• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERBANDINGAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN

2. Pelaku Pembunuhan dalam Hukum Pidana Islam

Dalam hukum pidana Islam, terkhusus dalam hukum pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja atau seperti yang dimaksud dalam KUHP, pembunuhan yang dilakukan dengan biasa atau pokok. Adapun yang menjadi subjek hukum dalam hukum pidana Islam adalah manusia. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan dalam Bab III mengenai dasar hukum pembunuhan, telah diterangkan bahwa, yang menjadi subjek hukum adalah manusia.

Sama halnya dengan tindak pidana pembunuhan pokok dalam KUHP bahwa tidak semua manusia dapat dijadikan subjek dalam pembunuhan. Adapun yang dapat dijadikan subjek pembunuhan berdasarkan hukum pidana Islam yaitu baligh, berakal, sengaja membunuh, dan dalam keadaan tidak terpaksa.

a. Baligh, Seseorang yang sudah baligh dibebani hukum syarak apabila ia berakal dan mengerti hukum tersebut. Orang bodoh dan orang gila tidak dibebani hukum karena mereka tidak dapat mengerti hukum dan

tidak dapat membedakan baik dan buruk, maupun benar dan salah;144

b. Berakal, orang yang berakal adalah orang yang sehat sempurna pikirannya,

dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban, dibolehkan dan yang dilarang, serta yang bermanfaat dan yang merusak. Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa berakal menjadi syarat dalam ibadah dan muamalah. Dalam ibadah, berakal menjadi syarat wajib sholat, puasa, dan sebagainya. Dalam muamalah, terutama masalah pidana dan perdata;145

c. Sengaja membunuh, keinginan dari pembunuh untuk membunuh

korban. Hal ini mencakup dua keinginan, yaitu kesengajaan

membunuh (qashdu al-jinayat) dan sengaja menjadikan pihak terbunuh

sebagai korban (qashdu al-majni ‘alaih). Syekh Ibnu Utsaimin

rahimahullah menyatakan, “Dua jenis kesengajaan ini harus terpenuhi. seandainya tidak ada niat untuk membunuh dengan menggerakkan senjata, lalu senjatanya terlempar (tidak sengaja) dan membunuh orang, maka hal ini tidak dikatakan membunuh dengan sengaja, karena

si pelaku pembunuhan tidak berniat membunuh;146

144

Ensiklopedia Muslim Hukum Islam I,

dan

April 2014, Pukul 07.32 Wib.

145

Ibid. 146

Ekonomi Syari’at,

d. Keadaan tidak terpaksa, yaitu keadaan yang tidak mendapat pengaruh atau tekanan dari orang lain, sehingga dapat menentukan suatu pilihan dengan bebas.

Hukum pidana Islam, terkhusus dalam kasus pembunuhan tidak mengenal korporasi atau badan hukum yang dapat dijadikan subyek hukum. Tidak adanya dalil yang ditemukan dalam Al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad para ulama mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh korporasi dapat di hukum. Sehingga korporasi atau badan hukum dalam hukum pidana Islam mengenai pembunuhan, bukanlah salah satu obyek. Berdasarkan hal tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, korporasi tindak dimintai pertanggungjawaban pidana, karena korporasi tidak dapat melakukan pembunuhan, karena yang dapat melakukan pembunuhan hanyalah manusia saja.

Apabila suatu badan hukum atau korporasi melakukan pembunuhan melaui orang-orang yang berada didalam badan hukum atau korporasi tersebut, maka yang dihukum adalah semua orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan

tersebut, hal ini didasarkan hadits Rasullah saw. berikut ini:147

Berdasarkan Hadits diatas dapat diketahui bahwa setiap orang yang secara berkelompok, atau berserikat untuk melakukan pembunuhan maka semua orang

Demi Allah, seandainya penduduk Shan’a’ ikut bersama-sama membunuh orang itu (seorang muslim), sungguh aku pastinya akan menghukum bunuh mereka semua. (HR. Bukhari, Imam syafi’i, Imam Malik, dan lainnya)

147

yang terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut akan di hukum bunuh (qishash).

Sehubunggan dengan hal tersebut, maka pembunuhan yang dilakukan oleh suatu badan hukum atau korporasi, maka yang dijadikan subjek hukumnya dalah orang- orang yang melakukan pembunuhan tersebut, bukan badan hukum ataupun korporasi yang mewadahinya.

