BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
4.4. Pelaku dan Bentuk Kekerasan Pada Anak Jalanan
Kekerasan terhadap anak tidak hanya terjadi di lingkungan keluarga dan sekolah tetapi juga terjadi di lingkungan sosial terutama bagi anak-anak jalanan. Anak-anak jalanan harus terus bertahan hidup dengan kemampuan dan caranya sendiri karena di jalanan anak-anak menghadapi beragam konflik dan ancaman kekerasan. Tindak kekerasan dapat dilakukan oleh siapapun. Mulai dari keluarga anak jalanan itu sendiri, sesama anak jalanan, supir di terminal, aparat pemerintahan seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan sebagainya.
Dalam penelitian UNICEF pada tahun 2005 yang mengenai kekerasan terhadap anak di mata anak Indonesia, hasil konsultasi anak tentang kekerasan terhadap anak di 18 Provinsi dan Nasional menyebutkan bahwa pelaku tindak kekerasan terhadap anak antara lain terdiri dari keluarga anak, guru di sekolah, aparat pemerintahan, majikan/mandor di tempat anak bekerja. Seperti yang dinyatakan oleh salah seorang anak jalanan yang pernah terkena razia aparat Satpol PP. Ketika melakukan razia, Satpol PP sering menggunakan kekerasan.
“Aku pernah kak di pukuli dan di tendangi sama Satpol PP. Waktu itu aku lagi ngamen, terus mereka datang langsung ngejar karena aku kabur dan waktu tertangkap mereka langsung tarik bajuku dan pukuli aku di jalan itu baru dinaikkan aku ke mobilnya. Waktu di kantor, aku langsung di hukum lagi di suruh berdiri dengan satu kaki, terus tanganku dua-duanya megang telinga kak. Aku di suruh berdiri keg gitu lama kali kak. Kalau goyang dikit atau kakiku turun langsung di pukuli kak. Sakit sih badanku, lebam-lebamlah kak. Cuman gak berani aku bilang sama mamak. Ku bilang aja aku jatuh, padahal udah ditendangi aku semalaman. Aku juga gak berani lagi jadi pengamen kak, karena kata bapak itu kalau mereka tangkap aku lagi, bakal lebih parah lagi dibuatnya (S, 16)”.
Orangtua yang seharusnya memiliki peran yang paling besar untuk melindungi keluarganya, malah orangtua kerap sekali menjadi pelaku kekerasan terhadap anak jalanan. Seperti yang dialami oleh informan yang sering dipukuli oleh ayahnya di rumah.
“Bapak pemakai sabu kak. Aku udah biasa nengok bapak makek keg gitu. Aku gak diajak sih kak makek dan memang gak ada niatku kak. Cuman ya gitu kak, bapak orangnya kumat-kumattan
kak. Gak tertebak emosinya kapan. Tapi aku selalu di pukul bapak kalau aku gak bawak nasi yang keg ku bilang tadi kak. Jadi nenek itukan punya warung nasi, jadi selalulah aku di suruh minta nasi untuk bapak padahal bapak gak ada ngasih uang untuk beli. Manalah mau nenek ngasih gratis terus kak, apalagi nenek tau bapak gak ngasih uang untuk kebutuhan kami. Aku paling gak suka kak di suruh keg gitu, karena setiap aku ke sana pasti kenak marahi nenek aku kak, dibentak-bentaknya. Terus pulanglah aku gak bawak nasi, dipukuli bapaklah aku karena di bilang gitu aja gak bisa. Sampe pernah aku di pukul pakek tali pinggang kak. Sampe pernah sekali aku gak pulang ke rumah kak karena malas gak suka lihat bapak, tapi kasihan mamak. Jadi pulanglah aku kak dan sampe sekarang kalau ketemu bapak di rumah gak ku cakapi kalau itu gak perlu kak (RI, 15)”.
Hal yang sama juga dialami oleh anak jalanan yang lain. Berikut hasil wawancaranya.
