Kegiatan reformasi birokrasi di lingkungan Bapepam-LK masih berjalan seiring dengan rencana aksi reformasi birokrasi Departemen keuangan yang mengedepankan efisiensi, efektifitas dan transparansi serta pelayanan kepada masyarakat
Adapun prioritas kegiatan reformasi birokrasi dimaksud di bidang business process (Ketatalaksanaan) saat ini dilakukan melalui penyempurnaan/perbaikan dan peningkatan proses bisnis antara lain penyempurnaan standar prosedur operasi (SOP) dan pelaksanaan analisis jabatan melalui penyempurnaan Uraian Jabatan, serta
pelaksanaan analisis beban kerja, sehingga dapat di tetapkan grading masing-masing jabatan dan pelaksana di lingkungan Bapepam-LK.
Disamping itu dengan kondisi organisasi saat ini yang penuh dengan dinamika dan untuk memenuhi kepentingan stakeholder yang memerlukan penyempurnaan organisasi, Bapepam-LK senantiasa melakukan evaluasi, kajian dan inventarisasi untuk penyempurnaan organisasi Bapepam-lk secara integral.
Selanjutnya Bapepam-LK juga melaksanakan kegiatan penyusunan proses bisnis lainnya sebagaimana tercantum dalam rencana kerja Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan, seperti monitoring dan evaluasi atas SOP Departemen Keuangan, melakukan sosialisasi atas grading pelaksana serta menyusun Key Performance Indicators sesuai Sasaran Strategis baik untuk DepKeu Wide, Depkeu One maupun Depkeu Two untuk thema: Pasar Modal dan Lembaga Keuangan.
A. Penyempurnaan Proses Bisnis
Penyempurnaan proses bisnis difokuskan dan diarahkan pada upaya meningkatkan layanan publik. Bapepam-LK berusaha mengubah citra dari proses yang cenderung kurang memberi kepastian menuju proses yang pasti pada setiap tahapannya, sehingga publik mendapat kepastian mengenai waktu, persyaratan administrasi, dan biaya (jika ada).
Sebagai organisasi yang pro publik, maka penyempurnaan proses bisnis di Bapepam-LK diarahkan untuk menghasilkan proses bisnis yang akuntabel dan transparan, serta mempunyai kinerja yang cepat dan ringkas. Untuk itu, Bapepam-LK menyusun SOP yang rinci dan dapat menggambarkan setiap jenis keluaran pekerjaan secara comprehensif, melakukan analisis dan evaluasi jabatan untuk memperoleh gambaran rinci mengenai tugas yang dilakukan oleh setiap jabatan, serta melakukan analisis beban kerja untuk dapat memperoleh informasi mengenai waktu dan jumlah pejabat yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Dengan ketiga piranti tersebut Bapepam-LK dapat memberikan layanan prima kepada publik, yaitu layanan yang terukur dan pasti dalam hal waktu penyelesaian, persyaratan administrasi yang harus dipenuhi, dan biaya (jika ada).
1). Penyempurnaan SOP
Untuk menunjang pelaksanaan tugas secara efisien, efektif, transparan dan akuntabel, serta menindaklanjuti hasil penelaahan dan penilaian internal atas SOP, telah dilakukan revisi/penyempurnaan atas lima SOP yaitu:
a. Prosedur Penanganan Pengaduan Terpadu;
SOP Prosedur Penanganan Pengaduan Terpadu merupakan revisi atas Prosedur Penanganan Pengaduan. Hal yang melatarbelakangi revisi adalah untuk memberikan gambaran yang jelas atas penanganan pengaduan pasca penggabungan yang meliputi seluruh tugas dan kewenangan baik di bidang pasar modal maupun lembaga keuangan. Peran Ketua dalam tahapan kegiatan tidak perlu dilibatkan sehingga mata rantai kegiatan lebih sederhana. Disamping itu peran para pejabat yang terlibat lebih tegas dan jelas sehingga lebih mudah untuk dibedakan bobot kegiatan masing-masing.