3. Perbandingan Pelaku Pembunuhan Biasa dalam Bentuk Pokok

Berdasarkan Ketentuan KUHP Dengan Hukum Pidana Islam

Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas sebelumnya, dapat diketahui mengenai persamaan dan perbedaan pelaku pembunuhan yang dianut berdasakan KUHP dengan hukum pidana Islam. Adapun persamaan pelaku pembunuhan dalam KUHP dengan hukum pidana Islam yaitu manusia. Didalam KUHP

maupun hukum pidana Islam menjadikan manusia (naturlijk person) sebagai

subjek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawabannya dalam melakukan suatu tindak pidana.

Sedangkan perbedaan mengenai pelaku pembunuhan antara KUHP dengan hukum pidana Islam yaitu, sama sekali tidak memiliki perbedaan, karena keduanya (KUHP dan hukum pidana) menentukan bahwa hanya manusia saja yang dijadikan subjek tindak pidana pembunuhan, terkhusus dallam pembahasan ini mengena tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok. Sehingga, apabila terjadi suatu pembunuhan selain yang dilakukan oleh manusia, maka pelaku pembunuhan tersebut tidak dapat di hukum.

B. Sumber Hukum Tindak Pidana Pembunuhan Biasa dalam Bentuk Pokok berdasarkan KUHP dengan Hukum Pidana Islam

1. Sumber Hukum Pembunuhan Berdasarkan KUHP

Menurut C.S.T Kansil, sumber hukum adalah segala apa saja yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yakni aturan-aturan yang kalau dilanggar mengakibatkan sanksi yang tegas dan

nyata.148 Sumber hukum yang diikenal di Indonesia terbagi dalam beberapa

kategori, yaitu sebagai berikut:149

1) Sumber-sumber hukum material

Sumber hukum material ini dapat ditinjau dari segi atau beberapa sudut, yaitu sudut ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat, dan lain sebagainya;

2) Sumber Hukum Formal

Sumber hukum formal terbagi lagi kedalam beberapa bagian, antara lain

yaitu; Undang-Undang (statute), kebiasaan (custom), keputusan-keputusan

hakim (jurisprudence), traktat (treaty) dan pendapat para sarjana (doktrin).

Oleh karena pembagian sumber hukum tersebut, KUHP merupakan salah satu produk hukum yang bersumber dari hukum formal yaitu Undang-Undang. Berhubungan dengan tindak pidana pembunuhan, maka hal ini diatur dalam KUHP. KUHP secara khusus mengatur mengenai pembunuhan sengaja dalam Bab XIX mengenai kejahatan terhadap nyawa/jiwa, yang terdiri dari pasal 338 sampai dengan pasal 350 KUHP. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sumber hukum

148

C.S.T Kansil, Op.Cit., hal. 46. 149

tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok adalah kitab undang- undang hukum pidana (KUHP).

KUHP yang berlaku di Indonesia sekarang adalah KUHP warisan

pemerintah kolonial Belanda yang disebut wetboek van straftrch voor

nedherlands Indie (W.v.S.NI). Ini diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1918

berdasarkan asas concordantie (asas penyesuaian). Setelah masa kemerdekaan

sejak proklamasi 17 Agustus 1945 W.v.S.NI masih tetap berlaku berdasarkan

aturan perlaihan UUD 1945, yang berbunyi:150

150

Roni Wiyanto, Op.Cit., hal. 39.

Segala badan negara dan peraturan yang masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang menurut undang-undang dasar ini. Oleh karena hal tersebut, maka berlakulah KUHP untuk Indonesia, yang pada dasarnya hanya untuk

mengisi kekosongan hukum (recht vacuum). Sebenarnya sumber hukum pidana

ini berasal dari Perancis melalui code penal tahun 1811, yang kemudian di adopsi oleh Belanda menjadi hukum nasionalnya, lalu hukum ini dibawa ke Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa hukum pidana ini dibuat berdasarkan akal pikiran manusia, yang di tuangkan kedalam buku.

Sumber hukum pidana di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu sumber hukum pidana berdasarka KUHP dan sumber hukum pidana berdasarkan hukum adat. Sumber hukum pidana berdasarkan KUHP seperti yang dijelaskan diatas adalah sumber hukum tertulis yang dibuat oleh manusia atau berasal dari hasil pemikiran manusia yang di tuliskan menjadi peraturan tertulis atau yang disebut dengan undang-undang.

