• Tidak ada hasil yang ditemukan

SITUASI UPAYA KESEHATAN

A. PELAYANAN KESEHATAN

1. Cakupan Kunjungan ibu Hamil K1 dan K4 a. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1

Gambar 4.1 Kunjungan Ibu Hamil K1

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 merupakan kontak pertama kali ibu hamil dengan petugas kesehatan dimana di harapkan pada usia kehamilan triwulan pertama semua ibu hamil sudah kontak / mendapat pelayanan kehamilannya oleh petugas kesehatan. Di tahun 2020 cakupan K1 sudah mencapai target yaitu 100 %, hal ini di sebabkan karena meningkatnya kesadaran ibu hamil tentang kesehatannya, disamping itu jumlah tenaga kesehatan dalam hal ini bidan desa sudah hampir merata di wilayah Kabupaten Blora.

b. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4

Gambar 4.2 Kunjungan Ibu Hamil K4

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 25 - Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4, adalah kunjungan ibu hamil dengan frekuensi minimal 4 kali selama kehamilan yaitu 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua dan 2 kali pada triwulan ketiga. Cakupan K4 pada tahun 2020 mencapai 99 % dimana target yang harus di capai adalah 96 %, . Tidak semua (100%) ibu hamil mendapatkan pelayanan K-4 disebabkan karena masih adanya sasaran ibu hamil yang belum waktunya mendapat pelayanan K4, tingginya mobilitas penduduk ( ibu hamil ) juga berpengaruh terhadap rendahnya cakupan K4,dimana masih adanya ibu hamil yang telah tercatat di wilayah Kabupaten Blora kemudian pindah ke daerah asal dan melahirkan di daerah tersebut.

2. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Gambar 4.3

Cakupan Pertolongan Persalinan oleh tenaga kesehatan

Cakupan Pertolongan Persalinan Kesehatan mencapai 100 %, sedangkan target yang di tetapkan adalah 96 %, beberapa hal yang mendukung tercapainya cakupan pertolongan persalinan antara lain peningkatan pengetahuan masyarakat sehingga diikuti kesadaran yang baik terhadap kesehatan ibu, adanya dukungan program – program bagi ibu hamil antara lain program P4K ( program pertolongan persalinan dan pencegahan komplikasi ) , kelas ibu hamil, program – program jaminan kesehatan dari pemerintah , disamping itu peningkatan fasilitas kesehatan & infrastruktur sehingga akses mencapai fasilitas kesehatan lebih mudah.

3. Pelayanan Nifas

Cakupan Kunjungan Nifas ( KF 3 ) adalah 99,8 % sudah mencapai dari target yaitu 97 % , hal ini di sebabkan karena meningkatnya kerjasama antara ibu dan petugas dimana selama

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 26 - hamil ibu mendapat pendampingan secara terus menerus dari petugas kesehatan sehingga sampai 42 hari ibu masa nifas kondisi masih terpantau dengan baik, disamping itu peningkatan ilmu pengetahuan & teknologi berperan penting dalam tingginya capaian kunjungan nifas ; seperti alat komunikasi Handphone dimana ibu bisa dengan cepat menghubungi petugas bila ibu membutuhkan pelayanan. Pelayanan Nifas ( KF 3 ) merupakan pelayanan kesehatan ibu nifas secara lengkap yaitu KF 1 pada 6 jam pertama s/d 3 hari, KF 2 pada 7 s/d 14 hari & KF 3 pada hari ke 36 s/d 42.

Gambar 4.4 Pelayanan Nifas

4. Cakupan Vitamin A pada Ibu Nifas

Gambar 4.5 Ibu Nifas mendapat vitamin A

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 27 - Cakupan vitamin A merah untuk ibu nifas tahun 2018 sebesar 99,5 % dan tahun 2019 sebesar 99,9 %, dan pada tahun 2020 mencapai 99,7%.

5. Persentase cakupan immunisasi Td pada ibu hamil

Gambar 4.6

Persentase cakupan imunisasi td pada ibu hamil

Cakupan Imunisasi Td pada Ibu hamil adalah Cakupan (jumlah dan persentase) ibu hamil yang mendapatkan imunisasi Td (Tetanus difteri) dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) dengan memperhatikan hasil skrining dan status T. Jumlah Ibu Hamil di Kabupaten Blora tahun 2020 sebanyak 12.177 , yg mendapat 1 = 2.8 %, 2 = 5.5 %, Td-3 = 22,2 %, Td-4 = 27,1 %, Td-5 = 14,6 % dan Td2+ = 69,4.

