KAJIAN PUSTAKA
B. Pendidikan Inklusif
2. Pengertian Pendidikan Inklusif
Istilah pendidikan inklusif digunakan untuk mendeskripsikan penyatuan anak-anak berkebutuhan khusus (penyandang hambatan) ke dalam program sekolah. Konsep inklusif memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerimaan anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, dan interaksi sosial yang ada di sekolah. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada
34
umumnya. Bagi banyak siswa penyandang cacat, tujuan awal khusus pendidikan adalah untuk memastikan bahwa mereka diberikan kesempatan untuk menghadiri dan mendapat keuntungan dari pendidikan.35 Pengertian pendidikan dalam Permendiknas di atas memberikan penjelasan secara lebih rinci mengenai siapa saja yang dapat dimasukkan dalam pendidikan in-klusif. Perincian yang diberikan pemerintah ini dapat dipahami sebagai bentuk kebijakan yang sudah disesuaikan dengan kondisi Indonesia, sehingga pemerintah memandang perlu memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik dari yang normal, memilik kelainan, dan memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan.
Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kelainan, memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Juga anak tidak mampu belajar karena sesuatu hal: cacat, autis, keterbelakangan mental, anak gelandangan, memiliki bakat serta potensi lainnya. Tujuan pendidikan inklusif adalah memberikan intervensi bagi anak berkebutuhan khusus sedini mungkin. Diantara tujuannya adalah sebagai berikut:36
a. Untuk meminimalkan keterbatasan kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak dan untuk memaksimalkan kesempatan anak terlibat dalam aktivitas yang normal.
b. Jika memungkinkan untuk mencengah terjadinya kondisi yang lebih parah dalam ketidak teraturan perkembangan sehingga menjadi anak yang tidak berkemampuan.
c. Untuk mencengah berkembangnya keterbatasan kemampuan lainnya sebagai hasil yang diakibatkan oleh ketidak mampuan utamanya.
Dengan demikian, pendidikan inkuusif memiliki tujuan yang postif. Dengan pendidikan inklusi setiap anak, terutama anak-anak yang memiliki keterbatasan baik secara mental maupun fisik dan yang ingin belajar di
35
Vaughn, Sharon & Thompson, Silvia Linan. What Is Special About Special Education for Student with
Leraning Disabilities?. The Journal of Special Education Vol. 37/NO. 3/2003/PP.140-147. Hal. 14
35
sekolah dan bersosialisasi dengan teman sebaya atau seusianya. Disisi lain, dengan adanya pendidikan inklusif anak-anak yang memiliki kapasitas terbatas dapat mengalami perkembangan dari segi psikologisnya dan tidak bertambah parah apa yang menjadi keterbatasannya.
Adapun siswa berkebutuhan khusus adalah mereka yang 37 :
1) Tunanetra yaitu seseorang yang rusak penglihatannya. Secara definisi, yang dikaitkan dengan ilmu pendidikan seseorang disebut tunanetra adalah anak yang belajar dan mereka harus menggunakan alat indera yang lain, yang memiliki tingkat kerusakan penglihatan dan karenanya memerlukan metode pengajaran khusus, yang ketajaman penglihatan rendah/lemah (low vision) yang masih dapat membaca tulisan cetak serta yng memiliki masalah dengan mobilitas, bantuan penglihatan, dan buta warna.
2) Tunarungu wicara yaitu seseorang yang mengalami hambatan pendengaran dan bicara akibat dari tidak berfungsinya sebagian atau seluruh organ pendengaran maupun bicara
3) Tunagrahita yaitu kondisi kemampuan mental seseorang berada di bawah normal. Istilah ini digunakan untuk anak yang memiliki perkembangan inteligensi yang terlambat. Setiap klasifikasi selalu diukur dengan tingkat IQ mereka yang terbagi dalam tiga klasifikasi yaitu tuna grahita ringan (ditandai dengan ciri masih mampu diajak komunikasi, bahkan masih mampu melakuka aktivitas lain seperti memasak, menjahit serta secara fisik tidak terlalu mencolok), selanjutnya adalah tuna grahita sedang (sama dengan tuna grahita ringan, akan tetapi mereka tidak cukup mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung, namun masih dapat mengingat alamat rumah dan nama sendir), yang terakhir adalah tuna grahita berat (sering disebut sebagai idiot yaitu dalam aktivitas sehari-hari membutuhkan
37
Astuti, Idayu & Waletiningsih, Olim. Pakem Sekolah Inklusi. Malang : Bayumedia Publishing. 2011. Hal. 21-35
36
pengawasan, perhatian, dan layanan khusus. Ciri paling utama adalah mereka tidak mampu dalam mengurus dirinya sendiri)
4) Tunadaksa yaitu kondisi adanya kelainan fisik, sehingga tidak dapat menjalankan fungsi fisik secara normal. Dalam golongan ini contohny adalah yang menderita epilepsi, kelainan tulang belakang, gangguan pada tulang dan otot, serta yang mengalami amputasi.
5) Tunalaras yaitu seseorang yang mengalami gangguan emosi, sehingga menunjukkan adanya penyimpangan perilaku seperti menyakiti diri sendiri atau menyerang teman. Dengan kata lain bisa juga disebut sebagai ketidakmampuah mengendalikan emosi, suasana hati yang tidak bahagia atau tertekan, suit menjalin hubungan interpersonal, dan gangguan kehidupan orang lain.
6) Berkesulitan Belajar yaitu anak yang memiliki tingkat kecerdasan normal naum prestasi belajar tidak sesuai dengan kemampuan yang dapat disebabkan karena adanya disfungsi sistem saraf pusat
7) Autisme adalah gangguan perkembangan neurologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi secara wajar, sering melakukan pengulangan aktivitas, salah ucap saat mengucapkan isi hatinya, serta komunikasi yang terhambat
Dengan demikian, Pendidikan inklusif adalah hak asasi, dan ini merupakan pendidikan yang baik untuk meningkatkan toleransi sosial. Secara sederhana ada beberapa hal yang bisa kita pertimbangkan, antara lain: (a) Semua anak memiliki hak untuk belajar secara bersama-sama, (b) Keberadaan anak-anak jangan didiskriminasikan, dipisahkan, dikucilkan karena kekurangmampuan atau mengalami kesulitan dalam pembelajaran, (c) Tidak ada satupun ketentuan untuk mengucilkan anak dalam pendidikan. Pendidikan inklusif merujuk pada pendidikan untuk semua yang berusaha menjangkau semua orang tanpa kecuali. Perubahan pendidikan melalui pendidikan inklusif memiliki arti penting khususnya dalam kerangka pengembangan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Secara teoritis pendidikan inklusif adalah proses pendidikan yang memungkinkan semua