Sedangkan sumber hukum pidana berasalkan dari hukum adat yaitu hukum

yang hidup dalam masyarakat adat (the living law.) Terminologi hukum pidana

adat, delik adat, hukum pelanggaran adat atau hukum adat pidana cikal bakal sebenarnya berasal dari hukum adat. Apabila dikaji dari perspektif sumbernya, hukum pidana adat juga bersumber baik sumber tertulis dan tidak tertulis. Tegasnya, sumber tertulis dapat merupakan kebiasaan-kebiasaan yang timbul, diikuti serta ditaati secara terus menerus dan turun temurun oleh masyarakat adat

bersangkutan. 151

2. Sumber Hukum Pembunuhan dalam Hukum Pidana Islam

Untuk sumber tertulis misalnya dapat dilihat dalam Kitab Ciwasasana atau

Kitab Purwadhigama pada masa Raja Dharmawangsa pada abad ke-10, Kitab

Gajahmada, Kitab Simbur Cahaya di Palembang, Kitab Kuntara Raja Niti di

Lampung, Kitab Lontara “ade” di Sulawesi Selatan, Kitab Adi Agama dan Awig-

Awig di Bali, dan lain sebagainya. Kemudian sumber tidak tertulis dari hukum

pidana adat adalah semua peraturan yang dituliskan seperti di atas daun lontar, kulit atau bahan lainnya.

Sumber hukum pembunuhan sengaja dalam hukum pidana Islam bersumber pada tiga dalil, yaitu:

1) Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kalam/firman Allah swt. yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara malaikat Jibril as. Ataupun secara

151

Lilik Mulyadi, diakses pada Sabtu, 12 April 2012, pukul 07.20 Wib.

langsung disampaikan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad. Ide pembukuan Al-Qur’an dimulai dari zaman Khalifah Abu Bakar ra. sampai dengan zaman khalifah Utsman bin Affan ra. Salah satu contoh ayat Al- Qur’an, yaitu Surah Al-Baqarah;

2) Hadits

Hadits merupakan sabda Nabi Muhammad saw. yang disampaikan pada zaman sahabat yang di peroleh berdasarkan ajaran dan bimbingan langsung dari Allah swt. Hadit terbagi dalam beberapa tingkatan yaitu,

hadits shahih (kuat), hasan (baik), dha’if (lemah) dan hadits maudhu’

(palsu), dalam hal ini hanya hadits shahih dan hadits hasan saja yang

dipergunakan oleh umat Islam, sedangkan hadits dha’if dan hadits

maudhu’ ditinggalkan. Hadits shahih yang terkenal adalah hadits shahih

yang diriwayatkan oleh muhaddits Bukhari-Muslim. Berikut adalah contoh

salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Ahmad wardi

Muslich, yaitu sebagai berikut:152

152

Ahmad wardi Muslich, Op.Cit., hal. 193-194.

Dari Abu ya’la ibn Syaddad ibn Aus ra. dari Rasulullah saw. beliau Bersabda: “sesungguhnya Allah memerintahkan ihsan (berbuat baik) dalam segala sesuatu. Apabila kamu membunuh (mengqishas) maka laksanakanlah qishash itu dengan cara yang baik, dan apabila kamu menyembelih (binatang) maka laksanakanlah penyembelihan itu dengan baik. Dan hendaklahh kamu menajamkan pisaunya dan menggembirakan binatang sembelihannya. (H.R Muslim).

3. Perbandingan Sumber Hukum Pembunuhan Antara KUHP dengan Hukum Pidana Islam

Telah diuraikan diatas mengenai sumber hukum dari tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok. Penjelasan tersebut memberikan beberapa perbedaan diantara kedua sumber hkum tersebut, yaitu Sumber hukum

pidana Indonesia, yaitu KUHP didasarkan dari hasil pemikiran (ratio) manusia

yang dibuat secara tertulis yang kemudian diundangkan kedalam sebuah lembaran negara agar berlaku dan mengikat secara umum, selain itu sumber hhukum pidana Indonesia juga bersumber dari hukum adat, dimana hukum adat tersebut berisi hukum pidana salah satunya.

Sedangkan Hukum pidana Islam bersumber dari Al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad para ulama. Hukum pidana Islam pada umumnya langsung bersumber dari Allah swt. yang disampaikan kapada utusan-Nya Nabi Muhammad saw. yang

kemudian Al-Qur’an tersebut pada zaman khulafaur rasyidin di bukukan. Adapun

mengenai hadits, merupakan perkataan yang disabdakan oleh Nabi sendiri dengan bimbingan Allah swt. sedangkan Ijtihad merupakan pendapat para ulama yang disandarkan kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Sedangkan persamaan kedua sumber hukum tersebut yaitu kedua sumber hukum tersebut telah dituliskan kedalam sebuah buku yang dijadikan suatu pedoman bagi suatu bangsa yang menganut sumber hukum tersebut.

