• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Tindakan Kelas

BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN TEMUAN

C. Pelaksanaan Tindakan Kelas

1. Pelaksanaan Tindakan Kelas Siklus I a. Perencanaan

Pelaksanaan tindakan kelas siklus I ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dan dilaksanakan dikelas V SDN Ujung Batu 2 dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw pada mata pelajaran PKn yakni Kebebasan Berorganisasi. Adapun kegiatan tersebut dengan perencanaan terlebih dahulu sebelum melaksanakan pembelajaran:

1) Membuat skenario pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.

2) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk 2 kali pertemuan dengan tema Kebebasan Berorganisasi.

3) Membuat atau menyusun lembar observasi guru untuk pengamat (observer).

4) Membuat atau menyusun lembar aktivitas siswa. 5) Membuat media pembelajaran.

72

6) Menyiapkan lembar kerja untuk kegiatan siswa (LKS dan LKK). 7) Mempersiapkan alat evaluasi (lembar evaluasi) untuk mengetahui

sejauh mana keberhasilan siswa dalam menguasai materi yang diajarkan pada tiap pertemuan.

8) Melakukan koordinasi dengan observer/kepala sekolah, baik jadwal dan waktu pelaksanaan.

Tabel 4.1 Tanggal Pelaksanaan Tindakan Kelas Siklus I

b. Pelaksanaan

1) Siklus I Pertemuan ke 1

Indikator pada pertemuan pertama ini ada 3, yaitu indikator produk (kognitif), yakni menjelaskan pengertian organisasi, menjelaskan manfaat dari organisasi, menyebutkan unsur-unsur organisasi, menyebutkan tugas-tugas pengurus organisasi. Indikator proses (psikomotor) yakni mempraktekkan cara No. Hari/

Tanggal

Pertemuan ke

Jumlah

Jam Materi Penilaian

1. Selasa, 19 April 2011 1 2  Pengertian Organisasi  Manfaat Organisasi  Pengurus Organisasi  Unsur-Unsur Organisasi Tes tertulis (pilihan ganda) 2. Rabu , 20 April 2011 2 2  Organisasi-organisasi yang ada dilingkungan sekolah  Struktur organisasi sekolah

Tes tertulis (pilihan ganda) 3. Kamis, 21 April 2011 Evaluasi Siklus I Tes tertulis (pilihan ganda)

73

berorganisasi. Indikator sikap (afektif) yakni mengaplikasikan konsep berorganisasi dalam kehidupan sehari-hari.

a) Kegiatan awal.

Guru masuk ke dalam ruang kelas V dengan memberi salam, mengkondisikan siswa baik fisik maupun psikisnya untuk siap belajar dengan menanyakan kabar dan meminta siswa untuk menyiapkan perlengkapan belajar. Guru memulai pelajaran dengan melakukan apersepsi dengan menanyakan kepada siswa siapa yang menjadi ketua kelas, wakil ketua, sekretaris dan bendahara Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa yakni menjelaskan dan menyebutkan pengertian, manfaat, unsur-unsur, dan pengurus organisasi. Terakhir, guru menyampaikan uraian singkat tentang materi yang akan dipelajari dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa.

b)Kegiatan inti.

Guru membentuk siswa ke dalam 3 kelompok yang beranggotakan 4 orang siswa. Karena ada penambahan jumlah siswa (siswa baru), maka ada 2 kelompok yang beranggotakan 5 siswa. Kelompok ini disebut kelompok asal. Guru membagikan bahan bacaan yang berbeda kepada masing-masing anggota kelompok, yakni bahan bacaan pengertian organisasi, manfaat organisasi, unsur-unsur organisasi, dan pengurus organisasi. Siswa diberi kesempatan untuk membaca

74

terlebih dahulu materi yang diberikan. Setelah itu, setiap anggota kelompok asal berpisah dan membentuk kelompok baru berdasarkan kesamaan materi atau bahan bacaan yang dimiliki. Kelompok ini disebut dengan kelompok ahli.