b. Penyusunan/review Daftar Efek Syariah di Pasar Modal;
SOP Penyusunan/review Daftar Efek Syariah di Pasar Modal semula belum tercantum dalam buku 3 SOP Bapepam-LK. Disamping itu revisi perlu dilakukan disebabkan oleh kegiatan dalam tahapan prosedur perlu disempurnakan dan belum dicantumkan para penanggungjawabnya
c. Pemberian/Penolakan Izin Usaha Perusahaan Asuransi/ Reasuransi Termasuk Perusahaan Dengan Prinsip Syariah (SOP Unggulan);
d. Pemberian/Penolakan Izin Usaha Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi; Kedua SOP milik Biro Perasuransian perlu dilakukan revisi berdasarkan hasil penelaahan dan penilaian yang dilakukan oleh Biro Kepatuhan Internal. Disamping itu agar uraian kegiatan dalam SOP mencerminkan hal yang sama dengan gambar diagram alur kegiatan.
e. Pelayanan Pengesahan Pembentukan Dana Pensiun (SOP Unggulan). Sesuai dengan hasil penelaahan dan penilaian yang dilakukan oleh Biro Kepatuhan Internal, SOP Pelayanan Pengesahan Pembentukan Dana Pensiun (SOP Unggulan) perlu direvisi mengenai pencantuman memo agar diubah menjadi nota dinas dan perlu tambahan penjelasan dalam narasi Janji Pelayanan.
Revisi kelima SOP dimaksud telah mendapat persetujuan Sekretaris Jenderal dengan surat nomor S-856/SJ/2008 tanggal 16 September 2008. Tanggal surat Sekretaris Jenderal tersebut digunakan sebagai tanggal revisi kelima SOP dimaksud. Kelima SOP telah disampaikan kepada unit yang mengajukan melalui nota dinas Sekretaris Badan nomor ND-246/BL.01/2008 tanggal 30 Oktober 2008.
Disamping itu dalam rangka menindaklanjuti Peraturan Menteri Keuangan nomor 100/PMK.01/2008 tanggal 11 Juli 2008 mengenai Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, Bapepam-LK telah melakukan evaluasi atas SOP yang ada dan telah mengajukan konsep revisi/penyempurnaan dari unit yang terkait dengan penyempurnaan organisasi sesuai PMK 100 dimaksud kepada Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan, yaitu dari:.
a. Bagian Keuangan dan Bagian Umum di lingkungan Sekretariat Badan; b. Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum;
c. Biro Riset dan Teknologi Informasi; d. Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan; e. Biro Perasuransian;
f. Biro Dana Pensiun; g. Biro Kepatuhan Internal.
2). Analisis dan Evaluasi Jabatan
Sesuai dengan rencana aksi reformasi birokrasi di lingkungan Departemen Keuangan berdasarkan PMK Nomor 138/PMK.01/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Analisis Jabatan di Lingkungan Departemen Keuangan bahwa analisis dan evaluasi Jabatan pada dasarnya mencakup kegiatan penyusunan: peta jabatan (job map), peringkat jabatan (job grading), uraian jabatan (job description) dan spesifikasi jabatan (job specification). Namun untuk tahun 2008 Bapepam-LK hanya akan membahas mengenai penyempurnaan uraian jabatan dan penyesuaian peringkat jabatan sebagai berikut:
a. Penyempurnaan Uraian Jabatan
Pada tahun 2008 dilaksanakan penyusunan kembali Uraian Jabatan sesuai dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal No.: SE-872/SJ/2008 tanggal 16 Juli 2008 tentang Pelaksanaan Analisis Jabatan sebagai Tindak Lanjut PMK No.: 100/PMK.01/2008. Pada dasarnya penyusunan kembali Uraian Jabatan tersebut merupakan konsekuensi dari perubahan nomenklatur dan penambahan unit eselon III dan IV di Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum, Biro Pemeriksaan dan Penyidikan dan Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan. Selain karena alasan yang pertama, Surat
Edaran dimaksud juga mengharuskan adanya penyesuaian terhadap Uraian Jabatan untuk unit eselon II lain yang tidak mengalami perubahan terutama terhadap butir Standar Kompetensi (Pejabat dan Pelaksana), Dimensi Jabatan (Pelaksana) dan Kedudukan Jabatan (Pelaksana).
Konsep Uraian Jabatan yang telah disesuaikan berjumlah 1,703 dengan rincian 1 Uraian Jabatan Ketua, 13 Uraian Jabatan Pejabat Eselon II, 61 Uraian Jabatan Pejabat Eselon III, 189 Uraian Jabatan Pejabat Eselon IV dan 1.439 Uraian Jabatan Pelaksana. Uraian Jabatan tersebut telah disampaikan pada Sekretaris Jenderal melalui Surat Nomor S-6240/BL/2008 tanggal 10 September 2008 untuk dimohonkan ketetapannya melalui Peraturan Menteri Keuangan.
b. Penyesuaian Peringkat Jabatan
Pada tanggal 20 November 2008, telah diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan No: 190/PMK.01/2008 tentang Pedoman Penetapan, Penilaian, Kenaikan dan Penurunan Jabatan dan Peringkat Bagi Pemangku Jabatan Pelaksana Departemen Keuangan, dengan tujuan untuk menjamin keseragaman dalam melakukan penetapan, penilaian, kenaikan dan penurunan peringkat jabatan pelaksana di lingkungan Departemen Keuangan.
