• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODE PENELITIAN

B. Penerapan Hukum atas Pelanggaran Pasal 12

Sejauhmana penerapan dan sanksi hukum terhadap media cetak yang melanggar pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, terlebih dahulu perlu pembahasan lebih lanjut atas hasil penelitian terhadap 30 (tiga puluh) media cetak yang terbit di Kawasan Timur Indonesia dan beberapa dari Ibu Kota Jakarta.

Penelitian difokuskan terhadap media cetak yang melakukan pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers tersebut.

Dari 30 (tiga puluh) media cetak yang terbit dan beredar luas di Kawasan Timur Indonesia dan Jakarta, penulis membagi dengan 3 (tiga) jenis kriteria, yaitu :

1. Media cetak yang memuat sepenuhnya ketentuan Pasal 12;

2. Media cetak yang hanya memuat sebagian, yaitu hanya kolom nama, alamat, dan penanggung jawab penerbit, namun tidak memuat nama dan alamat percetakan tempat media tersebut dicetak;

3. Media cetak yang sama sekali tidak memuat seluruh ketentuan Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Berikut ini diuraikan hasil p

media cetak di Provinsi Sulawesi Selatan atas pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Pada grafik tersebut di atas, dapat diketahui jumlah media yang memenuhi ketentuan

tentang Pers, ternyata cukup signifika

Media Pers yang melakukan pelanggaran sebesar 64 %. Sedangkan yang memenuhi keseluruhan ketentuan undang

terakhir yang hanya memenuhi sebagian aturan tersebut sebanyak 25 %.

Kondisi seperti ini membuktikan, bahwa kondisi setelah reformasi tidak sepenuhny

Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, sekalipun diancam sank pidana dan atau denda R

11%

25%

Penelitian Terhadap 18 Media Pers di Sulawesi Selatan Menyangkut Pasal 12 Undang

Berikut ini diuraikan hasil penelitian terhadap 18 (delapan belas) media cetak di Provinsi Sulawesi Selatan atas pelanggaran Pasal 12

Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Pada grafik tersebut di atas, dapat diketahui jumlah media yang tentuan Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, ternyata cukup signifikan perbedaannya satu sama lain Media Pers yang melakukan pelanggaran sebesar 64 %. Sedangkan yang memenuhi keseluruhan ketentuan undang-undang sebanyak 11 %, dan memenuhi sebagian aturan tersebut sebanyak 25 %.

membuktikan, bahwa kondisi kehidupan pers di era setelah reformasi tidak sepenuhnya tunduk terhadap Pasal 12 Undang Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, sekalipun diancam sank pidana dan atau denda Rp. 100.000.000.00 (seratus juta rupiah).

64%

Penelitian Terhadap 18 Media Pers di Sulawesi Selatan Menyangkut Pasal 12 Undang - Undang Nomor 40

Tahun 1999 tentang Pers. enelitian terhadap 18 (delapan belas) media cetak di Provinsi Sulawesi Selatan atas pelanggaran Pasal 12

Pada grafik tersebut di atas, dapat diketahui jumlah media yang tidak ahun 1999 n perbedaannya satu sama lain.

Media Pers yang melakukan pelanggaran sebesar 64 %. Sedangkan yang undang sebanyak 11 %, dan memenuhi sebagian aturan tersebut sebanyak 25 %.

kehidupan pers di era a tunduk terhadap Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, sekalipun diancam sanksi

ratus juta rupiah).

Penelitian Terhadap 18 Media Pers di Sulawesi Selatan

Melanggar Keseluruhan

Mematuhi Keseluruhan

Mematuhi, sebagian

Lebih jauh tentang media pers di Kawasan Timur Indonesia, b ini diuraikan periode terbit dan jumlah surat kabar

Sulawesi Selatan.

