• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITAL DAN

E. Pembatasan Hak Cipta

Hak Cipta pada dasarnya dibatasi kecuali dalam kaitan dengan beberapa syarat tertentu. Dibatasi berarti bahwa hak itu dikontrol atau dengan pengertian lain bahwa Hak Cipta tidak berlaku dan ciptaan bersangkutan dapat dengan bebas dieksploitasi, kecuali dalam kaitan dengan beberapa syarat tertentu yang spesifik.87 Namun dewasa ini, timbul banyak masalah akibat penggunaan ketentuan ini berdasarkan interpretasi yang sangat luas. Selain itu, belum ada pengertian yang cukup pasti mengenai perbedaan antara “kutipan” (quotation) yang secara hukum diakui, dengan “penggunaan” (use) yang memerlukan izin. Batas-batas Hak Cipta harus diartikan sebagai tidak lebih dari mengakui beberapa pengecualian dalam aturan-aturan yang ada. Penting untuk diingat bahwa tujuan akhir adalah melindungi keuntungan pemegang Hak Cipta. Juga perlu untuk dipahami bahwa hak moral pencipta, dalam hal batas-batas Hak Cipta diakui sekalipun, tidak terpengaruh, kecuali dalam hal perubahan ejaan atau istilah perlu dilakukan untuk kepentingan pendidikan.88

UUHC memuat tentang pembatasan Hak Cipta yang terkait dengan pendidikan. Hal tersebut tercantum pada Bab II UUHC Bagian Kelima. Tentang penggunaan literatur dalam mencantumkan sumber yang ditentukan, atau kewajiban

87

Lihat Pasal 14 s/d Pasal 18 Undang-Undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

88

pemegang Hak Cipta yang bersangkutan untuk memberikan izin kepada pihak lain untuk menerjemahkan dan atau memperbanyak ciptaan tersebut atau dapat juga menunjuk pihak lain untuk melakukan penerjemahan / perbanyakan ciptaan tersebut. Hal ini dilakukan terhadap ciptaan dalam ilmu bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, sastra, serta penelitian dan pengembangan.

Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak dilihat dari sifatnya. Oleh sebab itu Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruhnya maupun sebagian melalui pewarisan, wasiat, hibah, jual beli, perjanjian tertulis, atau sebab-sebab lain yang dapat dibenarkan. Hak Cipta tidak dapat disita kecuali jika hak itu diperoleh dengan melawan hukum. Jika suatu ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang diciptakan oleh dua orang atau lebih, orang yang dianggap sebagai pencipta adalah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh ciptaan itu. Jka tidak ada orang yang mengaku sebagai pencipta, maka yang dianggap sebagai pencipta adalah orang yang menghimpunnya dengan tidak mengurangi Hak Cipta masing- masing atas bagian ciptaannya itu.

Setiap pencipta atau pemegang izin Hak Cipta bebas untuk dapat menggunakan hak ciptanya, akan tetapi undang-undang menentukan pula adanya pembatasan terhadap penggunaan Hak Cipta itu. Pembatasan tersebut dimaksudkan supaya para pencipta dalam kegiatan kreatif dan inovatifnya tidak melanggar norma- norma atau asas kepatutan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, terutama di negara hukum seperti Indonesia mengingat hasil ciptaan umumnya akan dijual ke pasar (dalam dan luar negeri) untuk memperoleh

keuntungan ekonomis bagi para pencipta atau pemegang izin guna dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Oleh karena sudah ditentukan pembatasan oleh ketentuan undang-undang, maka kebebasan penggunaan Hak Cipta tidak boleh melanggar pembatasan tersebut. Apabila pembatasan tersebut dilanggar oleh pencipta dan pemegang izin Hak Cipta, maka pencipta akan memperoleh sanksi hukum.