Peraturan tersebut terdiri atas ketentuan umum, antara lain mengenai Kompetensi Teknis Pelaksana, yaitu kemampuan, pengetahuan, ketrampilan yang dimiliki oleh seorang pelaksana yang terkait dengan bidang tugasnya yang menjadi dasar dalam penetapan jabatan dan peringkatnya.
Pada prinsipnya, adalah beberapa hal mendasar yang diatur dalam PMK No.: 190/PMK.01/2008, sebagai berikut:
Pelaksana yang telah ditetapkan jabatan dan peringkat harus melaksanakan tugas sesuai dengan uraian jabatannya, dan dapat berdasarkan penugasan atasan. Setiap tahun dilakukan penilaian, dengan rekomendasi, naik atau turun!
Penurunan peringkat di-design lebih mudah, agar para pelaksana dituntut untuk lebih profesional. Pegawai yang mempunyai commit lebih diutamakan daripada comply.
Peringkat maksimal bagi pelaksana adalah grade 12, termasuk bagi mantan eselon I dan II.
3). Pengukuran Beban Kerja
Proses pengukuran Analisis Beban Kerja (ABK) di Departemen Keuangan secara umum merupakan kegiatan yang telah dimulai pada tahun 2007 dan telah beberapa kali mengalami penyempurnaan. Pada tahun 2008, kegiatan pengukuran ABK dimulai dengan kegiatan Bimbingan Teknis untuk seluruh unit eselon I dimana untuk Bapepam-LK dilaksanakan pada tanggal 21 – 22 Mei 2008.
Selanjutnya pada tanggal 16 – 19 Juni 2008 dilakukan pengolahan data ABK oleh Subbidang ABK yang terdiri atas perwakilan dari masing-masing unit eselon II Bapepam-LK. Hasil pengolahan data beban kerja tersebut menghasilkan besaran beban kerja, besaran efektivitas dan efisiensi unit, prestasi unit dan kebutuhan pegawai yang disarikan dalam tabel di bawah ini:
Beban Kerja Unit, Efektivitas dan Efisiensi Unit (EU) dan Prestasi Unit (PU) Bapepam-LK
Unit Eselon II Kerja Unit Beban
Jumlah Kebutuhan Pegawai/ Pejabat Jumlah pejabat/ pegawai yang ada +/- EU PU Sekretariat Badan 221,708 143 134 (9) 1.10 A Biro
Perundang-undang-an dPerundang-undang-an BPerundang-undang-antuPerundang-undang-an Hukum 65,871 44 39 (5) 1.12 A Biro Riset dan Teknologi
Informasi 75,569 50 50 - 1.00 B
Biro Pemeriksaan dan
Penyidikan 64,575 42 38 (4) 1.13 A
Biro Pengelolaan
Investasi 67,614 44 44 - 1.02 A
Biro Transaksi dan
Lembaga Efek 89,092 59 52 (7) 1.14 A
Biro Penilaian Keuangan
Perusahaan Sektor Jasa 86,903 56 48 (8) 1.20 A Biro Penilaian Keuangan
Perusahaan Sektor Riil 71,626 48 44 (4) 1.08 A Biro Standar Akuntansi
dan Keterbukaan 51,812 34 32 (2) 1.07 A
Biro Pembiayaan dan
Penjaminan 86,640 57 54 (3) 1.06 A
Biro Perasuransian 127,291 81 71 (10) 1.19 A Biro Dana Pensiun 127,995 84 79 (5) 1.08 A Biro Kepatuhan Internal 31,568 19 21 2 1.00 B
BAPEPAM-LK (TOTAL) 1,168,264 761 706 (55) 1.10 A
Dari hasil pengolahan data beban kerja di tabel 1 diperoleh gambaran sebagai berikut :
a. perhitungan beban kerja tersebut diperoleh nilai Efektivitas dan Efisiensi Unit keseluruhan Bapepam-LK sebesar 1,10. Nilai tersebut menggambarkan Prestasi Unit yang sangat baik (A).
