijakan. Sumberdaya keuangan adalah faktor krusial untuk setiap program sosial. Setiap program juga memerlukan dukungan staf untuk melakukan pekerjaan – pekerjaan administrasi dan teknis, serta memonitor program, yang semuanya itu memerlukan biaya.

Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Purwitayana (2013) yang berjudul Faktor – Faktor Determinan Yang Mempengaruhi Implementasi Program Jaminan Kesehatan Bali Mandara di RSUD Wangaya Denpasar. Dimana hasil penelitiannya mengatakan bahwa tujuan dari program JKBM yaitu meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat Propinsi Bali agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien tidak sejalan dengan apa yang telah dituliskan dilapangan. Oleh karena keterbatasan anggaran sharing

yang dimiliki Pemerintah Propinsi Bali sehingga beberapa pelayanan kesehatan seperti kecelakaan, operasi jantung, kanker tidak dijamin dalam program tersebut.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa salah faktor yang mempengaruhi keberhasilan tujuan suatu program adalah ketersediaan dana.

5.2.2.3 Sumber Daya Sarana dan Prasarana

Diera globalisasi saat sekarang ini, tentu bagi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang menuntut adanya penyesuaian dari suatu organisasi baik pemerintah maupun swasta termasuk juga pemenuhan akan tersedianya sarana dan prasarana kerja yang baik dibutuhkan dalam suatu organisasi. Meningkatkan sarana dan prasarana kerja merupakan salah satu upaya untuk memperlancar pelaksanaan tugas, sehingga kendala – kendala yang dihadapi oleh pegawai dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan secara bertahap dapat diminimalisir serta pelayanan yang diberikan dapat menjadi lebih baik.

Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Prasarana kesehatan adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya pelayanan kesehatan..

Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh informasi bahwa sarana dan prasarana untuk pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN di Puskesmas masih kurang. Sebagai contoh di Pustu dan Poskesdes masih banyak fasilitas pendukung pelayanan yang belum tersedia seperti tempat tidur, air, listrik.

Masing – masing Puskesmas masih belum memiliki mobil promosi. Media promosi juga masih belum lengkap, yang ada di Puskesmas hanya dalam bentuk leaflet dan

poster. Puskesmas juga masih belum memiliki alat peraga untuk promosi kesehatan.

Bagi bidan desa yang merupakan perpanjangan tangan Puskesmas di desa juga masih belum tersedia tempat tinggal dan fasilitas pelayanan. Bidan desa umumnya tinggal dirumah – rumah penduduk. Dan untuk melayani pasien digunakan fasilitas seadanya yang mereka miliki. Demikian juga alat yang digunakan untuk skrining kesehatan seperti papsmear dan IVA belum tersedia, karena pihak BPJS belum menemukan vendor yang bagus. Dari observasi terhadap sarana dan prasarana yang ada di Puskesmas terlihat bahwa masih kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif.

Menurut Satrianegara (2014) bahwa sumber daya alat kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan fungsi actuating Puskesmas. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Moenir (2010) yang mengatakan bahwa faktor sarana pelayanan yang meliputi peralatan, perlengkapan dan juga tersedianya fasilitas pelayanan yang meliputi gedung dan segala kegiatannya, fasilitas komunikasi dan fasilitas lainnya merupakan faktor pendukung dalam pelayanan publik. Hal ini juga didukung oleh George C. Edwards III yang menyatakan bahwa jika personel yang bertanggungjawab untuk melaksanakan program kekurangan sumberdaya dalam melakukan tugasnya mustahil program dapat berjalan. Tersedianya fasilitas – fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan program seperti sarana dan prasana akan mendukung pelaksanaan suatu program.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana dan prasarana kesehatan masih kurang mendukung pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN di Puskesmas. Puskesmas masih belum memiliki mobil promosi, alat peraga untuk mendukung pelaksanaan penyuluhan kesehatan perseorangan. Selain itu pustu dan poskesdes juga masih belum memiliki tempat tidur, air dan listrik yang sangat mendukung pelaksanaan pelayanan misalnya pemberian imunisasi pada bayi ataupun pemasangan alat KB kepada WUS. Puskesmas juga masih belum memiliki alat pemeriksaan papsmear dan pemeriksaan IVA, sehingga pemeriksaan ini tidak terlaksana di Puskesmas. Keterbatasan sarana dan prasaran tersebut mengakibatkan peserta JKN belum bisa merasakan manfaat promotif dan preventif pada program JKN ini secara maksimal.

Dalam dokumen TESIS. Oleh EVI MARTALINDA HAREFA /IKM (Halaman 150-154)