BAB III FAKTOR-FAKTOR YANG MENJADI KENDALA DALAM
B. Pelanggaran Parkir yang sering terjadi di Kota Medan dan Jenis
Empat
Isu perparkiran sebenarnya merupakan isu klasik di kota Medan, dari dulu selalu menghadapi masalah yang sama, seperti pengutipan uang parkir melebihi ketentuan dari tarif yang telah ditentukan, pengutipan parkir liar, parkir sembarangan di badan jalan hingga mempersempit badan jalan, parkir ditrotoar, parkir yang mengganggu lalu lintas di lingkungan sekolah-sekolah tertentu, hingga adanya parkir VIP di beberapa tempat tertentu di Kota Medan.
Kondisi buruknya pengeloaan parkir ini ditambah masalah dengan makin maraknya badan jalan dijadikan sebagai tempat parkir ditepi jalan umum oleh oknum-oknum tertentu, kawasan Pasar Brayan, Pajak Melati, Central untuk parkir saja harus membayar dua kali pertama dengan karcis pada loket yang di sediakan oleh dinas perhubungan lalu yang kedua membayar kembali pada parkir didalamnya yang tidak tahu ilegal atau legal, namun tidak ditegur oleh pegawai Dishub setempat jika itu sebagai upaya untuk meningkatkan PAD, namun mengapa masih ada saja hal seperti itu ini sangat merugikan masyarakat setempat
60 Ibid., hlm. 257.
63
dengan manajemen yang seperti ini bisa saja kebocoran PAD makin tidak terkendali.
Pelanggaran itu ternyata terus saja dibiarkan oleh pihak UPT. Selain itu juga di lapangan banyak terjadi, awalnya sebuah jalan tidak boleh parkir, namun kemudian dijadikan area parkir jalan yang legal oleh UPT Parkir. Keberadaan parkir di badan jalan yang membuat macet dan yang liar tersebut terus dibiarkan tanpa penegakan oleh pihak UPT Parkir. Pihak UPT Parkir, sebagai penanggung jawab pengelolaan parkir di badan jalan terkesan tidak mau tahu dan hanya ingin aman semata, hanya mengejar setoran.61
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, penulis menganalisa jika keberadaan parkir di jalan telah ada sejak berdirinya kegiatan perdagangan berupa pertokoan. Karena tidak adanya lahan untuk parkir kendaraan maka badan bahu jalan digunakan untuk parkir kendaraan. Karena berada pada kawasan pusat perdagangan dan Kota Medan Tangerang, maka arus kendaraan yang melalui jalan ini selalu ramai sehingga menimbulkan kemacetan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Heru Lubis, bahwa pelaporan terhadap pelanggaran parkir dilakukan melalui Dinas Perhubungan dengan membuat pelaporan di kantor kepolisian. Kemudian laporan tersebut baru akan ditindak lanjuti oleh Dinas Perhubungan untuk dilakukan pengecekan dan melakukan tindakan yang diperlukan dalam menangani laporan tersebut. Kegiatan
61 Wawancara dengan Bapak Rudi Sitorus, SE., selaku Kepala Seksi Pengendalian &
Ketertiban Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Medan pada tanggal 11 Mei 2021.
mengawasi ini dibantu juga dengan adanya juru pungut retribusi yang melakukan pungutan setiap hari dan melakukan pengawasan terhadap pengelolaan parkir.62
Penelitian yang dilakukan oleh Adisasmita dengan konsep traffic is a function of buildings, terdapat hubungan tidak positif antara jumlah gedung dan kepadatan lalu lintas.63 Gedung dengan aktivitas yang tinggi biasanya merupakan pusat perdagangan dari suatu daerah yang letaknya di pusat kota. Munculnya aktivitas pada pusat perdagangan akan mengakibatkan adanya bangkitan perjalanan, dari bangkitan perjalanan akan menimbulkan permaslahan yang muncul adalah dimana kendaraan yang tidak mungkin bergerak terus menerus.
Banyaknya kendaraan yang berhenti untuk melakukan transaksi itu juga menjadi penyebab munculnya oknum pelanggar parkir didaerah tersebut dan dengan kurangnya lahan parkir sehingga banyak pengguna kendaraan melakukan parkir di bahu jalan (on-street parking) yang di siapkan oleh oknum oknum pelanggar parkir. Tentu hal-hal tersebut akan menyebabkan kemacetan dengan adanya lokasi-lokasi parkir baru di badan jalan (on-street parking).
