• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAYANAN PASIEN (PP)

Dalam dokumen Buku Saku RS Telogorejo (2) (Halaman 35-43)

NO. PERTANYAAN JAWABAN 1.  Apa saja yang

termasuk pasien dan pelayanan berisiko tinggi di RS Royal Progress?

Pasien keadaan darurat.

Pasien menggunakan layanan resusitasi

Pasien dengan pemberian darah dan produk darah.

Pasien yang menggunakan alat bantu kehidupan.

Pasien yang menderita penyakit menular dan penurunan kekebalan tubuh (immune-suppressed ).

Pasien yang menjalani dialisis.

Pasien yang menggunakan alat pengekang (restraint )

keterbatasan, anak-anak, dan populasi yang berisiko

diperlakukan tak senonoh. 2. Bagaimana prosedur penyimpanan, penyajian dan pendistribusian makanan kepada pasien?

Makanan disiapkan dan disimpan dengan cara mengurangi risiko kontaminasi dan pembusukan. Makanan didistribusi secara tepat waktu dan memenuhi permintaan. SPO Penyimpanan, Penyajian dan Pendistribusian Makanan

3. Bagaimana prosedur penanganan pasien-pasien dalam tahap terminal?

Rumah sakit memahami kebutuhan pasien yang unik pada akhir kehidupan dengan menyediakan ruangan khusus bagi pasien tahap terminal.

SPO Pelayanan Pasien Terminal 4. Bagaimana prosedur

penanganan pasien restraint?

restraint adalah suatu metode / cara pembatasan / restriksi yang disengaja terhadap gerakan / perilaku seseorang. Jenis-jenis :

1. Pembatasan Fisik SPO Penggunaan restraint

NO PERTANYAAN JAWABAN 1. Sedasi ringan / minimal (anxiolysis) Sedasi sedang (pasien sadar) Sedasi berat  / dalam Anestesi umum Respons Respons normal terhadap stimulus verbal Merespons terhadap stimulus sentuhan Merespons setelah diberikan stimulus berulang / stimulus nyeri Tidak sadar, meskipun dengan stimulus nyeri Jalan napas Tidak terpengaruh Tidak perlu intervensi Mungkin perlu intervensi Sering memerlukan intervensi Ventilasi spontan Tidak terpengaruh  Adekuat Dapat tidak adekuat Sering tidak adekuat Fungsi kardiovas kular Tidak terpengaruh Biasanya dapat dipertahank an dengan baik Biasanya dapat dipertahanka n dengan baik Dapat terganggu

2. Wrong site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery Tiga komponen penting dalam prosedur pre operatif :

1. Proses verifikasi

2. Menandai lokasi yang akan dioperasi 3. Time out

Orang yang bertanggung jawab untuk membuat tanda pada pasien adalah Dokter Bedah/ Operator yang akan melakukan tindakan.

Dokter bedah/ operator yang membuat tanda itu harus hadir pada operasi tersebut.

Penandaan titik yang akan dioperasi adalah sebelum pasien dipindahkan ke ruang di mana operasi akan ilakukan. Pasien

sebelum pemberian obat pre-medikasi.

Tanda berupa “X” di titik yang akan dioperasi.

Tanda itu harus dibuat dengan pena atau spidol permanen berwarna hitam dan jika memungkinkan, harus terlihat sampai pasien disiapkan dan diselimuti.

Semua penandaan harus dilakukan bersamaan saat

pengecekkan hasil pencitraan pasien diagnosis misalnya sinar-X, scan, pencitraan elektronik atau hasil test lainnya dan pastikan dengan catatan medis pasien dan gelang identitas pasien.

Lokasi operasi ditandai pada semua kasus termasuk sisi (laterality), struktur multipel (jari tangan, jari kaki, lesi) atau multiple level (tulang belakang).

Beberapa prosedur yang tidak memerlukan penandaan:

kasus organ tunggal (misalnya operasi jantung, operasi caesar )

kasus intervensi seperti kateter jantung

kasus yang melibatkan gigi

prosedur yang melibatkan bayi prematur di mana penandaan akan menyebabkan tato permanen

Dalam kasus-kasus di mana tidak dilakukan penandaan, alasan harus dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan. Untuk

pasien dengan wa4rna kulit gelap, boleh digunakan warna selain hitam atau biru gelap (biru tua) agar penandaan jelas terlihat, misalnya warna merah. Pada kasus-kasus seperti

operasi spinal, dapat dilakukan proses dua tahap yang meliputi penandaan preoperatif per level spinal (yang akan dioperasi) dan interspace spesifik intraoperatif menggunakan radiographic marking .

