BAB II : VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN
A. Pelayanan Kesehatan
Tabel 49 : Cakupan Pelayanan Kesehatan (Penjaringan) Siswa SD &
Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 50 : Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Menurut Kecamatan Dan
Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 51 : Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Anak SD Dan
Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 52 : Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Menurut Jenis
Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 53 : Cakupan Jaminan Kesehatan Penduduk Menurut Jenis Jaminan
Dan Jenis Kelamin Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 54 : Jumlah Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap, Dan Kunjungan
Gangguan Jiwa Di Sarana Pelayanan Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 55 : Angka Kematian Pasien Di Rumah Sakit Kabupaten Mojokerto
Tahun 2014
Tabel 56 : Indikator Kinerja Pelayanan Di Rumah Sakit Kabupaten
Mojokerto Tahun 2014
Tabel 57 : Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat
(Ber-Phbs) Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 58 : Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan Dan Puskesmas
Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 59 : Penduduk Dengan Akses Berkelanjutan Terhadap Air Minum
Berkualitas (Layak) Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kabupaten Tahun 2014
Tabel 60 : Persentase Kualitas Air Minum Di Penyelenggara Air Minum Yang
Memenuhi Syarat Kesehatan Kabupaten Tahun 2014
Tabel 61 : Penduduk Dengan Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Yang Layak
(Jamban Sehat) Menurut Jenis Jamban, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 62 : Desa Yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 63 : Persentase Tempat-Tempat Umum Memenuhi Syarat Kesehatan
viii
Tahun 2014
Tabel 64 : Tempat Pengelolaan Makanan (Tpm) Menurut Status Higiene
Sanitasi Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 65 : Tempat Pengelolaan Makanan Dibina Dan Diuji Petik Kabupaten
Mojokerto Tahun 2014
Tabel 66 : Persentase Ketersediaan Obat Dan Vaksin Kabupaten Mojokerto
Tahun 2014
Tabel 67 : Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan Kabupaten
Mojokerto Tahun 2014
Tabel 68 : Persentase Sarana Kesehatan (Rumah Sakit) Dengan
Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat (Gadar) Level I Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 69 : Jumlah Posyandu Menurut Strata, Kecamatan, Dan Puskesmas
Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 70 : Jumlah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
Menurut Kecamatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 71 : Jumlah Desa Siaga Menurut Kecamatan Kabupaten Mojokerto
Tahun 2014
Tabel 72 : Jumlah Tenaga Medis Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten
Mojokerto Tahun 2014
Tabel 73 : Jumlah Tenaga Keperawatan Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten
Mojokerto Tahun 2014
Tabel 74 : Jumlah Tenaga Kefarmasian Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten
Mojokerto Tahun 2014
Tabel 75 : Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat Dan Kesehatan
Lingkungan Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 76 : Jumlah Tenaga Gizi Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten Mojokerto
Tahun 2014
Tabel 77 : Jumlah Tenaga Keterapian Fisik Di Fasilitas Kesehatan
Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 78 : Jumlah Tenaga Keteknisian Medis Di Fasilitas Kesehatan
Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 79 : Jumlah Tenaga Kesehatan Lain Di Fasilitas Kesehatan
Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 80 : Jumlah Tenaga Penunjang/Pendukung Kesehatan Di Fasilitas
Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014
Tabel 81 : Anggaran Kesehatan Kabupaten/Kota Kabupaten Mojokerto
Bab1 Pendahuluan
Informasi kesehatan sangat dibutuhkan guna dalam mendukung keberhasilan pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan sebagai program berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sosial. Sesuai dengan visi Kementerian Kesehatan “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan” dan dengan Misinya “1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; 2) Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan; 3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; 4) Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik” diperlukan suatu indikator.
Dalam mencapai itu semua maka diperlukan suatu perencanaan yang sistematis. Perencanaan yang baik dapat dilaksanakan dengan mengacu pada data-data kesehatan yang ada. Sumber data-data kesehatan yang akurat ditunjang dengan adanya sitem informasi kesehatan yang baik. Dalam Rencana Pokok Program Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RP3JPK) disebutkan bahwa Sistim Informasi Kesehatan perlu dimantapkan dan dikembangkan untuk menunjang sepenuhnya pelaksanaan manajemen dan pengembangan upaya kesehatan melalui penerapan teknologi dari yang sederhana sampai yang mutakhir.
