BAB III. PELUANG BAGI PEREMPUAN UNTUK MENJADI PELAYAN
3.5. Pelayanan Perempuan dalam Perspektif Alkitab
Dalam nats Alkitab terdapat beberapa nats yang mungkin menyatakan tindakan ketidakadilan, namun jika ditelaah memiliki pemahaman dan makna yang berbeda. Seperti yang tertulis di 1 Korintus 14:34 Paulus menuliskan “Sama
berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang
dikatakan juga oleh Hukum Taurat.” Sekilas ayat ini seperti melemahkan dan melarang perempuan, namun jika ditelaah lebih lagi dalam tafsirannya bahwa Paulus tidak sedang berbicara dalam hukum Taurat Alkitab, melainkan “hukum” yang biasa ditafsirkan melalui tradisi. Hal ini ditinjau ulang dengan nats Alkitab yang tertulis di 1 Korintus 11:5 dimana Paulus menghendaki agar perempuan berdoa dan bernubuat (melakukan kegiatan pelayanan).
1 Timotius 2:8-15 dimana Paulus menuliskan bahwa ia tidak mengizinkan perempuan memimpin jemaat dan hendaklah perempuan berdiam diri saja dan menerima ajaran. Dalam tafsirannya ternyata Paulus tidak sedang membicarakan perempuan secara umum, namun menunjuk kepada jemaat Timotius, Paulus mengingatkan hendaklah perempuan tidak memamerkan kekayaan dan menasihatkan kepada jemaat agar dalam ibadah ada keteraturan. Karena pada masa itu perempuan-perempuan itu tidak menjadi teladan yang baik. Jika melayani dengan kasih maka akan sama haknya, demikian tafsiran menurut Paulus.
3.5.1. Kisah Perempuan yang Diperhitungkan dalam Alkitab
Seorang wanita dalam Perjanjian Baru disebut "pelayan/diaken” wanita23
. Alkitab juga telah menceritakan gerakan feminisme pada masa itu dimana banyak perempuan yang terpanggil dan dipakai untuk pelayanan bagi orang sekitarnya maupun bagi bangsanya. GBI merupakan gereja yang menganut dan mempelajari
68 Alkitab secara keseluruhan, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam sejarah gereja dan teologis, perempuan mempunyai andil besar dalam pelayanan. Hal ini dibuktikan melalui teladan-teladan dan pelayanan yang dilakukan oleh kaum perempuan yang mengenal Tuhan pada masa itu. Dalam Perjanjian Lama tersurat yakni sosok Rut, Ester, Debora, Dorkas. Dalam puluhan kitab yang tergantung dalam Alkitab, dua di antaranya disebut atas nama perempuan yaitu Rut dan Ester. Selain itu diperjanjian baru juga banyak kisah pelayanan yang dilakukan oleh perempuan pada masa itu. Berikut diuraikan serta diartikan beberapa kisah pelayan perempuan yang namanya tertulis di Alkitab baik Perjianjian Lama maupun Baru.
1. Rut Pasal 1-4.
Kitab Rut yang tertulis dalam Perjanjian Lama yang merupakan sejumlah peristiwa yang terjadi pada zaman hakim-hakim, sekitar 200 tahun sebelum Daud menjadi raja. Sampai saat ini belum diketahui siapa yang menuliskan Kitab Rut ini. Kisah ini diperkirakan dituliskan setengah abad setelah peristiwa-peristiwa yang dituturkan terjadi.
Kisah Rut menceritakan bagaimana Tuhan memakai seorang perempuan yang bukan dari bangsa bangsa Israel melainkan orang Moab untuk melaksakan rencana-Nya di dunia. Rut merupakan seorang janda yang memutuskan mengikut mertuanya dan tinggal di Israel. Ia berani dan mempertahankan hidupnya di tengah-tengah lingkungan yang kurang mendukung. Ia sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan dan ia pun adalah seorang perempuan yang bijaksana. Hingga akhirnya Rut yang setia mengahadapi perkara-perkaranya dan menikah
dengan Boas yang kemudian melahirkan keturunan menjadi Raja yang besar di Israel, yaitu Daud.
Isi pokok dari Kitab Rut mengajarkan banyak hal, antara lain :
Rencana Allah dapat dipenuhi dengan cara yang tidak terduga-duga
Allah berkarya dalam kehidupan orang yang setia
Menolong orang lain dan setia pada keluarga dapat mengubah hidup dan membawa kebahagiaan
Allah melimpahkan kebaikan pada semua orang, bukan hanya orang Yahudi
Allah memperhatikan semua orang yang berkarya pada kehidupan mereka sehari-hari
2. Ester 1-10. Kitab Ester tertulis dalam Perjanjian Lama.
Ester merupakan perempuan yang cantik perawakannya. Kecantikannya terunggul di dunia. Ia merupakan perempuan yang bijaksana. Ester digambarkan sebagai perempuan yang gagah perkasa, ia berani dan memiliki kemampuan untuk menghadapi resiko untuk membebaskan bangsanya yang besar dari kebinasaan. Ia rela mengorbankan dirinya, ia maju dan berani, itulah kecantikan yang sesungguhnya. Dari sikapnya dapat dilihat iman Ester yang luar biasa. Tuhan memakai dia untuk membela dan membebaskan umatnya dari kebinasaan. Ia berpuasa didapan Allah, juga mengajak bangsannya berpuasa. Imannya menjadi contoh (teladan) bagi setiap orang, tidak hanya bagi perempuan saja.
