BAB IV: ANALISIS STRATEGI PELAYANAN KESEHATAN HAJ
B. Tahapan-Tahapan Pelayanan Kesehatan Haji
1. Pelayanan Kesehatan di Tanah Air
Pada dasarnya urgensi dari faktor kesehatan dalam melaksanakan ibadah haji sudah dapat diketahui oleh bakal calon jama’ah haji melalui persyaratan pendaftaran haji, yaitu bahwasanya sebelum bakal calon jama’ah haji mendaftarkan diri sebagai calon jama’ah haji, disitu dapat ditemukan bahwa
salah satu syarat untuk mendaftarkan haji adalah dengan membawa bukti Surat Keterangan Sehat dari puskesmas domisili. Dari surat keterangan sehat
tersebut dapat di pastikan bahwa bakal calon jama’ah haji tersebut sudah
melakukan pemeriksaan kesehatan yang pertama sebelum terdaftar sebagai calon haji. dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk mendapatkan Surat Keterangan Sehat inilah yang pada dasarnya adalah merupakan tahapan
pelayanan kesehatan pertama yang dijalani oleh bakal calon jama’ah haji sebelum ia terdaftar sebagai calon jama’ah haji.
Namun pemeriksaan kesehatan ini belum termasuk kepada tahapan pelayan kesehatan yang sesunggunhnya, pemeriksaan kesehatan yang pertama
ini dimaksudkan untuk mendaftarkan diri sebagai calon jama’ah haji dengan
juga pembinaan kesehatan yang sesungguhnya yang harus dijalani oleh calon
jama’ah haji ialah ketika calon jama’ah haji sudah terdaftar sebagai calon jama’ah haji dengan nomor porsi pemberangkatan pada tahun 2010.4 Pada
tahapan ini bakal calon jama’ah haji diperiksa sesuai dengan standar
pemeriksaan kesehatan yang meliputi :
a. Anamnesis b. Pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan fungsional (bila memungkinkan dengan protokol yang ada). d. Pemeriksaan penunjang - Laboratorium klinik - Radiologi thoraks - EKG e. Tes Kebugaran.
Dari hasil pemeriksaan inilah akan dikeluarkan Surat Keterangan Sehat yang selanjutnya dijadikan sebagai salah satu persyaratan yang telah dipenuhi oleh bakal calon haji. Adapun pemeriksaan kesehatan yang sesungguhnya
yang akan dijalani oleh calon jama’ah haji ialah ketika calon jama’ah haji
sudah mendapatkan nomor porsi tahun pemberangkatan dan sudah melunasi seluruh biaya perjalanan ibadah haji.
4
65
Setelah bakal calon jama’ah haji mendapatkan nomor porsi tahun
pemberangkatan dan sudah melunasi seluruh biaya perjalanan ibadah haji, maka barulah ia akan menjalani proses pelayanan kesehatan yang terdiri dari tiga tahapan pelayanan kesehatan.5
Adapun pelayanan kesehatan yang pertama dilakukan di puskesmas domisili masing-masing calon jama’ah haji. Pemeriksaan tahap pertama ini adalah merupakan upaya penilaian status kesehatan tahap pertama terhadap
calon jama’ah haji sebagai persyaratan untuk mengikuti perjalanan ibadah haji. Pemeriksaan di lakukan oleh dokter yang diberi kewenangan sebagai dokter pemeriksa kesehatan, dibantu dengan perawat dan analis laboratorium. Pemeriksaan tahap pertama berfungsi sebagai alat penilaian status kesehatan dan alat pembinaan calon jama’ah haji. Dari hasil pemeriksaan tahap pertama
ini akan diketahui kategori calon jama’ah haji, apakah ia temasuk dalam kategori Mandiri, Observasi, Pengawasan, atau bahkan Tunda.6 Yang
dimaksud dengan Mandiri ialah calon jama’ah haji yang bersangkutan tidak
memiliki penyakit menular dan keadaan kesehatannya sudah memenuhi taraf istithoah yakni tidak ada penyakit yang dideritanya baik itu penyakit dengan kategori Resti (Resiko Tinggi) atau penyakit menular, atau penyakit biasa pada umumnya seperti demam dan influenza. Adapun yang di maksud dengan
Observasi ialah bahwa calon jama’ah haji memiliki penyakit yang bisa diatasi
5
Drs. H. Cecep Nuryadi,wawancara pribadi,(Bogor, 7 maret 2011).