Terdapat 4 kelompok ahli yakni, kelompok ahli pengertian organisasi, kelompok ahli manfaat organisasi, kelompok ahli unsur-unsur organisasi dan kelompok ahli pengurus organisasi. Setiap siswa dalam kelompok ahli mempelajari materinya bersama-sama dengan teman sekelompoknya. Untuk mempermudah setiap siswa dalam kelompok ahli memperdalam materinya, guru memberikan lembar kerja siswa (LKS), sehingga diskusi dalam kelompok ahli menjadi lebih terarah dan masing-masing siswa memiliki catatan untuk dibawa ke kelompok asal. Setelah belajar dan berdiskusi dalam kelompok ahli, setiap siswa kembali lagi ke kelompok asalnya. Didalam kelompok asal ini, siswa kembali belajar dan berdiskusi bersama dengan teman sekelompoknya. Setiap siswa saling memberikan informasi tentang materi yang dipelajarinya kepada teman yang lainnya, sehingga terjadi tutor sebaya (peer teaching). Kemudian setiap kelompok mengerjakan Lembar Kerja Kelompok (LKK) yang diberikan guru. Hasil LKK tersebut kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok. Setelah melakukan presentasi, setiap siswa kembali ketempat duduknya dan mengerjakan

75

kuis individu dalam bentuk kartu soal. Nilai LKK akan digabung dengan nilai individu siswa dari kuis untuk menentukan kelompok mana yang memperoleh penghargaan. c) Kegiatan akhir.

Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran. Siswa mengerjakan soal evaluasi berupa soal pilihan ganda sebanyak 20 soal, kemudian guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Guru mengakhiri pelajaran dengan memberikan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.

2) Siklus I Pertemuan ke 2

Indikator pada pertemuan kedua ini ada 3, yakni indikator produk (kognitif), yakni menyebutkan organisasi yang ada di lingkungan sekolah. Indikator proses (psikomotor) yakni, membuat struktur organisasi yang ada di sekolah. Indikator sikap (afektif) yakni, mengaplikasikan konsep berorganisasi dalam kehidupan sehari-hari.

a) Kegiatan awal.

Guru masuk ke dalam ruang kelas V dengan memberi salam, mengkondisikan siswa baik fisik maupun psikisnya untuk siap belajar. Guru memulai pelajaran dengan melakukan apersepsi dengan mengingat pelajaran pada pertemuan pertama tentang pengertian, unsur-unsur, manfaat, dan pengurus

76

organisasi. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yakni siswa dapat menyebutkan organisasi yang ada di lingkungan sekolah, siswa dapat membuat struktur organisasi kelas, dan siswa dapat mengaplikasikan konsep berorganisasi dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, guru menyampaikan uraian singkat tentang materi yang akan dipelajari dan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa.

b)Kegiatan inti.

Guru membentuk siswa ke dalam 3 kelompok yang beranggotakan 4-5 orang siswa. Kelompok ini disebut kelompok asal. Guru membagikan bahan bacaan yang berbeda kepada masing-masing anggota kelompok, yakni bahan bacaan organisasi sekolah dan kelas, koperasi sekolah, pramuka dan UKS, dan struktur organisasi sekolah. Siswa diberi kesempatan untuk membaca terlebih dahulu materi yang diberikan. Setelah itu, setiap anggota kelompok asal berpisah dan membentuk kelompok baru berdasarkan kesamaan materi atau bahan bacaan yang dimiliki. Kelompok ini disebut dengan kelompok ahli.

Terdapat 4 kelompok ahli yakni, kelompok ahli organisasi sekolah dan kelas, kelompok ahli koperasi sekolah, kelompok ahli pramuka dan UKS dan kelompok ahli struktur organisasi sekolah. Setiap siswa dalam kelompok ahli mempelajari

77

materinya bersama-sama dengan teman sekelompoknya. Untuk mempermudah setiap siswa dalam kelompok ahli memperdalam materinya, guru memberikan lembar kerja siswa (LKS), sehingga diskusi dalam kelompok ahli menjadi lebih terarah dan masing-masing siswa memiliki catatan untuk dibawa ke kelompok asal. Setelah belajar dan berdiskusi dalam kelompok ahli, setiap siswa kembali lagi ke kelompok asalnya. Didalam kelompok asal ini, siswa kembali belajar dan berdiskusi bersama dengan teman sekelompoknya. Setiap siswa saling memberikan informasi tentang materi yang dipelajarinya kepada teman yang lainnya, sehingga terjadi tutor sebaya (peer teaching). Kemudian setiap kelompok mengerjakan Lembar Kerja Kelompok (LKK) yang diberikan guru. Hasil LKK tersebut kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok. Setelah melakukan presentasi, setiap siswa kembali ketempat duduknya dan mengerjakan kuis individu dalam bentuk kartu soal. Nilai LKK akan digabung dengan nilai individu siswa dari kuis untuk menentukan kelompok mana yang memperoleh penghargaan. c) Kegiatan akhir.

