• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelanggaran Hak Cipta Terkait Teknologi Digital

BAB II PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITAL DAN

D. Pelanggaran Hak Cipta Terkait Teknologi Digital

Indonesia saat ini mempunyai tantangan terbesar terkait banyaknya pelanggaran yang terjadi berhubungan karya cipta di dunia digital. Dari banyaknya

kasus pelanggaran yang terjadi, pelanggaran Hak Cipta digital yang saat ini paling menjamur adalah pelanggaran karya cipta musik digital yang dapat digandakan dan disebarkan kembali dengan mudah tanpa ada izin dari pemilik Hak Cipta. Pelanggaran Hak Cipta musik digital memang sangatlah mudah, tidak membutuhkan biaya yang besar.

Pelanggaran (infringement) meliputi tindakan penggandaan / perbanyakan tanpa izin, eksploitasi atau pembajakan. Pembajakan merupakan tindak pidana yang berarti suatu pelanggaran terhadap Hak Cipta seseorang yang hasil karyanya diperbanyak atau digandakan tanpa seijin dari penciptanya yang memiliki Hak Cipta memenuhi unsur tindak pidana apabila jika konsumen dimaksud membelinya dalam jumlah besar, meski sudah mengetahui hasil bajakan dan tidak dikonsumsi sendiri, melainkan dipamerkan / menyiarkan dan atau mengedarkan barang hasil tindak pidana.59

Sebagaimana diungkapkan Budi Agus Riswandi bahwa “Internet copying sebagai sebuah fenomena dalam pemanfaatan internet ternyata membawa sejumlah permasalahan juga. Salah satu permasalahannya terletak pada adanya potensi pelanggaran hak moral dan hak ekonomi dari Hak Cipta. Secara yuridis, memperbanyak ciptaan dari internet merupakan hal yang wajar bila didasarkan pada penghormatan hak moral, misalnya menyebutkan sumbernya, meskipun hal tersebut dapat sebaliknya. Untuk hak ekonomi, perbanyakan ciptaan di internet dapat

59

Prakoso Kuspriyatno, “Tindak Pidana Pada Cakram Optik (Optical Disc) Dalam Perspektif Kebijakan Hukum Pidana Di Indonesia”, Tesis Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, 2006, hal. 38

menimbulkan masalah apabila pelangggaran Hak Cipta akibat dirugikannya pemegang Hak Cipta di internet. Permasalahan ini secara yuridis normatif memang telah diatur di dalam ketentuan hukum Hak Cipta secara normatif.”60

Melihat kasus pelanggaran Hak Cipta karya digital yang terjadi di Indonesia, UUHC pada dasarnya telah mengakomodir perkembangan teknologi di Indonesia dan menjadi payung hukum dalam memberikan perlindungan atas karya / ciptaan yang berbasis teknologi. Tetapi aturan yang ada sekarang sulit meminimalisir pelanggaran yang kian marak terjadi di masyarakat luas. Berdasarkan pengumuman yang dilansir Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (United State Trade Representative) di Washington DC dalam laporan tahunan yang dikenal dengan2012 Special 301 Report bahwa Indonesia termasuk dalam daftar “priority watch list” negara sangat bermasalah dalam pelanggaran Hak Cipta atau kekayaan intelektual.61

Pelanggaran Hak Cipta terhadap ciptaan berbasis teknologi digital di Indonesia dinyatakan dan diatur sanksinya dalam Pasal 72 ayat (1) UUHC yang menyatakan: “Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat satu bulan dan/ denda paling sedikit Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000 (lima miliar rupiah)”.

60

Budi Agus Riswandi, Resensi Buku “Hak Cipta di Internet, Aspek Hukum dan Permasalahannya di Indonesia”, http://kphindonesia.freevar.com/?p=128, diakses tanggal 20 September 2012.

61

Ambassador Ronald Kirk, Office of the United States Trade Representative, “2012 Special 301 Report”, http://www.ustr.gov, diakses tanggal 8 Juni 2012.