6. Persentase ibu hamil yang mendapatkan Tablet Fe

Gambar 4.7

Persentase ibu hamil yang mendapatkan Tablet Fe

Cakupan ibu hamil yang mendapat Fe adalah Ibu hamil yang mendapat minimal 90 tablet tambah darah selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

tahun 2018 sebesar 98,74 % dan tahun 2019 sebesar 99,1 % dan pada tahun 2020 mencapai

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 28 - 98,8 % Cakupan Fe ibu hamil dari tahun 2018 sampai 2020 sudah memenuhi standar pelayanan minimal ( SPM ) sebesar 90 % walaupun di tahun 2020 mengalami sedikit penurunan.

7. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang ditangani

Gambar 4.8

Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani

Cakupan dimaksud adalah semua kasus komplikasi obstetri baik pada masa kehamilan, persalinan & nifas yang telah ditangani baik di tingkat dasar ( PKD, Pustu , RB / Puskesmas ).

Cakupan penanganan komplikasi obstetri mencapai 160,5 % dari target yaitu 85 % hal ini berarti sudah semua kasus komplikasi kebidanan ditangani oleh petugas dan telah terlaporkan dengan baik,banyak faktor yang mendukung yaitu adanya peningkatan sistem dan manajemen program kesehatan ibu antara lain penyediaan protap – protap terkait penanganan kasus – kasus emergency yang sering terjadi di pelayanan tingkat dasar, dan diikuti oleh program peningkatan ketrampilan melalui pelatihan petugas sehingga terjadi peningkatan capaian penanganan komplikasi obstetri.

8. Cakupan Neonatus dengan komplikasi ditangani

Gambar 4.9

Cakupan Neonatus dengan komplikasi ditangani

Dari tahun 2018 sampai dengan Tahun 2020 cakupan neonates dengan komplikasi ditangani sebesar 100%.

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 29 - 9. Persentase peserta KB Aktif menurut jenis kontrasepsi

Gambar 4.10

Persentase peserta KB aktif menurut jenis kontrasepsi

Persentase peserta KB Aktif menurut jenis kontrasepsi di Kabupaten Blora Tahun 2020 yang terbanyak adalah menggunakan Pil sebanyak 60,8% dan yang terkecil menggunakan MOP sebanyak 0,2%.MOP adalah Vasektomi (Metode Operasi Pria/MOP) adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan cara mengoklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.

10. Persentase peserta KB Pasca Persalinan

Gambar 4.11

Persentase peserta KB pasca persalinan

Cakupan peserta KB Pasca Persalinan di Kabupaten Blora tahun 2020 terbesar menggunakan suntik 78,5% dan terkecil menggunakan kondom sebesar 0%.

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 30 - 11. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Gambar 4.12

Persentase berat bayi lahir rendah (BBLR)

Bayi dengan berat badan lahir rendah merupakan salah satu faktor resiko kematian bayi.

Persentase BBLR di Kabupaten Blora tahun 2020 sebesar 4,89% turun dibanding tahun 2019 yaitu 5,2%.

12. Cakupan Kunjungan Neonatus

Gambar 4.13

Cakupan kunjungan neonatus lengkap

Cakupan Kunjungan Neonatus adalah pelayanan yang diberikan kepada neonatus (bayi baru lahir ) secara lengkap minimal 3 kali yaitu Kunjungan Neonatal 1 saat 6 – 48 jam, Kunjungan Neonatal 2 saat usia 3- 7 hari & Kunjungan Neonatal 3 usia 8 – 28 hari. Target Cakupan Kunjungan Neonatus adalah 92% dan pada tahun 2020 telah melampui target yaitu

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 31 - mencapai 99,48 % . Hal ini disebabkan peningkatan kinerja petugas yang diikuti oleh peningkatan peran serta keluarga tentang kesehatan bayi baru lahir terutama perawatan bayi dimana membutuhkan perhatian penuh dari seluruh anggota keluarga dan juga petugas kesehatan, disamping itu mudahnya akses untuk mencapai fasilitas kesehatan juga turut mendukung peningkatan capaian ini.

13. Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif

Cakupan ASI Eksklusif tahun 2017 sebesar 46,1 % dan tahun 2018 sebesar 68,7 %, dan pada tahun 2020 mencapai 57,5 %. Dari tahun 2017 sampai tahun 2020 cakupan ASI Eksklusif belum mencapai standard pelayanan minimal ( SPM ) sebesar 80 %, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu melahirkan tentang pentingnya ASI Eksklusif dan pelayanan dari tenaga kesehatan sendiri yang belum patuh, Penegakan hukum belum berjalan.

Gambar 4.14

Persentase bayi yang mendapatkan ASI eksklusif

Cakupan Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif di Kabupaten Blora 14. Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi

Gambar 4.15

Cakupan pelayanan kesehatan bayi

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 32 - Cakupan Kunjungan Bayi merupakan cakupan bayi ( usia 29 hari s/d 11 bln ) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter, bidan, dan perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan, paling sedikit 4 kali yaitu satu kali pada umur 29 hari - 2 bulan,satu kali pada umur 3-5 bulan, satu kali pada umur 6-8 bulan, Dan satukali pada umur 9-11 bulan / sampai imunisasi dasar lengkap diberikan. Target yang telah di tetapkan dari cakupan kunjungan bayi adalah 100 %, sedangkan pada tahun 2020 cakupan kunjungan bayi mencapai 99.81 %.

15. Cakupan Desa /Kelurahan “Universal Child Immunization” (UCI)

Gambar 4.16 Cakupan desa UCI

Pencapaian UCI Desa di Kabupaten Blora secara berturut-turut dari tahun 2018 s/d 2020 mencapai 100 %,hal ini menunjukkan adanya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya imunisasi serta adanya kerjasama yang baik dengan lintas program maupun lintas sektor terkait.

16. Cakupan Imunisasi Bayi

Gambar 4.17 Cakupan Imunisasi Bayi

Sesuai dengan indikator RPJMN Program imunisasi Tahun 2015-2020, bahwa prosentase anak usia 0 – 11 bulan yang mendapat Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada tahun 2020

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 33 - harus mencapai 91 %. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa untuk cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) Kabupaten Blora pada tahun 2020 sudah memencapai target yaitu 98,5 %.

17. WUS Mendapat Imunisasi Td

Gambar 4.18 WUS mendapat imunisasi td

Cakupan WUS Mendapat Imunisasi Td di Kabupaten Blora

Jumlah WUS tahun 2020 sebanyak 231.310, yg mendapat 1 = 0,4%, 2 = 0,054%, Td-3 = 1,012%, Td-4 = 0,08 dan Td-5 = 0,02

18. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak Balita

Gambar 4.19 Bayi mendapat vitamin A

Cakupan vitamin A biru pada bayi usia 6 – 11 bulan tahun 2018 sebesar 100 % dan tahun 2019 sebesar 100 %, tahun 2020 sebesar 100 %. Cakupan dari 3 tahun terakhir telah sesuai

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 34 - dengan target standard pelayanan minimum ( SPM ) bidang kesehatan yakni sebesar 90 %.

Cakupan Vitamin A Biru baik, dikarenakan peran kader posyandu dan petugas atau tenaga kesehatan bekerja dengan baik dan maksimal.

Gambar 4.20 Balita mendapat vitamin A

Cakupan Vitamin A Merah Pada Balita di Kabupaten Blora Tahun 2017 - 2020

Cakupan vitamin A merah untuk balita tahun 2018 sebesar 100 % , tahun 2019 sebesar 100

%, dan pada tahun 2020 cakupan Vitamin untuk balita 100 %. Selama 3 (tiga) tahun terakhir telah sesuai dengan target standard pelayanan minimum (SPM ) bidang kesehatan yakni sebesar 90 % dikarenakan petugas melakukan sweeping kerumah balita yang belum diberi kapsul viatmin A merah.

19. Cakupan Balita ditimbang

Gambar 4.21 Cakupan balita ditimbang

Cakupan Balita D/S yang ditimbang di Kabupaten Blora tahun 2017 sebesar 79,2%, menurun di tahun 2018 yaitu menjadi 77,9%, tahun 2020 menurun sebanyak 77,4 Baduta BGM

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 35 - di tahun 2016 baduta BGM tidak dilaporkan, tahun 2018 sebanyak 1,5 %, dan tahun 2020 baduta BGM sebanyak 1,9 % .