“Kalau aku kak dipukuli Satpol PP itu memang sakit kalilah kak. Gak nyangka aja mereka keg gitu. Tapi kak, ada yang buat aku gak pernah lupa. Waktu bapakku mukuli aku kak. Jadi ceritanya itu, bapakkan preman kak dan udah keluar masuk penjaralah kak. Pernahlah kejadian aku gak pulang ke rumah, nginap tempat kawan. Terus aku minjam baju kawanku untuk ku pakek, bapak langsung marah kak. Dia gak suka kalau anaknya minjam baju orang, padahal bajuku basah kak di situ. Tanpa nanya alasannya, bapak langsung ambil tali pinggang kak dan dipukulinya badanku pakek kepala tali pinggang itu sampe jatuh aku kak. Gara-gara dipukuli kek gitu, ku bilang sama bapak, matikan aja sekalian aku. Kupikir bakalan stop bapak kak, ini malah semakin dipukulinya aku sampe berdarah badaku. Karena takut aku semakin gila bapak mukuli, lari aku langsung dari rumah. Untung aja ada kakakku waktu itu belain aku, jadi waktu bapak berhenti sebentar mukul, aku kabur. Seminggu aku gak pulang karena takut kak. Seram kalilah bapak kak. Gak lihat-lihat siapa yang dipukulinya (S, 16)”.
Berbeda dengan RI dan S, seorang anak jalanan merasa sudah diabaikan atau ditelantarkan oleh orangtuanya. Orangtua merupakan seseorang yang harusnya bertanggung jawab dan memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh-kembang anak.
“Aku udah gak pernah lagi komunikasi sama bapak, mamak ataupun kakak kandungku kak. Mereka itu udah punya hidup masing-masing kak. Buktinya aja aku gak pernah dihubungi ataupun dicariin. Sejak bapak nikah lagi itulah kak, aku udah mulai diabaikan bapak. Malah waktu aku milih pergi dari rumah, bapak gak nyariin sampe kakakku yang sekarang tempat aku tinggal, dia yang ngasih tau bapak aku di medan. Percuma dia dokter kak, buktinya itu gak menjamin hidupku kan? Lagian mungkin pun sekarang mereka udang gak nganggap aku lagi anaknya. Tapi yaudahlah kak, minggu lalu ada yang telepon ngasih tau bapak udah meninggal. Aku sih biasa aja kak, gak terlalu berpengaruh sama kek aku dulu dibiarkan dia kak. Gak berpengaruh juga di hidupnya kak. Pokoknya kek gitulah kak, aku udah gak mau tau lagilah tentang bapak mamak karena gara-gara mereka aku kek gini. Mungkin, kalau gak baik kian kakak dan istri pertama bapak ini, mungkin udah di usir aku kak (JB, 15)”.
Anak jalanan juga rentan untuk mengalami kekerasan seksual terkhusus anak perempuan. Kekerasan seksual terhadap anak jalanan bukanlah hal yang baru untuk kita dengar. Seperti yang dialami oleh salah seorang anak perempuan yang mengalami kekerasan seksual, dimana ia dipaksa untuk berhubungan seks tanpa persetujuan darinya. Kekerasan itu dilakukan oleh seorang aparat pemerintahan.
“Aku sebenarnya dikenali kak sama temanku. Waktu itu aku memang nakalah kak. Pulang main-main jam 9 atau 10 malam. Bapak ya marah-marah aja. Tapi pernahlah aku malas pulang
kerumah dan pigilah sama kawan. Waktu kami jalan-jalan dikenalilah aku kak sama si lelaki ini. Dia udah berumurlah kak, punya istri juga. Tapi aku gak curiga karena kami rame-rame kak sama temanku yang lain. Dibawaklah kami naik mobilnya kak dan makan-makan. Rupanya setelah itu dibawaknyalah aku ke kost-kost’an gitu kak di daerah Siantar sana, diancam dan dipaksanya. Takut aku kak karena badannya besar dan gemuk, seram lagi kak waktu marah. Setelah itu, dibawaknya aku kabur kak selama empat bulan kak. Setelah empat bulan itu ku berani-beranikan telepon orang mamak karena udah gak tahan lagi aku kak. Terus pigi aku kak sembunyi-sembunyi balek ke Medan untuk pulang kak (YL, 18)”.
Hal yang serupa juga dialami oleh seorang informan yang lain. Namun, jika YL pelakunya adalah aparat pemerintahan. Informan ini dilakukan oleh keluarganya sendiri (paman). Berikut hasil wawancaranya.