Guru bersama siswa menyimpulkan pelajaran. Siswa mengerjakan soal evaluasi berupa soal pilihan ganda sebanyak 20 soal, kemudian guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan PR

78

sebagai tindak lanjut. Guru mengakhiri pelajaran dengan memberikan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.

c. Observasi

Observasi yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (baik oleh orang lain maupun guru sendiri) yang dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan.

1) Hasil Observasi Aktivitas Guru

Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan masih belum efektif. Hal ini dapat dilihat ada beberapa tahapan-tahapan mengajar yang masih belum terlaksana. Ini disebabkan karena pengelolaan waktu yang dilakukan peneliti masih kurang optimal.

Tabel 4.2 Perbandingan Aktivitas Guru Siklus 1 S P Kegiatan

Awal Kegiatan Inti Kegiatan Akhir % Ket

S1 P1 1 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 47 73,43 Baik 2 3 4 4 2 4 4 2 4 1 4 3 4 2 3 1 Ṝ (%) 62,5% 66,67% 62,5% P2 1 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 51 79,68 Baik 3 3 4 4 2 4 4 2 4 4 4 3 4 2 2 2 Ṝ (%) 75% 72,91% 62,5% Keterangan: S1 = Siklus 1 P1 = Pertemuan ke 1 P2 = Pertemuan ke 2

79 Kegiatan Awal

1. Sesuaikah kegiatan apersepsi dengan materi ajar 2. Menyampaikan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai Kegiatan Inti

1. Pembagian kelompok terorganisir dengan membagi siswa secara heterogen

2. Membagikan materi yang berbeda untuk anggota kelompok 3. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tingkat kompetensi

(tujuan) yang akan dicapai dan karakteristik siswa 4. Anggota kelompok mendapatkan materi yang berbeda 5. Anggota tim yang berbeda bertemu dalam kelompok baru

(kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab yang akan didiskusikan

6. Mengarahkan/membimbing siswa dalam kerja kelompok

7. Tim ahli bergantian mengajarkan sub bab yang mereka kuasai di kelompok asal.

8. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi 9. Melaksanakan kuis secara individu

10. Memberikan penghargaan tim Kegiatan Akhir

1. Melaksanakan evaluasi

2. Melakukan refleksi pembelajaran

3. Menyusun rangkuman dengan melibatkan siswa 4. Melakukan tindak lanjut

80

Skor yang diberikan atas pertimbangan: 1 = tidak terlaksana

2 = terlaksana sistematis, tapi tidak tepat 3 = terlaksana tepat, tapi tidak sistematis 4 = terlaksana sistematis dan tepat

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa aktivitas guru pada pertemuan ke 1, kegiatan awal memperoleh persentase 62,5%, kegiatan inti sebesar 66,67 %, dan kegiatan akhir memperoleh persentase 62,5% dan secara keseluruhan persentase kegiatan pembelajaran pada pertemuan 1 ini adalah 73,43%. Sedangkan pada pertemuan ke 2 dapat dilihat bahwa persentase pada kegiatan awal meningkat sebanyak 12,5% menjadi 75 %, kegiatan inti juga mengalami peningkatan sebesar 6,24% menjadi 72,91%, dan untuk kegiatan akhir tidak mengalami peningkatan ataupun penurunan tetap 62,5%. Sehingga secara keseluruhan aktivitas guru pada kegiatan pembelajaran pertemuan kedua ini adalah 79,68%. Secara keseluruhan aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran baik pada pertemuan pertama maupun kedua sudah mencapai indikator keberhasilan aktivitas guru yang ditetapkan peneliti yakni 70,00%. Namun, pada bagian-bagian tertentu harus ditingkatkan seperti pada pertemuan pertama yakni kegiatan apersepsi agar lebih disesuaikan lagi dengan materi. Kemudian pembelajaran harus lebih disesuaikan lagi dengan karakteristik anak dan perlu lebih banyak lagi memberikan kepada anak baik di