Penelitian yang dilakukan oleh Agusniar Rizka Luthfia membahas tentang Kuasa Aktor dalam “Dunia Parkir Liar (Studi Kasus Kuasa Aktor dalam Dunia)‟
Parkir L 3 Jurnal penelitian yang berkaitan dengan minimnya lahan parkir telah dilakukan oleh Pri Guna Nugraha, yang berjudul Studi tentang “Peran Dinas Perhubungan dalam Menertibkan Parkir Liar di Pasar Pagi Kota Samarinda”
penelitian ini menjelaskan bahwa kenyamanan dalam pelaksanaan parkir belum
62 Muhammad Heru Lubis, Peran Dinas Perhubungan Kota Medan Dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Melalui Pengelolaan Parkir, (Skripsi: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, 2019), hlm.78
63 Adji Sakti Adisasmita, Transportasi dan Pengembangan Wilayah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), hlm. 70-71.
65
maksimal lantaran terbatasnya lahan parkir yang disediakan pemerintah yang memiliki kapasitas tinggi karena merupakan salah satu pusat perekonomian Kota Samarinda. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemerintah Kota Samarinda belum memberikan sarana dan parasarana yang nyaman terhadap pengguna parkir karena lahan parkir yang tidak memadai dan belum terealisasi.64
Kemacetan yang ditimbulkan oleh oknum-oknum pelanggar parkir mengakibatkan adanya ketidaklancaran lalu lintas. Kemacetan tersebut cukup mengganggu kelancaran aktivitas masyarakat. Apalagi kita ketahui Medan adalah tempat yang menarik untuk di kunjungi oleh wisatawan, dan Medan adalah salah satu jalan yang di lewati para wisatawan untuk menuju ke berbagai tempat wisata.
Selain kemacetan di daerah Medan yang disebabkan adanya oknum pelanggar parkir di daerah Medan juga ada Pasar dimana Pasar tempat transaksi perdagangan atau transaksi jual-beli.
Dalam jurnal penelitian terdahulu Aditya Wisnu Priambodo, dkk tentang Analisis Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum di Kota Semarang tahun 2012-2013, penelitian ini membahas masalah parkir liar telah menjadi penyebab hilangnya pendapatan daerah, juru parkir liar menerapkan tarif parkir tidak sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Semarang No 5 Tahun 2013 tentang Retrubusi Pemakaian Kekayaan Daerah yang telah ditetapkan.65
Penelitian yang dilakukan Aditya Wisnu Priambodo juga membahas oknum pelanggar parkir yang menyebabkan kemacetan dan dalam penelitian
64 Agusniar rizka luthfia, Menilik Urgensi Desa Di Era Otonomi Daerah, Journal of Rural And Development, Vol. IV No.2 2013.
65 Aditya Wisnu Priambodo, dkk. Analisis Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Di Kota Semarang Tahun 2012-2013, (Semarang: Journal of Politic and Government Studies Undip, Vol.3, No.1 Tahun 2014).
terdahulu yang dilakukan oleh Aditya Wisnu Priambodo menghasilkan bahwa Pemerintah Kota Semarang telah melakukan sejumlah upaya untuk memperbaiki perparkiran Kota Semarang, namun upaya-upaya tersebut cenderung tidak menemukan hasil yang positif karna banyak dipengaruhi kepentingan. Dalam penelitian tersebut bahkan Tarif parkir yang ditetapkan suatu daerah dengan daerah lainnya dapat berbeda-beda. Dilihat dari kemampuan dan kebutuhan masingmasing dari suatu daerah. Penyelewengan tarif parkir yang terjadi di suatu daerah, yang dilakukan oleh oknum pelanggar parkir merugikan pemerintah daerah. Tarif parkir yang berubah-ubah dan tidak sesuai dengan Perda atau Perwali sangat merugikan kas daerah.
Pemerintah dalam hal ini Dinas Perhubungan, memerlukan suatu strategi yang berperan baik dalam menanggulangi oknum pelanggar parkir di daerah Medan. maka pemerintah yang terkait seperti Dinas Perhubungan di tuntut untuk mengatasi dengan melakukan penertiban terhadap oknum pelanggar parkir.
