• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAYANAN PUBLIK YANG PRIMA

Dalam dokumen PENGADILAN AGAMA BUKITTINGGI KELAS IB (Halaman 30-34)

Pelayanan pengadilan adalahkegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan bagi masyarakat, khususnya pencari keadilan, yang disediakan oleh Mahkamah Agung dan badan-badan peradilan dibawahnya berdasarkan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip pelayanan publik. Mahkamah Agung telah mengeluarkan SK KMA No. 1-144/KMA/SK/I/2011 tentang Pedoman Pelayanan Informasi di Pengadilan dan SK KMA No.

026/KMA/SK/II/2012 tentang Standar Pelayanan Peradilan. Pelayanan prima ini harus ditingkatkan di seluruh pengadilan terutama pada pelayanan yang masih mendapatkan keluhan publik seperti jadwal sidang, layanan informasi di pengadilan dan pungutan liar.

Area pelayanan publik sudah menjadi fokus dari perubahan yang ingin dilakukan oleh Mahkamah Agung, hal ini tercantum dalam Road Map Reformasi Birokrasi 2015-2035 Mahkamah Agung, yang dimana pelayanan publik masuk area perubahan nomor 8. Untuk pelayanan publik ini, Mahkamah Agung membuat 5 program reformasi birokrasi yaitu:

1. Standar pelayanan;

2. Budaya pelayanan prima;

3. Pengelolaan pengaduan;

4. Penilaian kepuasan terhadap pelayanan, dan 5. Pemanfaatan teknologi informasi.

Akreditasi Penjaminan Mutu, adalah sebuah bentuk dari pengakuan atas telah seusainya proses bisnis di sebuah dengan kriteria yang telah ditetapkan atau dengan kata lain pelayanan yang diberikan kepada para pihak pencari keadilan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Akreditasi ini meliputi empat aspek yaitu manajemen pengadilan, administrasi kepaniteraan, administrasi kesekretariatan dan sarana prasarana pengadilan. Sedangkan Posbakum, sidang keliling dan perkara prodeo adalah sebuah bentuk layanan dari pengadilan kepada masyarakat yang kurang mampu.

1. Akreditasi Penjaminan Mutu

Untuk tahun 2017, Pengadilan Agama Bukittinggi Kelas 1B belum mendapatkan sertifikat akreditasi penjaminan mutu. Pelaksanaan Akreditasi Penjaminan Mutu di Pengadilan Agama Bukittinggi Kelas 1B merupakan tindak lanjut dari surat edaran Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag) nomor: 2971/DJA/OT.01.3/07/2017 tentang Persiapan Sertifikasi Akreditasi Penjaminan Mutu Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah dilingkungan Peradilan Agama dan Surat Edaran Direktur Jenderal Badilag nomor: 3107/DJA/OT.01.3/08/2017 tentang

23

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Akreditasi Penjaminan Mutu Pengadilan Agama/ Mahkamah Syariah. Tahapan-tahapan yang dilaksanakan yaitu:

- Membentuk tim akreditasi penjaminan mutu PA. Bukittinggi Kelas 1B dengan Nomor: W3-A4/1869/OT.01.3/X/2017 tanggal 5 Oktober 2017

- Self-assessment dari tanggal 21Desember 2018 Sampai dengan tanggal 23 Desember 2018 - Pengkajian self-assessment oleh tim PTA. Padang tanggal (belum dilakukan)

- Pengusulan untuk mendapatkan sertifikat akreditasi oleh PTA. Padang tanggal (belum dilakukan)

- Asessment oleh tim verifikator pada tanggal (belum dilakukan)

- Penetapan nilai akreditasi dan penyerahan sertifikat akreditasi tanggal (belum dilakukan)

2. Posbakum

Berdasarkan Undang-Undang No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, Pasal 1 (1) dinyatakan bahwa Bantuan Hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Pemberi Bantuan Hukum secara Cuma-Cuma kepada Penerima Bantuan Hukum. Penerima Bantuan Hukum adalah orang atau kelompok orang miskin yang tidak dapat memenuhi hak dasar secara layak dan mandiri yang menghadapi masalah hukum. Sedangkan dalam SEMA No 10 tahun 2010 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Hukum dinyatakan bahwa yang berhak mendapatkan jasa dari Pos Bantuan Hukum adalah orang yang tidak mampu membayar jasa advokat terutama perempuan dan anak-anak serta penyandang disabilitas, sesuai pertauran perundang-undangan yang berlaku.

