• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang

Bab IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

B. Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang

Upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi masyarakat yang mendapat gangguan ringan dan pelayanan rawat inap baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga berat. Sebagian besar sarana pelayanan Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan sedangkan Rumah Sakit yang dilengkapi berbagai fasilitas disamping memberikan pelayanan pada kasus rujukan untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan.

Gambaran pencapaian pelayanan kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap hasil pemutahiran data/pengumpulan data dalam tiga tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 4.14

GAMBAR 4. 14

JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN DAN PASIEN RAWAT INAP DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2011 – 2013

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi TengahTahun 2013

Berdasarkan gambar tersebut diatas terlihat bahwa pelayanan kesehatan untuk rawat jalan selama tahun 2013 mengalami penurunan

| Profil Kesehatan Profinsi Sulteng 2013 86

menjadi 1.379.052, dibandingkan tahun 2012 sebanyak 2.885.761, demikian juga dengan rawat inap turun menjadi 31.265 dibandingkan pada tahun 2012 yaitu sebesar 133.002

Jumlah kunjungan rawat jalan dan rawat inap disarana pelayanan kesehatan menurut kabupaten/kota selama tahun 2013 dilihat pada lampiran tabel 55.

1. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (BOR), rata-rata lama hari perawatan (LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (GDR), dan persentase pasien keluar yang meninggal < 24 jam perawatan (NDR).

a. Angka Penggunaan Tempat Tidur (BOR)

Angka penggunaan tempat tidur (BOR) adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Rata-rata BOR rumah sakit di Sulawesi Tengah pada tahun 2013 adalah 57,10% dengan kisaran terendah 1,1% RS Alkhairaat dan tertinggi RSU Anuntaloko dan RSU Mokopido masing-masing 91,13% dan 90,84. Rumah sakit Wirabuana tidak memasukkan laporan.Rumah Sakit Raja Tombolotutu di Kabupaten Parigi Moutong adalah RSU yang baru operasional tahun 2013.

b. Rata-Rata Lama Perawatan (LOS)

Rata-rata lama perawatan di Rumah Sakit (LOS = Length of Stay) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi pelayanan rumah sakit . Rata-Rata LOS pada RSU di Sulawesi Tengah pada tahun 2013 adalah sebesar 3,92 hari. LOS tertinggi terdapat di RSJ Madani yaitu 7 hari perawatan dan yang terendah di RS Budi Agung yaitu 2 hari perawatan. Ada 3 rumah sakit yang tidak bisa ditampilkan datanya karena laporan tidak lengkap yaitu Rumah sakit Banggai Laut, RS Masyitha, dan RS Wirabuana.

| Profil Kesehatan Profinsi Sulteng 2013 87 c . Interval Penggunaan Tempat Tidur (TOI/Turn Over Interval)

Turn Over Interval (TOI) adalah rata-rata jumlah hari TT tidak

terpakai dari saat kosong sampai saat terisi berikutnya. Angka ini merupakan salah satu indikator tingkat efisiensi pelayanan rumah sakit. Standard TOI adalah 1 – 3 hari.

Rata-rata TOI di RSU Sulawesi Tengah tahun 2013 adalah tiga hari, TOI di RSU Sulawesi Tengah tahun 2013 adalah berkisar 1-167 hari, TOI terendah di RSU Anuntaloko Parigi (0,3), RSU Mokopido Toli-Toli (0,4) dan Rumah sakit Luwuk (0,8) TOI yang tertinggi adalah RS Alkhairaat yakni 167 hari. Bila dibandingkan dengan standard TOI maka pemanfaatan TT RSU di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa tingkat efisiensi TT RSU masih sangat rendah.

d.

Angka Kematian Umum (GDR/Gross Death Rate)

Gross Death Rate (GDR) adalah angka kematian total pasien rawat

inap yang keluar RS per 100 penderita keluar hidup dan mati. Indikator ini menggambarkan kualitas pelayanan suatu RS secara umum, meskipun GDR dipengaruhi juga oleh angka kematian ≤ 48 jam yang umumnya merupakan kasus gawat darurat.

Rata-rata GDR di RSU Sulawesi Tengah pada tahun 2013 adalah 2,5‰ GDR tertinggi di RSU Luwuk (43‰) dan yang terendah di RSU Kabelota Donggala (9‰).

e.

