BAB II KAJIAN PUSTAKA
4. Pelayanan Polisi Lalu Lintas
Seperti yang diketahui bahwa Polisi adalah pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat, maka sudah barang tentu adanya kemampuan petugas kepolisian memberikan bimbingan dan petunjuk pada masyarakat dalam hal memberikan pelayanan.
Pelayanan dapat diartikan sebagai suatu upaya memberikan bantuan, bimbingan serta memandu seseorang dalam memperoleh dan memenuhi kepentingan-kepentingan, keinginan serta kebutuhan-kebutuhannya. Akses untuk memperoleh dan memenuhi hasrat dan keinginan tersebut tentu harus melalui hak dan kewajiban orang lain, oleh sebab itu sebelum terpenuhi segala sesuatunya biasanya harus memenuhi pula kewajiban-kewajiban untuk itu dalam hubungan inilah diperlukan pelayanan tentang apa dan bagaimana cara memenuhi hak dan kewajiban tersebut.
Seperti halnya dalam pelayanan kebersihan dan persampahan, maka masyarakat yang mendapatkan pelayanan atau target pelayanan, harus diberi bimbingan, penyuluhan, bantuan, dukungan serta tuntutan dalam memperoleh kemudahan-kemudahan dalam proses tersebut, termasuk menyediakan
informasi yang memadai, kepastian waktu dan biaya dan lain-lain sebagainya.
Dalam keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 81/1993 tentang pedoman tata laksana pelayanan umum, pengertian pelayanan umum dikemukakan sebagai berikut:
Pelayanan umum, adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di Pusat, di daerah dan dilingkungan Badan Usaha Milik Negara / daerah dalam bentuk barang kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 81 / 1993 tentang pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum tersebut, dikemukakan kriteria-kriteria pelayanan masyarakat yang baik adalah sebagai berikut:
a) Kenyamanan
Kriteria ini mengandung arti prosedur/tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, tetapi tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan.
b) Kejelasan dan kepastian
Kriteria ini mengandung arti adanya kejelasan dana kepastian mengenai:
1) Prosedur / tata cara pelayanan
2) Persyaratan pelayanan, baik persyaratan teknis maupun persyaratan administratif.
3) Unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan.
4) Rincian biaya / tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya.
5) Jadwal waktu penyelesaian pelayanan.
c) Keamanan
Kriteria ini mengandung arti proses serta hasil pelayanan dapat memberikan keamanan, kenyamanan dan dapat memberikan hukum bagi masyarakat.
d) Keterbukaan
Kriteria ini mengandung arti prosedur / tata cara, persyaratan, satuan kerja / pejabat, penanggung jawab pemberi pelayanan, waktu penyelesaian, rincian biaya / tarif serta hal-hal yang lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak diminta.
e) Efisien
Kriteria ini mengandung arti:
i. Persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal yang berkaitan langsung pencapaian sasaran pelayanan dengan
tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan yang berkaitan.
ii. Dicegah adanya pengulangan pemenuhan persyaratan dalam hal proses pelayanan masyarakat yang bersangkutan mempersyaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari satuan kerja / instansi pemerintah lain yang terkait.
f) Ekonomi
Kriteria ini mengandung arti pengenaan biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan :
1) Nilai barang dan jasa pelayanan masyarakat dan tidak menuntut biaya yang terlalu tinggi diluar kewajaran.
2) Kondisi dan kemampuan masyarakat untuk membayar 3) Ketentuan dan kemampuan masyarakat untuk membayar 4) Ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku g) Keadilan yang merata
Kriteria ini mengandung arti cakupan / jangkauan pelayanan hams diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diperlakukan secara adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
h) Ketepatan Waktu
Kriteria ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Dalam Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 81 / 1993 tentang pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum yang baik sebagai berikut:
1) Hak dan kewajiban bagi pemberi maupun penerima pelayanan umum harus jelas dan diketahui secara pasti oleh masing-masing pihak.
2) Pengaturan setiap bentuk pelayanan umum harus disesuaikan dengan kondisi kebutuhan dan kemampuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan tetap berpegang pada efisiensi dan efektifitas.