3. Debora, kisahnya tertulis dalam kitab Perjanjian Lama yang tertulis dalam Hakim-hakim 4:1-24, 5:1-31 yang mengisahkan bahwa Allah memilih
70 seorang perempuan bernama Debora untuk memimpin orang Israel berperang melawan Yabin. Debora juga dalam kisahnya memuji Allah dengan nyanyian kemenangan sebagai perwujudan sukacitanya setelah menang melawan Yabin.
4. Perjanjian Baru yang tertulis di Kisah Para Rasul 9:36-43, menuliskan kisah seorang perempuan yang bernama Tabita, dalam bahasa Yunani „Dorkas‟ yang melayani janda-janda melalui kemampuannya.
5. Pelayanan yang dilakukan Tuhan Yesus yang diikuti oleh kaum perempuan yang ingin melayani Dia. Tertulis dalam Matius 27:55-56 “Dan disitu banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan -perempuan yang mengikut Yesus untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu
anak-anak Zebedeus”. Perempuan-perempuan ini mengikut Yesus, berkeliling bersama Yesus dan murid-muridNya untuk melayani. Ayat yang sama tertulis di Lukas 8;1-3, dalam nats ini juga dijelaskan terdapat Susana, Yohana, dan perempuan lainnya yang melayani Yesus. Mereka melayani Yesus dan murid-murid-Nya dengan kekayaan mereka.
6. Demikian juga dengan perempuan Samaria yang bertobat kemudian percaya dan bersaksi akan Yesus dan menjadi pengabar injil di kotanya pada saat itu (Yohanes 4:42). Ketika kebangkitan Tuhan Yesus dari kubur perempuan lah yang pertama kali melihat kubur Yesus berperan dalam mengabarkan berita tersebut, adalah Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria Ibu Yakobus dan perempuan-perempuan lainnya yang memberitakan kebenaran. (Matius 24:1-12)
7. Kisah Febe yang merupakan rekan sekerja Paulus dalam melayani Tuhan. Ia merupakan pemimpin yang melayani jemaat di Kengkrea, nats ini tertulis di Roma 16:1.
8. Maria dan Marta Lukas 10:38-42. Kisah Maria dan Marta merupakan suatu bukti nyata pelayanan yang dilakukan oleh Marta dengan melayani Yesus dan murid-muridNya. Sementara bentuk pelayanan Maria adalah duduk diam mendengarkan perkataan Tuhan yang bermakna patuh akan apa yang Tuhan katakan.
Nama-nama di atas merupakan sebagian dari perempuan yang namanya tercatat dalam sejarah Alkitab. Selain itu banyak lagi perempuan-perempuan yang namanya masuk ke dalam Alkitab sebagai bentuk pelayanan perempuan. Dari hal di atas membuktikan bahwa perempuan juga memiliki potensi yang sama dengan laki-laki untuk melayani Tuhan. Sehingga menurut Pendeta Darsono Ambarita, jika ada gereja yang membatasi kualitas dan karunia talenta, sebaiknya harus kembali ke Alkitab agar berpatokan pada Alkitab.
3.6. Pandangan Seorang Pendeta tentang Pelayanan Perempuan
Pdm. Darsono Ambarita, M.Th. merupakan salah seorang gembala di GBI Rayon IV, ia juga merupakan salah satu pakar teologi dan juga merupakam dosen sekaligus Kepala Jurusan Teologi di STT Pelita Kebenaran. Berbicara tentang pelayanan perempuan masa kini, Pdm. Darsono Ambarita menjelaskan bahwa sudah jelas pelayanan perempuan tidak menyalahi Alkitab melihat dengan meninjau kembali banyaknya perempuan yang melayani yang tertulis dalam Alkitab. Dikuatkan dengan keberadaan Firman Tuhan yang tak pernah menyuruh
72 perempuan atau laki saja yang melayani, namun semua ciptaan-Nya baik laki-laki maupun perempuan diutus untuk melayani dan memberitakan kebenarannya. Di hadapan Tuhan semuanya sama, itulah alasan mengapa ia menyetujui pernyataannya tersebut.