6
oleh puskesmas, seperti penyakit TBC. Atau dengan kata lain maksud dari
Observasi ialah jika calon jama’ah haji memiliki penyakit tertentu, namun
sebelum pemberangkatan penyakit tersebut sudah bisa disembuhkan dengan cara meminum obat secara rutin dan penyakit ini masih bisa diatasi oleh pihak
puskesmas dengan tanpa dirujuk ke Rumah Sakit,maka calon jama’ah haji
tersebut masuk kedalam kategori Observasi. Kategori selanjutnya ialah
Pengawasan, disini calon jama’ah haji dirujuk ke Rumah Sakit karena suatu
penyakit yang memang tidak bisa di tangani oleh pihak puskesmas. Pada
kategori Pengawasan ini biasanya calon jama’ah haji yang bersangkutan adalah calon jama’ah haji yang memiliki Risti Usia juga Risti karena
penyakit. Yang terakhir ialah kategori Tunda, artinya calon jama’ah haji yang
termasuk kedalam kategori Tunda ini tidak bisa diberangkatkan pada tahun 2010 karena penyakit yang dideritanya belum bisa sembuh contohnya seperti penyakit jiwa.
Calon jama’ah haji yang masuk kedalam kategori tunda baru bisa
diberangkatkan setelah ia sembuh dari penyakitnya itu, atau minimal ia masuk kedalam kategori Pengawasan.7
Pemeriksaan kesehatan pada tahap pertama ini sangat dianjurkan oleh Kementerian Agama Kabupaten Bogor dan Dinkes Kabupaten Bogor. Sejak
calon jama’ah haji terdaftar sebagai calon jama’ah haji yang sudah
7
67
mendapatkan nomor porsi pemberangkatan pada tahun 2010, mereka diharapkan sudah menjalani pemeriksaan dan pembinaan kesehatan mnimal 6 kali sebelum berangkat meninggalkan tanah air, hal ini dimaksudkan dengan
tujuan jika diantara calon jama’ah memiliki keluhan atau penyakit tertentu,
maka jauh-jauh hari sebelum pemberangkatan calon jama’ah haji yang bersangkutan sudah bisa dibina kesehatannya. Jadi jika calon jama’ah haji
yang bersangkutan masuk kedalam kategori tunda, maka ia akan diusahakan kesembuhannya atau minimal masuk kedalam kategori Pengawasan, jika ia termasuk dalam kategori Pengawasan maka akan diusahakan masuk kedalam
kategori Observasi, bahkan jika calon jama’ah haji yang bersangkutan
memang sudah termasuk kedalam kategori Mandiri, maka ia akan tetap dibina kesehatannya agar keadaan kesehatannya tetap terjaga dengan baik.8
Pemeriksaan dan pembinaan kesehatan terhadap calon jama’ah haji
mempunyai peranan yang cukup signifikan guna mewujudkan kenyamanan dalam beribadah haji, terlebih bagi calon jama’ah haji yang masuk kedalam kategori Risti. Untuk calon jama’ah haji yang masuk dalam kelompok Risti,
Kementerian Agama dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor akan lebih
memperhatikan kesehatan jama’ah yang bersangkutan. Risti dapat digolongkan kedalam dua bagian, yang pertama Risti Sehat dan yang kedua adalah Risti Sakit. Yang dimaksud dengan Risti Sehat adalah kondisi
8