Unsur-unsur pelanggaran Hak Cipta dalam Pasal 72 ayat (1) UUHC adalah sebagai berikut:

a. Barang siapa

Barang siapa adalah siapapun, sehingga dapat ditujukan kepada siapa saja, dalam hal ini adalah pelaku download. Pelaku download yang telah dapat dimintai pertanggungjawaban dan tidak dapat dikenakan alasan pemaaf atau penghapus pidana memenuhi unsur “barang siapa”.

b. Dengan sengaja

Unsur “dengan sengaja” terpenuhi dengan dilakukannya pengunduhan karya cipta digital tersebut dengan tujuan mendapatkan lagu yang diunduh tersebut. c. Tanpa hak

Tanpa hak disini berarti tidak mempunyai hak untuk melakukan suatu perbuatan. Hak Cipta dimiliki oleh pemegang Hak Cipta. Pemegang Hak Cipta adalah pencipta sebagai pemilik Hak Cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak tersebut (Pasal 1 ayat (4) UUHC). Dalam hal ini, tanpa pengalihan hak atau kuasa dari pencipta atau pemegang Hak Cipta maka perbuatan yang dilakukan oleh pengunduh adalah tanpa hak.

d. Melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) UUHC. Perbuatan di sini adalah perbuatan memperbanyak, oleh pengunduh. Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan

bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer. Dalam Pasal 12 ayat (1) butir (d) UUHC, ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup lagu atau musik dengan atau tanpa teks (salah satunya). Dalam kasus, berarti ciptaan yang dilindungi meliputi lagu / musik yang diunduh oleh pengunduh. Namun tentu saja, pengunduh dapat dikatakan melakukan pelanggaran Hak Cipta adalah apabila memenuhi unsur-unsur pelanggaran Hak Cipta sebagaimana tersebut di atas dengan melakukan pengunduhan lagu-lagu melalui fasilitas internet. Apabila tidak memenuhi salah satu unsur saja, maka tidak dapat dikatakan bahwa pelaku telah melakukan pelanggaran Hak Cipta.

Dalam hal maraknya pelanggaran Hak Cipta karya digital penegak hukum haruslah bersikap tegas dalam menegakkan aturan dan peraturan hukum yang berlaku dan memberikan sanksi yang tepat bagi para pelanggar sesuai aturan hukum yang mengaturnya karena aturan dan peraturan dibuat bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat luas.

BAB III

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KARYA CIPTA DIGITAL DI INDONESIA

A. Konsep Dasar Perlindungan Hak Cipta

Hak Cipta melindungi suatu bidang luas dari karya-karya cipta dan telah berkembang pesat semenjak mulanya sebagai suatu bentuk pengawasan cetak pada awal abad ke-16. Hak Cipta mempunyai suatu pendekatan pragmatis dan cakupannya meluas sampai segala jenis karya cipta tanpa memandang segi kualitas, tunduk kepada beberapa persyaratan dasar, yang biasanya dipenuhi secara mudah.62 Perkembangan praktis Hak Cipta tersebut telah ditunjang oleh para hakim yang umumnya menaruh simpati terhadap prinsip perlindungan suatu karya cipta, keterampilan, dan usaha perorangan.63

Penciptaan hak milik intelektual membutuhkan banyak waktu disamping bakat, pekerjaan, dan juga uang untuk membiayainya. Di semua bidang yang berkaitan dengan penemuan baru sangat membutuhkan perlindungan. Apabila tidak ada perlindungan atas kreatifitas intelektual yang berlaku di segala bidang terutama bidang teknologi digital, maka tiap orang dapat meniru dan membuat copy secara bebas serta mereproduksi tanpa batas. Jika begitu tidak ada insentif untuk mengembangkan kreasi-kreasi baru. Dengan demikian perkembangan dan pembangunan di segala bidang akan terganggu. Maka jelas bahwa dibutuhkan suatu

62

David I. Bainbridge,Komputer dan Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 1993, hal. 15

