• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

E. Pelanggaran Perusahaan Pers

Dalam memaparkan pelanggaran perusahaan penerbitan media pers dan perusahaan percetakan di Kota Makassar, penulis didukung beberapa data penerbitan media pers yang diterbitkan tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang. Banyak perusahaan penerbitan pers di Kawasan Timur Indonesia menerbitkan surat kabar atau majalah tanpa mencantumkan nama dan alamat percetakan pers sebagaimana amanat Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Dengan demikian, antara

34 perusahaan percetakan pers dengan perusahaan media pers sama-sama tidak mematuhi amanat Undang-Undang tersebut.

Melihat perkembangan usaha media pers di tanah air tanpa kendali dan tidak lagi mengutamakan kualitas, profesional, mapan dan mandiri, terutama penegakkan netralitas dalam berbagai kepentingan, sehingga Tarman Azzam, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia periode 2005 – 2009 menyampaikan kekhawatirannya.

Menurut Tarman Azzam (2008 : 05), bahwa :

“Masyarakat pers harus mampu mengatur diri sendiri dengan menghormati standar profesi dan ketentuan hukum agar tidak terjadinya campur tangan pihak lain terhadap perikehidupan pers nasional, terutama harus terhindar dari intervensi kekuasaan pemerintah maupun publik yang anarkis. Sudah tentu, pers harus memperhatikan kepentingan nasional. Hal ini menjadi tantangan terbesar bagi para pengelola pers nasional.”

Sebagaimana Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, secara tegas mengatur dan sekaligus menegaskan

sanksi pidana bagi perusahaan pers, sebagai berikut :

“Perusahaan Pers wajib mengumumkan nama, alamat dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan.”

Dalam penjelasan pasal demi pasal Undang-Undang Republik Indonesia nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, untuk Pasal 12 huruf a dijelaskan bahwa Pengumuman secara terbuka dilakukan dengan cara :

“Media cetak memuat kolom nama, alamat, dan penanggung jawab penerbitan, serta nama dan alamat percetakan.

Pengumuman tersebut dimaksudkan sebagai wujud pertanggungjawaban atas karya jurnalistik yang diterbitkan atau

35 disiarkan. Yang dimaksud dengan penanggung jawab, adalah penanggung jawab perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi. Sepanjang menyangkut pertanggungjawaban pidana, menganut ketentuan perundang-undangan yang berlaku.”

Perusahaan pers yang tidak mengindahkan ketentuan ini, akan diancaman hukuman atau sanksi pidana yang tercantum dalam Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yaitu:

“Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 9 ayat (2) dan Pasal 12 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp.

100.000.000,00 (seratus juta rupia)”.

Pelanggaran tersebut, jelas harus dipertanggungjawabkan oleh seluruh perusahaan penerbitan pers, dan atau perusahaan percetakan pers. Khusus yang telah berbadan hukum, seperti perseroan terbatas (pt), mutlak harus melaksanakan seluruh kewajibannya.

Muladi dan Dwidja Priyatno (Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, 2010 : 31) menjelaskan bahwa :

“Perseroan terbatas atau PT adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya (lihat Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas). Pengertian Korporasi di dalam hukum pidana sebagai ius constituendum dapat dijumpai dalam Konsep Rancangan KUHP Baru Buku I 2004 – 2005 Pasal 182 yang menyatakan, Korporasi adalah kumpulan terorganisasi dan dari orang dan / atau kekayaan baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.”

