Guru membuka kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan: “Bagaimana reaksi masyarakat menanggapi Dekrit Presiden 5 Juli 1959?”. Kemudian Siswa SU menjawab: “Masyarakat mendukungnya bu. Dari buku
yang saya baca, disebutkan bahwa Dekrit Presiden tersebut mendapat dukungan dari masyarakat KSAD mengeluarkan perintah harian yang ditunjukkan kepada seluruh anggota TNI untuk melaksanakan dan mengamankan Dekrit Presiden tersebut, dan DPR pun secara aklamasi menyatakan kesediaannya untuk bekerja terus berdasarkan UUD 1945”. Guru memberikan reward kepada siswa SU berupa point/nilai.
Kemudian guru motivasi siswa dengan cara menunjuk salah satu siswa untuk membacakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 di depan kelas, dengan cara bertanya kepada siswa: ”Siapa yang bersedia membacakan isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959? Silakan acugkan tangan dan ke depan!”. Siswa AK menjawab: “Saya bu”. Kemudian AK ke depan kelas dan membacakan isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
b) Kegiatan Inti (Main Point)
Guru mengawali kegiatan pembelajaran dengan menginformasikan kepada siswa mengenai topik pembelajaran yang akan dibahas pada pertemuan tersebut, yaitu mengenai : “Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Kebijakan Politik Pemerintahan Demokrasi Terpimpin”. Kemudian guru melakukan ekspositori (pembelajaran yang berpusat pada guru) mengenai kebijakan pemerintah pada masa Demokrasi Terpimpin. Guru menjelaskan materi tentang kebijakan pemerintah pada masa Demokrasi Terpimpin melalui peta konsep atau bagan. Adapun inti dari materi yang disampaikan guru mengenai kebijakan pemerintah pada masa Pada masa Demokrasi Terpimpin tersebut antara lain adalah: Pembentukan kabinet kerja pertama; Penetapan presiden tentang Dewan
Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS); Pembentukan Front Nasional; Pidato Presiden tentang Manipol USDEK, yang kemudian dikenal sebagai Manifesto politik Republik Indonesia (Manipol) yang berintikan Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia (USDEK); Pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dan pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil Pemilu 1955; Pembubaran Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI); Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) melalui penetapan Presiden; dan Perjuangan pembebasan Irian Barat.
Langkah selanjutnya guru mengajukan pertanyaan kepada siswa: “Apakah terjadi penyimpangan-penyimpangan pada masa Demokrasi Terpimpin? Jika ada apa saja dan bagaimana menurut pendapat kalian?”. Siswa secara serempak menjawab: “Ada bu…. banyak”. Kemudian guru mengajukan pertanyaan selanjutnya kepada siswa: “Siapa yang bisa menyebutkan contohnya? Silakan acungkan tangannya!”. Siswa EH menjawab: “Saya bu, contoh penyimpangan yang terjadi pada masa Demokrasi Terpimpin antara lain: Kedudukan Presiden seharusnya berada di bawah MPR, tetapi kenyataannya MPR tunduk kepada Presiden. Terus… selain itu juga, Presiden secara langsung terjun mengatur perekonomian negara (Sistem Ekonomi Terpimpin). Guru kemudian memberikan reward berupa point/nilai kepada siswa EH.
Kemudian guru memberikan tugas kepada siswa: “Tadi ibu telah menjelaskan materi mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah pada masa Demokrasi Terpimpin. Sekarang kalian diskusikan dengan teman sebangku
mengenai materi tersebut. Nanti, kalian akan ditunjuk oleh ibu untuk mempresentasikan hasil diskusi kalian”. Siswa kemudian melakukan kegiatan diskusi dengan cara berdialog dengan teman sebangkunya mengenai kebijakan pemerintah pada masa Demokrasi Terpimpin dan guru mengontrol kegiatan diskusi dengan menghampiri beberapa siswa yang sedang melakukan diskusi. Kemudian guru memberitahukan kepada siswa bahwa waktu untuk melakukan kegiatan diskusi telah habis dan guru kemudian mengajukan pertanyaan: “Sekarang siapa yang berani mengemukakan hasil diskusinya, silakan ke depan!”. Beberapa siswa bertanya: ”Boleh berdua bu?”, guru menjawab: “Boleh, silakan!”. Kemudian siswa AM dan SU ke depan. Siswa AM mengemukakan gagasan dari hasil diskusi: ”Menurut hasil diskusi yang telah saya lakukan, saya dapat menyimpulkan bahwa pemerintahan Demokrasi Terpimpin diawali dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 1959. Setelah badan konstituante gagal dalam menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 menjadi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, Presiden Soekarno menetapkan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945 dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959”. Kemudian siswa SU bertanya: “Boleh menambahkan bu?”. Guru mempersilakan siswa SU untuk mengemukakan gagasan dari hasil diskusi. Kemudian siswa SU mengemukakan gagasan dari hasil dialognya: “Dalam menjalankan pemerintahan pada masa Demokrasi Terpimpin, pemerintah melakukan beberapa kebijakan antara lain: Pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dan pembubaran Dewan Perwakilan rakyat (DPR) hasil Pemilu 1955; Pembentukan MPRS melalui penetapan Presiden dan
sebagainya. Namun, dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut terjadi beberapa penyimpangannya antara lain yaitu: Seharusnya kedudukan presiden di bawah MPR tapi MPR malah tunduk ke Presiden; Pidato Presiden 17 Agustus 1959 yang dikenal sebagai Manifesto Politik Republik Indonesia, kemudian ditetapkan sebagai GBHN; Lahirnya konsep NASAKOM; Anggota Dewan perwakilan rakyat (DPR) hasil pemilu I (1955) dibubarkan dan diganti oleh Dewan Perwakilan Rakyar gotong Royong (DPR-GR) karena menolak RAPBN yang diajukan oleh Presiden; Secara langsung Presiden terjun mengatur perekonomian negara (Sistem Ekonomi Terpimpin); Dalam politik luar negeri yang semula bebas aktif berubah haluan menjadi Poros Jakarta - Phnom Phen - Peking. Guru kemudian memberikan reward kepada siswa AM dan SU berupa poit/nilai dan pujian “bagus jawabannya” dan mepersilakan AM dan SU untuk kembali ke tempat duduk.
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa: “Bagaimana pendapat kalian mengenai pemerintahan Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin jika dibandingkan dengan kondisi pemerintahan Indonesia pada saat ini (masa Reformasi)?”. Kemudian siswa RP mengacungkan tangan dan menjawab: “Menurut saya, baik pada masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin maupun pada saat ini (masa Reformasi) penyimpangan-penyimpangan masih terjadi. Hal ini, dapat kita lihat dengan masih adanya prilaku-prilaku yang tidak terpuji yang dilakukan oleh elit politik, misalnya masih adanya kasus tindakan korupsi yang terjadi pada saat ini. Akan tetapi, saya berpendapat bahwa kondisi pemerintahan di Indonesia pada saat ini mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Hal ini
dapat di lihat dari banyaknya kasus tindakan korupsi yang telah dapat dibongkar dan para pelakunya telah berhasil di tangkap dan diadili”. Kemudian guru memberikan reward kepada siswa RP berupa point/nilai dan pujian (bagus jawabannya, silakan berikan tepuk tangan untuk siswa RP). Siswa pun kemudian bertepuk tangan.
c) Kegiatan Penutup (Closure)
Setelah mengeksplorasi pendapat atau gagasan yang dikemukakan siswa, guru kemudian membuat kesimpulan: “Setelah Ibu mendengar jawaban dan gagasan yang telah kalian kemukakan, dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dilakukan beberapa kebijakan seperti: Pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dan pembubaran Dewan Perwakilan rakyat (DPR) hasil Pemilu 1955; Pembentukan MPRS melalui penetapan Presiden dan sebagainya. Namun, dalam melaksanakan kebijakan tersebut masih terdapat penyimpangan-penyimpangan. Akan tetapi, meskipun demikian sebagaimana pendapat yang telah dikemukakan oleh teman kalian tadi baik pada masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin maupun pada saat ini (masa Reformasi) penyimpangan-penyimpangan masih terjadi. Kondisi pemerintahan di Indonesia pada saat ini mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, hal ini dapat kita lihat dengan terbongkarnya beberapa kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Mudah-mudahan pemerintah kita dapat terus meningkatkan kualitas kinerjanya”. Guru kemudian memberitahukan materi untuk minggu depan kepada siswa: “Untuk minggu depan kita akan membahas
mengenai Gerakan 30 September 1965 (G.30.S/PKI), silakan kalian baca dan pelajari mengenai materi tersebut”.