kesehatan jama’ah haji yang tidak mempunyai penyakit tertentu namun umur
yang dimiliki diatas 60 tahun atau lebih. Yang termasuk kedalam risti sehat juga adalah obesitas atau yang lebih dikenal dengan kelebihan berat badan atau juga Kaheksia yaitu kekurangan berat badan. Yang kedua adalah Risti
Sakit, yaitu kelompok jama’ah haji yang menderita penyakit kronis seperti epilepsi (ayan), hipertensi (darah tinggi), penyakit jantung, diabetes mellitus (sakit gula), asma, sakit maag, penyakit ginjal, penyakit saluran empedu hati, tumor ganas, dan kelompok lain yaitu usia lanjut diatas 70 tahun, dan penyakit rematik sendi.9
Bagi calon jama’ah haji yang masuk kedalam kategori Risti, maka
pembinaan kesehatan menjadi sesuatu hal yang mutlak diperlukan. Bahkan
dalam Buku Kesehatan Jama’ah Haji yang masuk kedalam kategori Risti akan
diberi stempel “Risti”. Hal ini untuk memudahkan pemantauan kesehatan terhadap jama’ah haji yag bersangkutan.10
Adapun prosedur pemeriksaan atau pelayanan kesehatan tahap pertama ialah sebagai berikut :
1. Calon jama’ah haji membawa surat pengantar dari kantor Kementerian Agama, untuk pemeriksaan kesehatan sesuai dengan tempat domisili calon
jama’ah haji.
9
Dr. Eulis Wulantari MPhdi.Wawancara pribadi, (Bogor : 16 maret 2011).
10
69
2. Biaya pemeriksaaan ditanggung oleh calon jama’ah haji sesuai dengan Peraturan Daerah nomor 13 tahun 2003.
3. Pemeriksaan kesehatan calon jama’ah hajimenggunakan protokol standar profesi kedokteran meliputi :
A. Anamnesis Riwayat Kesehatan
1). Riwayat kesehatan sekarang meliputi: - Penyakit menular tertentu
- Penyakit / disabiliti (kecacatan)
2). Riwayat kesehatan terdahulu meliputi penyakit yang pernah diderita (termasuk operasi yang pernah dijalani)
3). Riwayat penyakit keluarga B. Pemeriksaan fisik
C. Pemeriksaan penunjang 1). Laboratorium klinik
- Darah : Hb, golongan darah, LED, hitung jenis leukosit, jumlah leukosit
- Urin
Makro : Warna, Bau, Kejernihan, derajat keasaman, berat jenis
2). Radiologi ( thoraks )
3). EKG ( Elektrikal kardio gram )
4). Test kebugaran dengan metode harvard
5). Bagi calon jama’ah haji wanita pasangan usia subur (PUS) dilakukan test kehamilan dengan regen β-HCB. Bagi yang tidak hamil akan dianjurkan untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB). 4. Untuk calon jama’ah haji yang berusia diatas 40 tahun dilakukan
pemeriksaan radiologi thoraks AP, GDS, LDL dan EKG (bila perlu
dengan master’s test).
5. Untuk calon jama’ah haji yang berusia diatas 60 tahun dilakukan pemeriksaan fungsional Barthel Indeks.
6. Dokter pemeriksa menuliskan kode penyakit sesuai dengan ICD X.
7. Kesimpulan pemeriksaan dalam kategori Mandiri, Observasi, Pengawasan dan Tunda
8. Surat keterangan pemeriksaan kesehatan tahap pertama akan dikeluarkan
setelah calon jama’ah haji menjalani pemeriksaan kesehatan.
