• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENUTUP

4.2 Saran

Peneliti menganalisis novel Manusia Manusia Teluk karya Artie Ahmad ini dalam perspektif ekokritik. Dalam menganalisis, peneliti mengkaji struktur alur serta tokoh dan penokohan yang terdapat di dalam novel Manusia Manusia Teluk serta

peneliti menggambarkan eksploitasi alam yang terjadi di d alam novel Manusia Manusia Teluk. Peneliti menyarankan bahwa, jika ingin melanjutkan penelitian ini, dapat menganalisis kekerasan struktural ataupun kekerasan personal yang terdapat di dalam novel Manusia Manusia Teluk karya Artie Ahmad.

57

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ma’ruf, Ali Imron dan Farida Nugrahani. (2017). Pengkajian Sastra Teori dan Aplikasi. Surakarta: Djiwa Amarta Press.

Amrih, Pitoyo. 2008. Ilmu Kearifan Jawa. Yogyakarta: Pinus Book Publiser.

Anonim. 2017. “Teori Struktural Sastra,” Stable URL:

https://www.karyatulismulti.com/2017/08/teori-struktural-sastra.html. Diunduh:

10/10/2021, 17.09

Anonim. 2020. “Miris! WNA Pinjam Nama Kuasai Tanah di Bali, Rugikan Negara Ratusan Triliun”, Stable URL: https://diksimerdeka.com/2020/02/26/miris-wna-pinjam-nama-kuasai-tanah-di-bali-rugikan-negara-ratusan-triliun/. Diunduh: 10/10/2021, 21.09 Bitar. 2021. “Alur Plot,” Stable URL: https://www.gurupendidikan.co.id/alur-plot/.

Diunduh: 09/10/2021, 19.04

Carter, John W. 2010. “An Introduction to the Interpretation of Apocalyptic Literature” dalam The Journal of Ecocritism. Vol. 2, No.2.

Endraswara, Suwandi. (2016). Metodologi Penelitian Ekologi Sastra: Konse, Langkah, dan Penerapan. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service).

Fajar Pratama. 2015. “Kisah Adriansyah dan Suap Tambang: Lepas dari Perut Jaksa, Masuk Mulut KPK”, Stable URL: https://news.detik.com/berita/d- 2884583/kisah-adriyansah-dan-suap-tambang-lepas-dari-perut-jaksa-masuk-mulut-kpk. Diunduh: 11/12/2021, 17.09

Febriana, Tian Eka. (2018). Analisis Unsur Intrinsik (Tokoh, Alur, dan Latar) Menggunakan Pendekatan Saintifik Pada Novel 9 Summers 10 Autumns Karya Iwan Setyawan Untuk Siswa SMP Budi Mulia Minggir Kelas VIII Semester II.

Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. FKIP.

Universitas Sanata Dharma.

Garrard, Greg. 2004. Ecocriticism. London and New York: Routledge.

Glotfelty, Cheryll. What Is Ecocritism.

https://www.asle.org/site/resources/ecocritical.library/intro/defining/glotfelty.

Diakses 10 Oktober 2021.

Harsono, Siswo. 2008. Ekokritik: Kritik Sastra Berwawasan Lingkungan. Jurnal Kajian Sastra (32)1: 31. Smarang: Fakultas, Universitas Diponegoro.

Ika Mustika. 2012. “Pendekatan Objektif”, Stable URL:

https://ikamustika444.wordpress.com/2012/11/10/pendekatan-objektif-salah-satu-pendekatan-menganalisis-karya-sastra/. Diunduh: 09/10/2021, 17.50 Juanda. (2018). “Fenomena Eksploitasi Lingkungan Dalam Cerpen Koran Minggu

Indonesia Pendekatan Ekokritik”. Dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar. Vol 2, No 2, Desember 2018.

Laily, Norfil. 2012. Konservasi Alam dalam Novel Baiat Cinta di Tanah Baduy Ka rya Uten Sutendy (Kajian Ekokritik Garrard) Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012.