Kesimpulannya, pelanggaran yang dilakukan percetakan penerbitan pers dan percetakan umum lainnya, seperti usaha printing, tetap harus memenuhi ketentuan hukum pidana. Misalnya, ketika menyangkut pertanggungjawaban pidana atas karya jurnalistik

36 atau akibat karya jurnalistik, maka sistem pertanggung jawabannya adalah sistem pertanggung jawaban fiktif dan suksektif. Disebut fiktif, karena walaupun persangkaan atau dugaan tindak pidana atau perbuatan pidana dilakukan seorang reporter atau seorang redaktur, mereka tidak dapat dikenakan tuduhan, karena pertanggung jawabnya sudah diambil alih oleh pihak lain, yaitu nama penanggung jawab yang dicantumkan sebagai penanggung jawab. Oleh karena itu, apabila ada dugaan atau perasangka adanya tindak pidana atau perbuatan pidana yang dilakukan oleh sebuah perusahaan pers, maka yang harus menjalaninya bukan reporter, redaktur atau pembuat berita yang membuat kesalahan itu. Bukan juga dibebankan kepada perusahaan, melainkan ditanggung oleh penanggung jawab. Itulah sebabnya dalam sistem pertanggungjawaban pers disebut sistem pertanggungjawaban fiktif dan suksektif.

Pers dalam melakukan aktivitasnya, senantiasa tetap berada di garis tidak berpihak, atau menegakkan netralitas dalam setiap pnerbitannya. Artinya, pers tetap sebagai jurnalis yang menegakkan keindependensinya, supremasi hukum, Hak Asasi Manusia, profesional, mapan, mandiri dan bermoral.

Dewan Pers (2008 : 110) menetapkan Beberapa pasal menyangkut kenetralitasan pers Indonesia, antara lain :

“Pasal 1: Wartawan Indonesia bersikap independen menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

37 Penafsiran:

a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.

c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan yang setara.

d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

“Pasal 2: Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran:

Cara-cara yang profesional adalah:

a. Menunjukkan identitas diri kepada narasumber;

b. Menghormati hak-hak privasi;

c. Tidak menyuap;

d. Menghasilkan berita yang faktual dan jelas narasumbernya;

e. Rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tantang sumber dan ditampilkan secara berimbang;

f. Menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;

g. Tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;

h. Penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

“Pasal 3: Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran:

a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.

b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.

c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.

d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

38

“Pasal 8: Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsiran:

a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.

b. Diskrimiasi adalah pembedaan perlakuan.

“Pasal 11: Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran:

a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan sama baiknya.

b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.

Sebagai pers yang independen dan profesional, peran dan kepeduliannya senantiasa dituntut oleh masyarakat dan semua pihak yang berkepentingan, agar dalam menyajikan pemberitaannya benar-benar tidak berpihak, terutama di ranah politik. Peranan pers dalam setiap penyelenggaraan Pemilihan Umum (PEMILU) untuk Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan anggota Legislatif, atau pun Pemilihan Umum Kepala Daerah (PEMILUKADA) di setiap provinsi atau pun di kabupaten kota, harus turut menjaga stabilitas keamanan di daerah.

Demikian pula, pers harus dapat menghindari para provokator yang memiliki kepentingan politik. Pers juga harus dapat “mendinginkan”

setiap terjadi konflik kepentingan dalam setiap penyelenggaraan Pemilukada di daerah masing-masing.

39 Seperti dalam Pernyataan Dewan Pers Nomor 31/P-DP/V/2005 tentang PERS dan PILKADA 2005 (Dewan Pers Periode, 2010 : 119) bahwa :

Komunitas pers, agar menyosialisasikan terlaksananya Pilkada yang jujur, adil, dan damai, dengan cara menyebarkan informasi dan menghasilkan karya jurnalistik yang selalu berpegang pada prinsip jurnalisme yang profesional dan beretika. Berkaitan dengan itu, Dewan Pers perlu menyampaikan kapada komunitas pers – dan masyarakat pada umumnya – hal-hal sebagai berikut:

1. Pers bakal menjadi salah satu sarana kampanye dan ajang pertarungan pendapat bagi para calon kepala daerah, untuk mempengaruhi dan merebut simpati pemilih. Oleh karena itu, pers perlu memainkan peran sabagai sarana politik yang baik.