b. Jika jumlah beban kerja sebanyak itu dibagi merata kepada pegawai Bapepam-LK yang sejumlah 706 (Tahun 2007 Bapepam-LK memiliki 784 pegawai, dikurangi 34 pegawai yang diperbantukan dan 44 pegawai yang tugas belajar) akan diperoleh gambaran bahwa masing-masing pegawai/pejabat bekerja efektif rata-rata 7 jam sehari. Hal ini menunjukkan jam kerja efektif pegawai Bapepam-LK lebih tinggi dari jam kerja efektif berdasarkan ketentuan yang berlaku yakni KMK No. 71/KMK.01/1996 tentang Hari dan Jam Kerja di Lingkungan Departemen Keuangan sebesar 6 jam 24 menit per hari.
c. Selanjutnya dari 13 (tiga belas) unit eselon II, 11 (sebelas) unit eselon II mendapat nilai EU di atas 1,00. Sementara itu, ada 2 (dua) unit eselon II mendapatkan nilai EU sama dengan 1,00 yaitu Biro Riset dan Teknologi Informasi dan Biro Kepatuhan Internal.
d. Dari hasil perhitungan beban kerja total akan diperoleh juga gambaran kebutuhan pegawai yaitu 761 orang, sehingga jika diselisihkan dengan jumlah pegawai/pejabat yang ada maka dibutuhkan tambahan pegawai sebanyak 55 orang, dimana sebagian besar diantaranya merupakan kebutuhan di level pelaksana. Total beban kerja Bapepam-LK sejumlah
1,168,264 jam.
Dari hasil pengolahan data ABK telah dipaparkan oleh Sekretaris Badan di hadapan Tim Reformasi Birokrasi Pusat pada pertengahan bulan Juli 2008 dan laporan hasil pengolahan ABK telah pula disampaikan kepada Sekretaris Jenderal selaku Ketua TRBP melalui surat nomor S-4500/BL/2008 tanggal 15 Juli 2008 dan kembali disampaikan kepada Ketua Pelaksana Harian TRBP melalui surat nomor S-6958/BL/2008 tanggal 26 September 2008 sebagai bahan rekomendasi dalam penyusunan laporan akhir TRBP yang akan disampaikan kepada Menteri Keuangan.
4). Cascading Depkeu-Wide ke Depkeu-One dan Depkeu-Two Bapepam-LK
Aspek finansial yang selama ini dapat dilihat di laporan-laporan keuangan perusahaan hanyalah ibarat kaca spion, tidak ada prediksi ke depan. Para sopir (driver) profesional akan selalu mengandalkan dashboard, dan kian canggih kendaraannya, semakin banyak pula fitur yang ditampilkan. Hal nilah yang melatarbelakangi konsep Balanced Scorecard, yang diperkenalkan David P. Norton dan Robert S. Kaplan di majalah Harvard Business Review edisi Januari-Februari 1992.
Sejak istilah Strategy Map atau peta strategi (PS) muncul dan dijelaskan pada buku Strategy Maps, Convesting Intangible Assets Into Tangible Outcomes tahun 2004, instansi pemerintah lebih banyak menggunakan BSC dalam perencanaan strategi (strategic planning) dibandingkan usaha swasta, walau awalnya ditujukan untuk membantu mereka agar tidak melulu mengukur laba (financial perspective) yang bersifat jangka pendek sebagai ukuran keberhasilan.
Pada intinya balanced adalah keseimbangan dan score-card adalah angka-angka dalam tabel yang mencakup perspektif keuangan dan perspektif non-keuangan sebagai berikut:
a. Perspektif keuangan, untuk menjawab pertanyaan bagaimana pemegang saham memandang perusahaan.
b. Perspektif pelanggan, yaitu untuk menjawab pertanyaan bagaimana customer memandang perusahaan.
c. Perspektif internal, untuk menjawab pertanyaan bidang keahlian apa saja yang tersedia dalam perusahaan, dan dapat dikembangkan.
d. Perspektif inovasi dan pembelajaran, untuk menjawab pertanyaan apakah perusahaan mampu berkelanjutan dan menciptakan value.