C. Unsur Kesengajaan dalam Tindak Pidana Pembunuhan Biasa dalam Bentuk Pokok

1. Unsur Kesengajan Tindak Pidana Pembunuhan Biasa dalam Bentuk

Pokok Berdasarkan KUHP

Kesengajaan pembunuhan dalam tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok, sebagaimana yang diterangkan dalam rumusan pasal 338 KUHP menyebutkan bahwa unsur kesengajaan terdapat dalam unsur subyektifnya, yaitu

dengan sengaja (opzettelijk). Antara unsur subyektif sengaja dengan wujud

perbuatan menghilangkan terdapat syarat juga yang harus dibuktikan, ialah pelaksanaan perbuatan menghilangkan nyawa (orang lain) harus tidak lama setelah

timbulnya kehendak (niat) untuk menghilanngkan nyawa orang lain itu.153

Oleh karena apabila terdapat tengggang waktu yang cukup lama, sejak saat timbulnya atau terbentuknya kehendak untuk membunuh dengan pelaksanaannya, dimana dalam tenggang waktu yang cukup lama itu petindak dapat memikirkan tentang berbagai hal, misalnya memikirkan apakah kehendaknya itu akan diwujudkan dan sebagainya, maka pembunuhan itu telah masuk kedalami pembunuhan rencana (340), dan bukan lagi pembunuhan biasa.

154

Apabila melihat kedalam rumusan ketentuan pidana menurut pasal 338

KUHP, segera dapat dilihat bahwa kata opzettelijk atau dengan sengaja itu terletak

didepan unsur menghilangkan, unsur nyawa dan unsur orag lain, ini berarti bahwa

semua unsur yang terletak dibelakang kata opzettelijk itu juga di liputi oleh

opzet.155

153

Adami Chazawi, Op.Cit., hal. 57. 154

Ibid. 155

Lamintang dan Theo Lamintang, Op.Cit., hal 31.

terhadap terdakwa dan dengan sendirinya harus dibuktikan di sidang pengadilan

bahwa opzet dari terdakwa juga telah ditujukan pada unsur-unsur tersebut. Atau

dengan kata lain penuntut umum harus membuktikan bahwa terdakwa:156

a. Telah willens atau menghendaki melakukan tindakan yang

bersangkutan dan telah wetens atau mengetahui bahwa tindakannya itu

bertujuan untuk menghilangkan nyawa orang lain;

b. Telah menghendaki bahwa yang akan dihilangkan itu ialah nyawa; dan

c. Telah mengetahui bahwa yang hendak ia hilangkan itu ialah nyawa

orang lain.

Karena biasanya pembuktia hal-hal diatas, biasanya dilakukan penuntut umum dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada terdakwa. Sehinggga dari keterangan tersebut dapat diperoleh suatu petunjuka mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku, seingga pelaku dapat digolongkan telah memenuhi unsur yang ditetapkan dalam pasal 338 KUHP.

2. Unsur Kesengajaan Pembunuhan Biasa dalam Bentuk Pokok

Menurut Hukum Pidana Islam

Suatu pembunuhan baru dapat dikatakan pembunuhan sengaja jika

memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:157

a. Yang dibunuh adalah manusia yang di haramkan oleh Allah untuk

membunuhnya;

b. Perbuatan itu membawa kematian; dan

156

Ibid, hal. 32 157

c. Bertujuan untuk menghilagkan nyawa orang lain.

Agar lebih jelas mengenai unsur tersebut akan dijelaskan sebagai berikut dibawah ini:

a. Yang dibunuh adaah manusia yang diharamkan Allah untuk

membunuhnya

Tindak pembunuhan sengaja diancam dengan qishash adalah pembunuhan yang terjadi karena tindakan pelanggaran dan penganiayaan terhadap seorang manusia yang dilindungi darhanya selamanya. Maka oleh karena itu, tidak ada qishash atas suatu tindakan penganiayaan selain manusia, terhadap orang yang meninggal dunia,

atau selain orang yyang tidak dilindungi darahnya.158

b. Perbuatan itu membawa kematian

Suatu kejahatan tidak dianggap sebagai pembunuhan kecuali jika pelaku melakukan suatu tindakan yang tindakan itu memang bisa menimbulkan kematian. Oleh karena itu, apabila kematian korban karena suatu tindakan yang tidak mungkin dinisbatkan kepada pelaku, atau tindakan yang dilakukan termasuk suatu tindakan yang tidak bisa mengakibatkan kematian, maka sipelaku tidak bisa dianggap sebagai

pembunuh.159

158

Wahbah Az-Zuhail, Op.Cit., hal. 550. 159

Ibid, hal. 553.