20. Cakupan Pelayanan Anak Balita

Gambar 4.22 Cakupan pelayanan anak balita

Tahun 2019 balita yang mendapatkan pelayanan (98,6%), angka ini naik dibanding tahun 2018 ( 96,6%), dan tahun 2020 turun menjadi (98,09%). Dengan demikian kesadaran masyarakat untuk memantau tumbuh kembang balitanya dengan membawa anak balita berkunjung ke fasilitas kesehatan sudah baik.

21. Cakupan Balita Ditimbang

Gambar 4.23 Cakupan balita ditimbang

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 36 - Peran aktif masyarakat dan kader posyandu sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan penimbangan bayi dan balita.Tahun 2020 jumlah balita ada 60.579 yang ditimbang 68,18 % .Sedangkan target Kabupaten sebanyak 80%.

22. Cakupan Balita Gizi kurang Mendapat Perawatan

Balita gizi kurang adalah Status gizi yang didasarkan pada indeks berat badan menurut umur (BB/U) yang merupakan gabungan dari istilah gizi buruk dan gizi kurang dengan Z score <

-2 standar deviasi.Dari tahun 2016 – 2020 prosentase gizi buruk mengalami penurunan dan penurunan ini dikarenakan adanya intervensi program gizi yang telah diberikan secara

signifikan, diantaranya adalah pemberian makanan tambahan serta kegiatan Centre klinikgizi ( CKG ) di 12 Puskesmas, program deteksi dini di posyandu dll. Penyebab balita gizi buruk di Kabupaten Blora diantaranya penyakit infeksi ( TB Parudan Pneumonia ), pola asuh ibu yang belum mengarah ke gizi seimbang dan status social ekonomi keluarga yang rendah. Pola asuh yang tidak benar oleh orang tua mempunyai dampak yang besar bagi perkembangan gizi dan kesehatan balita.

Dilihat dari angka kasus mengalami penurunan dikarenakan adanya intervensi pemberian makananan tambahan serta kegiatan Centre klinik gizi ( CKG ), tahun 2015 s/d tahun 2020 di 12 Puskesmas yang angka gizi buruknya tinggi, akan tetapi secara prosentase memang penurunannya belum signifikan dikarenakan masih banyaknya orang tua yang status ekonominya rendah, adanya penyakit infeksi ( TB paru, pneumonia ) dan pola asuh ibu yang belum mengarah ke gizi seimbang.

Tabel 4.1

Status gizi balitaberdasarkan indeks BB/U dan TB/U

JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 JATI DOPLANG 1,754 274 15.6 1,754 194 11.1 1,754 167 9.5

