Bekerjasama dengan Disdukcapil dan KUA Kementerian Agama Tanggerang, PA Tigaraksa menyelenggarakan sidang terpadu pada hari Jum at / / .
JM Muslimin, MA, P.hD
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah
F
akultas Syariah dan (ukum Universitas )slam Negeri Syarif (idayatullah Ciputat, Tangerang, adalah fakultas yang nyaris memiliki segalanya. Sarana dan prasarana perkuliahan memadai. Program studi yang ditawarkan amat beragam. Dosen-dosennya mumpuni. Para alumninya pun banyak yang berhasil jadi orang —termasuk jadi aparaturperadilan agama.
Lantas, apalagi yang kurang?
Menurut JM Muslimin, MA, P.hD, yang belum lama jadi Dekan FS( menggantikan Prof. Dr. Amin Suma, S.(., fakultas yang dipimpinnya masih menghadapi aneka persoalan, baik persoalan laten maupun perso- alan baru, yang cukup kompleks.
Pertengahan Juni kemarin, ketika diwawan- carai Tim Redaksi majalah
ini, ia membeberkan pelbagai persoalan di FS( U)N Syarif (idayatullah. )a juga mengung- kap titik sing- gung fakultasnya
dengan peradilan agama, serta meny- odorkan beberapa gagasan agar SDM peradilan agama kian bermutu dan kepercayaan publik kian terkatrol.
Berikut ini wawancara selengkap- nya:
Bagaimana Anda memandang perkembangan peradilan agama, sejak dulu hingga sekarang?
Ada satu akselerasi perkemban- gan yang luar biasa ya. Yang asalnya dari peradilan serambi sekarang men- jadi pengadilan yang profesional dan modern. Persepsi mayoritas masyara- kat sudah berubah ke peradilan agama. Yang kedua, hasil riset-riset independen menyebutkan bahwa per- adilan agama jauh lebih maju diband- ing pengadilan-pengadilan lainnya.
(asil-hasil riset independen itu membuat kita yakin bahwa memang peradilan agama sudah melakukan transformasi yang luar biasa. Dari sisi kelembagaan, dari sisi kualitas dan berbagai sisi lainnya. Pengadi- lan agama tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Sejajar dengan peradi- lan lainnya. Bahkan dalam beberapa kasus menunjukkan bahwa manaje- men penanganan perkara, pola pem-
berian analisis putusan saya kira lebih maju dibanding sistem yang lain.
Untuk hakim peradilan agama, apa yang harus mereka lakukan untuk meningkatkan public trust , khususnya dalam menangani perkara ekonomi syariah?
Kalau menurut saya perlu ada
crash program, semacam short course
begitu. Jadi, mungkin bekerja sama dengan dunia pendidikan, dalam dan luar negeri. Didesain sebuah pola pen- didikan khusus untuk beberapa lama khusus untuk mendidik hakim-hakim ini untuk lebih menguasai hukum bis- nis syariah misalnya.
Yang lain, saya lihat kawan-kawan hakim peradilan agama ini kan tidak tinggal diam. Mereka aktif mening- katkan kemampuan, kuliah S dan S . Nah, dari pihak birokrasi saya kira harus memberikan insentif atau kebi- jakan bagi mereka yang sifatnya men- dorong kepada mereka yang beru- saha meng-upgrade kemampuannya.
)nsentif itu bisa berupa kemudahan pemberian izin misalnya.
Dengan begitu saya kira nanti publik akan lebih percaya dan hakim- hakimnya juga akan lebih percaya diri.
Walaupun dari sisi kualitas SDM saya yakin kawan-kawan hakim peradilan agama sudah sangat baik, tapi untuk lebih mengakselerasi, itu perlu.
Bisa dikatakan sebagian besar hakim peradilan agama adalah alumni Fakultas Syariah. Ter- kait dengan w ew enang peradilan agama dalam menangani seng- keta ekonomi syariah, masih ada sebagian pihak yang meragukan kemampuan hakim peradilan. Tanggapan Bapak?
Pertama, ada reformasi struktural di kalangan penyaluran akademis di level fakultas kita. Artinya begini, kami menawarkan double degree.
Jadi, mahasiswa kami yang mendapat- kan gelar sarjana syariah dalam nanti bisa memperoleh gelar sarjana hukum dalam tempo waktu satu setengah tahun misalnya. )ni untuk menjawab itu. Karena Sebenarnya ini bagian dari stigmatisasi. Kita ini terstigma bahwa alumni madrasah, alumni pesantren, tidak bisa masuk dunia profesional.
