• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar

Bab IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

D. Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar

72

GAMBAR IV. 24

PREVALENSI SCHISTOSOMIASIS DI SULAWESI TENGAH TAHUN 2005-2010

Sumber : Seksi BIMDAL Pengendalian & Pemberantasan Penyakit Tahun 2010

Setelah melihat gambaran semakin tingginya prevalensi Schistosomiasis di Sulawesi Tengah, maka perlu upaya-upaya preventif melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan intervensi lingkungan.

D. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR

Untuk mengambarkan keadaan lingkungan, akan disajikan indikator-indikator persentase rumah sehat dan presentase tempat-tempat umum sehat. Selain itu disajikan pula indikator tambahan yang dianggap masih relevan, yaitu persentase rumah tangga (keluarga) menurut sarana tempat pembuangan air besar.

1. Rumah Sehat

Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban sehat, memiliki sarana air bersih, memiliki tempat pembuangan sampah, memiliki sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah tidak terbuat dari tanah.

Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010

73 Menurut laporan dari 11 Kabupaten/Kota bahwa pengawasan perumahan dilakukan melalui kegiatan inspeksi kegiatan perumahan dimana pada tahun 2010 dari 364.008 rumah yang diperiksa didapatkan data bahwa persentase rumah yang memenuhi syarat kesehatan yaitu 241.593 atau sekitar 66,37%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka persentase pada tahun 2009 yaitu 61,67%, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pada jumlah rumah tangga yang diperiksa. Dimana pada tahun 2009 jumlah rumah tangga sehat 208.185 lebih banyak dari jumlah rumah tangga sehat pada tahun 2010. Sedangkan pada tahun 2008 jumlah rumah tangga sehat adalah 206.740 atau sekitar 59,93%, artinya bahwa setiap tahunnya persentase rumah sehat selalu meningkat meskipun angka tersebut masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 yaitu sebesar 80%. Sehingga masih sangat perlu upaya program terkait untuk meningkatkan cakupan rumah yang diperiksa di Kabupaten/Kota. Data persentase rumah sehat menurut Kabupaten/Kota disajikan pada lampiran table 62. Rendahnya persentase rumah sehat di Provinsi Sulawesi Tengah dapat disebabkan antara lain karena kurangnya pemahaman sektor-sektor terkait terhadap konsep pembangunan berwawasan kesehatan serta rendahnya pembiayaan untuk upaya tersebut.

2. Tempat-Tempat Umum Sehat

Tempat-Tempat Umum (TTU) merupakan sarana yang dikunjungi oleh banyak orang, dan dikhawatirkan dapat menjadi tempat penyebaran penyakit. Tempat-Tempat Umum meliputi : hotel, restoran, bioskop, pasar, terminal, dan lain-lain. Sedangkan TTU Sehat adalah tempat umum yang memnuhi syarat kesehatan yaitu yang memilki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi yang baik, luas lantai/luas ruang yang sesuai dengan banyaknya pengunjung, dan memiliki pencahayaan ruang yang sesuai.

Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010

74 Data yang diolah dari laporan Kabupaten/Kota tahun 2010, memperlihatkan bahwa persentase TTU Sehat mencapai 71,60%. Dari angka tersebut masih terdapat 1 Kabupaten (Banggai Kepulauan) yang datanya tidak lengkap. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan persentase cakupan pada tahun 2009 yaitu 69,49%. Sedangkan persentase TTU Sehat pada tahun 2008 adalah 71,72%, artinya persentase TTU Sehat tahun 2010 hampir sama dengan capaian persentase tahun 2008 dan pada tahun 2009 persentase TTU Sehat lebih rendah, sehingga diperlukan berbagai upaya peningkatan pemeriksaan TTU sehingga data yang ada lebih lengkap dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan pencapaian target Indonesia Sehat 2010.

Rendahnya persentase TTU Sehat di beberapa Kabupaten dapat disebabkan berbagai faktor antara lain, kurangnya pemahaman pemilik/pengelola terhadap aspek kesehatan pengelolaan TTU, mudahnya memperoleh perizinan pendirian TTU meskipun belum memenuhi persyaratan kesehatan, dan kurangnya pemeriksaan dan lemahnya pengawasan TTU oleh instansi terkait serta rendahnya porsi anggaran untuk kegiatan tersebut.