Proses team time outini merupakan standar operasi yang meliputi pembacaan dan pengisian formulir sign in yang dilakukan sebelum pasien dianestesi di holding area, team time out yang dilakukan di ruang operasi sesaat sebelum

sebelum penutupan kulit (dapat dilakukan di recovery room). Proses sign in, team time out dan sign `out ini dipandu oleh perawat sirkuler dan diikuti oleh operator, dokter anestesi, perawat.

NO. PERTANYAAN JAWABAN 1. Apa saja daftar

obat-obatan yang termasuk dalam NORUM?

Bagaimana

penyimpanannya?

Daftar obat-obatan NORUM (Nama Obat Rupa Ucapan Mirip) /LASA (Look A Like Sound Alike) dapat ditemukan di SPO Obat-obatan NORUM/ LASA. Penyimpanannya ditandai stiker LASA “Look ( Look A Like Sound Alike)

Contoh obat look a like adalah obat-obat dengan tampilan yang mirip namun sebenarnya berbeda dosis (misalnya Amlodipin 5 mg dan Amlodipin 10 mg). Sementara contoh obat sound alike adalah azithromycin dan erithromycin (terdengar mirip).

2. Bagaimana kebijakan penyimpanan obat High Alert di RS?

Obat- obatan high alert ditandai stiker “high alert”. Khusus untuk larutan elektrolit pekat juga diberi penandaan stiker yang bertuliskan “KCL ampul 25 ml harus dilarutkan, diberikan sesuai dosis, dilarang memberikan secara iv langsung”, khusus insulin diberi stiker “High alert Insulin”

3. Bagaimana prosedur pengelolaan obat emergensi di RS?

Obat emergensi disimpan dalam troli/kit/lemari emergensi terkunci, diperiksa, dipastikan selalu tersedia dan harus diganti segera jika jenis dan jumlahnya sudah tidak sesuai lagi dengan daftar yang ditempel/digantung ditroli/kit/lemari emergensi. Perbekalan farmasi dan

penguncian troli tersebut dikontrol oleh farmasi.

Troli akan dibuka 3 bulan sekali untuk dilakukan pemeriksaan kesesuaian perbekalan farmasi dengan daftar, ketepatan penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa.

4. Bagaimana alur pelaporan insiden apabila terjadi medication error ?

Baik dokter maupun perawat yang menemukan terjadinya medication error boleh melaporkan kejadian tersebut.

SPO Pengelolaan Insiden Keselamatan Pasien

5. Bagaimanakah

kebijakan RS tentang persyaratan resep yang lengkap?

Resep harus memenuhi kelengkapan:

Nama pasien, tanggal lahir atau umur pasien (jika tidak dapat mengingat tanggal lahir), no rekam medik dan berat badan pasien (untuk pasien anak)

Nama dokter, tanggal penulisan resep dan ruang pelayanan

Mengisi kolom riwayat alergi obat pada bagian kanan atas lembar resep manual

Menuliskan tanda R/ pada setiap sediaan. Untuk nama obat tunggal ditulis dengan nama generik. Untuk obat kombinasi ditulis sesuai nama dalam Formularium, dilengkapi dengan bentuk sediaan obat (contoh: injeksi, tablet, kapsul, salep), serta kekuatannya (contoh: 500 mg, 1 gram)

Bila obat berupa racikan dituliskan nama setiap  jenis/bahan obat dan jumlah bahan obat (untuk bahan padat :mikrogram, miligram, gram) dan untuk cairan: tetes,milliliter, liter.

Pencampuran beberapa obat dalam satu sediaan tidak dianjurkan, kecuali sediaan dalam bentuk campuran tersebut telah terbukti aman dan efektif.

 Aturan pakai (frekuensi, dosis, rute pemberian). Untuk aturan pakai jika perlu atau prn atau “pro re nata”, harus dituliskan dosis maksimal dalam sehari. 6. Bagaimana prosedur

pemberian obat yang berlaku di RS ini?

Pemberian obat menggunakan prinsip 7 benar  :

1. Benar Pasien 2. Benar Indikasi 3. Benar Obat 4. Benar Dosis

5. Benar Cara Pemberian 6. Benar Waktu Pemberian 7. Benar Dokumentasi

NO. PERTANYAAN JAWABAN 1. Adakah standarisasi

singkatan dan simbol yang boleh dipakai di RS ini?

RS telah mensosialisasikan standarisasi singkatan dan simbol yang boleh digunakan dalam pelayanan

2. Bagaimana cara RS

melindungi berkas rekam medis pasien dari

kehilangan/kerusakan/pen yalahgunaan?

Rumah sakit mengembangkan suatu kebijakan bahwa yang diberikan kewenangan mengakses rekam medis klinis pasien adalah para praktisi kesehatan yang memberikan layanan kepada pasien tersebut.

Dalam dokumen Buku Saku RS Telogorejo (2) (Halaman 35-43)

Dokumen terkait