Profil Kesehatan adalah salah satu bentuk sistem infomasi kesehatan yang berupa gambaran umum tentang keadaan kesehatan di suatu wilayah. Data yang ada dalam Profil Kesehatan dapat berupa tabel maupun grafik yang menunjukkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah tertentu. Sehingga dari Profil Kesehatan tersebut dapat diketahui daerah mana yang perlu penanganan khusus. Oleh karena itu Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto di susun guna untuk menyediakan data/informasi yang akurat, situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah Kabupaten Mojokerto.
Dengan disusunnya buku Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto, maka akan lebih mudah dalam menentukan arah pengambilan kebijakan atau keputusan untuk pembangunan yang lebih intensif, merata dan berkesinambungan. Maka diharapkan derajat kesehatan masyarakat yang telah dicapai tersebut dapat semakin ditingkatkan serta dapat menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat.
Bab2 Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran
A. Visi
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, pasal 1 ayat 12, Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Penetapan visi sebagai bagian dari proses perencanaan pembangunan merupakan suatu langkah penting dalam perjalanan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan di daerah. Pada hakikatnya membentuk visi organisasi adalah menggali gambaran bersama tentang masa depan ideal yang hendak diwujudkan oleh organisasi yang bersangkutan. Visi adalah mental model masa depan, dengan demikian visi harus digali bersama, disusun bersama sekaligus diupayakan perwujudannya secara bersama, sehingga visi menjadi milik bersama yang diyakini oleh seluruh elemen organisasi dan pihak-pihak yang terkait dengan upaya mewujudkan visi tersebut. Visi yang tepat bagi masa depan suatu organisasi diharapkan akan mampu menjadi akselerator bagi upaya peningkatan kinerja organisasi.
Dengan memperhatikan arti dan makna visi serta melalui pendekatan membangun visi bersama, maka ditetapkan Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2011 - 2015 yakni :
“Terwujudnya Masyarakat Mojokerto Mandiri Dalam Hidup Sehat”
Untuk dapat menangkap arti dan makna dari visi tersebut maka perlu diberikan penjelasan visi sebagai berikut :
Masyarakat yang mandiri dalam hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat Mojokerto menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit ataupun termasuk gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
B. Misi
Setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai satu organisasi instansi pemerintah harus memastikan agar visi yang telah ditetapkan bersama dapat diupayakan perwujudannya. Untuk kepentingan itu harus disusun suatu tahapan yang secara umum akan terbagi kedalam dua tahapan yakni apa yang hendak dicapai
dan bagaimana upaya untuk mencapainya. Salah satu unsur dalam tahapan tersebut adalah penetapan misi organisasi yang dalam hal ini adalah misi Dinas Kesehatan.
Dalam rangka mewujudkan visi-nya maka ditetapkan misi yang diemban Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2011 - 2015 sebagai berikut :
1. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat;
2. Mewujudkan, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau;
3. Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan;
4. Meningkatkan dan mendayagunakan sumberdaya kesehatan. C. Tujuan
Tujuan organisasi merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi organisasi yang mengandung makna :
1) Merupakan hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu sampai tahun terakhir renstra;
2) Menggambarkan arah strategis organisasi dan perbaikan-perbaikan yang ingin diciptakan sesuai tugas pokok dan fungsi organisasi;
3) Meletakkan kerangka prioritas untuk memfokuskan arah sasaran dan strategi organisasi berupa kebijakan, program operasional dan kegiatan pokok organisasi selama kurun waktu renstra.
Berdasarkan arahan arti dan makna penetapan tujuan organisasi tersebut maka dalam kedudukannya sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah, Dinas Kesehatan dalam mewujudkan misinya menetapkan tujuan sebagai berikut :
1) Untuk mewujudkan misi “Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat” maka ditetapkan tujuan :
a) Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta mengembangkan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
2) Untuk mewujudkan misi “Mewujudkan, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau” maka ditetapkan tujuan :
a) Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit, Puskesmas dan jaringannya
b) Meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat.
c) Menjamin ketersediaan, pemerataan, pemanfaatan, mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan serta pembinaan mutu makanan.
3) Untuk mewujudkan misi “Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan” maka ditetapkan tujuan :
a) Mencegah, menurunkan dan mengendalikan penyakit menular dan tidak menular serta masalah kesehatan lainnya.
4) Untuk mewujudkan misi “Meningkatkan dan mendayagunakan sumberdaya kesehatan” maka ditetapkan tujuan :
a) Meningkatkan jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai standar.
D. Sasaran
Sasaran adalah merupakan penjabaran dari tujuan organisasi dan menggambarkan hal-hal yang ingin dicapai melalui tindakan-tindakan yang akan dilakukan secara operasional. Oleh karenanya rumusan sasaran yang ditetapkan diharapkan dapat memberikan fokus pada penyusunan program operasional dan kegiatan pokok organisasi yang bersifat spesifik, terinci, dapat diukur dan dapat dicapai.