Menurut Pdm. Darsono Ambarita, M.Th., adapun persentase peluang bagi perempuan untuk melayani di GBI Rayon IV adalah 100 %, demikian juga sebaliknya dengan laki-laki. Artinya perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam melayani selama memiliki potensi untuk mendukung pelayanan gereja. GBI Rayon IV menerima pelayanan perempuan dalam setiap bidang maupun departemen. Sampai saat ini tidak ditemui bidang pelayanan yang tidak memperbolehkan perempuan bergabung di dalamnya. Tidak ada batasan, yang dilihat dalam diri seorang pelayan adalah talenta, kemampuan, dan keinginan untuk melayani tanpa melihat jenis kelaminnya.
Kembali kepada Alkitab (back to the Bible) merujuk kembali kepada kebenaran Alkitab, demikianlah penafsiran GBI Rayon IV. Gereja ini sudah cukup terbuka baik dalam aspek ibadah ataupun dalam penyetaraan gender. Perempuan kini juga banyak menjadi pengaruh di gereja. Menurut Pendeta Darsono Ambarita sangat disayangkan sekali jika perempuan tidak dilibatkan atau diberdayakan dalam pelayanan gereja. Karena perempuan juga memiliki potensi yang cukup besar bahkan memiliki keinginan untuk melayani.
Ia mengungkapkan bahwa ada perjalanan sejarah mengenai pergerakan perempuan atau yang disebut feminisme teologi. Gerakan ini merupakan gerakan yang menyatakan diri bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki
dalam sebuah gereja. Awalnya di beberapa gereja pada masa itu hanya laki-laki yang diutamakan dan diperhitungkan. Namun di GBI Rayon IV, teologi yang dipakai dalam memandang pelayanan perempuan sebagai suatu hal yang wajar bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam sebuah pelayanan. Dalam kisah yang tercatat di Alkitab ketika Yesus melayani, Dia tidak hanya mengutamakan kaum laki-laki dalam pelayananNya. Bahkan Dia mengijinkan dan tidak pernah menolak pelayanan yang dilakukan kaum perempuan di sekitar terhadapNya. Adanya gerakan feminisme karena adanya ketidakadilan pada masa lalu. Perempuan cenderung tidak diperhitungkan di dalamnya untuk terlibat menjadi dampak. Terdapat beberapa pada masa lalu yang sampai kini pun masih memiliki aturan-aturan yang membatasi perempuan dalam pelayanan gereja. Salah satu di antaranya adalah Gereja Baptis Indonesia, gereja ini tidak memperbolehkan dengan kata lain melarang perempuan ditahbiskan menjadi gembala. Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT) atau aliran Kabar Mempelai juga merupakan salah satu gereja yang tidak memperbolehkan perempuan melayani di gereja.
Di Gereja Katolik ditemukan perempuan terlibat dalam pelayanan, namun tidak ditemukan perempuan yang menjadi pemimpin jemaat atau menjadi pengajar dalam jemaat. Katolik lebih melibatkan perempuan dalam pelayanan kemanusiaan, yang mana hal ni termasuk mengkotakkan dan membatasi gerak dan potensi yang dimiliki oleh perempuan. Berbeda halnya dengan GBI Rayon IV yang memperbolehkan perempuan masuk dalam segala bidang pelayanan tanpa dibatasi satupun.
74 Secara pribadi Pdm. Darsono Ambarita mengungkapkan dukungan terhadap pelayanan yang dilakukan perempuan di gereja. Karena menurutnya perempuan merupakan penyeimbang, perempuan adalah penolong, dan perempuan memiliki kemampuan yang berbeda dengan laki-laki. Menurutnya perempuan memiliki kelebihan dalam suatu kondisi akan mampu memanajemen, sungguh-sungguh dalam melayani, memiliki semangat serta memiliki ciri khas tersendiri.
Setiap gereja memiliki masing-masing aturan, serta memiliki tatanan doktrin yang berbeda-beda. Namun di dalam GBI Rayon IV memakai seutuhnya perintah Alkitab dan penerapannya di pelayanan gereja. Perempuan dan laki-laki hakikatnya adalah sama, yakni sama-sama diciptakan oleh Tuhan dan sama-sama memiliki karunia dari Tuhan, sehingga layaklah setiap ciptaan-Nya melayani-Nya. Perempuan harus tunduk pada otoritas orang yang di atasnya. Baik itu orang tua, suami, bahkan pendeta ataupun gembala gereja. Hal ini merupakan wujud ketaatan sebagai suatu dasar hidup orang Kristen. Perempuan melayani dimulai dari yang paling sederhana, membenahi keluarga, menjadi teladan. Jika seorang istri ingin melayani ia harus meminta izin pada suami, jika seorang perempuan ingin melayani hendaklah taat pada orang tua. Perempuan disarankan untuk membenahi keluarga terlebih dahulu agar bisa melayani di gereja maupun tempat lainnya.