Salah satu departemen yang tidak dapat ditiadakan dalam suatu negara adalah Departemen Keuangan, pada umumnya mengelola Pendapatan Negara, Belanja Negara, Pembiayaan, dan Pasar Modal. Pada dashboards system di lingkungan Departemen Keuangan disebut Depkeu-Wide, dimana Menteri Keuangan bertindak sebagai driver. Pada level Depkeu- One, Pejabat Eselon I bertindak sebagai driver, pada level Depkeu-Two, Pejabat Eselon II bertindak sebagai driver, dan seterusnya hingga ke tingkat individual atau pelaksana. Setiap level mempunyai PS untuk memudahkan penyusunan Sasaran Strategis (SS), yang akan diturunkan (cascading) menjadi Key Performance Indicators (KPIs).
a. Depkeu-Wide
Visi Departemen Keuangan adalah "menjadi pengelola keuangan dan kekayaan negara yang bertaraf internasional dan dibanggakan masyarakat, serta instrumen bagi proses transformasi bangsa menuju masyarakat adil dan makmur, dan berperadaban tinggi".
Berdasarkan visi di atas, ditetapkan pula 2 (dua) Tujuan Strategis (TS) Departemen Keuangan, yaitu:
TS.1: “Terwujudnya Departemen Keuangan sebagai lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, independensi dan integritas”.
TS.2: “Terwujudnya industri PM dan LKNB sebagai penggerak perekonomian nasional dan berdaya saing global”.
Berdasarkan program prioritas Roadmap 2008-2009 dan arahan Menteri Keuangan, saat ini telah disusun lima tema peta strategi dan KPI, yang meliputi tema (i) pendapatan negara, (ii) belanja negara, (iii) pembiayaan APBN, (iv) kekayaan negara, dan (v) pasar modal dan lembaga keuangan non bank.
Saat ini jumlah SS yang dikembangkan Departemen Keuangan (Depkeu-Wide Strategy Map) sejak tahun 2007 tercatat 82 SS dan berhasil mengidentifikasi 161 KPI.
b. Depkeu-One
Sebagai unit eselon I di lingkungan Departemen Keuangan, Bapepam-LK mengemban thema “pasar modal dan lembaga keuangan non-bank”, dengan visi: “menjadi otoritas pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan profesional, yang mampu mewujudkan industri pasar modal dan lembaga keuangan non-bank sebagai penggerak perekonomian nasional yang tangguh dan berdaya saing global”.
Berdasarkan visi di atas, ditetapkan pula 2 (dua) SS Bapepam-LK, yaitu: TS.1: Meningkatkan produktifitas Bapepam-LK dalam rangka membangun otoritas PM dan LKNB yang amanah dan profesional.
TS.2: Mewujudkan kegiatan PM yang wajar, teratur dan efisien serta LKNB yang memenuhi standar prudensial dan efisien.
Untuk merealisasikan visi tersebut Bapepam-LK pun telah membangun Rencana Strategis/Roadmap 2005-2009, sebagai acuan bagi pengambilan kebijakan Bapepam-LK. Sebagaimana arahan Ketua, saat ini telah disusun tema peta strategi dan KPI Bapepam-LK, yaitu pasar modal dan lembaga keuangan non bank. Saat ini jumlah sasaran strategi yang dikembangkan oleh Depkeu-One (Bapepam-LK) Strategy Map mencapai 16 SS dan berhasil mengidentifikasi 27 KPI.
c. Depkeu-Two
Bapepam-LK mempunyai tugas yang sangat heterogen dibandingkan unit eselon I di lingkungan Departemen Keuangan lainnya, yang dapat dilihat dari visi-misi pada level eselon II. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 100 Tahun 2008, terdapat 13 unit eselon II di lingkungan Bapepam-LK. Salah satunya, yaitu: Sekretariat Badan.
Sekretariat Badan terdiri atas 5 (lima) unit eselon III, yaitu: Bagian Perencanaan dan Organisasi, Bagian Kepegawaian, Bagian Keuangan, Bagian Kerjasama Internasional dan Hubungan Masyarakat, serta Bagian Umum.
Berdasarkan visi di atas, ditetapkan pula 2 (dua) SS Sekretariat Badan, yaitu:
TS.1: “Terwujudnya kwalitas layanan dan dukungan yang tinggi kepada semua unsur di lingkugan Badan”.