(Pasal 27)

Bantuan hukum tersebut meliputi menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili, membela, dan/atau melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum Penerima Bantuan Hukum, yang bertujuan untuk :

1. Menjamin dan memenuhi hak bagi Penerima Bantuan Hukum untuk mendapatkan akses keadilan.

2. Mewujudkan hak konstitusional segala warga Negara sesuai dengan prinsip persamaan kedudukan di dalam hukum.

3. Menjamin kepastian penyelenggaraan Bantuan Hukum dilaksanakan secara merata di seluruh wilayah Negara Indonesia.

4. Mewujudkan peradilan yang efektif, efisisen, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pasal 25 SEMA No 10 Tahun 2010, bahwa jasa bantuan hukum yang dapat diberikan oleh Pos Bantuan Hukum berupa pemberian informasi, konsultasi, dan advis serta penyediaan Advokat

24

pendamping secara Cuma-Cuma untuk membela kepentingan Tersangka/Terdakwa dalam hal Terdakwa tidak mampu membiayai sendiri penasihat hukumnya.

Selama tahun 2017, Pengadilan Bukittinggi Kelas 1B Mendapatkan alokasi dana Posbakum sebesar Rp. 52.000.000,- (lima puluh dua juta rupiah) dalam DIPA yang telah digunakan untuk memberikan bantuan hukum kepada para pihak yang tidak mampu sebanyak 520 jam layanan.

No Anggaran Realisasi Jam Layanan

dalam DIPA

Jam Layanan Riil

1 2 3 4 5

1. Rp. 52.000.000,- Rp.52.000.000,- 520 JL 520 JL

Tabel 2-3: Realisasi Posbakum di Pengadilan Agama Bukittinggi

3. Sidang keliling

Sidang keliling adalah sidang pengadilan yang dilaksanakan di luar gedung pengadilan yang diperuntukan bagi masyarakat yang mengalami hambatan untuk datang ke kantor pengadilan karena alasan jarak, transportasi dan biaya. Adapun petunjuk teknis sidang keliling di Peradilan Agama adalah SK Tuada Uldilag No. 01/SK/TUADA-AG/I/2013 tentang Pedoman Sidang Keliling di Lingkungan Peradilan Agama. Selama tahun 2017, Pengadilan Agama Bukittinggi Kelas 1B mendapatkan alokasi dana sebesar Rp. 41.920.000,- (empat puluh satu juta Sembilan ratus dua puluh ribu rupiah) dalam DIPA untuk melaksanakan sidang keliling sebanyak 21kali kegiatan dan telah direalisasikan sebesar Rp. 41.920.000,- (empat puluh satu juta Sembilan ratus dua puluh ribu rupiah) untuk pelaksanaan sidang keliling sebanyak 21 kali kegiatan.

No Anggaran

1. Rp. 41.920.000,- 14 perkara Rp. 41.920.000,-Tabel 2-4: Realisasi Sidang Keliling di Pengadilan Agama Bukittinggi

4. Perkara prodeo.

Prodeo adalah proses berperkara di pengadilan secara cuma-cuma dengan dibiayai negara melalui anggaran Mahkamah Agung. Adapun petunjuk teknis dari perkara prodeo ini, terdapat dalam Perma nomor 1 tahun 2014 tentang Pedoman Pemberian Layanan Hukum Bagi Masyarakat Tidak Mampu di Pengadilan. Selama tahun 2017, Pengadilan Agama Bukittinggi mendapatkan alokasi dana sebesar Rp. 12.000.000 ,- (dua belas juta rupiah) dalam DIPA untuk 40 perkara prodeo dan telah direalisasikan sebanyak Rp. 12.000.000.,- (dua belas juta rupiah) untuk 40 perkara prodeo.

25

No Anggaran

Volume Perkara Prodeo dalam

DIPA

Realisasi Anggaran

Jumlah Perkara Prodeo yang

telah diputuskan

1 2 3 4 5

1. Rp. 12.000.000 40 Perkara Rp. 12.000.000 Tabel 2-5: Realisasi Perkara Prodeo di Pengadilan AgamaBukitinggi

26

BAB III

Dalam dokumen PENGADILAN AGAMA BUKITTINGGI KELAS IB (Halaman 30-34)

Dokumen terkait