BAB II STRUKTUR CERITA DALAM NOVEL MANUSIA MANUSIA TELUK
3.3 Pelanggaran Prinsip Moral Kearifan Lingkungan
Di dalam novel Manusia Manusia Teluk karya Artie Ahmad juga diceritakan jika perbuatan yang dilakukan oleh para manusia teluk sudah melanggar prinsip moral kearifan lingkungan. Prinsip yang dilanggar yaitu di antaranya terdapat prinsip tidak merugikan alam (no harm), prinsip keadilan, prinsip demokrasi, dan prinsip integritas moral.
3.3.1 Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian Terhadap Alam (Caring for Nature) Tanjung Zorus merupakan suatu tanjung yang dikenal memiliki minyak yang berlimpah dan merupakan lahan yang subur. Tanjung Zorus dibangun dan dikembangkan oleh seorang pemahat kayu bernama Tuan Zyorgum dan istrinya.
Namun, lahan Tanjung Zorus diambil paksa oleh manusia-manusia teluk yang ingin menguasai lahan minyak di Tanjung Zorus sekaligus membuat pangkalan minyak di dermaga Tanjung Zorus. Saat datang ke Tanjung Zorus, para manusia teluk tidak menampakkan kepeduliannya terhadap alam yang terdapat di Tanjung Zorus maupun terhadap masyarakat Tanjung Zorus. Mereka datang hanya untuk menjajah wilayah Tanjung Zorus. Hal itu dibuktikan di dalam kutipan novel berikut ini.
“Tapi, Ayah. Bukankah manusia-manusia teluk itu sudah memiliki kilang minyak sendiri? Mereka manusia telu, tentu di laut mereka juga ada kilang minyak seperti milik kita bukan?” Aku turut andil dalam percakapan. Mereka memanglah orang-orang yang terlahir di sebuah teluk. Hidup manusia-manusia itu lebih banyak dihabiskan di atas lautan, lalu apa sebabnya mereka ingin sekali turut campur dalam masalah kekayaan alam di tanjung kami.
(Ahmad, 2020:47).
Kami tak tahu apa yang akan mereka kerjakan, tapi ketika para nelayan ditembaki secara membabi buta, perahu-perahu yang ditambatkan di dermaga dihancurkan, kami paham bahwa mereka datang untuk menebar kebencian dan merampas apa saja yang mereka inginkan. (Ahmad, 2020:5).
Kutipan di atas menggambarkan bagaimana khawatirnya salah satu tokoh yaitu Doha. Ia mengkhawatirkan Tanjung Zorus yang sudah didatangi oleh para manusia teluk Kedatangan para manusia teluk memanglah sangat mengkhawatirkan karena dapat berpengaruh kepada kehid upan masyarakat Tanjung Zorus. Saat mereka datang, mereka tidak menampilkan sisi baik dari mereka. Selain itu, mereka juga tidak mempunyai rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Para manusia teluk juga meledakkan dermaga yang terdapat di Tanjung Zorus. Hasil dari ledakkan tersebut dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem bawah laut Tanjung Zorus.
3.3.2 Prinsip Keadilan
Prinsip selanjutnya yang dilanggar oleh para manusia teluk adalah prinsip keadilan. Pada mulanya, masyarakat Tanjung Zorus dapat hidup dengan tenang, namun tiba-tiba hidupnya diusik oleh kedatangan manusia teluk ke Tanjung Zorus.
Masyarakat Tanjung Zorus tidak mendapatkan keadilan, karena sesudah mengambil lahan minyak dan menghancurkan kota Tanjung Zorus, mereka semua membunuh masyarakat Tanjung Zorus. Banyak anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Anak-anak tersebut tidak mendapatkan keadilannya untuk hidup dengan tenang. Hal tersebut terbukti di dalam kutipan berikut ini.
Sampai menuju malam Ayah tak terlihat kembali. Rasa lapar mulai mencekat perut. Ibu pergi tanpa sempat menyiapkan makanan. Aku hanya memenuhi rasa lapar dengan cara meminum air putih sebanyak-banyaknya, meski dengan
begitu kandung kemihku dengan cepat terisi penuh dan membuatku kencing berkali-kali. (Ahmad, 2020:56).