Keterangan Jumlah dan Periode Terbit : 1. Harian : 17 Media lainnya terhadap media Undang-Undang nomor April – 06 Oktober 2012 pendataan di masing

1. Kantor Dewan Pers, di Jakarta;

2. Kantor Perwakilan Medi

3. Kantor Pengadilan Negeri Makassar, di Makassar;

4. Kantor Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Selatan di Makassar;

42%

Jumlah Media Cetak Di SulSel

Lebih jauh tentang media pers di Kawasan Timur Indonesia, b de terbit dan jumlah surat kabar yang beredar di Provinsi

Jumlah dan Periode Terbit : : 17 Media

: 26 Media : 31 Media 74 Media

(tujuh puluh empat media) Sumber Dewan Pers,

Pembahasan tentang penerapan sanksi Pidana atau sanksi media pers yang melalukan pelanggaran Pasal 12 Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, pada tanggal 06 Oktober 2012, penulis melakukan penelitian dan melakukan pendataan di masing-masing :

Kantor Dewan Pers, di Jakarta;

Kantor Perwakilan Media Pers FAJAR Group di Jakarta;

Kantor Pengadilan Negeri Makassar, di Makassar;

Kantor Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Selatan di Makassar; Lebih jauh tentang media pers di Kawasan Timur Indonesia, berikut

yang beredar di Provinsi

13 – 19 Juni

penerapan sanksi Pidana atau sanksi pers yang melalukan pelanggaran Pasal 12 tanggal 19 melakukan penelitian dan melakukan

Kantor Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Harian 17 Media

Bulanan 31 Media

56 5. Kantor PT. Media FAJAR (Harian FAJAR) di Makassar, dan

6. Kantor Percetakan PT. FAJAR Utama Intermedia (FUI) di Makassar.

Dari hasil penelitian dan pengumpulan data tersebut, ternyata baik Dewan Pers maupun Pengadilan Negeri Makassar tidak pernah menjatuhkan sanksi atau hukuman terhadap penanggung jawab media pers yang melanggar Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Berbagai alasan disampaikan oleh kedua lembaga tersebut adalah akibat tidak diterapkannya aturan ini, yakni :

a. Dewan Pers bukan lembaga yang menerapkan sanksi atau menghukum media pers, sebagaimana tidak ditemukan satupun pasal di dalam UU Pers yang memberi kewenangan itu.

b. Pengadilan Negeri Makassar tidak pernah menerima pelimpahan kasus pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dari pihak kepolisian.

c. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Serikat Surat Kabar (SPS) Cabang Sulawesi Selatan tidak pernah memberi sanksi atau menghukum seorang penanggung jawab dan perusahaan pers, karena pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers tidak memberi kewenangan terhadap kedua organisasi itu.

Atas kelemahan ini, baik Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia dan komponen pers lainnya, seharusnya difasilitasi suatu regulasi atau ketentuan tentang kewenangan dalam pemberian sanksi

57 atau hukuman terhadap pers yang melakukan pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers tersebut.

Selama ini, peran Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia dan Serikat Penerbit Surat Kabar hanya sebatas memanggil, menegur dan mengeluarkan rekomendasi atas kesalahan media pers. Seperti diketahui, bahwa pelanggaran media pers terhadap Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers itu yang pada akhirnya ditanggung kembali kepada perusahaan media pers tersebut, namun kenyataannya, sanksi itu tidak berjalan sebagaimana diharapkan.

Salah satu kenyataan tidak terlaksanakannya sanksi Pasal 12 tersebut, karena lembaga-lembaga atau organisasi pers di Indonesia tidak dibekali kewenangan menjatuhkan sanksi. Kenyataan ini dialami oleh 12 (dua belas) komponen pers yang erat hubungannya dengan kehidupan pers di Indonesia. Sanksi tidak saja berbentuk hukuman, tetapi minimal berupa rekomendasi untuk tidak memperkenankan media pers tersebut beroperasi. Pada akhirnya, rekomendasi tersebut oleh lembaga hukum, seperti Kehakiman akan menjadikan alasan untuk menutup perusahaan pers tersebut.