9. Surat keterangan tersebut merupakan kesimpulan hasil pemeriksaan. Kesimpulan tersebut akan dimasukan kedalam buku haji dengan tinta hitam, huruf balok yang berisi data status kesehatan calon jama’ah haji
71
Adapun setelah calon jama’ah haji menjalani proses pelayanan kesehatan
haji tahap pertama, maka selanjutnya ia akan menjalani proses pelayanan kesehatan tahap kedua. Pelayanan kesehatan tahap kedua ini dilaksanakan di tiga tempat wilayah kabupaten bogor yaitu di RSUD Ciawi, RSUD Cibinong, dan UPT Puskesmas Ciampea.11
Pada pemeriksaan dan pelayanan kesehatan tahap kedua ini calon
jama’ah haji dikelompokkan berdasarkan dari jarak Tempat Pelayanan (RSUD) dengan domisili calon jama’ah haji yang bersangkutan, jika domisili calon jama’ah haji yang bersangkutan lebih dekat dengan RSUD cibinong,
maka ia akan di kelompokkan ke RSUD Cibinong.12
Penyelenggaraan pemeriksaan tahap kedua di koordinasi sepenuhnya oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Biaya pemeriksaan sesuai dengan Perda no. 13 tahun 2003 dan Perda Rumah Sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Untuk pemanggilan calon jama’ah haji Kabupaten Bogor pada pemeriksaan tahap kedua ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor bekerjasama dengan Kementerian Agama Kabupaten Bogor.
Adapun waktu pemeriksaan dan pelayanan kesehatan tahap kedua di RSUD Ciawi ialah pada tanggal 16-18 september 2010 dengan kuota jama’ah
yang berjumlah 751 orang yang berasal dari 9 kecamatan yaitu Kecamatan
11
Gustomo,S.ST,Wawancara pribadi, (Bogor : 16 April 2011).
12
Ciawi, Caringin, Cigombong, Cijeruk, Ciomas, Cisarua, Tamansari, Megamendung dan Babakan Madang. Dari jumlah 751 orang jama’ah itu
yang datang untuk memeriksakan kesehatannya hanya berjumlah 595 orang dengan hasil sebagai berikut :
1. Telah diberikan 591 buku kesehatan haji yang dapat dipergunakan sebagai catatan medis calon jemaah haji, untuk memudahkan pembinaan, pemantauan dan tindak lanjut pengobatan dan perawatan di perjalanan, debarkasi haji selama di Arab Saudi dan 14 hari sekembalinya dari arab Saudi
2. Tiga orang jemaah belum bisa diberikan buku kesehatan haji dikarenakan: a. Satu belum mendapatkan imunisasi Meningitis Meningococcus karena kondisi kesehatannya tidak memenuhi syarat untuk diimunisasi (sedang Demam ) dan jemaah akan di imunisasi pada saat pemeriksaan kesehatan di RSUD Cibinong
b. Dua orang jemaah hasil laboratoriumnya Positif ditemukan bacteri tubercolosis sehingga menunggu hasil pemeriksaan laboratorium berikutnya setelah dilakukan pengobatan
3. Satu orang jemaah tidak dapat diberikan imunisasi dan buku kesehatan haji karena hasil pemeriksaan laboratorium positif hamil (11 minggu).
Adapun waktu pemeriksaan dan pelayanan kesehatan tahap kedua di RSUD Cibinong ialah pada tanggal 20-24 september 2010 dengan kuota
73
Kecamatan Ciseeng, Parung, Gunung Sindur,Tajurhalang, Sukaraja, Bojong Gede, Tanjungsari, Cibinong, Gunung Putri, Klapanunggal, Cariu, Sukamakmur, Citereup, Cileungsi dan Jonggol. Dari jumlah 1532 orang itu yang datang untuk memeriksakan kesehatannya hanya berjumlah 1297 dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut :
1. Jumlah jamaah yang diperiksa sebanyak 1297 jamaah
2. Telah diberikan 1296 buku kesehatan haji yang dapat dipergunakan sebagai catatan medis calon jemaah haji, untuk memudahkan pembinaan, pemantauan dan tindak lanjut pengobatan dan perawatan di perjalanan, debarkasi haji selama di Arab Saudi dan 14 hari sekembalinya dari arab Saudi
3. Satu orang jemaah belum dapat diberikan buku kesehatan haji dikarenakan menunggu hasil pengobatan penyakit TB paru dan hasil pemeriksaan specimen dahak dari laboratorium yang direkomendasikan.