Pers harus menjaga independensi dan sikap kritis, tidak terjebak menjadi alat kampanye pihak-pihak yang berkompetisi, apalagi menjadi sarana kampanye negatif. Pers patut memilih informasi dan materi kampanye dengan orientasi membangun proses pilkada yang aman dan tertib, dengan mengedepankan prinsip jurnalisme damai.

2. Wartawan dituntut untuk selalu bersikap adil, seimbang, dan independen. Oleh karena itu, bagi wartawan yang tercatat mencalonkan, dan atau melibatkan diri dalam Pilkada wajib menegaskan posisinya dan menyatakan mengundurkan diri atau non-aktif sabagai wartawan. Hal ini untuk menghindari adanya perbenturan kepentingan (conflict of interest) dan pelanggaran prinsip etika jurnalisme. Prinsip ini juga berlaku bagi wartawan yang secara individu maupun kelompok menjadi

“Tim Sukses” calon Kepala Daerah yang ikut Pilkada.

3. Dewan Pers menghimbau, agar masyarakat aktif memantau kinerja media dalam peliputan Pilkada. Jika masyarakat melihat terjadinya bias pers, pemberitaan media yang memihak secara terang-terangan, atau penyalahgunaan profesi wartawan, maka masyarakat jangan ragu untuk mengingatkan media bersangkutan, atau mengadu ke Dewan Pers.

Begitu besarnya pengaruh pers terhadap berbagai bentuk aktivitas kehidupan, sehingga peminatnya pun bermunculan di seluruh ibukota provinsi dan kabupaten kota lainnya. Bisnis perusahaan penerbitan pers dan percetakan pers, makin berkembang setelah memasuki era reformasi. Bahkan hingga

40 kini, percetakan melaju pesat, terutama percetakan surat kabar mingguan, dan atau surat kabar yang tidak jelas periode terbitnya. Sekalipun beberapa pasal dalam Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers telah memberi fasilitas, yakni kesempatan luas terhadap warga negara Indonesia untuk mendirikan perusahaan penerbitan pers, tetapi tetap tunduk dan memenuhi berbagai persyaratan. Salah satunya adalah harus berbentuk badan hukum.

Berbagai prilaku pengusaha penerbit media pers dalam berbisnis surat kabar, maupun majalah yang tidak mengindahkan atau tanpa mempedulikan adanya sejumlah larangan dalam undang-undang.

Sebagaimana data penulis peroleh, pelanggaran yang dilakukan perusahaan penerbitan atau usaha percetakan, antara lain :

1. Tidak berbadan hukum dari penetapan dari Kementerian Hukum dan HAM.

2. Tidak memiliki berbagai bentuk legalitas, seperti;

2.1. Surat Izin Usaha Penempatan (SIUP) 2.2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

2.3. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) 3. Tidak jelas alamat kantor redaksi dan pemasaran.

4. Tidak mencantumkan alamat percetakan.

5. Sangat bebas mencetak surat kabar, majalah, dan atau jenis-jenis cetakan dengan menggunakan mesin printing, seperti

41 untuk baliho, spanduk, poster, branding di kendaraan beroda empat ke atas, dan lain sebagainya.

Akibat begitu pesatnya perkembangan dan persaingan bisnis percetakan pers dan usaha percetakan printing, maka tidak terkendali pertumbuhan berbagai perusahaan yang sama sekali tidak diawasi persyaratan perizinannya.

Pelanggaran suatu perusahaan penerbitan atau percetakan di era kebebasan dan kemerdekaan pers di Indonesia, selain sebagai bentuk penyalahgunaan undang-undang dan berbagai aturan terkait, juga karena begitu cepatnya pergerakan bisnis komunikasi informasi dalam mengikuti modernisasi peralatan mesin cetak.

Apalagi mesin-mesin cetak dan printing begitu mudahnya diperoleh dan murah, terutama buatan dari Negara China.

42 BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian.

Maksud dari lokasi penelitian adalah suatu tempat atau wilayah dilakukan penelitian tersebut untuk mendukung penulisan skripsi ini.