Ke dua belas komponen pers itu adalah : 1. Dewan Pers;

2. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI);

3. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) 4. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 5. Aliansi Jurnalis Indipenden (AJI)

58 6. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)

7. Serikat Pemerhati Surat Kabar (SPS) 8. Serikat Grafika Pers (SGP)

9. Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) 10. Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI)

11. Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI)

12. Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI).

Hasil penelitian penulis terhadap media pers di Kawasan Timur Indonesia dan beberapa dari Ibu Kota Jakarta, diperoleh data atas banyaknya yang melakukan pelanggaran terhadap Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Namun sayangnya, hingga pembuatan skripsi ini penulis lakukan, tidak satu pun pelanggaran perusahaan media pers itu diproses sebagaimana hukum yang berlaku.

Baik sanksi dari Dewan Pers, maupun dari pihak yang berwajib.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, bahwa ancaman hukuman yang tertera dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers menjelaskan sebagai berikut :

“Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 12 dipidana dengan Pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”

Ancaman hukuman tersebut hanya berlaku khusus untuk ketentuan yang tertera dalam Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, sehingga pihak Kepolisian tidak pernah memprosesnya, kanrena tidak ada laporan, pengaduan, ataupun keberatan dari pihak merasa dirugikan dengan tidak mengindahkan ketentuan ini. Sebenarnya,

59 dapat saja diproses pihak kepolisian, sekalipun tidak ada keberatan ataupun laporan dari masyarakat, ketentuan hukum tersebut harus tetap ditegakkan. Polisi harus tegas, lebih peduli dan cermat pengikuti setiap pelanggaran tersebut. Ketegasan dan kepastian hukum itu perlu, karena ketentuan ini bukan delik aduan yang harus menggunakan pasal-pasal lainnya dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, dan atau yang terkait dengan KUHP.

Sebenarnya, jikalau menyangkut pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers ini perlu ditegakkan, maka yang terlebih dahulu diberi kewenangan adalah kepada Dewan Pers.

Seyogianya, Dewan Pers harus tegas dan benar-benar berfungsi sebagai wakil dari negara, sebelum ditangani pihak kepolisian. Kewenangan ini sangat beralasan, karena keberadaan Dewan Pers selain dibentuk oleh undang-undang, juga aktivitasnya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Sebagaimana amanah yang tertera dalam Pasal 15 ayat (2) huruf d Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, bahwa Dewan Pers dapat memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers. Seharusnya, kewenangan tersebut dilengkapi dengan pemberian sanksi. Atau setidaknya, Dewan Pers dapat melanjutkan dengan menyerahkannya kepada kepolisian untuk penegakkan hukum selanjutnya. Namun sayangnya, setelah penulis melakukan penelitian di Dewan Pers Jakarta dan Pengadilan Negeri di Makassar, ternyata baik Dewan Pers, maupun pihak yang berwajib, hanya

60 berfungsi sebaga fasilitator bilamana terjadi pelanggaran media pers. Baik menyangkut delik pers, maupun berupa keberatan-keberatan dari masyarakat pembaca.

Dewan Pers dibentuk berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Salah satu tujuan dibentuknya Dewan Pers, adalah untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kualitas serta kuantitas pers nasional. Fungsi Dewan Pers pada penerapan pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers tertera pada Pasal 15 huruf “d”, yaitu :

“Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers”. Hal ini sudah sesuai dengan fungsi yang digariskan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 untuk membentuk Dewan Pers. Sebagai fungsi maksimal Dewan Pers, diperlukan untuk memfasilitasi sarana kemerdekaan pers, yaitu sebagai salah satu perwujudan kedaulatan rakyat dan merupakan unsur penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis”.