2 0 RANDULAWANG 812 101 12.4 812 77 9.5 812 55 6.8

3 RANDUBLATUNG RANDUBLATUNG 2,415 119 4.9 2,415 151 6.3 2,415 67 2.8

4 0 KUTUKAN 1,849 305 16.5 1,849 184 10.0 1,849 172 9.3

5 MENDEN MENDEN 1,913 117 6.1 1,913 106 5.5 1,913 58 3.0

6 KEDUNGTUBAN KEDUNGTUBAN 2,283 285 12.5 2,283 378 16.6 2,283 164 7.2

7 0 KETUWAN 1,019 131 12.9 1,019 110 10.8 1,019 55 5.4

8 CEPU CEPU 2,751 135 4.9 2,751 50 1.8 2,751 39 1.4

9 0 NGROTO 939 116 12.4 939 158 16.8 939 55 5.9

10 0 KAPUAN 833 93 11.2 833 35 4.2 833 46 5.5

11 SAMBONG SAMBONG 1,361 150 11.0 1,361 112 8.2 1,361 91 6.7

12 JIKEN JIKEN 1,981 66 3.3 1,981 39 2.0 1,981 33 1.7

13 BOGOREJO BOGOREJO 1,021 165 16.2 1,021 91 8.9 1,021 64 6.3

14 JEPON JEPON 1,926 149 7.7 1,926 85 4.4 1,926 93 4.8

15 0 PULEDAGEL 984 81 8.2 984 115 11.7 984 42 4.3

16 BLORA BLORA 2,876 219 7.6 2,876 123 4.3 2,876 198 6.9

17 0 MEDANG 1,198 135 11.3 1,198 127 10.6 1,198 75 6.3

18 BANJAREJO BANJAREJO 3,539 336 9.5 3,539 172 4.9 3,539 141 4.0

19 TUNJUNGAN TUNJUNGAN 3,069 472 15.4 3,069 299 9.7 3,069 216 7.0

20 JAPAH JAPAH 1,959 275 14.0 1,959 137 7.0 1,959 117 6.0

21 NGAWEN NGAWEN 2,120 335 15.8 2,120 125 5.9 2,120 117 5.5

22 0 ROWOBUNGKUL 1,197 178 14.9 1,197 115 9.6 1,197 132 11.0

23 KUNDURAN KUNDURAN 2,403 358 14.9 2,403 372 15.5 2,403 197 8.2

24 0 SONOKIDUL 1,319 180 13.6 1,319 84 6.4 1,319 86 6.5

25 TODANAN TODANAN 2,991 279 9.3 2,991 80 2.7 2,991 172 5.8

26 0 GONDORIYO 547 73 13.3 547 78 14.3 547 22 4.0

JUMLAH (KAB/KOTA) 47,059 5,127 10.9 3,597 7.6 2,674 5.7

STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN INDEKS BB/U, TB/U, DAN BB/TB MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS KABUPATEN BLORA

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 37 - 23. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat

Gambar 4.25

Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat

Cakupan penjaringan siswa SD adalah pemeriksaan kesehatan terhadap peserta didik kelas 1 SD atau MI yg dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama kader kesehatan sekolah minimal pemeriksaan status gizi (TB,BB), pemeriksaan gigi, tajam penglihatan dan tajam pendengaran.Cakupan penjaringan siswa SD dari tahun 2018 s/d tahun 2019 sudah 100 % sudah mencapai target 100%. Hal ini karena puskesmas melakukan penjaringan pada semua SD. Cakupan penjaringan anak sekolah mencapai 100 % , dikarenakan dilakukan sweeping setelah pelaksanaan screening anak sekolah. Tahun 2020 tidak bisa 100 % karena ada pandemic COVID 19.

24. Rasio Tumpatan dan Pencabutan Gigi Tetap

Gambar 4.26

Rasio tumpatan dan pencabutan gigi tetap

Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut adalah Setiap penyelenggaraan upaya kesehatan gigi dan mulut untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan gigi dan mulut perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat secara paripurna, terpadu dan berkualitas. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diberikan dapat berupa: pemeriksaan, pengobatan, pencabutan gigi tetap/gigi sulung,

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 38 - penambalan tetap/sementara, pembersihan karang gigi yang dilakukan di sarana pelayanan kesehatan. Dilihat dari rasio tumpatan dan pencabutan mengalami kenaikan dari 0.4 di tahun 2018 menjadi 0.6 ditahun 2020. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai memperhatikan kesehatan gigi.

25. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak SD dan Setingkat

Gambar 4.27

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada anak SD dan setingkat

Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lainnya adalah Upaya Kesehatan Gigi Sekolah yang merupakan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah.

Cakupan pemeriksaan gigi murid SD/MI tahun 2018 sebanyak 58,4% dan tahun 2019 sebanyak 46,9%, tahun 2020 sebanyak 36,5%. Cakupan perawatan gigi murid SD/MI yang perlu mendapatkan perawatan tahun 2018 sebanyak 33,7% dan tahun 2019 sebanyak 68,1% tahun 2020 sebanyak 32,7%.

26. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut

Gambar 4.28 Pelayanan kesehatan usia lanjut

Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut di Kabupaten Blora Tahun 2019 sebesar 81,2%, mengalami peningkatan dibanding tahun 2018 sejumlah 65,96% dan tahun 2020

Profil Kesehatan Kabupaten Blora Tahun 2020 - 39 - sebesar 72,3%. Tetapi angka cakupan sudah mencapai target pelayanan kesehatan lansia yang sudah ditetapkan yaitu 60%.

27. Pelayanan Gawat Darurat Level 1 yang harus diberikan Pelayanan Kesehatan (RS) di Kabupaten Blora.

Jumlah Rumah Sakit di Kabupaten Blora tahun 2020 sebanyak 6 ( enam) unit RSU, dengan rincian 2 (dua) unit RSU Pemerintah, 1 (satu) unit RSU Tentara, 3 (tiga) unit RSU milik swasta.

RSU di Kabupaten Blora sebagai Sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses oleh masyarakat merupakan sarana kesehatan yang telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pelayanan gawat darurat dalam kurun waktu tertentu sesuai standart dan mempunyai kemampuan pelayanan gawat darurat level I, karena diwajibkan setiap Rumah Sakit untuk menyediakan pelayanan gawat darurat sesuai standar minimal klasifikasi Rumah Sakit tipe D.

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN

Dokumen terkait