3) Mutu proses dan hasil pelayanan umum harus diupayakan agar dapat memberi keamanan, kenyamanan kelancaran dan kepastian hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
4) Apabila pelayanan umum yang diselenggarakan oleh Instansi pemerintah terpaksa harus mahal, maka instansi pemerintah yang bersangkutan berkewajiban memberi peluang kepada masyarakat untuk ikut menyelenggarakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mengacu pada pengertian dan syarat-syarat pelayanan umum diatas, maka nampak bahwa pelayanan adalah kunci keberhasilan dalam berbagai usaha kegiatan yang sifatnya jelas.
5. Efisiensi, Efektifitas dan Produktivitas Kerja
Pada dasarnya bahwa indikasi prestasi kerja atau kinerja pegawai, dapat dilihat pada sejauhmana mereka mempergunakan atau memanfaatkan sumber-sumber daya yang ada secara ekonomis, hemat (efisien) dan dilakukan secara tepat dan memenuhi sasaran (efektif) serta hasil yang dicapai tersebut memiliki rasionalitas terhadap penggunaan sumber-sumber yang ada (produktivitas).
Efisien adalah berarti bahwa komponen-komponen input yang digunakan seperti waktu, tenaga dan biaya dapat dihitung penggunaannya dan tidak berdampak pada pemborosan atau pengeluaran yang tidak berarti.
Susilo (1992) mengemukakan bahwa efisiensi dapatlah dikatakan suatu kondisi atau keadaan, dimana penyelesaian suatu pekerjaan dapat dilaksanakan dengan benar dan dengan penuh kemampuan yang dimiliki, efisiensi adalah suatu proses internal yang terjadi dalam suatu organisasi yang menunjukkan banyaknya input atau sumber yang diperlukan oleh organisasi untuk menghasilkan suatu satuan input Karena itu efisiensi dapat diukur sebagai ratio input terhadap output.
Sedangkan efektifitas, adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kata efektif berarti terjadinya suatu efek
atau akibat yang dikehendaki dalam suatu perbuatan. Setiap ada pekerjaan yang efisien yang tentu juga berarti efektif, Karena dilihat dari segi hasil, tujuan atau akibat yang dikehendaki dengan perbuatan itu telah tercapai bahkan secara maksimal (mutu dan jumlahnya), sebaliknya dilihat dari segi usaha, efek yang diharapkan juga telah tercapai. Setiap pekerjaan yang efektif belum tentu efisien, karena hasil dapat tercapai tetapi mungkin dengan peghamburan pikiran, tenaga, waktu, uang atau benda.
Susilo (1992) berpendapat bahwa, efektifitas adalah suatu kondisi atau keadaan, dimana dalam memilih tujuan yang hendak dicapai dan sarana atau peralatan yang digunakan, disertai tujuan yang diinginkan dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan.
Sedangkan Gibson dkk (1996) mengemukakan bahwa efektifitas dalam konteks prilaku organisasi merupakan hubungan optimal antara produksi, kualitas, efisien, fleksibilitas, kepuasan, sifat keunggulan dan pengembangan.
Apabila efektifitas individu dapat tercapai, sudah barang tentu akan memberikan konstribusi pada efektifitas organisasi secara keseluruhan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa efektifitas organisasi sama dengan prestasi organisasi secara keseluruhan (indrawijaya : 1986). Wujud dari efisiensi dan efektifitas kerja pada umumnya tercermin pada tingkat produktifitas kerja, yaitu adanya hasil yang dicapai sebanding dengan proses-proses kegiatan yang
dilakukan, dimana terdapat ratio antara input dengan output Meskipun demikian kadang-kadang untuk memperoleh tingkat produktifitas yang memadai, harus mengorbankan banyak sekali variabel-variabel input, dalam arti bahwa dalam mengeluarkan modal yang besar untuk memperoleh hasil yang berhasil pula, oleh sebab itu kadang-kadang suatu kegiatan usaha dapat dikatakan produktif, namun belum tentu efisien. Namun harus pula diakui bahwa akan disebut memiliki produktivitas, apabila memberikan keuntungan yang memadai bagi organisasi, dalam arti bahwa ada perbandingan terbaik antara pemanfaatan sumber-sumber daya dengan hasil yang dicapai.
B. Kerangka Pemikiran
Rasionalitas polisi Ialu lintas terhadap volume Ialu lintas jalan raya, adalah berarti adanya kemampuan Polisi Ialu lintas dalam melaksanakan tugas-tugasnya berdasarkan beban dan volume pekerjaan yang ada, dalam arti bahwa jumlah polisi Ialu lintas dapat menangani seluruh permasalahan Ialu lintas angkutan jalan raya yang terjadi di Kabupaten Bantaeng.