Adapun waktu pemeriksaan dan pelayanan kesehatan tahap kedua di UPT Puskesmas Ciampea ialah pada tanggal 27-30 september 2010 dengan
kuota jama’ah yang berjumlah 896 orang yang berasal dari 16 kecamatan
yaitu Kecamatan Jasinga, Cigudeg, Sukajaya, Parung Panjang, Tenjo, Nanggung, Leuwiliang, Rancabungur, Cibungbulang, Pamijahan,
Leuwisadeng, Ciampea, Rumpin, Tenjolaya, Kemang dan Dramaga. Buku Kesehatan Haji yang dkeluarkan sebanyak 896 exemplar.
Total keseluruhan dari Buku Kesehatan Haji yang dikeluarkan oleh Dinas
Kesehatan adalah sebanyak 3.066 exemplar untuk 3066 calon jama’ah haji.
591 Buku Kesehatan Haji dikeluarkan pada saat pelayanan dan pemeriksaan kesehatan di RSUD Ciawi, 1296 Buku Kesehatan Haji dikeluarkan pada saat pelayanan dan pemeriksaan kesehatan di RSUD Cibinong, 896 Buku Kesehatan Haji dikeluarkan pada saat pelayanan dan pemeriksaan kesehatan di UPT Puskesmas Ciampea, dan sisanya lagi yaitu sebanyak 283 exemplar dikeluarkan pada saat pelayanan dan pemeriksaan kesehataan susulan di UPT Puskesmas Citeureup pada tanggal 17 oktober 2010.
Dari 3066 calon jama’ah haji yang telah mendapatkan Buku Kesehatan
Haji tersebut, hanya 3015 calon jama’ah haji yang siap berangkat pada sampai
hari pemberangkatan, diantara mereka ada yang menunda bahkan ada yang membatalkan pemberangkatan, untuk menunda atau membatalkan
pemberangkatan ini, calon jama’ah haji yang bersankutan diharuskan membawa surat pengantar yang ditujukan ke Kementerian Agama.13
Adapun prosedur pelayanan kesehatan tahap kedua ialah sebagai berikut :
13
75
1. Pendaftaran ulang pemeriksaan kesehatan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.
2. Pemeriksaan kesehatan CJH menggunakan protokol standar profesi kedokteran meliputi :
a). Anamnesis b). Pemeriksaan fisik
c). Pemeriksaan fungsional (bila memungkinkan dengan protokol yang ada).
d). Pemeriksaan penunjang - Laboratorium klinik - Radiologi thoraks - EKG
e). Imunisasi meningitis meningococcus (ACW135Y)
f). Test kebugaran (Harvard test).
Untuk prosedur pemeriksaaan tahap kedua ini tidak jauh berbeda dengan dengan tahap pertama, hanya saja pada tahap kedua ini calon jama’ah haji
akan diberikan imunisasi meningitis meningokokus, atau yang lebih dikenal dengan sebutan suntik vaksin, jika ada calon jama’ah haji yang belum diberikan suntik vaksin tersebut maka calon jama’ah haji yang bersagkutan
tidak akan diperkenankan untuk berangkat ketanah suci.14
14
Adapun jenis Vaksin yang diberikan pada pemeriksan kesehatan calon jemaah haji Kab.Bogor yaitu :
Men AlyophilizedMenveo Lot 020011. Men CYW-135 liquidMenveo Lot 090401
Buku kesehatan haji akan diberikan pada calon jama’ah haji apabila sudah melewati prosedur pemeriksaan yang telah ditetapkan dan sudah mendapat immunisasi meningitis meningococcus ACW135Y.
Selanjutnya tahap ketiga dari pelayanan kesehatan calon jama’ah haji
dilakukan di Embarkasi Bekasi oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Cirebon ( wilayah kerja KKP Cirebon). Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor melaksanakan pemantauan kesehatan selama perjalanan calon jama’ah haji
dari Kabupaten Bogor ke embarkasi Bekasi dan surveilans haji termasuk pengamanan higiene sanitasi makanan.