63

perlindungan hukum yang layak atas hak milik intelektual ini. Untuk dapat menjamin kelanjutan perkembangan hak milik intelektual, dan juga untuk menghindarkan kompetisi yang tidak layak (unfair competition), bahwa diperlukan suatu perlindungan yang layak walaupun dengan perlindungan ini diberikan suatu hak monopoli tertentu kepada pihak pencipta.64

Hal mendasar dari Hak Cipta sebagai konsep kepemilikan, yaitu memungkinkan adanya perlindungan bagi hasil karya seseorang. Dimana karya-karya tersebut merupakan ekspresi dari gagasan yang diperkenalkan kepada publik. Oleh karena itu, Hak Cipta memberikan jaminan bahwa para pencipta tidak hanya menjaga hasil karyanya di bawah pengawasan, dengan jalan mencegah terjadinya peng-copy- an atau perbanyakan tanpa izin, tetapi juga memberikan jaminan bahwa para pencipta dapat memperoleh manfaat dari hasil karya intelektualnya tersebut. Hal ini merupakan sebuah insentif untuk mempublikasikan karyanya. Hak Cipta juga bekerja sebagai sebuah kompensasi atas risiko keuangan dari penerimaan pemilik Hak Cipta dengan jalan mempublikasikan hasil karyanya. Tanpa adanya perlindungan Hak Cipta, seorang pencipta mungkin saja akan menolak untuk mempublikasikan hasil karyanya, yang pada akhirnya publik juga tidak dapat menikmati karya tersebut.

Konsep dasar perlindungan Hak Cipta (the basic concepts of copyright protection) dapat diuraikan sebagai berikut65:

1. Yang dilindungi Hak Cipta adalah ide yang telah berwujud dan asli.

64

Sudargo Gautama,Segi-Segi Hukum Hak Milik Intelektual(Cet-2), Eresco, Bandung, 1995, hal. 7-8

65

Bahwa adanya suatu bentuk yang nyata dan berwujud (expression) dan sesuatu yang berwujud itu adalah asli (original) atau bukan hasil plagiat merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menikmati perlindungan hukum Hak Cipta.

2. Hak Cipta timbul dengan sendirinya.

Suatu Hak Cipta eksis pada saat seorang pencipta mewujudkan idenya dalam suatu bentuk yang berwujud yang dapat berupa lagu yang sudah direkam atau ditulis. Untuk memperoleh Hak Cipta lagu, tidak diperlukan tindakan lanjutan apapun seperti merekamnya dalam kaset atau CD.

Meskipun demikian adalah berguna jika pada waktu pengumuman lagu dicantumkan atau disebutkan nama atau identitas pencipta pada ciptaannya dan dilakukan pendaftarannya pada lembaga yang berwenang.

3. Suatu ciptaan tidak selalu perlu diumumkan untuk memperoleh Hak Cipta. Dengan adanya wujud dari suatu ide, suatu ciptaa lahir. Ciptaan yang dilahirkan dapat diumumkan dan dapat tidak diumumkan. Ciptaan yang diumumkan maupun ciptaan yang tidak diumumkan kedua- duanya dapat memperoleh Hak Cipta. Misalnya seorang pencipta lagu, setelah merekam lagunya dalam pita kaset, kemudian menyimpan pita kaset itu dilemari tanpa mengumumkan melalui produser rekaman suara. Walaupun tidak dumumkan, Hak Cipta lagu itu ada pada pencipta.

4. Hak Cipta suatu ciptaan merupakan suatu hak yang diakui hukum yang harus dipisahkan dan harus dibedakan dari penguasaan fisik suatu ciptaan. Misalnya

seseorang yang membeli CD lagu, berarti orang tersebut adalah pemilik CD yang berisikan lagu-lagu itu, tetapi ia bukanlah pemilik Hak Cipta dari lagu- lagu yang ada dalam CD tersebut.66Jika seseorang memperbanyak kaset atau CD lagu yang dibelinya untuk dijual kembali atau digunakan/diperbanyak untuk kepentingan pribadi dengan tidak memperhatikan kepentingan ekonomi yang wajar, orang tersebut telah melanggar Hak Cipta.