Dalam melakukan tugas kepolisian perlu terapkan kedisiplinan dalam bertugas dan mengerjakan tugasnya dengan benar agar masyarakat pemakai jalan raya merasa aman dalam berkendara dan
puas atas pelayanan kepolisian dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
BAGAN KERANGKA KONSEPTUAL RASIO POLISI LALU LINTAS TERHADAP VOLUME LALU LINTAS JALAN RAYA
C. Defenisi Operasional
1. Tugas dan fungsi adalah suatu kegiatan yang menjadi tanggung jawab kita yang harus dikerjakan berdasarkan fungsinya.
2. Disiplin kerja merupakan suatu sikap atau perilaku yang berniat untuk mentaati seluruh peraturan yang berlaku dalam suatu instansi.
Faktor Pendukung
1. Disiplin Kerja
2. Sarana dan Prasarana 3. Kerjasama antara instansi 4. Kesadaran Masyarakat
1. SDM dan Kesadaran Masyarakat 2. Struktur Jalan
3. Anggaran dan Pendukung Pelaksanaan Tugas 4. Jumlah Anggaran
Faktor Penghambat Tugas dan Fungsi
Polisi
Pelaksanaan Tugas dan Fungsi
Polisi Lalu Lintas
3. Sarana dan prasarana adalah segala kelengkapan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan.
4. Kerjasama instansi suatu kegiatan yang dilakukan dengan kerja sama dengan instansi yang lain untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
5. Kesadaran masyarakat adalah suatu sikap yang akan patuh dengan peraturan.
6. SDM didefenisikan suau sikap atau tingkah laku masyarakat
7. Struktur jalan keadaan jalan raya yang akan digunakan bagi pengguna jalan.
8. Anggaran yaitu dana yang dibutuhkan dalam melengkapi sarana dan prasarana kantor lalu lintas.
9. Jumlah anggota yaitu seberapa banyak anggota kepolisian lalu lintas dalam menangani tugas polisi lalu lintas baik di jalan raya.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian dan pengumpulan data skripsi ini dilaksanakan di Kantor Polres Bantaeng dengan mengambil fokus kajian terhadap Tugas dan Fungsi Polisi Lalu Lintas dalam wilayah hukum Polres Bantaeng.
B. Tipe dan Jenis Penelitian
Tipe penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deksriptif, yakni penelitian yang berupaya memberikan gambaran secara umum mengenai efektivitas kerja Polisi Lalu Lintas pada Polres Bantaeng. Penelitian skripsi ini didasarkan pada penelitian survey yakni penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan secara langsung di lapangan.
C. Populasi dan Sampel a) Populasi
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat sebagai pengguna jalan yang berada di Kabupaten Bantaeng yang pernah mendapatkan pelayanan dan penanganan tentang disiplin berlalu lintas di Polres Bantaeng Kabupaten Bantaeng, serta Polisi Lalu Lintas Satuan Polres Bantaeng yang bertugas dilapangan.
b) Sampel
Penarikan sampel pada kedua sumber sampel dilakukan teknik berbeda yakni pada responden anggota Polisi Lalu Lintas digunakan teknik penarikan sampel secara purposive yakni sampel penelitian ditentukan secara sengaja dengan mengambil sampel sebanyak 25 orang dari keseluruhan populasi yang ada.
Sedangkan dari responden masyarakat karena jumlahnya sangat banyak, maka penarikan sampel dilakukan secara aksidental sampling yakni warga masyarakat yang dijumpai sedang berhubungan atau sedang berurusan dengan Polisi Lalu Lintas Polres Bantaeng, jumlah responden ditentukan sebanyak 35 orang.
Sehingga jumlah keseluruhan responden sebanyak 60 orang.
D. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis
a. Data Kuantitatif adalah data yang diangkakan terdiri atas jumlah personil, dan data penelisian responden yang bersifat skoring.
b. Data Kualitatif yaitu data berupa penilaian atau pernyataan responden mengenai efektivitas kerja Polisi Lalu Lintas dalam melaksanakan tugas.
2. Sumber Data
a. Data Primer adalah data utama penelitian yang diperoleh secara langsung dari responden melalui observasi, kuesioner dan wawancara.
b. Data Sekunder adalah data penelitian yang berupa data pelengkap yang diperoleh dari unit Satuan Lalu Lintas Polres Bantaeng terdiri atas keadaan anggota lantas meliputi tingkat pendidikan, kepangkatan, lama bertugas, dan tingkat umur, data lainnya adalah struktur dan tugas organisasi Satuan Lalu Lintas Polres Bantaeng.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung terhadap pelaksanaan tugas-tugas Polisi Lalu Lintas dalam wilayah hukum Polres Bantaeng.
2. Kuesioner
Data dikumpulkan melalui pembagian daftar pertanyaan kepada responden yang terpilih, hal-hal yang dinyatakan meliputi aspek-aspek yang dilakukan berkaitan dengan tugas oleh Polisi Lalu Lintas dalam wilayah Hukum Polres Bantaeng.
3. Wawancara
Pengumpulan data dengan menggunakan teknik ini dilakukan secara langsung dengan mengajukan pertanyaan lisan kepada responden. Pengumpulan data ini sifatnya untuk melengkapi data yang diperoleh dari kuesioner.
F. Teknik Analisis Data
Berdasarkan tipe penelitian yang digunakan maka pengolahan data hasil penelitian dilakukan secara tabulasi data dimana data yang diperoleh dikategorisasikan dan dimasukkan dalam tabel-tabel frekuensi dan selanjutnya dipersentasekan. Berdasarkan hasil persentase kemudian dilakukan analisis secara deksriptif kualitatif yakni menguraikan dalam bentuk penggambaran berdasarkan fakta lapangan yang diperoleh dari responden.
G. Jadwal Penelitian
Adapun jadwal pelaksanaan penelitian yang peneliti rencanakan mencakup tiga tahap yaitu :
1. Persiapan
Pada tahap ini peneliti mengurus perizinan, penyusunan instrument penelitian selama 2 minggu.
2. Pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data, mengelola data, menganalisis data yang diperoleh kemudian melakukan uji hipotesis dan penarikan kesimpulan selama 2 bulan.
3. Penyelesaian
Pada tahap ini peneliti menulis laporan penelitian, diskusi perbaikan, penggandaan skripsi selama 2 minggu.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Keadaan Geografis
Kabupaten Bantaeng, yang terletak dibagian selatan Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan dengan jarak 120 Km atau pada posisi geografis 200 21’8 Lintas Utara, 50 21’21 – 1200 05’27 Bujur Timur yang wilayahnya membentang sebelah Selatan dari Gunung Lompobattang, dengan batas-batas wilayah :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan pegunungan Lompobattang/
Kabupaten Gowa.
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto
Secara keseluruhan panjang jalan raya yang ada di Kabupaten Bantaeng dari tahun-ketahun mengalami peningkatan, demikian juga kondisinya. Pada tahun 2009-2010 ini panjang jalan mengalami peningkatan hingga mencapai jarak 533,78 Km, yang mencakup seluruh Kabupaten Bantaeng. Sedangkan jumlah penduduk adalah sekitar 152.288 Jiwa dengan rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun mencapai 2,1 % pertahun atau sama dengan rata-rata pertumbuhan secara nasional.
2. Keadaan Volume Jalan Raya
Tabel 1
Volume Jalan Raya di Kabupaten Bantaeng Tahun 2009/2010
No Jenis Jalan Panjang (KM)
1.
2.
Propinsi Kabupaten
29 504,78
Jumlah 533,78
Sumber: BPS, Bantaeng 2010
Dapat dilihat bahwa jumlah atau Volume jalan yang ada di Kabupaten Bantaeng adalah sepanjang 533,78 Km. Dari segi volume lalu lintas jalan raya, dapat dilihat dari pembagiannya dimana panjang jalan poros Provinsi itu sendiri 29 KM dari arah barat yang berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba sementara di Kabupaten Bantaeng sendiri dengan jarak 504,78 Km yang menghubungkan dari Kota Kabupaten sampai kepelosok Kecamatan, Lurah dan Desa yang ada di Kabupaten Bantaeng itu sendiri.
3. Keadaan Wilayah
Wilayah Kabupaten Bantaeng terdiri dari 8 kecamatan serta 66 Kelurahan dan Desa, dengan luas wilayah keseluruhan adalah 395,83 Ha, yang dirinci sebagai berikut :
a. Keadaan wilayah Kabupaten Bantaeng Menurut Luas Wilayah Kecamatan
Tabel 2
Luas Wilayah Kabupaten Bantaeng Menurut Luas Wilayah Kecamatan
No Kecamatan Luas(Ha) Persentase
1.