3. Akses Terhadap Air Bersih

Sumber air bersih yang digunakan Rumah Tangga dapat dibedakan menurut : air kemasan, air ledeng, air sumur pompa tangan, air sumur gali, penampungan air hujan dan lainnya. Hasil pemutakhiran data tahun 2010 menunjukkan bahwa rumah tangga di Sulawesi Tengah berjumlah 648.765. Dari jumlah tersebut yang diperiksa sejumlah 419.935 rumah tangga. Dari rumah tangga yang diperiksa tersebit pengguna air bersih dari kemasan (1,0%), ledeng (32,5%), sumur pompa tangan (13,5%), sumur gali (23,0%), penampunagn air hujan (1,8%), dan lainnya (9,0%), jumlah jenis sarana air bersih keseluruhan adalah 339.282 atau (80,8%).

Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010

75 Data tersebut di atas berasal dari 11 Kabupaten/Kota. Masih ada beberapa Kab/Kota yang datanya tidak lengkap (air kemasan). Gambaran persentase rumah tangga menurut sumber air bersih yang digunakan dapat dilihat pada table 64.

4. Rumah Tangga Menurut Sarana Sanitasi Dasar

Sistem pembuangan rumah tangga (sampah, tinja dan air limbah rumah tangga) sangat erat kaitannya dengan lingkungan dan resiko penularan penyakit, khususnya penyakit saluran pencernaan. Klasifikasi sarana pembuangan rumah tangga dilakukan berdasarkan atas tingkat resiko pencemaran yang ditimbulkan. Dalam hal ini system pembuangan rumah tangga dibedakan dalam 3 (tiga) jenis sarana yaitu jamban, tempat sampah, dan pengelolaan air limbah. Persentase rumah tangga menurut sarana sanitasi dasar rumah tangga tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 66.

1) Jamban merupakan tempat pembuangan kotoran manusia yang jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan penyakit. Data tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah keluarga yang diperiksa adalah 383.659 (52,9%) dari jumlah keluarga yang ada, artinya bahwa masih sekitar 265,106 (40,8%) keluarga yang tidak diperiksa. Keluarga yang memiliki jamban sekitar247.668 (64,6%) dari jumlah keluarga yang diperiksa, artinya bahwa keluarga yang tidak memiliki jamban sekitar 135.991 (35,4%). Sementara untuk jamban yang sehat adalah 176.646 (71,3%) dari jumlah keluarga yang memiliki, dengan demikian masih ada sekitar 71.022 (28,7%) keluarga yang memiliki jamban yang tidak sehat.

2) Sarana yang kedua yaitu tempat sampat, jumlah rumah tangga yang diperiksa sebanyak 296.990 (45,8%) dari jumlah keluarga yang ada, artinya masih sekitar 351.775 (54,2%) keluarga yang tidak diperiksa. Kleuarga yang memiliki jamban adalah 163.211 (55,0%) dari jumlah

Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah 2010

76 keluarga yang diperiksa, artinya bahwa keluarga yang tidak memiliki tempat sampah sekitar 133.779 (45,0%). Sementara untuk tempat sampah yang sehat adalah 112.258 (68,8 %) dari jumlah keluarga yang memiliki, artinya keluarga yang tidak memiliki tempat sampah yang sehat sekitar 50.953 (31,2%).

3) Sarana yang ketiga adalah pengelolaan air limbah atau SPAL. Jumlah rumah tangga yang diperiksa sebanyak 320.393 (49,4%) dari jumlah keluarga yang ada, berarti masih sekitar 328.327 (50,6%) keluarga yang tidak diperiksa. Jumlah keluarga yang memiliki sarana pembuangan air limbah adalah 199.036 (62,1%) dari keluarga yang diperiksa, berarti keluarga yang tidak memiliki SPAL ada 129.291 (37,9%).

Untuk pengelolaan air limbah yang sehat adalah 130.189 (64,4%) dari keluarga yang memiliki, artinya keluarga yang tidak memiliki pengelolaan air limbah sehat sekitar 68.847 (34,6%). Dengan demikian masih ada 34,6% rumha tangga yang memiliki pengelolaan air limbah yang tidak sehat.

Rendahnya kepemilikan sanitasi dasar dipengaruhi oleh faktor ekonomi, kebiasaan, pendidikan serta ketersediaan sarana, oleh karena itu diperlukan berbagai upaya, diantaranya promosi kesehatan, kemitraan dari sektor lain yang terkait sehingga terjadi peningkatan cakupan kepemilikan sarana sanitasi dasar dikabupaten/kota dapat dilihat pada table 66.

Dokumen terkait