5. Hak Cipta bukan hak mutlak (absolute).

Secara konseptual Hak Cipta tidak mengenal konsep monopoli penuh sehingga mungkin saja seorang pencipta menciptakan suatu ciptaan yang sama dengan ciptaan yang terdahulu dan dia tidak dianggap melanggar Hak Cipta. Bahwa ciptaan yang muncul belakangan tidak merupakan duplikasi atau penjiplakan murni dari ciptaan yang terdahulu.

Kemajuan teknologi dan informasi boleh jadi tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat tetapi juga segi negatifnya. Internet sebagai media penyampaian produk digital pada hakikatnya tidak mengenal teritorial, sedangkan hukum konvensional masih saja terkungkung asas-asas teritorial sempit.67

B. Sejarah Perlindungan Hak Cipta Di Indonesia

Istilah Hak Kekayaan Intelektual terdiri dari tiga kata kunci utama yaitu: Hak, Kekayaan dan Intelektual. Hak adalah benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan oleh undang-undang), atau

66

Lihat Penjelasan Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

67

wewenang wewenang menurut hukum. Kekayaan adalalah prihal yang (bersifat, ciri) kaya, harta yang menjadi milik orang, kekuasaan Intelektual adalah cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, atau yang mempunyai kecerdasan tinggi, cendikiawan, atau totalitas pengertian atau kesadaran terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Kekayaan intelektual adalah kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia yang dapat berupa karya di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Karya ini dihasilkan atas kemampuan intelektual melalui pemikiran, daya cipta dan rasa yang memerlukan curahan tenaga, waktu dan biaya untuk memperoleh produk baru dengan landasan kegiatan penelitian atau yang sejenis. Adanya pengorbanan tersebut menjadikan karya yang dihasilkan menjadi memiliki nilai. Apabila ditambah dengan manfaat ekonomi yang dapat dinikmati, maka nilai ekonomi yang melekat menumbuhkan konsepsi kekayaan (property) terhadap karya-karya intelektual. Bagi dunia usaha, karya-karya itu dikatakan sebagai assets perusahaan.68

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah instrumen hukum yang memberikan perlindungan hak pada seorang atas segala hasil kreativitas dan perwujudan karya intelektual dan memberikan hak kepada pemilik hak untuk menikmati keuntungan ekonomi dari kepemilikan hak tersebut. Hasil karya intelektual tersebut dalam praktek dapat berwujud ciptaan di bidang seni dan sastra, merek, penemuan di bidang teknologi tertentu dan sebagainya. Melalui perlindungan HKI pula, para pemilik hak

68

Amstrong Sembiring, “Sejarah dan Perkembangan HKI Indonesia”, http://my.greasy.com/komparta/sejarah_dan_perkembangan.html, diakses tanggal 2 Juni 2012.

berhak untuk menggunakan, memperbanyak, mengumumkan, memberikan izin kepada pihak lain untuk memanfaatkan haknya tersebut melalui lisensi atau pengalihan dan termasuk untuk melarang pihak lain untuk menggunakan, memperbanyak dan/atau mengumumkan hasil karya intelektualnya tersebut. Maka dari itu HKI memberikan hak monopoli kepada pemilik hak dengan tetap menjunjung tinggi pembatasan-pembatasan yang mungkin diberlakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sesungguhnya Hak Cipta telah dikenal sejak zaman imperium Romawi (saat berkembangnya karya dan literatur sastra) dan zaman kekaisaran Cina (ketika kertas pertama kali ditemukan dan dipergunakan secara luas). Referensi menyebutkan, kelahiran Hak Cipta pada saat itu sangat dipengaruhi oleh pergesaran tradisi oral kepada tradisi literal. Hal penting yang patut digaris bawahi ialah bahwa publik mulai merasa membutuhkan perlindungan hukum yang lebih spesifik atas karya cipta yang mereka hasilkan.69

Pada permulaan abad ke-18 Hak Cipta tidak diakui sebagai hak tersendiri. Hak Cipta melekat erat dengan objek materiil yang didalamnya ciptaan ini berbentuk. Sehingga apabila dimisalkan pada suatu perjanjian kerja, atas suatu Hak Cipta otomatis akan beralih haknya ketika suatu barang/benda diserahkan dari tangan yang mengerjakan kepada pemberi kerja.70

69

Geller Paul Edward, Copy Right History and The Future: What Culture To Do With It, Journal Copyright Society, USA, p. 210-215.

