Bab IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang
48 Gambar di atas menunjukkan presentase kelompok Pra Usila dan Usila yang mendapat pelayanan kesehatan selama tahun 2005 - 2010 mengalami fluktuasi.Data menunjukan bahwa pada tahun 2010 persentase cakupan pelayanan kesehatan Pra Usila dan Usila menjadi 40,19 % lebih tinggi jika dibandingkan data tahun 2009 (26,17%).
Persentase cakupan pelayanan kesehatan Pra Usila dan Usila menurut Kabupaten/Kota disajikan pada lampiran tabel 48.
B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG
Upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi masyarakat yang mendapat gangguan ringan dan pelayanan rawat inap baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga berat. Sebagian besar sarana pelayanan Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan sedangkan Rumah Sakit yang dilengkapi berbagai fasilitas di samping memberikan pelayanan pada kasus rujukan untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan.
Gambaran pencapaian pelayanan kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap hasil pengumpulan data selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar IV. 11.
Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010
49
GAMBAR IV. 11
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN DAN PASIEN RAWAT INAP DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2005 - 2010
Sumber : Seksi BIMDAL Kesehatan Rujukan Tahun 2010
Berdasarkan gambar tersebut diatas terlihat bahwa pelayanan kesehatan untuk rawat jalan selama tahun 2010 mengalami penurunan menjadi 1.539.600 dibanding tahun 2009 sebanyak 1.652.078, demikian halnya pada rawat Inap juga terjadi penurunan dari 103.027 pada tahun 2009 menjadi 42.612 pada tahun 2010.
Jumlah kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap di sarana pelayanan kesehatan menurut Kabupaten/Kota selama tahun 2010 disajikan pada lampiran tabel 58.
1. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit
Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (BOR), rata-rata lama hari perawatan (LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (GDR), dan persentase pasien keluar yang meninggal < 24 jam perawatan (NDR).
Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010
50
a. Angka Penggunaan Tempat Tidur (BOR)
Angka penggunaan tempat tidur (BOR) adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Rata-rata BOR rumah sakit di Sulawesi Tengah pada tahun 2010 adalah 55,29 % dengan kisaran terendah 9,6% (RSU Kabelota Donggala) dan tertinggi 97.6% (RSU Buol).
b. Rata-Rata Lama Perawatan (LOS)
Rata-rata lama perawatan di Rumah Sakit (LOS = Length Of Stay) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi pelayanan rumah sakit . Rata-Rata LOS pada RSU di Sulawesi Tengah pada tahun 2010 adalah sebesar 3,91 hari. LOS tertinggi terdapat di RSU Madani yaitu 7,2 hari perawatan dan yang terendah di RS Bangkep yaitu 0,8 hari perawatan.
c. Interval Penggunaan Tempat Tidur (TOI/Turn Over Interval)
Turn Over Interval (TOI) adalah rata-rata jumlah hari TT tidak terpakai dari saat kosong sampai saat terisi berikutnya. Angka ini merupakan salah satu indikator tingkat efisiensi pelayanan rumah sakit. Standard TOI adalah 1 – 3 hari.
Rata-rata TOI di RSU Sulawesi Tengah tahun 2010 adalah 5,9 hari, terendah di RSU Anutapura (1,0) dan yang tertinggi adalah RS Kabelota Donggala (30,2) hari. Bila dibandingkan dengan standard TOI maka keadaan RSU di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa tingkat efisiensi RSU masih rendah.
d
.
Angka Kematian Umum (GDR/Gross Death Rate)Gross Death Rate (GDR) adalah angka kematian total pasien rawat inap yang keluar RS per 100 penderita keluar hidup dan mati. Indikator ini menggambarkan kualitas pelayanan suatu RS secara umum,
Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010
51 meskipun GDR dipengaruhi juga oleh angka kematian ≤ 48 jam yang umumnya merupakan kasus gawat darurat. Rata-rata GDR di RSU Sulawesi Tengah pada tahun 2010 adalah 24,4 ‰, GDR tertinggi di RSU Mokopido Toli-Toli (4,3 ‰) dan yang terendah di RS Morowali (0,8 ‰).
e. Angka Kematian Netto (NDR/Nett Death Rate)
Nett Death Rate (NDR) adalah angka kematian ≥ 48 jam pasien rawat inap per 100 penderita keluar (hidup + mati). Indikator ini berguna untuk mengetahui kualitas pelayanan rumah sakit.