“Gimana ya kak, malu aku bilang sama kakak. Udah satu kampung ini ngejek aku kak. Bahkan teman-teman di sekolah juga kak. Sebenarnya setahun atau dua tahun yang lalu kejadiannya kak. Jadi, aku itu sering dulu ke rumah paman kak karena rumah paman dekat sekolahku. Paman itu baik kali kak, setiap hari aku dikasihnya uang untuk jajan. Makanya aku sukak kak disana. Waktu itu cumqn qku sama paman dirumah. Gak ada yang lain. Jadi tiba-tiba paman dekat-dekati aku kak dan maksa aku kak. Pokoknya kek gitulah kak, aku malu ceritain itu kak karena udah semua tau. Banyak orang yang nilai aku gak benar kak. Udah dua hari ini aku gak mau juga ke sekolah kak, kawan-kawanku ngejek terus kak. Malu aku kak. Lebih sukak aku berteman dengan anak-anak kecil daripada yang sama kek aku kak besarnya. Mereka setiap jumpa sama aku, pastinya mukaknya gak enak kak, kek gak suka gitu kak (AP, 13)”.
4.4.1. Dampak Terjadinya Kekerasan Pada Anak Jalanan
Kekerasan yang dialami oleh anak-anak dapat mengakibatkan dampak yang buruk secara fisik, psikis dan bahkan secara sosial. Secara fisik seperti mengakibatkan luka-luka di sekitar daerah tubuh atau semua kerusakkan yang terlihat nyata oleh panca indra kita. Kekerasan fisik yang berlangsung terus-menerus atau dilakukan berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan dapat meninggalkan bekal luka serius secara fisik, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Namun, dari semua anak jalanan yang menjadi informan dalam penelitian ini, tidak ada bekas luka yang sampai menimbulkan cedera serius, seperti perngakuan dari salah seorang informan anak jalanan.
“Bapak gak tiap hari kak mukulin aku. Terkadang dia baik kali kak, tapi kayak tadi kak, kalau bapak nyuruh ambil nasi ke tempat nenek terus nenek gak ngasih. Aku dipukulah kak. Terkadang dimarahi aja. Masih mending dimarahi kak, ini dipukulnya. Bapak gak tertebak kak kapan baik, kapan enggak. Paling kalau dia lagi makek ajalah kak aman-aman. Paling memar-memar kak, terus seminggu lagi udah hilangnya itu. Udah kebal juga badanku ini kak. Jadi gak terlalu terasa lagi sih (RI, 15)”.
Jika dampak secara fisik terlihat secara nyata oleh panca indra, berbeda dengan dampak secara psikis. Dampak secara psikis sulit diidentifikasi karena tidak meninggalkan luka yang nyata secara fisik, namun meninggalkan luka yang tersembunyi yang termanifestasikan atau menimbulkan rasa takut atapun rasa tidak aman di dalam diri, pendendam, kurangnya rasa percaya diri, depresi, menurunnya semangat belajar, bahkan bagi anak-anak yang mengalami kekerasan
seksual dapat membuat anak tersebut menjadi takut untuk menikah, trauma akibat eksploitasi seksual yang dialaminya. Jika dalam waktu jangka panjang dapat menimbulkan perubahan perilaku di dalam diri anak tersebut. Sedangkan secara sosial, anak-anak yang mengalami kekerasan tanpa ada penanganan atau penanggulangan terhadap masalah yang dialaminya, anak-anak tersebut dapat menarik diri dari lingkungannya, sulitnya berkomunikasi dengan orang lain, menutup diri dari pertemanan dan menjadi sulit untuk mempercayai orang lain. Ini juga yang sedang terjadi oleh salah seorang anak jalanan yang mengalami kekerasan seksual sampai saat ini, seperti yang dikatakan oleh salah seorang staff SKA-PKPA.
“Dia kemungkinan akan sulit dek terbuka tentang kejadian yang pernah dialaminya dulu. Karena itukan baru setahun yang lalu terjadi. Sampai sekarang dia gak suka bergabung rame-rame sama temannya karena orang-orang disini juga tau kasus dia dek, dan ngejek dia. Jadi AP ini cukup menarik diri dari siapapun. Hanya saja kalau dia sudah merasa nyaman dan menganggap seseorang temannya, dia pasti mau terbuka. Tapi ya gitu dek, harus pelan-pelan karena dia sudah cukup dewasa berpikir walaupun secara umur dia masih anak-anak. Sekarang aja dia jarang terlihat datang ke sanggar karena takut di ejek temannya (Era, Staff SKA-PKPA)”.
4.5. Advokasi SKA-PKPA Dalam Penanggulangan Kekerasan Pada