Ketika calon jama’ah haji berada di Embarkasi Bekasi, para calon jama’ah haji akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan kelengkapan
dokumen terutama dokumen Buku Kesehatan Haji dan Sertifikat Vaksinasi
Meningitis. Jika diantara calon jama’ah haji ada yang belum mendapatkan suntik vaksin, maka ia akan diberikan suntik vaksin pada saat berada di Embarkasi itu, namun peluang untuk terkena virus meningitis sangat besar,
77
karena imunisasi vaksin meningitis baru akan bereaksi minimal 14 hari setelah penyuntikan.15
2. Pelayanan Kesehatan di Tanah Suci
Untuk memudahkan pelayanan kesehatan di tanah suci, maka seluruh
calon jama’ah haji Indonesia akan dikelompokkan berdasarkan kloter
pemberangkatan. Dari setiap kloter inilah dibentuk Petugas jama’ah Haji yang menyertai kloter, adapun petugas jama’ah haji kloter ini terdiri dari :
1. Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) 1 orang. Atau yang biasa disebut dengan Ketua Kloter
2. Tim Pembimbing Ibdah Haji Indonesia (TPIHI) 1 orang. Atau yang biasa disebut dengan Kyai Kloter.
3. Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) 1 orang dokter, dan 2 orang Paramedis.
4. Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD)
5. Tim Pembimbing Ibadah Haji Daerah (TPIHD)
6. Tim Kesehatan Haji Daerah (TKHD)
8. Ketua Rombongan
15
9. Ketua Regu.16
Dari setiap kloter akan dibentuk 10 ketua rombongan dan 40 ketua regu.
Jika ada jama’ah haji yang sakit atau memiliki keluhan masalah kesehatan, maka ketua regu adalah orang pertama yang mengetahui hal itu karena ia lebih sering berinteraksi dengan anggota regu yang dipimpinnya. Ketika ia
mengetahui bahwa ada jama’ah yang sakit, maka ia akan memberitahukan ke ketua rombongan, yang selanjutnya ketua rombongan akan melaporkan ke
petugas tim kesehatan haji. jadi jika ada jama’ah haji yang sakit maka petugas
kloter dari tim kesehatan haji inilah yang bertanggung jawab. Jika tim kesehatan haji tidak mampu mengatasinya, maka jama’ah haji yang
bersangkutan akan dirujuk ke Balai Pengobatan Haji Indonesia Sektor. Pun jika Balai Pengobatan Haji Indonesia Sektor tidak mampu mengatasi, maka
jama’ah haji yang bersangkutan akan di rujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS). Dan biaya akan ditangung oleh pemerintah Indonesia dan Arab Saudi.17 Adapun jumlah jama’ah haji Indonesia yang wafat ketika berada di tanah suci berjumlah 4 orang. Dengan data sebagai berikut :
NO NAMA KLTR TEMPAT SEBAB MAKAM
1 Muthmainnah binti H.
Sueb
06 Madinah Gagal Jantung Baqi
2 Ujang Nasim bin Nasim 31 Madinah Sistem
Sirkulasi
Baqi
3 Siti Hawa binti Cobolo 70 Madinah Sistem
pernafasan
Baqi
16
Drs. H. Cecep Nuryadi,wawancara pribadi,(Bogor, 7 maret 2011).
17
79
4 Sugiono bin Sutardi 86 Mekah Sistem
Sirkulasi
Syara
3. Pelayanan Kesehatan Setelah Tiba Di Tanah Air (Pasca Haji)
Setelalah jama’ah haji menunaikan ibadah haji, maka selama 14 hari setelah tiba di tanah air ia di haruskan memeriksakan kesehatannya kembali ke puskesmas domisili, dengan membawa dokumen Buku Kesehatan Haji. Petugas puskesmas mengambil kartu K3JH dari BKJH dan menyerahkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, untuk selanjutnya di rekapitulasi dalam laporan KH5 dan dikirim ke provinsi.
Pengamanan kesehatan pasca haji ini dilakukan untuk mengetahui
sekaligus memantau apakah jama’ah haji mempunyai penyakit karantina atau
tertular penyakit setelah menunaikan ibadah haji.