Yang kedua, kesulitan utama kami adalah pada raw m aterials. (arus
saya akui masih ada beberapa maha- siswa yang masuk ke kami ini kompe- tensinya masih rendah. Makanya kami ingin melakukan long m arch. Misalnya
kami menetapkan standar kelulusan minimal bagi mahasiswa kami. Salah satu indikasinya ada praktek-praktek kemahiran hukum dan syariah yang harus mereka ikuti. Banyak keahlian yang harus mereka miliki.
Praktek-praktek kemahiran hukum itu sebagian sudah kami laku- kan. Cuma lagi-lagi kalo soal stigmati- sasi itu atau pandangan stereotype itu butuh waktu yang lama untuk meng- hilangkannya. Selain butuh waktu, kita juga butuh pembuktian-pembuktian.
Jadi, akar masalah ketidakper- cayaan itu menurut Bapak lebih karena stigmatisasi?
Ya, karena stigmatisasi itu. Karena
hakikatnya, mohon maaf kalau kita ukur ya, kalau bicara alumni pesantren, banyak juga ahli hukum kita yang alumni pesantren. Ternyata ketika mereka memegang posisi di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, mereka lebih hebat dari alumni lainnya. Bisa kita sebut sejumlah tokoh. Wacana dan kekayaan sumber referensi mer- eka saya kira jauh lebih dalam.
Lantas, bagaimana fakultas yang Bapak pimpin ini memper- siapkan para mahasisw anya, khu- susnya mereka yang setelah lulus ingin berkarir di peradilan agama?
Fakultas Syariah dan (ukum ini dulu Fakultas Syariah )A)N Syarif (idayatullah Jakarta. Fakultas Syariah adalah salah satu yang tertua diband- ing Fakultas Syariah di kampus lain.
Kami sudah melakukan sema- cam analisis kelembagaan, termasuk di dalamnya strength, opportunity, weakness dan threat. Kami melaku-
kan curriculum review itu setiap tahun sekali. Salah satu yg selalu kita pikirkan dalam curriculum review itu
bagaimana supaya konsep linkage and m atching bisa kita terapkan. Saya ber-
harap alumni kami menjadi khairun- nas anfauhum linnas. Makanya mer-
eka harus punya akses pekerjaan yang
bagus. )tu satu.
Yang kedua, perkembangan baru terkait perkembangan ekonomi sya- riah ini juga sudah menjadi bagian kurikulum sentral kami. Kami sudah integrasikan secara eklektik. Kami pilih dan kami pilah dengan beber- apa kurikulum yang ada, khususnya di pembelajaran tentang peradilan agama, atau hukum perdata atau hukum bisnis perdata atau hukum bisnis syariah. Penyelesaian sengketa ekonomi syariah itu sudah masuk di pembelajaran-pembelajaran itu.
Mengenai perekrutan calon hakim, termasuk calon hakim peradilan agama, yang mungkin akan dilakukan di tahun depan, adakah upaya khusus yang dilaku- kan oleh FSH agar alumninya lebih siap dalam rekrutmen itu? Misal- nya mempersiapkan mereka agar mahir membaca kitab dan mengerti Ilmu Falak...
Kalau secara spesifik kami memang belum melakukan upaya itu. Standar kelulusan minimal kami untuk beberapa hal masih perlu dikri- tisi juga. Seperti yang sudah saya sampaikan, mahasiswa kita ini bera- gam latar belakangnya, ada yang dari Aliyah, SMA dan bahkan SMK yang
kadang-kadang hanya bisa membaca al-Qur an. Jadi, kalau lihat bahasa Arab, pusing aja bawaannya.
Jadi memang belum kearah itu. Tapi diantara mereka banyak juga yang unggul karena memang dari pesantren yang bagus dan sekolah yang bagus.
Oya, apa ada mata kuliah Anali- sis Putusan di FSH ini?
Sudah ada. Bahkan setiap hari Selasa kita mendatangkan ahli khu- sus dari Amerika, Prof. Mark Cam- mack. Beliau memberikan training bagaimana sesungguhnya logika hukum, analisis hukum, termasuk di dalamnya juga perbandingan analisis putusan-putusan, termasuk putusan di Amerika. Prof. Mark tadi menyampai- kan bahwa putusan-putusan peradilan agama lebih kaya logika hukumnya.
Mengenai gelar, kami dengar FSH ini menghadapi persoalan ketika menentukan gelar apa yang paling pas untuk alumninya. Bena- rkah begitu?
Gelar ini memang ini ada kesulitan, karena ada peraturan dari Kementerian Agama yang mengharuskan gelar itu jadi Sarjana Syariah S.Sy yang sebel- umnya Sarjana (ukum )slam S(.) .
Waktu itu kami sempat diskusi juga dengan beberapa guru besar termasuk hakim agung Prof. Abdul Gani Abdullah, kalau dalam bahasa Undang-Undang memang disebutkan