Sebagai bahan dan data untuk mendukung penelitian terhadap berbagai media, penulis lakukan interviu melalui kuesioner. Hal demikian sekaligus untuk mendapatkan gambaran bahwa ada tidaknya kebebasan yang terbuka luas bagi orang tertentu dalam menerbitkan media cetak tanpa dilandasi dengan pemahaman dan ketentuan hukum yang berlaku.

Berikut ini penulis paparkan hasil interviu dan kuesioner terhadap 30 orang pemimpin redaksi media cetak.

61 Media cetak yang berhasil penulis hubungi sebagai responden, adalah 30 (tiga puluh) pemimpin redaksi di Kawasan Timur Indonesia, yaitu :

1. M. Faisal Syam, Kepala Redaksi Harian FAJAR Makassar;

2. Mustawa Nur, S.H., M.H., Pemimpin Redaksi Harian Berita Kota Makassar;

3. Salim Djati Mamma, Pemimpin Redaksi Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar;

4. Subhan Yusuf, Pemimpin Redaksi Harian Rakyat SulSel, Makassar;

5. Faisal Palapa, Pemimpin Redaksi Harian Pare Post, Pare Pare;

6. Amran Sayuti, Pemimpin Redaksi Harian Palopo Post, Kota Palopo;

7. Muh. Bachtiar, Pemimpin Redaksi Harian Radar Bone, Kabupaten Bone;

8. Zainuddin Saleha, Pemimpin Redaksi Harian Radar Bulukumba, Kabupaten Bulukumba;

9. Naskah M. Nabhan, Pemimpin Redaksi Harian Radar Sulbar, Provinsi Sulawesi Barat;

10. Kristina, Pemimpin Redaksi Mingguan Radar Kaltim, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur;

11. Milwan Lukman, Pemimpin Redaksi Harian Kendari Post, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara;

12. Yunita, Pemimpin Redaksi Radar Palu, Kota Palu, Sulawesi Tengah;

13. Machfud Waliulu. Pemimpin Redaksi Harian Ambon Ekspres, Kota Ambon, provinsi Maluku;

62 14. Mahdar, Pemimpin Redaksi Harian Kendari Ekspres, Kota Kendari,

Provinsi Sulawesi Tenggara;

15. Mustafa Kupung, Pemimpin Redaksi Mingguan Negarawan, DKI Jakarta;

16. Ahmad Ibrahim, Pemimpin Redaksi Harian Radar Ambon, Kota Ambon, Provinsi Maluku;

17. Ramli Akhmad, Pemimpin Redaksi Harian Radar Buton, Kabupaten Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara;

18. Simon Petrus, Pemimpin Redaksi Harian Timor Ekspres, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur;

19. Nurhayana Kamar, Pemimpin Redaksi Harian Fajar Pendidikan, Kota Makassar, Sulawesi Selatan;

20. M. Anwar Sanusi, Pemimpin Redaksi Mingguan Makassar Pena, Kota Makassar, Sulawesi Selatan;

21. Hasan Kuba, Pemimpin Redaksi Mingguan Tabloid Lintas, Kota Makassar, Sulawesi Selatan;

22. Asnawin, Pemimpin Redaksi Mingguan Tabloid Almamater, Kota Makassar, Sulawesi Selatan;

23. A. Baso Tenri Gowa, Pemimpin Redaksi Mingguan Tabloid Komando Plus, Kota Makassar, Sulawesi Selatan;

24. Rifai Manangkasi, Pemimpin Redaksi Mingguan Tabloid Borgol, Kota Makassar, Sulawesi Selatan;l

25. Gunt Sumedi, Pemimpin Redaksi Mingguan Polemaju Pratama, Kota Makassar, Sulawesi Selatan;

26. Annas Dahlan, Pemimpin Redaksi Mingguan Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

27. Mufti Hendrawan, Pemimpin Redaksi Majalah Makassar, Sulawesi Selatan;

28. Elvianus Kawengian, SH, Pemimpin Redaksi SKU Makassar;

29. Kristhine, Direktur Surat Kabar

30. M. Rapsel Alie, Direktur Tabloid Mingguan “

Berikut ini dipaparkan hasil penelitian terhadap 30 (tiga puluh) perusahaan media pers yang tersebar di Kawasan Timur Indonesia, dan sebagian terbit di Ibu Kota Jakarta.