TS.2: “Tingkat kepercayaan stake-holder internal dan eksternal”
Untuk merealisasikan visi tersebut Bapepam-LK pun telah membangun Rencana Strategis/Roadmap 2005-2009, sebagai acuan bagi pengambilan kebijakan di Sekretariat Badan. Sebagaimana arahan Sekretaris Badan, saat ini telah disusun tema peta strategi dan KPI Sekretaris Badan, yaitu bidang pelayanan. Saat ini jumlah SS yang dikembangkan oleh Sekretaris Badan mencapai 11 SS dan berhasil mengidentifikasi 22 KPIs.
5). Monitoring dan Evaluasi SOP TRBP DEPKEU
Sejalan dengan program reformasi birokrasi, Departemen Keuangan telah berhasil menyusun 6.820 Standard Operating Proedures (SOP) dengan 35 SOP terpilih sebagai ”Layanan Unggulan”. Namun penyusunan SOP baru merupakan langkah awal dalam jalan panjang reformasi birokrasi di Departemen Keuangan. Organisasi Departemen Keuangan yang senantiasa berubah ditambah tuntutan stakeholder, mengharuskan kita menyusun SOP yang dinamis dan adaptif terhadap perubahan. Untuk itulah diperlukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan SOP. Agar pelaksanaan layanan oleh unit organisasi benar-benar dinikmati masyarakat, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 25/KMK.01/2008 tentang Pembentukan Tim Reformasi Birokrasi Pusat Departemen Keuangan Tahun Anggaran 2008 ditetapkan Keputusan Sekretaris Jenderal selaku Ketua TRBP Nomor KEP-03/TRBP/II/2008 tentang Pembentukan Tim Monitoring dan Evaluasi Program Reformasi Birokrasi Pusat Departemen Keuangan Tahun 2008. Selanjutnya demi efektivitas pelaksanaan monitoring dan evaluasi, diperlukan suatu pedoman yang memuat mekanisme dan instrumen yang jelas dan terukur kepada tiap-tiap SOP. Adapun komponen yang dilakukan penilaian adalah sosialisasi dan internalisasi SOP, pemangku/pelaksana kegiatan, kesinambungan kegiatan, kejelasan prosedur SOP, manfaat dan janji pelayanan.
Ketua Pelaksana Harian TRBP telah menugaskan anggota Tim Penyusun Laporan Monev SOP Departemen Keuangan, yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Bagian Perencanaan dan Organisasi untuk melakukan penyusunan Laporan Pelaksanaan Kegiatan Penyempurnaan Dan Monitoring Bussiness Process Tahun Anggaran 2008. Dengan dilakukannya monitoring maka akan terlihat titik-titik krisis yang harus dievakuasi. Sehingga SOP yang menjadi acuan berkegiatan akan semakin baik dari waktu ke waktu.
B. Penataan Organisasi
Pembahasan penataan organisasi Bapepam-LK pada tahun 2008 merupakan tindak lanjut dari usulan yang telah disampaikan pada tahun 2007. Rapat pembahasan pertama dilaksanakan pada tanggal 30 April 2008 antara Bapepam-LK dan Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan (Biro Organta), Sekretariat Jenderal dengan Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan). Pokok-pokok yang disepakati dalam pertemuan tersebut antara lain:
Menpan pada prinsipnya menyepakati usulan penambahan 1 (satu) Subbagian pada masing-masing Bagian di Biro Pemeriksaan dan Penyidikan dengan pertimbangan beban kerja yang dipikul selama ini terlalu besar.
Menpan juga menyepakati usulan penambahan 1 (satu) Bagian dan 3 (tiga) Subbagian di Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum untuk
mengakomodasi aspek hukum Lembaga Keuangan yang kewenangannya selama ini ada di Sekretariat Jenderal.
Selanjutnya pada tanggal 28 Mei 2008 dilaksanakan pertemuan kedua untuk melakukan pembahasan secara rinci mengenai tugas dan fungsi pada Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum. Selain itu dalam rapat tersebut juga disepakati perubahan tugas dan fungsi pada Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan yang pada intinya mengalami perubahan nomenklatur pada Bagian Akuntan, Penilai dan Wali Amanat Pasar Modal menjadi Bagian Akuntan, Penilai, Pemeringkat Efek dan Wali Amanat Pasar Modal.
Setelah dilakukan pembahasan dan penelaahan akhir mengenai uraian tugas dan fungsi Biro Pemeriksaan dan Penyidikan, Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum dan Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan, konsep penataan organisasi Bapepam-LK kemudian disampaikan ke Biro Organta, Sekretariat Jenderal yang kemudian ditetapkan oleh Menteri Keuangan pada tanggal 11 Juli 2008 dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 100/PMK.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan.