KAJIAN PUSTAKA
B. Pendidikan Inklusif
3. Pelayanan pada Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
anak berkesempatan untuk berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan kelas reguler, tanpa memandang kelainan, ras, atau karakteristik lainnya.38 Dalam perspektif Islam, pendidikan inkluisf dapat ditinjau dalam ayat berikut:
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengena”.(Q.S. Al-Hujurat: 13). 39
Pada ayat tersebut dapat dipahamai, bahwa manusia sama dihadapan Allah SWT. Semua ciptaan Allah SWT memiliki nilai yang sama dihadapan Allah SWT kecuali yang memiliki ketaqwaan lebih. Untuk itu siapapaun yang memiliki keterbatasan kapasittas secara mental maupun sosial dan psikologis tentu juga memiliki hak dalam menjalani kehidupannya terutama pada aspek pemenuhan kebutuhan pendidikan, sehingga pendidikan inklusi menjadi suatu keniscayaan.
3. Pelayanan pada Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah, maka proses pelayanan pendidikan terhadap siswa berkebutuhan khusus setidak harus memperhatikan hal sebagai berikut:40
a. Perencanaan Pembelajaran Inklusif
Perencanaan pembelajaran disusun berdasarkan asesmen siswa. Asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang perkembangan peserta didik dengan menggunakan alat dan teknik sesuai untuk membuat keputusan pendidikan yang berkenaan dengan penempatan dan
38 Rahim, Abdul. Pendidikan Inklusif Sebagai Strategi dalam Mewujudkan Pendidikan untuk Semua.
Jurnal Pendidikan Ke-SD-an. Vol. 3. Nomor 1. September 2016. hlm.69
39 Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus “AMM”. Al-Qur’an Iqra Al-Waqfu ………... Hal. 100
38
program yang sesuai bagi peserta didik tersebut. Dengan adanya asesmen, maka perencanaan pembelajaran dapat disusun berdasarkan karakter dan kemampuan siswa ABK sehingga pembelajaran dapat sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru tidak dapat membuat suatu perencanaan tanpa adanya hasil asesmen, dan kurikulum tidak akan bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan siswa ABK tanpa adanya asesmen pula. Asesmenini dilakukan melalui koordinasi kerja antara para GPK, guru mata pelajaran, psikolog, bahkan dokter spesialis. Setelah hasil asesmen ini diketahui, maka GPK berkoordinasi dengan guru mata pelajaran menyusun RPP yang nantinya akan digunakan untuk melaksanakan pembelajaran bagi siswa ABK. Kurikulum yang digunakan sama dengan yang digunakan siswa normal lainnya, dengan adanya modifikasi. Bentuk modifikasi tersebut adalah penyederhanaan kompetensi dasar, materi, bentuk evaluasi, materi pembelajaran, dan standar ketuntasan minimal.
b. Pelaksanaan pembelajaran inklusif
Pelaksanaan belajar siswa inklusif menerapkan sistem kelas Pull Out, maksudnya selama siswa ABK dapat mengikuti pembelajaran di dalam kelas 38espons, maka siswa tersebut akan belajar bersama-sama dengan siswa regular lainnya. Apabila siswa ABK tidak dapat mengikuti pembelajaran di dalam kelas reguler, maka siswa tersebut akan ditarik dari kelas reguler untuk belajar di dalam ruang belajar inklusi. Pelaksanaan pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus memakaiprogram pembelajaran individual (PPI) yang berasal dari kurikulum modifikasi.