Keterangan :

Annas Dahlan, Pemimpin Redaksi Mingguan Transparansi Indonesia assar, Sulawesi Selatan.

Mufti Hendrawan, Pemimpin Redaksi Majalah Halo Polisi Makassar, Sulawesi Selatan;

Elvianus Kawengian, SH, Pemimpin Redaksi SKU “Pedoman”

Kristhine, Direktur Surat Kabar “Info Kaltim”, Kota Balikpapan;

l Alie, Direktur Tabloid Mingguan “IBU & ANAK”, Jakarta.

Berikut ini dipaparkan hasil penelitian terhadap 30 (tiga puluh) perusahaan media pers yang tersebar di Kawasan Timur Indonesia, dan sebagian terbit di Ibu Kota Jakarta.

(60 %) Perusahaan Media Responden terbit dalam

(60 %) Perusahaan Media Responden terbit dalam Provinsi

uar Provinsi Dalam Sulawesi Selatan Luar Sulawesi Selatan

Keterangan :

- Surat Kabar Responden Terbit Harian - Surat Kabar Responden Terbit Mingguan

Sebanyak 30 media pers hasil kuesioner Harian sebanyak 17 perusahaan

terbit Mingguan sebanyak 13 perusahan (43,33 %).

Perkembangan media pe

hasil penelitian di Dewan Pers Jakarta, didominasi oled edisi mingguan, terutama di Sulawesi Selatan.

Respons balik

Responden/Pemimpin Redaksi media cetak FAJAR Group dan Anggota PWI Sulawesi Selatan

diurai dalam bentuk grafik.

23%

Pertanyaan tentang Perlu Tidaknya Mengamademen UU No. 40 tahun 1999 tentang pers.

0%

Periode terbit 30 Media milik Responden

Surat Kabar Responden Terbit Harian = 17 Media (56,66 %) Surat Kabar Responden Terbit Mingguan = 13 Media (43,33 %)

Sebanyak 30 media pers hasil kuesioner yang periode terbitnya Harian sebanyak 17 perusahaan (56,66 %). Sedangkan periode terbit Mingguan sebanyak 13 perusahan (43,33 %).

Perkembangan media pers setelah reformasi, ternyata dari hasil penelitian di Dewan Pers Jakarta, didominasi oled edisi mingguan, terutama di Sulawesi Selatan.

Respons balik dan pernyataan tertulis dari

Responden/Pemimpin Redaksi media cetak FAJAR Group dan Anggota PWI Sulawesi Selatan yang berhasil penulis hubungi diurai dalam bentuk grafik.

67%

23%

10%

Pertanyaan tentang Perlu Tidaknya Mengamademen UU No. 40 tahun 1999 tentang pers.

Setuju.

Dipertahankan.

Terserah.

Mingguan, 43.3 Harian, 56.66

Periode terbit 30 Media milik Responden

64 yang periode terbitnya (56,66 %). Sedangkan periode

rs setelah reformasi, ternyata dari hasil penelitian di Dewan Pers Jakarta, didominasi oled edisi

sejumlah Responden/Pemimpin Redaksi media cetak FAJAR Group dan yang berhasil penulis hubungi

Pertanyaan tentang Perlu Tidaknya Mengamademen

Dipertahankan.