81

kelompok ahli maupun di kelompok asal. Karena pengelolaan waktu yang kurang efektif, kegiatan refleksi menjadi kurang optimal bahkan kegiatan presentasi dan pemberian PR menjadi tidak terlaksana. Pada pertemuan kedua, pengelolaan waktu sudah diperbaiki meskipun belum begitu efektif, sehingga semua kegiatan sudah dapat dilaksanakan. Namun, masih kurang optimal seperti kegiatan refleksi, kesimpulan, dan pemberian PR. Sama pada pertemuan pertama kegiatan pembelajaran harus lebih disesuaikan lagi dengan karakteristik anak dan perlu lebih banyak lagi memberikan kepada anak baik di kelompok ahli maupun di kelompok asal. Oleh karena itu, perlu diperbaiki dan ditingkatkan lagi pada siklus berikutnya agar dapat mencapai indikator yang ditetapkan dan kegiatan pembelajaran yang direncanakan dapat berlangsung optimal.

Gambar 4.1. Perbandingan Aktivitas Guru Pada Tiap Pertemuan Siklus I

0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00% Pertemuan 1 62.50%66.67%75% 73.43% K. Awal K. Inti K. Akhir Total Pembelajaran 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00% Pertemuan 2 75.00%72.91% 75% 79.68% K. Awal K. Inti K. Akhir Total Pembelajaran

82 2) Observasi Aktivitas Siswa

Hasil pengamatan dapat kita lihat melalui lembar observasi aktivitas siswa siklus I pertemuan pertama dan pertemuan kedua. Aktivitas siswa yang di observasi adalah kegiatan siswa dalam berkelompok dan diamati sendiri oleh peneliti. Berikut adalah tabel perbandingan aktivitas siswa pada sikus I.

Tabel 4.3 Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus I

S P A B C D E F % Ket S1 Kelompok 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 57 79,16 Baik P1 3 2 3 2 2 2 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 3 4 P2 3 3 3 2 2 2 4 3 4 4 2 3 4 3 3 4 3 4 56 77,78 Baik Ṝ (%) 75 62,5 75 50 50 50 100 87,5 100 87,5 50 75 100 87,5 87,5 100 75 100 Keterangan :

A = Aktivitas siswa dalam memperhatikan guru B = Aktivitas siswa dalam bertanya dikelompok

C = Aktivitas siswa dalam mempelajari materi yang diberikan D = Aktivitas siswa dalam bekerjasama dalam kelompok

E = Aktivitas siswa dalam menyampaikan penjelasan materi dengan teman sekelompoknya (tutor sebaya) F = Aktivitas siswa dalam menyajikan hasil kerja kelompok (presentasi)

83

Skor 2 = Sebagian kecil siswa melakukan aktivitas yang diamati Skor 3 = Sebagian besar siswa melakukan aktivitas yang diamati Skor 4 = Semua siswa melakukan aktivitas yang diamati

Berdasarkan tabel perbandingan aktivitas siswa pada siklus I, setiap kelompok menunjukkan hasil yang memuaskan pada beberapa aspek yang dinilai. Namun, setiap kelompok masih menunjukkan hasil yang kurang memuaskan pada aspek bertanya dalam kelompok, yakni setiap kelompok hanya memperoleh rata-rata persentase sebesar 50%. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pemberian motivasi dari guru, sehingga siswa enggan untuk bertanya. Selain itu, keaktifan kelompok 2 masih perlu ditingkatkan, yakni pada aspek memperhatikan guru (62,5%) dan aspek bekerjasama dalam kelompok (50%).

Nilai persentase tersebut masih belum mencapai indikator keberhasilan aktivitas siswa yang ditetapkan peneliti yakni 70,00%. Sehingga pada siklus berikutnya masih perlu ditingkatkan lagi. Berikut data pada tabel 4.3 disajikan dalam bentuk grafik.

84

Gambar 4.2 Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus 1 Keterangan :

A = Aktivitas siswa dalam memperhatikan guru B = Aktivitas siswa dalam bertanya dikelompok

C = Aktivitas siswa dalam mempelajari materi yang diberikan D = Aktivitas siswa dalam bekerjasama dalam kelompok

E = Aktivitas siswa dalam menyampaikan penjelasan materi dengan teman sekelompoknya (tutor sebaya) F = Aktivitas siswa dalam menyajikan hasil kerja kelompok (presentasi)

Observasi pada hasil belajar kelompok siklus I pertemuan ke 1 dan pertemuan ke 2 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

75% 50% 75% 100%100% 100%100% 100%100% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3

Pertemuan 1

A B C D E F 75% 75% 75% 100% 75% 100% 100% 75% 75% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3

Pertemuan 2

A B C D E F

85

Tabel 4.4. Distribusi Hasil Belajar Kelompok Siklus I

Siklus Pertemuan Kelompok 1 2 3 S 1 1 100 100 75 2 90 80 100 Rata-Rata 95 90 87,5

Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat, pada pertemuan pertama kelompok 1 mendapat nilai 100, kelompok 2 mendapat nilai 100, dan kelompok 3 mendapat nilai 75. Pada pertemuan kedua, kelompok 1 mengalami penurunan menjadi 90, kelompok 2 mengalami penurunan nilai menjadi 80, dan kelompok 3 mengalami peningkatan menjadi 100. Nilai-nilai tersebut diperoleh dari nilai LKK yang dikerjakan siswa secara. Data pada tabel 12 dapat digambarkan dalam bentuk grafik berikut ini.

Gambar 4.3 Hasil Belajar Kelompok Siklus I

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3

100 100 75 90 80 80 Pertemuan 1 Pertemuan 2

86 3) Observasi Hasil Belajar Siswa

Data hasil belajar siswa diperoleh dari evaluasi yang dilakukan setiap akhir pertemuan, ditambah dengan evaluasi yang dilakukan pada akhir siklus I. Evaluasi yang dilakukan berbentuk soal pilihan ganda sebanyak 20 butir soal yang mencakup tujuan pembelajaran tiap pertemuan. Kemudian untuk evaluasi siklus I mencakup soal pada pertemuan 1 dan pertemuan 2. Untuk evaluasi siklus 1 juga berjumlah 20 soal. Berikut data hasil belajar siswa pada pertemuan pertama, pertemuan kedua, dan evaluasi siklus I yang didistribusikan kedalam bentuk tabel.

Tabel 4.5. Distribusi Nilai Hasil Belajar Individu Siklus 1

No Nilai Pertemuan 1 Pertemuan 2 Evaluasi Siklus I Keterangan

F (%) F (%) F (%) 1. 95 0 0,00 1 7,14 0 0,00 Tuntas 2. 90 0 0,00 1 7,14 1 7,14 Tuntas 3. 85 0 0,00 1 7,14 3 21,43 Tuntas 4. 80 2 14,29 2 14,29 3 21,43 Tuntas 5. 75 2 14,29 2 14,29 2 14,29 Tuntas 6. 70 4 28,57 0 0,00 2 14,29 Tuntas 7. 65 1 7,14 2 14,29 3 21,43 Belum 8. 60 0 0,00 3 21,43 0 0,00 Belum 9. 55 1 7,14 0 0 0 0,00 Belum 10. 50 2 14,29 0 0 0 0,00 Belum 11. 45 1 7,14 1 7,14 0 0,00 Belum 12. 40 1 7,14 0 0 0 0,00 Belum 13. 35 0 0,00 1 7,14 0 0,00 Belum Jumlah 14 100 14 100 14 100 Rata-rata 63,92 69,28 76,42 Ketuntasan Individual 57,11% 50% 78,57% Ketuntasan Klasikal 28,57% 50% 64,28%

87

Berdasarkan tabel 4.5, pada pertemuan pertama ada 8 siswa yang berhasil mencapai ketuntasan individual (≥70) atau sekitar 57% dan masih ada 6 siswa yang belum mencapai ketuntasan individual. Adapun ketuntasan klasikal pada pertemuan pertama ini hanya mencapai 28,57% atau hanya 4 siswa yang mencapai ketuntasan klasikal (≥75). Rata-rata kelas yang diperoleh pada pertemuan pertama ini adalah 63,92. Sehingga dapat disimpulkan hasil belajar siswa pada pertemuan pertama ini masih belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan peneliti secara klasikal, yakni 80% siswa mendapat nilai 75.

Pada pertemuan kedua, jumlah siswa yang mencapai ketuntasan individual mengalami penurunan. Jika pada pertemuan pertama ketuntasan individual mencapai 57% (8 siswa), maka pada pertemuan kedua ini hanya mencapai 50% (7 siswa). Namun, terjadi peningkatan pada ketuntasan klasikal, yakni dari 28,57% menjadi 50% (7 siswa). Rata-rata kelas pun mengalami peningkatan yakni dari 63,92 menjadi 69,28 atau naik sebanyak 5,36. Namun, hasil belajar pada pertemuan kedua ini tetap masih belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan peneliti

yakni 80% siswa mendapat nilai ≥75.

Pada akhir siklus I, juga dilaksanakan evaluasi akhir siklus I yang mencakup materi pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua. Dapat dilihat pada tabel 4.5, terdapat peningkatan-peningkatan yang cukup signifikan. Ketuntasan individual naik

88

menjadi 78,57% atau 11 siswa. Ketuntasan klasikal pun naik menjadi 64,28% atau 9 siswa. Rata-rata kelas juga mengalami peningkatan menjadi 76,42. Sehingga dapat disimpulkan hasil belajar pada evaluasi akhir siklus I ini mengalami peningkatan dari sebelumnya. Namun, peningkatan tersebut masih belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan peneliti yakni

80% siswa mendapat nilai ≥75.

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dibuat tabel ketuntasan klasikal siswa berdasarkan indikator yang ditetapkan yakni 80% siswa mendapat nilai 75.

Tabel 4.6 Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Siklus 1 Nilai Pertemuan 1 Pertemuan 2 Evaluasi S1

Ket

F % F % F %

≥75 4 28,57 7 50% 9 64,28% Tuntas

<75 10 71,42 7 50% 5 35,72% Tidak Tuntas

Dilihat dari tabel 14, ketuntasan klasikal masih belum memenuhi indikator yang ditetapkan peneliti, baik pada pertemuan pertama, pertemuan kedua, dan evaluasi siklus I. Dimana indikator keberhasilan yang ditetapkan peneliti untuk ketuntasan klasikal adalah 80% siswa mendapatkan nilai 75.

Berikut ini dibuat diagram nilai ketuntasan secara klasikal siklus I adalah sebagai berikut :

89

Gambar 4.4 Persentasi Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Siklus I

d. Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan melalui observasi kegiatan pembelajaran dan kegiatan siswa serta nilai hasil belajar pada siklus I, maka dapatlah direfleksikan hal-hal sebagai berikut:

1) Aktivitas Guru

Pada pertemuan pertama, banyak sekali kekurangan-kekurangan dalam proses pembelajaran. Faktor yang menjadi penyebabnya adalah, peneliti tidak melakukan pengelolaan waktu dengan baik, sehingga ada kegiatan yang direncanakan tidak dapat dilaksanakan, yakni kegiatan presentasi dan pemberian PR sebagai tindak lanjut. Oleh karena itu, pada pertemuan berikutnya, kegiatan yang direncanakan akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi dikelas, agar proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, efektif, dan efisien. Pada pertemuan kedua, kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah berlangsung dengan baik. Semua kegiatan yang direncanakan sudah dapat dilaksanakan, meskipun ada beberapa kegiatan yang

50% 50%

Pertemuan 2

Tuntas Tidak Tuntas

29% 71%

Pertemuan 1

Tuntas Tidak Tuntas

64% 36%

Evaluasi Siklus I

Tuntas Tidak Tuntas

90

belum dilakukan dengan tepat dan sistematis. Sehingga pada siklus II, kegiatan pembelajaran diharapkan dapat berjalan dengan lebih baik lagi.

2) Aktivitas Siswa

Aktivitas siswa pada pertemuan pertama sudah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Namun, ada beberapa aspek yang masih perlu ditingkatkan, yakni aspek memperhatikan penjelasan guru. Mungkin karena siswa belum terbiasa diajar oleh peneliti sehingga siswa kurang memperhatikan penjelasan dari guru. Aspek bertanya dikelompok, kurangnya motivasi yang diberikan guru mungkin menjadi penyebab siswa kurang bertanya dalam kelompok. Aspek bekerjasama dalam kelompok, para siswa masih canggung dalam belajar dikelompok bersama dengan teman-teman yang lain, karena siswa terbiasa belajar secara individual. Oleh karena itu, pada pertemuan berikutnya peneliti akan memberikan motivasi yang lebih kepada siswa agar siswa menjadi lebih bersemangat dalam belajar berkelompok. Pada pertemuan kedua, siswa sudah mulai paham dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan model jigsaw ini, sehingga para siswa lebih bersemangat dan antusias dalam belajar. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Berbagai aspek kegiatan siswa mengalami peningkatan. Namun, masih ada aspek yang masih perlu

91

ditingkatkan, yakni aspek bertanya. Hal inilah yang akan dijadikan perbaikan pada siklus II dengan cara pemberian motivasi yang lebih banyak lagi, sehingga aktivitas siswa menjadi lebih baik lagi.