Sumber : Biro Statistik Kabupaten Bantaeng, 2010
Luas wilayah yang ada tersebut pada umumnya diperuntukkan bagi areal persawahan, perkebunan, perkebunan serta tambak/empang, hal ini tentu saja sangat sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat
b. Keadaan wilayah menurut penggunaan tanahnya
Kabupaten Bantaeng pada dasarnya merupakan wilayah Kabupaten yang memiliki potensi-potensi pertanian yang memadai, terutama dalam menunjang pertumbuhan-pertumbuhan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bantaeng.
Tabel 3
Luas Wilayah Kabupaten Bantaeng Menurut Penggunaan Tanahnya
Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Areal Persawahan
Sumber : Biro Statistik Kabupaten Bantaeng, 2010.
Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kemiri dan berbagai holtikultura, sayuran dan buah-buahan, juga penghasil pangan padi, jagung, ubi kayu, kedelai dan palawija lainnya.
4. Karakteristik Responden a. Tingkat Pendidikan
Tabel 4. Keadaan Responden menurut Tingkat Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah
Sarjana
Sumber : Bagian Arsip Kecamatan Ujung Pandang, 2010.
Dari tabel 4 di atas menunjukkan bahwa jumlah anggota Polisi Lalu Lintas dalam wilayah Hukum Polres Bantaeng menurut jenjang pendidikan, yang tamat SMA 35 orang sedangkan yang tamat S1 sebanyak 10 orang.
b. Keadaan Jenis Kelamin
Tabel 5. Keadaan Responden menurut Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah
1.
2.
Laki – Laki Perempuan
45
-Jumlah 45
Sumber : Biro Statistik Kabupaten Bantaeng, 2010
Dari tabel 5 di atas menunjukkan bahwa jumlah anggota Polisi Lalu Lintas dalam Hukum Polres Bantaeng menurut jenis kelamin Laki-laki sebanyak 45 orang.
B. Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Polisi Lalu Lintas Dalam Wilayah Hukum Polres Bantaeng
Tugas pokok Polres Bantaeng sebagaimana dalam rumusan penjabaran arah kebijaksanaan kapolri dan arah kebijaksanaan Kapolda Sul-Sel sebagai berikut :
a. Selaku alat negara penegak hukum memelihara serta meningkatkan tertib hukum dan bersama-sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan keamanan lainnya, membina
ketentraman masyarakat dalam wilayah negara guna mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat.
b. Melaksanakan tugas kepolisian selaku pengayom dalam memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat bagi tegaknya ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Selaku kekuatan sosial politik, ikut berperan serta di bidang sosial politik dalam rangka mengamankan dan mengsukseskan perjuangan bangsa, dalam mengisi kemerdekaan serta meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
d. Melaksanakan tugas lain yang dibebankan oleh peraturan perundang-undangan.
e. Menjalin keamanan segala usaha dan kegiatan di dalam melaksanakan tugas pokok di atas.
Meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat dengan menindak lanjuti visi dan misi Polri mencakup 3 (tiga) aspek yaitu instrumental, kultural dan struktural yang terkadang dalam penjabaran kebijaksanaan Kapolri dalam rangka pembangunan Polri kedepan.
Pelaksanaan tugas pokok di bidang Lalu Lintas, maka Polres Bantaeng menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
1. Lalu Lintas Kepolisian yang meliputi kegiatan pengaturan, penjagaan? pengawalan dan patroli Lalu Lintas termasuk penindakan pelanggaran dan penyidikan kecelakaan Lalu Lintas
serta registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dalam rangka penegakan hukum dan pembinaan keamanan, ketertiban dan kecelakaan lalu lintas.
2. Satuan Lalu Lintas, disingkat Satlantas adalah unsur pelaksana utama Polres yang berada dibawah Kapolres yang bertugas menyelenggarakan / membina fungsi Lalu Lintas kepolisian, yang meliputi penjagaan, peraturan, pengawalan dan patroli, pendidikan masyarakat dan rekayasa lalu lintas, registrasi dan identifikasi pengemudi / kendaraan bermotor, penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakan hukum dalam bidang lalu lintas guna memelihara keamanan ketertiban dan kelancaran lalu lintas.