Angka Kematian Netto (NDR/Nett Death Rate)

Nett Death Rate (NDR) adalah angka kematian ≥ 48 jam pasien

rawat inap per 100 penderita keluar (hidup + mati). Indikator ini berguna untuk mengetahui kualitas pelayanan rumah sakit.Rata-rata NDR di RSU Sulawesi Tengah tahun 2013 adalah 1,12 % , dengan NDR tertinggi di RS Alkhairaat (24%) dan yang terendah di RS Ampana (1 %)

Pencapaian indicator pelayanan kesehatan di RS selama dua tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 4.15 berikut ini.

| Profil Kesehatan Profinsi Sulteng 2013 88 GAMBAR 4.15

PENCAPAIAN INDIKATOR BOR, GDR, NDR, LOS DAN TOI RUMAH SAKIT TAHUN 2012-2013.

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi TengahTahun 2013

Berdasarkan gambar tersebut diatas menunjukkan bahwa pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit selama tahun 2013 mengalami peningkatan yaitu 49,9 pada tahun 2012 menjadi 57,1 pada tahun 2013. Menurunnya angka GDR yaitu 3,2 menjadi 2,5 dan NDR pada tahun 2012 yaitu 1,4 menjadi 1,12., penurunan angka tersebut merupakan manifestasi dari perbaikan kwalitas pelayanan di rumah sakit termasuk meningkatnya kemampuan tenaga kesehatan dan prosedur rujukan.

Sedangkan indikator pemakaian tempat tidur (TOI) dan lamanya hari rawatan dan selang waktu dalam pemakaian tempat tidur tidak banyak mengalami perubahan. Gambaran secara rinci indikator pelayanan kesehatan di RS menurut kabupaten/kota tahun 2013 dapat dilihat pada lampiran tabel 57.

2. Pelayanan Ibu Hamil dan Neonatus Risiko Tinggi

Hasil pemutahiran data/pengumpulan data profil kesehatan kabupaten/kota menunjukkan bahwa persentase ibu hamil risiko tinggi dan neonatus risiko tinggi yang dirujuk dan mendapat pelayanan kesehatan dalam dua tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 4.16.

| Profil Kesehatan Profinsi Sulteng 2013 89 GAMBAR 4. 16

PERSENTASE IBU HAMIL DAN NEONATUS RISIKO TINGGI DIRUJUK DAN MENDAPAT PENANGANAN KESEHATAN

TAHUN 2012 – 2013

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi TengahTahun 2013

Cakupan pelayanan ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan penanganan kesehatan selama tahun 2013 mengalami penurunan yaitu 57,2% pada tahun 2012 dibandingkan tahun 2013 menjadi 55,7%. Kabupaten yang cakupannya tertinggi adalah kabupaten Sigi (142%), Touna (81%), sedangkan yang terendah adalah kabupaten Buol (28%).

Untuk pelayanan neonatus memiliki risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan penanganan kesehatan selama tahun 2013 hanya mengalami kenaikan 1% yaitu 41% dibandingkan cakupan tahun 2012 (40%). Kabupaten Tojo Una-Una mencapai 92%, Palu 65% dan cakupan terendah adalah Kabupaten Toli-Toli (14%), Parigi Moutong (20%). Persentase cakupan pelayanan kesehatan pada kelompok ibu hamil dan neonatus dengan risiko tinggi yang dirujuk menurut kabupaten/kota selama tahun 2013 dapat dilihat pada lampiran tabel 12.

3. Pelayanan Kesehatan Khusus

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu jenis pelayanan kesehatan khusus. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut berdasarkan data yang diperoleh dari Kabpaten/Kota terdiri dari tumpatan gigi tetap 23.443. Data diatas menunjukkan bahwa pencabutan gigi tetap

| Profil Kesehatan Profinsi Sulteng 2013 90

lebih banyak dari pada tumpatan gigi tetap sebanyak 1.281 (0,05%), Ada 5 Kabupaten yang tidak melaporkan kegiatan pelayanan kesehatan gigi. Informasi lebih rinci terkait pelayanan kesehatan gigi dan mulut dapat dilihat pada lampiran tabel 50.

Dokumen terkait