Berdasarkan konsep pembelajaran dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah di atur dan dilakukan oleh Aparatur yang berkompeten dan mempunyai kewenangan dibidang perparkiran. oknum pelanggar parkir ini akan menjadi suatu masalah yang serius apabila tidak di tertibkan untuk mengikuti aturan yang ada, dan oknum pelanggar parkir juga bisa mengakibatkan kekacauan jika tidak cepat dalam penyelesaiannya.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Medan secara rutin menertibkan mobil yang kedapatan parkir liar dan sembarangan di sejumlah ruas jalan di kota itu dengan cara menggembok ban mobil. Hal ini dilakukan untuk memberikan efek
67
jera kepada para pengemudi mobil yang suka parkir liar dan sembarangan sehingga memicu kemacetan. Penertiban dengan jalan menggembok ban mobil akan terus diakukan, apalagi pihaknya telah menginventarisir ruas jalan yang rentan kemacetan akibat parkir liar maupun berlapis.
Pelanggaran parkir di Kota Medan yang cukup menarik perhatian yang dilakukan oleh pengemudi roda empat, salah satunya terjadi pada tanggal 4 Maret 2020 dimana Tim gabungan Dinas Perhubungan Kota Medan dan Satlantas Polrestabes Medan kembali menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan, hasilnya, 4 unit mobil dilakukan tindakan tegas. Penertiban parkir liar kali ini dilakukan di 4 ruas jalan seperti Jalan Perdana, Jalan Diponegoro, Jalan Guru Patimpus dan Jalan Gajah Mada. Hasil 4 kendaraan mobil diberikan tindakan tegas berupa penggembosan ban. Selain melakukan penggembosan ban, petugas juga menilang kendaraan yang parkir di sembarang tempat. Petugas juga menilang kendaraan yang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan parkir di badan jalan sehingga mengganggu pengendara lainnya dan menyebabkan kemacetan. Kepala Dinas Perhubungan Kota Medan, Iswar Lubis mengatakan masalah parkir di Kota Medan akan menjadi masalah serius ke depannya apabil tidak segera di atas. Jumlah kendaraan semakin bertambah dan jumlah bangunan semakin banyak. Sedangkan ruas badan jalan tidak mengalami penambahan. Tindakan ini dilakukan sesuai dengan arahan yang diinstruksikan Plt Walikota Ir H Akhyar Nasution MSi untuk menertibkan parkir liar yang sering menyebabkan kemacetan kendaraan. Selain itu,
petugas Dishub juga kerap mendapat banyak keluhan dari masyarakat pengguna jalan yang merasa terganggu.66
Pada tanggal 5 Februari 2020, petugas Dishub melakukan peyitaan sementara (penderekan) terhadap sebuah mobil yang parkir di trotoar sekitar Lapangan Merdeka Medan dengan paying hukum Perwal Nomor 70 Tahun 2017.
Kepala Bidang Pengembangan dan Pengendalian Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Medan, Edison Sagala mengatakan penertiban tersebut bertujuan agar para pengendara di Medan bisa menghormati hak para pejalan kaki. Selama ini trotoar dan bahu jalan yang sejatinya diperuntukkan bagi para pejalan kaki malah digunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Dalam kesempatan itu, Edison menegaskan bahwa trotoar bukanlah tempat parkir kendaraan. Itu sebabnya, pihaknya kemudian melakukan penertiban terhadap kendaraan yang parkir di trotoar. Menurutnya, kendaraan yang parkir di trotoar akan semakin mengganggu hak para pejalan kaki. Di samping itu, trotoar akan semakin rusak dengan adanya kendaraan yang parkir.
Edison menghimbau kepada masyarakat Kota Medan agar tidak memarkirkan kendaraannya di trotoar dan menghormati hak para pejalan kaki.67
Adapun sanksi yang diberikan oleh Dinas Perhubungan dalam melaksanakan pengawasan kepada petugas-petugas resmi yang telah terdaftar sebagai petugas parkir resmi, yaitu:
66 https://sumut.indozone.id/news/bnsOor/tertibkan-parkir-liar-dishub-kota-medan-gembosi-4-unit-mobil/read-all, Diakses pada tanggal 5 Mei 2020.
67 https://sumut.indozone.id/news/Ensgde/parkir-di-trotoar-mobil-ini-diderek-dishub-kota-medan/read-all, Diakses pada tanggal 5 Mei 2021.