Sasaran organisasi yang ditetapkan pada dasarnya merupakan bagian dari proses perencanaan strategis dengan fokus utama berupa tindakan pengalokasian sumber daya organisasi ke dalam strategi organisasi. Oleh karenanya penetapan sasaran harus memenuhi kriteria terinci, terukur, bertujuan, berorientasi dan tepat guna (specific, measurable, agresive but attainable, result oriented and time bond). Guna memenuhi kriteria tersebut maka penetapan sasaran harus disertai dengan penetapan indikator sasaran, yakni keterangan, gejala atau penanda yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan upaya pencapaian sasaran atau dengan kata lain disebut sebagai tolok ukur keberhasilan pencapaian sasaran.
Berdasarkan makna penetapan sasaran tersebut maka sampai dengan akhir tahun 2015, Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto menetapkan sasaran dengan rincian sebagai berikut :
1) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 1 “Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta mengembangkan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)” maka ditetapkan sasaran :
a. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta pemberdayaan masyarakat ke arah kemandirian
2) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 2 “Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit, Puskesmas dan jaringannya” maka ditetapkan sasaran :
a. Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan ibu, bayi, anak, remaja dan lanjut usia serta kesehatan reproduksi
b. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan penunjang
3) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 2 “Meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat” maka ditetapkan sasaran :
a. Meningkatkan keluarga sadar gizi dan perbaikan gizi masyarakat
4) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 2 “Menjamin ketersediaan, pemerataan, pemanfaatan, mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan serta pembinaan mutu makanan” maka ditetapkan sasaran :
a. Meningkatkan pengelolaan obat, perbekalan kesehatan dan makanan
5) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 3 “Mencegah, menurunkan dan mengendalikan penyakit menular dan tidak menular serta masalah kesehatan lainnya” maka ditetapkan sasaran :
a. Menurunnya angka kesakitan dan kematian penyakit menular, tidak menular dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi serta pengamatan penyakit dalam rangka sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan KLB/wabah, ancaman epidemi serta bencana
6) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 4 “Meningkatkan jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai standar” maka ditetapkan sasaran :
a. Meningkatnya jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai standar
Bab3 Gambaran Umum Kabupaten
Mojokerto
A. GEOGRAFIS 1. Letak
Kabupaten Mojokerto ditinjau dari astronomi dan geografis berada antara 7o
18‟ 35” sampai dengan 7 o 39‟ 47” Lintang Selatan dan 5 o 52„ 0” Bujur Timur,
tepatnya 50 km sebelah barat Ibukota Kabupaten Mojokerto yaitu Surabaya, dengan batas-batas :
a. Sebelah Utara : Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik
b. Sebelah Timur : Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik
c. Sebelah Selatan : Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan
d. Sebelah Barat : Kabupaten Jombang dan Kabupaten Malang
Dengan Pusat Pemerintahan terletak didalam wilayah Kota Mojokerto. 2. Iklim
Seperti wilayah Jawa Timur pada umumnya, Kabupaten Mojokerto beriklim tropik, namun dalam tiga tahun terakhir lama musim penghujan dan musim kemarau mulai tidak seimbang. Sehingga mengakibatkan pergantian musim yang tidak tentu.
B. KEADAAN PENDUDUK
Data kependudukan sangat penting dan mempunyai arti yang sangat strategis dalam pembangunan pada umumnya dan bidang kesehatan pada khususnya. Hampir semua kegiatan pembangunan kesehatan obyek sasarannya adalah masyarakat atau penduduk.
Kondisi data Kependudukan di Kabupaten Mojokerto sebagai berikut : 1. Pertumbuhan Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Mojokerto menurut perhitungan proyeksi dari data pusdatin pada tahun 2014 sebanyak 1.072.840 jiwa. Dimana jumlah rumah tangga 371.986.
2. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Distribusi penduduk menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut :
Laki-laki : 535.068 jiwa
Sex Ratio : 99,50
Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) : 44,97
Gambar 1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dan Kelompok Umur Tahun 2014 Kab. Mojokerto
Jumlah penduduk usia (0 – 4 tahun) sebesar 86.386 jiwa, usia (5 – 9 tahun) sebesar 85.237 jiwa, usia ( 10 – 14 tahun) sebesar 82.296 jiwa, usia (15 – 19 tahun) sebesar 89.409 jiwa, usia (20 – 24) sebesar 83.211 jiwa, usia (25 –
29) sebesar 81.240 jiwa, usia (30 – 34) sebesar 84.671 jiwa, usia (35 – 39)
sebesar 86.669 jiwa, usia (40 – 44) sebesar 85.314 jiwa, usia (45 – 49) sebesar
80.171 jiwa, usia (50 – 54) sebesar 68.879 jiwa, usia (55 – 59) sebesar 52.669
jiwa, usia (60 – 64) sebesar 38.622 jiwa, usia (65 – 69) sebesar 27.660 jiwa,
usia (70 – 74) sebesar 19.427 jiwa dan usia (75+ tahun) sebesar 20.979 jiwa
(Tabel 3).
3. Kepadatan Penduduk
Luas wilayah Kabupaten Mojokerto adalah 692.15 km2, dengan jumlah
penduduk 1.072.840 jiwa. Dimana terdapat 304 desa dan kelurahan, dengan
299 desa dan 5 kelurahan. Kepadatan penduduk per Km2 adalah 1.550,0
Bab4 SITUASI DERAJAT
KESEHATAN
A. DERAJAT KESEHATAN
Tujuan Pembangunan Kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya produktif secara sosial dan ekonomis sesuai dengan Undang-Undang No. 36 tahun 2009. Keberhasilan Pembangunan Kesehatan dapat dilihat dari berbagai indikator yang digunakan untuk memantau derajat kesehatan sekaligus sebagai evaluasi keberhasilan pelaksanaan program.
Untuk mengetahui gambaran derajat kesehatan masyarakat dapat diukur dari indikator-indikator yang digunakan antara lain angka kematian, angka kesakitan serta status gizi. Indikator tersebut dapat diperoleh melalui laporan dari fasilitas kesehatan (fasility based) dan dari masyarakat (community based).
Perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dan kesakitan dalam masyarakat dari waktu kewaktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survei dan penelitian.
B. ANGKA KEMATIAN
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Kematian bayi yang dimaksud adalah kematian yang terjadi pada bayi sebelum mencapai usia satu tahun. Angka kematian bayi (AKB) atau Infan Mortality Rate adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab dari kematian bayi di Kabupaten Mojokerto diakibatkan oleh BBLR (berat badan lahir rendah), asfiksia, kongenital, infeksi, dan lain-lain.
Selama tahun 2014 dilaporkan terjadi 16.542 kelahiran. Dari seluruh kelahiran, tercatat 59 kasus lahir mati dan kasus kematian bayi sebesar 127, diantaranya laki-laki sebanyak 83 bayi dan sebanyak 44 bayi perempuan (Tabel 5). Jumlah kematian tertinggi ada pada Kecamatan Pungging yaitu 11 bayi. Dibandingkan dengan tahun 2013 kasus kematian bayi sebesar 129 bayi, maka telah terjadinya penurunan kasus kematian bayi. Dengan angka kematian bayi di tahun 2014 adalah 7,68 per 1000 kelahiran hidup. Penurunan angka ini dikarenakan sudah tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta sudah tersedianya ruang PONED di beberapa
Puskesmas. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Kematian balita yang dimaksud adalah Kematian yang terjadi pada balita sebelum usia 5 (lima) tahun (bayi + anak balita). Angka kematian balita adalah jumlah anak yang meninggal sebelum usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian balita tahun 2014 sebanyak 136 anak, dengan jumlah laki-laki 86 anak dan perempuan 50 anak. Jumlah kematian anak balita tahun 2014 sebanyak 9 anak, dimana jumlah laki-laki 3 anak dan perempuan 6 anak (Tabel 5).
Kasus kematian bayi yang terjadi selama 5 tahun berturut-turut dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, dapat dilihat pada diagram di bawah ini :
Gambar 2. Jumlah Kematian Bayi Kabupaten Mojokerto Tahun 2010- 2014 2. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Kematian ibu yang dimaksud adalah kematian perempuan pada saat hamil dan atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh, dll. Angka kematian ibu dihitung per 100.000 kelahiran hidup.
Angka Kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi bahkan tertinggi diantara negara tetangga. Penyebab kematian ibu di sarana pelayanan kesehatan, pada umumnya disebabkan karena 3 T (terlambat mengambil keputusan, terlambat mendapatkan transportasi dan terlambat penanganan di sarana pelayanan kesehatan) dan 4 Terlalu (terlalu tua, terlalu banyak, terlalu muda, terlalu dekat jarak kehamilannya).