Tindakan yang bisa membunuh bisa berupa pukulan atau perlukaan, penggorokan, pembakaran pencekikan, peracunan dan bisa juga dilihat dengan alat yang digunakan untuk melakukan pembunuhan;

c. Bertujuan untuk menghilagkan nyawa orang lain

Menurut jumhur ulama (ulama Hanafiyah, ulama Syafi’iyah, dan ulama Hanabilah) suatu pembunuhan tidak bisa disebut sebagai pembunuhan sengaja kecuali jika pelaku memang memiliki rencana, target, dan keinginan membunuh korban, atau memukulnya dengan tindakan yang menghilangkan nyawa (sengaja dan berniat untuk melakukan perbuatan aniaya dengan suatu tindakan yang memang mematikan). Apabila rukun ketiga ini terpenuhi maka pembunuhan

tersebut dapat dikatakan sebagai pembunuhan sengaja.160

3. Perbandingan Unsur Kesengajaan Tindak Pidana Pembunuhan Biasa

dalam Bentuk Pokok Berdasarkan KUHP dengan Hukum Pidana Islam

Unsur-unsur tindak tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok telah diuraikan diatas, baik itu dari segi KUHP maupun dari segi hukum pidana Islam. Berdasarkan urain diatas ditemukan beberapa persamaan dan perbedaan unsur-unsur yang diterapkan dalam tindak pidana pembunuhan sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 338 KUHP. adapun persamaan unsur sengaja yang terdapat antara KUHP dengan hukum pidana Islam antara lain sebagai berikut;

a. Nyawa atau kematian

Berdasarkan uraian diatas adalah yang dihilangkan adalah nyawa korban (manusia). KUHP menjadikan nyawa manusia sebagai objek

160

dari perbuatan pelaku pembunuhan. Begitu juga dengan hukum pidana Islam, yang menjadikan nyawa manusia sebagai obyek dari pembunuhan;

b. Perbuatan tersebut adalah perbuatan terlarang

Dapat simpulkan bahwa antara KUHP dan hukum pidana Islam memiliki kesamaan mengenai tindak pidana pembunuhan yang berdasarkan pasal 338 KUHP, bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut adalah benar-benar perbuatan yang terlarang;

c. Adanya kehendak atau tujuan untuk membunuh

Adanya kehendak ataupun tujuan pelaku untuk melakukan pembunuhan jelas terdapat dalam KUHP dan hukum pidana Islam, dimana pelaku pembunuhan memiliki niat untuk melakukan pembunuhan.

Demikianlah persamaan yang ada antara KUHP dengan hukum pidana Islam dalam kasus pembunuhan. Namun, dalam tindak pidana pembunuhan antara KUHP dengan hukum pidana Islam memiliki beberapa perbedaan yaitu:

a. Alat yang digunakan

KUHP tidak menjelaskan secara detail mengenai dengan alat apa yang digunakan dalam menghilangkan nyawa orang lain (membunuh), KUHP hanya mengancam setiap orang yang melakukan pembunuhan dengan sengaja. Sedangkan dalam hukum pidana Islam, dijelaskan bahwa yang dapat dikategorikan sebagai pembunuhan sengaja adalah apabila pembunuhan tersebut dilakukan dengan cara dicekik, dibakar,

dipukul sampai mati atau dengan menggunakan alat-alat yang secara umum dapat menyebabkan kematian;

b. Perbuatan

Bahwa dalam KUHP, setiap perbuatan dijadikan sebagai unsur-unsur yang mengarah terhadap delik, misalnya jika suatu pembunuhan dilakukan dengan rencana (memiliki rentang waktu yang lama dengan terjadinyaa delik), maka pembunuhan tersebut tidak dikategorikan pembunuhan biasa seperti yang disebutkan dalam pasal 338 KUHP, melainkan telah memenuhi unsur tindak pidana pembunuhan sebagaimana diuraikan dalam pasal 340 KUHP. Sedangkan dalam hukum pidana Islam, setiap perbuatan yang dilakukan dengan adanya niat, rencana atau dengan menggunakan alat yang dapat menimbulkan kematian, maka semua hal tersebut dianggap sebagai pembunuhan sengaja;

