H. Pendaftaran Hak Cipta
1. Pelanggaran Hak cipta dan Sanksi
Pembangunan menimbulkan dampak positif dan negative dalam kehidupan suatu bangsa. Dampak-dampak positif tersebut antara lain dapat berupa peningkatan taraf hidup masyarakat, peningkatan ilmu dan teknologi, peningkatan keahlian dan keterampilan, sedang dampak negatifnya yaitu dengan kemajuan teknologi bidang grafika tersedia alat-alat modern dan tenaga ahli dan terampil tercipta usaha percetakan melawan yaitu mencetak karya tulis atau buku orang lain tanpa ijin dari pencipta (pengarang).
Kemajuan teknologi di bidang elektronika dapat menyebabkan tersedianya alat-alat rekam gambar (audio dan video) yang dapat digunakan untuk perbuatan melawan yaitu dengan jalan merekam lagu dan film karya orang lain tanpa ijin dari pencipta atau pemegang hak cipta. Tujuannya ialah memperoleh keuntungan pribadi dan tanpa membayar pajak.
Bentuk pelanggaran terhadap hak cipta pada dasarnya berkisar pada dua hal pokok, antara lain :
23 Ibid, hlm 47
1. Mengambil atau menguntip sebagian ciptaan orang lain dan dimasukkan ke dalam ciptaannya sendiri atau mengakui ciptaan orang lain seolah-olah itu ciptaan sendiri. Atau dengan sengaja memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta.24
2. Dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan, memperbanyak atau memberi ijin untuk itu. Salah satu contoh pelanggaran larangan untuk mengumumkan ciptaan yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah di bidang pertanahan dan keamanan Negara, kesusilaan dan ketertiban umum.
Selain pelanggaran terhadap ketentuan pidana dibidang Hak cipta untuk kemungkinan terjadi adanya pelanggaran terhadap perjanjian-perjanjian yang berhubungan dengan masalah Hak cipta yang bersifat keperdataan. Di beberapa Negara, penyelesaian persengketaan yang timbul di sekitar masalah Hak Cipta, biasanya diselesaikan dalam pengadilan khusus.
Umumnya, hak cipta dapat dikatakan telah dilanggar jika materi hak cipta tersebut digunakan tanpa izin dari pencipta yang mempunyai hak ekslusif atas ciptaannya. Untuk terjadinya pelanggaran harus ada kesamaan antara dua ciptaan yang ada. Namun, pencipta atau pemegang Hak Cipta harus membuktikan bahwa karyanya telah dijiplak atau karya lain tersebut berasal dari karyanya. Hak Cipta tidak dilanggar jika karya-karya sejenis diproduksi secara independen, dalam hal ini masing-masing pencipta akan memperoleh
24 Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, Op.Cit, hlm.90
Hak Cipta atas karya mereka.
Hak Cipta juga dilanggar jika seluruh atau bagian subtansial dari suatu ciptaan yang dilindungi Hak Cipta diperbanyak. Pengadilan akan menentukan apakah suatu bagian yang ditiru merupakan bagian subtansial dengan meneliti apakah bagian yang digunakan itu penting, memiliki unsure pembeda atau bagian yang mudah dikenali. Bagian ini tidak harus dalam jumlah atau bentuk besar untuk menjadibagian subtansial. Substansial disini dimaksudkan sebagai bagian penting, bukan bagian dalam jumlah besar. Jadi, yang dipakai sebagai ukuran adalah ukuran kualitatif bukan ukuran kualitas.
Cara lain yang dianggap sebagai pelanggaran oleh seseorang terhadap suatu Hak cipta adalah saat orang tersebut :
1. Memberi wewenang (berupa persetujuan atau dukungan ) kepada pihak lain untuk melanggar Hak cipta
2. Memiliki hubungan dagang/komersial dengan barang bajakan ciptaan-ciptaan yang dilindungi Hak Cipta.
3. Mengimport barang-barang bajakan ciptaan yang dilindungi Hak Cipta untuk dijual eceran atau didistribusikan.
4. Memperbolehkan suatu tempat pementasan umum untuk digunakan sebagai tempat melanggar pementasan atau penayangan karya yang melanggar hak cipta.25
Pelanggaran-pelanggaran semacam ini dapat dikenakan denda/sanksi secara khusus yang diatur dalam undang-undang hak cipta.
25 Tim Lindsey, Eddy Damian, Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, Ctk.kedua, Asian Law Group Pty Ltd & Penerbit P.T.Alumni, Jakarta, 2003, hlm.123
Dari masa ke masa, Indonesia serius berupaya menyempurnakan substansi undang-undang hak cipta dan memperberat ancaman pidana penjara serta ddendanya. Jika dalam Undang-undang Hak Cipta lama, yakni UU No. 6 tahun 1982, pelanggaran terhadap Hak Cipta masih dikualifikasikan sebagai delik aduan dengan ancaman pidana maksimum tiga tahun penjara dan denda maksimum Rp 5 juta, dalam revisinya melalui UU No.7 tahun 1987, delik aduan tersebut diubah menjadi delik biasa dengan ancaman pidna maksimum tujuh tahun penjara serta denda maksimum Rp 100 juta.
Mengenai perubahan dari delik aduan ke delik biasa itu, bila sebelunya aparat penegak baru bertindak jika adapengaduan dari masyarakat, kini aparat lebih diberi peluang untuk proaktif dalam memberantas pelanggaran.
Kualifikasi sebagai delik biasa tersebut terus dianut dalam UU no. 12 tahun 1997 dan UU Hak Cipta No. 19 Tahun 2002. Jadi, sejak tahun 1987 aparat pemerintah sebenarnya sudah diberi wewenang untuk membersihkan pusat-pusat penjualan barang bajakan. Tindakan itu pun sudah sering dilakukan aparat, tetapi ibarat patah satu tumbuh seribu.26
Adapun ancaman terhadap pelanggar Hak Cipta tersebut telah diatur dalam UU Hak Cipta. Berikut dua tuntutan yang dapat dilakukan oleh pencipta atau pemegang Hak Cipta jika ciptaannya dilanggar:
1. Tuntutan secara pidana
Dalam Bab XIII Ketentuan Pidana Pasal 72 UU Hak Cipta menentukan :
26 Jani Purwanti Jasfin (UPT Sentra HAKI, Unair)
a. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).
b. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
c. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan ancaman pidana paling lama 5 (lima) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
d. Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milliar rupiah).
e. Barangsiapa dengan sengaja melanggar pasal 19, Pasal 20 atau pasal 43 (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
f. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
g. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
h. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).
i. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu milliard lima ratus juta rupiah).
Ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta berdasarkan putusan pengadilan dapat :
a. Dirampas untuk Negara guna dimusnahkan.
b. Diserahkan kepada pemegang Hak Cipta, sepanjang pemegang Hak Cipta yang bersangkutan telah mengajukan gugatan perdata atas pelanggaran Hak Cipta tersebut
2. Tuntutan secara Perdata
Jika suatu ciptaan itu ternyata hasil pelanggaran Hak Cipta, misalkan buku hasil plagiat-terjemahan orang lain dianggap terjemahan sendiri, maka pemegang Hak Cipta atau pencipta asli berhak mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri yang berwenang dengan tidak mengurangi tuntutan pidana terhadap pelanggar Hak Cipta. Apabila pelanggaran itu berupa pengumuman ciptaan yang bertentangan dengan Hak Cipta dan perbanyakan yang tidak diperbolehkan, maka penggugat dapat menuntut.