Rata-rata NDR di RSU Sulawesi Tengah tahun 2010 adalah 9,3 ‰, dengan NDR tertinggi di RSU Undata (1,9 ‰) dan yang terendah di RS Bangkep (0,1 ‰).
Pencapaian indikator pelayanan kesehatan di RS selama tiga tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar IV.12 berikut ini.
GAMBAR IV.12
PENCAPAIAN INDIKATOR BOR, GDR, NDR, LOS DAN TOI RUMAH SAKIT TAHUN 2005 - 2010
Sumber : Seksi BIMDAL Kesehatan Rujukan Tahun 2010
Berdasarkan gambar tersebut diatas menunjukkan bahwa pemakaian tempat tidur di rumah sakit selama 4 tahun terakhir ini
Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010
52 mengalami penurunan yaitu pada tahun 2007 (52,7), tahun 2008 (50,9), tahun 2009 (48,3) dan pada tahun 2010 (43,1). Banyak faktor yang mempengaruhi angka BOR suatu rumah sakit, diantaranya semakin meningkatnya jumlah rumah sakit dan tempat tidur yang tersedia sedangkan jumlah populasi yang mencari pelayanan tidak terlalu tinggi perkembangannya atau perlu adanya pemisahan perhitungan BOR pada Rumah Sakit Khusus.
Menurunnya angka GDR dan NDR pada tahun 2010, perlu ditindaklanjuti dengan strategi baru dalam pelayanan kesehatan yang dikaitkan dengan peningkatan kemampuan tenaga kesehatan termasuk prosedur rujukan.
Sedangkan indikator pemakaian tempat tidur (TOI) dan lamanya hari rawatan dan selang waktu dalam pemakaian tempat tidur sedikit mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Gambaran secara rinci indikator pelayanan kesehatan di RS menurut Kabupaten/Kota tahun 2010 dapat dilihat pada lampiran tabel 59 dan tabel 60.
2. Pelayanan Ibu Hamil dan Neonatus Risiko Tinggi
Hasil pemutahiran data/pengumpulan data profil kesehatan Kabupaten/Kota menunjukkan bahwa Cakupan pelayanan ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan penanganan kesehatan selama tahun 2010 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2009. Kabupaten yang cakupannya tertinggi adalah Kabupaten Poso (92,7%) sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Sigi (67,2%).
Untuk pelayanan neonatus memiliki risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan penanganan kesehatan selama tahun 2010 menunjukkan penurunan menjadi 25% dibandingkan cakupan tahun 2009 (41,58%). Persentase ibu hamil risiko tinggi dan neonatus risiko tinggi yang dirujuk
Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010
53 dan mendapat pelayanan kesehatan dalam lima tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar IV. 13.
GAMBAR IV. 13
PERSENTASE IBU HAMIL DAN NEONATUS RISIKO TINGGI DIRUJUK DAN MENDAPAT PENANGANAN KESEHATAN
TAHUN 2005 – 2010
Sumber : Seksi BIMDAL Kesehatan Dasar Tahun 2010
Persentase cakupan pelayanan kesehatan pada kelompok ibu hamil dan neonatus dengan risiko tinggi yang dirujuk menurut Kabupaten/Kota selama tahun 2010 disajikan tabel 31.
3. Pemanfaatan Obat Generik
Penggunaan obat generik merupakan salah satu langkah dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menjangkau obat yang berkualitas. Keberhasilan dalam sosialisasi pemanfaatan obat generik sangat dipengaruhi oleh keseriusan tenaga kesehatan dan terjaminnya ketersediaan obat generik di fasilitas kesehatan.