BAB IV. SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. Pelayanan Kesehatan
2. Pelayanan Kesehatan Anak
Perkiraan jumlah komplikasi kebidanan Kabupaten Jepara tahun 2014 sebanyak 4601 (20% dari jumlah ibu hamil). Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tahun 2014 sebanyak 4257 kasus atau sebesar 92,52% (tabel 33). Cakupan ini telah memenuhi target SPM sebesar 80% akan tetapi cakupan ini menurun jika dibandingkan dengan cakupan tahun 2012 dan 2013.
2. Pelayanan kesehatan Anak a. Cakupan Kunjungan Neonatus
Kunjungan neonatus adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin, untuk memantau dan memberi pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayinya. Pada Permenkes 741/tahun
63,19 79,8 95,38 94 92,52 65 70 75 80 2010 2011 2012 2013 2014 Cakupan Target SPM
Profil Kesehatan Kabupaten Jepara Tahun 2014 56 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), Kunjungan Neonatus (KN) dibagi menjadi tiga, yaitu satu kali pada 1-2 hari kehidupan (KN1), satu kali 2-6 hari (KN2) dan satu kali dalam 7-28 hari (KN3/KN lengkap).
Gambaran pelaksanaan cakupan kunjungan neonatus di Kabupaten Jepara dijelaskan sebagai berikut:
Gambar 4.6
Cakupan Kunjungan Neonatus Kabupaten Jepara Tahun 2010 – 2014
Cakupan kunjungan neonatus di Kabupaten Jepara tahun 2014 sebesar 98,63% dari kelahiran hidup 20.912 (tabel 38). Cakupan ini meningkat dibandingkan tahun 2013.
b. Cakupan Kunjungan Bayi
Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan, paling sedikit 4 kali di luar kunjungan neonatus. Setelah umur 28 hari, setiap bayi berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan memantau pertumbuhan dan perkembangannya secara teratur setiap bulan di sarana pelayanan kesehatan. 96,4 92,3 98,26 97,5 98,63 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 2010 2011 2012 2013 2014 KN Lengkap
Profil Kesehatan Kabupaten Jepara Tahun 2014 57 Kunjungan Bayi di Kabupaten Jepara beberapa tahun terakhir dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.
Tabel 4.7
Jumlah Persentase Kunjungan Bayi di Kabupaten Jepara Tahun 2010 s/d 2014
Tahun 2014 cakupan kunjungan bayi sebesar 97,53%, telah memenuhi target dari SPM Kabupaten Jepara tahun 2014 sebesar 89% (tabel 40). Cakupan ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2013. c. Cakupan Komplikasi Neonatus yang ditangani
Neonatus dengan komplikasi merupakan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian. Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, BBLR (berat badan lahir rendah < 2500 gr), sindroma gangguan pernafasan dan kelainan congenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
Neonatus dengan komplikasi yang ditangani merupakan neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. Perhitungan sasaran neonatus dengan komplikasi dihitung berdasarkan 15% dari jumlah bayi baru lahir. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program
84,82 90,6 98,14 92,2 97,53 86 87 88 89 2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Jepara Tahun 2014 58 Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada neonatus dengan komplikasi.
Gambar 4.8
Cakupan komplikasi neonatus yang ditangani Di Kabupaten Jepara Tahun 2010 – 2014
Pada tahun 2014 cakupan komplikasi neonatus yang ditangani sebesar 80,26% (tabel 33). Cakupan ini sudah memenuhi target SPM tahun 2014 yang harus dicapai yaitu 80%, akan tetapi jika dibandingkan dengan cakupan tahun 2013 mengalami penurunan.
d. Persentase Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ditangani
Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang, yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak. Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak masih dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan dan sampai berusia 18 tahun. Upaya kesehatan anak antara lain diharapkan mampu menurunkan angka kematian anak. Indikator angka kematian yang berkaitan dengan anak adalah Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA).
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor risiko kematian bayi. Oleh karena itu sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kematian bayi adalah penanganan BBLR. BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Penyebab
23,47 54,3 72,86 85,92 80,26 80 80 80 80 2010 2011 2012 2013 2014 Cakupan Target SPM
Profil Kesehatan Kabupaten Jepara Tahun 2014 59 terjadinya BBLR antara lain karena ibu hamil anemia, kurang asupan gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi BBLR perlu penanganan serius karena kondisi tersebut mudah sekali hipotermi yang biasanya akan menjadi penyebab kematian.