Adapun pembatasan penggunaan Hak Cipta yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun dapat dibagi dalam tiga hal:89

a. Kesusilaan dan ketertiban umum. Keterbatasan penggunaan Hak Cipta tidak boleh melanggar pada kesusilaan dan ketertiban umun. Contoh Hak Cipta yang melanggar kesusilaan adalah penggunaan hak untuk mengumumkan atau memperbanyak kalender bergambar seseorang yang asusila yang diambil dari internet, atau pornografi, sedangkan termasuk melanggar ketertiban umum adalah memperbanyak dan menyebarkan buku yang berisi ajaran yang meresahkan masyarakat umum.

b. Fungsi sosial Hak Cipta. Kebebasan penggunaan Hak Cipta tidak boleh meniadakan/mengurangi fungsi sosial dari pada Hak Cipta. Fungsi sosial Hak Cipta adalah memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk memanfaatkan ciptaan itu guna kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan, bahan pemecahan masalah, pembelaan perkara di pengadilan, bahan ceramah dengan menyebutkan sumbernya secara lengkap.

89Teguh Sulistia & Aria Zumetti, “Perlindungan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta”,

c. Pemberian lisensi wajib. Kebebasan penggunaan Hak Cipta tidak boleh meniadakan kewenangan dari negara untuk mewajibkan pencipta / pemegang Hak Cipta memberikan lisensi (compulsory licensing) kepada pihak lain untuk menerjemahkan atau memperbanyak hasil ciptaannya dengan imbalan yang wajar. Pemberian lisensi wajib didasarkan pada pertimbangan tertentu, yakni bila negara memandang perlu atau menilai suatu ciptaan sangat penting artinya bagi kehidupan masyarakat dan negara, misalnya untuk tujuan pendidikan, pengajaran, ilmu pengetahuan, penelitian, pertahanan, keamanan, dan ketertiban masyarakat yang membutuhkan pemakaian ciptaan tersebut. Dalam Hak Cipta dikenal adanya perkecualian Hak Cipta yang berarti tidak berlakunya hak eksklusif yang diatur dalam hukum tentang Hak Cipta. Contoh perkecualian Hak Cipta adalah doktrinfair useataufair dealingyang diterapkan pada beberapa negara yang memungkinkan perbanyakan ciptaan tanpa dianggap melanggar Hak Cipta. Berdasarkan UUHC ada beberapa hal yang dinyatakan tidak melanggar Hak Cipta yaitu dalam Pasal 14 sampai dengan Pasal 18.

Pemanfaatan suatu karya atau ciptaan tidak dianggap melanggar Hak Cipta jika sumbernya disebut / dicantumkan dengan jelas, dan hal itu untuk kegiatan yang bersifat non komersial seperti kegiatan sosial, kegiatan dalam lingkup pendidikan dan ilmu pengetahuan, selama hal itu tidak merugikan kepentingan yang wajar dari penciptanya. Kepentingan yang wajar adalah kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu ciptaan, misalnya

pengambilan ciptaan untuk pertunjukan atau pementasan yang tidak dikenakan bayaran.90

Perbuatan mengunduh ataudownloadkarya cipta seperti karya cipta berformat MP3 melalui media internet jika tujuannya untuk disebarluaskan atau untuk kepentingan komersial maka hal tersebut termasuk pelanggaran Hak Cipta sebagaimana diatur Pasal 72 ayat (1) UUHC. Demikian pula jika perbuatan mengunduh Hak Cipta tersebut tujuannya adalah untuk dinikmati / kepentingan sendiri, maka perbuatan tersebut juga dapat dikategorikan pelanggaran Hak Cipta apabila merugikan kepentingan ekonomi dari pencipta atau pemegang Hak Cipta. Hal ini sesuai dengan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UUHC yang menyatakan:

“Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya. Dalam pengertian “mengumumkan atau memperbanyak”, termasuk kegiatan menerjemahkan mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan ciptaan kepada publik melalui sarana apa pun.”

Pembatasan penggunaan Hak Cipta bertujuan untuk memberi keseimbangan hak antara pencipta dengan kepentingan masyarakat. Penggunaan Hak Cipta oleh pencipta diharapkan akan mewujudkan pula keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.

90

Dokumen terkait