• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Peraturan

Dalam dokumen TESIS. Oleh EVI MARTALINDA HAREFA /IKM (Halaman 141-146)

HASIL PENELITIAN

5.2 Determinan Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif pada Program JKN Di FKTP Puskesmas Wilayah Kota GunungsitoliJKN Di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli

5.2.1 Faktor Peraturan

Peraturan adalah segala ketentuan yang mengatur terselenggaranya kegiatan kepegawaian dan program puskesmas serta adanya kepastian perkembangan puskesmas baik ke dalam maupun ke luar organisasi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh informasi bahwa Puskesmas masih belum memahami sepenuhnya aturan mengenai pelaksanaan pelayanan

promotif dan preventif pada program JKN karena peraturan yang ada di Puskesmas hanya berupa Peraturan Walikota. Peraturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN belum mendukung pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli.

Peraturan yang ada tidak memberi kewenangan penuh kepada Puskesmas untuk memanfaatkan dana kapitasi seperti untuk pengadaan alat kesehatan. Peraturan yang ada tidak memudahkan Puskesmas untuk mengadakan obat- obatan. Peraturan yang ada tidak ada menyatakan pemanfaatan dana kapitasi secara khusus untuk pelayanan promotif dan preventif. Dari observasi terhadap peraturan yang mengatur pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif, peraturan yang ada tidak memberi kewenangan penuh terhadap Puskesmas untuk memanfaatkan dana kapitasi seperti pengadaan alat kesehatan dilakukan melalui Dinas Kesehatan dan pemanfaatan dana kapitasi untuk pelayanan promotif dan preventif tidak ada secara spesifik diatur dalam aturan yang ada. Peraturan yang ada memberi kemudahan bagi Puskesmas untuk mengadakan obat, karena berdasarkan aturannya jika Puskesmas belum bisa mengadakan obat melalui e – catalog, maka puskesmas bisa mengadakannya secara manual.

Dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 19 tahun 2014 pada pasal 5 ayat (2) dinyatakan sebagai berikut :

“ Pengadaan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dapat dilakukan melalui SKPD Dinas Kesehatan, dengan mempertimbangkan ketersediaan obat, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang dialokasikan oleh pemerintah dan pemerintah daerah”.

Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pengadaan alat kesehatan, obat dan bahan medis habis pakai dapat dilakukan melalui Dinas Kesehatan, oleh karena itu Puskesmas secara mandiri tidak dapat mengadakan fasilitas pendukung pelayanan tersebut.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 19 tahun 2014 pada pasal 3 ayat (1) dinyatakan :

“ Dana kapitasi yang diterima oleh FKTP dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dimanfaatkan seluruhnya untuk : (a) pembayaran jasa pelayanan kesehatan, (b) dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan “.

Pasal 4 ayat (1), menyatakan :

“ Alokasi dana kapitasi untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (2) dimanfaatkan untuk pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan bagi tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan yang melakukan pelayanan pada FKTP”.

Pasal 5 ayat (1), menyatakan :

“ Alokasi dana kapitasi untuk dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (3) dimanfaatkan untuk : (a) Obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai, (b) kegiatan operasional pelayanan kesehatan lainnya “.

Pasal 5 ayat (3), menyatakan :

“ Dukungan kegiatan operasional pelayanan kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (b), meliputi : (a) upaya kesehatan perorangan berupa kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif lainnya, (b) kunjungan rumah dalam rangka upaya kesehatan perorangan, (c) operasional puskesmas keliling, (d) bahan cetak atau alat tulis kantor, dan atau (d) administrasi keuangan dari sistem informasi “.

Dari peraturan diatas dapat diketahui bahwa tidak ada secara khusus ditetapkan pemanfaatan dana untuk pelayanan promotif dan preventif. Pemanfaatan dana kapitasi dinyatakan untuk membiayai pelayanan secara menyeluruh yaitu untuk

dukungan kegiatan operasional pelayanan kesehatan meliputi upaya kesehatan perorangan berupa kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 28 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program JKN menyatakan tentang penyediaan obat difasilitas kesehatan dilaksanakan dengan mengacu kepada Fornas dan harga obat yang tercantum dalam e –catalog obat. Pengadaan obat dalam e – catalog menggunakan mekanisme e – purchasing, atau bila terdapat kendala operasional dapat dilakukan secara manual. Berdasarkan aturan tersebut dapat diketahui bahwa jika Puskesmas mendapat kendala operasional dengan menggunakan mekanisme e – purchasing maka pengadaan obat dapat dilakukan secara manual. Hal tersebut menunjukan bahwa aturan yang ada memudahkan Puskesmas untuk mengadakan obat.

Berdasarkan analisis diatas dapat diketahui bahwa peraturan yang ada yang mengatur pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif di Puskesmas masih belum mendukung pelayanan promotif dan preventif secara maksimal. Aturan yang ada belum memberi kewenangan penuh terhadap Puskesmas untuk memanfaatkan dana kapitasi yang diberikan seperti untuk pengadaan alat kesehatan dilakukan melalui Dinas Kesehatan. Aturan yang ada juga belum jelas menyatakan pemanfaatan dana kapitasi secara khusus untuk pelayanan promotif dan preventif. Akan tetapi aturan yang ada memudahkan Puskesmas untuk mengadakan obat, jika Puskesmas tidak dapat mengadakan obat melalui e – purchasing dapat dengan menggunakan cara manual. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Puskesmas pada

dasarnya masih belum memahami sepenuhnya tentang aturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN. Peraturan yang ada di Puskesmas hanya sebatas Peraturan Walikota. Jadi selain peraturan yang ada masih belum mendukung pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN, para pegawai Puskesmas juga masih belum memahami sepenuhnya tentang aturan pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada program JKN.

Menurut Sastrianegara ( 2014 ), peraturan merupakan salah satu dari faktor organisasi yang menentukan suksesnya fungsi aktuasi Puskesmas. Hal ini juga didukung oleh Moenir ( 2010 ) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia menyatakan bahwa faktor aturan juga merupakan faktor pendukung dalam pelayanan publik yang memadai. Faktor aturan yang menjadi landasan kerja pelayanan yaitu merupakan perangkat penting dalam segala tindakan dan perbuatan orang. Faktor ini menyangkut segala ketentuan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang berlaku di dalam organisasi yang meliputi mengenai waktu kerja, cara kerja, kedisiplinan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemberian sanksi terhadap pelanggaran kerja serta ketentuan – ketentuan lain yang telah disimpan. Jika aturan yang mengatur pelayanan tidak memadai atau mendukung pelaksanaan pelayanan maka pelaksanaan pelayanan tidak dapat berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan.

Berdasarkan hasil penelitian peraturan yang ada masih belum mendukung pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif pada Program JKN, hal ini menjadi salah satu penghambat dalam pelaksanaannya sehingga pelayanan promotif dan

preventif masih belum berjalan maksimal di FKTP Puskesmas Wilayah Kota Gunungsitoli karena aturan yang menjadi landasan kerja pelayanan yaitu merupakan perangkat penting dalam segala tindakan dan perbuatan kurang mendukung pelaksanaan pelayanan. Selain itu pihak Puskesmas sebagai pelaksana pelayanan promotif dan preventif pada program JKN juga masih belum memahami sepenuhnya tentang aturan yang telah ditetapkan sehingga pelayanan promotif dan preventif pada program JKN masih belum terlaksana sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

Dalam dokumen TESIS. Oleh EVI MARTALINDA HAREFA /IKM (Halaman 141-146)