• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. KISAH PELAYAN PEREMPUAN DI GBI RAYON IV

4.3. Feronika Renpoi Situmeang

4.3.5. Pelayanan Tamborin

Tari tamborin merupakan bagian acara yang tidak terpisahkan dalam acara kebaktian yang ada di dalam ibadah raya Gereja Bethel Indonesia (GBI). Tari tamborin telah dimainkan di GBI sejak gereja ini mulai dibentuk. Tarian tamborin dimainkan secara berkelompok, dan menggunakan tamborin sebagai media utama. Tarian tamborin merupakan tarian yang dipakai ketika ibadah raya, ibadah perayaan natal dan paskah, ibadah KKR (Kebaktian Kebangkitan Rohani). Menari di mimbar, dengan dua atau tiga orang penari. Tarian tamborin dalam sebuah ibadah umumnya dilakukan oleh perempuan.

Di dalam alkitab yang tertulis di Kitab Keluaran 15, tamborin merupakan rebana yang dipakai oleh Orang Israel untuk memuji Tuhan sebagai ungkapan syukur. Seperti yang terjadi pada Orang Israel setelah diselamatkan dari Firaun. Kemudian Miryam mengambil rebana dan menarikan tarian sebagai ucapan syukur kepada Tuhan. Keluaran 15:20 “Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari.

Kak Feronika sduah mengenal tarian tamborin sejak kecil. Ia merasa bahwa menari adalah talenta yang ia miliki sampai saat ini, sehingga ia memakai talenta atau kemampuannya tersebut untuk menjadi bagian dari pelayanan gereja. Dengan pengalaman menari yang cukup lama, Kak Feronika juga memiliki banyak kisah pelayanan tarian tamborinnya. Sejak SMA Kak Feronika sudah memulai memiliki hubungan yang baik dengan orang luar. Pada masa itu juga ia sudah mendapat

130 panggilan pelayanan juga di luar gereja, seperti natal sekolah-sekolah, natal kampus, dan lain sebagainya.

Di usianya yang masih muda ia sudah memiliki sepak terjang pelayanan yang cukup baik. Adapun tawaran pelayanan yang ia terima ialah mengajarkan tarian tamborin untuk acara tertentu, atau mungkin ia dan tim tamborinnya yang diminta untuk melayani di ibadah-ibadah tersebut. Baik itu ibadah paskah, natal, dan sebagainya. Namun, semenjak ia memulai pelayanannya di GBI, ia tidak lagi menerima tawaran-tawaran tersebut dnegan alasan sudah memiliki jadwal yang padat dan cukup sibuk dengan pelayanannya di gereja. Dahulu ia juga sering mengajarkan tarian tamborin di GSJA cabang lain. Seperti misalnya di GSJA Polonia, GSJA Bromo, GSJA Helvetia. Setiap bulan ia ckup sering melakukan kunjungan ke gereja-gereja tersebut untuk melatih tamborin.

“Kakak juga sejak SMA ngajar-ngajar tuh, biasanya sih kalo ada natal. Gereja-gereja atau sekolah-sekolah atau rumah sakit manggil kita untuk nari, atau ngajarin nari kayak dulu di LP3M. banyaknya ngajarin sih beberapa bulan sebelum event, kadang juga ikut nari sama mereka. Tapi sejak masuk GBI gak ngambil lg, karena udah sibuk sendiri kan.”

Hingga kini setiap hari minggu Kak Feronika rutin melakukan pelayanannya terkhusus untuk dua gereja yang dinaungi pusat saja, yakni GBI Sumatera Resort dan GBI Medan Fair. Sebelum pelayanan setiap minggunya tentunya mereka melakukan latihan terlebih dahulu. Adapun jadwal latihan penari tamborin yang akan melayani di hari minggu ialah setiap hari sabtu sore. Latihan yang mereka lakukan tidak terbatas ruang, artinya mereka bisa latihan dimana saja sesuai dengan kesepakatan tim tamborin yang akan melayani di hari minggu. Biasanya latihan akan dilaksanakan di Sumatera Resort, namun latihan sering juga dilaksanakan di rumah-rumah para pelayan tamborin sesuai kesepakatan bersama.

Dengan jadwal aktivitas yang cukup padat setiap harinya membuatnya harus mampu mengatur jadwal latihan dan pelayanan sebaik mungkin. Sepulang kerja di hari sabtu, Kak Feronika memiliki waktu untuk kembali ke rumh. Jika ia memiliki waktu yang senggang, maka ia akan memilih beristirahat. Setelah itu ia kemudian bersiap-siap latihan dan mempesiapkan setiap keperluan untuk latihan keesokan harinya. Ia menceritakan kepada peneliti bahwa kadang kala ia mengalami kesulitan mengatur waktu. Sehingga dalam suatu keadaan ia harus memilih salah satu untuk diprioritaskan, ia cenderung bersikukuh untuk meluangkan waktunya demi pelayanan.

“Kerja sampe hari sabtu, jadi hari sabtu pulang kerja siap-siap. Kalo ada waktu tidur bentar, baru latihan lagi, baru prepare lagi siap-siapkan bahan baju dan segala macam untuk besoknya. Baru besok pelayanan. Ngatur waktu, kadang keteteran sih dek, cuma itu.. kalo ada niat bisa aja (sembari tersenyum). Cuma kalo jumat kerjaan di kantor belum siap, tinggalin dulu, siap gak siap pokoknya ke gereja ngajar dulu. Karna kan biar gimana pun Tuhan lihatlah usaha kita udah

gimana. Tetep ini prioritasku dan lebih kepada tanggung jawab.”

