Kasus Kematian
SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR 1. Pelayanan Kesehatan Ibu
a. PelayananAntenatal (K1 dan K4)
Kehamilan adalah anugrah yang didambakan oleh pasangan suami istri dengan harapan mendapatkan keturunan yang sehat dan cerdas. Setiap ibu
harus dapat dengan mudah mengakses fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan sesuai standar, termasuk kemungkinan adanya masalah/penyakit yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janinnya.
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan/pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar pada masa kehamilan oleh tenaga terampil (dokter, bidan atau perawat) 4 kali dengan interval 1 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua, dan 2 kali pada trimester ketiga, akan menggambarkan cakupan pelayanan antenatal ibu hamil yang dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan ibu hamil KI dan K4. Penimbangan berat badan, pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet Fe, pemberian imunisasi TT, dan konsultasi merupakan pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan kepada ibu hamil yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan (Antenatal Care/ANC).
Dalam pelayanan ibu hamil (antenatal ) baik pada K1 maupun K4 ibu hamil dibekali dengan tablet besi (Fe),hal ini merupakan upaya penanggulangan anemi pada ibu hamil. Anemi adalah penyebab utama kematian ibu maternal yang disebabkan perdarahan pada waktu persalinan. Selama hamil, disarankan ibu hamil mengkonsumsi 90 tablet Fe mulai trimester I sampai trimester III. Demikian pula pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid) yang dapat mencegah infeksi pada janin yang dikandung oleh ibu hamil. Imunisasi TT diberikan 2 kali selama kehamilan.
Cakupan K4 di Kabupaten Karanganyar tahun 2016 sebanyak 91,9% dari 13.944 ibu hamil yang ada, turun dibanding tahun 2015 sebanyak 93,2% dari 14.308 ibu hamil yang ada, sedang tahun 2014 sebanyak 91,5% dari
ibu hamil yang ada, tahun 2012 sebanyak 91,9% dari 15.212 ibu hamil, dan tahun 2011 sebanyak 92,80 % dari jumlah total 14.968 ibu hamil yang ada. Dibawah ini grafik yang menunjukkan cakupan kunjungan ibu hamil K4 di Kab. Karanganyar tahun 2011– 2016.
Grafik4.1 : Perkembangan Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 di Kabupaten KaranganyarTahun 2011– 2016
b. Persalinan Yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Pada kenyataan di lapangan, masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan diluar fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu secara bertahap seluruh persalinan akan ditolong oleh tenaga kesehatan kompeten dan diarahkan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang kompeten memberikan pelayanan persalinan adalah dokter spesialis kebidanan, dokter dan bidan.
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan professional tahun 2016 sebanyak 100% (dari total ibu hamil 12.629 jumlah ibu bersalin) naik dibanding tahun 2015 sebanyak 95,3% (dari total ibu bersalin 13.643 jumlah ibu bersalin), tahun 2014 sebanyak 99,4% (dari total ibu bersalin 13.094 jumlah persalinan), sedang tahun
0.00 2000.00 4000.00 6000.00 8000.00 10000.00 12000.00 14000.00 16000.00 2011 2012 2013 2014 2015 2016 92.80 91.90 90.10 91.50 93.20 91.90 14,968 15,212 13,902 14,708 14,308 13,944
sebanyak 92,2 % (dari total 14.287 jumlah persalinan). Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan di Kabupaten Karanganyar tahun 2011-2016, dapat dilihat pada grafik 4.2
Grafik4.2 : Perkembangan Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan di Kabupaten Karanganyar
Tahun 2011– 2016
c. Pelayanan Ibu Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam samapai 42 hari paska persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal 3 kali dengan ketentuan waktu :
1. Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari selah persalinan.
2. Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2 minggu setelah persalinan (8-14 hari). 3. Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6 minggu setelah persalinan (36-42 hari).
Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2016 yaitu 12.612 atau 99,4% dari jumlah ibu bersalin, sedang tahun 2015 yaitu 12.954/ 94,9 %, tahun 2014 (13.019/ 99,4 %). Cakupan tertinggi tahun 2016 terdapat di wilayahPuskesmas Jatipuro, Ngargoyoso, Jaten I, Gondangrejo, Kebakkramat II, Mojogedang I, Mojogedang II
85 90 95 100 2011 2012 2013 2014 2015 2016 92.17 95.00 90.53 99.4 95.3 100 Persentase Persalinan Oleh Nakes
dan Puskesmas Kerjo dengan cakupan 100%sedang cakupan terendah di wilayah Puskesmas Kebakkramat I(91,6%).
d. Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe
Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah dengan memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada Balita, bumil, Bufas, remaja putri dan WUS (Wanita Usia Subur). Hasil pendataan dari Bidang Binkesga untuk program penanggulangan anemia yang ditekankan pada bumil meliputi 2 indikator, yaitu Fe1 dan Fe3. Pencapaian Fe1 dan Fe3 untuk puskesmas dan jaringannya di Kabupaten Karanganyar pada tahun 2016 pemberian tablet Fe1 sebanyak 13.877 (99,5% dari jumlah ibu hamil), sedang tahun 2015 pemberian Fe1 sebanyak 102,5%, tahun 2014 sebanyak 97,74%, tahun 2013 pemberian Fe 1 sebanyak 95,64%, tahun 2012 sebanyak 98,44%, dan tahun 2011 sebesar 96,43%. Sedangkan pemberian Fe3 pada tahun 2016 sebesar 12.854 (92,2% dari jumlah ibu hamil), sedang tahun 2015 sebesar 93,2%, tahun 2014 sebesar 89,59%, sedang tahun 2013 sebesar 89,02%, dan tahun 2012 sebesar 90,42%, tahun 2011 sebesar 89,82 %. Berikut ini perkembangan Cakupan Ibu Hamil yang mendapat tablet Fe1 dan Fe3 di Kabupaten Karanganyar Tahun 2011 – 2016.
Grafik4.3 : Perkembangan Cakupan Ibu Hamil yang mendapat tablet Fe 1 dan Fe 3 di Kabupaten KaranganyarTahun 2011– 2016 80 85 90 95 100 105 96.43 89.82 98.44 90.42 95.64 89.02 97.74 89.59 102.5 93.2 99.5 92.2
2. Pelayanan Kesehatan Neonatus dan Bayi a. Kunjungan Neonatus (KN1 dan KN2)
Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan yang paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal 3 (kali) kali, satu kali pada umur 0-7 hari (KN1) dan dua kali lagi pada umur 8-28 hari (KN3 / KN Lengkap).
Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit, dan pemberian imunisasi), pemberian vitamin K, Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM), dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan Buku KIA.
Kunjungan neonates (KN1) tahun 2016 sebanyak 12.513 bayi (99,9%) dari 12.651 bayi lahir hidup, naik dibandingtahun2015 sebanyak 81,9%, sedang tahun 2014 sebanyak 98,9%, tahun 2013 sebanyak 100%, tahun2012 sebanyak 99,3%, dan tahun 2011 sebanyak 99,4%. Sedangkan KN3 tahun 2016 sebanyak 12.513 bayi (98,9%) dari 12.651 bayi lahir hidup, naik dibandingtahun 2015 sebanyak 81,3%, sedang tahun 2014 sebanyak 97,2%, tahun 2013 sebanyak 98,3%, tahun 2012 sebanyak 98,4%, dan tahun 2011 sebesar 97,5%. Cakupan kunjungan neonatus di Kabupaten Karanganyar tinggi, hal ini menggambarkan kondisi saat ini berupa meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan neonatus, peningkatan pelayanan kesehatan terutama kesehatan anak (neonatus, bayi, balita) di Puskesmas, dan adanya pemeriksaan kunjungan ke rumah oleh tenaga kesehatan bagi neonatus yang tidak dapat berkunjung ke puskesmas serta sistem pencatatan
b. Pelayanan Kesehatan Bayi
Bayi juga merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan maupun serangan penyakit, Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Pelayanan kesehatan bayi termasuk salah satu dari beberapa indicator yang bias menjadi ukuran keberhasilan upaya peningkatan kesehatan pada bayi ditujukan pada bayi usia 29 hari sampai dengan 11 bulan dengan memberikan pelaynan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi klinis kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) minimal 4 kali, yaitu pada 29 hari-2bulan, 3-5 bulan, 6-8 bulan dan 9-12 bulan sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Pelayanan ini terdiri dari penimbangan berat badan, pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/ HB1-3, Polio 1-4, dan Campak), Stimulas Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) bayi, pemberian vitamin A pada bayi, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi serta penyuluhan ASI Eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan lain-lain.
Cakupan pelayanan kesehatan bayi di Kabupaten Karanganyar pada tahun 2016 sebesar 95,2 % atau 12.049 bayi dari 12.651 jumlah bayi yang ada, naik disbanding tahun 2015 sebesar 95,1% dari 12.362 bayi yang ada, sedang tahun 2014 sebesar 97,4% dari 12.666 bayi yang ada, tahun 2013 sebesar 88,37% dari 12.685 bayi yang ada, tahun 2012 sebesar 94% dari 12.575 bayi yang ada, dan tahun 2011 sebesar 95,3 % dari 13.617 bayi yang ada.
3. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah a. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Prasekolah
Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah yang dimaksudkan adalah anak umur 1 - 6 tahun yang dideteksi dini pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan dan dideteksi sesuai jadwalnya. Standart Pelayanan Minimal (SPM) menargetkan paling sedikit 2 kali per tahun balita dan pra sekolah mendapatkan pemantauan perkembangan setiap tahunnya. Upaya pemantauan perkembangan kesehatan anak diarahkan untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial anak dengan perhatian khusus pada kelompok balita yang merupakan masa krisis atau periode emas tumbuh kembang anak.
Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah di Kabupaten Karanganyar pada tahun 2016 sebesar 48.591 (77,9%), naik sedikit bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2015 sebesar 48.909 (77,2 %).
Upaya peningkatan ketrampilan petugas kesehatan dalam upaya Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang anak (SDIDTK) telah dilakukan dengan pelatihan standarisasi SDIDTK di semua kabupaten/kota baik di tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten. Untuk pengembangan program SDIDTK maka ketrampilan bisa diperoleh tidak hanya melalui pelatihan formal tetapi juga bisa on the job training baik di puskesmas maupun di Rumah Sakit.
Kementerian yang bertanggung jawab langsung terhadap program pengembangan anak usia dini yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Departemen Agama, Kementerian Sosial dan BKKBN telah mendukung pengembangan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan pra sekolah melalui integrasi kegiatan posyandu, PAUD dan BKB. Diharapkan melalui
Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang yang akan mamacu pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal sesuai tahap perkembangannya.
Untuk implementasi pelaksanaan SDIDTK di lapangan maka Pemerintah bersama semua unsur terkait baik swasta, organisasi profesi, LSM dan masyarakat perlu mendukung baik sarana prasarana, pendanaan dan sumber daya manusianya.
b. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan setingkat
Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, pemeriksaan ketajaman mata, ketajaman pendengaran, kesehatan gigi, kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani. Pelaksanaan penjaringan kesehatan ini dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah. Untuk siswa SD dan setingkat ditargetkan 100 % mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan. Dengan melakukan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis / menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit.
Jumlah murid kelas 1 SD tahun 2016 sebesar 13.681 siswa. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan/guru UKS/kader kesehatan sekolah pada tahun 2016 sebesar 13.512 (98,8%), meningkat sedikit disbanding tahun 2015 sebesar 13.354 (98,2 %). Seluruh puskesmas sudah
Tawangmangu (98,9%), Ngargoyoso (98,5%), Karangpandan (99,9%), Colomadu I (99,1%), Gondangrejo (94,7%), Kerjo (97,2%), dan Jenawi (98,3%).
c. Pelayanan Kesehatan Remaja
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dan terjadi perubahan fisik yang cepat menyamai orang dewasa, tetapiemosinya belum dapat mengikuti perkembangan jasmaninya, hal ini sering menimbulkan gejolak sehingga masa ini perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah pendidikan dan perhatian agar anak berperilaku hidup sehat, baik secara fisik maupun mental.
Pemeriksaan kesehatan remaja adalah pemeriksaan kesehatan siswa kelas 1 SLTP dan setingkat, kelas 1 SMU dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 SLTP dan Madrasah Tsanawiyah, kelas 1 SMU/SMK dan Madrasah Aliyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan kader kesehatan remaja secara berjenjang.
4. Pelayanan Keluarga Berencana a. Peserta KB Baru
Peserta KB baru adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan. Jumlah pasangan usia subur (PUS) di Kabupaten Karanganyar tahun2016 sebanyak 165.114 pasangan, turun disbanding tahun 2015 sebanyak 165.252 pasangan, sedang tahun 2014 sebanyak 168.582 pasangan, tahun 2013 sebanyak 168.953 pasangan, tahun 2012 sebanyak 168.003 pasangan, dan tahun 2011 sebanyak 167.821 pasangan.Jumlah peserta KB baru pada tahun 2016 sebesar 0,5% dari jumlah PUS yang ada, sedang tahun 2015 sebesar 0,6% dari PUS yang ada, tahun 2014 sebesar 13,4 dari PUS
yang ada, dan tahun 2011 sebesar sebesar 2,2% dari jumlah PUS yang ada, dengan peserta KB Aktif tahun 2016 sebanyak 133.234 (80,7%), sedang tahun 2015 sebanyak 79,3%, tahun 2014 sebesar 71,6%, tahun 2013 sebanyak 79,5%, tahun 2012 sebanyak 79,5%, dan tahun 2011 sebanyak 79,8 %. Berikut peserta KB baru tahun 2016 tersebut mendapatkan kontrasepsi sebagai berikut :
IUD : 15,4% MOP/MOW : 0,0% / 2,8% Implan : 11,9% Suntik : 59,5% Pil : 7,6% Kondom : 8,1% Dari data tersebut, dapat kita gambarkan dengan diagram sebagai berikut :
Grafik4.4 : Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB Baru di Kabupaten Karanganyar Tahun 2016
b. Peserta KB Aktif
Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan jumlah peserta KB aktif dengan Pasangan UsiaSubur. Cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara Pasangan Usia Subur. Berikut ini persentasepeserta KB Aktif tahun 2016 dari total 165.114 pasangan usia subur yang ada : IUD : 15,4% MOP : 0,0% MOW : 2,8% Implant :11,9% Suntik : 59,5% Pil : 7,6% Kondom : 2,8%