Gambar 4.9
Jumlah Persentase Bayi BBLR di Kabupaten Jepara Tahun 2010 s/d 2014
Tahun 2014 persentase BBLR terjadi kenaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (tabel 37). Adanya kenaikan jumlah bayi dengan BBLR ini perlu mendapatkan perhatian. Bayi BBLR tahun ini sebanyak 726 kasus yang terdiri dari 376 laki-laki dan 350 perempuan dari 20.978 bayi lahir yang ditimbang.
Salah satu metode dalam menangani BBLR adalah metode kanguru yaitu menghangatkan bayi dengan sentuhan kulit bayi dan ibu/pengasuhnya secara langsung dan diharapkan dapat mengurangi kematian akibat BBLR .
e. Cakupan Pelayanan kesehatan anak Balita
Pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan pada anak umur 12-59 bulan sesuai standar meliputi pemantauan pertumbuhan minimal 8x setahun, pemantauan perkembangan minimal 2x setahun dan pemberian vitamin A 2x setahun (Bulan Februari dan Agustus).
Pemantauan pertumbuhan balita diartikan sebagai pengukuran Berat Badan (BB/TB). Di tingkat masyarakat pemantauan pertumbuhan
1,86
2,9 2,74
3,39 3,46
2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Jepara Tahun 2014 60 adalah pengukuran Berat Badan per umur (BB/U) setiap bulan di Posyandu, Taman Bermain, Pos PAUD, Taman Penitipan Anak dan Taman Kanak-Kanak, serta Raudlatul Athfal dll.
Pemantauan perkembangan balita meliputi perkembangan gerak kasar, gerak halus dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian, pemeriksaan daya dengar, daya lihat. Pemantauan perkembangan anak balita dimaksudkan adalah anak umur 12-59 bulan yang dideteksi dini tumbuh kembang melalui pelayanan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) oleh tenaga kesehatan, paling sedikit 2 kali per tahun (setiap 6 bulan) dan tercatat pada Kohort Anak Balita dan Prasekolah atau pencatatan pelaporan lainnya. Upaya pembinaan kesehatan anak balita diarahkan untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial anak dengan perhatian khusus pada kelompok balita yang merupakan masa krisis atau periode emas tumbuh kembang. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan seperti ganguan mental emosional, autisme serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas.
Gambar 4.10
Cakupan pelayanan kesehatan balita Di Kabupaten Jepara Tahun 2013 – 2014
Cakupan pelayanan anak balita tahun 2014 sebesar 86,83% dari jumlah anak balita yang ada (tabel 46). Capaian ini meningkat dibanding tahun 2013 meskipun belum mencapai target SPM sebesar 90%.
85,4 86,83 90 90 2013 2014 Cakupan Target SPM
Profil Kesehatan Kabupaten Jepara Tahun 2014 61 Sebagian besar pelayanan anak balita ini dilakukan di posyandu, terutama kegiatan pemantauan pertumbuhan melalui penimbangan BB setiap bulan. Pencapaian penimbangan BB minimal 8x setahun sulit tercapai, hal ini dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat ke posyandu terutama setelah anak berumur > 1 tahun dengan alasan jadwal imunisasi sudah selesai. Selain itu anak berumur > 1 tahun sudah berada di penitipan, taman bermain ataupun sekolah. Beberapa solusi yang dapat diambil antara lain penentuan jadwal penimbangan yang ramai dikunjungi, perlu pengembangan kegiatan di posyandu terintegrasi program yang menarik (BKB, PAUD dll).
f. Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD atau setingkat
Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD atau setingkat diutamakan untuk meningkatkan kesehatan (promotif) dan upaya meningkatkan pencegahan penyakit (preventif). Salah satu upaya preventif yang dilaksanakan di sekolah adalah kegiatan penjaringan anak sekolah (health screening) sebagai prosedur pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk mengelompokkan anak sekolah dalam berbagai kategori sehat dan sakit yang memerlukan tindakan lebih lanjut, serta mendapatkan gambaran kesehatan anak sekolah dan mengikuti perkembangan serta pertumbuhan anak sekolah sebagai pertimbangan dalam menyusun program pembinaan kesehatan sekolah. Penjaringan anak sekolah ini sasarannya adalah anak SD kelas I.
Cakupan tahun 2014 telah mencapai 100% dengan jumlah murid SD kelas I atau setingkat sebesar 22.102 terdiri dari laki-laki 11.403 siswa dan perempuan 10.699 siswa (tabel 49). Dengan adanya dana BOK kegiatan penjaringan anak sekolah dapat berjalan optimal.