69
1. Memberi Peringatan
Dinas perhubungan memberikan peringatan kepada petugas parkir yang telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang telah diberikan, peringatan tersebut berupa peringatan dan saran untuk tidak melakukan pelanggaran ketentuan
2. Teguran
Jika peringatan tidak diindahkan, maka kemudian dilakukan peneguran secara langsung secara tertulis dan tidak tertulis
3. Pencabutan Surat Izin
Peringatan dan teguran tidak dilakukan, maka upaya terakhir dilakukan adalah melakukan pencabutan surat izin resmi pada petugas parkir yang dimiliki oleh petugas kepada petugas parkir yang illegal yang menyebabkan timbulnya kerugian atas perbuatannya sudah merupakan tindak pidana yang menjadi wewenang pihak kepolisian.68
C. Faktor-Faktor Yang Menjadi Kendala Dalam Pelaksanaan Penguasaan Sementara Atas Kendaraan Roda Empat Dalam Hal Pelanggaran Parkir Di Kota Medan
Masalah penderekan yang paling umum dirasakan masyarakat adalah ketika siapapun pengendara yang kendaraannya diderek pasti akan marah dan tidak terima. Pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara kendaraan roda empat tidak langsung ditindak oleh Suku Dinas Perhubungan Kota Medan namun diberikan pengarahan ketika masih ada orang tersebut di dalam kendaraan.
68 Muhammad Heru Lubis, Op.Cit, hlm. 79
Adanya retribusi penderekan yang harus dibayar oleh pengendara ketika parkir di bahu jalan seyogyanya bersifat memberikan efek jera ke masyarakat agar tidak parkir liar atau parkir di bahu jalan walaupun ada atau tidaknya rambu lalu lintas dilarang parkir di sini. Setelah terjadinya penderekan ini biasanya akan muncul kesadaran untuk tidak parkir sembarangan dan masyarakat akan lebih aware dengan rambu-rambu yang ada di jalan. Pengendalian parkir harus diatur dalam Peraturan Daerah tentang Parkir agar mempunyai kekuatan hukum dan diwujudkan rambu larangan, rambu petunjuk dan informasi.69
Setiap karyawan dibekali dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang sebagaimana bisa menjelaskan secara detail mengenai penderekan dan mampu mencari solusi langsung yang terjadi di lapangan. Setiap adanya penindakan penderekan pasti ada penyebabnya seperti pelanggaran parkir yang belum dipahami oleh masyarakat kita.
Hambatan – hambatan yang sering dialami pada saat sosialisasi kebijakan penderekan yang dilakukan oleh Suku Dinas Hubungan Kota Medan antara lain:
1. Belum banyak tenaga ahli yang ada terutama bidang IT dan komunikasi 2. Kurangnya skill dan informasi mengenai anggota Suku Dinas Hubungan
Kota Medan
3. Rasa peduli yang kurang akibat dari parkir di bahu jalan
4. Rasa ingin tahu masyarakat yang masih rendah mengenai kebijakan penderekan yang dilakukan oleh Suku Dinas Hubungan Kota Medan 5. Tingkat kesadaran masyarakat masih rendah
69 Irfan Fajri Rambe, Analisis Pelaksanaan Pemungutan Retribusi Tempat Khusus Parkir dan Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum Sebagai Sumber Pendapatan Asli Daerah Kota Padang Sidempuan, (Medan: Tesis Magister Ilmu Hukum FH USU, 2017), hlm. 88.
71
6. Adanya kesalahpahaman persepsi masyarakat mengenai rambu-rambu lalu lintas
7. Kurangnya pemahaman dari anggota Suku Dinas Hubungan Kota Medan Selain dari beberapa faktor hambatan di atas, pada tahun 2019 Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Medan mengaku butuh penambahan Rp3,8 miliar di P-APBD 2019. Anggaran itu, kata Kepala Dinas Perhubungan Medan, Iswar Lubis, diperuntukkan membeli mobil derek untuk mengatasi parkir liar yang selama ini kerap menjadi masalah dan memicu kemacatan arus lalulintas di Kota Medan. Dikatakan, selain untuk pengadaan pembelian mobil derek, anggaran Rp3,8 miliar yang ditambah di P-APBD 2019 digunakan untuk pembelian sparepart dan pergantian pintu parkir otomatis yang dikelola oleh Dishub Medan yakni di sisi Timur Skybridge Lapangan Merdeka Medan. Apabila usulan pembelian mobil derek tersebut disetujui maka penerapan sanksi penderekan bagi kendaraan yang parkir di sembarang tempat akan diberlakukan efektif. Kesulitan selama ini menertibkan parkir liar dan sembarangan karena Dishub tidak punya mobil derek. Dalam pembahasan itu sejumlah anggota Komisi IV justru menyoroti lemahnya Dishub Medan menggali potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi parkir tepi jalan yang menjamur di hampir seluruh kawasan di kota Medan. Sebut saja, kata anggota Komisi IV Hendra DS parkir tepi jalan di Jalan Tengku Daud, Jalan Kartini tepatnya di samping Brastagi Buah serta di kawasan Merdeka Walk, kawasan tersebut diduga bukan dikelola oleh Dishub.70
70 https://waspada.co.id/2019/08/siapkan-mobil-derek-dishub-medan-butuh-rp38-miliar/Diakses pada tanggal 5 Mei 2021.