Jumlah kematian ibu di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2014 sebanyak 15 kasus yang terdiri dari 8 kasus pada Kematian Ibu Hamil, tidak ada kematian pada Ibu Bersalin dan 7 kasus pada Kematian ibu Nifas. Jika dirinci menurut kelompok
umur kesemua kasus kematian ibu tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut, kematian pada Ibu Hamil 5 orang meninggal pada usia 20-34 tahun dan 3 orang lagi meninggal pada usia ≥35 tahun. Pada kematian Ibu Nifas terdapat 5 orang yang meninggal pada usia 20-34 tahun, dan 2 orang pada usia ≥ 35 tahun (Tabel 6). Secara keseluruhan ada penurunan angka kematian ibu jika dibandingkan dari tahun 2013 dimana angka kematian tahun 2013 adalah 133,95 dan tahun 2014 sebesar 90,68 per 100.000 kelahiran hidup.
Beberapa penyebab terjadinya kematian pada ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, keracunan kehamilan (Pre eklamsi), infeksi dan penyebab yang lainnya bila dilihat dari hasil laporan tersebut. Perlu dicermati bahwa masyarakat masih belum memahami secara benar penanganan ibu hamil, masyarakat masih menganggap perdarahan yang dialami bumil merupakan suatu hal yang biasa, keadaan ini berdampak pada keterlambatan merujuk ke fasilitas kesehatan terdekat serta persiapan rujukan yang dilakukan oleh keluarga serta penanganan perdarahan di fasilitas kesehatan perlu dilakukan secara adequat sehingga kesiapan peralatan yang memadai serta ketrampilan petugas merupakan sesuatu yang wajib ada di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kasus kematian maternal yang terjadi selama 5 tahun berturut-turut dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, dapat dilihat pada diagram dibawah ini (gambar 3).
Gambar 3. Jumlah Kematian Ibu Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 - 2014 Upaya Dinas Kesehatan untuk menurunkan AKI dan AKB :
Pembinaan teknis berkala (pertemuan bidan,evaluasi kinerja,validasi data dll)
Kemitraan Bidan dan Dukun
Pengembangan desa pelaksana P4K (Program Perencanaan Persalinan dan
Peningkatan Ketrampilan Tenaga Kesehatan: APN (Asuhan Persalinan Normal), SDIDT (Stimulasi Dini Intervensi Deteksi Tumbuh Kembang Anak), Pemasangan dan Pencabutan IUD dan Implan, Konseling.
Peningkatan kerjasama Lintas Sektor dan Lintas Program
Pengembangan pelayanan persalinan melalui JKN.
C. Morbiditas/ Angka Kesakitan
Morbiditas diartikan sebagai angka kesakitan, baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga dihadapkan pada transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda (double burden). Di satu sisi masih dihadapi tingginya penyakit infeksi (baik re-emerging maupun new emerging) serta gizi kurang, namun disisi lain dihadapi pula meningkatnya penyakit non infeksi dan degeneratif. Bagi kelompok usia produktif, kesakitan sangat mempengaruhi produktivitas dan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan.
Angka kesakitan diperoleh dari laporan yang ada pada sarana pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas melalui pencatatan dan pelaporan maupun dari community based data yang diperoleh melalui pengamatan (surveilance).
1. Tuberkulosis (TB)
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kasus baru TB BTA+ merupakan Pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). TB BTA + yaitu penemuan pasien TB melalui pemeriksaan dahak sewaktu- pagi- sewaktu (SPS) dengan hasil pemeriksaan mikroskopis :
a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif b. Terdapat 1 spesimen dahak SPS dengan hasil BTA positif dan foto toraks
dada menunjukan gambaran tuberculosis
c. Terdapat 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya dengan hasil BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
Pengendalian TB di Kabupaten Mojokerto memakai strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS). Dengan program ini kita berusaha mencapai target penemuan penderita sebesar 70% dari perkiraan penderita TB BTA+ kasus baru dengan tingkat kesembuhan sebesar 85 %. Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah
pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.
Jumlah Penderita TB BTA+ Paru Baru Kab. Mojokerto tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, dapat dilihat dari diagram dibawah ini :
Gambar 4. Penderita TB Paru BTA+ Di Kab. Mojokerto Tahun 2010 – 2014 Pemberantasan penyakit tuberculosis paru dilaksanakan mengacu pada komitmen nasional yaitu menggunakan pendekatan Directly Observe Treatment Shortcourse (DOTS) atau pengobatan TB paru dengan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat (PMO). Jumlah kasus TB paru baru sebesar 470 dengan angka kematian selama pengobatan per 100.000 penduduk sebesar 0,47 dengan