Penulis menetapkan lokasi penelitian, antara lain di : 1. Pengadilan Negeri Kota Makassar.

2. Perusahaan Percetakan P.T. Fajar Utama Intermedia.

3. Kantor Pusat Persatuan Wartawan Indonesia di Jakarta.

4. Kantor Dewan Pers di Jakarta.

5. Kantor Penerbitan Media Pers Kelompok Group FAJAR di Jakarta.

6. Kantor Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Sulawesi Selatan di Makassar.

Sebagian besar penelitian di lakukan di Kota Makassar, sebagai Kota

Metropolitan yang memiliki ciri khas dan karakteristik tersendiri dalam kondisi tertentu memungkinkan terjadinya tindak pidana, khususnya melakukan tindak pidana Pasal 12 Undang – Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

B. Jenis dan Sumber Data

Dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi untuk menunjang penelitian ini :

43 1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari

bersumber pertama (responden) dengan cara wawancara dan/atau kuesioner terhadap sejumlah pemimpin redaksi di Sulawesi Selatan 2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh berupa sumber-sumber tertentu, meliputi bahan-bahan pustaka, berupa hasil studi, peraturan perundang-undangan, buku-buku pengetahuan, makalah, dan sejumlah penerbitan media cetak, seperti surat kabar, majalah dan foto-foto hasil cetakan printing.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut :

1. Wawancara, yaitu penulis melakukan tanya jawab langsung terhadap responden yang kesehariannya memimpin media cetak, baik berupa surat kabar, maupun majalah. Wawancara dilakukan menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan fokus kajian dalam penelitian ini, yakni tentang penerapan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

2. Kuesioner, yaitu penulis menyebarkan daftar pertanyaan tertulis yang disusun secara sistematis yang ditujukan langsung kepada responden yang kesehariannya memimpin media cetak.

D. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh, baik data primer maupun data sekunder, dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif dengan

44 memaparkan kondisi yang ada di lokasi penelitian, terutama yang ada hubungannya dengan aturan dalam acuan objek penelitian ini.

45 BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pertanggungjawaban Atas Pelanggaran Pasal 12

Undang – Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Sistem pertanggungjawaban pers memiliki keunikan sendiri.

Menurut Wina Armada Sukardi (2012 : 195), bahwa :

“ Jika menyangkut gugatan perdata, maka sistem pertanggungjawaban berlaku sistem pertanggungjawaban korporatif. Artinya, yang bertanggung jawab adalah badan hukum dari penerbitan pers. Dengan demikian, jika ada beban yang harus dibayar atas suatu gugatan, maka yang harus bertanggung jawab adalah perusahaan persnya.

Tetapi, ketika menyangkut pertanggungjawaban pidana atas karya jurnalistik atau akibat karya jurnalistiknya, maka sistem pertanggungjawabannya adalah sistem pertanggungjawaban fiktif dan suksektif. Disebut fiktif, karena walaupun persangkaan atau dugaan tindak pidana atau perbuatan pidana dilakukan seorang reporter atau seorang redaktur, mereka tidak dapat dikenakan tuduhan karena pertanggungjawabannya sudah diambil alih oleh pihak lain, yaitu nama penanggung jawab yang dicantumkan sebagai penanggung jawab.

Dengan demikian, maka ini pertanggungjawaban fiktif. Pihak yang melakukan tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan, melainkan diambil alih oleh pihak lain. Nah, pihak lain tersebut adalah orang yang ditunjuk oleh perusahaan pers sebagai penanggung jawab. Dalam hal ini, sistem pertanggungjawaban pidana akibat karya jurnalistik, pertama – tama diambil alih oleh perusahaan pers, tetapi bukan perusahaan pers yang kemudian bertanggung jawab, tetapi oleh perusahaan pers pertanggungjawaban itu dialihkan kepada penanggung jawab.”