3) Hasil Belajar

Hasil belajar siswa pada pertemuan pertama masih belum memuaskan dan masih belum mencapai indikator ketuntasan yang ditetapkan baik secara individual maupun klasikal. Secara individual hanya 8 siswa (57%) yang mencapai indikator yang ditetapkan (≥ 70). Secara klasikal, ketuntasan yang diperoleh hanya 29% atau 71% yang masih belum tuntas. Hal ini sangat jauh dari indikator keberhasilan yang ditetapkan peneliti, yakni 80%. Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah konsentrasi siswa yang sudah mulai menurun dan pengelolaan waktu yang masih kurang dari guru sehingga waktu yang digunakan siswa untuk mengerjakan evaluasi terbatas. Selain itu, ada 2 butir soal evaluasi yang lebih dari 80% siswa tidak dapat menjawabnya atau salah, yakni soal nomor 12 dan 13. Soal tersebut memiliki jawaban yang hampir mirip, sehingga siswa kesulitan untuk mennetukan jawaban yang tepat. Secara keseluruhan hasil belajar siswa pada pertemuan kedua mengalami peningkatan. Nilai rata-rata kelas pada pertemuan pertama 63,92 menjadi 69,28. Namun, masih jauh dari standar ketuntasan yang ditetapkan oleh peneliti.

92

Ketuntasan individual dan ketuntasan klasikal hanya mencapai 50%. Pada pertemuan kedua, lebih dari 80% siswa tidak dapat menjawab soal nomor 4 dengan benar, yakni tentang pramuka. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka jarang mengikuti kegiatan pramuka dan disekolah tersebut hanya pernah beberapa kali saja mengadakan kegiatan pramuka (tidak rutin). Sama pada pertemuan pertama, pengelolaan waktu yang kurang efektif oleh peneliti menyebabkan siswa tergesa-gesa dalam mengerjakan soal evaluasi. Hal ini terlihat ketika siswa mengerjakan soal evaluasi siklus I, dimana peneliti menyediakan waktu yang lebih banyak, nilai rata-rata yang diperoleh siswa meningkat menjadi 76,42 dengan ketuntasan individual 78,57% dan ketuntasan klasikal 64,28%. Meskipun begitu, masih ada soal yang tidak bisa dijawab dengan benar oleh lebih dari 80% siswa, yakni soal nomor 3. Hal ini mungkin disebabkan karena jawaban dari soal yang hampir mirip.

Berdasarkan temuan-temuan pada kegiatan pelaksanaan yang dijabarkan pada refleksi, maka perlu dilaksanakan siklus ke-2. Adapun tindakan-tindakan yang akan dilakukan peneliti pada siklus ke-2 adalah sebagai berikut:

1) Melakukan pengelolaan waktu secara efektif dan efisien dengan mengatur waktu kegiatan pembelajaran pada model jigsaw.

2) Memberikan lebih banyak motivasi lagi kepada para siswa dalam belajar.

93

3) Memperbaiki soal-soal evaluasi dengan cara menyesuaikan dengan karakteristik berpikir siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan Kelas Siklus II a. Perencanaan

Pelaksanaan tindakan kelas siklus II ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dan dilaksanakan dikelas V SDN Ujung Batu 2 dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw pada mata pelajaran PKn yakni Kebebasan Berorganisasi. Adapun kegiatan tersebut dengan perencanaan terlebih dahulu sebelum melaksanakan pembelajaran:

1) Membuat skenario pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.

2) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk 2 kali pertemuan dengan tema Kebebasan Berorganisasi.

3) Membuat atau menyusun lembar observasi guru untuk pengamat (observer).

4) Membuat atau menyusun lembar aktivitas siswa.

Dokumen terkait