Dalam lingkup yang lebih luas, Dishub juga memiliki beberapa kendala dalam melaksanakan penegakan hukum pada masyarakat yang melakukan pelanggaran parkir yaitu:
1) Faktor Internal
Mengenai faktor internal yang dimaksud adalah Dinas Perhubungan Kota Medan yang dalam melaksanakan tugasnya mendapatkan hambatan hambatan sebagai berikut:
a. Anggota yang terdapat dalam Dinas Perhubungan Kota Medan untuk melaksanakan penertiban masih sedikit jumlahnya dan tidak sebanding dengan tingkat pelanggaran yang terjadi di beberapa lokasi wilayah Kota Medan.
b. Perlengkapan untuk melaksanakan penegakan hukum seperti armada mobil untuk melakukan pemindahan/penderekan kenderaan dan kunci roda untuk penguncian roda kenderaan masih sedikit jumlahnya yang berbanding terbalik dengan tingkat kenderaan yang melakukan pelanggaran
2) Faktor Eksternal
Mengenai faktor eksternal yang dimaksud adalah pihak-pihak diluar Dinas Perhubungan Kota Medan yang menjadikan hambatan-hambatan sebagai berikut:
a. Beberapa oknum anggota masyarakat yang dalam keseharian masih terlihat belum memiliki kesadaran hukum terhadap ketentuan ramburambu lalu lintas yang ada.
73
b. Masih banyak terdapat oknum-oknum petugas parkir yang tersebar di beberapa lokasi dan tidak terdaftar resmi pada Dinas Perhubungan Kota Medan yang mengatur serta menempatkan kenderaan untuk parkir di lokasi jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan rambu-rambu lalu lintas yang ada atau tempat yang dilarang untuk parkir kenderaan Faktor pembangunan juga menjadi salah satu penyebab pelanggaran parkir. Pembangunan yang terjadi selalu diikuti oleh dampak positif dan negatif.
Pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang memiliki dampak positif lebih banyak dari pada dampak negatifnya. Dalam pembangunan di era sekarang ini, diperlukan koordinasi yang baik antar instansi terkait agar pembangunan yang terjadi dapat mewakili kepentingan banyak pihak tidak segelintir elit saja. Dengan begitu diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari pembangunan.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Kota Medan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kegiatan manusia di dalamnya, terutama pada kawasan yang memiliki prosentase yang tinggi atas kegiatan komersial dan jasa. Hal ini akan mendorong terjadinya pembangunan secara pesat.
Pembangunan bangunan-bangunan yang tidak terkendali menyebabkan tata ruang Kota Medan tidak tertata rapi.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada Bapak Rudi Sitorus selaku kepala Seksi Pengendalian dan Ketertiban Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Medan mengatakan banyaknya bangunan seperti tempat usaha dan yayasan pendidikan yang tidak memiliki fasilitas parkir yang memadai menjadi ancaman bagi terlaksananya strategi penanggulangan parkir liar karena menjadi pemicu
awal munculnya parkir liar. Sehingga diperlukannya koordinasi antar instansi yang dalam hal ini Dinas Tata Ruang Kota Medan dengan Dinas Perhubungan dalam menerbitkan Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) agar pembangunan setiap gedung yang memiliki intensitas pengunjung tinggi memiliki sarana lahan parkir yang memadai.