Uraian tersebut di atas menjelaskan bahwa apabila ada dugaan atau persangkaan adanya tindakan pidana atau perbuatan pidana yang dilakukan oleh sebuah perusahaan pers, maka yang harus menjalaninya bukan reporter, redaktur atau pembuat berita yang membuat kesalahan itu. Bukan juga dibebankan kepada perusahaan, melainkan ditanggung oleh penanggung jawab. Olehnya itu, dalam

46 sistem pertanggungjawaban pers disebut sistem pertanggungjawaban fiktif dan suksektif.

Perusahaan pers diwajibkan oleh Undang-Undang Pers untuk mengumumkan nama penanggung jawab, karena menganut sistem pertanggungjawaban fiktif dan susektif. Tanpa disebutnya nama penanggung jawab dalam karya jurnalistik, akan menimbulkan kesulitan untuk menentukan yang harus menanggung beban tanggung jawab. Dalam terminologi Undang-Undang Pers yang lama, juga dalam tradisi pers, tanggung jawab itu biasanya dipegang oleh pemimpin radaksi atau chief editor . Sampai sekarang masih banyak perusahaan pers yang berpendapat semacam ini, sehingga tidak mencantumkan siapa penanggung jawabnya. Padahal dalam Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers, pencantuman nama penanggung jawabnya merupakan suatu kewajiban dan tidak lagi memakai terminologi pemimpin redaksi, walaupun pemakaian istilah pemimpin redaksi tidak dilarang. Perubahan yang patut diperhatikan oleh penyelenggara perusahaan pers adalah adanya pergeseran dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers bahwa pemimpin redaksi tidak lagi secara otomatis disamakan dengan penanggung jawab. Posisi pemimpin redaksi boleh diletakan di mana saja, sepanjang pencantuman penanggung jawab harus tetap diumumkan.

Sebagaimana diketahui, bahwa sebelum lahirnya Undang Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers, dikenal beberapa jabatan dalam perusahaan media cetak, seperti Pemimpin Umum, Pemimpin

47 Perusahaan dan Pemimpin Redaksi. Jabatan Pemimpin Umum, merupakan jabatan tertinggi dalam sebuah perusahaan media cetak.

Dalam operasional sehari-hari, biasanya Pemimpin Umum mendelegasikan tugas-tugas internal perusahaan kepada Pemimpin perusahaan, hal itu apabila menyangkut pengelolaan manajemen keuangan, pemasaran iklan dan koran. Sedangkan bagi Pemimpin Redaksi diberi kewenangan dan bertanggung jawab terhadap keseluruhan mekanisme dan hasil kerja di bidang keredaksian.

Artinya, semua yang menyangkut tentang hasil kerja wartaran yang dimuat dalam media cetak, yakni surat kabar atau majalah, menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemimpin redaksi.

Di era reformasi yang ditandai dengan lahirnya Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, pengembangan pers cukup signifikan. Pihak Pemerintah, yakni Kementerian Telekomunikasi dan Informasi, sebelumnya bernama Departemen Penerangan, telah mengharuskan kepada semua penerbitan pers yang berbadan hukum harus mendapat pengesahan dari Departemen Hukum dan HAM atau instansi yang berwenang. Di dalam penyelenggaraan aktivitas penerbitan pers harus menggunakan istilah Komisaris dan Direksi. Tujuannya, agar jelas siapa pemilik dan pelaksana operasional. Mereka yang duduk di jajaran komisaris akan diketahui sebagai pemilik, dan atau orang tertentu yang sangat berpengaruh di dalam usaha penerbitan pers tersebut. Sementara di jajaran direksi dijabat orang-orang yang dalam kapasitasnya

sehari-48 hari memimpin bagian-bagian tertentu, seperti perusahaan, redaksi, produksi, pemasaran, keuangan, umum dan sumber daya manusia.

Dalam keseharian aktivitas penerbitan media cetak, harus jelas personalnya yang bertanggung jawab di bidang masing-masing.