Polres Bantaeng dalam melakukan upaya pelaksanaan tugasnya secara efisien dan efektif, maka ditempatkan Polsek dan Pos-pos Polisi pada masing-masing kecamatan, yaitu :
1) Polsek Bissappu 2) Polsek Bantaeng 3) Polsek Tompobulu 4) Polsek Pajukukang 5) Polsek Eremerasa 6) Polsek Uluere 7) Pospol Sinoa
8) Pospol Gantarangkeke
a. Rasio Polisi Lalu Lintas terhadap Pemakai Jalan Raya
Jumlah personil Polisi Lalu Lintas Polres Bantaeng sampai dengan Tahun 2010 ini adalah sebanyak 45 Orang dengan pangkat tertinggi adalah Ajun Komisaris Polisi dengan posisi jabatan sebagai Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas), kemudian Inspektur Polisi Satu yang dijabat sebagai (kaur Lantas} dan Inspektur Polisi Dua yang dijabat sebagai (Kanit Reg Iden) Polres Bantaeng. Dimana dalam struktur organisasi yang ada ternyata masih banyak juga jabatan yang semestinya diduduki oleh seorang perwira di Kepolisian tetapi karena keterbatasan anggota yang berpangkat Perwira tersebut maka tugas dan tanggung jawab serta jabatan itu masih diduduki oleh anggota Kepolisian itu sendiri yang masih berpangkat Bintara, misalnya yang berpangkat Aipda (Ajun Inspektur Polisi dua) dan Aiptu (Ajun Inspektur Polisi Satu) bahkan pula da yang masih menduduki pangkat Bripka (Brigadir Polisi Kepala).
Adapun rincian jumlah Personil Polisi Lalu Lintas pada Polres Bantaeng adalah sebagai berikut :
Tabel 6
Keadaan Personil Polisi Lalu Lintas Polres Bantaeng 2009/2010 Menurut Pangkat
Sumber : Sub Bag Pers Polres Bantaeng, 2010
Dapat dilihat bahwa jumlah personil Lalu Lintas di Polres Bantaeng sebanyak 45 orang, dan pangkat tertinggi yang ada dan diduduki oleh seorang Kasat Lantas adalah AKP (Ajun Komisaris Polisi) atau setingkat Golongan Pangkat III/c pada jabatan PNS, dan pangkat terendah adalah BRIPDA (brigadir Polisi Dua) ini berarti bahwa dilihat dari segi kepangkatan, maka Polisi Lalu Lintas yang bertugas di Polres Bantaeng memiliki masa kerja yang cukup memadai.
Tabel 7
Keadaan Masa Kerja Personil Polisi Lalu Lintas Polres Bantaeng 2009 / 2010
No Masa Kerja Personil
1.
Sumber : Sub Bag Pers Polres 2010
Dapat dilihat bahwa dari 45 Polisi Lalu Lintas yang ada bertugas di lingkup Polres Bantaeng, maka umumnya personil yang ada tersebut memiliki masa kerja diatas lima tahun dengan pengalaman kerja yang dimiliki lebih cukup.
Sedangkan volume pemakai lalu lintas jalan raya di Kabupaten Bantaeng baik dari roda dua sampai dengan roda empat yang beroperasi dijalan dilihat dari jumlah kendaraan yang ada, maka dapat dikemukakan sebagai berikut :
Tabel 8
Keadaan Kendaraan Bermotor Pada Wilayah Polres Bantaeng
No Jenis Kendaraan
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
1 Jumlah 11,884 14,033 17,326 21,493 29,605 Sumber : Satlantas Polres Bantaeng, 2010
Secara kuantitas terjadi peningkatan dari tahun ke tahun jumlah kendaraan yang ada di wilayah kerja Satuan Lalu Lintas Polres Bantaeng terutama dalam lima tahun terakhir ini, bahkan dilihat dari segi persentase peningkatan, maka jumlah kendaraan yang ada selalu meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan ini merupakan implikasi dari semakin tingginya daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor di Kabupaten Bantaeng, baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat atau lebih.
Kita dapat melihat persentase perkembangan kendaraan bermotor yang ada di Polres Bantaeng selama lima tahun terakhir
Kita dapat melihat persentase perkembangan kendaraan bermotor yang ada di Polres Bantaeng selama lima tahun terakhir