Nurgiyantoro, B. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurgiyantoro, B. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Rian Wiguna. 2021. “Pengertian Alur,” Stable URL:

https://www.berpendidikan.com/2020/02/pengertian-alur.html. Diunduh: 10/10/2 02 1, 12.05

Rini, Widya Prana. (2018). “Paradoks Narasi Penyelamatan Keseimbangan Ekosistem Dalam Novel Kailasa Karya Jusuf AN Kajian Ekokritik”. Dalam Jurnal Poetika: Jurnal Ilmu Sastra Universitas Gajah Mada. Vol 6, Desember 2018.

Sriasih, dkk. (2020). “Kritik Pengarang Terhadap Pembalakan Hutan Pada Novel Nyanyian Kemarau Dan Tangisan Batang Pudu: Kajian Ekokritik dan Relevansinya Terhadap Pembelajaran Sastra”. Dalam Jurnal Pendidikan dan Sastra Indonesia Undiksha Universitas Pendidikan Ganesha. Vol 10, No 1, 2020.

Sukmawan. 2015. Sastra Lingkungan: Sastra Lisan Jawa dalam Perspektif Ekokritik.

Malang. Universitas Brawijaya Press.

Sukmawan (2014). “Model Model Kajian Ekokritik Sastra”. Dalam Jurnal Penelitian Universitas Brawijaya.

Taum, Yoseph Yapi. (2017). “Kritik Sastra Diskurisf: Sebuah Reposisi”. Jakarta:

Badan dan Pengembangan Bahasa.

Triyadi, dkk (2021). “Analisis Ekokritik Dalam Novel Kekal Karya Jalu Kancana”.

Dalam Jurnal Metamorfosa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Singaperbangsa Karawang. Vol. 9, No 2, Juli 2021

Turahmat & Firmansyah, R. (2019). “Eksploitasi Lingkungan dalam Cerpen Di Seine Meratapi Citarum melalui Pendekatan Ekokritik”. Dalam Jurnal Bahasa dan Sastra: Aksara Universitas Islam Sultan Agung. Vol 20, No 2, Oktober 2019.

Uniawati. 2014. Nelayan Di Lautan Utara: Sebuah Kajian Ekokritik. Volume 10 Nomor 2 Tahun 2014.

Wiyatmi, dkk. (2021). “Sastra Hijau Di Indonsia dan Malaysia Dalam Kajian Ekokritik dan Ekofeminis”. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.

60 Lampiran

Sinopsis Novel Manusia Manusia Teluk karya Artie Ahmad

Novel Manusia Manusia Teluk karya Artie Ahmad mengisahkan tentang sepasang sepupu yang bernama Doha dan Ruda. Pada awal cerita, diceritakan jika Doha menyusul Ruda di Tanjung Selatan. Doha berniat untuk bertemu dengan Ruda karena mereka sudah lama tidak bertemu. Lalu pada awal cerita juga diperkenalkan seseorang yaitu Tuan Zyorgum yang menjadi pendiri dari Tanjung Zorus. Tuan Zyorgum menikah dengan Samola lalu mereka mendirikan Tanjung Zorus. Awalnya Tanjung Zorus hanyalah tanah berkapur, lalu oleh Tuan Zyorgum dan istrinya membuat Tanjung Zorus sebagai tanah yang subur dan banyak didatangi oleh para pendatang dari berbagai daerah.

Setelah menjadi tanah yang subur dan memiliki lahan minyak, lalu datanglah sekelompok manusia-manusia teluk yang ingin mengambil lahan minyak milik Tanjung Zorus. Manusia-manusia teluk ini memaksa salah satu dewan Tanjung Zorus yang bernama Tuan Rukdi untuk menandatangani perjanjian pengambilalihan lahan minyak Tanjung Zorus. Setelah dipaksa untuk menandatangani, maka manusia-manusia teluk tersebut langsung menjajah masyarakat Tanjung Zorus. Mereka menjajah secara membabi buta. Hampir semua masyarakat Tanjung Zorus dibunuh oleh manusia-manusia teluk.

