• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3. PEMBAHASAN

3.2 Akibat Hukum Direksi yang Terlambat Melaporkan

3.2.1 Pelanggaran Prinsip Keterbukaan Informasi Pasar

Direksi perusahaan terbuka wajib melaksanakan ketentuan dalam prinsip-

prinsip GCG sebagaimana dijelaskan di awal yang terdiri dari prinsip

akuntabilitas, kemandirian, keterbukaan, pertanggungjawaban, dan kewajaran.

Prinsip keterbukaan dalam pasar modal merupakan hal yang harus dipenuhi dan

diperhatikan oleh pihak-pihak dalam pasar modal, salah satunya oleh Direksi.

Berdasarkan Pasal 1 angka 25 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang

Pasar Modal bahwa:

Prinsip Keterbukaan adalah pedoman umum yang mensyaratkan Emiten,

Perusahaan Publik, dan Pihak lain yang tunduk pada Undang-undang ini

untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat

seluruh Informasi Material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat

berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap Efek dimaksud dan

atau harga dari Efek tersebut.

Pada dasarnya pelaksanaan keterbukaan di pasar modal dilakukan melalui

tiga tahap yakni sebagai berikut.

55

a.

Keterbukaan pada saat melakukan penawaran umum (primary market

level), yang didahului dengan pengajuan Pernyataan Pendaftaran

Emisi ke Bapepam dengan menyertakan semua dokumen penting yang

dipersyaratkan dalam Peraturan Nomor IX.C.1 tentang Pedoman

Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran antara lain: Prospektus,

Laporan Keuangan yang telah diaudit akuntan, Perjanjian Emisi,

Legal Opinion,dan sebagainya.

b.

Keterbukaan setelah emiten mencatat dan memperdagangkan efeknya

di bursa (secondary market level). Dalam hal ini emiten wajib

menyampaikan laporan keuangan secara berkala dan terus-menerus

(continuously disclosure) kepada Bapepam dan Bursa, termasuk

laporan keuangan berkala yang diatur dalam Peraturan Nomor X.K.2

tentang Penyampaian Laporan Keuangan Berkala Emiten atau

Perusahaan Publik.

c.

Keterbukaan karena terjadi peristiwa enting dan laporannya harus

disampaikan secara tepat waktu (timely disclosure), yakni peristiwa

yang dirinci dalam Peraturan Nomor X.K.1 tentang Keterbukaan

Informasi yang Harus Segera Diumumkan kepada Publik.

Prinsip keterbukaan dalam pasar modal berlaku secara umum dan

menyeluruh. Prinsip keterbukaan merupakan hal mutlak yang harus dilakukan

oleh semua pihak di dalam pasar modal. Pasal 1 angka 25 Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 1995 menjelaskan bahwa transparansi dalam pasar modal berarti

keharusan emiten, perusahaan publik, dan pihak lain yang tunduk kepada Undang-

Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal untuk menginformasikan

kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi material mengenai

usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal

terhadap efek yang dimaksud atau harga dari efek tersebut. Adanya prinsip

keterbukaan dalam pasar modal tidak serta merta wajib dilakukan oleh pihak-

pihak tanpa tujuan. Nasution menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga tujuan

keterbukaan dalam pasar modal, yakni sebagai berikut.

56

a.

Memelihara kepercayaan publik terhadap pasar

Dalam hal ini, kepercayaan investor sangat relevan ketika munculnya

ketidakpercayaan publik terhadap pasar modal yang pada gilirannya

mengakibatkan pelarian modal (capital flight) secara besar-besaran

55

M. Irsan Nasarudin, dkk. 2011. Loc.Cit., hlm 229-230.

56

dan seterusnya dapat mengakibatkan kehancuran pasar modal (bursa

saham).

b.

Menciptakan mekanisme pasar yang efisien

Pasar yang efisien berkaitan dengan sistem keterbukaan wajib. Sistem

keterbukaan wajib berusaha menyediakan informasi teknis bagi

anggota saham dan profesional pasar.

c.