“Bagaimana dengan Ayah, Ibu, dan adik-adikku?” Aku menatap kakak sepupuku itu dengan sungguh-sungguh. Ada bulir Kristal di sudut mata Ruda.
Dia menunduk menekuri lantai sebelum menjawab dengan nada penyesalan di suaranya. “Semuanya mala mini juga akan dieksekusi mati termasuk ayahku, Paman Dorka dan Bibi Bijou. Aku melarikan diri ketika masih ada waktu untuk itu.” (Ahmad, 2020:57).
Dari dua kutipan di atas diceritakan jika anak-anak di Tanjung Zorus sudah mulai kehilangan orang tua dan keluarganya. Mereka tidak mendapatkan keadilan untuk hidup dengan tenang. Hampir semua masyarakat Tanjung Zorus dieksekusi mati dengan cara dipenggal kepalanya.
3.3.3 Prinsip Demokrasi
Perebutan lahan minyak ini juga menjadi bencana bagi masyakarat Tanjung Zorus. Manusia-manusia teluk tersebut memaksa salah satu pimpinan dewan yang bernama Tuan Rukdi untuk menandatangani pengambilan alih paksa lahan minyak Tanjung Zorus. Hal tersebut, dibuktikan di dalam kutipan novel berikut ini.
Akan tetapi, kecakapan dan baik hati pamanku itu dipergunakan oleh manusia-manusia teluk itu untuk merampas kekayaan tanjung kami. Tuan Rukdi, dalam kesempatan beberapa waktu lalu dipaksa menandatangani pengambilanalihan kilang minyak yang dimiliki masyarakat Tanjung Zorus.
Orang-orang berjubah dan beraroma loku-loku itu menginginkan kilang minyak bumi milik kami. (Ahmad, 2020:46).
Dari kutipan di atas digambarkan jika masyarakat Tanjung Zorus tidak diberikan kesempatan untuk berdiskusi terlebih dahulu. Para manusia teluk tersebut langsung memaksa salah satu dewan untuk menandatangani perjanjian. Saat menandatangani, dewan Tanjung Zorus tersebut tidak mempunyai pilihan. Ia hanya bisa menerima dengan apa yang terjadi. Demokrasi tidak diterapkan oleh para
manusia teluk. Mereka hanya ingin enaknya saja dan perbuatannya tersebut sangat merugikan orang lain.
3.3.4 Prinsip Integritas Moral
Prinsip yang sudah dilanggar juga oleh para manusia teluk adalah prinsip integritas moral. Hal ini terbukti saat mereka dengan seenaknya membunuh masyarakat Tanjung Zorus secara keji. Selain membunuh, mereka juga memperkosa para wanita Tanjung Zorus. Saat melakukan perbuatan tersebut mereka seakan-akan tidak memikirkan dampaknya. Dampak dari perbuatan mereka tersebut membuat banyak masyarakat Tanjung Zorus kehilangan anggota keluarganya. Para manusia teluk tidak mempunyai rasa kemanusiaan sekaligus moral. Hal tersebut terbukti di dalam kutipan novel berikut ini.
Floralku, cinta pertamaku diperkosa malam itu. Tak hanya berhenti di satu manusia dungu, Floral harus menerima yang lain pula. Dari atas tempatku berlindung bersama Ruda, aku melihat gadis itu terlentang lemas dengan tubuh bugil. Atap bilik yang telah runtuh membuat kami bebas melihat apa saja yang terjadi di sana. Dia terkapar tak berdaya sebelum manusia dungu yang lain bergantian memperkosanya. Malam itu aku melihat Floralku hancur.
Senyum ramah gadis itu lenyap di selangkangan para lelaki dungu dan bajingan. (Ahmad, 2020:59).
Paman Rukdi kemudian yang diminta menghaturkan tengkuknya. Kilap pedang terkena sorot matahari fajar. Pedang terayun mengahantam tengkuk paman, sebelum akhirnya kepala Ketua Dewan Tanjung kami itu menggelinding masuk ke lubang diikuti tubuhnya yang ambruk ke dalam lubang. (Ahmad, 2020:60).
Dari kedua kutipan di atas, digambarkan jika para manusia teluk sudah sangat keji kepada masyarakat Tanjung Zorus. Kekejian yang dilakukan manusia-manusia teluk sudah tidak dapat ditoleransi. Perbuatan yang dilakukan telah melanggar prinsip integritas moral.