BAB IV UPAYA KESEHATAN
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan
Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) bertujuan meningkatkan akses keterjangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan yang aman melalui sarana pelayanan kesehatan perorangan seperti Puskesmas, Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan antara lain peningkatan pelayanan kesehatan rujukan, pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit, dan lain-lain. Dibawah ini akan diuraikan secara singkat mengenai pelayanan kesehatan rujukan.
1. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit
Upaya kesehatan perorangan dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan swasta untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan. Upaya pelayanan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi masyarakat yang mendapat gangguan kesehatan ringan, dan pelayanan rawat inap baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga besar.
Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit dapat dilihat dari berbagai segi diantaranya tingkat
Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR), rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR), dan persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR).
Tingkat pemanfaatan tempat tidur (BOR) di Badan Rumah Sakit Umum Tabanan (BRSU Tabanan) selalu mengalami penurunan dan peningkatan. Selama periode tahun 2007-2009 cenderung menurun setiap tahunnya walaupun masih di atas angka ideal yang diharapkan (60 -85 %). Pada tahun 2007 angka BOR BRSU Tabanan adalah 87,39 %, kemudian turun 1,09 % menjadi 86,30 % pada tahun 2008, dan pada tahun 2009 turun lagi menjadi 85,40 % namun pada tahun 2010, BOR BRSU Tabanan mengalami peningkatan menjadi 90,40 %, kemudian pada tahun 2011, mengalami penurunan menjadi 88,71 %, lalu pada tahun 2012 sedikit meningkat menjadi 89,74 %, tetapi pada tahun 2013 BOR BRSU menurun lagi menjadi 86,67 %. Banyak faktor yang mempengaruhi angka BOR suatu rumah sakit, diantaranya semakin
meningkatnya jumlah rumah sakit dan tempat tidur yang tersedia, sementara jumlah populasi yang mencari pelayanan tidak terlalu tinggi.
Los adalah rata-rata lama rawat (hari) seorang pasien.
Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat
efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan lebih lanjut. Secara umum nilai LOS yang ideal adalah antara 6-9 hari. Gambar 4.3 memperlihatkan pencapaian LOS pada BRSU Tabanan periode tahun 2008 sampai 2013 yang berkisar antara 4,20 - 4,70 hari dan belum mencapai angka ideal. 2008 2009 2010 2011 2012 2013 3,90 4,00 4,10 4,20 4,30 4,40 4,50 4,60 4,70 4,80 Gambar 4.3
Pencapaian LOS di BRSU Tabanan Tahun 2008-2013
Indikator pelayanan rumah sakit yang lain adalah Turn Over Interval (TOI). TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah digunakan sampai saat digunakan kembali (rata-rata lama tempat tidur kosong antar pasien satu dengan pasien berikutnya). Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari. Selama tahun 2008-2013 TOI di BRSU Tabanan belum pernah mencapai angka ideal. Pada tahun 2008 TOI BRSU Tabanan adalah 0,70 hari, tahun 2009 adalah 0,80 hari, tahun 2010 adalah 0,40 hari, tahun 2011 menjadi 0,60 hari, tahun 2012 adalah 0,51 hari dan pada tahun 2013 ini adalah 0,71. Rincian indikator pelayanan kinerja di rumah sakit baik yang di BRSU Tabanan maupun yang di Rumah Sakit swasta di Kabupaten Tabanan tahun 2013, dapat dilihat pada lampiran tabel 60.
GDR adalah angka kematian umum setiap 1.000 penderita keluar dari rumah sakit. Pada GDR, tidak terlihat berapa lama pasien berada di rumah sakit dari masuk sampai meninggal. Nilai ideal GDR adalah < 45 per 1.000 pasien keluar. Pada tahun 2013 angka GDR di Kabupaten Tabanan sebesar 31 kematian per 1.000 pasien keluar rumah sakit.
NDR adalah angka kematian pasien setelah dirawat ≥ 48 jam per 1.000 pasien keluar. Indikator ini memberikan
gambaran mutu pelayanan di rumah sakit. Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam, berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien. Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 jam masa perawatan, dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien meninggal. Nilai NDR yang ideal adalah < 25 per 1.000 pasien keluar. Pada tahun 2013, angka NDR di Kabupaten Tabanan adalah 18,98 per 1.000 pasien keluar.
2. Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS)
Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat sangat miskin, miskin, dan tidak mampu. Tujuan umum dari JAMKESMAS adalah meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Tujuan tersebut dijabarkan dalam tujuan khusus yang meliputi : (i) meningkatnya cakupan masyarakat sangat miskin, miskin dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas serta jaringannya
kesehatan bagi masyarakat sangat miskin, miskin dan tidak
mampu sesuai dengan standar; (iii) terselenggaranya
pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel. Sedangkan sasaran program JAMKESMAS ini adalah masyarakat sangat miskin, miskin dan tidak mampu di seluruh Indonesia sejumlah 76,4 juta jiwa, tidak termasuk yang sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya.
Setiap peserta JAMKESMAS mempunyai hak mendapatkan pelayanan kesehatan dasar meliputi pelayanan kesehatan rawat jalan (RJ) dan rawat inap (RI), serta pelayanan kesehatan rujukan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), rawat inap tingkat lanjutan (RITL) dan pelayanan gawat darurat. Tercatat pada tahun 2013, program yang memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin ini telah menjangkau ribuan masyarakat yang kurang mampu.
Jumlah kunjungan rawat jalan yang menggunakan fasilitas
JAMKESMAS mencapai 79.256 kunjungan, dimana 60.155
mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di pelayanan kesehatan dasar (sarana kesehatan strata 1) dan 19.101 mendapatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di pelayanan kesehatan rujukan (sarana kesehatan strata 2 dan strata 3). Sedangkan jumlah kunjungan rawat inap mencapai 5.106
kunjungan, dimana 221 mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di pelayanan kesehatan dasar (sarana kesehatan strata 1) dan 4.885 mendapatkan pelayanan kesehatan rawat inap di pelayanan kesehatan rujukan (sarana kesehatan strata 2 dan strata 3). Cakupan masyarakat miskin (dan hampir miskin) yang mendapatkan pelayanan kesehatan baik pelayanan kesehatan rawat jalan maupun rawat inap dengan menggunakan fasilitas JAMKESMAS terbanyak terdapat di Badan Rumah Sakit Umum (BRSU) Tabanan. Lebih rinci mengenai cakupan pelayanan kesehatan masyarakat miskin dapat dilihat pada lampiran tabel 56 dan tabel 57.
3. Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM)
Sekitar 72 % dari penduduk Bali belum memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan yang senantiasa akan bermasalah ketika mereka jatuh sakit. Bahkan mereka yang sudah tercakup asuransipun masih ada kendala, karena sebagian asuransi yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten, portabilitasnya masih terbatas sampai tingkat pelayanan dasar atau tingkat rujukan lokal (RS kabupaten setempat), sehingga akan tetap bermasalah ketika harus ke tingkat provinsi atau pusat.
Berdasarkan hal tersebut diatas, Pemerintah Provinsi Bali (Gubernur dan Bupati/Walikota) mengambil kebijakan untuk menaungi masyarakat dengan pelayanan kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) untuk seluruh masyarakat Bali.
Tujuan umum dari JKBM adalah meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat Bali agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efesien. Sasaran program JKBM ini adalah penduduk Bali yang sudah terdaftar dan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Bali dan anggota keluarganya, memiliki kartu keluarga dan surat keterangan belum memiliki jaminan kesehatan atau dengan kartu JKBM.