Banyaknya lokasi dengan intensitas pengunjung yang tinggi ditambah kurangnya lahan parkir yang tersedia disekitarnya dimanfaatkan oleh beberapa oknum tidak bertanggung jawab untuk menjadikan bahu jalan menjadi lokasi parkir. Juru parkir liar memanfaatkan peluang ini untuk kepentingan individu atau kelompoknya.
Berdasarkan hasil wawancara diatas, penulis menganalisa sebab adanya parkir liar yaitu karena ketiadaan fasilitas parkir (pelataran atau gedung) di kawasan tertentu dalam kota menyebabkan badan jalan menjadi tempat parkir.
Kepadatan arus lalu lintas pada suatu ruas jalan dapat pula ditimbulkan oleh adanya pusat-pusat kegiatan dimana pada umumnya kendaraan yang parkir di badan jalan berada sekitar tempat atau pusat kegiatan. Apabila pihak pertokoan menyediakan lahan parkir, maka tidak akan terjadinya parkir liar.
70 BAB IV
TINDAKAN YANG DILAKUKAN OLEH DINAS PERHUBUNGAN DALAM MENGATASI PERMASALAHAN PELANGGARAN
PARKIR DI KOTA MEDAN
A. Ketentuan Hukum Terhadap Penindakan Atas Pelanggaran Parkir Yang Dilakukan Oleh Pengguna Kenderaan Roda Empat Berdasarkan Perwal Nomor 70 Tahun 2017
Parkir merupakan salah satu komponen atau aspek yang tidak terpisahkan dalam kebutuhan transportasi karna transportasi dari waktu ke waktu terus berkembang. Pemanfaatan transportasi dapat dilihat dari berbagai kegiatan masyarakat, yakni manfaat ekonomi, manfaat sosial, manfaat politis, manfaat kewilayahan, tetapi dibalik semua manfaat yang diatas mempunyai dampak negatif, dimana dengan adanya perkembangan transportasi, maka peningkatan jumlah transportasi semangkin meningkat, dengan meningkatnya jumlah transportasi maka akan memunculkan oknum pelanggar parkir.
Oknum pelanggar Parkir melakukan kegiatan perparkiran di sembarang tempat, sehingga dapat menyebabkan kemacetan-kemacetan. Pada dasarnya parkir adalah kebutuhan umum yang awalnya berfungsi melayani, sesuai dengan fungsi tersebut, ruang parkir disesuaikan dengan permintaan seiring dengan kebutuhan orang berkendaraan untuk berada atau mengakses suatu tempat.
Peniliti disini mengobservasi di daerah Medan yang mengalami kemacetan yang disebabkan oleh oknum pelanggar parkir untuk meraup keuntungan, adany
pelanggaran parkir dikarenakan meningkatnya volume kendaraan yang tanpa di iringi dengan persediaan lahan parkir oleh pemerintah maupun pihak yang terkait, maka hal ini akan menyebabkan timbulnya oknum-oknum yang memanfaat bahu jalan untuk di jadikan lahan markir yang akan mengakibatkan kemacetan sepanjang jalan Kota Medan dan selain itu akan mengakibatkan kerugian bagi pemerintah setempat.
Sebenarnya perparkiran menjadi fenomena yang sering dijumpai dalam sistem transportasi. Fenomena parkir tersebut terjadi hampir di seluruh daerah yang ada di Indonesia. Pelanggaran parkir ini menimbulkan permasalahan tanpa mampu memberikan sumbangan yang positif, terlebih pelanggran parkir sekitar daerah Kota Medan. Oleh karna itu pelanggran parkir ini dapat menjadi suatu yang menarik untuk di kaji. Parkir dapat berupa parkir kendaraan bermotor roda dua (2) dan kendaraan bermotor roda empat (4). Keduanya dapat mengganggu keindahan kota apabila tidak dilakukan penataan dengan baik.
Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 18 ayat (1) bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah-daerah provinsi itu dibagi atas Kabupaten dan Kota, yang tiap-tiap Provinsi, Kabupaten, dan Kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.71
Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 18 ayat (6) bahwa pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah
71 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 18 ayat (1).
72
dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan.72
Berdasarkan Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 beserta penjelasannya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Daerah Negara tidaklah bersifat sebagai staat (Negara bagian)
2. Daerah Indonesia dibagi-bagi menjadi daerah-daerah besar dan kecil baik
2. Daerah Indonesia dibagi-bagi menjadi daerah-daerah besar dan kecil baik