3) Observasi (Observe)
Pada kegiatan ini peneliti bersama guru mitra melakukan analisis perbaikan terhadap PBM (Proses Belajar Mengajar). Observasi dilaksanakan di kelas dengan fokus pengamatan kepada aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sejarah dan aktivitas guru dalam mengembangkan pembelajaran sejarah dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik melalui dialog. Adapun hasil observasi dari pelaksanaan pertemuan ke-2/tindakan 2 siklus pertama ini, dapat di lihat pada tabel di berikut ini:
Tabel 4.5 Hasil Observasi
Penerapan Pendekatan Konstruktivistik Melalui Dialog Pada Pertemuan ke-2/Tindakan 2 Siklus Kedua
Standar Kompetensi : 2. Merekonstruksi perjuangan bangsa Indonesia sejak masa Proklamasi hingga lahirnya Orde Baru
Kompetensi Dasar : 2.1. Merekonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak Proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin Topik Pembelajaran : Dekrit Presiden 5 juli 1959 dan kebijakan
Politik pemerintahan Demokrasi Terpimpin. Hari/Tgl/Bln/Thn : Senin, 23 Maret 2009
No Aspek yang diamati
Hasil
B C K
A. Aktivitas Guru
1 Perencanaan pembelajaran sejarah konstruktivistik
melalui dialog
a. Menampilkan dokumen pembelajaran
b. Mengembangkan materi dan media
d. Merancang penilaian
2 Penyajian pembelajaran konstruktivistik melalui dialog a. Menginformasikan tujuan pembelajaran
b. Memotivasi siswa
c. Mengungkap konsep awal siswa
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengemukakan ide/gagasan
e. Mendorong siswa untuk mencari sumber belajar
f. Mengembangkan dialog dalam pembelajaran
g. Mengelola interaksi kelas
h. Mendorong siswa untuk membuat analisis dan elaborasi terhadap masalah-masalah Kontroversial
yang dihadapinya
i. Bersikap, fleksibel, lues, dan terbuka
j. Membentuk kelompok-kelompok kecil
k. Memberikan tugas kepada siswa untuk mengembangkan dan menganalisis terhadap
peristiwa-peristiwa sejarah yang dipelajari
l. Meluruskan konsep dan pengetahuan siswa
m. Melaksanakan evaluasi
n. Menutup Pembelajaran
B. Aktivitas Siswa
a. Aktif bertanya
b. Mencari dan mengolah informasi
c. Melakukan dialog antara siswa dengan guru
mengenai materi pembelajaran
d. Melakukan dialog antara siswa dengan siswa
mengenai materi pembelajaran
e. Menjawab pertanyaan yang diajukan
f. Menganalisis permasalahan dan pemecahannya
g. Bertukar pikiran dengan teman sejawat
h. Membuat kesimpulan
i. Mengemukakan gagasan
Keterangan:
Berilah tanda chek list/centang (v) pada kolom yang tersedia. B = Baik
C = Cukup K = Kurang
Berdasarkan hasil observasi penerapan pendekatan konstruktivistik melalui dialog pada pertemuan ke-2/tindakan 2 siklus kedua ini, peneliti dan guru mitra melakukan diskusi dan evaluasi terhadap kejadian dan kegiatan selama
proses belajar mengajar berlangsung. Maka, diperoleh beberapa temuan sebagai berikut:
a) Pengamatan kepada guru :
(1) Guru mulai terbiasa menempatkan posisinya sebagai fasilitator atau mitra belajar bagi siswa. Hal ini salah satunya yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan dialog antara siswa dengan siswa mengenai materi pembelajaran serta memberikan kesempatan untuk bertukar pikiran kepada siswa dengan teman sejawat, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasan.