Ternyata tidak semua masyarakat Tanjung Zorus dibunuh oleh manusia-manusia teluk, terdapat Doha dan Ruda beserta teman-temannya yaitu Justo, Fastoni, Sali dan Lumbrito yang berhasil kabur dari kejamnya manusia-manusia teluk. Mereka

kabur menggunakan kapal. Namun, saat pelarian mereka tiba-tiba Lumbrito melompat dari atas kapal. Lumbrito memutuskan untuk melompat dari atas kapal karena ia merasa sudah frustasi dan ia merasa tidak memiliki kesempatan hidup kembali. Setelah terombang-ambing di tengah laut cukup lama, akhirnya mereka berhasil berhenti di sebuah pulau. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata pulau tersebut adalah Pulau Larangan. Saat di Pulau Larangan mereka semua seakan-akan menjadi tawanan karena dipaksa tiap hari untuk bekerja dan tawanan wanita diperkosa oleh para penjaga Pulau Larangan. Doha dan Ruda pun memutuskan untuk kabur dari pulau tersebut. Setelah memikirkannya dengan matang-matang, mereka berdua berhasil kabur dari Pulau Larangan. Mereka kabur menggunakan kapal dan mereka berhasil bersandari di sebuah pulau yang bernama Tanjung Selatan.

Saat di Tanjung Selatan, mereka berdua tidak memiliki apa-apa. Mereka hanya membawa baju yang mereka pakai. Mereka pun mendaftarkan diri untuk bekerja di sebuah kedai buah yang dimiliki oleh Tuan Oemar. Doha dan Ruda pun akhirnya bekerja di kedai buah tersebut. Tuan Oemar memiliki seorang anak perempuan yang cantik. Anak Tuan Oemar tersebut bernama Devoa. Doha menyukai Devoa, namun cintanya bertepuk sebelah tangan, Devoa lebih memilih Ruda untuk menjadi suaminya, dan akhirnya Devoa dan Ruda pun menikah.

Setelah hidup cukup lama di Tanjung Selatan, Doha dan Ruda sudah menemui kehidupannya yang baru. Mereka hidup bahagia, namun kebahagiaan mereka tiba-tiba hilang saat manusia-manusia teluk datang ke Tanjung Selatan. Tidak ingin mengulangi kejadian yang sama, Doha dan Ruda pun melakukan perlawanan.

Bersama dengan masyarakat Tanjung Selatan yang lainnya, mereka semua melakukan perlawanan dengan cara menembaki manusia-manusia teluk agar mundur.

Perjuangan mereka tidak sia-sia, para manusia teluk dapat dikalahkan. Banyak mayat manusia teluk yang bergeletak di pinggir-pinggir jalan. Setelah perlawanan yang mereka lakukan berhasil, di akhir cerita diceritakan jika akhirnya Ruda dan Devoa hidup berbahagia sebagai sepasang suami istri dan Doha melanjutkan sekolahnya.

63

BIOGRAFI PENULIS

Agnes Nabella Ayuning Prajna lahir di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 31 Januari 2000. Penulis lahir dari pasangan FX. Prasetyo dan Eka Bhakti S dan merupakan anak sulung dari dua bersaudara.

Pada tahun 2006, penulis masuk Sekolah Dasar Santa Maria Cirebon dan lulus pada tahun 2012. Kemudian melanjutkan sekolah tingkat pertama pada tahun yang sama di SMP Santa Maria Cirebon dan lulus tiga tahun kemudian pada tahun 2015. Selanjutnya, masuk pada sekolah menengah atas di SMA Santa Maria 1 Cirebon dan lulus pada tahun 2018. Pada tahun yang sama, penulis diterima menjadi mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dokumen terkait