c. Evaluasi pembelajaran inklusif
Kegiatan evaluasi pembelajaran inklusif yang dilakukan adalah melalui ulangan harian, UTS, Ujian Akhir Semester, Ujian Akhir Sekolah, dan penugasan-penugasan lainnya. Melalui kegiatan evaluasi ini maka akan diperoleh hasil belajar siswa, apakah sudah dapat mencapai target atau standar yang telah ditentukan atau belum. Jika belum mencapai standar
39
tersebut, maka akan diberikan remedial berupa penugasan lain sesuai dengan materinya. Soal-soal ujian yang diberikan untuk siswa ABK berbeda dengan soal siswa regular. Soal untuk ABK disusun oleh GPK yang bekerjasama dengan guru mata pelajaran dan telah disesuaikan dengan tingkat kemampuan belajar siswa ABK. Untuk siswa ABK yang dinilai mampu untuk mendapatkan standar evaluasi yang sama dengan siswa reguler, maka akan mengerjakan tes evaluasi standar kelas reguler, akan tetapi berdasarkan kemampuan siswa ABK, maka bentuk evaluasinya telah mendapatkan penyesuaian khusus terhadap kemampuan siswa ABK. Hal tersebut disesuiakan dengan pendekatan yang telah dipakai guru dalam pembelajaran
d. Faktor pendukung dan penghambat pembelajaran inklusif
Hal-hal yang mendukung pendidikan inklusif di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah surat keputusan yang menyatakan bahwa sekolah yang ditunjuk berhak dan bertanggungjawab dalam memfasilitasi pendidikan bagi ABK. Peran selanjutnya adalah memberi pelatihan serta mengirim para Guru Pendamping Khusus atau GPK untuk mengikuti pelatihan serta workshop tentang pendidikan inklusif dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi para GPK dalam pendidikan inklusif. Sarana dan prasarana pendukung berupa ruang belajar khusus jika ABK yang bersangkutan mengganggu siswa lain dikelasnya dan membutuhkan penenangan dari GPK ataupun psikolog, media pembelajaran, dan lain sebagainya juga perlu diperhatikan oleh sekolah guna mendukung pembelajaran yang diberikan untuk siswa berkebutuhan khusus. Adanya program sosialiasi terkait penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah juga diperlukan sehingga seluruh pihak yang ada di sekolah dapat menerima kondisi ABK dan memberikan lingkungan yang ramah kepada mereka. Orangtua juga sangat mendukung pelayanan pembelajaran inklusi dengan menujukkan kerjasama yang positif terhadap keberadaan siswa ABK. Faktor penghambat yang sangat terlihat dan terasa adalah berasal dari siswa berkebutuhan khusus sendiri. Dengan kondisi siswa berkebutuhan
40
khusus yang sebagian besar memiliki hambatan kognitif, emosi, dan sosial, membuat pembelajaran terkadang menjadi tidak kondusif lagi. Hambatan yang dimiliki oleh siswa ABK tersebut, membuat proses adaptasi dan sosialisasi mereka terhadap lingkungan belajar menjadi lebih sulit, sehingga dapat memunculkan permasalahan saat pembelajaran.
Dari paparan diatas, dapat dipahami bahwa pelayanan pendidikan di skolah pada anak atau siswa berkebutuhan khusus terutama pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif harus memperhatikan beberapa hal. Hal-hal tersebut dimulai dari proses pembelajaran. Proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kapasitas siswa. Adanya seorang guru pendamping yang memang ditugaskan untuk mereka, serta bagaimana memberikan penjelasan kepada siswa berkebutuhan khusus juga menjadi hal pennting. Setelah itu, proses penilaian serta evaluasi pembelajaran juga harus terdesain dengan baik dan sesuai.
Hal tersebut tidak akan berjalan jika tidak didukung oleh sarana dan pra sarana yang memadai. Selain di kelas, tentu siswa berkebutuhan khusus juga harus diberikan pendampingan khusus untuk meningkatkan kapasitas mereka. Tentu ini juga menjadi atensi bagi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Dan dari kedua hal tersebut tentu, peran guru itu sendiri serta dukungan orang tua juga harus ada supaya apa yang dilakukan sekolah menjadi perhatian orang tua dan dapat sekiranya di tingkatkan saat siswa berkebutuhan khusus tersebut berada di rumah bersama dengan keluarga terutama orang tua.
Dengan demikian, dalam penelitian ini definisi pendidikan inklusif adalah upaya yang diperuntukkan untuk siswa berkebutuhan khusus yaitu yang memiliki ketunaan seperti autis, keterlambatan belajar, keterlambatan berpikir, dan gangguan sosial untuk belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa dengan teman sebaya atau seusianya, serta mengakomodasi semua siswa tanpa membedakan kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional yang diselenggarakan oleh sekolah yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan terkait melalui Surat
41
Keputusan sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dengan memberikan pelayanan berupa pembelajaran yang sesuai, sarana dan prasarana yang memadai dengan pelibatan guru dan orang tua.