Dari jawaban atas pertanyaan tersebut di atas

mayoritas menyetujui dilakukan amandemen terhadap Undang

nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Alasan mereka karena sangat lemahnya pengawasan

yang telah diberi kewenangan berdasarkan undang menegakkan hukum di Indonesia. mayoritas menyetujui dilakukan amandemen terhadap Undang

nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Alasan mereka karena sangat lemahnya pengawasan, dan atau tidak adanya ketegasan dari pihak

yang telah diberi kewenangan berdasarkan undang-undang untu menegakkan hukum di Indonesia. mayoritas menyetujui dilakukan amandemen terhadap Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Alasan mereka karena sangat , dan atau tidak adanya ketegasan dari pihak-pihak undang untuk

66 Penerapan Pasal 12 Undang-Undang 40 tahun 1999 tentang Pers tidak diindahkan oleh media pers tersebut di atas (82 %), oleh karena :

1. Pengawasan lemah;

2. Belum pernah terjadi penegakkan sanksi dari aparat hukum;

3. Disepelehkan, baik penegak hukum, maupun media pers;

67 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1) Berdasarkan hasil penelitian terhadap penerapan dan penegakkan hukum atas pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, pertanggungjawab pidana tetap dipertanggungjawabkan oleh perusahaan media pers yang bersangkutan. Hal itu karena hukumannya hanya berupa denda, dan bukan hukuman badan. Jadi, sekalipun penanggung jawab tersebut telah didelegasikan atau diberikan kepada seseorang, maka atas ketentuan pasal tersebut, tetap perusahaan media pers yang akan menanggung hukuman itu, yaitu berupa denda sebesar Rp. 100.000.000.00 (seratus juta rupiah). Kondisi ini sesuai dengan kenyataan, bahwa usaha media pers adalah pekerjaan kolektif yang dikerjakan secara bersama-sama. Sekalipun telah ditunjuk atau diangkat seseorang sebagai penanggung jawab ke dalam dan ke luar.

2) Ancaman hukuman atas pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dipertanggungjawabkan oleh seorang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab ke luar (eksternal), namun untuk penjatuhan sanksi berupa denda sebesar Rp. 100.000.000.00 tetap dibebankan kepada perusahaan media bersangkutan, karena

68 bukan hukuman badan sebagaimana lazimnya di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

3) Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers bukan delik aduan. Sekalipun demikian, hasil penelitian di Pengadilan Negeri Makassar, ternyata pihak penegak hukum sama sekali tidak pernah melakukan atau memproses setiap pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Demikian pula hal serupa, tidak pernah terjadi di Dewan Pers menjatuhkan sanksi denda Rp. 100.000.000.00 kepada penerbit yang melanggar ketentuan ini.

4) Hasil penelitian terhadap 30 (tiga puluh) pemimpin media pers di Kawasan Timur Indonesia dan sebagian dari Ibu Kota Jakarta atas pandangan mereka terhadap Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Mereka tetap mengharapkan agar pasal tersebut tetap dipertahankan, dan malah diminta untuk dipertegas.

5) Pihak Kepolisian dengan Dewan Pers harus bekerjasama menegakkan Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers;

6) Faktor yang melatarbelakangi terjadinya pelanggaran terhadap Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 tahun1999 tentang Pers, oleh karena :

a. Kurangnya pemahaman;

b. Kurangnya perhatian;

c. Tidak pernah ada kasus diproses di pengadilan;

69 d. Penerbit tidak merasa takut.

7) Upaya dalam menanggulangi pelanggaran Pasal 12 Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, yaitu :

a. Sosialisasikan terus menerus terhadap semua lembaga terkait, khususnya terhadap media pers masing-masing, baik di tingkat nasional, maupun di daerah provinsi, kabupaten dan kota.

b. Tindakan represif dari PWI, SPS, Dewan Pers, Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan, guna menumbuhkan kesadaran hukum masyarakat pers dengan cara melakukan penyuluhan dan dengan melibatkan masyarakat luas dalam upaya menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab masing-masing.