Pembidangan ini harus dapat dilihat dan tertera dalam setiap edisi penerbitan. Sebagaimana ketentuan Pasal 12 dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers bahwa :

“Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan;

khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan.”

Menurut Priyambodo RH (2012 : 39) bahwa :

“Sesuai dengan UU Pers, yang dimaksud dengan penanggung jawab Adalah penanggung jawab perusahaan pers yang meliputi bidang Usaha dan bidang redaksi. Dalam posisi itu, penanggung jawab dianggap bertanggung jawab terhadap keseluruhan proses dan hasil produksi serta konsekuensi hukum perusahaan. Oleh karena itu, penanggungjawab harus memiliki pengalaman dan kompetensi wartawan setara dengan pemimpin redaksi.”

Selanjutnya, seorang pemimpin redaksi dapat berfungsi sebagai penanggung jawab harian, dan atau mendelegasikan kepada salah seorang pimpinan bagian di redaksi. Misalnya, kepada wakil pemimpin redaksi atau diserahkan kepada salah seorang redaktur. Hal itu ditempuh karena jabatan pemimpin redaksi yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap penerbitan pers. Seorang pemimpin redaksi menempati posisi strategis dalam perusahaan pers. Lagi pula, pemimpin redaksi dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap tingkat profesionalitas pers.

Oleh karena itu, pemimpin redaksi haruslah berada dalam jenjang status terhormat yang ditempatkan Dewan Pers sebagai “Wartawan Kompeten

49 Utama”. Penetapan itu berdasarkan hasil uji kompetensi wartawan yang dilakukan Dewan Pers melalui lembaga penguji sertifikasi.

Pemimpin redaksi, adalah wartawan pada jenjang tertinggi dalam suatu perusahaan penerbitan pers. Dalam pada itu, pemimpin redaksi mempunyai pengalaman yang memadai. Oleh karena itu, seorang wartawan yang berpotensi karena kualitas, profesional dan berpengalaman selayaknya diberi peluang untuk menduduki puncak karirnya di bidang keredaksian. Sebagaimana diutarakan oleh Priyambodo RH (2012 : 39) bahwa :

“Seorang wartawan yang telah disertifikasi dan dinyatakan kompeten dan menyandang predikat sebagai wartawan utama oleh Dewan Pers, tidak boleh ada ketentuan yang bersifat diskriminatif dan melawan pertumbuhan alamiah yang menghalangi seseorang wartawan menjadi pemimpin redaksi. Wartawan yang dapat menjadi pemimpin redaksi ialah mereka yang telah memiliki kompetensi wartawan utama dan pengalaman kerja sebagai wartawan minimal 5 (lima) tahun.”

Dari uraian tersebut di atas, jelaslah, bahwa seorang pemimpin redaksi seharusnya juga sebagai penanggung jawab dalam penerbitan pers. Bilamana tanggung jawab itu didelegasikan lagi kepada salah seorang staf redaksi, haruslah jelas tertera dan diumumkan dalam setiap edisi penerbitan media yang bersangkutan, agar khalayak dapat mengetahui, terutama bilama terjadi delik pers atau kasus hukum lainnya.

Dalam kaitannya dengan Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, sangat jelas bahwa redaksilah yang memegang amanah untuk bertanggung jawab dalam setiap penerbitan pers. Olehnya

50 itu, dalam setiap penerbitan pers, redaksi harus memuat atau mengumumkan nama, alamat, dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan. Khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan. Harapan itu diperjelas dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang yang diajukan pemerintah, sebagaimana ditulis Wina Armada Sukardi (2007 : 98) bahwa :

“Untuk menghindari terjadinya dualisme kepemimpinan dalam perusahaan pers, pemimpin umum sebaiknya dijabat direktur utama

“Untuk menghindari terjadinya dualisme kepemimpinan dalam perusahaan pers, pemimpin umum sebaiknya dijabat direktur utama

Dokumen terkait