Memberikan perlindungan terhadap investor

Dengan adanya keterbukaan maka secara tidak langsung akan

memberi perlindungan kepada investor, yang apabila dalam membuat

perjanjian pembelian saham oleh investor, kemudian terdapat

penipuan dalam bentuk perbuatan yang menyesatkan, misalnya

pernyataan informasi, maka perlindungan investor tersebut dilihat dari

sisi ketentuan perjanjian sebagaimana diatur dalam KUHPerdata

hanya sebatas pembatalan perjanjian transaksi saham.

Pelaksanaan prinsip-prinsip GCG dalam kegiatan pasar modal yang salah

satunya yakni prinsip keterbukaan dilakukan guna untuk mengarahkan dan

mengelola bisnis dan urusan-urusan perusahaan dalam rangka meningkatkan

kemakmuran bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Prinsip keterbukaan informasi

diatur dalam Pasal 89 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal

yang bahwa:

(1) Informasi yang wajib disampaikan oleh setiap Pihak kepada

Bapepam berdasarkan ketentuan Undang-undang ini dan atau

peraturan pelaksanaannya tersedia untuk umum.

(2) Pengecualian ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya

dapat dilakukan oleh Bapepam.

Penjelasan atas Pasal 89 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar

Modal menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "informasi” antara lain

Pernyataan Pendaftaran termasuk Prospektus, permohonan izin usaha, izin orang

perseorangan, persetujuan dan pendaftaran profesi, laporan berkala, dan laporan

lainnya. Yang dimaksud dengan “pengecualian” dalam ayat ini, antara lain berupa

formula rahasia produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Berdasarkan

penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa tidak dilaksanakannya penyampaian

informasi kepada Bapepam-LK sebagaimana diatur dalam Pasal 89 Undang-

Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal sebagai wujud keterbukaan

dalam pasar modal merupakan suatu tindakan pelanggaran dalam kegiatan pasar

modal. Fuady menjelaskan bahwa beberapa hal yang seringkali dilarang dalam hal

keterbukaan informasi adalah sebagai berikut.

57

a.

Memberikan informasi yang salah sama sekali.

b.

Memberikan informasi yang setengah benar.

c.

Memberikan informasi yang tidak lengkap.

d.

Sama sekali diam terhadap fakta/informasi material.

Pelanggaran di atas dilarang karena dapat menimbulkan kebingungan bagi

investor dalam memberikan keputusannya untuk membeli atau tidak membeli

suatu efek atau saham. Alasan utama diperlukannya suatu keterbukaan adalah agar

investor dapat melakukan suatu keputusan untuk membeli atau tidak membeli

suatu saham. Masalah keterbukaan merupakan hal yang sangat penting bagi

kelangsungan kegiatan pasar modal yang adil dan profesional sehingga tercipta

iklim kegiatan pasar modal yang sehat serta pelanggaran-pelanggaran terhadap

prinsip keterbukaan informasi dapat diminimalisir ataupun dihilangkan dari

kegiatan pasar modal. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa

keterlambatan penyampaian laporan transaksi penjualan dan pembelian saham

oleh Direksi kepada Bapepam-LK merupakan suatu tindakan yang dilarang dalam

hal keterbukaan informasi yang termasuk dalam sama sekali diam terhadap

fakta/informasi material.

Pelanggaran dalam kegiatan pasar modal dapat dijatuhi sanksi sebagaimana

diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal menetapkan sanksi

hukum terhadap pelanggaran prinsip keterbukaan berupa sanksi administratif dan

sanksi pidana. Sanksi administrasi diatur dalam Pasal 102 Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63, Pasal

64, dan Pasal 65 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1995 tentang

Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal. Sanksi pidana diatur dalam

Pasal 103, Pasal 104, Pasal 105, Pasal 106, Pasal 107, Pasal 108, Pasal 109, dan

Pasal 110 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Pelanggaran prinsip keterbukaan informasi dalam hal penyampaian laporan

57

transaksi penjualan dan pembelian saham dijatuhi sanksi administratif

sebagaimana diatur dalam Pasal 102 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995

tentang Pasar Modal.

3.2.2 Akibat Hukum Keterlambatan Direksi dalam Penyampaian Laporan

Dokumen terkait