70

Istilah “hak” berasal dari bahasa Arab. Hak berarti milik atau kepunyaan. Milik adalah penguasaan terhadap sesuatu, yang penguasaannya dapat melakukan sendiri tindakan-tindakan terhadap sesuatu yang dikuasainya itu dan dapat menikmati manfaatnya. Dalam bahasa Belanda dikenal istilah Auters Rechts yang berarti hak pengarang. Kemudian istilah hak pengarang itu diganti dengan istilah Hak Cipta, dan pertama kali istilah Hak Cipta itu disampaikan oleh Sutan Mohammad Syah dalam Kongres Kebudayaan di Bandung pada tahun 1951.71

Menurut bahasa Indonesia, istilah Hak Cipta berarti hak seseorang sebagai miliknya atas hasil penemuannya yang berupa tulisan, lukisan dan sebagainya yang dilindungi oleh undang-undang. Adapun pengertian secara yuridis menurut Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta, pada Pasal 2 menyatakan: ”Hak Cipta adalah hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Kemudian dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, dalam Pasal 1 yang dimaksud dengan:

a. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

71

b. Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecakapan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi;

c. Ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni atau sastra.

Sejarah Hak Cipta di Indonesia bermula pada tahun 1958, bertolak dari nasionalisme ekonomi yang didengungkan Bung Karno.72 Perdana Menteri Djuanda saat itu menyatakan Indonesia keluar dari Konvensi Bern dan menyatakan semua ketentuan hukum mengenai Hak Cipta tidak berlaku agar para intelektual Indonesia bisa memanfaatkan hasil karya cipta dan karya asing tanpa harus membayar royalti. Dengan dasar pertimbangan untuk tidak menyulitkan Indonesia dalam pergaulan masyarakat Internasional. Ketentuan lama zaman Belanda tentang Hak Cipta, yakni Auteurswet 1912 Staatblad Nomor 600 Tahun 1912 (aturan kolonial pertama yang sudah disesuaikan dengan Konvensi Bern) berlaku lagi.

Selanjutnya pada tahun 1982 Pemerintah Indonesia mencabut pengaturan tentang Hak Cipta berdasarkan Auteurswet 1912 Staatblad Nomor 600 Tahun 1912, dan sebagai gantinya menetapkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, yang merupakan undang-undang Hak Cipta pertama di Indonesia. Kemudian

72

Haris Munandar & Sally Sitanggang,Mengenal HAKI (Hak Cipta, Paten, Merek dan Seluk Beluknya), Esensi, Jakarta, 2008, hal. 22

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 yang kembali direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 dan direvisi terakhir kali menjadi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang hingga sekarang berlaku di Indonesia.

Pergantian ketentuan hukum melalui pembaruan sejumlah undang-undang tersebut tidak lepas dari peran Indonesia dalam hubungan internasional. Pada tahun 1994 Indonesia telah meratifikasi pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization-WTO) yang mencakup perjanjian tentang perdagangan yang Terkait dengan Hak Kekayaan Intelektual (TRIPs). Ratifikasi tersebut diwujudkan dalam bentuk Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994. Pada tahun 1997 Indonesia meratifikasi kembali Konvensi Bern melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997. Dan Indonesia juga meratifikasi Perjanjian Hak Cipta yang disahkan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO) melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997.

Perlindungan Hak Cipta mempunyai jangka waktu hidup yang lama, umumnya selama 50 tahun, meskipun saat mulainya berbeda-beda bergantung pada tipe karya cipta yang bersangkutan. Hukum Hak Cipta sifatnya praktis dan telah berkembang untuk mengimbangi perubahan-perubahan dan kemajuan-kemajuan teknologi.

Dokumen terkait