(2) Dalam proses belajar mengajar guru telah membuat kelompok-kelompok kecil (memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan diskusi dengan teman sebangku), memberikan tugas kepada siswa untuk mengembangkan dan menganalisis terhadap peristiwa-peristiwa sejarah yang dipelajari dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan dialog antara siswa dengan siswa mengenai materi pembelajaran serta memberikan kesempatan untuk bertukar pikiran kepada siswa dengan teman sejawat.
b) Pengamatan kepada siswa :
(1) Terdapat peningkatan minat dan aktivitas siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar sejarah. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan jumlah siswa yang menyimak, bertanya, menjawab pertanyaan dan mengemukakan gagasan.
(2) Pertanyaan, jawaban pertanyaan, dan gagasan yang dikemukakan oleh siswa tidak terbatas pada pengetahuan seputar fakta saja, tetapi mulai berhubungan dengan hal-hal yang bersifat kontemporer dan memerlukan pemikiran kritis.
c) Pengamatan terhadap proses belajar mengajar :
(1) Proses belajar mengajar sudah mulai berjalan dengan kondusif. Hal ini ditandai dengan situasi kelas yang mulai terkendali dan kegiatan dialog antara guru dengan siswa maupun dialog antara siswa dengan siswa sudah dapat berjalan dengan baik sehingga komunikasi terjalin dengan baik.
(2) Pada pertemuan ke-2/tindakan 2 siklus kedua ini, proses belajar mengajar sejarah telah mengarah pada penerapan pendekatan konstruktivistik melalui dialog.
4) Refleksi (Reflect)
Berdasarkan hasil observasi, diskusi dan evaluasi yang dilakukan oleh peneliti dan guru mitra, maka kegiatan yang dilakukan pada pertemuan ke-2/tindakan 2 siklus kedua ini, telah menunjukkan adanya kemajuan dan peningkatan yang berarti bagi guru, siswa maupun proses belajar mengajar. Kemajuan atau peningkatan tersebut dapat terlihat dari adanya perubahan-perubahan cara mengajar guru yang mulai memfokuskan pembelajaran dengan mengembangkan penerapan pendekatan konstruktivistik melalui dialog yaitu pandangan yang beranggapan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi
manusia melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka. Dalam menyampaikan materi pembelajaran sejarah guru melakukannya dengan cara membangun persepsi dan membangun cara pandang siswa mengenai materi yang dipelajari, mengembangkan masalah baru dan mengembangkan konsep-konsep baru. Sehingga kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan dan siswa dipandang sebagai individu mandiri yang memiliki potensi belajar dan pengembang ilmu.
Selain itu kemajuan siswa dapat dilihat pula dari peningkatan keaktifan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung, baik dari aktivitas menyimak, bertanya, menjawab pertanyaan, menyimpulkan dan mengemukakan gagasan. Untuk pertemuan berikutnya, guru harus dapat mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pada pertemuan ke-2/tindakan 2 siklus kedua ini, dan guru harus mampu mengembangkan proses pembelajaran yang lebih menarik dan lebih baik dalam menerapkan pendekatan konstruktivistik melalui dialog dalam kegiatan pembelajaran sejarah, yaitu dengan cara melakukan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: Pertama, apersepsi yaitu kegiatan tanya jawab antara guru dengan siswa. Guru mengawali kegiatan pembelajaran di kelas dengan kegiatan berupa mengungkap konsep awal siswa, memotivasi siswa, brainstorming (curah pendapat). Kedua, Eksplorasi yaitu kegiatan siswa untuk mencari pengetahuan sendiri sampai mereka menemukan sendiri. Ketiga, diskusi dan penjelasan konsep yaitu suatu kegiatan dialog antara siswa dengan guru atau antara siswa dengan siswa. Hasil yang telah dicapai oleh masing-masing siswa didiskusikan dengan siswa lain dengan mempresentasikan hasil temuannya di
depan kelas dan siswa lain diminta untuk menanggapi. Kemudian guru memberikan penjelasan-penjelasan terhadap permasalah yang ditemui. Keempat, pengembangan aplikasi yaitu pada tahapan ini setelah mempelajari materi pelajaran sejarah siswa diharapkan dapat mengkonstruksi pengetahuannya, dengan cara menyimpulkan dan mengungkapkan gagasan baik dalam bentuk tulisan (karangan) ataupun secara lisan.