Selain melayani sebagai penari, Kak Feronika juga melayani sebagai mentor atau pelatih tamborin untuk para penari tamborin yang masih dalam masa training (junior). Untuk jadwal mengajar tamborin, ia berbagi tanggung jawab dan saling membahu dengan rekannya yang juga sesama senior. Sehingga tidak semua beban pelayanan ia tanggung sendiri, karena mereka juga memiliki tim. Untuk mengajar dan latihan adalah kegiatan yang sudah terjadwal, namun ada juga kegiatan-seperti pertemuan departemen music, menara doa, doa pengerja, dan sebagainya. Maka, ia harus menyesuaikan dengan jadwal yang dimilikinya, jika tidak bisa hadir maka ia ijin. Ini tergantung bagaimana ia memprioritaskan sesuatu.

132 Pelayanan tamborin dalam masa trainingnya memiliki standar waktu yang telah ditetapkan. Alasan mengapa standar waktu dari masa training ke pelayanan cukup lama dikarenakan mereka harus belajar tarian tamborin sebanyak 100 gerakan. Kak Feronika dapat melayani cepat karena basicnya sudah menari dan melayani di gerejanya yang sebelumnya, sehingga tida terlalu sulit baginya untuk belajar banyak gerakan tarian dalam waktu yang singkat. Selain itu pada masa ia training dahulu, mentornya cukup cepat dalam mengajarkan mereka menari. Berbeda halnya dengan adik-adik junior yang dilatihnya kini yang perkembangannya cenderung agak lambat. Para pelayan penari tamborin yang sedang mengikuti masa pelatihan juga diperhatikan perkembangan kemampuannya. Jika perkembangannya signifikan, maka sudah bisa melayani meskipun masih dalam hitungan bulan.

“Kita sebenernya kenapa buatnya lama gini, karena mereka juga harus

belajar 100 lebih gerakan loh. Lah ini, anak baru udah 2 bulan, baru 12 gerakan. Bayangin aja kalo mau seratus berapa bulan? Karena basicnya udah nari kalo kakak 6 bulan 100 gerakan, lagipula kakak

yang dulu ngajarin kami tuh ekstra kenceng.”

Sampai kini penari tamborin senior yang tertinggal hanya ia dan salah satu rekannya, yaitu Kak Riama. Selebihnya adalah para junior yang baru memulai masa melayani. Para senior penari tamborin di GBI kebanyakan sudah tidak melayani lagi sebagai pelayan tamborin dikarenakan sudah menikah dan sudah tidak berdomisili di Medan lagi. Dalam pelayanan tamborin terdapat kebijakan tak tertulis, dimana jika sudah menikah tidak bisa lagi melayani di ibadah. Karena ada hal-hal yang perlu dijaga oleh perempuan jika ia sudah menikah, seperti misalnya mengandung atau hamil serta alasan lainnya. Meskipun demikian, seorang pelayan perempuan yang sudah menikah masih bisa melayani dalam hal

memberikan pengajaran terhadap para juniornya dan melakukan mentoring tarian tamborin. Memang pada akhirnya pelayan tamborin yang sudah menikah rata-rata memilih untuk tidak melayani lagi dengan alasan mengikuti suaminya (mengikuti gereja suami).

Kak Feronika merupakan Leader Tamborin dalam tim tamborin memiliki tugas merancang RKT (Rancangan Kerja Tahunan) pertahun karena sudah memiliki

planning audit dari GBI yang di dalamnya terdapat jadwal latihan bahkan tempat

latihan serta keseluruhan biaya latihan, kostum penari, dan lain sebagainya. Di samping itu ia juga mengurusi berkas audisi tamborin dalam setahun. Ia juga bertugas memantau perkembangan penari tamborin yang sedang dalam masa pelatihan. Tak hanya itu, ia juga menyusun banyak laporan-laporan bulanan dan pertemuan dalam tim pelayan tamborin yang selanjutnya diserahkan kepada para pemimpin dan juga Departemen Musik. Koordinator Tamborin dijabat oleh Bang Donis.

Ia menyadari bahwa bakat menari yang ia miliki bisa ia pakai untuk apa saja, hal itu berguna bagi dirinya sendiri, bagi orang lain, bahkan untuk memuliakan Tuhan. Kak Feronika juga menuturkan bahwa sejak kecil ia sudah memiliki cita-cita untuk membuka sebuah sanggar tari (sekuler) dengan banyak jenis tarian baik tarian modern maupun klasik. Hal itu dikarenakan ia menyadari bahwa di Kota Medan sulit untuk menemukan sanggar tari. Hal ini dituturkannya jika ada kesempatan dan dana ia ingin mendirikan sanggar tari tersebut agar orang-orang yang memiliki bakat menari bisa mengeksplor kemampuannya menjadi lebih baik lagi.

134 Kerinduannya dalam pelayanan adalah ia ingin ia tetap ingin melayani meskipun sudah menikah nantinya. Meskipun tidak bisa menari di ibadah lagi, setidaknya ia ingin menjadi pelatih, pembina, atau pemerhati para pelayan tamborin nantinya. Begitulah ia mencintai pelayanan yang telah dilakukannya sejak lama.

Dokumen terkait