c. Ancaman sanksi

Ancaman sanksi yang dimuat dalam KUHP, khususnya dalam pasal 338 KUHP hanya dikenakan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun, hal ini berbeda dengan pembunuhan sengaja lainnya, seperti pasal 339, dan 340 memiliki ancaman pidana yang berbeda. Sedangkan dalam hukum pidana Islam, setiap pembunuhan sengaja diancam dengan

hukuman qishashs sebagai hukumann pokok dan diyat sebagai

D. Sanksi Hukuman dalam Tindak Pidana Pembunuhan Biasa dalam Bentuk Pokok

1. Sanksi Hukuman Tindak Pidana Pembunuhan Biasa dalam Bentuk

Pokok menurut Kajian KUHP

Telah dijelaskan pada Bab II mengenai sanksi hukuman tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok berdasarkan KUHP yaitu pidana penjara. Barda Nawawi Arief menyatakan dalam Dwidjaya Priyatno Bahwa, pidana penjara tidak hanya perampasan kemerdekaan, tetapi juga menimbulkan akibat negatif terhadap hal-hal yang berhubungan dengan dirampasnya kemerdekaan itu sendiri. Akibat negatif itu antara lain terampasnya juga kehidupan seksual yang normal dari seseorang, sehinggat terjadi hubungan homoseksual dan masturbasi

dikalangan pidana.161

Hakim tidak boleh menjatuhkan vonis kepada terdakwa melebihi dari apa yang dituntut oleh jaksa penuntut umum dalam surat tuntutan, sebaliknya hakim Hukuman pokok yang diterapkan dalam tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok adalah hukuman penjara paling lama lima belas tahun penjara dan paling singkat minimal satu hari masa penjara. Penjatuhan hukuman pidana penjara dalam tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok dilakukan dalam proses persidangan. Jaksa penununtut umum yag bertugas melakukan penuntutan terhadap pelaku pembunuhan, sedangkan yang memutus perkara pembunuhan dalam persidangan adalah hakim dengan memperhatikan tuntutan yang diajukan oleh jaksa penuntut umum.

161

di perbolehkan untuk menjatukan hukuman yang lebih ringan dari apa yang telah di tuntut olej jaksa penuntut umum dalam surat tuntutannya di pengadilan.

2. Sanksi Hukuman Tindak Pidana Pembunuhan Biasa dalam Bentuk

Pokok menurut Kajian Hukum Pidana Islam

Sanksi hukuman yang diterpakn dalam tindak pidana pembunuhan yang tergolong dalam tindak pidana pembunuhan biasa dalam bentuk pokok adalah penerpan sanksi hukuman tindak pidana pembunuhan sengaja dalam kajian hukum pidana Islam. Menurut hukum pidana Islam, sanksi hukuman yang diterapkan dalan tindak pidana pembunuhan sengaja ada tiga, yaitu hukuman asli, hukuman pengganti dan hukuman pembunuhan tambahan atau hukuman

pelengkap.162

Dalam hukum pidana Islam, yang melakukan tuntutan dalam persidangan pidan Islam terhadap pelaku pembunuhan adalah ahli waris korban atau keluarga yang ditinggalkan. Pihak keluarga dapat menunutut pelaku pembunuhan dengan dua hukuman yangt telah ditentukan yaitu qishash (hukuman yang setimpal

Seperti yang telah dijelaskan pada bab III diatas, bahwa hukuman asli

terdiri dari hukuman qishash. Hukuman pengganti yaitu diyat dan takzir, yang

mana hal ini akan terlaksana dengan syarat bahwa hukuman qishash telah gugur dengan syarat dan ketentuannya. Sedangkan hukuman pelengkap atau hukuman tambahan berupa terhalangnya hak mewarisi terhadap pelaku pembunuhan atas harta terbunuh dan terhalangannya hak untuk menerima wasiat terhada pelaku pembunuhan.

162

dengan perbuatan pelaku) atau dengan diyat. Diyat hanya dapat diterapkan apabila keluarga korban memberikan maaf kepada pelaku. Oleh karena pemberian maaf dari ahli waris korban, maka ahli waris koraban berhak untuk meminta hukuman

Dokumen terkait