B. Saran

a. Dewan Pers dan Kepolisian harus diberi kewenangan untuk memberi sanksi administratif terhadap pers yang melanggar pasal-pasal apapun dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Misalnya, menarik atau membatalkan keanggotaan pers masing-masing, serta melanjutkan proses hukum kepada pihak kepolisian..

b. Kepolisian harus konsisten atas kewenangan yang ditegaskan oleh Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999, baik untuk penuntutan hukum, maupun pemidanaan. Aturan hukum harus ditegakkan sebaik mungkin, sesuai dengan peruntukkannya, tanpa pilih kasih.

70 c. Kementerian Hukum dan HAM harus tegas dan selektif dalam

memberikan atau mengeluarkan persetujuan akta notaris terhadap perusahaan pers, terutama dalam perpanjangan izin perusahaan media pers.

71 DAFTAR PUSTAKA

A. Buku.

Abdulkadir, Muhammad, 2010, Hukum Perusahaan Indonesia, Cetakan keempat, Bandung, PT Citra Aditya Bakti.

Bambang Waluyo, 2008, Pidana dan Pemidanaan, Cetakan ketiga, Jakarta, PT Sinar Grafika.

Dewan Pers, 2010, Standar Kompetensi Wartawan, Cetakan kedua, Jakarta, Perpustakaan Nasional R.I.

Hamzah, Andi, 2008, Asas-Asas Hukum Pidana, Cetakan/Edisi Revisi 2008, Jakarta, PT Rineka Cipta.

Lamintang, P.A.F, 1997, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Cetakan Ketiga, Bandung, PT Citra Aditya Bakti.

Lembaga Pers Dr Soetomo, 2011, Pedoman Uji Kompetensi Wartawan Cetakan Pertama, Jakarta, Perpustakaan Nasional R.I.

Mulhadi, 2010, Hukum Perusahaan, Bentuk-Bentuk Badan Usaha di Indonesia, Cetakan Pertama, Bogor, PT Ghalia Indonesia.

Muladi – Dwidja Priyatno, 2010, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Cetakan kedua, Jakarta, Kharisma Putra Utama.

Maskun Iskandar, 2012, Panduan Jurnalistik Praktis, Cetakan Pertama, Jakarta, PT Semesta Rakyat Merdeka.

Sabam Leo Batubara, 2007, Menegakkan Kemerdekaan Pers, Cetakan Pertama, Jakarta, Dewan Pers.

Soedjono Dirdjosisworo, 1997, Hukum Perusahaan, Mengenai Bentuk - Bentuk Perusahaan (Badan Usaha) di Indonesia, Cetakan Pertama, Bandung, PT Mandar Maju.

Usman Yatim, 2012, Solusi Pers Mengatasi Masalah Bangsa, Cetakan Pertama, Jakarta, PT Wahana Semesta Intermedia.

Wina Armada Soekardi, 2007, Keutamaan di Balik Kontroversi Undang - Undang Pers, Cetakan Pertama, Jakarta, Dewan Pers.

Wina Armada Soekardi, 2008, Kode Etik Jurnalistik & Dewan Pers, Cetakan Pertama, Jakarta, Dewan Pers.

Wikrama Iryans Abidin, 2005, Politik Hukum Pers Indonesia, Jakarta, P.T. Grasindo.

Wina Armada Sukardi, 2012, Kajian Tuntas 350 Tanya Jawab UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik, Jakarta, Dewan Pers.

72 Tim Dewan Pers, 2011, Data Pers Nasional 2011, Jakarta, Dewan Pers.

B. Peraturan Perundang – undangan.

____, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

____, Undang – Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

____, Konvensi Nasional Media Massa Se Indonesia, 2007, Mewujudkan

Pers Independen dan Berkualitas untuk Memperjuangkan Kesejahteraan Bangsa, Cetakan Pertama, Jakarta, Departemen Komunikasi dan Informasi (sekarang Kementerian Komunikasi dan Informasi).

C. Kliping koran yang terkait dengan ketentuan Pasal 12 Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

73

74

75

76

77

78 dipending dulu...

BAB IV PEMBAHASAN

Dokumen terkait